Monday, July 6, 2020

JANGAN BERKOMPROMI DENGAN DOSA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juli 2020


"Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala."  Wahyu 2:20

Tiatira adalah sebuah kota yang relatif kecil, awalnya didirikan sebagai kota pertahanan untuk melindungi kota Pergamus yang adalah pusat pemerintahan.  Tiatira tidak begitu terkenal jika dibandingkan kota-kota lain yang menerima surat dari Tuhan, namun jemaat di kota kecil ini justru mendapatkan kiriman surat yang paling panjang isinya.  Kemungkinan besar jemaat Tiatira ini dirintis dan dimulai dari pertobatan keluarga Lidia, seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Tuhan dan hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang  (Kisah 16:14)  (Tiatira dikenal sebagai pusat perdagangan kain bulu domba dan juga tempat untuk mencelupkan kain-kain warna ungu).  Lidia sendiri dikenal sebagai penjual bahan pencelup untuk warna ungu dan kain yang mahal tersebut.

     Ada kesalahan fatal terjadi di jemaat di Tiatira, yaitu  "...wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala."   (ayat nas).  Izebel adalah nama simbolis yang diambil dari nama isteri raja Ahab, yang berlaku jahat dan menyeret orang-orang kepada penyembahan berhala.  Wanita Izebel ini mengajarkan bahwa orang percaya boleh melakukan perzinahan dan boleh menyantap makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala.  Intinya:  nabiah ini telah mengajarkan ajaran-ajaran yang menyimpang dan menyesatkan, secara terang-terangan berkompromi dengan dosa.  Sekalipun sudah melihat penyimpangan-penyimpangan, sepertinya jemaat di Tiatira tidak melakukan sesuatu apa pun dan seolah-olah membiarkan hal itu terjadi.

     Di dalam kehiduan bergereja tidak sedikit orang percaya yang masih berkompromi dengan dosa.  Mereka menutupi dosa dengan topeng-topeng:  perbuatan baik, memberi banyak persembahan, menjadi donatur gereja, dan masih banyak lagi.  Mereka berpikir bahwa dengan segala yang diperbuatnya ini, dengan serta merta Tuhan bersikap lunak kepada kita dan menutup mata-Nya terhadap pelanggaran-pelanggaran kita.

Ingat!  Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, sebab apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya  (Baca  Galatia 6:7).

Sunday, July 5, 2020

WASPADALAH TERHADAP AJARAN SESAT!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juli 2020


"Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:"  Wahyu 2:12

Kota Pergamus terletak sekitar 100 kilometer di sebelah utara Smirna, dikenal sebagai pusat kebudayaan Yunani.  Kepada jemaat di Pergamus ini Tuhan memperkenalkan diri-Nya,  "...yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:"  (ayat nas).  Alkitab menyatakan bahwa pedang tajam bermata dua adalah firman Tuhan yang penuh kuasa,  "...dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."  (Ibrani 4:12).

     Firman Tuhan adalah pedang Roh  (Efesus 6:17)  yang merupakan salah satu perlengkapan rohani yang harus dimiliki orang percaya dalam menghadapi peperangan rohani, supaya kita  "...dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:11-12).  Firman Tuhan adalah senjata untuk menangkal serangan-serangan Iblis, menghancurkan siasat dan tipu muslihatnya.  Pada waktu itu jemaat Pergamus sedang menghadapi masalah yang cukup berat, yaitu banyak bermunculan pengajar-pengajar sesat yang dengan sengaja menyampaikan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil Kristus:  nilai-nilai kebenaran dikompromikan dengan tujuan untuk memuaskan telinga orang yang mendengarnya,  "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya."  (2 Timotius 4:3).

     Jika kita tidak memiliki fondasi yang kuat, tidak berakar kuat di dalam firman Tuhan, kita akan mudah untuk diombang-ambingkan dan digiring keluar dari kebenaran.  Oleh karena itu  "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan."  (Lukas 21:8a).  Target orang percaya adalah mencapai  "...kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,"  (Efesus 4:13-14).

Firman Tuhan adalah senjata ampuh untuk melawan serangan-serangan Iblis!

Saturday, July 4, 2020

SETIA MENGIKUT KRISTUS SAMPAI MATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juli 2020

Baca:  Wahyu 2:8-11

"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  Wahyu 2:10b

Smirna  (di Turki)  adalah sebuah kota yang terkenal sangat makmur dan indah.  Di kota itu diberlakukan suatu aturan yang sangat keras, di mana rakyat diwajibkan untuk menyembah kaisar.  Hal ini untuk membuktikan kesetiaan dan loyalitas rakyat kepada pemerintahan Romawi, sampai-sampai rakyat menyerukan kaisar sebagai tuhan.  Ini menjadi suatu tantangan besar bagi para pengikut Kristus  (jemaat Tuhan)  di kota Smirna.

     Sekalipun berada dalam tekanan, jemaat di Smirna ini tetap teguh mempertahankan imannya kepada Tuhan dan tak mau berkompromi dengan dosa, mereka menolak untuk menyembah Kaisar.  Akhirnya mereka pun dianggap telah melanggar hukum, pembangkang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengalami penganiayaan.  Jemaat Smirna rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan berpendirian teguh untuk tidak menyembah kepada berhala atau kaisar.  Mereka berkomitmen untuk tetap setia mengiring Kristus sampai akhir sekalipun ada harga yang harus dibayar.  Dalam perjalanan kehidupan rohani, kita seringkali diperhadapkan pada tantangan yang tak beda jauh dengan jemaat Smirna ini.  Tapi karena tak kuat dengan tekanan, intimidasi, aniaya, atau penderitaan, ada banyak orang Kristen yang menyerah di tengah jalan, memilih untuk melakukan kompromi, dan menyangkal imannya.  Padahal Tuhan telah menyediakan upah yang besar bagi setiap orang percaya yang setia sampai akhir, yaitu mahkota kehidupan.  Tuhan menginginkan kita setia, apa pun keadaannya, sampai garis akhir hidup kita.  Kita bisa meneladani rasul Paulus yang berkomitmen,  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).

     Ada pun kata  'Smirna'  adalah mur, semacam damar yang pahit, tetapi baunya sangat harum dan sering dipakai sebagai bahan untuk membuat minyak wangi.  Inilah gambaran kehidupan orang percaya yang mampu bertahan sampai akhir, yang sekalipun harus diperhadapkan dengan hal-hal yang pahit  (penderitaan), tapi hidup mereka berbau harum di hadapan Tuhan, hidup yang mempermuliakan nama Tuhan. 

"jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita;"  2 Timotius 2:12

Friday, July 3, 2020

JANGAN MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juli 2020

Baca:  Wahyu 2:1-7

"...Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."  Wahyu 2:4

Jemaat Efesus adalah 1 dari 7 jemaat yang pernah ada di Asia Kecil.  Ibukota Asia Kecil memang Pergamus, tapi pada saat itu Efesus menjadi kota terbesar dan terpenting karena menjadi kota perdagangan dan juga kota pelabuhan.  Gereja di Efesus ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, namun juga disertai dengan berkembangnya penyembahan berhala.  Ritual pemujaan kepada dewa-dewa marak terjadi, bahkan di kota itu terdapat kuil yang sangat megah  (mempunyai 127 tiang yang besar dan terbuat dari marmer), dan di dalamnya terdapat patung Dewi Diana yang menjadi sesembahan penduduk kota Efesus.  Kuil ini menjadi kebanggaan penduduk kota itu.

     Meski situasi tak mendukung, jemaat Efesus adalah jemaat yang tetap giat dalam mengerjakan perkara-perkara rohani.  Tuhan memuji apa yang telah mereka tunjukkan:  "Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu."  (Wahyu 2:2).  Mereka adalah jemaat yang mampu menjalankan peran atau tugas pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.  Kata jerih payah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan mau berjerih lelah.  Ketekunan berbicara tentang kesungguhan atau kesetiaan mereka dalam mengerjakan perkara-perkara rohani:  berdoa, melayani, bersekutu, dan sebagainya.  Secara kasat mata apa yang mereka kerjakan seperti tak ada cacatnya, tapi Tuhan tetap memperingatkan mereka dengan keras, sebab Tuhan melihat motivasi hati,  "...Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."  (ayat nas).

     Kasih mula-mula adalah kasih pada saat kita pertama kali bertobat.  Saat itu kita begitu rindu dan selalu ingin dekat dengan Tuhan.  Seiring berjalannya waktu, seringkali kita tidak menyadari kasih kita kepada Tuhan telah memudar karena terjebak oleh rutinitas!  Kerajinan beribadah dan melayani pekerjaan Tuhan tak lebih sekedar aktivitas agamawi tanpa didasari kasih yang bergelora kepada Tuhan.  Kerinduan kita dalam mencari hadirat Tuhan tak seperti sediakala.

Bangun kembali hubungan pribadi dengan Tuhan dan kasihilah Tuhan lebih dari apa pun!

Thursday, July 2, 2020

MENJALANI HARI DENGAN HATI BIJAKSANA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juli 2020


"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  Mazmur 90:12

Musa menyadari benar bahwa penyertaan Tuhan adalah hal yang utama dalam hidup ini.  Oleh sebab itu ia meminta Tuhan untuk menyertainya saat memimpin bangsa Israel dalam perjalanan menuju ke Tanah Perjanjian.  Musa sadar benar bahwa tanpa Tuhan beserta, ia takkan sanggup memimpin bangsa Israel.  Demikianlah penyertaan Tuhan atas bangsa Israel sangat nyata, bahkan penyertaan-Nya selalu disertai dengan perbuatan-perbuatan besar dan mujizat.  Namun Alkitab menyatakan bahwa yang bisa memasuki Tanah Perjanjian hanyalah Yosua dan Kaleb, serta keturunan umat Israel yang lahir di padang gurun.  Sementara sebagian besar dari mereka harus menelan pil pahit... mati di padang gurun sebelum mencapai Kanaan.

     Mengapa?  Karena mereka tidak memiliki respons hati yang benar dalam menyikapi setiap masalah.  Setiap kali diperhadapkan dengan kesulitan atau kesukaran mereka langsung bersungut-sungut dan memberontak kepada Tuhan.  Dari pengalaman inilah Musa menulis suatu mazmur tentang betapa pentingnya memiliki hati yang bijaksana:  "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  (ayat nas).  Orang yang punya hati bijaksana  (a heart of wisdom)  mampu menyikapi segala sesuatu dengan respons hati yang benar atau dari sudut pandang yang benar.  Kita akan memiliki hati yang bijaksana bila kita menyadari bahwa di balik setiap masalah atau peristiwa selalu ada maksud dan tujuan.  Tak satu pun perkara terjadi secara kebetulan atau tanpa memiliki suatu tujuan.  Tidak ada satu pun yang diciptakan oleh Tuhan tidak memiliki tujuan.  "TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka."  (Amsal 16:4).

     Hati yang bijaksana adalah hasil kita berproses yaitu mau mendisiplinkan diri dalam perkara rohani:  membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan:  "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."  (Yesaya 50:4b), dan merenungkan firman-Nya:  "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana,..."  (Mazmur 119:97-98).

Seorang yang berhati bijaksana selalu melihat sisi positif di balik permasalahan.

Wednesday, July 1, 2020

MENGENAL TUHAN: Melekat Kepada-Nya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juli 2020

Baca:  Hosea 6:1-6

"Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."  Hosea 6:3

Banyak orang Kristen merasa dirinya sudah mengenal Tuhan dengan baik, dibuktikan dengan rajin beribadah dan terlibat dalam pelayanan.  Padahal itu tidak menjamin sepenuhnya seseorang memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.  Yang dimaksud  'mengenal'  bukanlah sekedar tahu, tapi lebih dari itu, yaitu memiliki hati yang melekat pada Tuhan, dan ada persekutuan yang karib dengan-Nya yang terjadi secara terus-menerus.  Bila hanya sekedar tahu saja, maka orang tidak akan tahu isi hati-Nya.

     Daud adalah contoh orang yang mengenal Tuhan dan hidup melekat kepada-Nya.  Hidup melekat kepada Tuhan tidak berarti Daud tak pernah melakukan kesalahan atau pelanggaran, tapi ia punya hati yang mau dibentuk, ditegur dan dikoreksi, serta punya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan kelemahannya.  Ada berkat yang luar biasa bagi orang yang mengenal Tuhan dengan benar:  1.  Tuhan melindungi dan membentengi hidupnya.  "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku."  (Mazmur 91:14).  2.  Tuhan mendengar dan menjawab doanya.  Orang yang mengenal Tuhan dengan benar doanya pasti dijawab oleh Tuhan, sebagaimana yang Tuhan firmankan kepada Yeremia,  "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,"  (Yeremia 29:12-13).  3.  Tuhan memberkati dengan umur panjang  (Mazmur 91:16), meliputi:  kesehatan dan damai sejahtera  (Amsal 3:2).  4.  Memperoleh keselamatan  (Mazmur 91:16).  Ada jaminan keselamatan dan kehidupan kekal bagi orang-orang yang mengenal nama-Nya.

