Monday, February 24, 2020

SUDAHKAH KITA BERMURAH HATI?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Februari 2020

Baca:  1 Yohanes 3:11-18

"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  1 Yohanes 3:17

Salah satu karakter yang harus dimiliki setiap orang percaya adalah murah hati.  "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."  (Lukas 6:36).  Kristus menegaskan hal ini saat Ia mengajar orang banyak di atas bukit:  "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."  (Matius 5:7).  Murah hati berarti memperhatikan orang lain yang sedang dalam kekurangan, menawarkan bantuan kepada mereka yang terluka dan menderita.  Murah hati bukan hanya perasaan kasihan terhadap orang yang dalam kesulitan, bukan perasaan simpati yang diberikan dari luar saja, tetapi berusaha mengerti lebih dalam, sehingga dapat melihat dan merasakan apa yang orang lain rasakan.  Rasul Yohanes mengatakan jika seseorang memiliki harta lebih, tapi tetap menutup mata atau berpura-pura tidak tahu terhadap saudaranya yang kekurangan, di dalam dirinya tidak ada kasih Tuhan, barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Tuhan, sebab Tuhan adalah kasih  (1 Yohanes 4:8).

     Mempunyai kemurahan hati berarti punya kepedulian tinggi terhadap orang lain dan mau terlibat.  Ia tidak hanya menawarkan kata-kata nasihat atau mengupas panjang lebar ayat-ayat Alkitab di hadapan orang yang sedang dalam kesulitan tanpa berbuat apa-apa, melainkan ada sebuah tindakan:  "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: 'Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!', tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:15-17).

     Apa upah bagi seorang pemurah?  Tuhan berjanji bahwa mereka yang memperhatikan orang lain dan menunjukkan kemurahan hati akan beroleh kemurahan juga sebagai balasannya, baik dari sesama maupun dari Tuhan sendiri.

"Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka."  Lukas 6:31

Sunday, February 23, 2020

JANDA MISKIN: Memberi Dari Kekurangan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Februari 2020

Baca:  Markus 12:41-44

"Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."  Markus 12:44

Tuhan mengetahui setiap persembahan umat-Nya:  besar atau kecil, banyak atau sedikit, sekalipun orang lain tidak mengetahuinya.  Terlebih-lebih motivasi orang dalam memberi persembahan, Tuhan tahu secara persis  (1 Tawarikh 28:9).  Banyak terjadi justru orang-orang yang ekonominya lemah dan hidup dalam kekuranganlah yang terbeban untuk memberi/mendukung pekerjaan Tuhan.  Mereka memberi persembahan dari kekurangannya, seperti  "...seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit."  (Markus 12:42).  Peser adalah mata uang tembaga Yahudi yang paling kecil, sama dengan setengah duit.  Persembahan janda miskin ini menjadi perhatian Kristus karena Dia melihat betapa besar pengorbanan wanita itu, sebab ia memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya ia berikan  (ayat nas).

     Pada waktu itu ada banyak orang memberikan persembahan, bahkan murid-murid Tuhan melihat ada orang-orang yang memberikan persembahan dalam jumlah yang besar, tapi mata Tuhan justru tertuju kepada persembahan seorang janda miskin tersebut.  Ini menunjukkan bahwa penilaian Tuhan itu berbeda dengan penilaian manusia.  Bagi orang-orang yang kaya tentunya tidak terlalu sulit untuk memberikan persembahan, berapa pun jumlahnya.  Namun kenyataannya tidak sedikit orang kaya yang justru enggan dan berat hati untuk menyisihkan sedikit uang dari perbendaharaan hartanya, kecuali bila persembahan tersebut membawa keuntungan bagi dirinya atau reputasinya.  Adalah sangat mudah memberikan bantuan atau persembahan bila pemberian tersebut dilihat oleh orang lain, apalagi bila disiarkan, diliput atau diumumkan lewat media.

     Lain halnya dengan orang miskin yang justru memberi dengan sembunyi-sembunyi karena merasa persembahannya sangat sedikit dan tidak berarti, namun mereka memberi dengan hati yang tulus dan rela.  "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."  (2 Korintus 9:7).

Tuhan tidak melihat seberapa besar persembahan kita, tapi Dia melihat motivasi hati kita saat memberi.

