Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2010 -
Baca: Mazmur 78:1-31
"supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintahNya;" Mazmur 78:7
Kondisi dan situasi yang seringkali mengombang-ambingkan stabilitas iman orang Kristen. Apa yang dirasa dan dilihat dapat menjatuhbangunkan kerohanian mereka, apalagi bagi yang masih dikuasai emosi dan suasana, belum dikuasai oleh firman Tuhan, sehingga firman itu belum seberapa dalam berakar dalam hidupnya.
Keadaan ini tidak beda jauh dengan kehidupan bangsa Israel di masa lampau. Kerohanian mereka belum stabil. Terbukti jika suasana enak dan menyenangkan, mereka bisa memuji-muji Tuhan. Namun saat keadaan tidak menyenangkan dan ada tantangan atau ujian hati mereka secepat kilat berubah, langsung menggerutu, bersungut-sungut dan memberontak kepada Tuhan seperti tertulis: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? Memang, Ia memukul gunung batu, sehingga terpancar air dan membanjir sungai-sungai; tetapi sanggupkah Ia memberikan roti juga, atau menyediakan daging bagi umatNya?" (ayat 19:20). Namun, bukankah mata mereka sudah menyaksikan betapa Tuhan membelah Laut Teberau (Laut Merah) sehingga mereka dapat berjalan di tengah-tengahnya seperti di tanah kering? Saat itu mereka memuji Tuhan dan bersyukur dengan sorak-sorai, tapi pada kesempatan lain menghina Tuhan dengan perkataan yang sungguh menyakitkan hatiNya. "Sebab itu, ketika mendengar hal itu, Tuhan gemas, api menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel, sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari padaNya." (ayat 21-22).
Bila firman Tuhan berakar kuat di dalam hati, kita tidak akan bersikap seperti bangsa Israel itu meski berada di situasi yang tidak baik: ada penderitaan, sakit, kesesakan atau pun kegagalan. Kita akan memiliki hati seperti rasul Paulus yang berkata, "...hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-" (2 Korintus 5:7). Jika kita terpaku pada masalah yang ada kita akan mudah lemah dan kecewa; sebaliknya bila kita menjalani hidup ini dengan 'mata iman', kita akan mampu bertahan melewati masalah karena kita percaya bahwa janji firmanNya tidak ada yang tidak ditepatiNya.
Sudahkah firmanNya itu berakar kuat di dalam kita? Sehebat apa pun badai menerpa, kita takkan goyah!
Wednesday, August 18, 2010
Tuesday, August 17, 2010
MERDEKA KARENA BERSATU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2010 -
Baca: Galatia 5:1-15
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." Galatia 5:13
Selama 350 tahun bangsa Indonesia terkungkung dalam penindasan dan penjajahan Belanda. Belum lagi 3 setengah tahun di bawah kekejaman tentara Jepang. Suatu penderitaan yang luar biasa harus dialami oleh bangsa kita di masa lalu!
Begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari lembar sejarah bangsa kita. Semangat juang para pendahulu kita untuk meraih kemerdekaan yang dicita-citakan sepatutnya menjadi contoh bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini. Dengan latar belakang yang berbeda-beda mereka bersatu padu mengusir penjajah demi mewujudkan negera kesatuan RI. Sesungguhnya, impian mewujudkan negara kesatuan ini sudah sejak lama dirancangkan. Bahkan di zaman kerajaan Majapahit dulu ada Sumpah Palapa yang menjadi bukti dan simbol perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat juang itulah yang mengilhami para pahlawan bangsa; mereka bersatu dan bersama-sama bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan. Kemerdekaan pun bisa diraih! Kini kita terbebas dari ikatan belenggu penjajah!
