Thursday, November 12, 2020

ORANG PERCAYA TAKKAN DIPERMALUKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 November 2020

Baca:  Yesaya 49:8-26

"...engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu."  Yesaya 49:23b

Firman Tuhan tegas:  orang-orang yang menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan tidak akan mendapat malu, sebab janji firman-Nya adalah ya dan amin.  Pemazmur menulis:  "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7).

     Dari ayat nas jelas betapa Tuhan sangat mengasihi dan memperhatikan umat-Nya, sampai-sampai Ia harus menegaskan dan meyakinkan bahwa orang-orang yang menantikan Dia takkan mendapat malu.  Banyak orang Kristen sudah mengerti dan memahami kebenaran firman Tuhan ini, tapi dalam praktik hidup sehari-hari kita seringkali merasa kecewa dan marah kepada Tuhan karena doa kita yang belum terjawab, pertolongan yang belum datang, atau kesembuhan yang kita harapkan belum kita alami.  Kita pun berhenti berharap, tak lagi bertekun dalam doa, tak lagi bersabar menanti-nantikan Tuhan dalam bertindak, bahkan kita mulai putar haluan mencari pertolongan dari sumber lain dan berpaling dari Dia.  Kita ingin serba cepat dan instan!  Kita ingin Tuhan bertindak menurut waktu yang kita tentukan!  Pemazmur menasihati,  "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"  (Mazmur 27:14).  Daud tidak sekedar berteori sebab ia memiliki pengalaman hidup bersama Tuhan.  Kata  'nantikanlah'  diulangi dua kali, artinya menantikan Tuhan adalah hal yang sangat penting!  Banyak orang Kristen gagal menikmati janji Tuhan karena mereka tidak sabar menantikan waktu.  "...penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."  (Habakuk 2:3).

     Tidak ada janji Tuhan yang tidak ditepati-Nya!  Menantikan Tuhan berarti berjalan dalam kebenaran dan iman.  Jika Tuhan belum menjawab doa-doa kita, tetaplah bertekun menantikan Dia.  Ingat!  Hidup kita adalah  "...hidup karena percaya, bukan karena melihat"  (2 Korintus 5:7).

Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangatlah terbukti  (Mazmur 46:2).

Wednesday, November 11, 2020

MENGAPA HARUS MALU KARENA NAMA KRISTUS?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2020

Baca:  2 Timotius 1:1-18

"...janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya..."  2 Timotius 1:8

Banyak orang Kristen berusaha menutup rapat-rapat jati dirinya sebagai pengikut Kristus dengan berbagai alasan:  malu, takut ditolak, takut dijauhi teman, takut karirnya macet.  Ketika kita malu mengakui diri sebagai pengikut Kristus sama artinya kita telah menyangkal Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.  Tidak sadarkah kita ketika Kristus disalibkan di Golgota Ia harus menanggung rasa malu yang tiada terkira oleh karena dosa-dosa kita:  dihina, direndahkan, dilecehkan, dipukul, ditertawakan, menjadi tontonan banyak orang:  "Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: 'Salam, hai Raja orang Yahudi!' Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya."  (Matius 27:28-30).

     Sungguh, tak ada penghinaan yang kita terima dari dunia ini yang dapat dibandingkan dengan penghinaan yang Kristus alami dan rasakan.  Bahkan salah satu dari penjahat yang turut disalibkan bersama Dia  "...menghujat Dia, katanya: 'Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!'"  (Lukas 23:39).  Tak perlu kaget, kecewa, apalagi malu, ketika dunia menolak kita saat kita bersaksi tentang Kristus.  Orang-orang dunialah yang seharusnya merasa malu karena mereka belum diselamatkan.  Tak perlu menyembunyikan jati diri kita sebagai pengikut Kristus, sebab Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup:  "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (Yohanes 14:6b).  Rasul Paulus menegaskan,  "...aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan."  (2 Timotius 1:12).

     Bila kita malu mengakui Tuhan di hadapan manusia dan bersaksi tentang Dia, Tuhan pun akan malu mengakui kita di hadapan Bapa!

Tak perlu malu jika kita harus menderita sebagai seorang Kristen atau dinista karena nama-Nya, sebab Roh kemuliaan ada pada kita  (1 Petrus 4:14, 16).

