Wednesday, July 14, 2010

MASALAH: Proses Menuju Penggenapan Janji Tuhan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juli 2010 -

Baca: Kejadian 41:37-45

"Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf:  'Hormat!'  Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."  Kejadian 41:43

Ketika mendapatkan mimpi-mimpi dari Tuhan, Yusuf belum memiliki gambaran yang jelas nyata bahwa tidak ada rencana Tuhan yang gagal.  Melalui proses kehidupannya yang berliku-liku akhirnya Yusuf sungguh-sungguh menjadi besar, yaitu menjadi penguasa di Mesir.  Sungguh luar biasa, Yusuf menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun.  Lebih daripada itu Yusuf diberik hak dan kuasa, bahkan cincin raja dikenakan kepadanya.

     Kita percaya bahwa Tuhan juga memiliki rencana khusus bagi setiap kita.  Dia memiliki rancangan yang baik, masa depan yang indah dan penuh pengharapan.  Dia sudah membuktikan kasihNya:  berkorban, rela menderita, bahkan rela menyerahkan nyawaNya di atas kayu salib untuk kita.  Semua ini dilakukanNya supaya kita beroleh pengampunan, keselamatan, kesembuhan, pemulihan, kasih karunia dan anugerah supaya kita memiliki kehidupan yang baik.

     Jika kita teliti dan perhatikan lebih jauh, semua masalah dan penderitaan yang dialami oleh Yusuf sebenarnya adalah proses yang dipakai Tuhan untuk menuju pada janjiNya.  Pada waktu mendapatkan janji Tuhan, Yusuf masih berada di Kanaan.  Namun Tuhan memberi mimpi kepada Yusuf bahwa ia akan menjadi penguasa di Mesir.  Karena itu Yusuf harus sampai ke Mesir agar menjadi penguasa di sana, meskipun cara Tuhan begitu ajaib membawa Yusuf sampai ke Mesir, yaitu melalui tindakan saudara-saudara Yusuf yang membuangnya ke sumur dan akhirnya menjualnya sebagai budak ke Mesir.  Yusuf perlu dibawa ke Mesir, karena jika hanya tinggal di rumah sangat sulit baginya untuk menjadi penguasa di Mesir.  Sekalipun Yusuf menjadi budak dan semua yang dialaminya menunjukkan bahwa itu sangat tidak masuk akal, namun jika kita melihatnya dengan mata rohani kita akan tahu bahwa Yusuf sedang mendekat kepada janji dan rencanaNya.  Untuk membawa kita kepada penggenapan janji dan rencanaNya Tuhan memakai banyak cara, bahkan melalui masalah dan penderitaan.

Karena itu jangan tawar hati dan takut jika sedang dilanda masalah!

Tuesday, July 13, 2010

MASALAH: Proses Menuju Penggenapan Janji Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2010 -

Baca: Kejadian 37:1-11

"Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya (Yusuf - red.), tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya."  Kejadian 37:11

Yusuf mendapatkan mimpi dari Tuhan dan melalui mimpi itu Tuhan hendak menyatakan rencana dan janjiNya kepada Yusuf.  Pertama, Yusuf bermimpi sedang berada di ladang bersama saudara-saudaranya untuk mengikat berkas-berkas gandum.  Tiba-tiba berkas gandum Yusuf bangkit dan tegak berdiri, sedangkan berkas-berkas saudaranya yang lain sujud menyembah kepada berkas milik Yusuf.  Ketika ia menceritakan kedua mimpi itu kepada saudara-saudaranya, mereka menjadi sangat marah dan berkata,  "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami?  Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?"  (ayat 8).  Sejak saat itu saudara-saudaranya semakin membenci Yusuf.

     Sesungguhnya Yusuf sedang mendapatkan janji Tuhan melalui mimpi-mimpinya itu.  RencanaNya Ia sampaikan melalui mimpi itu, yaitu kelak Yusuf akan diangkat sebagai seorang pemimpin besar dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.  Ternyata, sekalipun mendapatkan janji yang luar biasa dari Tuhan, Yusuf harus mengalami banyak masalah dalam kehidupannya.  Ada beberapa proses menyakitkan yang harus dialaminya:  1.  Yusuf dilemparkan ke dalam sumur (baca ayat 19:24);  2.  Yusuf dijual sebagai budak (baca ayat 25:28);  3.  Yusuf dipenjarakan oleh Potifar (Kejadian 39:12-20);  4.  Yusuf dilupakan oleh juru minum raja (baca Kejadian 40:21-23).  Sepertinya, kejadian demi kejadian yang dialami Yusuf ini sangat bertentangan dengan janji Tuhan.  Ketika masih tinggal dengan ayahnya, Yusuf menjadi anak kesayangan dan hidupnya enak.  Begitu mendapatkan mimpi dan janji dari Tuhan ia justru harus mengalami penderitaan yang luar biasa.  Sungguh tidak masuk akal menurut pemikiran kita.