     Oleh karena itu marilah kita semakin bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, lebih dan lebih lagi.  Mengenal Tuhan berarti mengerti isi hati-Nya, mengerti kehendak-Nya, mengerti rencana-Nya, menyelaraskan setiap langkah hidup seturut dengan firman-Nya, serta berusaha untuk tidak menyakiti atau mengecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan.

Kalau kita mengenal Tuhan dengan benar, kita pasti dikasihi-Nya!

Tuesday, June 30, 2020

HIDUP KITA DIMURNIKAN DENGAN API

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2020


"Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan."  Yesaya 48:10

Alkitab menyatakan bahwa pada saatnya akan datang hari penghakiman dan penghangusan bumi oleh api Tuhan, dan pernyataan ini sudah dinubuatkan oleh para nabi Tuhan pada zamannya.  Waktu itulah yang disebut hari Tuhan, sebagaimana tertulis:  "Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap."  (2 Petrus 3:10).  Di hari itu, bumi akan bergoncang sedemikian hebatnya, langit akan gemetar, matahari dan bulan akan menjadi gelap gulita dan bintang-bintang di langit pun tidak akan bercahaya lagi.

     Bila diteliti lebih dalam lagi, kata api banyak ditemukan di dalam Alkitab, tapi tidak semua kata api di sini memiliki arti harafiah yaitu api penghakiman yang sesungguhnya, yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang hidup dalam kefasikan, karena Tuhan seringkali menggunakan api sebagai unsur untuk tujuan penyucian dan pemurnian.  Tuhan berkata,  "Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?"  (Yeremia 23:29).  Setiap orang percaya harus terlebih dahulu masuk ke dapur kesengsaraan  (ayat nas)  supaya sifat-sifat lama kita hilang.  Orang yang sudah mengalami pemurnian dari Tuhan ini hidupnya pasti tidak akan sama lagi.  Banyak orang Kristen memberontak saat masuk dalam proses ini karena mereka tidak tahan  'sakit'.  Pembentukan karakter melalui  'api'  pemurnian dan dapur kesengsaraan ini memerlukan kerendahan hati dan penundukan diri!  Dan hampir semua tokoh besar di Alkitab dan juga para hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa pasti pernah merasakan dan melewati proses yang menyakitkan ini, yaitu dimurnikan oleh api Roh Kudus, dimana hasilnya menjadi indah di pemandangan Tuhan.

     Saat-saat ini  "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."  (Matius 3:12).

Melalui proses penampian ini dan pemurnian ini akan dihasilkan orang-orang pilihan Tuhan, yang memiliki kualitas hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Monday, June 29, 2020

SUDAH BERARTIKAH HIDUP SAUDARA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2020


"Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri."  Galatia 6:3

Hidup yang kita jalani adalah suatu anugerah dari Tuhan!  Setiap rentetan peristiwa yang terjadi, bukanlah terjadi secara kebetulan, melainkan ada dalam rancangan Tuhan.  Karena itu gunakan setiap kesempatan sebaik mungkin dan jangan biarkan hari-hari yang kita jalani ini berlalu tanpa makna.  Pemazmur menyadari hal ini,  "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya."  (Mazmur 139:14-16).

     Tatkala orang dipercaya untuk menjalani hidup di dunia ini berarti Tuhan punya maksud dan rencana yang indah, karena sejak dari semula Tuhan telah memiliki rencana yang luar biasa bagi kehidupan manusia, sebab manusia diciptakan menurut gambar-Nya  (Kejadian 1:27)  dengan rancangan yang indah:  "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana supaya hidup yang kita jalani ini berarti, itu sebuah keputusan dan pilihan hidup dari masing-masing orang.  Banyak orang yang menyia-nyiakan hari-hari dalam hidupnya dengan melakukan hal yang sia-sia dan merugikan diri sendiri:  mengonsumsi narkoba, terlibat dalam pergaulan bebas, dan masih banyak lagi.

     Yang Tuhan kehendaki, setiap orang percaya memiliki hidup yang berarti!  Hidup kita akan berarti di mata Tuhan bila kita bertanggung jawab dengan talenta, karunia dan potensi yang telah Tuhan berikan.  Rasul Paulus berkomitmen,  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."  (Filipi 1:21-22a);  dan hidup kita akan berarti bila kita mampu menjadi garam dan terang bagi dunia ini  (Matius 5:13-16).

Hidup kita dikatakan berarti di mata Tuhan bila kita mampu menjadi berkat!

Sunday, June 28, 2020

TAK BERHAK MENGHAKIMI ORANG LAIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Juni 2020

Baca:  Matius 7:1-5

"Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  Matius 7:2

Tak perlu diajari atau menempuh pendidikan formal bagi seseorang untuk melihat kelemahan, kekurangan atau kesalahan orang lain.  Semua orang mudah sekali melihat dosa, kesalahan dan kekurangan orang lain, sekalipun itu kecil sekali.  Sebaliknya kekurangan, kelemahan atau kesalahan yang ada di dalam diri sendiri, sekalipun itu besar, tak mudah dilihat, apalagi diakui.  "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"  (Matius 7:3).

     Ketika ada saudara seiman yang jatuh dalam dosa, ketika ada hamba Tuhan besar jatuh karena terlibat suatu skandal, kita langsung ribut memperbincangkannya, seolah-olah kita ini orang yang paling suci, paling benar, dan tak pernah melakukan kesalahan.  Ketika ada saudara yang mengalami pergumulan berat, sakit yang tak kunjung sembuh, kita langsung jadi hakim dadakan:  menghakiminya karena banyak dosa.  Adakah orang yang luput dari kesalahan?  Adakah manusia yang sempurna, bahkan hamba Tuhan besar yang sudah diurapi Tuhan dan diperlengkapi dengan berbagai karunia pun tak luput dari kesalahan dan kekurangan,  "Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!"  (Roma 14:13).  Banyak sekali ayat di Alkitab yang mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain, sebab hal ini jahat di mata Tuhan.

