Wednesday, January 22, 2020

TAK PERLU TAKUT, TUHAN BERSAMA KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2020

Baca:  Yesaya 51:1-23

"Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati, terhadap anak manusia yang dibuang seperti rumput,"  Yesaya 51:12

Ketakutan menjadi persoalan terbesar dalam hidup manusia hari-hari ini.  Contoh kasus seorang artis terkenal atau bos besar rela mengeluarkan banyak uang demi menyewa bodyguard untuk mengawal dan menjaganya agar aman dan terlindungi dari orang-orang yang berniat jahat.  Ketika orang membangun rumah, unsur keamanan menjadi perhatian utama:  pasang pagar berduri, alarm, pasang CCTV di setiap sudut ruangan, agar rumahnya tidak dibobol maling.  Intinya, banyak orang dihantui oleh rasa takut.

     Bagaimana pun situasinya, firman Tuhan menguatkan kita agar tidak takut,  "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  (2 Timotius 1:7).  Dalam praktiknya masih banyak orang percaya hidup dalam ketakutan.  Ada banyak faktor yang membuat orang dihantui oleh rasa takut:  1.  Hidup jauh dari Tuhan.  Semakin kita meninggalkan Tuhan dan hidup jauh dari hadirat-Nya, semakin kita hidup dalam ketakutan.  Sebaliknya, Alkitab menyatakan bahwa jika Tuhan ada di pihak kita, tidak ada yang dapat melawan kita, tidak ada yang perlu ditakutkan.  Jadi, selama kita dekat dengan Tuhan dan hidup dalam kuasa-Nya, tidak ada alasan untuk kita menjadi takut, karena kita percaya bahwa janji Tuhan ya dan amin.  Bahkan  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     2.  Hidup dalam ketidaktaatan.  Karena tahu sudah melanggar perintah Tuhan, Adam dan Hawa pun menjadi takut.  "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."  (Kejadian 3:10).  Kita harus menjadi orang yang taat, sebab ketaatan mendatangkan berkat dari Tuhan.

Selama kita hidup dekat dengan Tuhan dan taat kepada-Nya, kita pasti dijaga Tuhan seperti biji mata-Nya sendiri.

Tuesday, January 21, 2020

KRISTUS ADALAH JURUSELAMAT KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2020

Baca:  Yesaya 43:8-21

"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku."  Yesaya 43:11

Sering dijumpai ada banyak orang Kristen merasa malu membuka jati dirinya sebagai pengikut Kristus di hadapan orang-orang dunia.  Sebagai pengikut Kristus  (Kristen)  seharusnya kita berbangga hati, sebab kita memiliki seorang Juruselamat.  Karena kita memiliki Juruselamat maka ada jaminan keselamatan kekal bagi kita yang percaya kepada-Nya.  Orang-orang dunia menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari seorang pemimpin rohani bagi umat Kristen, atau nabi yang kualitasnya tak jauh berbeda dengan nabi-nabi lainnya.  Salah besar!  Kristus itu bukan hanya pemimpin rohani, bukan hanya nabi, tapi Dia adalah Tuhan dan Sang Juruselamat,  "...tidak ada juruselamat selain dari Aku."  (Hosea 13:4), sebab:  "keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).

     Alkitab menyatakan bahwa barangsiapa percaya kepada Kristus tidak akan mengalami kebinasaan, melainkan beroleh jaminan hidup yang kekal  (Yohanes 3:16).  Sebagai Juruselamat, Kristus rela mengorbankan nyawa-Nya mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Dosalah yang membuat manusia hidup terpisah dan jauh dari Bapa;  dosalah yang membuat manusia berada di dalam kebinasaan kekal;  dosalah yang membuat manusia hidup dalam kutuk.  Karya pengorbanan Kristus ini mendekatkan kita dengan Bapa, bahkan kita yang percaya dalam nama-Nya diberi kuasa untuk menjadi anak-anak-Nya  (Yohanes 1:12).  Adakah pemimpin rohani atau nabi yang seperti Kristus?

     Tugas kita sekarang adalah mengerjakan keselamatan yang telah kita terima ini dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12).  Ini adalah proses yang harus kita kerjakan seumur hidup kita, karena keselamatan yang kita terima bisa hilang bila kita tidak secara konsisten hidup di jalan Tuhan.  Jika saat ini kita mulai menyimpang dari jalan-jalan Tuhan, mari segeralah sadar.  Adakalanya Tuhan harus menegur dan memperingatkan kita dengan keras.  Bersyukurlah dan jangan memberontak!  Sebab Tuhan lakukan ini dengan maksud dan tujuan yang jelas yaitu membentuk dan memurnikan hidup kita, sehingga karya keselamatan yang sudah Ia kerjakan tidak menjadi sia-sia.

Kristus adalah satu-satunya Sang Juruselamat, tidak ada yang lain!