5 tahun sudah bangsa kita menikmati kemerdekaan! Namun tidaklah berarti perjuangan kita sudah usai; perjuangan kita sesungguhnya baru dimulai! Sekarang ini perjuangan kita bukan lagi dengan mengangkat senjata melainkan dengan usaha mempertahankan persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan cita-cita bangsa yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Kita berada di era reformasi. Di mana-mana kata reformasi didengungkan. Reformasi adalah perubahan radikal yang bertujuan memperbaiki kehidupan di segala aspek. Di era reformasi ini orang berani mengungkapkan pendapatnya tanpa harus takut dan terintimidasi pihak lain. Tapi sayang reformasi yang sedang berjalan ini tidak seperti tujuan semula. Bukan lagi kepentingan bersama yang diperjuangkan tapi orang memperjuangkan kepentingan golongannya sendiri-sendiri. Jika ini berlanjut, secara perlahan persatuan dan kesatuan bangsa akan luntur. Maka semangat kemerdekaan tidak akan lagi bergema seperti dahulu, nothing's special!
Di hari istimewa ini mari kita kembali meneladani semangat persatuan dan kesatuan para pendahulu kita. Tanpa persatuan dan kesatuan mustahil kemerdekan diraih; begitu pula tanpa persatuan dan kesatuan niscaya cita-cita bangsa akan sulit tercapai.
Baca: Galatia 5:1-15
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." Galatia 5:13
Selama 350 tahun bangsa Indonesia terkungkung dalam penindasan dan penjajahan Belanda. Belum lagi 3 setengah tahun di bawah kekejaman tentara Jepang. Suatu penderitaan yang luar biasa harus dialami oleh bangsa kita di masa lalu!
Begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari lembar sejarah bangsa kita. Semangat juang para pendahulu kita untuk meraih kemerdekaan yang dicita-citakan sepatutnya menjadi contoh bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini. Dengan latar belakang yang berbeda-beda mereka bersatu padu mengusir penjajah demi mewujudkan negera kesatuan RI. Sesungguhnya, impian mewujudkan negara kesatuan ini sudah sejak lama dirancangkan. Bahkan di zaman kerajaan Majapahit dulu ada Sumpah Palapa yang menjadi bukti dan simbol perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat juang itulah yang mengilhami para pahlawan bangsa; mereka bersatu dan bersama-sama bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan. Kemerdekaan pun bisa diraih! Kini kita terbebas dari ikatan belenggu penjajah!
5 tahun sudah bangsa kita menikmati kemerdekaan! Namun tidaklah berarti perjuangan kita sudah usai; perjuangan kita sesungguhnya baru dimulai! Sekarang ini perjuangan kita bukan lagi dengan mengangkat senjata melainkan dengan usaha mempertahankan persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan cita-cita bangsa yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Kita berada di era reformasi. Di mana-mana kata reformasi didengungkan. Reformasi adalah perubahan radikal yang bertujuan memperbaiki kehidupan di segala aspek. Di era reformasi ini orang berani mengungkapkan pendapatnya tanpa harus takut dan terintimidasi pihak lain. Tapi sayang reformasi yang sedang berjalan ini tidak seperti tujuan semula. Bukan lagi kepentingan bersama yang diperjuangkan tapi orang memperjuangkan kepentingan golongannya sendiri-sendiri. Jika ini berlanjut, secara perlahan persatuan dan kesatuan bangsa akan luntur. Maka semangat kemerdekaan tidak akan lagi bergema seperti dahulu, nothing's special!
Di hari istimewa ini mari kita kembali meneladani semangat persatuan dan kesatuan para pendahulu kita. Tanpa persatuan dan kesatuan mustahil kemerdekan diraih; begitu pula tanpa persatuan dan kesatuan niscaya cita-cita bangsa akan sulit tercapai.
Monday, August 16, 2010
I M A N U E L: Tuhan Beserta Kita
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2010 -
Baca: Matius 1:18-25
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel." Matius 1:23
Alkitab mengatakan: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:23-24). Harus kita ketahui bahwa seluruh pekerjaan penebusan didahului dengan tanda kedatangan Bayi itu di Betlehem. KedatanganNya itu digambarkan dalam suatu ketenangan yang adikodrati dan sebagian kecil karakter Allah. Hanya beberapa gembala yang rendah hati yang dipanggil untuk menjadi saksi kejadian unik bagi umat manusia ini, di mana Anak Allah menyatakan diri sebagai Anak Manusia. Tetapi ketika Yesus dilahirkan hanya beberapa orang saja yang percaya bahwa Ia adalah Mesias, sedangkan yang lain tidak mempercayaiNya, bahkan berniat hendak membunuhNya.