Tuesday, November 10, 2020

ORANG PERCAYA SEBAGAI BATU HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2020

Baca:  1 Raja-Raja 7:1-12

"Tembok dari semuanya ini dibuat dari batu yang mahal-mahal, yang sesuai dengan ukuran batu pahat digergaji dengan gergaji dari sebelah dalam dan dari sebelah luar, dari dasar sampai ke atas, dan juga dari tembok luar sampai kepada tembok pelataran besar."  1 Raja-Raja 7:9

Ketika hendak membangun rumah, pasti diperlukan batu-batu yang berkualitas bagus, bukan sembarang batu.  Contohnya adalah ketika tempat kediaman Salomo dibangun, batu yang digunakan adalah batu-batu yang berkualitas dan berharga mahal.  Namun demikian batu-batu itu tidaklah bernyawa alias benda mati.  Berbeda dengan tempat kediaman Tuhan  (Bait Suci Tuhan)  yang adalah lambang kehadiran Tuhan.  Bait Tuhan dibangun bukan dengan batu-batu mati, tetapi dengan batu-batu hidup, yaitu kumpulan orang-orang percaya  "...sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani..."  (1 Petrus 2:5).

     Sebuah batu hidup adalah unit tunggal sebelum ia dipersatukan dengan batu-batu hidup lain, untuk menjadi satu kesatuan sebagai bagian dari pembangunan rumah rohani.  Yesus berkata,  "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."  (Matius 16:18-19).  Saat ini masih banyak  'batu-batu'  yang tercerai berai di sana-sini, tak menyatu.  Dapatkah kita membangun sebuah rumah, bila batu-batu yang hendak kita pergunakan terpencar, tercerai-berai, dan tidak karuan?  Untuk bisa dipakai sebagai batu hidup bagi pembangunan rumah rohani, batu-batu itu harus menyatu, terkumpul, dan kemudian dibangun di atas batu yang lain.  Dari situlah kita akan tahu bahwa batu-batu itu telah berfungsi di tempat yang seharusnya.  Jika batu-batu itu tetap sebagai batu tunggal, ia tidak dapat berfungsi.

     Sebagai batu yang hidup kita harus berada di tempat yang tepat, yaitu di area pembangunan rumah Tuhan.  Terkadang kita harus siap untuk dihaluskan dan dipertajam lagi supaya bisa  'pas'  dengan tempat kita.

Orang percaya takkan berfungsi maksimal bagi rumah Tuhan bila berjalan sendiri-sendiri!

Monday, November 9, 2020

KITA TAK BERHAK MENGHAKIMI ORANG LAIN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 November 2020

Baca:  Roma 2:1-16

"Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama."  Roma 2:1

Orang yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain atau menghakimi orang lain, tak menyadari bahwa sesungguhnya ketika ia sedang menunjuk, hanya satu jari saja yang tertuju kepada orang lain, tapi empat jari lainnya menunjuk kepada dirinya sendiri.  Siapakah kita ini sehingga kita berlaku seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis kepada orang lain?  Sebelum kita menghakimi orang lain, sebaiknya kita memeriksa diri sendiri terlebih dahulu:  apakah kita ini sudah bersih dari kesalahan?  Apakah kita ini sudah sempurna, tanpa cacat cela?  Tidakkah kita malu pada diri sendiri, bila kesalahan yang kita perbuat ternyata jauh lebih besar dari orang yang sedang kita hakimi?  Karena itu Tuhan memperingatkan,  "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Matius 7:1-2).

     Saat ini kita sedang hidup di zaman yang benar-benar mendekati akhir, di mana manusia cenderung mencintai dirinya sendiri:  menjadi pemfitnah, tidak peduli agama, tidak tahu mengasihi, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang dan suka berkhianat  (2 Timotius 3:1-4).  Orang mudah sekali terprovokasi, mudah menuduh atau menyalahkan orang lain;  terbiasa mencari-cari kelemahan dan kekurangan orang lain;  mudah sekali berkomentar, menghujat, menghina, memojokkan, merendahkan, membuka aib, mengorek-orek masa lalu orang lain dengan komentar atau cuitan-cuitan di media sosial.  Kita seringkali berlaku seolah-olah menjadi orang yang paling benar, paling suci, tiada tandingannya.  Kita bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat  (Yakobus 2:4).

     Firman Tuhan menegaskan,  "Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?"  (Yakobus 4:12).

Kita tak luput dari kesalahan dan dosa, karena itu berhentilah menghakimi orang lain!