     Yakobus menegaskan bahwa  "Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?"  (Yakobus 4:12).  Jika saat ini kita masih merasa sebagai orang yang paling benar, paling suci, dan memandang orang lain sebagai pihak yang salah dan penuh kekurangan, bertobatlah!  "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi."  (Matius 7:1).  Jika ada saudara kita yang lemah dan jatuh, ini adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih:  memperhatikan, menolong dan menguatkan dia, jangan malah menjadi hakim atas hidupnya.

"Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  Galatia 6:4

Saturday, June 27, 2020

APALAH ARTI HIDUP JIKA TANPA TUHAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juni 2020


"Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."  Mazmur 103:15-16

Saat berada dalam kemapanan ekonomi, berjaya, di puncak karir, atau segala sesuatu tersedia, manusia seringkali merasa berada di atas angin, lupa diri dan seolah-olah tidak membutuhkan Tuhan.  Mereka lupa bahwa berkat-berkat yang dinikmatinya datangnya dari Tuhan Sang Sumber berkat.  Mereka berpikir bahwa nafas hidup, tubuh yang sehat, kekuatan, kepintaran, kemampuan untuk berkarya, itu semua datang dengan sendirinya.  Jika bukan karena Tuhan, dari manakah semuanya itu?

     Tidak ada alasan sedikit pun bagi manusia untuk membusungkan dada atau menyombongkan diri sekalipun ia punya segala-galanya.  Jangan pernah berkata karena memiliki uang banyak dan harta yang melimpah, lalu kita bisa hidup lebih lama di dunia, dibandingkan dengan mereka yang tak punya apa-apa.  Pemazmur menyatakan bahwa kehidupan manusia di dunia ini  "...sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat."  (Mazmur 144:4),  "...apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.  (ayat nas).  Hidup manusia di dunia ini ibarat orang yang hanya singgah sebentar untuk minum, seperti angin yang berlalunya buru-buru, dan kemudian melayang lenyap.  Kesuksesan di bidang apa pun atau kekayaan sebesar apa pun sifatnya hanya sementara, karena bila  'waktunya'  tiba kita harus kembali pada Sang Pencipta, dan semua yang kita miliki di dunia ini akan kita tinggalkan:  "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:7).

     Jangan sampai kita bernasib seperti orang kaya yang bodoh, yang membangga-banggakan harta kekayaannya:  "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?"  (Lukas 12:20).  Hidup kita ini hanyalah seperti ranting-ranting yang sangat bergantung penuh pada pokok anggur, tidak bisa berbuah jika kita tidak melekat pada pokok anggur tersebut,  "...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5).

Kita tak lebih dari pada embusan nafas  (Yesaya 2:22), jangan pernah sombong!

Friday, June 26, 2020

TAK BERAKAR KUAT: Mudah Sekali Goyah

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Juni 2020


"Sekalipun demikian mereka masih saja berbuat dosa dan tidak percaya kepada perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib."  Mazmur 78:32

Kondisi dan situasi yang terjadi di sekitar atau segala sesuatu yang tampak secara kasat mata acapkali memengaruhi sikap hati kita, terlebih-lebih bagi mereka yang masih belum dewasa rohaninya.  Firman Tuhan yang belum berakar kuat akan membuat iman mereka langsung drop begitu angin atau badai datang menerpa, semangat dalam mengiring Tuhan menyurut, keraguan dan kebimbangan melanda.

     Keadaan ini tak jauh berbeda dengan perjalanan iman bangsa Israel di masa lampau yang seringkali mengalami jatuh bangun dalam pengiringannya kepada Tuhan.  Jika suasana enak dan menyenangkan, mereka bisa memuji-muji Tuhan ketika mengalami pertolongan dan mujizat dari-Nya.  Saat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuhan membelah Laut Teberau,  -sehingga mereka dapat berjalan di tengah lautan seperti berjalan di atas tanah kering-,  mereka bermazmur bagi Tuhan dan memuliakan nama-Nya.  Namun begitu diperhadapkan dengan situasi sulit, kesukaran dan tantangan yang berat, dengan secepat kilat sikap hati mereka berubah 180 derajat:  menggerutu, mengeluh, mengomel, bersungut-sungut, marah kepada pemimpin dan marah kepada Tuhan.  "Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan menyusahkan hati-Nya di padang belantara! Mereka tidak ingat kepada kekuasaan-Nya, kepada hari Ia membebaskan mereka dari pada lawan, ketika Ia mengadakan tanda-tanda di Mesir dan mujizat-mujizat di padang Zoan."  (Mazmur 78:40, 42, 43).  Mereka benar-benar telah melukai dan menyakiti hati Tuhan.  Begitulah keadaannya bila firman Tuhan tidak berakar kuat di dalam hidup seseorang!

     Sebagai orang percaya kita diingatkan bahwa hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat!  Jika mata kita hanya melihat pada besarnya masalah, besarnya pergumulan, atau terpaku pada  'Goliat' si raksasa, kita akan mudah lemah dan jatuh.  Sebaliknya, jika firman Tuhan berakar kuat di dalam kita, kita akan mampu berjalan dengan mata iman, dan pandangan kita terarah kepada Tuhan yang adalah Jehovah Gibbor  (Tuhan yang perkasa), El Shaddai  (Tuhan yang Mahakuasa).

Tinggallah di dalam firman Tuhan supaya iman kita tetap kuat di segala keadaan!

Thursday, June 25, 2020

TAK MEMENUHI PERSYARATAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juni 2020


"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya."  Yohanes 15:7

Ayat nas ini menjadi ayat favorit banyak orang Kristen, mereka seringkali menggunakan ayat ini sebagai senjata untuk komplain dan mengklaim Tuhan agar doa-doanya dijawab dan segala keinginannya terpenuhi.  Sekalipun selalu memperkatakan ayat ini setiap hari, hal itu tidak akan membawa hasil jika syarat yang diminta Tuhan tidak kita penuhi.

     Apa yang kita minta Tuhan akan berikan dan sediakan, asalkan kita memenuhi persyaratan yang Tuhan kehendaki.  Syarat pertama adalah:  "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku..."  (ayat nas).  Tinggal di dalam Tuhan ini berbicara tentang persekutuan yang karib dengan Tuhan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur!  "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."  (Yohanes 15:4).  Tinggal di dalam Tuhan berarti hidup seseorang benar-benar dalam pimpinan Roh Tuhan, sehingga seluruh kehendak pribadi harus dimatikan dan ditaklukkan untuk Kristus,  "...aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:20),  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Orang yang tinggal di dalam Kristus berarti wajib hidup sama seperti Kristus hidup  (1 Yohanes 2:6).  Syarat selanjutnya adalah:  "...firman-Ku tinggal di dalam kamu,"  (ayat nas), ini berbicara tentang ketaatan melakukan firman Tuhan.  Jika firman Tuhan  'tinggal'  di dalam kita,  "demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:11).