Saturday, February 22, 2020

MENJAGA KESUCIAN HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Februari 2020

Baca:  1 Korintus 6:12-20

"Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri."  1 Korintus 6:18

Percabulan menjadi salah satu senjata yang paling ampuh yang dipakai Iblis untuk merusak dan menghancurkan hidup manusia di zaman akhir.  Bukankah sekarang ini percabulan, perzinahan, perselingkuhan, pemerkosaan, prostitusi atau dosa seksual lainnya begitu merajalela, terjadi di mana-mana, kapan saja, menyerang siapa saja tanpa mengenal faktor usia?  Pengaruh pornografi melalui internet atau medsos semakin memudahkan orang jatuh dalam dosa jenis ini, bahkan orang tak lagi malu melakukan perbuatan mesum.  Keadaan ini tak jauh berbeda dengan manusia di zaman Nuh dan Sodom Gomora!  "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah."  (2 Korintus 7:1).

     Ditegaskan, setiap dosa yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya, tetapi orang yang melakukan percabulan atau dosa seksual berdosa terhadap dirinya sendiri, sebab ia telah mencemarkan tubuhnya yang adalah bait Roh Kudus.  Berhati-hatilah!  Iblis seringkali menggunakan perangkap atau jebakan melalui dosa seks untuk menjatuhkan iman seseorang.  Jangan membuka celah sedikit pun kepada Iblis!  Dan jangan pernah merasa diri kuat.  Sekalipun kita sudah terlibat dalam pelayanan dan menyandang predikat hamba Tuhan atau pemimpin rohani, bukan berarti kita kebal terhadap dosa.  Bagaimana pun juga kita masih hidup dalam daging,  "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"  (1 Korintus 10:12).

     Ada beberapa contoh tokoh di Alkitab yang juga pernah jatuh dalam dosa percabulan:  1.  Simson.  Seorang nazir Tuhan, harus mengalami akhir hidup yang sangat tragis  (Hakim-Hakim 16).  Pertemuannya dengan Delia  (gadis Filistin)  membuat Simson jatuh dalam dosa percabulan.  2.  Daud.  Ia terjebak dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba.  Kurang apa dengan Daud?  Seorang yang dikenal sangat karib dengan Tuhan pun, jatuh dalam dosa, karena tak bisa menguasai diri terhadap hawa nafsunya.

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,"  Kolose 3:5

Friday, February 21, 2020

KEBAHAGIAAN DI DUNIA ITU SEMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Februari 2020

Baca:  Mazmur 25:1-22

"Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi."  Mazmur 25:12-13

Sudah menjadi hal yang biasa bila manusia membangun kebahagiaan hidupnya berlandaskan materi atau kekayaan duniawi.  Mereka berpandangan bahwa memiliki yang dan kekayaan materi berarti kebahagiaan pasti bisa diraih;  memiliki uang dan kekayaan materi akan dapat melakukan apa saja yang sesuai yang diinginkan.  Tak mengherankan bila pikiran manusia di zaman sekarang ini hanya tertuju pada uang dan kekayaan, bagaimana caranya dapat mengumpulkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya.  Benarkah uang dan kekayaan materi adalah sumber kebahagiaan bagi manusia?

     Tidak ada kebahagiaan sejati di dunia ini!  Sebab kebahagiaan yang dunia tawarkan adalah semu, tak abadi.  Sekalipun memiliki semuanya  (uang, harta, popularitas, pangkat), tak menjamin seseorang hidup bahagia.  Bukankah sering kita baca dan dengar berita ada banyak public figure yang notabene punya segalanya, tapi kedapatan frustasi dan terjebak dalam kehidupan malam, seks bebas, narkoba dan sebagainya?  Apa alasannya?  Mereka merasakan kehampaan dalam hidup, ada sesuatu yang kosong.  Maka, ingin menemukan kebahagiaan sejati?  Carilah Tuhan dengan segenap hati, dan hiduplah seturut dengan kehendak-Nya.  Sebab bila kita hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan kita akan terpisah dari Dia, itu artinya hidup kita akan semakin jauh dari sumber kebahagiaan itu, sebab dosalah yang membuat manusia kehilangan kebahagiaan, seperti manusia pertama yang harus terusir dari taman Eden oleh karena ketidaktaatannya  (Kejadian 3).

     Jadi siapa pun yang ingin mengalami dan menikmati kebahagiaan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain selain harus datang kepada Tuhan dan punya hati yang takut akan Dia.  "...orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya."  (Pengkhotbah 8:12).  Firman Tuhan adalah kebenaran yang akan menuntun kita untuk menemukan jalan kebahagiaan itu.  "...dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!"  (Yeremia 7:23).

"Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa."  Mazmur 16:11

Thursday, February 20, 2020

BERLAKU SEBAGAI ORANG BIJAK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Februari 2020

Baca:  Amsal 22:1-16

"Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka."  Amsal 22:3

Berbicara tentang orang bijak, Alkitab selalu mengaitkannya dengan orang yang takut akan Tuhan  (orang benar).  Orang yang bijak adalah orang yang mampu melihat dan menyikapi segala sesuatu dari sudut pandang rohani sehingga ia tahu bagaimana harus bertindak.  Kebijaksanaan dalam diri seseorang itu tidak diperoleh melalui pendidikan formal, ilmu pengetahuan, filosofi atau ide manusia, melainkan melalui ketekunannya dalam merenungkan firman Tuhan:  "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian."  (Amsal 9:10).

     Secara etimologi bahasa, orang bijak adalah orang yang memiliki sikap yang tepat dalam menyikapinya setiap keadaan, situasi dan peristiwa.  Ini terjadi karena ia memiliki pancaindera yang terlatih  (dewasa rohani)  sehingga ia mampu membedakan mana yang menjadi kehendak Tuhan dan yang berkenan kepada-Nya, sehingga ia menaruh sikap hormat akan Tuhan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.  Banyak orang kurang peka melihat hal-hal yang tidak baik atau jahat yang ada di sekitarnya, sehingga cepat atau lambat mereka akan jatuh dan terbawa arus yang ada.  Firman Tuhan memperingatkan,  "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  (2 Korintus 6:17).  Ketidakmampuan untuk melihat hal-hal yang jahat atau perkara-perkara dosa adalah suatu kebutaan rohani.  Hal ini disebabkan karena orang tidak tinggal  (berakar kuat)  di dalam firman Tuhan atau tidak membangun fondasi hidup yang kuat.

     Matius 7:24-25 menyatakan bahwa orang menjadi bijak ketika ia tekun mendengar ajaran firman Tuhan dan juga melakukannya.  Itulah sebabnya, kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari, sebab  "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."  (Mazmur 119:105).  Firman Tuhan akan menuntun langkah kaki kita kepada jalan kebenaran-Nya.  Ada tertulis:  "Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya."  (Amsal 14:15).

Seorang yang bijak bila melihat ada hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, dengan sigap menghindar dan meninggalkannya.

Wednesday, February 19, 2020

HAJARAN TUHAN UNTUK KEBAIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2020

Baca:  Mazmur 39:1-14

"Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat  (ngengat - Red.);"  Mazmur 39:12

Salah satu gelar dan sebutan yang ditujukan kepada Kristus saat Ia masih berada di bumi dan melayani jiwa-jiwa adalah Guru.  Di hadapan murid-murid-Nya Kristus berkata,  "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan."  (Yohanes 13:13).  Membahas tentang guru dan murid berarti kita juga membahas hal mengajar dan diajar.  Ajaran Kristus bersifat Alkitabiah, artinya semua yang Dia ajarkan berasal dari Kitab Suci, yaitu firman yang hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun  (Ibrani 4:12a).  Dalam proses pendidikan ini Tuhan mengajar kita melalui firman-Nya dan juga melalui tuntunan Roh Kudus.

     Kalau kita taat pada apa yang Tuhan ajarkan kita pasti akan menerima reward  (berkat)  dari-Nya.  Sebaliknya bila kita tidak mau taat Tuhan pasti akan menegur dan menasihati kita.  Apabila sudah ditegor dan dinasihati tetap saja mengeraskan hati dan memberontak, maka tiba waktunya bagi Tuhan untuk menghajar.  Hajaran dari Tuhan bisa datang dalam bentuk masalah, kesulitan, kesesakan atau penderitaan.  Jika saat ini kita sedang mengalami hajaran dari Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah koreksi diri.  Banyak orang Kristen ketika mengalami masalah atau penderitaan langsung berontak, marah atau kecewa kepada Tuhan.  Kita seharusnya bersyukur jika Tuhan menghajar kita, itu artinya Tuhan sangat peduli dan mengasihi kita.

     Pemazmur menulis:  "Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,"  (Mazmur 94:12),  "karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  (Ibrani 12:6).  Dalam hajaran Tuhan kita diberi kesempatan untuk dipulihkan.  Jika tidak mau menerima hajaran Tuhan kehancuran yang akan terjadi.  Ketika Tuhan menghajar kita Dia tidak menghajar kita dengan kebencian dan dendam yang tersulut, tapi hajaran itu bermuatan kasih.  Tuhan tidak ingin kita binasa dan sengsara, karena itu Tuhan harus menghajar kita.

