Saturday, October 10, 2020

SEPERTI TANAH YANG BAIKKAH HATI KITA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2020

Baca:  Yeremia 4:1-4

"Sebab beginilah firman TUHAN kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: 'Bukalah bagimu tanah baru, dan janganlah menabur di tempat duri tumbuh.'"  Yeremia 4:3

Sadar atau tidak sadar segala sesuatu yang terjadi dan kita alami dalam hidup ini memiliki keterkaitan dengan apa yang ada di dalam hati kita, atau cerminan dari apa yang ada di hati kita.  Contoh:  kalau hati kita dipenuhi sukacita dan ucapan syukur, hari-hari yang kita jalani pun tampak menyenangkan, kita menjalani hidup dengan penuh optimisme.

     Alkitab menggambarkan hati manusia itu seperti tanah:  ada tanah yang dipenuhi kerikil atau batu, ada tanah sangat keras, ada tanah yang ditumbuhi semak duri, ada pula tanah yang baik  (subur).  Meski sama-sama mendengarkan firman Tuhan, pertumbuhan rohani setiap orang sangat ditentukan oleh respons hati mereka masing-masing.  Sekalipun berkali-kali mendengarkan firman Tuhan, jika tanah hati kita tetap keras seperti batu, maka benih firman Tuhan tidak bisa tumbuh dengan baik, alias takkan berdampak dalam hidup kita.  Benih firman Tuhan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang lebat bila disemai di atas tanah yang baik.

     Hati kita digambarkan sebagai tanah yang baik apabila sudah bersih dari segala bentuk kotoran, berupa kepahitan, kebencian, dendam, amarah, sakit hati dan sebagainya.  Jika kotoran-kotoran tersebut masih saja menempel dan tidak segera dibersihkan, pertumbuhan benih firman pasti terhambat sekalipun kita aktif beribadah atau rajin hadir di persekutuan doa.  Hati kita digambarkan sebagai tanah yang baik apabila bebas dari segala yang jahat.  Karena itu kita harus menjaga hati kita dengan penuh kewaspadaan, sebab dari hati timbul segala pikiran jahat  (Matius 15:19).  Pemazmur mengingatkan bahwa bila ada niat jahat di dalam hati saja, doa kita tak didengar oleh Tuhan!  (Mazmur 66:18).  Jangan pula hati kita ini dipenuhi dengan segala keinginan-keinginan dunia yang sarat dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup  (1 Yohanes 2:16).  Jangan pula hati kita ini dipenuhi dengan ambisi-ambisi dunia yang bertujuan semata-mata untuk kemegahan diri sendiri.  Bila hati dipenuhi dengan ambisi pribadi, hal itu akan menyondongkan orang menjadi serakah dan tamak.

Mohon Roh Kudus menyelidiki hati kita supaya tetap berkenan kepada Tuhan!

Friday, October 9, 2020

MANUSIA BIASA, DOANYA LUAR BIASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2020

Baca:  Yakobus 5:12-20

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Doa adalah salah satu senjata rohani orang percaya yang sangat efektif untuk mengalahkan musuh  (Iblis).  Karena itu jangan meremehkan kekuatan doa!  Doa adalah senjata yang tidak kelihatan secara kasat mata, tapi kuasanya sungguh teramat dahsyat melebihi senjata apa pun di dunia ini, sebab doa sanggup mengalahkan musuh-musuh di alam roh  (Efesus 6:12).  Doa Elia sanggup menggerakkan tangan Tuhan untuk menahan langit agar tidak menurunkan hujan ke bumi selama tiga setengah tahun, juga membuka langit untuk mencurahkan hujan setelah tak ada hujan selama tiga setengah tahun.  Mungkin kita berkata,  "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita,..."  (Yakobus 5:17a).  Benar, Elia adalah manusia biasa yang juga punya kelemahan, kekurangan dan keterbatasan, pernah takut dan nyaris putus asa, bahkan sampai berkeinginan untuk mati saja  (1 Raja-Raja 19:3, 4).

     Terlepas dari keberadaannya sebagai manusia biasa, ada rahasia doa Elia yang membuat doanya menghasilkan mujizat!  1.  Elia taat.  Ketika diperintahan Tuhan untuk menghadap raja Ahab memberitahukan bahwa Tuhan akan menurunkan hujan bagi bangsa Israel, Elia taat  (1 Raja-Raja 18:1-2).  Ketaatnya adalah kunci utama!  Dalam hal berdoa ini Elia berdoa atas kehendak Tuhan, bukan menurut kehendaknya sendiri.  Seringkali kita berdoa menurut kehendak dan keinginan kita sendiri!  Kita hanya berdoa untuk kebutuhan diri sendiri, bukan berdoa menurut kehendak Tuhan.