Catatan:
 "'Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.' Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  Roma 9:15-16

Monday, January 20, 2020

KRISTUS: Jaminan Hidup Kekal

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2020

Baca:  Galatia 3:1-14

"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"  Galatia 3:13

Kita harus mengerti dan memahami dengan benar bahwa darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib mempunyai harga yang sungguh tak ternilai, tak bisa diukur dengan materi sebesar apa pun.  Dalam tulisannya rasul Petrus turut menegaskan,  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Kristus telah menebus kita dari kehidupan kita yang sia-sia, yaitu kehidupan lama yang dipenuhi dengan dosa.

     Ada jaminan keselamatan kekal di dalam darah Kristus yang sangat mahal.  Dengan menerima pengorbanan-Nya di atas kayu salib kita menerima pula penebusan yang dilakukan-Nya di atas Kalvari itu.  Oleh karya pengorbanan-Nya kita tidak lagi menjadi orang-orang hukuman atau terkutuk, karena Kristus telah menggantikan kita,  "...dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'"  (ayat nas).  Dampak dari pengorbanan Kristus ini sungguh teramat besar, selain jaminan hidup kekal, Ia  "...telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu."  (Galatia 3:14).  Perhatikan ayat ini:  "...supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain..."  (ayat nas) Artinya jika kita tidak berada di dalam Kristus dan menolak Dia sebagai Tuhan dan Penebus dosa kita, maka mustahil kita dapat memperoleh dan menikmati janji-janji Tuhan itu.

     Jaminan keselamatan Kristus adalah jaminan sempurna meliputi berkat jasmani rohani, plus kehidupan kekal.  Orang menginginkan berkat Tuhan saja namun menolak Pribadi Kristus dalam hidupnya, sehingga sekalipun mereka tampak begitu menikmati hidup berkecukupan  (hal-hal jasmaniah), berkat hidup kekal tidak akan mereka dapatkan.

Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah syarat mutlak memperoleh hidup kekal dan terbebas dari segala kutuk.

Catatan:
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16)

Sunday, January 19, 2020

PRIBADI DI ATAS KAYU SALIB

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2020

Baca:  Efesus 2:1-10

"Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu." Efesus 2:1

Bagi orang-orang dunia berita tentang salib Kristus adalah kebodohan, itulah sebabnya banyak orang menganggap remeh dan bahkan melecehkan salib.  Bahkan tidak sedikit pula orang Kristen yang juga merasa malu berbicara atau bersaksi tentang salib, apalagi membicarakan orang yang mati di atasnya, padahal melalui salib itu darah Kristus tercurah demi menebus dosa kita dan melepaskan kita dari kutuk, yang seharusnya kita malah berbangga atas peristiwa bersejarah di atas bukit Golgota itu.  Rasul Paulus menegaskan,  "...aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."  (Galatia 6:14).

     Di zaman romawi kuno banyak orang menjalani hukuman mati di atas kayu salib.  Seperti saat Kristus mati disalib, turut pula dua orang lain yang juga disalibkan, yaitu di sebelah kanan dan kiri-Nya, tapi salib kedua orang itu telah dilupakan dari ingatan manusia.  Tidak ada hal lain yang dibicarakan mengenai kedua orang itu, kecuali yang seorang menghujat Kristus, sedangkan seorang yang lain berkata,  "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."  (Lukas 23:42).  Berbeda dengan salib Kristus, bukan salib itu yang harus ditinggikan, tetapi sosok yang berada di atas salib itu, yaitu Kristus, yang mengingatkan kita pada kesengsaraan Kristus sebagai pengganti yang berdosa;  tapi salib juga mengingatkan kita pada kemenangan yang telah terjadi di atasnya.  Iblis dan maut sudah dikalahkan!  "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"  (1 Korintus 15:54b-55).

     Salib merupakan kemenangan bagi umat manusia sehingga manusia memperoleh kesempatan untuk bebas dari belenggu dosa dan kematian kekal.  Tanpa salib dan darah Kristus yang tercurah tak mungkin kita diperdamaikan dengan Bapa di sorga.  Kita patut berbangga dan menghargai arti curahan darah Kristus yang kudus dari kayu salib.  Karena pengorbanan yang agung ini, kita dibenarkan dan dikuduskan dari segala dosa.

"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  1 Korintus 1:18

Saturday, January 18, 2020

TETAP PERCAYA TANPA SYARAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2020

Baca:  Mazmur 13:1-6

"Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu."  Mazmur 13:6

Salah satu cara jitu yang Iblis lakukan untuk melemahkan iman orang percaya adalah menebarkan pengaruhnya kepada manusia melalui pikiran-pikiran yang negatif.  Tujuannya supaya manusia menjadi kecewa, bimbang, dan kemudian meragukan kuasa Tuhan, padahal kebimbangan adalah penghalang untuk kita menerima jawaban doa dari Tuhan.  Saat tak mendapatkan jawaban dari Tuhan, tidak lagi berdoa.  "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?"  (Mazmur 13:2-3).