Sunday, November 8, 2020

KETELADANAN HIDUP SEORANG PERWIRA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 November 2020

Baca:  Lukas 7:1-10 

"Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati."  Lukas 7:2

Walau bukan bagian dari murid Tuhan, atau dari bangsa yang mengenal Tuhan, tapi perwira tentara Romawi ini justru mampu mempraktekkan  apa yang Tuhan Yesus ajarkan, yaitu mengasih orang lain dan berlaku murah hati.  Alkitab menyatakan bahwa perwira tentara Romawi itu  "...mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya."  (ayat nas).  Kata  'hamba'  (Yunani:  doulos)  adalah orang yang dimiliki oleh orang lain untuk melayani pemiliknya;  orang yang patuh kepada tuannya;  orang yang berkedudukan sangat rendah, yang hidupnya sangat bergantung pada tuannya.  Tetapi perwira tentara Romawi tersebut tidak memandang rendah hambanya atau berlaku semena-mena terhadapnya, sebaliknya ia sangat menghargainya, dan ia memperlakukan hambanya seperti bagian dari keluarganya sendiri.  Apa buktinya?  Ketika hambanya sakit keras dan hampir mati, perwira itu berusaha menemui Tuhan Yesus, memohonkan kesembuhan bagi hambanya.

     Anehnya perwira itu menolak Yesus untuk datang ke rumahnya, ia memohon cukup lewat perkataan saja ia percaya hambanya pasti sembuh.  "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."  (Lukas 7:6-7).  Ia merasa diri tidak layak menerima Yesus di rumahnya, bahkan pernyataan tersebut sampai diulanginya dua kali.  Kata  'tidak layak'  berarti tidak pantas, tidak memenuhi syarat.  Mungkin ia menyadari statusnya sebagai bangsa Romawi, bangsa yang masih menyembah kepada dewa-dewa.

     Meski bukan dari bangsa Yahudi, perwira Romawi ini memiliki iman yang luar biasa kepada Tuhan, artinya ia tahu benar siapa Tuhan Yesus itu, sehingga ia percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan.  Berkatalah Tuhan kepadanya,  "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"  (Lukas 7:9).

Karena iman dari perwira tentara Romawi itu, hambanya yang sakit mengalami mujizat dari Tuhan:  kesembuhan terjadi!

Saturday, November 7, 2020

KETELADANAN HIDUP SEORANG PERWIRA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 November 2020

Baca:  Matius 8:5-13

"Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:"  Matius 8:5

Alkitab mencatat bahwa setelah menyembuhkan seorang yang sakit kusta Tuhan Yesus melanjutkan tur pelayanan-Nya dan masuk ke kota Kapernaum.  Bukan hal baru Tuhan datang ke Kapernaum, sebab kota itu adalah kota terdekat dari bukit, tempat di mana Dia mengajar banyak orang.  Letak kota Kapernaum ada di pesisir danau Galilea.

     Ada yang mengejutkan ketika Tuhan Yesus berada di kota itu, yaitu seorang perwira tentara Romawi menemui-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya:  "...datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 'Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.'"  (Matius 8:5-6).  Inilah yang tidak biasa:  seorang perwira tentara Romawi mau datang kepada orang Yahudi untuk meminta pertolongan, padahal Romawi adalah negara yang menjajah bangsa Yahudi waktu itu.  Apalagi jabatan perwira bukanlah jabatan rendahan yaitu pemimpin pasukan yang membawahi 100 orang tentara.  Perwira tentara Romawi itu memohon pertolongan kepada Tuhan.  Kata  'memohon'  artinya meminta dengan sungguh-sungguh dan penuh harapan.  Padahal perwira itu punya reputasi dan punya hak istimewa di kerajaan Romawi, tapi ia mau datang kepada seorang Yahudi  (bangsa jajahan)  dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.  Ini menunjukkan bahwa perwira Romawi ini rela melepaskan  'atribut'  yang melekat kepadanya, mau menanggalkan  'pakaian kebesaran', dan melakukan tindakan yang tidak lazim, karena pada dasarnya tentara Romawi memiliki watak imperialisme kuat.  Kata  'imperialisme'  berasal dari kata Latin  'imperare'  yang artinya memerintah dan menguasai.

     Di zaman sekarang ini tak mudah bagi orang yang memiliki pangkat tinggi atau kaya mau menanggalkan  'atribut kebesaran'nya seperti yang diperbuat oleh perwira Romawi ini.  Kebanyakan dari mereka cenderung ingin dipuji, dihormati, dinomorsatukan.  Mereka merasa gengsi bila harus down to earth  (rendah hati).  Dengan jabatan atau kekayaan yang dimiliki, mereka pun cenderung berlaku sombong, semena-mena terhadap orang lain, dan menganggap rendah  'orang kecil'.  Apa yang dilakukan perwira tentara Romawi ini benar-benar patut dicontoh!

Friday, November 6, 2020

PEMBERONTAKAN DATANGKAN HUKUMAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2020

Baca:  Yesaya 1:1-9

"Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku."  Yesaya 1:2

Kitab ini ditulis oleh nabi Yesaya,  (arti namanya 'Tuhan keselamatan').  Pada masa itu kerajaan Israel sudah terpecah menjadi 2 bagian:  Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda.