     2.  Elia berdoa dengan sungguh.  "...bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan."  (Yakobus 5:17b).  Berdoa dengan sungguh berarti roh, jiwa dan tubuh menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah.  Seringkali ketika berdoa, hati dan pikiran kita tidak sinkron karena pikiran melayang kemana-mana  (tidak fokus), mulut berdoa, hati bimbang.  Yang penting juga adalah berdoa di dalam nama Tuhan Yesus!  "...dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."  (Yohanes 14:13-14), sebab segala kuasa ada di dalam nama-Nya.

Asal kita taat dan berdoa dengan sungguh dalam nama Tuhan, mujizat pasti terjadi!

Thursday, October 8, 2020

PENGORBANAN YANG TAK DIHARGAI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2020

Baca:  Bilangan 20:2-13

"Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa,"  Bilangan 20:2-3a

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan ringan, terlebih-lebih menjadi pemimpin rohani bagi umat Tuhan.  Selain kehidupan pribadinya selalu menjadi sorotan, sedikit saja melakukan kesalahan atau pelanggaran bisa fatal akibatnya:  dihakimi, dikritik, dicemooh dan dihujat.  Sebaliknya ketika si pemimpin memiliki kinerja bagus dan berprestasi jarang sekali ia mendapatkan pujian atau penghargaan,  "Ah...itu sudah seharusnya!"

     Sebagai pemimpin bangsa Israel  (bangsa pilihan Tuhan)  Musa juga mengalami perlakuan yang kurang baik dari umat yang dipimpinnya, padahal ia bukan sembarang pemimpin, tetapi pilihan Tuhan.  Setiap kali terbentur dengan masalah dan kesulitan saat menempuh perjalanan di padang gurun, umat Israel selalu menjadikan Musa sebagai kambing hitam, dipersalahkan dan dianggap sebagai penyebab kegagalan dan penderitaan yang sedang mereka alami.  Namun meski diperhadapkan dengan situasi sulit, meski harus menghadapi umat Israel yang dikenal tegar tengkuk  (Keluaran 32:9), Musa tetap menunjukkan kesabarannya:  "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi."  (Bilangan 12:3).  Dengan penuh kesabaran Musa mendampingi, menuntun dan membimbing bangsa Israel keluar dari Mesir.  Bangsa Israel tidak melihat betapa Musa telah mengorbankan banyak hal demi mereka:  "...Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa."  (Ibrani 11:24-25).

     Musa rela meninggalkan kemewahan, kenyamanan dan kenikmatan sebagai anak puteri Firaun dan memilih untuk menderita bersama umat Israel.  Bukankah ini pengorbanan luar biasa?  Tapi ini reaksi bangsa Israel saat mereka tidak mendapatkan air di Meriba,  "Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?"  (Bilangan 20:4-5).

Pengorbanan Musa tidak berarti apa-apa di hadapan umat Israel!

Wednesday, October 7, 2020

SUDAHKAH KITA BENAR-BENAR MERDEKA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2020

Baca:  1 Petrus 2:11-17

"Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka..."  1 Petrus 2:16

Karena kita telah dimerdekakan dari dosa melalui karya pengorbanan Kristus di kayu salib, kita dituntut memiliki kehidupan yang benar-benar bebas dari dosa.  Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap kita yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru  (2 Korintus 5:17), artinya harus menanggalkan kehidupan lama dan menjalani hidup sebagai manusia baru.  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."  (Yehezkiel 36:26).  Karena Tuhan sudah memberi hati yang baru dan roh yang baru, tidak ada alasan untuk tidak taat kehendak-Nya.  Mari tidak lagi hidup menuruti keinginan daging tetapi tunduk sepenuhnya kepada pimpinan Roh Kudus.

     Sebagai orang merdeka kita terbebas dari perhambaan, tidak lagi terbelenggu.  Artinya tidak terbelenggu oleh segala sesuatu yang menghamba atau memperbudak.  Pada saat orang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, secara de jure ia sudah dimerdekakan dari dosa.  Tetapi secara de facto masih banyak orang Kristen yang belum benar-benar merdeka karena mereka masih terikat dengan dosa dan hidup menuruti keinginan dagingnya.  Itu artinya mereka telah menyalahgunakan kemerdekaan dari Tuhan untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan yang diperbuatnya.  Karena kita telah dimerdekakan dalam Kristus, secara otomatis tubuh kita ini bukan lagi menjadi milik kita sendiri melainkan milik Kristus sepenuhnya, sebab kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar  (1 Korintus 6:19-20):  "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:19a-20b).

     Mari merespons dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan  (Roma 12:1), dan tidak lagi menyerahkan tubuh ini kepada dosa, melainkan menyerahkannya kepada Tuhan untuk menjadi senjata kebenaran  (Roma 6:13).

Mari kita pergunakan kemerdekaan yang Tuhan beri untuk melayani Dia dan hidup dalam kebenaran-Nya, supaya pengorbanan-Nya tidak sia-sia!