Sampai detik ini pun masih banyak orang menolak Yesus, bahkan melecehkan Sang Juruselamat umat manusia. Ketika Ia berada di atas bumi gelar Imanuel tidak pernah dimengerti sepenuhnya dan mungkin tidak pernah dipergunakan oleh orang-orang di sekitarNya. Akan tetapi sejak hari penyalibanNya dan Pentakosta orang-orang percaya mulai menyatakannya sebagai salah satu dari nama-namaNya yang agung. Dia sendiri meneguhkannya ketika Dia menguatkan para rasul yang dikasihiNya, dengan berkata, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).
Karena Dia sendiri telah mengatakan hendak menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman, maka kita pun dapat mengklaimNya sebagai Imanuel yang kekal. Alkitab mengatakan kepada kita, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5). Nubuat ini telah digenapi. Para malaikat membawa berita sukacita itu kepada gembala-gembala dengan berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa." (Lukas 2:10). Tidak ada yang perlu kita lakukan karena Dia Imanuel!
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi ini di antara manusia yang berkenan kepadaNya." Lukas 2:14
Baca: Matius 1:18-25
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel." Matius 1:23
Alkitab mengatakan: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:23-24). Harus kita ketahui bahwa seluruh pekerjaan penebusan didahului dengan tanda kedatangan Bayi itu di Betlehem. KedatanganNya itu digambarkan dalam suatu ketenangan yang adikodrati dan sebagian kecil karakter Allah. Hanya beberapa gembala yang rendah hati yang dipanggil untuk menjadi saksi kejadian unik bagi umat manusia ini, di mana Anak Allah menyatakan diri sebagai Anak Manusia. Tetapi ketika Yesus dilahirkan hanya beberapa orang saja yang percaya bahwa Ia adalah Mesias, sedangkan yang lain tidak mempercayaiNya, bahkan berniat hendak membunuhNya.
Sampai detik ini pun masih banyak orang menolak Yesus, bahkan melecehkan Sang Juruselamat umat manusia. Ketika Ia berada di atas bumi gelar Imanuel tidak pernah dimengerti sepenuhnya dan mungkin tidak pernah dipergunakan oleh orang-orang di sekitarNya. Akan tetapi sejak hari penyalibanNya dan Pentakosta orang-orang percaya mulai menyatakannya sebagai salah satu dari nama-namaNya yang agung. Dia sendiri meneguhkannya ketika Dia menguatkan para rasul yang dikasihiNya, dengan berkata, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).
Karena Dia sendiri telah mengatakan hendak menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman, maka kita pun dapat mengklaimNya sebagai Imanuel yang kekal. Alkitab mengatakan kepada kita, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5). Nubuat ini telah digenapi. Para malaikat membawa berita sukacita itu kepada gembala-gembala dengan berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa." (Lukas 2:10). Tidak ada yang perlu kita lakukan karena Dia Imanuel!
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi ini di antara manusia yang berkenan kepadaNya." Lukas 2:14
Sunday, August 15, 2010
BERPEGANG TEGUH PADA FIRMAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2010 -
Baca: Roma 15:1-13
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." Roma 15:4
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus mempercayai apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Melalui tulisan-tulisan yang tercantum di dalam Alkitab kita memperoleh suatu pengharapan yang benar. Dari pengharapan itulah kita dapat memperoleh iman. Jika kita tak mempunyai pengharapan, iman pun tak akan terbentuk, karena pengharapan dan iman bekerja sama dalam kehidupan orang percaya dengan cara yang sama seperti tertulis: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1).
Pengalaman membuktikan bahwa orang yang kehilangan akan mudah mengalami stres dan depresi, dan tak mampu menguasai keadaan lagi. Tetapi Alkitab menasihati kita supaya teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci, sehingga kita pun akan dapat mengatasi semua permasalahan hidup dengan berpegang pada pengharapan dan iman pada janji-janji Tuhan. Jelas dikatakan bahwa "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).