     Selain terpecah menjadi dua kerajaan, banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan umat Israel!  Mereka melangkah keluar dari jalan-jalan Tuhan, seringkali memberontak kepada Tuhan, tidak lagi setia kepada Tuhan.  Karena itulah Tuhan segera mengutus hamba-Nya, yaitu nabi Yesaya, untuk menegur dan memperingatkan mereka, bahkan Tuhan harus mendatangkan hukuman sebagai bentuk teguran karena kedegilan hati mereka dan perbuatan yang sudah melampaui batas:  "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya."  (Yesaya 1:3), bahkan mereka  "...berpaling membelakangi Dia."  (Yesaya 1:4), dan hal itu dilakukan berulang-ulang.  Mereka tidak sadar bahwa meninggalkan Tuhan dan hidup jauh dari jalan-jalan-Nya hanya mendatangkan akibat yang sangat fatal:  hidup menderita dan jauh dari kasih karunia Tuhan.  Jadi penderitaan yang dialami umat Israel ini bukan karena mereka mendapatkan seerangan dari Iblis, tetapi akibat dari ketidaktaatan mereka sendiri, sebab Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan... apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya  (Galatia 6:7).

     Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya kepada mereka, seperti Bapa sayang kepada anak-anak-Nya.  "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku."  (ayat nas).  Adalah wajar bila seorang ayah menegur dan kalau perlu menghajar, bila si anak memberontak:  "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."  (Amsal 13:24).  Tuhan sudah mencurahkan kasih-Nya, menyertai, membela, memberkati dan mengerjakan perkara-perkara yang heran di tengah-tengah mereka, tapi pada kenyataannya mereka melupakan Tuhan begitu saja.  Faktor lain yang membuat umat Israel berpaling membelakangi Tuhan adalah pengaruh dari bangsa-bangsa tetangga yang tidak menyembah kepada Tuhan yang benar.

Jangan mengeraskan hati dan memberontak kepada Tuhan bila tak ingin dihukum!

Thursday, November 5, 2020

ADA BAGIAN TUHAN, ADA BAGIAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 November 2020

Baca:  Amsal 16:1-33

"Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu."  Amsal 16:3

Dalam kehidupan kristiani ada orang-orang yang bersikap pasif dan ada pula yang bersikap aktif.  Yang dimaksudkan  'pasif'  di sini adalah orang yang hanya berserah kepada Tuhan tanpa melakukan apa pun, pasrah menunggu sampai Tuhan bertindak.  Berserah kepada Tuhan itu baik dan memang harus dilakukan oleh semua orang percaya, tapi bukan bersikap pasif seperti itu karena ada bagian yang harus kita kerjakan, yaitu meningkatkan intensitas hubungan kita dengan Tuhan supaya kita memiliki kepekaan akan tuntunan Roh Kudus tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya, bukan hanya duduk diam alias berpangku tangan.  Kalau kita tidak melakukan apa-apa, jangan kecewa bila kita tak memperoleh apa-apa dari Tuhan.

     Di sisi lain ada orang yang hanya  'aktif' dalam tindakan tapi tidak memiliki penyerahan diri kepada Tuhan, tidak pernah melibatkan Tuhan dalam setiap tindakannya.  Mereka bertindak dengan mengandalkan kekuatan, kehebatan, kepintaran dan kemampuan diri sendiri:  dan ketika berhasil mereka akan berkata,  "Semua karena usahaku sendiri, semua karena jerih payahku sendri, tanpa Tuhan pun aku bisa!"  Orang yang berlaku demikian, tinggal menunggu waktu saja, pasti akan jatuh.  Hidup kekristenan adalah hidup yang seimbang!  Keseimbangan antara doa dan bekerja, iman dan perbuatan.  "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati."  (Yakobus 2:26).  Iman dan perbuatan menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan, harus menjadi satu kesatuan, sebab  "...iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."  (Yakobus 2:22).

     Jadi, ada yang menjadi bagian Tuhan yaitu menolong kita, memampukan kita, membuka jalan bagi kita dan memberkati kita, sedangkan bagian kita adalah membangun iman, latihan ibadah, bersaat teduh untuk mempertajam pendengaran akan suara Tuhan, taat dan melakukan kehendak Tuhan dan bertindak dengan melibatkan Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala hal.

Janji Tuhan takkan tergenapi dalam hidup ini bila kita sendiri tak mau membayar harga:  ada iman, dan ada perbuatan!