Tuesday, October 6, 2020

TETAP KUAT WALAU SITUASI GAWAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2020

Baca:  1 Korintus 16:10-18

"Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"  1 Korintus 16:13-14

Pada waktu itu jemaat di kota Korintus sedang menghadapi pergumulan iman yang tak mudah:  ada perselisihan, perpecahan, praktek penyembahan berhala marak, dan masih banyak lagi.  Suatu kondisi yang bisa dibilang gawat darurat!  Rasul Paulus pun tanggap, karena itu ia menasihati dan menguatkan mereka agar tetap kuat walau tengah berada di di situasi yang gawat.  Mereka tak perlu gentar sekalipun berada di tengah masa yang sukar.

     Nasihat rasul Paulus ini juga berlaku untuk semua orang percaya.  Bukankah saat-saat ini kita juga sedang diperhadapkan dengan kesukaran?  Di tengah situasi yang sukar ini kita diperintahkan untuk selalu berjaga-jaga!  Nasihat untuk berjaga-jaga ini juga sering Tuhan sampaikan kepada murid-murid-Nya, salah satunya adalah saat Ia berdoa di taman Getsemani,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).  Kata  'berjaga-jaga'  menggambarkan suatu sikap siaga guna mengantisipasi bahaya yang datang mengancam, juga berbicara tentang suatu kondisi sedang tidak tertidur;  orang yang tertidur pasti tidak tahu kalau ada pencuri!

     Bagaimana cara berjaga-jaga?  Melalui persekutuan karib dengan Tuhan terus-menerus!  Sebab hanya dekat Tuhan saja kita mendapatkan ketenangan  (Mazmur 62:2).  Paulus menambahkan,  "...hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya."  (Efesus 6:10).  Kalau kita selalu berjaga-jaga kita akan mampu berdiri teguh dalam iman  (ayat nas).  Artinya sekalipun ada musuh kita tidak goyah, tidak lemah, tidak mundur, melainkan sudah siap menghadapinya, sebab ada perisai iman di dada:  iman yang sudah dipenuhi kuasa firman Tuhan, yaitu iman yang timbul dari pendengaran akan firman Kristus  (Roma 10:17), iman yang memberikan keberanian kepada kita untuk menghadapi  'Goliat'  (masalah besar/tekanan/penderitaan yang sepertinya tak mungkin dikalahkan).  Berjaga-jagalah senantiasa, sebab kita diperhadapkan dengan peperangan setiap hari.  Tak berjaga-jaga pasti tenggelam dalam badai permasalahan!

Tak berjaga-jaga di dalam Tuhan, kita takkan berdaya menghadapi tantangan dunia!

Monday, October 5, 2020

JAMAHAN ROH KUDUS: Mengubah Hidup Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 19:1-12

"Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat."  Kisah 19:6

Kegerakan rohani terbesar gereja Tuhan dimulai saat Roh Kudus turun di hari Pentakosta  (Kisah 2:1-13).  Saat Roh Kudus melawat dan menjamah murid-murid Tuhan terjadilah terobosan baru!  Murid-murid Tuhan mengalami titik balik dalam pelayanan!  Mereka melayani pekerjaan Tuhan dengan kekuatan dan semangat yang baru sehingga pelayanan mereka tidak lagi biasa-biasa saja, tapi menjadi luar biasa.  Hidup mereka menjadi berubah, semua diawali dari ketaatan mereka saat diperintahkan Tuhan untuk tidak meninggalkan Yerusalem:  "...Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ..."  (Kisah 1:4), sampai mereka diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus dari tempat yang mahatinggi.  Setelah menerima kuasa Roh Kudus barulah mereka melangkah keluar mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil.

     Setiap orang percaya harus memiliki pengalaman pribadi dengan Roh Kudus sebab kehidupan kekristenan tak dapat dipisahkan dari pekerjaan Roh Kudus.  Bagi orang percaya Roh Kudus disebut sebagai  'Parakletos' (Yunani) diartikan sebagai Penolong, Penghibur, Pembela. Pengertian aslinya adalah Pendamping:  Pribadi yang selalu menyertai orang untuk memberikan pertolongan, khususnya dalam persidangan/pengadilan sebagai pembela!  Roh Kudus menolong kita dalam setiap kesulitan dan masalah yang kita hadapi.  Tanpa campur tangan Roh Kudus kita lemah dan tak punya kekuatan, sebab Roh Kudus yang ada di dalam kita  "...lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).  Tanpa penyertaan Roh Kudus kita takkan mampu menjalankan fungsi kita sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini:  "...kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).

     Di tengah dunia yang penuh problematika ini kita sangat membutuhkan Roh Kudus, Dialah yang senantiasa menghibur saat kita susah, mengingatkan kita akan penyertaan-Nya, janji-janji firman-Nya, perlindungan-Nya, sehingga kita menjadi tenang.

Tanpa Roh Kudus kehidupan kekristenan kita akan tumpul.

