Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Oktober 2010 -
Baca: Matius 24:37-44
"Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." Matius 24:44
Dalam sejarah manusia, Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini satu kali. Ketika itu Dia datang sebagai Anak Manusia, namun kelak Dia pun akan datang kembali. Tetapi pada kedatanganNya yang kedua Dia akan datang sebagai Tuhan yang Mahakuasa. Dahulu Dia datang sebagai Anak Domba, kelak Dia akan datang sebagai Singa Yehuda. Alkitab menulis: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya." (Wahyu 5:5)
Yesus akan datang sebagai Raja atau segala raja dan Tuhan atas segala tuhan. KedatanganNya yang pertama di dunia adalah untuk menebus dosa umat manusia, sedangkan nantinya Dia akan datang untuk menghakimi orang berdosa. Tetapi dikatakan bahwa "...tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." (Matius 24:36). Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hari dan saat kedatangan Yesus, bahkan malaikat-malaikat di sorga dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendirilah yang tahu. Yesus mengatakan hal ini dengan tujuan agar para muridNya tidak mempersoalkan kapan Dia akan datang kembali, dengan harapan mereka senantiasa dalam kondisi siap menantikan kedatanganNya.
Kisah air bah di zaman Nuh disampaikan Yesus untuk menggambarkan tentang kedatangannya, di mana orang-orang di zaman Nuh itu sangat tidak peduli perihal akan terjadinya air bah. Namun Allah sudah memperingatkan mereka melalui Nuh yang Ia tugaskan untuk membangun bahtera dan menyerukan kepada mereka untuk segera bertobat, karena air bah akan segera melanda bumi. Namun reaksi orang-orang pada waktu itu acuh tak acuh, mencemooh dan bahkan mentertawan Nuh. Bukannya bertobat, tapi mereka semakin lama malah semakin jahat (baca Kejadian 6:5).
Bukankah sikap mereka itu tak jauh berbeda dengan keadaan orang-orang di zaman sekarang ini? Kini banyak orang bersikap acuh dan tidak peduli terhadap perkara-perkara rohani, pikirnya: "Kapan Tuhan datang? Dari dulu juga dikatakan seperti itu. Bosan mendengarnya. Mana buktinya? Masa bodoh, ah!" (Bersambung).
Wednesday, October 27, 2010
Tuesday, October 26, 2010
DALAM KESESAKAN BERSERULAH KEPADA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Oktober 2010 -
Baca: Yeremia 38:1-13
"Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu." Yeremia 38:13a
Mungkin kita berkata dalam hati, "Mereka menjadi orang percaya ternyata tidak mudah, acapkali kita diperhadapkan pada masalah atau kesesakan." Tapi bukan hanya orang Kristen saja yang punya masalah, semua orang tanpa terkecuali (selama masih bernafas di dunia ini) pasti punya masalah. Jadi kita tidak mengalaminya sendiri! Karena itu, stop mengasihani diri sendiri karena ada satu hal yang pasti, yaitu jaminan pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya. Pemazmur berkata, "Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20). Tuhan selalu punya cara ajaib untuk menolong dan menyediakan jalan keluar bagi setiap permasalahan. Masalah tidak hanya dialami orang Kristen awam, tapi bisa terjadi dalam kehidupan pelayan Tuhan atau orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.
Yeremia, meskipun sebagai nabi Tuhan, pun mengalami masa-masa yang sulit. Ketika menyampaikan nubuat yang diperintahkan Tuhan kepadanya, Yeremia dibenci dan dianiaya. Tertulis: "Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi..., mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu." (Yeremia 38:6). Dalam keadaan demikian, sudah tentu sebagai manusia Yeremia merasa takut dan nyaris putus asa. Tetapi Yeremia tidak berteriak-teriak minta tolong kepada manusia. Alkitab mencatat Yeremia berseru kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!" (Ratapan 3:55-56).
Sungguh, Tuhan itu bukan Tuhan yang tuli, Dia mendengar teriak anak-anakNya yang berada dalam kesesakan. Maka Tuhan memakai Ebed-Melekh untuk menyelamatkan Yeremia. Orang Etiopia itu melapor kepada raja bahwa Yeremia telah dimasukkan dalam perigi (Yeremia 38:7-9). Lalu raja menyuruh Ebed-Malekh untuk membebaskan Yeremia, "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!" (Yeremia 38:10). Bila saat ini kita sedang dalam 'perigi masalah' dan sepertinya tidak ada harapan, berserulah kepada Tuhan, Dia pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik.