     Ketika doa-doa kita tak dijawab Tuhan, ketika apa yang kita minta tidak dikabulkan Tuhan, jangan langsung kecewa dan marah kepada Tuhan!  Marilah kita mengoreksi diri:  mungkin selama ini kita belum memenuhi persyaratan yang Tuhan mau.

Jangan hanya menuntut Tuhan untuk memberkati kita, memenuhi keinginan kita, apabila kita sendiri tidak melakukan apa yang menjadi bagian kita!

Wednesday, June 24, 2020

MENGIKUT TUHAN: Meneladani Petani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2020


"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."  2 Timotius 2:6

Rasul Paulus juga menasihati kita untuk belajar dari kehidupan seorang petani, seorang yang bekerja di bidang pertanian  (sawah, ladang)  yang melakukan pengelolaan tanah dan menabur benih tanaman dengan harapan benih itu tumbuh dan menghasilkan buah  (panenan) untuk dikonsumsi sendiri ataupun dijual kepada orang lain.

     Salah satu karakter petani yang patut dicontoh adalah kerja keras!  Ia bekerja tanpa mengenal lelah mulai dari pagi sampai petang, tidak peduli dengan panas terik maupun hujan.  Petani yang bekerja di sawah atau ladang tak langsung menuai, ia harus menunggu dengan sabar dalam kurun waktu yang cukup lama sampai benih yang ditaburnya itu tumbuh dan menghasilkan buah.  "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu," (Yakobus 5:7-8).  Rasul Paulus mengibaratkan bahwa melayani pekerjaan Tuhan itu juga seperti petani yang sedang bekerja di ladang:  ada yang mencangkul atau membajak sawah, ada yang menanam benih, dan ada pula yang menyiram  (1 Korintus 3:6-9).  Dalam mengiring Tuhan pun kita harus mau bekerja keras, mau berkorban waktu dan tenaga:  "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai."  (Pengkhotbah 11:4),  "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik."  (Pengkhotbah 11:6).

     Ada tertulis:  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,"  (Amsal 14:23).  Segala jerih payah petani pada akhirnya akan terbayar lunas ketika musim panen tiba.  Sekalipun kita diperhadapkan dengan tantangan, terjangan angin dan badai,  "...berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai."  Mazmur 126:5

Tuesday, June 23, 2020

MENGIKUT TUHAN: Meneladani Olahragawan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2020


"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."  2 Timotius 2:5

Dalam pengiringan kita kepada Tuhan rasul Paulus juga mengajarkan kita untuk belajar dari kehidupan seorang olahragawan atau atlet!  Salah satu ciri hidup yang utama dari seorang olahragawan adalah disiplin dalam berlatih dan punya pola hidup yang sehat.  Tanpa berlatih secara disiplin mustahil seorang olahragawan mengukir prestasi yang tinggi.  Kalau hanya berlatih asal-asalan atau ala kadarnya ia pasti akan sulit bersaing dalam sebuah kejuaraan atau perlombaan.  Inilah harga yang harus dibayar oleh seorang olahragawan:  berlatih dengan keras, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, tidak suka bergadang, dan tidak mengenal kata  'menyerah'  sebelum bertanding.

     Saat ini kita hidup pada zaman yang menawarkan segala sesuatu serba instan:  ada mie instan, kopi instan, atau makanan cepat saji;  ada pula yang menawarkan gelar instan, popularitas instan, mendapatkan kekayaan atau uang secara instan, dan sebagainya.  Tapi untuk meraih prestasi, mendapatkan gelar atau medali dalam bidang olahraga apa pun, tidak ada istilah instan, semua harus melalui proses yang panjang:  pembinaan sedari dini dan latihan yang keras.  Begitu pula dalam kehidupan rohani!  Untuk mencapai kedewasaan rohani tidak ada cara instan, semua harus melewati proses demi proses, hari demi hari.  Kita perlu latihan secara kontinyu agar otot-otot iman kita semakin kuat.  Rasul Paulus menasihatkan,  "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:8).

     Seorang olahragawan juga harus patuh pada aturan!  Ini berbicara tentang ketaatan:  patuh pada instruksi pelatih dan juga bertanding sesuai aturan yang berlaku:  "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."  (ayat nas), misal:  berlari pada lintasan yang benar, tidak sembarangan memukul, dan sebagainya.  Bila seorang olahragawan melanggar aturan pertandingan, ia pasti didiskualifikasi.

Untuk mencapai kedewasaan rohani kita harus berlatih keras dan taat pada aturan  (firman Tuhan).

Monday, June 22, 2020

MENGIKUT TUHAN: Meneladani Prajurit

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2020


"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."  2 Timotius 2:3

Timotius adalah salah seorang pemuda yang mengasihi Tuhan dan merespons panggilan Tuhan dalam hidupnya.  Arti nama Timotius adalah memuliakan Tuhan.  Ia adalah salah seorang pemuda yang menjadi rekan sekerja Paulus di ladang Tuhan, yang begitu setia dan terpercaya.  Dalam suratnya rasul Paulus berusaha untuk memberikan dorongan dan semangat kepada  'anaknya'  yang terkasih ini untuk tetap setia dalam mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil sekalipun ada banyak kesulitan, kesukaran, dan tantangan dari orang-orang yang berusaha untuk menghambat dan menghalangi.

     Rasul Paulus menasihati Timotius untuk belajar dari orang-orang yang menjalani hidup sebagai:  prajurit, olahragawan dan petani.  Setiap orang percaya adalah prajurit-prajurit Kristus yang dipanggil untuk berperang melawan musuh, karena itu seorang prajurit haruslah seorang pemberani, bermental baja, dan bukan seorang penakut.  Musuh utama dari prajurit Kristus adalah Iblis dengan bala tentaranya, suatu kekuatan yang tidak kelihatan secara kasat mata, yakni pemerintah, penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap atau roh-roh jahat di udara  (Efesus 6:12).  Sebelum terjun ke medan peperangan seorang prajurit harus terlebih dahulu masuk ke kawah candradimuka:  dilatih dan ditempa.  Ia juga diajar untuk memiliki ketaatan penuh kepada perintah sang komandan!  Hal penting lain yang tak boleh diabaikan seorang prajurit adalah tetap fokus:  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).