Sunday, October 4, 2020

MENGAPA TAK MENGALAMI KUASA IBADAH?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2020

Baca:  2 Timotius 3:1-9

"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."  2 Timotius 3:5a

Apa yang mendorong Saudara untuk beribadah di gereja?  Ingin mendengarkan khotbah dari hamba Tuhan terkenal?  Sekedar mengisi waktu luang, daripada bosan di rumah?  Sekedar memenuhi kewajiban sebagai orang Kristen, atau kita benar-benar rindu berjumpa secara pribadi dengan Tuhan?  Kerinduan besar untuk bertemu dengan Tuhan adalah kunci mengalami lawatan Tuhan dan jamahan-Nya yang penuh kuasa!  Lawatan Tuhan inilah yang sanggup mengubah hidup setiap orang.  Mengapa banyak orang tampak rajin datang ke gereja tapi tidak mengenal Tuhan?  Saat diperhadapkan dengan masalah, respons mereka pun tak menunjukkan kualitas orang yang berkemenangan.

     Mari, mungkin ada hal yang perlu dikoreksi!  Apakah kita beribadah hanya sebatas rutinitas atau sekedar menjalankan kewajiban secara lahiriah?  Ibadah yang dilakukan sebatas rutinitas atau kewajiban tak menghasilkan kuasa.  Ada pula yang datang ke gereja karena terdesak kebutuhan atau iming-iming materi.  Motivasi yang demikian takkan membuat orang mampu bertahan dalam mengikut Tuhan karena mereka cenderung mudah kecewa dan mengalami kepahitan bila terbentur masalah.  Semasa pelayanan di bumi banyak orang berbondong-bondong mengikuti Kristus ke mana pun Ia pergi, bukan merindukan pribadi-Nya, tapi menginginkan berkat-Nya saja:  "...kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26);  mereka mencari Tuhan demi  'roti'  atau mujizat saja, bahkan hendak memaksa Kristus menjadi raja atas mereka bukan karena ingin mempermuliakan nama-Nya, tapi supaya hidup mereka terjamin  (Yohanes 6:15).

     Dalam menggenapi rencana-Nya di akhir zaman Tuhan hendak membangun kembali pondok Daud yang telah roboh!  (Kisah 15:16-18).  Pondok Daud berbicara tentang rumah Tuhan!  Tuhan menginginkan persekutuan yang karib dengan umat-Nya di bait-Nya yang kudus.  Ia rindu melalui gereja-Nya banyak jiwa yang diselamatkan.

Bila kita datang ke rumah Tuhan dengan sikap hati yang benar, kita pasti mengalami lawatan-Nya!

Saturday, October 3, 2020

SELAGI MUDA CARILAH TUHAN DENGAN SUNGGUH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2020

Baca:  2 Tawarikh 34:1-33

"Yosia menjauhkan segala dewa kekejian dari semua daerah orang Israel dan menyuruh semua orang yang ada di Israel beribadah kepada TUHAN, Allah mereka. Maka sepanjang hidup Yosia mereka tidak menyimpang mengikuti TUHAN..."  2 Tawarikh 34:33  

Sudah berapa lama Saudara mengikut Kristus?  Banyak orang yang sekalipun sudah lama menjadi Kristen tak sungguh-sungguh mencari Tuhan.  Perhatikan!  Alkitab menyatakan bahwa Yosia menjadi raja saat ia masih berusia belia, yaitu 8 tahun.  Yosia masih kanak-kanak saat menjabat sebagai raja.  Nama  'Yosia'  dalam bahasa Ibrani berarti Tuhan yang menyembuhkan.  Tentang Yosia ini Alkitab menyatakan,  "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri."  (2 Tawarikh 34:2), dan  "Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia,..."  (2 Tawarikh 34:3).  Pernyataan  'tahun ke delapan dari pemerintahannya'  berarti saat Yosia menginjak usia 16 tahun  (usia remaja), usia transisi atau masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa, disebut pula usia rawan, di mana seseorang sedang mencari jati dirinya.

     Sekalipun masih tergolong remaja Yosia mau belajar dari sejarah masa lalu dengan mengikuti kebiasaan hidup bapa leluhurnya  (raja Daud)  untuk hidup takut akan Tuhan, tidak seperti raja-raja lainnya yang cenderung hidup menyimpang dan berlaku jahat di mata Tuhan.  Apa yang ditunjukkan Yosia ini seharusnya menginspirasi anak-anak muda Kristen!  Sebagai orang muda Yosia pasti mempunyai banyak keinginan dalam hidupnya, apalagi kedudukannya sebagai raja  (punya segalanya), tentulah Yosia sangat disibukkan dengan tugas-tugas protokoler kerajaan atau agenda kerja yang sangat padat.  Meski demikian ia tetap mengutamakan hal yang terpenting dalam hidup ini, yaitu mencari Tuhan.  Kata  'mencari'  berarti ada suatu upaya, usaha, kemauan dan komitmen untuk menemukan Tuhan dengan segenap hati dan jiwa.