Kata Yeremia, "Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku." Ratapan 3:58
Baca: Yeremia 38:1-13
"Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu." Yeremia 38:13a
Mungkin kita berkata dalam hati, "Mereka menjadi orang percaya ternyata tidak mudah, acapkali kita diperhadapkan pada masalah atau kesesakan." Tapi bukan hanya orang Kristen saja yang punya masalah, semua orang tanpa terkecuali (selama masih bernafas di dunia ini) pasti punya masalah. Jadi kita tidak mengalaminya sendiri! Karena itu, stop mengasihani diri sendiri karena ada satu hal yang pasti, yaitu jaminan pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya. Pemazmur berkata, "Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20). Tuhan selalu punya cara ajaib untuk menolong dan menyediakan jalan keluar bagi setiap permasalahan. Masalah tidak hanya dialami orang Kristen awam, tapi bisa terjadi dalam kehidupan pelayan Tuhan atau orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.
Yeremia, meskipun sebagai nabi Tuhan, pun mengalami masa-masa yang sulit. Ketika menyampaikan nubuat yang diperintahkan Tuhan kepadanya, Yeremia dibenci dan dianiaya. Tertulis: "Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi..., mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu." (Yeremia 38:6). Dalam keadaan demikian, sudah tentu sebagai manusia Yeremia merasa takut dan nyaris putus asa. Tetapi Yeremia tidak berteriak-teriak minta tolong kepada manusia. Alkitab mencatat Yeremia berseru kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!" (Ratapan 3:55-56).
Sungguh, Tuhan itu bukan Tuhan yang tuli, Dia mendengar teriak anak-anakNya yang berada dalam kesesakan. Maka Tuhan memakai Ebed-Melekh untuk menyelamatkan Yeremia. Orang Etiopia itu melapor kepada raja bahwa Yeremia telah dimasukkan dalam perigi (Yeremia 38:7-9). Lalu raja menyuruh Ebed-Malekh untuk membebaskan Yeremia, "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!" (Yeremia 38:10). Bila saat ini kita sedang dalam 'perigi masalah' dan sepertinya tidak ada harapan, berserulah kepada Tuhan, Dia pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik.
Kata Yeremia, "Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku." Ratapan 3:58
Monday, October 25, 2010
PERIHAL LIDAH: Tajam dan Berbahaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Oktober 2010 -
Baca: Mazmur 52:1-11
"Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu sepeti pisau cukur yang diasah,..." Mazmur 52:4
Lidah kita ini tajam ibarat sebuah pisau, karena itu kita harus berhati-hati menggunakannya. Manfaat sebuah pisau sangat bergantung di tangan siapa pisau tersebut berada. Pada dasarnya pisau berfungsi untuk mengupas atau memotong sayur, buah-buahan dan sebagainya. Namun jika kita tidak berhati-hati, pisau bisa saja melukai dan menyakiti kita sendiri atau orang lain. Tuhan menciptakan lidah untuk tujuan yang positif, dan pada saatnya Dia akan meminta pertanggungjawaban dari tiap-tiap kita.
Apa yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan berkenaan dengan lidah atau ucapan kita? Ialah bagaimana kita menggunakan lidah kita setiap hari. Apakah perkataan kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita? Berapa jiwa yang sudah kita menangkan melalui perkataan kita? Ataukah banyak orang menjadi terluka karena lidah kita yang tajam, perkataan kita sangat kasar, pedas dan menyakitkan? Apakah lidah kita selalu menggemakan kata-kata negatif dan kutuk? Tuhan menghendaki agar dari lidah kita keluar kata-kata berkat yang menguatkan semangat orang lain sehingga kita menyelamatkan mereka dari keputusasaan dan kekecewaan. Hati-hatilah dengan lidah kita, karena bila salah menggunakannya akan sangat berbahaya. Alkitab mengingatkan kita tentang lidah yang berbahaya, di antaranya lidah yang tidak dikekang. "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." (Yakobus 1:26). Adalah percuma kita rajin ibadah ke gereja atau persekutuan jika kita tidak bisa mengekang lidah kita dari ucapan-ucapan yang jahat. Selain itu lidah juga bisa 'membunuh' orang lain (baca Yeremia 9:8); lidah yang mengacaukan: suka memfitnah, mengadu domba atau menipu (baca Mazmur 52:6); lidah yang bercabang (Amsal 10:31).