     Orang percaya harus fokus kepada perkara-perkara rohani atau mengutamakan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi!  (Kolose 3:1-2).  Seorang prajurit harus punya komitmen dan integritas yang tinggi supaya ia berkenan kepada komandan, sebab seorang komandan akan berkenan pada prajurit yang taat dan dapat diandalkan.  Kita semua adalah prajurit-prajurit Kristus yang sudah dibeli dan dibayar lunas dengan darah-Nya sendiri, oleh karena itu kita harus berusaha agar kita bisa menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan Dia melalui perkataan dan perbuatan kita.

Prajurit Kristus adalah orang yang taat dan siap berperang setiap saat!

Sunday, June 21, 2020

MENGUTAMAKAN TUHAN: Tak Perlu Kuatir

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juni 2020


"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  Matius 6:33

Semua orang pasti pernah merasa kuatir!  Kebanyakan orang menguatirkan tentang kebutuhan hidupnya:  apa yang dimakan, minum dan pakai.  Demi memenuhi kebutuhan hidup tersebut orang bekerja sedemikian kerasnya sampai-sampai mereka lupa waktu.  Berusaha mati-matian demi mengejar materi itu tidaklah salah, yang menjadi persoalan adalah ketika kita terlalu terfokus mengejar materi duniawi, lalu mengesampingkan perkara-perkara rohani.  Tuhan menegur dan memperingatkan jemaat di Laodikia yang tampak kaya secara jasmani, tapi sesungguhnya mereka miskin rohani  (Wahyu 3:17).

     Saat-saat ini kita sedang diperhadapkan dengan keadaan dunia yang semakin hari semakin berat dan penuh kesukaran, wajarlah bila orang dihantui oleh kekuatiran.  Apa itu kekuatiran?  Sesungguhnya kekuatiran adalah rasa takut tentang sesuatu hal yang belum tentu akan terjadi, merasa cemas, atau merasa gelisah.  Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir tentang hidup kita dan juga masa depan kita, karena semua dalam jaminan Tuhan!  Karena itu kita harus memiliki bahasa iman setiap hari dan tidak terpengaruh oleh situasi.  Nabi Habakuk, sekalipun berada dalam situasi sulit, tetapi bisa berkata,  "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,..."  (Habakuk 3:17-18).

     Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengutamakan dan mendahulukan Tuhan dengan kebenaran-Nya  (ayat nas), dan ada tertulis:  "Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian."  (Amsal 23:23), artinya untuk memperoleh kebenaran ada harga yang harus dibayar!  Orang yang punya rasa haus dan lapar akan kebenaran akan berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan kebenaran tersebut.  Alkitab menegaskan bahwa kerajaan Sorga berbicara tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus  (Roma 14:27).

Ketika kita mengutamakan Tuhan dan mencari kebenaran-Nya, lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, apa yang kita butuhkan pasti disediakan-Nya bagi kita!

Saturday, June 20, 2020

IMAN DAN KETAATAN: Menghasilkan Mujizat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2020


"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."  Mazmur 77:12

Di zaman yang serba modern dan canggih seperti sekarang ini tak mengherankan bila manusia cenderung mengandalkan kepintaran otaknya, lebih percaya pada ilmu-ilmu kedokteran, lebih mengandalkan kekuatan sendiri, lebih mengandalkan kekayaan, daripada percaya kepada kuasa Tuhan.  Mereka berpikir asalkan punya uang yang banyak atau harta melimpah ruah, segala sesuatu dapat diraih, apa saja yang diinginkan pasti dapat tercapai, tak perlu berdoa dan tak perlu mengandalkan Tuhan.

     Banyak orang  (termasuk orang Kristen)  menganggap bahwa mujizat-mujizat yang tertulis di Alkitab adalah peristiwa usang di masa lampau, tinggal cerita saja, karena itu mereka tidak lagi percaya kepada mujizat.  Mujizat adalah peristiwa adikodrati yang Tuhan kerjakan di tengah-tengah umat-Nya;  mujizat selalu diidentikan dengan suatu kejadian atau peristiwa ajaib yang sulit dipahami, dimengerti dan dijangkau oleh akal pikiran manusia, yang Tuhan nyatakan bagi manusia!  Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa mujizat itu masih ada sampai detik ini karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang kuasa-Nya tidak berubah:  Dia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya  (Ibrani 13:8).

     Mengapa banyak orang tak mengalami mujizat Tuhan?  Ketika berada di Nazaret, di tempat asalnya, Kristus  "...tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka."  (Markus 6:5-6a).  Faktor penghalang untuk mengalami mujizat adalah ketidakpercayaan kita sendiri.  Ada tertulis:  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1).  Dalam versi New King James:  "Now faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen."  Kata  'substance'  diartikan:  bahan baku dasar.  Jadi bahan baku utama mujizat adalah iman!  Faktor penunjang lain adalah ketaatan, karena iman bekerjasama dengan perbuatan.  Jika Naaman tidak taat ketika diperintahkan untuk mandi di sungai Yordan, ia tidak akan mengalami mujizat  (2 Raja-Raja 5:1-14).

Mujizat Tuhan masih ada sampai detik ini, karena itu percayalah!

