Sunday, March 8, 2020

SAAT TERJEPIT BARULAH MENJERIT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2020

Baca:  Ulangan 4:21-40

"Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN,..."  Ulangan 4:30

Masalah, kesukaran, penderitaan dan hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan mengetahuinya.  Timbul pertanyaan:  "Kalau Tuhan sudah mengetahuinya, mengapa Dia membiarkan hal ini terjadi?"  Ketahuilah, Tuhan punya rencana di balik masalah yang kita alami.  Jika setiap permasalahan Tuhan singkirkan, maka iman kita tidak akan pernah bertumbuh;  jika setiap permasalahan Tuhan singkirkan, kita tidak dapat belajar berharap dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.  Oleh karenanya Tuhan mengajar kita untuk berharap dan bersandar kepada-Nya, serta mendekatkan kita kepada-Nya, dimana salah satu cara yang Tuhan pakai adalah melalui masalah atau kesukaran yang kita alami.

     Saat keadaan baik-baik saja, tanpa masalah, kita sering merasa tak membutuhkan Tuhan.  Kita tak sungguh-sungguh dalam ibadah dan doa.  Perkara-perkara rohani kita remehkan.  Tapi begitu menghadapi masalah yang berat dan benar-benar terjepit, barulah kita menjerit kepada Tuhan, berseru-seru minta pertolongan dari-Nya.  "Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN,..."  (ayat nas).  Ketika mengalami masalah yang teramat pelik, menemui jalan buntu, dan terjepit, barulah kita menjerit kepada Tuhan dan mendekati Dia.  Pemazmur menyadari akan hal ini.  "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:67, 71).  Ketika semua berjalan dengan baik banyak orang melupakan dan meninggalkan, lebih mengasihi dunia dengan segala berhalanya.  Begitu krisis melanda, sakit-penyakit mendera dan dokter sudah angkat tangan, barulah orang teringat kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.

     Inilah yang dilakukan bangsa Israel:  saat keadaan baik dan nyaman mereka melupakan Tuhan, meremehkan peringatan-Nya dan berpaling kepada ilah lain.  "...di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium."  (Ulangan 4:28).

Mencari Tuhan hanya saat perlu sama artinya tidak menghormati Tuhan!

Saturday, March 7, 2020

TOTALITAS DALAM MENGIKUT KRISTUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Maret 2020

Baca:  Matius 8:18-22

"Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."  Matius 8:19

Mengikut Kristus itu tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tidak ada istilah setengah-setengah, apalagi hanya asal-asalan atau ala kadarnya.  Mengikut Kristus harus sepenuh hati  (total service)  dengan komitmen yang tinggi.  Dalam dunia kerja sekuler saja seorang pekerja dituntut untuk memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perusahaannya.

     Apakah kita sudah mengikut Kristus secara total?  Sejauh mana loyalitas kita kepada Kristus?  Apakah selama ini kita melayani Tuhan sepenuh hati, tanpa embel-embel lain?  Ataukah pelayanan kita kepada Tuhan karena suatu tendensi:  karena uang atau demi popularitas?  "'Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.' Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: 'Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.'"  (Matius 8:20-21).  Tuhan menegaskan,  "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."  (Matius 8:22).  Menjadi pengikut Kristus sejati di masa sekarang ini tidaklah mudah, sebab ada banyak sekali tantangan dan hambatan, yang membua orang mudah sekali berubah dan tidak lagi setia.  Mengikut Kristus berarti kita harus mengarahkan pandangan hanya kepada Kristus saja.  "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman,"  (Ibrani 12:2).  Banyak orang Kristen yang arah pandangannya bukan lagi kepada Kristus melainkan tertuju kepada perkara-perkara yang ada di dunia ini.  Kita lebih mencintai dunia daripada mengasihi Tuhan.  Kita lebih mengikuti kenendak dan keinginan diri sendiri daripada harus tunduk kepada kehendak Tuhan.

     Ada harga yang harus dibayar untuk mengikut Kristus, karena Kristus telah terlebih dahulu mengorbankan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita dengan darah-Nya,  "...yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:19).  Kristus telah mengangkat kita dari lumpur dosa dan menyelamatkan kita, maka sudah sepatutnyalah kita mempersembahkan hidup ini sepenuhnya untuk kemuliaan nama-Nya dan melayani Tuhan dengan hati yang takut akan Dia.

