Wednesday, February 12, 2020

TIDAK MAU BEKERJA, JANGAN MAKAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2020

Baca:  2 Tesalonika 3:1-15

"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  2 Tesalonika 3:10

Ada banyak orang Kristen beranggapan bahwa bekerja itu tidak penting, tidak rohani atau tidak Alkitabiah.  Mereka beranggapan bahwa bekerja menunjukkan ketidakpercayaan kita pada pemeliharaan Tuhan;  dengan bekerja berarti kita hidup mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, bukan mengandalkan Tuhan.  Lalu mereka mengutip ayat ini:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur."  (Mazmur 127:2).  Ini adalah pemahaman yang salah!

     Rasul Paulus sangat geram bila melihat ada orang-orang yang malas bekerja:  "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (ayat nas).  Bekerja adalah kehendak Tuhan!  Alkitab menunjukkan bahwa Bapa adalah pekerja utama, yang sibuk dengan penciptaan dunia  (Kejadian 1:1-15), Ia bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh.  Bapa adalah pribadi pertama yang melakukan pekerjaan di bumi, dan Kristus pun menegaskan,  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17).  Orang yang bekerja berarti hidup seturut dengan kehendak Tuhan.  Namun bekerja yang bagaimana, ini yang penting!  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:23-24).

     Bekerja sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan bila dilakukan secara totalitas, bukan bekerja seenaknya dan asal-asalan.  Orang percaya yang menyadari kebenaran ini pasti akan menjadi pekerja-pekerja berkualitas di mana pun ia ditempatkan.  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu."  (Amsal 10:4-5).  Berkat itu tidak langsung jatuh dari sorga!  Bagian Tuhan adalah memberkati, bagian kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Ingin diberkati?  Milikilah kekuatan untuk menjadi kaya, yaitu segala yang dijumpai tanganmu, kerjakan itu sekuat tenaga  (Pengkhotbah 9:10).

Catatan: 
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).

Tuesday, February 11, 2020

RINDUKAN KEDIAMAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Februari 2020

Baca:  Mazmur 84:1-13

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!"  Mazmur 84:2

Ayat nas di atas merupakan suatu nyanyian yang berisikan tentang kerinduan orang untuk selalu dekat dengan Tuhan, berada di hadirat-Nya.  Pernyataan pemazmur ini menyiratkan keadaan hatinya yang terasa kosong dan hampa saat ia berada jauh dari Tuhan, sebab dunia dan segala isinya tidak bisa memberikan sukacita, kepuasan, kelegaan dan ketenangan sejati.  Adalah lebih baik satu hari di pelataran Tuhan dari pada seribu hari di tempat lain;  lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Tuhan dari pada diam di kemah-kemah orang fasik  (Mazmur 84:11).  Kerinduannya yang teramat besar kepada Tuhan itu pun diibaratkan seperti rusa yang merindukan sungai yang berair  (Mazmur 42:2).

     Banyak orang Kristen begitu bersemangat dan merasakan hadirat Tuhan pasca menghadiri acara-acara KKR, tapi hal itu tak bertahan lama, api kembali padam, jiwa kembali lelah dan tiada berdaya.  Mengapa?  Karena mereka tak lagi mau membangun kekariban dengan Tuhan, tak punya kerinduan untuk tinggal dekat Tuhan dan berada di pelataran-Nya.  Bangsa Israel pun mengalami hal yang sama, yaitu melangkah jauh dari hadirat Tuhan dan jalan-jalan-Nya.  Mereka lebih memilih mencintai dunia ini, sehingga diutuslah nabi Yeremia oleh Tuhan untuk menegor dan memperingatkan,  "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!"  (Yeremia 6:16).

     Kunci untuk hidup dipulihkan adalah senantiasa rindu dekat dengan Tuhan dan mengingini hadirat-Nya,  "...itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."  (Mazmur 27: 4).  Bersekutu dengan Tuhan melalui jam-jam doa yang rutin dan menyediakan waktu untuk merenungkan firman-Nya secara teratur, serta melatih diri dalam hal ibadah, akan memberikan kelegaan bagi jiwa kita.  Oleh sebab itu,  "Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN."  (Ratapan 3:40).  Semakin kita menjauh dari pelataran Tuhan dan hadirat-Nya, semakin kita hidup dalam kesia-siaan.