     Hidup kita pun sering mengalami hal seperti itu.  Kita sering mendengar kotbah bahwa janji Tuhan itu ya dan amin, dan rancanganNya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (baca Yeremia 29:11). Namun mengapa keadaan kita tetap begini-begini saja, tidak berubah, krisis dan sakit pun belum juga disembuhkan?  Inilah perjalanan yang harus kita lewati, terkadang Tuhan ijinkan kita mengalami penderitaan demi penderitaan seperti Yusuf.  (Bersambung)

Monday, July 12, 2010

KENANGAN DI TAMAN EDEN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2010 -

Baca: Kejadian 2:8-25

"Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu."  Kejadian 2:15

Tuhan mencipatakan manusia dengan maksud dan tujuan mulia sehingga Ia menjadikan manusia menurut gambar dan rupaNya.  Ia menempatkan manusia pertama ini (Adam) di tempat yang indah dan menyenangkan:  "...Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur;  disitulah ditempatkanNya manusia yang dibentukNya itu."  (Ayat 8).

     Kata Eden memiliki arti kesenangan.  Tuhan tidak menempatkan manusia pada tempat yang tandus atau mengerikan, tapi Dia menempatkan manusia di suatu tempat kesenangan.  Di taman inilah manusia memiliki hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, dapat bersenda gurau, berbicara dan bersekutu dengan Tuhan.  Kehadiran Tuhanlah yang membuat taman Eden iu menjadi tempat paling nyaman yang pernah ada di dunia ini.  Tuhan juga memberikan kepercayaan kepada manusia untuk berkuasa atas segala ciptaanNya yang lain.  Kebahagiaan Adam makin sempurna dengan diberikanNya pendamping baginya yaitu Hawa,  "...dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu.  (ayat 22).

     Tiba-tiba manusia diusir dari taman kesenangan itu; tidak lagi berpijak di atas tanah yang subur tetapi tanah yang terkutuk; harus bermandi peluh supaya bisa makan; harus menanggung sakit bersalin, serta terpisah dari Tuhan!  Manusia tidak lagi dalam kemuliaan Tuhan; citra dirinya telah rusak, telanjang dan kematian menghadangnya.  Dosa dan ketidaktaatan adalah pemicu semuanya itu.  Dosa membuat sakit-penyakit, kemiskinan dan kemalangan terjadi di bumi ini.  Dosa telah menjalar kepada semua keturunan Adam sehingga tidak ada manusia yang tidak berdosa:  "...sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa."  (Roma 5:12).  Adapun satu-satunya Pribadi yang dapat menghentikan 'virus' dosa adalah Yesus.  Melalui kematianNya di atas kayu salib si 'kepala ular' (Iblis) diremukkan.

Dosa tidak lagi berkuasa atas hidup orang percaya, dan hubungan manusia dengan Allah dipulihkan!

Sunday, July 11, 2010

ADA KEAMANAN DI DALAM TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2010 -

Baca: 2 Tawarikh 14:2-15

"Ia  (raja Asa - red.)  menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan pedupaan-pedupaan dari segala di kota di Yehuda.  Dan kerajaanpun aman di bawah pemerintahannya."  2 Tawarikh 14:5

Rasa aman adalah salah satu kebutuhan pokok manusia di muka bumi ini.  Tanpa keamanan kita akan menjalani hidup dengan rasa takut dan was-was.  Sebaliknya, tinggal dalam keamanan akan membuat kita hidup dengan sukacita dan tenang.