     Empat tahun kemudian saat Yosia berumur 20 tahun, ia melakukan pembaharuan rohani di seluruh tanah Israel:  menyucikan Yehuda dan Yerusalem dengan merubuhkan patung-patung dan mezbah penyembahan berhala  (2 Tawarikh 34:1-7), yang kemudian diikuti dengan perbaikan Bait Tuhan  (2 Raja-Raja 22:3-7).  Semua perkara yang tidak berkenan kepada Tuhan ia singkirkan!

Orang yang mencari Tuhan dengan sungguh pasti mengalami pertolongan-Nya!

Friday, October 2, 2020

KRISTUS: Dibuang Menjadi Batu Penjuru

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2020

Baca:  Mazmur 118:1-29

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru."  Mazmur 118:22

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang penuh kuasa, karya tangan-Nya dahsyat dan heran.  Segala yang dikerjakan-Nya tidak bisa diselami dan diukur secara akal manusia.  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).  Bila tukang bangunan atau ahli bangunan mengatakan bahwa sebongkah batu tertentu sudah tidak cocok dan tidak bisa dipakai untuk membangun sebuah rumah, maka batu itu benar-benar tak bisa dipakai.  Tak perlu lagi menanyakan hal itu pada orang lain, apalagi bertanya kepada mereka yang bukan ahlinya.  Tetapi hukum Tuhan berbeda dari hukum manusia!  Tuhan sanggup menjungkirbalikkan prediksi manusia!  Batu yang dibuang oleh tukang bangunan justru bisa menjadi batu penjuru  (ayat nas).

     Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah  "...batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru."  (Kisah 4:11).  Itulah sebabnya pemazmur berkata,  "Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!"  (Mazmur 118:24).  Hari yang dijadikan Tuhan adalah hari ketika batu yang dibuang tukang-tukang bangunan itu telah menjadi batu penjuru.  "Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita."  (Mazmur 118:23).  Itulah hari keselamatan bagi dunia!  Yesus rela mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib dan mati, kemudian bangkit dari antara orang mati pada hari ke-3.

     Jadi, hari yang dijadikan Tuhan adalah hari kebangkitan-Nya dari antara orang mati. "'Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.' Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: 'Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.'"  (1 Petrus 2:6-7).

Kristus yang diremehkan dan direndahkan justru menjadi Juruselamat bagi umat manusia!

Thursday, October 1, 2020

TANDA KITA MILIK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Oktober 2020

Baca:  Galatia 5:16-26

"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  Galatia 5:24

Sebagai orang percaya hidup kita milik Kristus,  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar"  (1 Korintus 6:20a),  "...bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).

     Karena kita ini milik Kristus maka kita harus memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang dunia.  Jadi harus ada tanda yang menunjukkan bahwa kita ini milik Tuhan sebagaimana yang rasul Paulus katakan,  "...pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus."  (Galatia 6:17).  Pada masa-masa akhir Tuhan akan mengadakan pemisahan antara orang benar dan orang fasik, antara gandum dan ilalang.  Oleh karena itu kita harus menunjukkan kualitas hidup yang berbeda dengan dunia sebagai tanda bahwa kita adalah milik Tuhan.  Ayat nas menyatakan bahwa menjadi milik Kristus berarti kita telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Tanda nyata kita menjadi milik Tuhan adalah melalui:  1.  Perkataan kita.  Berhati-hatilah dengan perkataan kita, sebab  "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."  (Amsal 18:21).  Apa yang keluar dari mulut kita haruslah perkataan yang selaras dengan firman Tuhan:  "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."  (Efesus 4:29).  Oleh karena itu kita harus bisa menahan dan menjaga lidah kita, sebab dalam banyak bicara ada banyak pelanggaran  (Amsal 10:19).  Kita harus bisa menjadi orang yang bijak!  "...orang bijak dipelihara oleh bibirnya." (Amsal 14:3).  Bagaimana perkataan Saudara?  Di mana pun dan kapan pun kita tak boleh menahan ucapan untuk tidak memberitakan firman Tuhan, bersaksi tentang kebaikan Tuhan, menginjil.

     2.  Perbuatan kita.  Kita ini surat Kristus yang terbuka, bisa dibaca semua orang.  Perbuatan kita harus meneladani kehidupan-Nya:  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).

Tanda seorang menjadi milik Tuhan terlihat dari praktik hidupnya sehari-hari!