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau."  Mazmur 84:5

Monday, February 10, 2020

SETIAP UTANG HARUS DIKEMBALIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Februari 2020

Baca:  Ulangan 28:1-14

"TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman."  Ulangan 28:12

Setiap orang pasti memiliki kebutuhan dan keinginan dalam hidupnya.  Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, orang bekerja.  Yang sering menjadi permasalahan adalah kita sudah berusaha dengan keras dan bekerja sebaik mungkin, tapi keuangan masih saja belum cukup untuk memenuhi aneka kebutuhan.  Akhirnya kita mencari cara bagaimana supaya kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.  Salah satu cara yang seringkali menjadi opsi mudah adalah mencari pinjaman atau berutang kepada orang lain.

     Alkitab tidak pernah menyarankan kita untuk berutang, tapi juga tidak ada ayat yang menyebutkan bahwa berutang adalah dosa.  Kalau berutang adalah dosa, berarti orang percaya tidak boleh memberi pinjaman kepada orang lain.  Ada tertulis:  "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu."  (Matius 5:42).  Perhatikan!  Tuhan memberikan suatu hukum bagi orang yang berutang, yaitu ia harus membayar utangnya.  Kita berdosa apabila kita tidak membayar utang.  Meskipun utang bukanlah perbuatan dosa, namun utang sangat berbahaya dan utang yang tidak dibayar adalah dosa.  Seringkali terjadi, karena terlilit utang, orang melakukan berbagai tindak kejahatan.

     Firman Tuhan menegaskan bahwa utang sesungguhnya bukanlah untuk anak-anak Tuhan.  Rencana Tuhan bagi orang percaya adalah hidup yang diberkati dan menjadi berkat;  orang percaya memberi pinjaman, bukan meminjam.  Maka agar kita tidak terlibat utang, kita harus membuat perencanaan keuangan dengan baik.  Kemudian kita harus memastikan setiap utang dibayar terlebih dahulu, sebab orang yang meminjam dan tidak membayar kembali disebut orang fasik  (Mazmut 37:21).  Berkat Tuhan tidak akan datang kepada orang yang tidak bisa menepati janji untuk membayar utang.  Karena itu cukupkan diri dengan apa yang ada, jangan sampai besar pasak daripada tiang.

Kunci utama untuk memiliki hidup yang diberkati adalah taat melakukan kehendak Tuhan dan jangan lupa mengembalikan persepuluhan, yang adalah milik Tuhan!

Sunday, February 9, 2020

TUHAN KARIB DENGAN ORANG YANG TAAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Februari 2020

Baca:  Ayub 29:1-25

"...ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;"  Ayub 29:4

Kisah tentang perjalanan hidup Ayub, tentunya tak asing lagi di telinga orang percaya.  Ayub harus mengalami proses hidup yang luar biasa, dimana Tuhan mengijinkan masalah dan penderitaan terjadi di kehidupannya, sekalipun ia adalah orang yang  "...saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."  (Ayub 1:1).  Pernyataan  '...saleh dan jujur; takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.'  menunjukkan bahwa kehidupan Ayub tidak bercacat cela, baik dalam hubungannya dengan sesama, maupun dengan Tuhan.

     Ayub selalu mengutamakan Tuhan dalam hidupnya.  Salah satu bukti adalah ia selalu mempersembahkan korban bakaran bagi anak-anaknya, sebab ia berpikir mungkin anak-anaknya telah berbuat dosa tanpa sepengetahuannya  (Ayub 1:5).  Karena kesalehannya ini Tuhan sangat dekat dengan Ayub, bahkan Tuhan bergaul karib dengannya.  Tidak semua orang bisa bergaul karib dengan Tuhan Sang Pencipta.  Kata  'bergaul karib'  berasal dari kata cowd yang berarti keintiman atau berbicara rahasia.  Bila dikatakan Tuhan bergaul karib dengan Ayub, berarti Tuhan bergaul secara intim dan berbicara rahasia kepada Ayub.  Pemazmur menulis:  "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).  Dengan siapa Tuhan mau bergaul karib?  Tuhan bergaul karib dengan orang-orang yang takut kepada-Nya, artinya orang yang menghormati-Nya, yang melakukan firman-Nya dan mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa.

     Bagi orang yang mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh  (kasih diwujudkan melalui ketaatan), Tuhan akan memberitahukan rahasia-rahasia-Nya dan juga perjanjian-Nya.  Bagaimana dengan Saudara?   Sudahkah kita memiliki integritas kepada Tuhan seperti Ayub?  Mari kita terus berjuang supaya kehidupan kita menyenangkan hati Tuhan.  Penulis  Amsal menyatakan:  "...dengan orang jujur Ia bergaul erat."  (Amsal 3:32b).  Jujur berarti apa adanya, tidak ada kemunafikan di dalamnya.  Menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun bukanlah suatu jaminan bahwa Tuhan mau bergaul karib dengan kita.