Friday, June 19, 2020

PENYESALAN TUHAN: Ketidaktaatan Saul

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juni 2020


"Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel."  1 Samuel 15:35b

Saul adalah raja pertama atas Israel.  Suatu ketika Saul diperintahkan Tuhan untuk berperang melawan bangsa Amalek dan menumpas habis mereka tanpa terkecuali, termasuk segala hewan ternaknya.  Mengapa Tuhan memerintahkan Saul untuk menumpas bangsa Amalek?  Karena sewaktu bangsa Israel sedang menempuh perjalanan ke Tanah Perjanjian, ketika berada di Rafidim, mereka dihadang oleh bangsa Amalek, sehingga terjadi peperangan yang sangat hebat.  Apa yang dilakukan bangsa Amalek terhadap bangsa Israel, bangsa pilihan Tuhan ini, benar-benar menyakiti hati Tuhan,

     Dalam peperangan ini Saul berhasil memukul kalah bangsa Amalek!  Tetapi apa yang diperintahkan Tuhan tidak dilakukan sepenuhnya:  menyelamtkan Agag  (raja Amalek), juga kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, tapi  "...segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas..."  (1 Samuel 15:9), dengan alasan yang sepertinya masuk akal dan tampak rohani, yaitu hewan-hewan yang baik itu hendak dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban.  Apa pun alasannya, apa yang dilakukan Saul adalah bentuk ketidaktaatan, artinya ia memandang remeh perintah Tuhan dan tidak menghormati Dia.  Melihat ketidaktaatan Saul ini Tuhan menjadi kecewa dan Ia merasa menyesal telah menjadikan dia sebagai raja atas Israel.  Ketidaktaatan ini bukan sekali diperbuat Saul, sebelumnya ia juga sudah mengecewakan Tuhan:  tidak sabar menunggu Samuel di Gilgal, Saul telah melakukan tindakan bodoh:  "...ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. Sebab itu Saul berkata: 'Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.' Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.  (1 Samuel 13:8b-9), padahal yang berwenang untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan adalah seorang imam.

     Ketidaktaatan yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan bahwa Saul tidak sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan alias mempermainkan Tuhan, itulah yang membuat Tuhan merasa menyesal.  Berkatalah Samuel,  "Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:23b).

"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan."  Amsal 13:13

Thursday, June 18, 2020

BERKORBAN ADALAH BUKTI KASIH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juni 2020


"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."  Yohanes 15:13

Sampai kapan pun kita takkan pernah sanggup mengukur kasih Tuhan,  "...betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya..."  (Efesus 3:18).  Bukti terbesar kasih Tuhan kepada kita adalah rela mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.  Pengorbanan Tuhan untuk kita sungguh tiada terbatas!

     Dengan apakah kita membalas kasih Tuhan?  Karena Ia sudah terlebih dahulu mengasihi kita sedemikian rupa, kita pun harus mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.  Bukti nyata orang mengasihi Tuhan adalah taat melakukan firman-Nya!  Jangan katakan kita mengasihi Tuhan bila kita tidak taat melakukan kehendak-Nya!  Mengasihi Tuhan harus ada bukti nyata.  Terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan pun tak menjamin orang akan mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena tidak sedikit orang Kristen yang menjadikan pelayanan hanya sebagai aktivitas rutin, bahkan kedok atau topeng.  "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."  (Yohanes 14:15) dan  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  (Yohanes 14:21).

     Berkorban  (persembahan, persepuluhan dan menolong sesama)  adalah bukti mengasihi Tuhan:  "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya."  (Amsal 3:9-10).  Sesungguhnya Tuhan tak mengingini uang atau harta kita karena Dia Pemilik segalanya;  Tuhan hendak melatih kita untuk memberi terlebih dahulu sebelum kita menerima, bahkan Tuhan  "...yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,"  (2 Korintus 9:10-11).  Tidak ada alasan untuk tidak memberi!

Taat melakukan firman Tuhan dan mau berkorban adalah bukti kasih kepada Tuhan!

Catatan:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan,"  1 Korintus 9:7

"'Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.' Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).

Wednesday, June 17, 2020

MOTIVASI HATI: Tetap Tulus Murni

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2020


"Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."  Yeremia 17:10

Setiap orang pasti memiliki motivasi ketika mengerjakan segala sesuatu!  Contoh:  banyak orang berlomba-lomba mengikuti ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh beberapa televisi swasta, dengan satu motivasi ingin mengubah nasib atau menjadi orang yang terkenal.  Secara garis besar motivasi memiliki arti:  suatu dorongan atau alasan yang menjadi dasar semangat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan tertentu.  Motivasi adalah faktor penting yang dapat membangkitkan semangat kita untuk melakukan sesuatu, sebaliknya seorang yang tak punya motivasi akan mengerjakan segala sesuatunya tanpa greget dan ala kadarnya... begitu diperhadapkan dengan tantangan atau kendala, kemungkinan besar akan cepat menyerah di tengah jalan.a

     Milikilah motivasi yang benar dalam mengerjakan segala sesuatu, sebab Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin kita!  Artinya Tuhan selalu memperhatikan motivasi seseorang dalam mengerjakan segala sesuatu, sebab Ia tahu secara persis apa yang ada di dalam hati kita, apa yang menjadi niat dan juga cita-cita  (1 Tawarikh 28:9).  Jadi, Tuhan tidak hanya melihat dan menilai apa yang kita perbuat, tetapi lebih dari itu:  Ia menilai, memperhatikan, dan menyelidiki motivasi hati kita.  Perhatikan motivasi Saudara dalam melayani pekerjaan Tuhan:  apakah Saudara melayani karena tergiur iming-iming materi, atau ingin mendapatkan pujian dari manusia?  Perhatikan juga saat Saudara memberi persembahan atau menolong orang lain:  apakah hati kita benar-benar tulus ataukah ada tendensi di balik pemberian itu?  Sekalipun kita bisa menyembunyikan motivasi hati kita dari manusia, tapi semuanya tetap akan terbaca jelas di mata Tuhan.

     Dalam hal beribadah, melayani pekerjaan Tuhan, dan membangun hubungan dengan sesama, biarlah motivasi hati tetap terjaga ketulusannya:  "Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku..."  (Mazmur 101:2).  Begitu pula rasul Paulus, yang juga berusaha untuk menjaga kemurnian hatinya dalam melayani Tuhan  (Kisah 24:16).

Tuhan itu baik bagi orang yang tulus bersih hatinya!  (Mazmur 73:1).

Tuesday, June 16, 2020

BERIBADAH KEPADA TUHAN YANG BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2020


"'Jadi, sekarang,' kata Yosua selanjutnya, 'hormatilah TUHAN. Mengabdilah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan setia. Singkirkanlah ilah-ilah lain yang disembah oleh nenek moyangmu dahulu di Mesopotamia dan Mesir. Mengabdilah hanya kepada TUHAN.'"  Yosua 24:14  (BIS)

Setelah menempuh perjalanan panjang dan berhasil membawa bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, usia Yosua pun semakin bertambah tua.  Sadar bahwa masa hidupnya sudah tidak akan lama lagi, Yosua mengumpulkan seluruh orang Israel, termasuk para pemimpin tiap-tiap suku di Sikhem.  Untuk apa?  Dalam tradisi di Israel, bila seorang pemimpin sudah berusia lanjut dan mendekati masa tugasnya berakhir, ia akan mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pidato perpisahan yang berisikan nasihat atau pesan-pesan terakhir.  Selain menyampaikan pidato perpisahan, Yosua juga mengingatkan kembali tentang komitmen bangsa Israel kepada Tuhan!