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20

Friday, March 6, 2020

SUNGUT-SUNGUT: Tak Menghargai Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Maret 2020

Baca:  Bilangan 14:1-38

"Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!"  Bilangan 14:11

Banyak orang Kristen yang hidupnya  'setali tiga uang'  (tidak ada bedanya;  sama saja)  dengan kehidupan bangsa Israel:  tiada hari tanpa berkeluh kesah, menggerutu, bersungut-sungut dan selalu menyalahkan Tuhan atas apa yang dialaminya.

     Saat menghadapi kesulitan atau kesukaran bangsa Israel selalu menunjukkan persungutannya.  "Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: 'Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?' Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.'"  (Bilangan 14:2-4).  Bersungut-sungut adalah tanda ketidakpercayaan kepada Tuhan, tak menghargai berkat Tuhan, tak menghargai penyertaan Tuhan.  Mereka selalu menuntut Tuhan melakukan apa yang diinginkan.  Tidak ada ucapan syukur dari mulut mereka.  "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran."  (Amsal 21:23).  Orang yang tidak bisa menguasai mulut dan lidahnya, yang suka menggemakan perkataan-perkataan yang negatif, kotor, sia-sia, pada saatnya akan memakan buahnya  (Amsal 18:21).

     Karena tak berhenti bersungut-sungut kepada Tuhan, bangsa Israel harus menanggung akibatnya:  "Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku, pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka! Semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya."  (Bilangan 14:22-23).  Sekalipun Tuhan adalah panjang sabar dan penuh kasih, serta mengampuni kesalahan dan pelanggaran mereka, tapi Ia tidak akan membebaskan orang bersalah dari hukuman.

Karena tak menghormati Tuhan, sebagian besar dari umat Israel gagal mencapai Tanah Perjanjian!

Thursday, March 5, 2020

KARIB DENGAN TUHAN: Pelayanan Berdampak

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Maret 2020

Baca:  Markus 1:35-39

"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."  Markus 1:35

Banyak orang tidak pernah melibatkan Tuhan di setiap apa yang dikerjakan.  Apa buktinya?  Sebelum memulai segala sesuatu mereka tidak pernah berdoa.  Kristus memberikan teladan hidup:  sebelum melakukan segala aktivitas-Nya di hari yang baru, sebelum pergi memberitakan kebenaran, mengajar dan melayani jiwa-jiwa, Ia terlebih dahulu berdoa kepada Bapa,  "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap..."  (ayat nas).  Artinya Kristus tidak melangkah menurut kehendak-Nya sendiri, tapi mencari kehendak Bapa terlebih dahulu, barulah Ia melangkah.  "...Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku."  (Yohanes 5:30).

     Begitu pula dalam melayani pekerjaan Tuhan, kita tak dapat melakukannya dengan kepintaran dan kekuatan sendiri, tidak semata-mata hanya mengandalkan talenta atau skill, namun perlu persiapan secara roh agar urapan dan otoritas Tuhan turun atas kita.  Tanpa melibatkan Roh Kudus bekerja, pelayanan yang kita kerjakan tak lebih dari legalitas agamawi saja.  Kristus saja tidak pernah melayani tanpa melibatkan campur tangan Bapa.  Terbukti sebelum melakukan segala sesuatu di hari baru, pagi-pagi benar waktu hari masih gelap, Kristus pergi keluar untuk berdoa di tempat yang sunyi  (ayat nas).  Adalah sia-sia jika kita melayani Tuhan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.  Kunci melayani Tuhan yang efektif adalah bagaimana kita bisa menjaga hati untuk tetap membangun hubungan yang karib dengan Tuhan, serta berjalan menurut kehendak-Nya.

     Banyak orang Kristen sudah melayani Tuhan tapi mereka malah mengabaikan persekutuan dengan Tuhan secara pribadi, karena terlalu sibuk dengan jadwal pelayanannya.  Berhati-hatilah!  Jangan sampai kita terjebak dengan rutinitas pelayanan, sementara hubungan kita dengan Tuhan malah kita abaikan.  Jangan sampai Tuhan berkata,  "...Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"  (Matius 7:23).  Rindukan hadirat Tuhan selalu agar Dia menyertai setiap pelayanan kita, tanpa campur tangan-Nya pelayanan kita tidak ada artinya.

"Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."  Yesaya 50:4b

Wednesday, March 4, 2020

CIPTAAN BARU: Berbuahkan Kebaikan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Maret 2020

Baca:  Roma 12:9-21

"Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik."  Roma 12:9

Awal untuk memiliki karakter yang baik dalam diri orang percaya adalah ketika ia  'dilahirkan kembali'  dan hidup dalam pertobatan.  Saat orang mengalami  'kelahiran baru', Tuhan memberikan hati yang baru:  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."  (Yehezkiel 36:26).

     Sebelum hidup di dalam Kristus kita ini jauh dari persekutuan dengan Bapa, sebab keberadaan Bapa adalah kudus, sedangkan kita adalah berdosa.  Namun setelah kita percaya dan menyerahkan hidup kepada Kristus, yang telah mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, kita diperdamaikan dengan Bapa.  Di dalam Kristus, kini kita menjadi ciptaan baru.  "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."  (2 Timotius 3:17).  Sebagai ciptaan baru adalah mutlak untuk kita memiliki kehidupan yang selalu berbuahkan kebaikan.  Kata  'baik'  memiliki arti:  tiada ada kekurangan atau cacat.  Kata Yunani untuk  'kebaikan'  adalah agathosune yang artinya:  kemurahan dalam wujud yang sebenarnya;  sebuah kebajikan yang dilengkapi dengan tindakan, atau kecenderungan untuk mempunyai niat yang baik dan melakukan apa yang baik tersebut.

     Dunia ini penuh dengan segala bentuk kejahatan dan hati orang-orang cenderung membuahkan kejahatan semata, namun orang percaya berani melawan arus untuk menjauhi segala kejahatan dan melakukan kebaikan.  Apa yang kita putuskan untuk kita lihat, kita baca, kita dengar dan kita pikirkan, akan memengaruhi bagaimana kita berperilaku.  Kunci untuk punya kehidupan yang baik adalah melekat kepada Tuhan dan tinggal di dalam firman-Nya, sebab firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran  (2 Timotius 3:16).  Karena kita sudah menerima semua yang baik dari Tuhan, maka kebaikan yang telah kita terima juga harus terpancar keluar.

Ciri hidup seorang yang sudah lahir baru di dalam Kristus adalah punya kehidupan yang selalu berbuahkan kebaikan!

Tuesday, March 3, 2020

TUHAN SUMBER PENGHARAPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Maret 2020

Baca:  Mazmur 71:1-24

"Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda..."  Mazmur 71:5

Sejak dari usia muda Daud sudah belajar menaruh harapannya hanya kepada Tuhan.  Daud sadar benar bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat sandaran dan pengharapan hidup, bukan yang lain.  "Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji."  (Mazmur 71:6).

     Daud menyadari bahwa manusia tidak selamanya muda dan perkasa.  Semua pasti akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu:  yang muda menjadi tua, yang kuat dan gagah lambat laun akan melemah kekuatannya.  Karena itu Daud memohon kepada Tuhan,  "Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis."  (Mazmur 71:9).  Begitu pula segala perkara yang ada di dunia ini tidak bisa diharapkan dan tak mampu memberikan pengharapan yang pasti.  Apalagi berharap kepada manusia, termasuk keluarga, saudara, anak-anak, teman atau sahabat, kita akan kecewa.  Firman Tuhan sudah memperingatkan,  "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat."  (Mazmur 144:4).  Mari kita teladani sikap Daud yang hanya bergantung dan menaruh pengharapan kepada Tuhan.  Bila kita menaruh harap kepada Tuhan, kita tidak akan pernah dikecewakan-Nya, karena Dia tidak pernah akan berubah.  Tuhan berjanji,  "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  (Yesaya 46:4).

     Apa dan siapa sumber pengharapan Saudara?  Adalah salah besar jika Saudara menaruh pengharapan kepada orang-orang yang Saudara anggap hebat dan kuat.  "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?"  (Yesaya 2:22), dan  "...jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati."  (1 Timotius 6:17).  Tuhan adalah Batu Karang yang teguh, Dialah sumber pengharapan bagi kita orang percaya.

"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia."  Ratapan 3:25

Sunday, March 1, 2020

JANGAN MURTAD

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Maret 2020

Baca:  Ibrani 3:7-19

"Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad..."  Ibrani 3:12

Alkitab mencatat bahwa salah satu tanda yang menunjukkan bahwa hari-hari ini adalah masa-masa akhir zaman adalah  "...banyak orang akan murtad..."  (Matius 24:10),  "Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad..."  (2 Tesalonika 2:3).  Fakta sudah membuktikan ada banyak orang percaya yang meninggalkan Tuhan atau menjadi murtad karena tergiur dengan segala perkara yang dunia tawarkan.