     Siapa yang akan menjamin hidup kita aman?  Bodyguard, tentara, polisi atau satpam memiliki keterbatasan dalam menjalankan tugasnya.  Sedangkan ancaman, marabahaya, teror bom dan sebagainya dapat terjadi di mana-mana dan kapan saja, tak seorang pun tahu.  Di manakah kita akan menemukan keamanan sesungguhnya?  Raja Asa memiliki pengalaman akan hal ini.  Raja Asa dan seluruh rakyatnya merasakan keamanan karena Tuhan sendiri yang melindungi mereka.  Apa kunci mendapatkan perlindungan Tuhan?  Yaitu ketika  "Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata Tuhan,  Tuhan pun membela mereka dan memukul kalah orang-orang Etiopia:  "Dari orang-orang Etiopia itu amat banyak yang tewas, sehingga tidak ada yang tinggal hidup, karena mereka hancur di hadapan Tuhan dan tentaranya.  Orang-orang Yehuda memperoleh jarahan yang sangat besar."  (ayat 13b, c).

     Siapa dan apa andalan hidup kita saat ini?  Banyak orang membentengi diri dengan benda-benda keramat dari 'orang pintar' seperti keris, susuk, batu akik agar sakti dan terlindungi dari bencana atau kesialan.  Itu adalah tipu muslihat Iblis semata supaya manusia menjauh dari Tuhan!  Jangan pernah terkecoh!  Satu-satunya yang menjamin kita akam adalah penyertaan dan tuntutan Tuhan.  Itu saja, tidak ada yang lain!  Kalau kita masih mencari perlindungan kepada yang lain sama artinya kita meragukan kuasa Tuhan.  FirmanNya mengatakan,  "...mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia."  (2 Tawarikh 16:9a).

Jangan berharap kuasaNya dinyatakan atas kita bila kita tidak setia dan sungguh-sungguh mencariNya.

Saturday, July 10, 2010

ALAT UJI IMAN: Kesesakan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juli 2010 -

Baca: Ayub 23:1-17

"Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  Ayub 23:10

Alat uji iman lain, yang terkadang harus dialami anak-anak Tuhan adalah penderitaan.  Penderitaan yang dimaksud dapat berupa krisis keuangan, sakit-penyakit atau tragedi.  Ada dua kemungkinan:  ketika seseorang berada dalam penderitaan ia bisa semakin dekat kepada Tuhan dan berharap penuh padaNya, atau malah semakin menjauh dari Tuhan.

     Mari belajar dari pengalaman hidup Ayub.  Ia harus melewati masa-masa yang begitu menyesakkan yang bisa dikatakan sebagai suatu tragedi.  Dalam waktu sekejap kejadian demi kejadian buruk beruntun terjadi:  anak-anaknya mati, rumahnya terbakar, tubuhnya terkena sakit dan isteri pun meninggalkan dia.  Namun dalam keterpurukannya  "...Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."   (Ayub 1:22).  Bagaimana kita?  Saat sesuatu yang buruk menimpa kita seringkali respons kita adalah negatif dengan langsung berkata,  "Tuhan tidak adil.  Ia jahat dan tidak mengasihi aku.  Percuma mengikut Yesus."  Kita tidak pernah berhenti mengeluh dan bersungut-sungut.  Hari ini kita diingatkan:  jangan ada seorang pun yang undur dari iman.  Kalau pun kita harus mengalami kesesakan, berjanjilah untuk tetap setia mengiring Tuhan.

     Begitu juga dengan Paulus, kaena Injil Kristus, dia harus mengalami penderitaan dan kesesakan seperti katanya,  "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit;  kami habis akal, namun tidak putus asa;  kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa."  (2 Korintus 4:8-9).  Paulus tidak kecewa, mundur atau pun lari dari panggilan Tuhan.  Justru ia semakin menyadari betapa indah rencana Tuhan di balik penderitaan yang harus ia tanggung.  Terkadang Tuhan ijinkan kita menderita untuk mencegah agar kita tidak berbuat dosa.  Dan lebih indah lagi, Dia hendak bekerja di dalam kita, karena  "...justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna."  (2 Korintus 12:9a).  Pada saat yang tepat jalan-jalanNya yang ajaib dinyatakan atas kita.

"Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya."  Mazmur 73:26

Friday, July 9, 2010

ALAT UJI IAN: Kelimpahan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2010 -

Baca: 1 Petrus 4:12-19

"Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu."   1 Petrus 4:12

Dari ayat nas ini kita dapat belajar bahwa adakalanya Tuhan mengijinkan suatu peristiwa terjadi dalam kehidupan kita (namun banyak kurang kita pahami), di mana ini menunjukkan Ia sangat concern terhadap kita dan bukti bahwa Ia adalah Bapa yang baik.