Hanya kepada orang-orang yang takut akan Dia dan senantiasa hidup taat melakukan kehendak-Nya, Tuhan menunjukkan kekariban-Nya!

Saturday, February 8, 2020

MENGABAIKAN PERINGATAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Februari 2020

Baca:  Mikha 1:1-16

"Segala patungnya akan diremukkan, segala upah sundalnya akan dibakar, dan segala berhalanya akan Kuhancurkan; sebab dari upah sundal dikumpulkan semuanya itu, dan akan kembali menjadi upah sundal."  Mikha 1:7

Dosa bisa diartikan segala perbuatan, perasaan, atau pikiran yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan.  Dalam bahasa asli Alkitab, kata dosa berarti  'meleset dari target atau sasaran'.  Dosa adalah musuh Tuhan karena Dia sangat membenci segala perbuatan dosa, dan karena dosa inilah manusia harus terpisah dari Tuhan.  Keberdosaan telah menghancurkan kehidupan manusia.  "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah."  (Roma 3:10-11).

     Dalam kitab Mikha ini digambarkan bagaimana Tuhan sangat membenci dosa, tetapi Ia mengasihi pendosa.  Karena itu Tuhan masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk kembali ke jalan yang benar  (bertobat).  "...Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."  (2 Petrus 3:9).  Banyak orang berbuat dosa tapi tidak pernah merasa bersalah, bahkan perbuatan dosa itu dilakukan terus-menerus.  Mereka lupa bahwa Tuhan itu ada dan melihat segala perbuatannya.  Tuhan berfirman,  "Sebab Aku mengamat-amati segala tingkah langkah mereka; semuanya itu tidak tersembunyi dari pandangan-Ku, dan kesalahan merekapun tidak terlindung di depan mata-Ku."  (Yeremia 16:17).

     Ini juga terjadi dalam kehidupan bangsa Israel dan Yehuda yang melakukan dosa tanpa rasa takut dan bersalah.  Mereka berlaku jahat dengan melakukan penyembahan berhala dan kedursilaan, yang adalah kekejian bagi Tuhan.  Karena itu Tuhan mengutus nabi Mikha untuk menyuarakan kemarahan-Nya dan memperingatkan mereka sebelum Tuhan benar-benar menjatuhkan hukuman atas mereka.  Jika alam semesta saja gemetar menghadapi Tuhan,  "Luluhlah gunung-gunung di bawah kaki-Nya, dan lembah-lembah terbelah seperti lilin di depan api, seperti air tercurah di penurunan."  (Mikha 1:4), masakan manusia tidak takut pada Sang Pencipta?  Nabi Mikha berseru dan menegor mereka agar segera bertobat, tapi rupanya peringatan-Nya dianggap angin lalu saja.

"...jangan sampai TUHAN menjadi marah dan kamu dibinasakan seketika, sebab kemarahan-Nya menyala dengan tiba-tiba."  (Mazmur 2:12, BIS).

Friday, February 7, 2020

PEMBALASAN ITU BUKAN HAK KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Februari 2020

Baca:  1 Samuel 24:1-23

"Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul."  1 Samuel 24:8a

Berbagai upaya dilakukan Saul untuk menghancurkan, dan bahkan membunuh Daud, karena itu ia terus mengejar Daud ke mana pun ia pergi.  Hidup Daud menjadi tidak tenang karena Saul.  Ketika mendengar kabar bahwa Daud berada di padang gurun En-Gedi, segeralah Saul mengajak tiga ribu orang pilihannya untuk mencari keberadaan Daud.

     Setelah sampai di tujuan, Saul masuk ke gua hendak membuang hajat, sedangkan Daud dan anak buahnya duduk tepat di belakang gua itu.  Berkatalah orang-orang itu kepada Daud,  "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik."  (1 Samuel 24:5).  Ini adalah kesempatan emas bagi Daud untuk melampiaskan dendamnya atas kejahatan yang Saul perbuat.  "...Daud bangun, lalu memotong punca (ujung -red-) jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;"  (1 Samuel 24:5b-6).