Wednesday, September 30, 2020

SEORANG PEMENANG: Di Taman Firdaus

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 September 2020

Baca:  Wahyu 2:1-7

"Barang siapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus..."  Wahyu 2:7

Di kitab Perjanjian Lama yang dimaksud dengan  'Taman Firdaus'  adalah Taman Eden, suatu tempat di mana manusia pertama  (Adam dan Hawa)  ditempatkan oleh Tuhan.  Di tengah-tengah Taman Eden ini ada sebuah pohon yang disebut pohon kehidupan dan Tuhan melarang manusia untuk makan buah pohon tersebut  (Kejadian 2:9).  Oleh karena tipu daya dan hasutan Iblis, Hawa dan suaminya  (Adam)  melanggar apa yang Tuhan sudah firmankan, yaitu makan buah pengetahuan dari pohon itu.  Akhirnya manusia pun jatuh ke dalam dosa dan sebagai akibatnya, mereka terusir ke luar dari Taman Eden!

     Ada pun  'Taman Firdaus'  yang dimaksudkan oleh ayat nas di atas adalah suatu tempat yang Tuhan sediakan bagi orang-orang percaya yang setia sampai akhir hidupnya.  Di Taman Firdaus  (sorga)  ini tidak ada lagi tangis dan dukacita!  Selain setia, mereka adalah orang-orang yang tampil sebagai pemenang!  Kata  'menang'  berarti mereka sudah mampu mengalahkan musuh di medan peperangan, melewati perjuangan, atau perlombaan iman.  Alkitab menegaskan bahwa hanya orang-orang yang menanglah yang akan berada di Taman Firdaus  (sorga):  menang atas pergumulan melawan dosa  (mengalahkan kedagingan), menang dalam perjuangannya menjaga kekudusan hidup.  Tetapi mereka yang tidak setia kepada Tuhan, mereka yang gagal dalam perlombaan iman, mereka yang gagal mengalahkan keinginan dosa  (hidup menuruti hawa nafasu dan keinginan daging), tidak berhak untuk menikmati Taman Firadaus yang Tuhan sediakan.

     Yang pasti untuk bisa memasuki Taman Firdaus dan menikmati  'pohon kehidupan'  Tuhan, ada harga yang harus dibayar!  Kita harus bekerja keras:  "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;"  (Yohanes 6:27)  dan hidup meneladani Kristus:  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Hidup meneladani Kristus berarti hidup dalam kekudusan:  "hendaklah kamu menjadi kudus...seperti Dia yang kudus...Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16)

Taman Firdaus disediakan untuk orang-orang yang hidup berkenan kepada Tuhan!

Tuesday, September 29, 2020

IBADAH KEPADA TUHAN: Jangan Hanya Dibibir

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 September 2020

Baca:  Yesaya 29:9-16

"Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,"  Yesaya 29:13

Dalam memilih seseorang Tuhan tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun, tidak bisa dikelabui dengan apa yang terlihat secara kasat mata, sebab bukan apa yang dilihat manusia yang dilihat Tuhan;  jika manusia melihat apa yang di depan mata, Tuhan melihat hati  (1 Samuel 16:7b).  Ketika Samuel hendak mengurapi anak-anak Isai untuk menjadi raja, Daud yang dipandang remeh oleh keluarganya sendiri dan tidak diperhitungkan, justru terpilih dan dipandang layak oleh Tuhan.  Sedangkan Eliab, yang adalah seorang prajurit perang Saul: penampilan, perawakan, cara bicara dan berpakaiannya luar biasa, ternyata tidak memenuhi kriteria Tuhan.

     Berhati-hatilah!  Karena apa yang terlihat secara kasat mata tidak menjadi jaminan kehidupan seseorang dikenan oleh Tuhan!  Jangan sampai kita beribadah kepada Tuhan, kita melayani Tuhan hanya sebatas kulit luar saja atau hanya di bibir saja, tapi hati kita jauh dari Tuhan.  Ibadah yang hanya sekedar melakukan perintah manusia atau sekedar hafalan sia-sia di mata Tuhan.  Jangan sampai kita memuji dan memuliakan Tuhan hanya lips service, bukan dari hati yang sungguh-sungguh ingin meninggikan nama Tuhan!  Meski Tuhan menilai manusia dari kedalaman hati bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa untuk Tuhan.  Ibadah yang sejati adalah dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan yang berkenan  (Roma 12:1);  kita mempersembahkan tubuh kita untuk dipakai sebagai senjata kebenaran  (Roma 6:13);  kita juga harus muliakan Tuhan dengan tubuh kita  (1 Korintus 16:20), sebab kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.  Ini merupakan sesuatu yang terlihat oleh kasat mata karena ada tindakan yang kita lakukan.

     Tapi yang harus diperhatikan juga adalah motivasi hati yang mendasari kita melakukan sesuatunya.  Bangsa Israel memuliakan Tuhan dengan bibirnya tetapi hatinya jauh dari Tuhan.  Tuhan menginginkan kita memuliakan Dia, beribadah kepada-Nya dan melayani Dia dengan segenap hati kita bukan sebatas rutinitas atau aktivitas agamawi.