     Tuhan mengerjakan segala sesuatu dalam hidup kita bukanlah tanpa maksud, selalu ada rencanaNya yaitu hendak mengukur atau menguji kualitas iman kita, tahan uji atau tidak.  Tuhan berkata,  "Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu;  tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  (Matius 10:22).  Pertanyaannya:  mampukah iman kita bertahan sampai akhir?  Iman seseorang akan benar-benar teruji apabila ia mampu bertahan sampai akhir.  Dari sinilah kita tahu bahwa kita tahan uji.  Contoh cara atau alat yang digunakan Tuhan menguji iman kita adalah melalui kelimpahan (baca Lukas 12:16-19).  Ketika  seseorang hidup dalam kelimpahan atau bergelimang harta, hatinya cenderung berpaut pada harta yang ia miliki dari pada kepada Tuhan;  Tuhan tidak lagi menjadi yang utama dalam hidupnya,  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21):  karena merasa punya segalanya, Tuhan tidak lagi diperlukan, toh semuanya ada.  Pikirnya uang bisa mendapatkan apa saja yang dikehendaki.  Jangan sampai kita terlena dengan berkat, sebaliknya  "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu..."  (Amsal 3:9).  Tuhan memberkati kita supaya menjadi saluran berkat bagi pelebaran Kerajaan Allah dan juga orang lain. 

     Itulah sebabnya rasul Paulus berpesan kepada Timotius,  "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati."  (1 Timotius 6:17).  Berhati-hatilah!  Justru dalam keadaan sentosa kita harus memberi yang terbaik buat Tuhan.

Tetapi  "Aku (Tuhan - red.)  telah berbicara kepadamu selagi engkau sentosa, tetapi engkau berkata:  'Aku tidak mau mendengarkan!'  (Yeremia 22:21a).

Thursday, July 8, 2010

ISTERI YANG CAKAP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2010 -

Baca: Amsal 31:10-31

"Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?  Ia lebih berharga dari pada permata."  Amsal 31:10

Setiap pasangan suami isteri pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia.  Suami isteri harus saling melengkapi, mengasihi satu sama lain.

     Banyak cerita tentang para suami yang berkeluh kesah kepada hamba Tuhan akibat tidak tahan dan sangat tertekan dengan sikap dan karakter isterinya sehari-hari.  Akhirnya suami lebih memilih berlama-lama berada di kantor dengan ditemani sekretarisnya yang cantik dan sabar, dari pada harus buru-buru pulang, karena isterinya di rumah sangat cerewet dan suka marah-marah.  Suami mana yang betah di rumah bila isterinya suka membentak dan sama sekali tidak memiliki kelembutan?  Sebagai seorang isteri Kristen tidak seharusnya kita bersikap demikian.  Adakah seorang isteri yang tidak ingin 'istimewa' di mata suaminya?  Atau yang dipuji dan bisa dibanggakan oleh suami?

     Penulis Amsal mengatakan bahwa seorang isteri yang cakap adalah mahkota bagi suaminya.  Mahkota dipakai di atas kepala dan melambangkan kehormatan.  Jadi, isteri yang cakap adalah kebanggan dan kehormatan bagi suaminya.  Biasa kesuksesan seorang suami dalam usaha, pekerjaan (karir) dan juga pelayanan sangat dipengaruhi peranan isteri yang pastinya cakap.  Bagaimana bisa menjadi isteri yang cakap?  Isteri yang cakap adalah isteri yang hidup takut akan Tuhan, sehingga ia tahu akan panggilan Tuhan dalam hidupnya yaitu menjadi penolong yang sepadan:  menolong dan mendampingi suaminya menjalani kehidupan seperti yang Tuhan kehendaki.  Jadi ia harus bisa mendukung visi suaminya.  Isteri yang cakap berarti juga mengasihi suaminya apa adanya; mengasihi berarti menerima kelebihan dan kekurangannya, mau tunduk dan menghargai suaminya sebagai kepala rumah tangga.  Allah menasihati,  "Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan."  (Kolose 3:18).  Isteri perlu membantu suaminya untuk mengisi atau memperbaiki kekurangannya, bukan mengkritik, mengungkit-ungkit kesalahan atau menjatuhkan.  Selain itu, dia juga harus mampu memperhatikan kebutuhan keluarganya.

"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji."  Amsal 31:30

Catatan:
"Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."  Kolose 3:19-21