     Sekalipun beroleh kesempatan membalaskan dendamnya, Daud tidak melakukannya.  Sebaliknya ia mengijinkan hatinya dikuasai oleh kasih Tuhan.  Daud melarang anak buahnya untuk menyerang Saul, malah kemudian melepaskan dia pergi.  "TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau."  (1 Samuel 24:13-14).  Ribuan tahun kemudian,  'Anak Daud', yaitu Kristus, juga mengambil keputusan yang sama.  Sekalipun memiliki kuasa, Kristus tidak menggunakan kuasa itu sehingga membiarkan dirinya ditangkap, disalib, dan dipermalukan di atas kayu salib itu demi menggenapi rencana Bapa untuk keselamatan manusia.  Anak Daud berkata,  "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."  (Lukas 22:42).  Kristus justru memohonkan pengampunan atas perbuatan jahat mereka.

Orang percaya dituntut untuk meneladani Kristus:  tidak melakukan pembalasan terhadap orang yang berbuat jahat, melainkan mengasihi dan mengampuni!

Thursday, February 6, 2020

ANAK: Dipelihara Dan Dididik

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Februari 2020

Baca:  Galatia 4:1-11

"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris..."  Galatia 4:7

Seorang yang bertobat dan mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta mengalami kelahiran baru, diangkat secara legal oleh Bapa untuk menjadi anak-anak-Nya.  Artinya ia menjadi bagian dari keluarga dalam Kerajaan Sorga.  Pengangkatan menjadi anak ini diterjemahkan dari bahasa Yunani huiothesias yang artinya pemberian posisi legal sebagai anak.  Sebutan orang percaya sebagai anak-anak Tuhan ini tidak bisa dipahami oleh orang-orang dunia, sebab  "...manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani."  (1 Korintus 2:14).

     Anak adalah obyek kasih orangtua.  Sebagai anak-anak Tuhan kita menjadi obyek kasih Tuhan:  beroleh perlindungan, penyertaan, pemeliharaan Tuhan.  Segala kebutuhan kita tanggung jawab Tuhan.  Jadi apa saja yang kita perlukan pasti Tuhan sediakan, asal kita hidup seturut kehendak-Nya.  Dia akan memenuhi segala keperluan anak-anak-Nya seturut kehendak-Nya.  Dia akan memenuhi segala keperluan anak-anak-Nya menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya di dalam Kristus  (Filipi 4:19).  Saat berada dalam masalah atau penderitaan, sebagai anak-anak-Nya, kita akan mendapatkan pertolongan dan jalan keluar dari Bapa, serta penghiburan dari Roh Kudus.  Penghiburan dari Roh Kudus ini membuat Rasul Paulus tetap kuat mengerjakan panggilan-Nya:  "...sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah."  (2 Korintus 1:3-5).

     Sebagai anak, kita takkan luput dari proses Tuhan.  "...Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?"  (Ibrani 12:6-7).

Sebagai anak, selain beroleh pemeliharaan dari Tuhan, kita juga harus siap menerima didikan dan hajaran-Nya.

Wednesday, February 5, 2020

BERTEMU YESUS: Hidup Diubahkan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Februari 2020

Baca:  Lukas 19:1-10

"Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham."  Lukas 19:9

Di kota Yerikho, suatu kota yang berada di sebelah Timur Yerusalem dan dekat sungai Yordan, tinggallah seorang kepala pemungut pajak yang bernama Zakheus.  Nama  'Zakheus'  berarti tulus, bersih, suci.  Sesuai  dengan arti namanya, ia telah dimurnikan, dibersihkan hidupnya, setelah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus.

     Banyak orang benci kepada Zakheus dan berusaha untuk menjauhinya karena ia dianggap sebagai pengkhianat, sebab ia orang Yahudi tapi bekerja untuk pemerintahan Roma yang pada waktu itu menjajah bangsa Yahudi;  dan menurut pandangan orang Yahudi di zaman itu, terutama para ahli Taurat, seorang pemungut cukai dikelompokkan sebagai orang-orang berdosa, satu golongan dengan pelacur, pembunuh, atau juga perampok.  Para ahli Taurat memandang hina orang-orang seperti itu, bahkan mereka tidak mau bergaul dengan  'orang-orang berdosa'  tersebut.  Karena perlakuan yang tidak adil dari masyarakat ini  (dikucilkan, dicemooh), maka orang yang sudah dicap  'berdosa'  tak mau berbalik dari jalan-jalannya yang jahat sehingga mereka semakin tenggelam dalam dosa.  Ketika mendengar Kristus sedang melintasi kota Yerikho dan banyak orang berkerumun ingin melihat Dia, Zakheus pun mencari cara agar bisa melihat Kristus.  Karena bertubuh pendek,  "...berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ."  (Lukas 19:4).  Ini menunjukkan betapa Zakheus punya kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Kristus.