Tetapi, bagaimanakah kita dapat mendengar janji-janji Tuhan itu? Kita dapat mendengar janji-janji Tuhan dari pemberitaan secara lisan melalui kotbah para hambaNya, atau dengan membaca firman Tuhan serta merenungkannya siang dan malam sehingga janji-janji Tuhan itu benar-benar meresap ke dalam hati kita, dan menimbulkan pengharapan serta iman yang teguh. Seringkali kita berdoa dan menerapkan janji-janji firman Tuhan untuk orang lain dan orang itu pun tertolong. Namun bila kita sendiri tak dapat menggunakan pengharapan dan iman atas janji-janji Tuhan itu, maka berkat-berkat Tuhan tak dapat kita nikmati. "Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ibrani 11:3). Firman Tuhan yang sanggup menciptakan alam semesta dengan sangat mudah berkuasa 'menciptakan' segala kebutuhan kita, yang tak ada artinya bila dibandingkan dengan alam semesta.
Oleh karenanya mari berpeganglah teguh pada janji-janji firman Tuhan agar hidup kita tertolong dalam segala masalah!
Baca: Roma 15:1-13
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." Roma 15:4
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus mempercayai apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Melalui tulisan-tulisan yang tercantum di dalam Alkitab kita memperoleh suatu pengharapan yang benar. Dari pengharapan itulah kita dapat memperoleh iman. Jika kita tak mempunyai pengharapan, iman pun tak akan terbentuk, karena pengharapan dan iman bekerja sama dalam kehidupan orang percaya dengan cara yang sama seperti tertulis: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1).
Pengalaman membuktikan bahwa orang yang kehilangan akan mudah mengalami stres dan depresi, dan tak mampu menguasai keadaan lagi. Tetapi Alkitab menasihati kita supaya teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci, sehingga kita pun akan dapat mengatasi semua permasalahan hidup dengan berpegang pada pengharapan dan iman pada janji-janji Tuhan. Jelas dikatakan bahwa "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).
Tetapi, bagaimanakah kita dapat mendengar janji-janji Tuhan itu? Kita dapat mendengar janji-janji Tuhan dari pemberitaan secara lisan melalui kotbah para hambaNya, atau dengan membaca firman Tuhan serta merenungkannya siang dan malam sehingga janji-janji Tuhan itu benar-benar meresap ke dalam hati kita, dan menimbulkan pengharapan serta iman yang teguh. Seringkali kita berdoa dan menerapkan janji-janji firman Tuhan untuk orang lain dan orang itu pun tertolong. Namun bila kita sendiri tak dapat menggunakan pengharapan dan iman atas janji-janji Tuhan itu, maka berkat-berkat Tuhan tak dapat kita nikmati. "Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ibrani 11:3). Firman Tuhan yang sanggup menciptakan alam semesta dengan sangat mudah berkuasa 'menciptakan' segala kebutuhan kita, yang tak ada artinya bila dibandingkan dengan alam semesta.
Oleh karenanya mari berpeganglah teguh pada janji-janji firman Tuhan agar hidup kita tertolong dalam segala masalah!
Saturday, August 14, 2010
DUKACITA YANG MENDATANGKAN KEBAIKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2010 -
Baca: 2 Korintus 7:8-16
"Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." 2 Korintus 7:10
Perjalanan hidup kita adalah bak sebuah proses. Seperti sebuah benda yang begitu indah dan berharga mahal, tidak ada yang dihasilkan secara kebetulan. Semuanya dihasilkan melalui suatu proses yang tidak mudah: diolah, diremukkan, dibentuk.
Begitu pula kita yang harus melewati berbagai tekanan, kesulitan, masalah dan juga penderitaan, yang kesemuanya itu membawa kita kepada dukacita. Namun bila kita mampu menguasai diri dan me-manage-nya dengan baik, serta membiarkan tangan Tuhan bekerja dalam hidup kita, kehidupan kita akan menjadi luar biasa dan berbeda. Tuhan tidak menghendaki kita bersedih atau berduka karena masalah yang ada. Justru Dia ingin memakai dukacita yang kita alami ini sebagai sarana membawa kita pada sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Maka dari itu firmanNya mengatakan: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Matius 5:4). Tidak semua bentuk dukacita dapat membawa kebaikan; hanya ketika membawa dukacita itu kepada Tuhan, maka dukacita itu akan menjadi kebaikan bagi kita.