     Ada beberapa alasan yang membuat orang menjadi murtad:  1.  Pacar atau jodoh.  Ada orang memilih menyangkal iman dan meninggalkan Kristus demi pacar yang dicintainya.  Demi mendapatkan jodoh atau pasangan hidup mereka rela mengorbankan keselamatan.  Mereka menempatkan cinta melebihi kasihnya kepada Tuhan.  Firman Tuhan sudah memperingatkan,  "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"  (2 Korintus 6:14).  2.  Karir.  Tidak sedikit orang berpikir bahwa iman kepada Kristus menjadi faktor penghambat untuk meningkatkan karirnya atau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan promosi di perusahaannya.  Itulah sebabnya mereka lebih memilih untuk meninggalkan Kristus supaya karirnya makin menanjak.  Karena takut tak laku lagi, takut ditinggalkan penggemar, dan takut tak memperoleh job, ada artis-artis yang dengan sengaja meninggalkan Kristus/menyangkal iman agar tetap eksis di dunia entertainment.

     Jika orang berakar kuat dalam kasih Tuhan imannya tidak akan mudah goyah.  Rasul Paulus berkata,  "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?"  (Roma 8:35).  Orang yang menyadari betapa besar kasih dan pengorbanan Kristus untuk hidupnya, menyadari bahwa ada jaminan hidup kekal di dalam Kristus, takkan mudah terpedaya tipu muslihat Iblis yang menawarkan dunia dengan segala kenikmatan dan kenyamanannya, yang sifatnya hanya sementara.

"Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut."  Amsal 12:28

Saturday, February 29, 2020

BERDAMAI DENGAN BAPA, ALAMI DAMAI SEJATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Februari 2020

Baca:  Kolose 1:15-23

" ...oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus."  Kolose 1:20

Kata  'damai'  dalam bahasa Ibrani:  shalom, memiliki makna:  sejahtera, tidak ada yang hilang, tidak ada perpecahan, sehat, kaya, bahagia dan keadaan baik.  Tuhan adalah penyelenggara damai itu sendiri.  Dengan kata lain Tuhan adalah sumber damai itu, karena Dia adalah Raja damai  (Yesaya 9:5).  Ketika Kristus lahir ke dunia, malaikat-malaikat di sorga memproklamirkan damai sejahtera di bumi.  "Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.'"  (Lukas 2:13-14).

     Apakah sebelum Kristus lahir tidak ada damai di bumi?  Sebelum Kristus menjadi korban pendamaian, manusia hidup dalam perseteruan dengan Bapa oleh karena dosa dan kejahatan yang diperbuatnya.  Hal ini ditegaskan oleh rasul Paulus,  "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,"  (Efesus 2:14).  Tidak bisa dibayangkan, selama ribuan tahun manusia hidup dalam perseteruan dengan Bapa di sorga.

     Ketika Kristus menjadi korban yang menyenangkan hati Bapa, damai sejahtera Bapa yang melampaui segala akal diberikan kepada setiap orang yang mau percaya dan menerima Putera-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Damai akan kita miliki dan alami hanya apabila kita menerima pengampunan dan diperdamaikan dengan Bapa melalui darah Kristus.  Tanpa pencurahan darah Kristus di Kalvari tak akan pernah ada perdamaian dengan Bapa bagi kita.  "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka."  (2 Korintus 5:19a).  Bapalah yang berinisiatif mendamaikan umat manusia dengan diri-Nya sendiri,  "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera..."  (Roma 5:1).

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  Yohanes 14:27

Friday, February 28, 2020

JANGAN SAMPAI LUPA DARATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Februari 2020

Baca:   Tawarikh 12:1-16

"Oleh sebab raja merendahkan diri, surutlah murka TUHAN dari padanya, sehingga ia tidak dimusnahkan-Nya sama sekali. Lagipula masih terdapat hal-hal yang baik di Yehuda."  2 Tawarikh 12:12

Saat berada di puncak karir, sukses dan hidup dalam kelimpahan, banyak orang menjadi lupa diri, tak lagi ingat asal usulnya, seperti istilahnya  'kacang lupa kulitnya'. Berbeda sekali saat masih dalam keadaan minim atau pas-pasan, mereka begitu rajin beribadah hingga secara perlahan hidupnya mulai berubah, dipulihkan dan diberkati Tuhan.  Sayang secepat kilat pula orang mulai berubah, mereka tidak lagi memprioritaskan Tuhan.