Hajaran Tuhan bertujuan supaya kita bertobat!  Ini demi kebaikan kita.

Tuesday, February 18, 2020

TAK TAHU KAPAN WAKTUNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2020

Baca:  Pengkhotbah 9:1-12

"Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  Pengkhotbah 9:12a

Seberapa berhargakah waktu bagi Saudara?  Orang yang menghargai waktu pasti tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadanya, mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna/bermanfaat.  Salah satu contoh sederhana menyia-nyiakan waktu adalah suka sekali menunda-nunda untuk mengerjakan sesuatu, misal pekerjaan.
  
    Menunda-nunda pekerjaan  (procrastination)  merupakan masalah yang dimiliki oleh hampir semua orang.  Sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan pada hari ini sering kita tunda untuk esok hari:  "Ah besok saja, masih banyak kesempatan.", padahal tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok hari.  Kita tak tahu secara pasti apakah kita masih beroleh kesempatan untuk menikmati hari esok.  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).  Semakin kita menunda-nunda waktu untuk mengerjakan sesuatu, semakin menumpuklah pekerjaan yang harus kita kerjakan, semakin malas pula kita untuk mengerjakannya.  Apa yang Tuhan percayakan kepada Saudara untuk dikerjakan?  Apabila Tuhan mengutus Saudara untuk turut ambil bagian dalam pelayanan, sekarang adalah waktunya, bukan besok.  Bila Tuhan mengutus Saudara untuk bersaksi dan memberitakan Injil kepada orang-orang lain, sekarang adalah waktunya, bukan besok.  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).

     Jangan suka mengulur-ulur waktu lagi, siapa tahu di kemudian hari kita tidak punya kesempatan lagi.  Bila menyadari bahwa kerohanian kita masih kerdil, mengapa kita tidak segera berbenah diri dan membuat komitmen untuk lebih serius lagi mencari Tuhan?  Ini saatnya kita  'berlari'  dan mengejar ketertinggalan kita.  Bila saat ini kita hidup jauh dari Tuhan dan tenggelam dalam dosa, ini waktunya untuk segera bertobat.

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman"  Ibrani 3:15 

Monday, February 17, 2020

BERMEGAHLAH KARENA TUHAN, BUKAN YANG LAIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2020

Baca:  Galatia 6:11-18

"Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."  Galatia 6:14

Harta kekayaan, jabatan, gelar atau popularitas adalah hal-hal yang seringkali menjadi alasan bagi orang untuk bermegah, karena dengan memiliki semuanya itu orang tak lagi dipandang remeh oleh sesamanya.  Sebaliknya, orang yang tak memiliki apa-apa, keberadaannya di tengah lingkungan dipandang sebelah mata atau tak dianggap.

     Bermegah artinya membangga-banggakan diri.  Orang percaya tak sepatutnya bermegah atau membangga-banggakan diri tentang hal-hal yang lahiriah atau materi.  Kepada jemaat di Galatia rasul Paulus menegaskan bahwa ia sekali-kali tidak mau bermegah selain di dalam Tuhan?  Kita bermegah di dalam Tuhan karena status kita sebagai ciptaan baru di dalam Kristus:  "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Maka dari itu  "...bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya."  (Galatia 6:15).  Apakah kita benar-benar sudah mengalami kelahiran baru di dalam Kristus?  Harta kekayaan yang melimpah, memiliki seluruh dunia ini sekalipun, takkan berarti apa-bapa bila kita masih hidup sebagai  'manusia lama'.

     Kita patut bermegah di dalam Tuhan karena kita memenuhi standar atau patokan.  "Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah."  (Galatia 6:16).  Standar atau patokannya apa?  Keselamatan.  Dinyatakan bahwa jika kita mengaku dengan mulut bahwa Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hati, bahwa Bapa telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kita akan diselamatkan  (Roma 10:9).  "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."  (Roma 10:10).  Melalui iman kepada Kristus kita diselamatkan.  Jadi keselamatan itu bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia dari Bapa semata.  Inilah yang seharusnya membuat orang percaya bangga dan bermegah!

"Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN..."  Mazmur 20:8

Sunday, February 16, 2020

TELADAN HIDUP JEMAAT MULA-MULA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Februari 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 2:41-47

"Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."  Kisah 2:47b

Gereja mula-mula saat itu dimulai dari suatu tempat di Yerusalem.  Jemaat mula-mula berkumpul dan mengadakan persekutuan di Bait Tuhan.  Cara hidup jemaat mula-mula begitu luar biasa karena mereka menunjukkan kualitas hidup yang  'berbeda'  sekalipun berada di tengah situasi yang tidak baik dan penuh tekanan, sehingga keberadaan mereka benar-benar menjadi kesaksian:  "...mereka disukai semua orang."  (ayat nas).

     Mengapa mereka disukai semua orang?  Karena jemaat mula-mula menjadikan kasih sebagai pola hidup setiap hari.  Mereka senantiasa sehati sepikir dan sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, dengan berprinsip:  "...segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing."  (Kisah 2:44-45).  Yang paling menonjol dari jemaat mula-mula adalah mereka hidup dalam persekutuan yang kuat dan memiliki rasa haus dan lapar akan firman Tuhan.  Bila jemaat gereja mula-mula sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, ini sangat kontradiktif bila dibandingkan dengan keadaan manusia di zaman sekarang yang cenderung bersikap egois, karena kasih kebanyakan orang sudah menjadi dingin.  Pola hidup jemaat gereja mula-mula ini seperti sebuah tamparan keras bagi jemaat masa kini, yang suka membangun kubu-kubu dan sengaja menutup mata terhadap saudara seiman yang membutuhkan.  Menyedihkan sekali bila orang Kristen tak punya kasih dalam wujud nyata.  Itu artinya mereka tak melakukan apa yang Tuhan perintahkan!

     Bagaimana orang percaya menjadi saksi-saksi Kristus di tengah dunia bila tak punya kasih?  Sebab orang lain menilai kita bukan dari apa yang kita ucapkan atau teori yang muluk-muluk tentang Alkitab, tapi dari apa yang telah kita perbuat bagi mereka.  Bagaimana kenyataannya?  Banyak orang Kristen yang enggan menabur kebaikan kepada sesamanya.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).  Ini adalah tantangan bagi gereja Tuhan untuk menjalankan perannya sebagai terang dunia!

Kita harus ingat bahwa  "... dari buahnya pohon itu dikenal."  Matius 12:33b

Saturday, February 15, 2020

BUKAN KANAK-KANAK, TAPI DEWASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2020

Baca: Ibrani 5:11-14

"Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil."  Ibrani 5:13

Tidak lama lagi Kristus akan datang kembali ke dunia untuk yang kedua kalinya.  Pada kedatangan-Nya yang pertama Kristus datang sebagai bayi yang lahir melalui perawan Maria di Betlehem di tanah Yudea, tapi pada kedatangan-Nya yang kedua kelak Kristus akan datang sebagai pengantin laki-laki yang siap menjemput mempelai wanita-Nya.   'Mempelai wanita'  ini berbicara gereja Tuhan  (umat Tuhan)  yang dewasa rohaninya, bukan orang Kristen yang rohaninya masih kanak-kanak.

     Siapkah kita menyambut kedatangan Sang Mempelai laki-laki?  Mumpung masih ada waktu dan kesempatan, marilah kita pergunakan semaksimal mungkin untuk mengejar perkenanan Tuhan.  Kalau tidak, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang tertinggal, sebab Kristus menghendaki anak-anak-Nya terus bertumbuh hingga mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak  (Efesus 4:23-24a).  Kerohanian yang tidak bertumbuh, atau tetap saja menjadi kanak-kanak, disebut pula kerdil rohani.  Di dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa kerdil adalah salah satu jenis cacat rohani  (Imamat 21:18-20).  Kekerdilan rohani sangat menghambat kemajuan pekerjaan Tuhan.

     Banyak orang Kristen, yang sekalipun sudah mengikut Tuhan selama bertahu-tahun, tetap saja  'kerdil'  rohani, tak pernah bertumbuh sebagaimana yang Tuhan harapkan, sekalipun  "...ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok...dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras."  (Ibrani 5:12).  Tanda nyata orang yang kerdil rohani  (kanak-kanak rohani)  misalkan:  gampang sekali tersinggung, marah, bersungut-sungut, mengeluh, tidak mudah menerima nasihat atau teguran, selalu membenarkan diri sendiri, susah untuk taat.  Untuk bisa menjadi mempelai Kristus orang percaya harus bisa  "...meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  (1 Korintus 13:11).