Lalu, dukacita yang bagaimanakah yang dapat membawa kebaikan dan menjadikan kita diberkati? Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai (baca Lukas 18:10-14). Kita bisa melihat perbedaan sikap hati di antara keduanya. Pemungut cukai sangat berdukacita atas dosa-dosa yang telah ia perbuat; ia merasa hina dan tidak layak menghadap Tuhan. Itulah sebabnya "...pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu (orang Farisi - red.) tidak." (Lukas 18:13-14).
Tanpa adanya perasaan dukacita dan penyelesalan tidak akan pernah ada pertobatan. Dan tanpa pertobatan kita pun tidak akan pernah menerima anugerah pengampunan dan kasih karunia dari Tuhan.
Pemungut cukai disebut sebagai orang yang berbahagia, karena dukacitanya atas dosa membawanya mengalami pengampunan dan pembenaran oleh Tuhan.
Baca: 2 Korintus 7:8-16
"Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." 2 Korintus 7:10
Perjalanan hidup kita adalah bak sebuah proses. Seperti sebuah benda yang begitu indah dan berharga mahal, tidak ada yang dihasilkan secara kebetulan. Semuanya dihasilkan melalui suatu proses yang tidak mudah: diolah, diremukkan, dibentuk.
Begitu pula kita yang harus melewati berbagai tekanan, kesulitan, masalah dan juga penderitaan, yang kesemuanya itu membawa kita kepada dukacita. Namun bila kita mampu menguasai diri dan me-manage-nya dengan baik, serta membiarkan tangan Tuhan bekerja dalam hidup kita, kehidupan kita akan menjadi luar biasa dan berbeda. Tuhan tidak menghendaki kita bersedih atau berduka karena masalah yang ada. Justru Dia ingin memakai dukacita yang kita alami ini sebagai sarana membawa kita pada sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Maka dari itu firmanNya mengatakan: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Matius 5:4). Tidak semua bentuk dukacita dapat membawa kebaikan; hanya ketika membawa dukacita itu kepada Tuhan, maka dukacita itu akan menjadi kebaikan bagi kita.
Lalu, dukacita yang bagaimanakah yang dapat membawa kebaikan dan menjadikan kita diberkati? Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai (baca Lukas 18:10-14). Kita bisa melihat perbedaan sikap hati di antara keduanya. Pemungut cukai sangat berdukacita atas dosa-dosa yang telah ia perbuat; ia merasa hina dan tidak layak menghadap Tuhan. Itulah sebabnya "...pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu (orang Farisi - red.) tidak." (Lukas 18:13-14).
Tanpa adanya perasaan dukacita dan penyelesalan tidak akan pernah ada pertobatan. Dan tanpa pertobatan kita pun tidak akan pernah menerima anugerah pengampunan dan kasih karunia dari Tuhan.
Pemungut cukai disebut sebagai orang yang berbahagia, karena dukacitanya atas dosa membawanya mengalami pengampunan dan pembenaran oleh Tuhan.
Friday, August 13, 2010
KUASA ILAHI TAK TERBATAS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2010 -
Baca: 2 Raja-Raja 4:1-7
"Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 2 Raja-Raja 4:2b
Sebelum terangkat ke sorga Elia berkata kepada Elisa, " 'Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.' Jawab Elisa: 'Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.' " (2 Raja-Raja 2:9).