Bila kita menyadari betapa berbahayanya lidah, kita pun harus berhati-hati. Bagaimana kita menggemakan lidah itu sangat mempengaruhi kehidupan kekristenan kita. Kita harus melatih lidah kita agar selaras dengan firman Tuhan: selalu bersih, selalu menjadi berkat dan menyenangkan hati Tuhan.
Mari pergunakan lidah untuk meluaskan kerajaanNya di bumi: untuk bersaksi, menaikkan pujian bagi Tuhan, memberikan firmanNya; bukan untuk perkara sia-sia!
Baca: Mazmur 52:1-11
"Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu sepeti pisau cukur yang diasah,..." Mazmur 52:4
Lidah kita ini tajam ibarat sebuah pisau, karena itu kita harus berhati-hati menggunakannya. Manfaat sebuah pisau sangat bergantung di tangan siapa pisau tersebut berada. Pada dasarnya pisau berfungsi untuk mengupas atau memotong sayur, buah-buahan dan sebagainya. Namun jika kita tidak berhati-hati, pisau bisa saja melukai dan menyakiti kita sendiri atau orang lain. Tuhan menciptakan lidah untuk tujuan yang positif, dan pada saatnya Dia akan meminta pertanggungjawaban dari tiap-tiap kita.
Apa yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan berkenaan dengan lidah atau ucapan kita? Ialah bagaimana kita menggunakan lidah kita setiap hari. Apakah perkataan kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita? Berapa jiwa yang sudah kita menangkan melalui perkataan kita? Ataukah banyak orang menjadi terluka karena lidah kita yang tajam, perkataan kita sangat kasar, pedas dan menyakitkan? Apakah lidah kita selalu menggemakan kata-kata negatif dan kutuk? Tuhan menghendaki agar dari lidah kita keluar kata-kata berkat yang menguatkan semangat orang lain sehingga kita menyelamatkan mereka dari keputusasaan dan kekecewaan. Hati-hatilah dengan lidah kita, karena bila salah menggunakannya akan sangat berbahaya. Alkitab mengingatkan kita tentang lidah yang berbahaya, di antaranya lidah yang tidak dikekang. "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." (Yakobus 1:26). Adalah percuma kita rajin ibadah ke gereja atau persekutuan jika kita tidak bisa mengekang lidah kita dari ucapan-ucapan yang jahat. Selain itu lidah juga bisa 'membunuh' orang lain (baca Yeremia 9:8); lidah yang mengacaukan: suka memfitnah, mengadu domba atau menipu (baca Mazmur 52:6); lidah yang bercabang (Amsal 10:31).
Bila kita menyadari betapa berbahayanya lidah, kita pun harus berhati-hati. Bagaimana kita menggemakan lidah itu sangat mempengaruhi kehidupan kekristenan kita. Kita harus melatih lidah kita agar selaras dengan firman Tuhan: selalu bersih, selalu menjadi berkat dan menyenangkan hati Tuhan.
Mari pergunakan lidah untuk meluaskan kerajaanNya di bumi: untuk bersaksi, menaikkan pujian bagi Tuhan, memberikan firmanNya; bukan untuk perkara sia-sia!
Sunday, October 24, 2010
TETAP MENERIMA GANJARAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Oktober 2010 -
Baca: Bilangan 27:12-23
"Tuhan berfirman kepada Musa: 'Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.' " Bilangan 27:12
Allah adalah Pribadi yang Mahakasih dan juga Mahaadil. Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap firmanNya pasti akan menerima ganjaran atau sanksi tanpa terkecuali, tidak peduli ia seorang presiden, orang kaya, miskin, berpangkat dan sebagainya. Hal ini juga dialami Musa. Meski ia nabi Allah, dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi pemimpin bangsa Israel dan membawa mereka keluar dari Mesir, Musa pun tak luput dari ganjaran.