Tuhan tidak berkenan dengan ibadah yang hanya sebatas mata memandang!

Monday, September 28, 2020

JANGAN SAMPAI MENGALAMI PENOLAKAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 September 2020

Baca:  1 Korintus 9:24-27

"Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  1 Korintus 9:27

Ditolak itu meyakitkan!  Entah itu ditolak saat menyatakan cinta kepada seseorang atau saat melamar seseorang, ditolak masuk sekolah favorit karena nilai kurang memenuhi syarat, ditolak saat melamar pekerjaan, dan sebagainya.  Mengalami penolakan adalah momok bagi semua orang, sebab ditolak berarti tidak diterima keberadaannya.

     Mengalami penolakan di dunia ini saja sudah sangat menyakitkan, terlebih-lebih orang yang mengalami penolakan dari Tuhan!  Inilah yang menjadi pergumulan hidup rasul Paulus:  jangan sampai setelah ia memberitakan Injil justru ia sendiri yang ditolak oleh Tuhan, dan orang lain yang menerima Injil dan dilayaninya justru diterima.  Firman Tuhan sudah terlebih dahulu memperingatkan,  "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."  (Matius 19:30).  Jangan sampai kita yang sudah lama mengikut Tuhan dan sudah terlibat dalam pelayanan justru menjadi orang yang terakhir!  Karena itulah rasul Paulus melatih diri sedemikian rupa!  Ini berbicara tentang proses, tidak langsung jadi, dan bersedia membayar harga.

     Kita harus bisa menguasai dan mengendalikan tubuh kita, jangan sebaliknya kita yang dikendalikan oleh tubuh dengan segala keinginannya.  Adalah berbahaya bila kita mengikut keinginan tubuh ini dengan segala keinginannya, sebab keinginan tubuh  (daging)   kita ini berlawanan dengan keinginan Roh  (Glatia 5:17).  Kita harus bisa melatih, mengontrol, menguasai dan menaklukkan tubuh kita sendiri.  Saul, awalnya adalah orang yang diurapi Tuhan saat menjadi raja atas Israel, tapi karena tidak lagi taat kepada Tuhan dan lebih menuruti keinginan dagingnya, akhirnya ia mengalami penolakan dari Tuhan!  "Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:23).

     Esau juga mengalami penolakan dari Tuhan karena ia telah menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.  Hal itu menunjukkan bahwa Esau tidak menghargai kasih dan anugerah Tuhan!  Penyesalan pun tiada guna  (Ibrani 12:17).

Mengalami penolakan dari Tuhan akan berujung kepada kebinasaan kekal!

Sunday, September 27, 2020

KASIH KEPADA TUHAN: Taat dan Mengasihi Sesama

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 September 2020

Baca:  Yohanes 14:15-31

"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  Yohanes 14:21

Mengasihi Tuhan dengan sungguh berarti memberikan segenap keberadaan hidup kita untuk dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus, artinya kita berjalan bersama Tuhan setiap hari, memikirkan jalan-jalan-Nya, tunduk kepada kehendak-Nya, taat melakukan firman-Nya, memegang teguh janji-Nya, rela diajar dan dibentuk oleh-Nya.  Tuhan sendiri menegaskan,  "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku...Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku;"  (Yohanes 14:23; 24).  Taat melakukan firman Tuhan adalah wujud nyata seseorang mengasihi Tuhan, sebab  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).

     Bukti lain seseorang mengasihi Tuhan adalah bila ia juga mengasihi sesama, sebab jika orang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tapi membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta  (1 Yohanes 4:20).  Memiliki kasih adalah tanda seseorang sudah mengalami kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus:  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat." (Yehezkiel 36:26).  Setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru  (2 Korintus 5:17), yang seharusnya mewarisi karakter kasih, di mana kemudian kasih itu mengalir keluar.  Bila ada orang Kristen yang masih bersikap egois, gampang mendendam, menyimpan akar pahit, kebencian, sakit hati, tidak bisa mengampuni orang lain, dan sebagainya, tak ada kasih di dalam dirinya.

     Mengasihi orang lain merupakan balasan kasih yang telah diberikan Tuhan kepada kita.  Kasih itu bersifat aktif, bukan pasif, artinya mendahului untuk melakukan suatu tindakan, bukan menunggu terlebih dahulu atau sekedar membalas.  Kebanyakan dari kita mau mengasihi setelah dikasihi, mau memberi setelah diberi.  Rasul Paulus menasihati,  "...selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman."  (Galatia 6:10).

Orang yang mengasihi Tuhan juga harus mengasihi saudaranya  (1 Yohanes 4:21).