     Karena sering mendengar tentang Kristus, yang dikenal sangat dekat dengan orang-orang berdosa, Zakheus termotivasi untuk bertemu Dia.  Kerinduannya pun terjawab, Kristus melihatnya di atas pohon ara:  "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."  (Lukas 19:5).  Perjumpaan dengan-Nya menjadi titik balik hidup Zakheus.  Karena Kristus menerima ia apa adanya, Zakheus berkomitmen,  "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  (Lukas 19:8).  

"...Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."  Matius 9:13

Tuesday, February 4, 2020

MENGUASAI DIRI DALAM SEGALA HAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2020

Baca:  2 Petrus 1:3-15

"...karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,"  2 Petrus 1:5-6

Di dalam hati kecilnya, sesungguhnya semua orang tak ingin berbuat dosa.  Sebagian besar orang sudah berusaha sedemikian rupa untuk tidak melakukan dosa, tapi tetap saja jatuh bangun dalam dosa.  Mengapa?  Karena mereka berusaha melepaskan diri dari belenggu dosa dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri.  Selama masih mengandalkan kekuatan sendiri, mereka akan gagal dan tetap jatuh bangun dalam dosa.  Hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita akan mampu menang dalam pergumulan melawan dosa.  Tuhan berkata,  "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam."  (Zakharia 4:6).  Ini bukan berarti kita tidak perlu berusaha dan pasif saja, haruslah tetap ada kerjasama antara kita dan Roh Kudus, yaitu mau tunduk dalam pimpinan Roh Kudus sehingga Roh Kudus beroleh kesempatan untuk membimbing, menuntun dan menguatkan kita.

     Rasul Petrus berkata,  "Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib...supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia."  (2 Petrus 1:3, 4b).  Meski demikian ada bagian yang harus kita kerjakan yaitu:  "...kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,"  (2 Petrus 1:5-6).  Jadi untuk memperoleh pengetahuan penguasaan diri, kita harus berusaha sungguh-sungguh sambil melekatkan diri kepada Roh Kudus, sebab Dialah yang dapat menolong kita menaklukkan hawa nafsu duniawi.  Orang Kristen yang tak sungguh-sungguh tak akan dapat menumbangkan hawa nafsunya.

"Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."  Roma 6:12

Monday, February 3, 2020

HATI-HATI DENGAN PENGAJARAN PALSU!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Februari 2020

Baca:  2 Petrus 2:1-22

"Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka."  2 Petrus 2:1

Kita tak perlu terkejut dengan munculnya guru-guru atau nabi-nabi palsu di zaman sekarang, sebab firman Tuhan sudah lebih dahulu memperingatkan.  Tapi mengapa banyak orang Kristen yang sudah tahu firman Tuhan, tapi mereka masih saja gampang diperdaya oleh ajaran-ajaran palsu tersebut?  Hal ini bisa terjadi karena mereka memiliki pengetahuan firman Tuhan hanya sebatas akal atau pikirannya, tidak sampai berakar mendalam di hati dan rohnya.  Itulah sebabnya mereka menjadi bimbang atau ragu-ragu, bahkan tidak sepenuhnya percaya akan kebenaran firman Tuhan.

     Bila kita memiliki keyakinan yang seimbang antara di pikiran dan di hati, tentu kita tidak akan sembarang menerima ajaran di luar Injil.  Rasul Paulus pernah menegur jemaat di Galatia,  "Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia."  (Galatia 1:6-9).

     Tentunya teguran Paulus kepada jemaat di Galatia ini juga berlaku untuk semua orang percaya yang hidup di zaman yang semakin jahat ini.  Jadi setiap kali mendengar pengajaran jangan langsung ditelan begitu saja, periksa dan teliti lebih dahulu apakah ajaran tersebut sudah sesuai dan selaras dengan Injil Kristus.  Jangan pula hanya melihat bahwa si pengkhotbah adalah orang hebat dan terkenal, tetapi perhatikan apakah ajarannya sesuai dengan Injil yang kita percayai atau tidak.

"...ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah;"  Yohanes 4:1a