Wednesday, November 4, 2020

ADA BERKAT SAAT DI RUMAH TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 November 2020

Baca:  Yesaya 37:1-38

"Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. Hizkia berdoa di hadapan TUHAN," Yesaya 37:14-15

Alkitab menyatakan:  "...dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya."  (Yesaya 36:1), sehingga Yerusalem benar-benar dalam keadaan terjepit, karena kepungan musuh  (raja Sanherib).  Di tengah situasi genting ini raja Hizkia pun mengoyakkan pakaiannya dan menyelubungi diri dengan kain kabung, lalu bersegera masuk ke rumah Tuhan  (ayat nas).

     Hizkia tahu benar kemana harus berlari meminta pertolongan dan perlindungan.  Di rumah Tuhan inilah Hizkia mendapatkan janji firman Tuhan yang menguatkan, meneguhkan, dan memberikan pengharapan yang pasti,  "Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana; juga ia tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok untuk mengepungnya. Melalui jalan, dari mana ia datang, ia akan pulang, tetapi ke kota ini ia tidak akan masuk, demikianlah firman TUHAN. Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."  (Yesaya 37:33-35).

     Banyak orang Kristen tak menaruh hormat terhadap rumah Tuhan, malahan seringkali menjauhkan diri pertemuan-pertemuan ibadah di rumah Tuhan  (Ibrani 10:25), padahal firman Tuhan memperingatkan,  "...tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi."  (Ulangan 12:5).  Bila Tuhan sendiri yang memberikan perintah, tidak ada alasan untuk kita tidak menaatinya karena di rumah-Nya ada berkat-berkat yang disediakan untuk umat-Nya.  "Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau."  (Mazmur 84:5), sebab  "...ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat..."  (Mazmur 133:3b)  dan jawaban atas setiap pergumulan dan berkat pengajaran firman Tuhan.  Karena itu nabi Mikha mengajak umat untuk naik ke gunung Tuhan  (rumah Tuhan)  supaya kita mendapatkan pengajaran, sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman Tuhan dari Yerusalem  (Mikha 4:2).

"TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam."  Mazmur 26:8

Tuesday, November 3, 2020

SEMAKIN TEKUN BERDOA, SEMAKIN TUHAN DEKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 November 2020

Baca:  2 Tawarikh 15:1-19

"Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya."  2 Tawarikh 15:2b

Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa Tuhan hanya sejauh doa-doa kita!  Namun banyak orang Kristen masih berpikir bahwa Tuhan berada jauh dari mereka, terlebih-lebih saat mereka sedang dirundung masalah.  Mereka bertanya-tanya,  "Di manakah Tuhan berada?  Mengapa Tuhan tidak turun tangan?"  "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?"  (Mazmur 13:2-3).

     Sesungguhnya Tuhan dekat dengan kita!  Jarak kita dengan Tuhan sangat tergantung pada seberapa tekun kita berdoa!  Semakin kita bertekun di dalam doa semakin dekat Tuhan dengan kita.  Bila Tuhan serasa jauh berarti ada hal yang tidak beres dengan kehidupan doa kita.  Jika kita ingin Tuhan dekat dengan kita maka kita harus berusaha mendekat kepada-Nya dan mencari wajah-Nya setiap saat.  "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!"  (1 Tawarikh 16:11).  Ketika Azarya bin Obed dihinggapi Roh Tuhan, segeralah ia menemui Asa  (raja Yehuda)  dan memperingatkan raja untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh sebelum semuanya terlambat.  Selama Tuhan masih berkenan untuk ditemui, kita harus mencari-Nya dengan sepenuh hati!  Kalau kita meninggalkan Tuhan dan melupakan-Nya, Ia pun akan meninggalkan dan membuang kita.  Tak bisa dibayangkan nasib orang yang ditinggalkan Tuhan dan dibuang oleh-Nya!

     Jika kita menyadari bahwa kita lemah dan penuh keterbatasan, mari mendekat pada-Nya dengan antusias dan meningkatkan jam-jam doa kita setiap hari.  Daud adalah contoh orang yang sangat karib dengan Tuhan.  Karena itu ia menjadi tenang  (Mazmur 62:2).  Dekat dengan Tuhan menghasilkan berkat yang luar biasa, sebab terhadap orang yang karib dengan-Nya, perjanjian-Nya diberitahukan-Nya  (Mazmur 25:14).  Firman Tuhan memperingatkan,  "...kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7b).

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"  Yesaya 55:6

Monday, November 2, 2020

BERKEMENANGAN KARENA TUHAN TURUN TANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 November 2020

Baca:  Ulangan 20:1-20

"...Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu."  Ulangan 20:4

Kehidupan kekristenan itu ibarat sedang berada di medan peperangan!  Ada musuh-musuh di sekitar kita yang selalu mengintai, yang siap menyerang saat kita lengah.  Peperangan kita ini bukanlah melawan darah dan daging, tetapi  "...melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).