     Hal ini terjadi pada Rehabeam, raja Yehuda.  Alkitab mencatat:  "Rehabeam beserta seluruh Israel meninggalkan hukum TUHAN, ketika kerajaannya menjadi kokoh dan kekuasaannya menjadi teguh."  (2 Tawarikh 12:1).  Setelah kerajaannya kokoh dan kekuasaannya menjadi teguh Rehabeam dan rakyatnya mulai meninggalkan Tuhan dan tak lagi hidup mengandalkan Dia, karena merasa diri kuat dan hebat.  Berada di puncak kejayaan membuat Rehabeam lupa diri dan tidak lagi setia kepada Tuhan.  Mereka meninggalkan hukum Tuhan, alias tidak lagi taat.  Ia terlalu membanggakan kekuatan pasukan perangnya dan juga hidup mengandalkan kekayaan negerinya yang melimpah ruah.  Tuhan tidak lagi mereka butuhkan!  Firman Tuhan memperingatkan,  "Celakalah orang-orang...yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus,"  (Yesaya 31:1).  Apa yang terjadi kemudian?  Ketika negerinya sedang terancam karena musuh yang datang dari kerajaan Mesir, Rehabeam menjadi takut dan mulai sadar bahwa ia sangat membutuhkan pertolongan dari Tuhan.  Ternyata, tanpa Tuhan mereka tidak ada apa-apanya.

     Rehabeam pun merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mengakui segala dosa dan kesalahan yang telah ia dan rakyatnya perbuat.  Melihat kesungguhan hati Rehabeam ini hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan.  Tuhan mengurungkan niat-Nya untuk menghukum dan memusnahkan kerajaan Yehuda  (ayat nas).

Hati Tuhan tergerak oleh belas kasihan ketika melihat seseorang merendahkan diri di hadapan-Nya dan mau bertobat dengan sungguh-sungguh!

Wednesday, February 26, 2020

KETIDAKSABARAN MENUNGGU: Menghambat Jawaban

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Februari 2020

Baca:  Mazmur 130:1-8 

"Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi."  Mazmur 130:6

Menunggu memang tak mudah dilakukan, terlebih-lebih saat kita menginginkan sesuatu, maunya keinginan kita terpenuhi seketika itu juga tanpa harus menunggu.  Adakah saat ini doa-doa Saudara kepada Tuhan tak kunjung beroleh jawaban?  Kesembuhan, jodoh, terbebas dari krisis keuangan, atau apa pun yang menjadi pokok doa Saudara, sabarlah menunggu.  Ketidaksabaran menunggu jawaban dari Tuhan justru akan menjadi faktor penghalang untuk kita mengalami penggenapan janji-janji Tuhan.

     Penantian yang panjang terkadang membuat orang gampang menyerah dan putus asa, tapi tidak demikian dengan Hana  (1 Samuel 1).  Penantian panjang justru semakin mengobarkan semangatnya untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan semakin tekun.  Meskipun tidak mengetahui kapan jawaban dari Tuhan itu datang, Hana tetap menguatkan imannya kepada Tuhan.  Ia percaya bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin.  Karena itu sekalipun situasi sangat sulit, sikap hatinya tak berubah, ia terus bertekun di dalam Tuhan.  Apa yang kita doakan memang berada dalam rencana Tuhan, namun karena kita tidak sejalan dengan agenda dan waktu-Nya, maka kelihatannya Tuhan tidak menjawab doa-doa kita, atau menunda-nunda untuk memberikan jawaban.

     Ketika jawaban itu belum kunjung tiba, ketika Tuhan tidak menjawab seperti yang kita harapkan, sangatlah mudah kita bersungut-sungut dan kecewa.  Ketika Tuhan tampaknya berdiam diri, kita kecewa dan tidak lagi bersemangat mencari Dia.  Semangat yang terus mengendur akan berujung kepada keputusasaan.  "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"  (Amsal 18:14).  Meski pergumulan yang dilaluinya teramat berat, Hana tetap setia menjalani  'proses', yaitu terus berdoa dan taat melakukan kehendak Tuhan.  "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  (Yesaya 40:31).

"Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya;"  Mazmur 62:9