Elisa yang telah mendapatkan 'dua bagian' Roh nabi Elisa mengalami perubahan dalam hidup kerohaniannya. Ia memperoleh kuasa Ilahi sehingga dapat berkarya dengan heran dalam keadaan yang diperlukan. Suatu ketika ia berjumpa dengan janda yang terlilit hutang dan keadaannya cukup gawat, sebab penagih hutang hendak mengambil dua anaknya untuk dijadikan budak bila ia tidak bisa melunasi hutang itu. Elisa hendak menolong janda itu dan menanyakan apakah ia mempunyai sesuatu di rumahnya. Namun si janda hanya mempunyai sebuah buli-buli berisi minyak. Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk meminta bejana-bejana kosong dari para tetangganya dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan menuangkan minyak yang sedikit itu ke dalam semua bejana kosong yang ada. Maka mujizat pun terjadi! Semua bejana terisi penuh oleh minyak yang sedikit itu! Berkatalah Elisa kepada janda itu, "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu." (2 Raja-Raja 4:7b).
Kuasa Ilahi yang ada di dalam diri Elisa mampu mengadakan hal-hal ajaib tanpa batas. Juga ketika Elisa mengetahui ada perempuan Suneam yang kaya tapi tak mempunyai anak dan suaminya pun sudah tua, kuasa Ilahi 'dua bagian' Roh nabi yang ada pada dirinya sanggup membuat perempuan itu mempunyai anak. "Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya." (2 Raja-Raja 4:17).
Walau Elisa telah beroleh karunia kuasa Ilahi dia tetap tak menyalahgunakan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia tetap hidup sederhana dan rendah di hadapan Tuhan. Kita pun dapat mengalami pertolongan dalam kesesakan kita apabila kita berseru kepada Tuhan memohon kuasa IlahiNya berkarya dalam hidup kita.
Tuhan Yesus mengenal dan merasakan penderitaan kita; Dia sanggup mengubah air mata menjadi kesukaan karena kuasaNya tak terbatas!
Baca: 2 Raja-Raja 4:1-7
"Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 2 Raja-Raja 4:2b
Sebelum terangkat ke sorga Elia berkata kepada Elisa, " 'Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.' Jawab Elisa: 'Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.' " (2 Raja-Raja 2:9).
Elisa yang telah mendapatkan 'dua bagian' Roh nabi Elisa mengalami perubahan dalam hidup kerohaniannya. Ia memperoleh kuasa Ilahi sehingga dapat berkarya dengan heran dalam keadaan yang diperlukan. Suatu ketika ia berjumpa dengan janda yang terlilit hutang dan keadaannya cukup gawat, sebab penagih hutang hendak mengambil dua anaknya untuk dijadikan budak bila ia tidak bisa melunasi hutang itu. Elisa hendak menolong janda itu dan menanyakan apakah ia mempunyai sesuatu di rumahnya. Namun si janda hanya mempunyai sebuah buli-buli berisi minyak. Lalu Elisa memerintahkan janda itu untuk meminta bejana-bejana kosong dari para tetangganya dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan menuangkan minyak yang sedikit itu ke dalam semua bejana kosong yang ada. Maka mujizat pun terjadi! Semua bejana terisi penuh oleh minyak yang sedikit itu! Berkatalah Elisa kepada janda itu, "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu." (2 Raja-Raja 4:7b).
Kuasa Ilahi yang ada di dalam diri Elisa mampu mengadakan hal-hal ajaib tanpa batas. Juga ketika Elisa mengetahui ada perempuan Suneam yang kaya tapi tak mempunyai anak dan suaminya pun sudah tua, kuasa Ilahi 'dua bagian' Roh nabi yang ada pada dirinya sanggup membuat perempuan itu mempunyai anak. "Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya." (2 Raja-Raja 4:17).
Walau Elisa telah beroleh karunia kuasa Ilahi dia tetap tak menyalahgunakan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia tetap hidup sederhana dan rendah di hadapan Tuhan. Kita pun dapat mengalami pertolongan dalam kesesakan kita apabila kita berseru kepada Tuhan memohon kuasa IlahiNya berkarya dalam hidup kita.
Tuhan Yesus mengenal dan merasakan penderitaan kita; Dia sanggup mengubah air mata menjadi kesukaan karena kuasaNya tak terbatas!