Saturday, September 26, 2020

TUHAN ADALAH SUMBER KASIH KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 September 2020

Baca:  Mazmur 36:1-13

"Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan."  Mazmur 36:6

Di masa-masa sulit seperti sekarang ini banyak orang Kristen yang goyah imannya, mereka mulai meragukan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup ini.  Kalau kita masih saja meragukan kasih setia Tuhan dalam hidup ini berarti kita adalah orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, sama seperti sembilan orang yang sakit kusta yang sudah disembuhkan Tuhan, yang setelah sembuh mereka langsung pergi meninggalkan Tuhan tanpa berterima kasih kepada-Nya  (Lukas 17:17).  Bukankah di setiap langkah, di mana pun dan ke mana pun kita pergi, Dia Imanuel, Tuhan yang selalu menyertai kita, kita masih bisa bernafas sampai detik ini bukankah semua karena kasih Tuhan?

     Rasul Yohanes dalam suratnya menegaskan bahwa Tuhan adalah kasih, dan dalam hal mengasihi ini bukan kita yang mengasihi Tuhan, tapi Tuhanlah yang telah mengasihi kita  (1 Yohanes 4:8-10).  Pernyataan bahwa Tuhan adalah kasih memberi pengertian kepada kita bahwa Tuhan adalah sumber kasih itu sendiri sehingga Dia tidak dapat dipisahkan dari sifat dasarnya yang adalah kasih.  Karena kasih adalah karakter Tuhan, maka segala perbuatan-Nya senantiasa bermuatan kasih, di dalam Tuhan ada kasih yang berlimpah-limpah.  Tidak ada kata lain untuk mengungkapkan kebesaran kasih Tuhan selain kita harus selalu mengucap syukur kepada-Nya.  Karena kasih Tuhan yang berlimpah ini manusia berdosa pun dikasihi-Nya dan diselamatkan-Nya melalui pengorbanan-Nya di kayu salib:  "...oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."  (Roma 5:8).  Kasih menjadi bagian penting dari kehidupan kekristenan!

     Karena Tuhan lebih dulu mengasihi kita dengan memberikan hidup-Nya untuk kita, maka kita harus merespons kasih-Nya itu dengan mengasihi Dia segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita  (Markus 12:30).  Kata  'segenap'  berarti menempatkan Tuhan sebagai prioritas yang terutama dalam hidup ini.  Kita menjadikan Tuhan sebagai subyek kasih satu-satunya, tidak ada siapa pun dan apa pun yang kita kasihi melebihi kasih kita kepada Tuhan.  Banyak orang lebih mengasihi uang dan hartanya daripada mengasihi Tuhan;  kita lebih mengasihi bisnis kita daripada mengasihi Tuhan, waktu-waktu kita pun tersita untuk perkara-perkara dunia.

Kasih Tuhan kepada kita sungguh tak terbatas!  Bagaimana kasih kita kepada-Nya?

Friday, September 25, 2020

TUHAN BISA MENGUBAH KEPUTUSAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 September 2020

Baca:  2 Raja-Raja 20:1-11

"Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."  2 Raja-Raja 20:1

Pengalaman hidup Hizkia tentang sakit yang dideritanya, yang membuat nyawanya terancam  (nyaris mati), di mana akhirnya Tuhan menyembuhkan dia dan bahkan hidupnya diperpanjang lima belas tahun lagi, menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi semua orang percaya.  Kesungguhan dalam berdoa dan kesetiaan seseorang melakukan kehendak Tuhan  (2 Raja-Raja 20:3)  sanggup menyentuh dan menggerakkan hati Tuhan untuk mengubah keputusan dan menyatakan belas kasihan-Nya.

     Tuhan mengutus nabi Yesaya untuk menyampaikan pesan penting kepada Hizkia bahwa ia tidak akan sembuh dari sakitnya dan akan mati  (ayat nas).  Mendengar hal itu Hizkia berdoa dan meratap kepada Tuhan,  "Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: 'Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.'"  (2 Raja-Raja 20:2-3).  Setelah memperhatikan apa yang Hizkia lakukan berkatalah Tuhan kepada nabi Yesaya,  "Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."  (2 Raja-Raja 20:5-6).  Apa yang dialami Hizkia ini juga mengingatkan kita pada kisah kota Niniwe!  Melalui Yunus Tuhan menyatakan rencana-Nya untuk menghancurkan kota itu, sebab besarlah kejahatan mereka  (Yunus 3:4).  Mendengar hal itu pemimpin kota Niniwe menyerukan kepada rakyatnya untuk bertobat dan berkabung secara nasional dengan berpuasa, termasuk hewan ternaknya  (Yunus 3:7).  Melihat pertobatan mereka hati Tuhan pun tersentuh, Ia pun membatalkan rencana-Nya untuk mendatangkan malapetaka.

     Betapa besar kasih Tuhan kepada manusia;  Ia selalu menyatakan kebaikan, kemurahan, belas kasihan-Nya kepada setiap orang yang mencari-Nya sepenuh hati.

Hati yang hancur dan komitmen untuk bertobat dapat menggerakkan hati Tuhan untuk mengubah keputusan-Nya!