Suatu ketika Musa melakukan suatu kecerobohan: mengeluarkan perkataan tak berkenan pada Allah di hadapan bangsa Israel sehingga ia harus menerima akibatnya, tak dapat masuk ke negeri yang dijanjikan Allah. Meskipun demikian Allah sangat mengasihi Musa dan ia pun masih diberi kesempatan untuk memandang negeri perjanjian itu meski hanya dari kejauhan. Allah berkata, "Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel. Sesudah engkau memandangnya, maka engkaupun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu." (ayat 12-13). Ini mencerminkan betapa Allah sangat mengasihi Musa, dan sesungguhnya hatiNya pilu karena harus memberi ganjaran kepada Musa. Namun karena Dia Mahaadil, maka segala sesuatu yang telah Ia tetapkan pasti dilaksanakan bagi siapa pun tanpa pandang bulu. "Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19b).
Kata ganjaran mengandung arti hajaran untuk mendidik seseorang supaya sadar akan kesalahannya agar dapat hidup benar, atau mendisiplinkan dengan didikan yang disertai dengan sanksi. Allah ingin Musa mengerti mengapa ia tak diperkenankan masuk ke negeri yang dijanjikanNya. Allah tak ingin Musa punya respons yang salah tentang ganjaran yang diterimanya. Itulah sebabnya Allah menjelaskan kepada Musa sebelum ia meninggal, " 'Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titahKu untuk menyatakan kekudusanKu di depan mata mereka dengan air itu.' Itulah mata air Meriba dekat Kadesy di padang gurun Zin." (Bilangan 27:14). Betapa pun Allah mengasihi Musa, ia tetap tak dapat masuk ke negeri perjanjian. Setelah itu "...matilah Musa, hamba Tuhan itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan." (Ulangan 34:5).
Sekecil apa pun pelanggaran, selalu ada harga yang harus dibayar!
Baca: Bilangan 27:12-23
"Tuhan berfirman kepada Musa: 'Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.' " Bilangan 27:12
Allah adalah Pribadi yang Mahakasih dan juga Mahaadil. Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap firmanNya pasti akan menerima ganjaran atau sanksi tanpa terkecuali, tidak peduli ia seorang presiden, orang kaya, miskin, berpangkat dan sebagainya. Hal ini juga dialami Musa. Meski ia nabi Allah, dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi pemimpin bangsa Israel dan membawa mereka keluar dari Mesir, Musa pun tak luput dari ganjaran.
Suatu ketika Musa melakukan suatu kecerobohan: mengeluarkan perkataan tak berkenan pada Allah di hadapan bangsa Israel sehingga ia harus menerima akibatnya, tak dapat masuk ke negeri yang dijanjikan Allah. Meskipun demikian Allah sangat mengasihi Musa dan ia pun masih diberi kesempatan untuk memandang negeri perjanjian itu meski hanya dari kejauhan. Allah berkata, "Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel. Sesudah engkau memandangnya, maka engkaupun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu." (ayat 12-13). Ini mencerminkan betapa Allah sangat mengasihi Musa, dan sesungguhnya hatiNya pilu karena harus memberi ganjaran kepada Musa. Namun karena Dia Mahaadil, maka segala sesuatu yang telah Ia tetapkan pasti dilaksanakan bagi siapa pun tanpa pandang bulu. "Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19b).
Kata ganjaran mengandung arti hajaran untuk mendidik seseorang supaya sadar akan kesalahannya agar dapat hidup benar, atau mendisiplinkan dengan didikan yang disertai dengan sanksi. Allah ingin Musa mengerti mengapa ia tak diperkenankan masuk ke negeri yang dijanjikanNya. Allah tak ingin Musa punya respons yang salah tentang ganjaran yang diterimanya. Itulah sebabnya Allah menjelaskan kepada Musa sebelum ia meninggal, " 'Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titahKu untuk menyatakan kekudusanKu di depan mata mereka dengan air itu.' Itulah mata air Meriba dekat Kadesy di padang gurun Zin." (Bilangan 27:14). Betapa pun Allah mengasihi Musa, ia tetap tak dapat masuk ke negeri perjanjian. Setelah itu "...matilah Musa, hamba Tuhan itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan." (Ulangan 34:5).