     Mengapa mereka perlu diingatkan?  Karena mereka seringkali jatuh bangun dalam dosa, hati mereka mudah sekali berubah dan tidak lagi setia kepada Tuhan, padahal mereka telah mengecap kasih dan kebaikan Tuhan begitu limpahnya.  Karena itu Yosua meminta mereka untuk membuat keputusan tegas:  "...pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini."  (Yosua 24:15a), sedangkan Yosua sekeluarga bertekad,  "...aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  (Yosua 24:15b).  Akhirnya umat Israel menyatakan komitmen yang sama, yaitu tetap beribadah kepada Tuhan yang hidup dan benar!  "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!"  (Yosua 24:16).

     Komitmen ini tidak bisa dianggap main-main atau asbun  (asal bunyi), sebab mereka tidak berikrar di hadapan Yosua, tapi di hadapan Tuhan yang besar dan berkuasa, Pencipta langit dan bumi... apabila mereka sampai ingkar dengan apa yang diucapkan, ada akibat yang harus mereka taggung, sebab Dia adalah Tuhan yang cemburu:  "Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu."  (Yosua 24:19).

Beribadah kepada Tuhan berarti kita menyerahkan hidup ini sepenuhnya kepada Tuhan dan taat kepada-Nya sampai akhir!

Monday, June 15, 2020

TAAT DAN SETIA: Beroleh Peninggian Dari Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2020


"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,"  Mazmur 75:7

Tak ada orang yang mau menjadi nomor dua, semua ingin menjadi nomor satu, yang terutama, teratas, terbaik, tertinggi.  Untuk mencapai semuanya itu tidak sedikit orang menempuhnya dengan segala cara, tak peduli apakah menyalahi aturan, melanggar hukum, merugikan atau mengorbankan orang lain.  Inilah ambisi yang salah!  Kata  'ambisi'  (Latin, ambitio)  adalah suatu hasrat besar seseorang terhadap kekuasaan, kehormatan, kemashyuran atau apa saja yang memberikan keunggulan dan keistimewaan;  keinginan seseorang untuk membuat dirinya berbeda dari orang lain;  usaha seseorang untuk memajukan dirinya.

     Adalah sah-sah saja memiliki suatu ambisi, asalkan jalan atau cara yang kita tempuh untuk mewujudkan ambisi tersebut sesuai dengan aturan atau hukum yang berlaku, tidak menyimpang dari kebenaran firman Tuhan.  Ambisi yang bertujuan semata-mata untuk meninggikan diri sendiri, mencari hormat dan pujian dari manusia adalah perbuatan yang sangat dicela oleh Tuhan!  Ambisi-ambisi semacam ini ternyata bukan hanya terjadi di dunia luar, di lingkungan gereja atau pelayanan pun banyak sekali ditemukan:  ada pelayan-pelayan Tuhan yang bertengkar dan saling jegal karena memperebutkan posisi atau jabatan penting di gereja!  Korah adalah contoh orang yang sangat berambisi untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin, karena itu ia mengajak orang-orang untuk memberontak terhadap Musa, pemimpin yang dipilih Tuhan.  Apa yang diperbuat oleh Korah akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan juga semua orang yang mengikuti dia  (Bilangan 16:31-33).

     Pemazmur menegaskan bahwa peninggian seseorang itu datang bukan dari timur, barat, padang gurun, atau dari mana pun, peninggian itu datangnya dari Tuhan:  "...direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."  (Mazmur 75:8).  Ingin beroleh peninggian dari Tuhan?  Taatilah firman-Nya, maka  "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,"  (Ulangan 28:13), dan setialah dari perkara-perkara kecil  (Lukas 16:10).

Asal kita taat dan setia mengerjakan apa yang Tuhan percayakan, peninggian pasti datang!

Sunday, June 14, 2020

MARIA MAGDALENA: Kasih Yang Bergelora

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2020


"Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: 'Aku telah melihat Tuhan!' dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya."  Yohanes 20:18

Orang yang mengalami kebaikan Tuhan dan memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan pasti memiliki kasih yang bergelora kepada Tuhan.  Didasari kasihnya yang menggelora, orang akan rela melakukan yang terbaik untuk Tuhan, memberi dan berkorban, tidak menahan berkat untuk dirinya sendiri, tapi terbeban untuk menolong orang lain, dan terbeban pula untuk mendukung pekerjaan Tuhan dengan harta yang dimiliki:  "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu..."  (Amsal 3:9).

     Inilah yang dirasakan oleh Maria Magdalena, sebab  "Dosanya yang banyak itu telah diampuni,"  (Lukas 7:47).  Karena telah mengalami pertolongan Tuhan yang ajaib dan dosanya yang besar telah diampuni, Maria Magdalena bertekad untuk membalas kasih Tuhan dengan apa yang bisa ia perbuat.  "Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu."  (Lukas 7:37-38).  Maria Magdalena datang kepada Tuhan dengan membawa sebuah buli-buli yang berisi minyak wangi yang ia pergunakan untuk meminyaki Tuhan, padahal minyak wangi tersebut berharga sangat mahal, dan mungkin itu satu-satunya harta yang dimilikinya.  Wanita itu rela mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan, bahkan ia membasahi kaki-Nya dengan air mata, menyeka dengan rambutnya, dan mencium kaki-Nya sebagai ekspresi kasihnya.

     Walaupun Tuhan Yesus sudah mati tersalib, Maria Magdalena tetap menunjukkan kasih dan setianya kepada Tuhan dengan mengunjungi kubur-Nya, dan Alkitab mencatat bahwa Maria Magdalena menjadi orang pertama yang datang ke kubur Tuhan pada pagi-pagi buta dan mendapati kubur itu kosong  (Matius 20:1).  Jerih lelah dan pengorbanan wanita itu diperhitungkan oleh Tuhan!  Terbukti ketika Tuhan bangkit dari kematian-Nya, Maria Magdalena menjadi orang yang pertama dijumpai-Nya.

Seberapa besar kasih Saudara kepada Tuhan?  Kasih kepada Tuhan harus ada bukti.

CATATAN:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan,"  2 Korintus 9:7

"'Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.' Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  Roma 9:15-16