"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia."  Wahyu 19:7

Friday, February 14, 2020

TEMBOK JANGAN SAMPAI RUNTUH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Februari 2020

Baca:  Nehemia 1:1-11

"Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar."  Nehemia 1:3b

Pada zaman dahulu setiap negara atau kota memiliki tembok luar yang kokoh untuk melindungi rakyatnya dan membentengi dari musuh, sehingga rakyat menjadi aman dan terlindungi dari bahaya.  Adalah sangat berbahaya apabila tembok itu sudah runtuh, apalagi pintu-pintu gerbangnya sudah terbakar, karena cepat atau lambat musuh akan dengan mudah menyerang.

     Tembok menggambarkan kehidupan kita:  "Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku."  (Yesaya 49:16).  Saat tembok itu berdiri dengan kokoh keadaan kita aman, tenang dan damai, namun ketika tembok itu runtuh, musuh akan dengan mudah menyerang, hidup menjadi berantakan dan hancur.  Waktu itu Nehemia menjabat sebagai juruminum kaisar Persia, suatu kedudukan yang sangat terhormat.  Begitu mendengar kabar tentang tembok Yerusalem mengalami keruntuhan dan menyisakan puing-puing, hatinya terasa tersayat.  Di tengah kehancuran, penting sekali kita belajar dari Nehemia yang tetap menjaga sikap hatinya:  1.  Berdoa dan berpuasa.  "Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa..."  (Nehemia 1:4).  Ketika sedang tertimpa masalah seringkali kita menjauh dari Tuhan, dimana seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan dan merendahkan diri di hadapan-Nya.  Nehemia memohon pengampunan atas dosa-dosa bangsanya,  "Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu."  (Nehemia 1:7).

     2.  Tetap melakukan tugasnya.  Meski pertolongan Tuhan belum datang, Nehemia tetap mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik;  "...menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja."  (Nehemia 2:1).  Walau didera banyak masalah, jangan pernah tidak setia kepada Tuhan, tetap kerjakan apa yang menjadi bagian kita.

Di tengah pergumulan hidup yang berat, tetaplah tekun dan setia, pertolongan Tuhan pasti akan dinyatakan tepat pada waktu-Nya.

Thursday, February 13, 2020

ADA JERIH PAYAH, ADA KEUNTUNGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Februari 2020

Baca:  Pengkhotbah 11:1-8

"Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik."  Pengkhotbah 11:6

Ketika berada di bumi Kristus tidak pernah lelah untuk bekerja dan melayani, Ia begitu giat mengerjakan apa yang Bapa percayakan kepada-Nya.  Pagi-pagi benar Kristus sudah bangun dan berdoa, kemudian ia pergi berkeliling dan berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melayani jiwa-jiwa, mengajar kebenaran firman, menyembuhkan orang sakit dan melakukan banyak mujizat.  Kristus berprinsip,  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4).

     Tuhan sangat tidak suka melihat anak Tuhan yang bekerja bermalas-malasan, apalagi yang tidak mau bekerja.  Orang yang tidak mau bekerja  (malas)  berarti ingin hidup dengan belas kasihan orang lain, berbeda jika orang mau bekerja dengan rajin.  Setiap orang, siapa pun ia, sekalipun bukan anak Tuhan, asalkan mau bekerja akan mendapatkan upah dan hasil kerjanya.  Maka, agar kita menjadi orang-orang yang diberkati Tuhan, kita harus mau berjerih payah, sebab  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja."  (Amsal 14:23).

     Orang yang bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh, disertai dengan doa dan iman, bekerja dan hidup di bawah perjanjian Tuhan.  Kita diberkati bukan sekedar karena upah, melainkan karena Tuhan juga menggenapi janji-janji-Nya pada kita.  "TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN,..."  (Ulangan 28:8).  Bila kita baik-baik mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya  (Ulangan 28:1), apa saja yang kita perbuat dijadikan-Nya beruntung dan berhasil.  Karena itu  "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,"  (Pengkhotbah 9:10).  Namun mari perhatikan!  Jangan sampai kita memberhalakan pekerjaan itu sendiri, dengan alasan sibuk kita mengesampingkan perkara-perkara rohani dan melupakan Tuhan.  Ini yang berbahaya.

Siapa mau bekerja keras dan taat kepada Tuhan, hidupnya pasti diberkati!

Catatan:
 "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16)