     Kita berperang melawan Iblis  (musuh utama), berperang melawan kedagingan  (cara hidup dunia), juga berperang melawan masalah dalam hidup ini.  Jelas sekali bahwa hidup di dalam Tuhan bukan berarti tanpa rintangan atau mulus tanpa hambatan... justru sebaliknya, kita semakin diperhadapkan dengan tantangan dan peperangan setiap saat yang mungkin jauh lebih besar.  "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak dari padamu," (Ulangan 20:1),  "...janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka,"  (Ulangan 20:3), sebab ada tangan Tuhan yang siap menopang dan menyertai kita.  Mengapa Tuhan mengijinkan ada  'peperangan'?  Karena di balik itu Tuhan hendak memberikan kemenangan bagi kita:  "Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN."  (Amsal 21:31).

     Tidak ada kemenangan tanpa peperangan!  Tidak ada jarahan tanpa melucuti musuh!  Jadi rancangan Tuhan atas kita bukan sekedar memberkati kita, tapi Ia juga menghendaki kita menjadi orang-orang yang berkemenangan:  menang atas musuh, menang atas masalah sebesar apa pun... dan untuk menjadi pemenang ada harga yang harus dibayar!  Kita takkan punya kekuatan dalam berperang bila kita tidak memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata rohani dan sikap yang selalu berjaga-jaga dalam doa setiap waktu dalam Roh  (Efesus 6:18).

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  Mazmur 20:7

Sunday, November 1, 2020

HIDUP BENAR, TAPI MASIH MENDERITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 November 2020

Baca:  Mazmur 73:1-28

"Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  Mazmur 73:13-14

Tidak selamanya penderitaan yang kita alami disebabkan oleh serangan si jahat  (Iblis);  tidak semua pula akibat dari kesalahan atau dosa yang kita perbuat.  Saat kita mengalami penderitaan bukan berarti Tuhan tidak sanggup menolong kita dan melakukan mujizat-Nya.  Terkadang saat kita sedang berjuang untuk hidup dalam kebenaran, penderitaan pun serasa enggan beranjak dari kehidupan kita.  Ternyata tidak selamanya hidup benar mendatangkan kenyamanan atau berkat.  Akhirnya timbul pertanyaan dalam hati, sama seperti yang dipergumulkan oleh bani Asaf  (ayat nas):  "Mengapa kita sudah hidup dalam kebenaran tetapi justru yang kita lihat dan alami adalah situasi sulit, tekanan dan penderitaan?"  Bagaimana sikap hati kita jika hal ini terjadi?  Apakah kita harus kecewa kepada Tuhan, marah, menyalahkan Tuhan, kemudian memberontak kepada Tuhan?

     Bagaimana pun juga keadaannya, kita harus selalu mengoreksi diri!  Sudahkah kita benar-benar hidup dalam kebenaran?  Kalau kita dipercaya Tuhan untuk suatu pelayanan, sudahkah kita melayani Tuhan dengan benar?  Dengan kata lain pertobatan harus kita lakukan setiap hari,  "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  (Matius 3:8).  Mari belajar dari pemazmur yang selalu berdoa memohon kepada Tuhan untuk selalu dikoreksi, diuji, diselediki:  "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku."  (Mazmur 26:2).  Kalau tidak, kita akan mengalami seperti bangsa Israel yang harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun oleh karena mereka mengeraskan hati  (tegar tengkuk), tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, tak mau bertobat.

     Bila kita sudah hidup dalam pertobatan namun penderitaan masih harus kita alami, berarti kita sedang dalam proses ujian kesetiaan, sebab untuk setia di tengah penderitaan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.  Tapi ketika dalam penderitaan Tuhan mendapati kita tetap setia, percayalah, bahwa ada upah yang Tuhan telah persiapkan untuk kita.

Tetaplah berlaku hidup benar walau dalam penderitaan, karena di balik penderitaan ada kemuliaan!

Saturday, October 31, 2020

MENGANDALKAN MANUSIA ADALAH KEBODOHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Oktober 2020

Baca:  Yeremia 17:1-18

"Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk."  Yeremia 17:6

Ayat nas di atas adalah gambaran tentang keadaan orang yang hidup tidak mengandalkan Tuhan, tapi berharap dan mengandalkan manusia.  Dari pembacaan ayat yang kita baca Tuhan mengutus nabi Yeremia untuk menyampaikan firman-Nya kepada bangsa Yehuda, yang hatinya mulai menjauh dari Tuhan.  Nabi Yeremia diperintahkan Tuhan untuk mengingatkan mereka bahwa berhala-berhala itu tidak akan pernah bisa menolong.  Karena itu mereka harus kembali ke jalan Tuhan, kembali menyandarkan hidup hanya kepada Tuhan.  Dinyatakan bahwa orang yang mengandalkan manusia adalah orang yang terkutuk!  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).