Sekecil apa pun pelanggaran, selalu ada harga yang harus dibayar!
Saturday, October 23, 2010
TAK SENDIRI. ALLAH MENOPANG DENGAN LENGANNYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Oktober 2010 -
Baca: Ulangan 31:1-8
"Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." Ulangan 31:8
Sekarang ini banyak orang dikejutkan dengan keadaan dunia yang berubah-ubah, susah untuk diprediksi. Contoh dalam hal musim di negeri kita. Dulu orang bisa menebak dengan mudah kapan musim kemarau terjadi dan kapan juga dimulainya musi penghujan. Kini? Musim tidak menentu dan sangat membingungkan.
Sesungguhnya generasi-generasi terdahulu sudah mengingatkan kita pada ketidakpastian dan kemerosotan nilai-nilai dalam dunia ini. Jika memperhatikan keadaan yang ada kita menjadi pesimis menghadapi hari esok. Tetapi sebagai anak Tuhan janganlah kita berkecil hati karena kita memiliki Allah yang kuasaNya tidak berubah. Dia berjanji akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. FirmanNya, "Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah,..." (Maleakhi 3:6). Karena Allah tidak berubah kita dapat menjadikanNya sebagai tempat perlindungan. "Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!" (Ulangan 33:27). Lengan Allah yang kekal adalah tempat yang sangat aman dan benteng bagi setiap kita yang mencari perlindungan dan keamanan. Lengan Allah yang kekal adalah lengan yang kuat dan penuh dengan kuasa seperti dilukiskan dalam Yeremia 32:17: "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu!"
Jadi, tiada yang mustahil bagi Allah, Dia menciptakan langit dan bumi dengan lenganNya yang kekal dan penuh kuasa itu. Jika Tuhan Allah mampu menciptakan alam semesta dengan kuasaNya, apakah menurut kita masih ada hal yang terlalu sukar bagi Dia? Allah dapat menciptakan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Percaya dan bergantunglah penuh pada lenganNya yang kekal itu. Karena Allah tidak berubah adanya, Dia masih memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dengan lenganNya yang kekal itu. Dia berkata, "Mungkinkah tanganKu terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan padaKu untuk melepaskan?" (Yesaya 50:2b).
Sampai saat ini kuasa Allah masih tersedia bagi kita. Masihkah kita ragu akan kuasaNya?
Baca: Ulangan 31:1-8
"Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." Ulangan 31:8
Sekarang ini banyak orang dikejutkan dengan keadaan dunia yang berubah-ubah, susah untuk diprediksi. Contoh dalam hal musim di negeri kita. Dulu orang bisa menebak dengan mudah kapan musim kemarau terjadi dan kapan juga dimulainya musi penghujan. Kini? Musim tidak menentu dan sangat membingungkan.
Sesungguhnya generasi-generasi terdahulu sudah mengingatkan kita pada ketidakpastian dan kemerosotan nilai-nilai dalam dunia ini. Jika memperhatikan keadaan yang ada kita menjadi pesimis menghadapi hari esok. Tetapi sebagai anak Tuhan janganlah kita berkecil hati karena kita memiliki Allah yang kuasaNya tidak berubah. Dia berjanji akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. FirmanNya, "Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah,..." (Maleakhi 3:6). Karena Allah tidak berubah kita dapat menjadikanNya sebagai tempat perlindungan. "Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!" (Ulangan 33:27). Lengan Allah yang kekal adalah tempat yang sangat aman dan benteng bagi setiap kita yang mencari perlindungan dan keamanan. Lengan Allah yang kekal adalah lengan yang kuat dan penuh dengan kuasa seperti dilukiskan dalam Yeremia 32:17: "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatanMu yang besar dan dengan lenganMu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu!"
Jadi, tiada yang mustahil bagi Allah, Dia menciptakan langit dan bumi dengan lenganNya yang kekal dan penuh kuasa itu. Jika Tuhan Allah mampu menciptakan alam semesta dengan kuasaNya, apakah menurut kita masih ada hal yang terlalu sukar bagi Dia? Allah dapat menciptakan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Percaya dan bergantunglah penuh pada lenganNya yang kekal itu. Karena Allah tidak berubah adanya, Dia masih memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dengan lenganNya yang kekal itu. Dia berkata, "Mungkinkah tanganKu terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan padaKu untuk melepaskan?" (Yesaya 50:2b).