Thursday, August 12, 2010
ALLAH DANIEL ALLAH KITA JUGA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2010 -
Baca: Daniel 6:20-29
"Lalu kata Daniel kepada raja: 'Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikatNya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu,'..." Daniel 6:22, 23
Raja Darius ditekan untuk membuat sebuah undang-undang dan mengeluarkan perintah bahwa dalam waktu tiga puluh hari setiap orang yang menyembah kepada salah satu dewa atau manusia, kecuali kepada raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa.
Meskipun Daniel mendengar bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia tetap berdoa setiap hari dan menyembah kepada Allah yang hidup. Pada saat musuh-musuh Daniel mendapatinya sedang berdoa, mereka menghadap raja dan meminta agar raja menghukum dan melemparkannya ke gua singa. Hati raja sangat sedih karena dia suka kepada Daniel dan tidak menginginkan kematian anak muda ini. Tetapi surat perintah itu tidak dapat diubah. Raja tidak dapat melakukan apa pun untuk menggantikannya, "Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa." (ayat 18). Di sini kita dapat melihat perbedaan reaksi antara raja Darius dan Daniel dalam situasi yang tidak ada harapan. Setelah raja melemparkan Daniel ke gua singa ia tidak dapat tidur karena memikirkan nasib Daniel (ayat 19). Sebaliknya Daniel memiliki damai sejahtera karena ia hidup oleh iman dan mengharapkan hal-hal yang baik. Darius membayangkan hal-hal buruk dan mengira bahwa Daniel pasti akan dibunuh oleh singa-singa itu. "Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: 'Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?' Lalu kata Daniel kepada raja: 'Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikatNya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku,...' " (ayat 20-23).
Saat ini di mana-mana orang berbicara tentang masalah-masalah yang mengerikan yang terjadi di dunia. Tidaklah menutup kemungkinan kita juga mulai berpikir negatif seperti yang dilakukan oleh orang dunia.
Seburuk apa pun situasi di sekitar kita, Allah Daniel adalah Allah kita juga, Dia tidak pernah berubah, kuasaNya tetap sama! Jadi, buang semua pikiran yang negatif.
Baca: Daniel 6:20-29
"Lalu kata Daniel kepada raja: 'Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikatNya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu,'..." Daniel 6:22, 23
Raja Darius ditekan untuk membuat sebuah undang-undang dan mengeluarkan perintah bahwa dalam waktu tiga puluh hari setiap orang yang menyembah kepada salah satu dewa atau manusia, kecuali kepada raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa.
Meskipun Daniel mendengar bahwa surat perintah itu telah dibuat, ia tetap berdoa setiap hari dan menyembah kepada Allah yang hidup. Pada saat musuh-musuh Daniel mendapatinya sedang berdoa, mereka menghadap raja dan meminta agar raja menghukum dan melemparkannya ke gua singa. Hati raja sangat sedih karena dia suka kepada Daniel dan tidak menginginkan kematian anak muda ini. Tetapi surat perintah itu tidak dapat diubah. Raja tidak dapat melakukan apa pun untuk menggantikannya, "Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa." (ayat 18). Di sini kita dapat melihat perbedaan reaksi antara raja Darius dan Daniel dalam situasi yang tidak ada harapan. Setelah raja melemparkan Daniel ke gua singa ia tidak dapat tidur karena memikirkan nasib Daniel (ayat 19). Sebaliknya Daniel memiliki damai sejahtera karena ia hidup oleh iman dan mengharapkan hal-hal yang baik. Darius membayangkan hal-hal buruk dan mengira bahwa Daniel pasti akan dibunuh oleh singa-singa itu. "Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: 'Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?' Lalu kata Daniel kepada raja: 'Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikatNya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku,...' " (ayat 20-23).
Saat ini di mana-mana orang berbicara tentang masalah-masalah yang mengerikan yang terjadi di dunia. Tidaklah menutup kemungkinan kita juga mulai berpikir negatif seperti yang dilakukan oleh orang dunia.
Seburuk apa pun situasi di sekitar kita, Allah Daniel adalah Allah kita juga, Dia tidak pernah berubah, kuasaNya tetap sama! Jadi, buang semua pikiran yang negatif.
Subscribe to:
Posts (Atom)