     Boleh saja minta pertolongan bantuan atau bantuan dari orang lain, tapi bukan berarti kita boleh mengandalkan manusia atau berharap penuh kepada manusia, sebab bagaimana pun manusia tak lebih dari alat yang dipakai Tuhan.  Kadangkala Tuhan memakai seseorang atau menggerakkan hati seseorang untuk menolong, karena itu kita harus belajar menghormati, menghargai dan tidak lupa berterima kasih kepada orang yang menolong kita itu.  Tetapi kita harus memahami benar bahwa pertolongan dan mujizat bagi kita bukan datang dari manusia, tapi Tuhan yang bekerja di dalamnya.  Mengapa Tuhan memperingatkan kita untuk tidak mengandalkan manusia?  Karena kekuatan dan kemampuan manusia sangat terbatas, dan hati manusia cenderung mudah sekali berubah.

     Tak ingin merasakan kekecewaan?  Berhentilah berharap dan mengandalkan manusia!  Karena ketika kita mulai mengandalkan manusia, kita akan sepenuhnya di bawah kendali manusia.  Ingat, sumber pertolongan dan sumber keberhasilan kita adalah Tuhan, bukan manusia!  Tidak ada pilihan lain selain kita harus hidup mengandalkan Tuhan!  Alkitab menyatakan bahwa orang yang hidup mengandalkan Tuhan adalah orang yang diberkati, ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang tidak kuatir akan tahun kering dan takkan berhenti berbuah  (Yeremia 17:7-8).

Sumber pertolongan dan pengharapan hidup kita adalah Tuhan, bukan manusia!

Friday, October 30, 2020

TUHAN MENGHUKUM KARENA SUATU MAKSUD

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Oktober 2020

Baca:  Mazmur 39:1-14

"Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat;"  Mazmur 39:12

Sesungguhnya tidak ada dalam rancangan Tuhan untuk menghukum anak-anak-Nya!  Sebab rancangan Tuhan adalah  "...rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Semua yang baik itulah yang Tuhan perbuat bagi anak-anak-Nya!  Rancangan Tuhan atas hidup anak-anak-Nya adalah diberkati, berhasil dan hidup berkemenangan.  Oleh karena itu Tuhan selalu mengerjakan mujizat dan perkara yang dahsyat bagi manusia.  Meski sudah mengecap kebaikan Tuhan, meski sudah mengalami pertolongan Tuhan, seringkali kita lari dari rencana Tuhan, tak mau taat kepada kehendak Tuhan dan memilih menempuh jalan hidup seenaknya sendiri.

     Ketika sudah berkali-kali ditegur dan diperingatkan tapi tetap saja mengeraskan hati, Tuhan mengambil langkah terakhir yaitu memberikan hukuman.  Tuhan menghukum bukan berarti benci kepada kita, tapi memiliki suatu maksud yaitu supaya kita segera berbalik kepada-Nya  (bertobat), supaya tidak tersesat, dan tidak mengalami kebinasaan.  Jelas sekali bahwa Tuhan terpaksa menjatuhkan hukuman demi kebaikan kita.  Hukuman Tuhan bisa berupa masalah, sakit-penyakit, penderitaan, krisis, dan sebagainya.  Adalah lebih baik Tuhan menghukum kita untuk sementara waktu ketika kita masih hidup di dunia ini daripada kita harus mengalami penghukuman di neraka untuk selama-lamanya.  Jangan tunggu hukuman Tuhan datang terlebih dahulu baru kita mau bertobat.

     Bila saat ini kita harus mengalami  'hukuman'  Tuhan karena dosa dari pemberontakan yang kita perbuat, segeralah bertobat!  Waktu untuk bertobat adalah sekarang, bukan esok atau lusa!  "...selama masih dapat dikatakan 'hari ini', supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa."  (Ibrani 3:13).  Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa bukan kematian orang fasik yang Tuhan kehendaki, melainkan pertobatan mereka  (Yehezkiel 18:32).  Ingat:  upah dosa adalah maut!  (Roma 6:23).  Jangan mau dihasut dan diperdaya Iblis yang selalu menawarkan kenikmatan dosa.

Tak ingin mengalami hukuman Tuhan?  Hiduplah taat dan jangan berbuat dosa lagi.