Sampai saat ini kuasa Allah masih tersedia bagi kita. Masihkah kita ragu akan kuasaNya?
Friday, October 22, 2010
PENGAMPUNAN TUHAN ATAS KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Oktober 2010 -
Baca: Matius 18:23-35
"Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" Matius 18:33
Dalam perumpamaan yang kita baca hari ini Tuhan Yesus menyatakan betapa kejamnya di hadapan Allah, orang yang tidak mau mengampuni orang lain. Bila kita tidak mau mengampuni orang lain, kita ini disebut sebagai hamba-hamba yang kejam.
Hamba yang kejam dalam bacaan itu mempunyai hutang kepada tuannya sebesar 10.000 talenta, namun ia dibebaskan (10.000 talenta menggambakan betapa besar dosa manusia dan pengampunan Tuhan kepada kita). Akan tetapi dia tak mau membebaskan hutang temannya yang hanya 100 dinar saja, bahkan dipenjarakannya sampai ia melunasi hutangnya. Perbuatan ini sangatlah kejam, tidak berperikemanusiaan. Demikianlah kita akan dinilai Bapa seperti ini bila kita tidak mau mengampuni orang lain. Bukankah kita sudah dibebaskan dari segala dosa kita dan beroleh kasih karuniaNya? "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25).
Dosa dari pelanggaran kita sudah diampuni Tuhan melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Bukankah kita juga patut mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Orang Kristen yang tidak bisa mengampuni orang lain menjadi orang yang kekurangan kasih karunia di hadapan Allah. Jangan sampai nantinya Raja di atas segala raja memanggil kita dan berkata, "Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (Matius 18:32-33). Bila kita menghargai betapa pengampunan Tuhan diberikan kepada kita, maka hendaknya pengampunan itu juga dapat kita berikan kepada orang lain.
setiap orang yang telah menerima kasih karunia dan pengampunan dari Bapa harus belajar mengampuni orang lain dan mengasihani mereka. Raja itu marah kepada hamba yang tak mau mengampuni, "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (Matius 18:34). Perhatikan kata Tuhan Yesus, "...BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (Matius 18:35).
Belajarlah mengampuni orang lain, karena dosa-dosa kita pun telah diampuni Tuhan; jika tidak, kita pun tidak akan diampuni lagi Tuhan.
Baca: Matius 18:23-35
"Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" Matius 18:33
Dalam perumpamaan yang kita baca hari ini Tuhan Yesus menyatakan betapa kejamnya di hadapan Allah, orang yang tidak mau mengampuni orang lain. Bila kita tidak mau mengampuni orang lain, kita ini disebut sebagai hamba-hamba yang kejam.
Hamba yang kejam dalam bacaan itu mempunyai hutang kepada tuannya sebesar 10.000 talenta, namun ia dibebaskan (10.000 talenta menggambakan betapa besar dosa manusia dan pengampunan Tuhan kepada kita). Akan tetapi dia tak mau membebaskan hutang temannya yang hanya 100 dinar saja, bahkan dipenjarakannya sampai ia melunasi hutangnya. Perbuatan ini sangatlah kejam, tidak berperikemanusiaan. Demikianlah kita akan dinilai Bapa seperti ini bila kita tidak mau mengampuni orang lain. Bukankah kita sudah dibebaskan dari segala dosa kita dan beroleh kasih karuniaNya? "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25).
Dosa dari pelanggaran kita sudah diampuni Tuhan melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Bukankah kita juga patut mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Orang Kristen yang tidak bisa mengampuni orang lain menjadi orang yang kekurangan kasih karunia di hadapan Allah. Jangan sampai nantinya Raja di atas segala raja memanggil kita dan berkata, "Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (Matius 18:32-33). Bila kita menghargai betapa pengampunan Tuhan diberikan kepada kita, maka hendaknya pengampunan itu juga dapat kita berikan kepada orang lain.
setiap orang yang telah menerima kasih karunia dan pengampunan dari Bapa harus belajar mengampuni orang lain dan mengasihani mereka. Raja itu marah kepada hamba yang tak mau mengampuni, "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (Matius 18:34). Perhatikan kata Tuhan Yesus, "...BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (Matius 18:35).
Belajarlah mengampuni orang lain, karena dosa-dosa kita pun telah diampuni Tuhan; jika tidak, kita pun tidak akan diampuni lagi Tuhan.
Thursday, October 21, 2010
PENGAKUAN IMAN ORANG PERCAYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Oktober 2010 -
Baca: Ibrani 4:14-16
"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita." Ibrani 4:14
Dalam kitab Perjanjian Baru ada beberapa jenis pengakuan yang dibicarakan, di antaranya adalah: 1. Pengakuan mengenai orang-orang Yahudi. Tuhan menuntut agar orang-orang pilihanNya mau mengakui dosa-dosa mereka dengan maksud agar mereka dipulihkan. Tertulis: "Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan." (Matius 3:5-6)
2. Pengakuan orang berdosa. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang berdosa dinyatakan bersalah oleh kuasa Roh Kudus hanya oleh satu dosa saja, yaitu "...karena mereka tetap tidak percaya kepadaKu;" (Yohanes 16:9). Jika orang berdosa mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, ia akan diselamatkan sebagaimana dikatakan dalam Alkitab, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10).
Kita harus mengerti bahwa kedua macam pengakuan yang dilakukan oleh orang percaya meliputi pengakuan akan dosa-dosanya dan juga pengakuan akan imannya. Pengakuan dosa dilakukan bilamana ia kehilangan persekutuan dengan Tuhan, karena yang menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan adalah segala dosa kita (baca Yesaya 59:2). Namun, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Apa yang dimaksud dengan pengakuan iman akan firman Tuhan dalam Kristus dan dalam Allah Bapa kita? Yakni yang menjadi pengakuan kita sebagai orang percaya, yaitu Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Pribadi Yesus inilah yang harus kita saksikan kepada orang lain karena kesaksian merupakan bagian dari pengakuan. Namun nampaknya masih banyak orang Kristen yang malu bersaksi tentang Yesus kepada orang lain...
Alkitab menegaskan: barangsiapa mengakui Yesus di hadapan manusia, Tuhan pun akan mengakuinya di depan Bapa (baca Matius 10:32).
Baca: Ibrani 4:14-16
"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita." Ibrani 4:14
Dalam kitab Perjanjian Baru ada beberapa jenis pengakuan yang dibicarakan, di antaranya adalah: 1. Pengakuan mengenai orang-orang Yahudi. Tuhan menuntut agar orang-orang pilihanNya mau mengakui dosa-dosa mereka dengan maksud agar mereka dipulihkan. Tertulis: "Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan." (Matius 3:5-6)
2. Pengakuan orang berdosa. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang berdosa dinyatakan bersalah oleh kuasa Roh Kudus hanya oleh satu dosa saja, yaitu "...karena mereka tetap tidak percaya kepadaKu;" (Yohanes 16:9). Jika orang berdosa mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, ia akan diselamatkan sebagaimana dikatakan dalam Alkitab, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10).
Kita harus mengerti bahwa kedua macam pengakuan yang dilakukan oleh orang percaya meliputi pengakuan akan dosa-dosanya dan juga pengakuan akan imannya. Pengakuan dosa dilakukan bilamana ia kehilangan persekutuan dengan Tuhan, karena yang menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan adalah segala dosa kita (baca Yesaya 59:2). Namun, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).
Apa yang dimaksud dengan pengakuan iman akan firman Tuhan dalam Kristus dan dalam Allah Bapa kita? Yakni yang menjadi pengakuan kita sebagai orang percaya, yaitu Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Pribadi Yesus inilah yang harus kita saksikan kepada orang lain karena kesaksian merupakan bagian dari pengakuan. Namun nampaknya masih banyak orang Kristen yang malu bersaksi tentang Yesus kepada orang lain...
Alkitab menegaskan: barangsiapa mengakui Yesus di hadapan manusia, Tuhan pun akan mengakuinya di depan Bapa (baca Matius 10:32).
Subscribe to:
Posts (Atom)