Thursday, October 29, 2020

APAKAH YANG ENGKAU PERHATIKAN?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Oktober 2020

Baca:  Ratapan 3:1-66

"Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  Ratapan 3:21-23

Ayat nas ini merupakan pernyataan dari mulut seorang nabi Tuhan yang sedang dalam kegundahan hati karena melihat situasi-situasi sulit yang ada di depan mata.  Ketika ada masalah, kesusahan, bencana, penderitaan, sakit-penyakit, kesulitan dalam hidup ini kita seringkali menjadi lupa kedahsyatan kuasa Tuhan, karena perhatian dan pandangan mata kita tertutup oleh besarnya pergumulan yang kita hadapi.  Kita lupa dengan kasih dan kebaikan Tuhan, kita lupa bahwa kita punya Tuhan yang hebat dan gagah perkasa, kita lupa dengan pertolongan Tuhan di waktu-waktu lalu.  Permasalahan dan penderitaan yang datang secara bertubi-tubi langsung menutup mata iman kita sehingga kita berpikiran bahwa tidak ada lagi yang bisa diandalkan dalam hidup ini, sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan, bahkan kita beranggapan bahwa Tuhan sudah tidak lagi mempedulikan hidup kita, Tuhan sudah meninggalkan kita.

     Di tengah puing-puing kehancuran Yerusalem, Yeremia masih melihat secercah harapan bagi orang percaya karena ia mengarahkan pandangan dan perhatiannya kepada Tuhan!  Sebab  "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  (ayat nas).  Pernyataan  'tak habis-habisnya rahmat-Nya'  berarti rahmat Tuhan tidak akan habis dinikmati, sebab selalu baru setiap pagi.  Kita bisa mengambil contoh dari perjalanan hidup bangsa Israel:  saat keluar dari perbudakan di Mesir, menempuh perjalanan di padang gurun selama 40 tahun, kasih setia Tuhan kepada umat pilihan-Nya ini tak pernah berkesudahan:  setiap hari mereka melihat dan mengalami pertolongan Tuhan, apa yang mereka butuhkan disediakan Tuhan, berkat jasmani dan berkat rohani  (penyertaan, pemeliharaan, perlindungan).

     Jangan pernah ragukan kasih setia Tuhan!  "...kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya."  (Mazmur 103:17-18).

Di segala keadaan arahkan mata dan perhatian kita hanya kepada kasih setia-Nya!

Wednesday, October 28, 2020

TAK PERLU TAKUT: Tuhan di Pihak Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Oktober 2020

Baca:  Mazmur 118:1-29

"TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"  Mazmur 118:6

Banyak orang saat ini dilanda ketakutan luar biasa:  takut karena pandemi Covid-19 belum juga reda, takut karena ekonomi tak menentu, takut tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, takut kena PHK.  Ketakutan benar-benar menjadi senjata ampuh yang dipakai Iblis untuk melemahkan dan menghancurkan hidup manusia.  Ketakutan menjadi celah terbuka yang dimanfaatkan oleh Iblis, sebab Iblis mengerti benar bila seseorang dilanda ketakutan yang luar biasa semakin kecillah kekuatannya, semakin tak bisa berpikir jernih.

     Suatu ketika Yosafat mendapat kabar:  "'Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,' yakni En-Gedi."  (2 Tawarikh 20:2);  bani Moab dan bani Amon berperang melawan Yehuda, bersama-sama dengan sepasukan orang Meunim.  Yosafat yang saat itu sebagai pemimpin bangsa Yehuda menjadi sangat takut!  Padahal  "Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi." (Amsal 29:25).  Ketakutan bisa melanda siapa saja:  pemimpin negara, karyawan, pegawai rendahan, rohaniwan, orang kaya miskin, tua muda tanpa kecuali.  Dalam ketakutannya ini Yosafat  "...mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa."  (2 Tawarikh 20:3).

     Apa yang terjadi dengan Yosafat mungkin mewakili keadaan kita saat ini:  ada musuh-musuh yang sedang menyerbu area kehidupan kita.  Kita bisa belajar dari sikap dan tindakan Yosafat saat ketakutan melanda, yaitu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan dan menyerukan kepada seluruh bangsanya untuk berpuasa.  Dalam ketakutannya ini Yosafat datang ke alamat yang tepat, yaitu datang kepada Tuhan, memohon pertolongan dan menyerahkan semua permasalahannya kepada Tuhan.  Seruan untuk berpuasa artinya mereka datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh:  "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia."  (2 Tawarikh 16:9).  Hanya Tuhan satu-satunya sumber segala jawaban atas permasalahan hidup ini!

Asal hidup benar tak perlu kita takut!  Tuhan ada di pihak orang benar.