     Lupakah Saudara bahwa Tuhan  "...bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"  (Bilangan 23:19).  Tuhan tidak pernah lupa, apalagi menutup mata dan telinga-Nya terhadap apa pun yang umat-Nya alami.  Terhadap hal-hal yang kecil dan sederhana sekalipun Tuhan begitu peduli:  "bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."  (Lukas 12:7).  Yang seringkali terjadi, begitu menghadapi masalah dan kesulitan, kita langsung lupa dengan janji firman Tuhan, kita begitu mudahnya berpaling dari Tuhan, meragukan kuasa-Nya dan langsung mencari pertolongan dari pihak lain.  Adalah tidak mudah menemukan orang yang tetap percaya kepada Tuhan ketika sedang berada dalam situasi yang sulit.

     Daud selalu menguatkan hatinya untuk percaya kepada Tuhan di segala keadaan.  Ketika Ziklag terbakar dan berada dalam situasi terjepit, Daud tetap  "...menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN,"  (1 Samuel 30:6b).  Dalam hubungan kita dengan Tuhan, Dia menghendaki agar kita percaya penuh kepada-Nya tanpa syarat.  Hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).

Percaya kepada Tuhan tanpa syarat berarti tidak bimbang, tetap tekun menanti-nantikan pertolongan Tuhan, tidak berpaling pada yang lain, apa pun keadaannya.

Friday, January 17, 2020

TINDAKAN KITA CERMINAN ISI PIKIRAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Januari 2020

Baca:  Matius 13:24-30

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya."  Matius 13:24

John C. Maxwell  (penulis buku terkenal)  menyatakan bahwa medan peperangan terbesar dalam diri manusia yang sesungguhnya adalah terletak pada pikirannya sendiri.  Ini menunjukkan bahwa pikiran memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidup manusia.  Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dengan pikiran kita, sebab apa yang ada dalam pikiran kita akan membentuk setiap tindakan kita.

     Pikiran manusia itu ibarat seperti tanah atau ladang, yang tidak pernah memilih dan memedulikan jenis benih apa yang hendak ditanam di atasnya.  Benih apa pun yang kita tabur dan semai, tanah akan meresponsnya, lalu menumbuhkan benih yang kita tabur itu.  Andai kita menabur benih jagung, maka secara otomatis yang akan tumbuh dari tanah itu adalah buah jagung, bukan yang lain.  Begitu pula bila kita mungkin menabur rumput liar atau tanaman-tanaman penganggu sekalipun, maka tanah tetap saja akan merespons benih-benih itu dan menumbuhkannya juga.  Apa pun yang kita tanamkan dalam pikiran, entah itu hal-hal yang baik atau tidak baik, positif atau negatif, pikiran kita akan segera menerima, merespons, dan menumbuhkannya, tidak peduli hal itu berdampak positif atau negatif terhadap kehidupan kita:  menuntun kepada keberhasilan atau kehancuran.  Keputusan dan pilihan ada pada kita sendiri!

     Sadar atau tidak, seringkali kita mengisi dan memenuhi pikiran kita dengan hal-hal yang negatif tentang diri sendiri:  hidupku penuh masalah, aku tak punya apa-apa, penyakitku sudah tak ada obatnya, keluargaku berantakan, aku ini orang yang miskin tak punya masa depan.  Hal-hal buruk yang kita ucapkan itu akan direspons oleh pikiran kita dalam bentuk sikap dan tindakan, yang pada saatnya akan menghasilkan sesuatu yang sama persis seperti yang kita tanam.  Bila yang kita tanam adalah hal-hal yang baik dan positif:  semangat atau rasa percaya diri, pikiran kita juga akan merespons hal itu ke dalam sikap dan tindakan kita, sehingga hidup kita akan menjadi seperti yang kita harapkan.

"... semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  Filipi 4:8

Thursday, January 16, 2020

ORANG PERCAYA: Dipanggil Menjadi Terang (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2020

Baca:  Yesaya 60:1-22

"Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."  Yesaya 60:2

Banyak orang percaya tidak merespons panggilan Tuhan dan bahkan lari dari panggilan-Nya untuk menjadi terang, malahan mereka turut ambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, sama seperti orang-orang dunia.  Padahal firman Tuhan jelas menyatakan,  "Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan."  (1 Tesalonika 5:5-8).

     Kristus rela turun ke dunia menjadi sama dengan manusia dan rela mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib dengan tujuan supaya manusia yang berdosa diselamatkan.  Kita yang sudah diselamatkan ini punya tanggung jawab untuk menjadi saksi-saksi Kristus.  Karena Kristus sudah terlebih dahulu melayani kita dengan kasih-Nya yang tak terbatas dan tanpa syarat, adalah mutlak bagi kita untuk membalas kasih-Nya.  Dengan cara?  Mempersembahkan seluruh keberadaan hidup ini bagi Tuhan untuk dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya.  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  (1 Korintus 6:20).  Selama masih ada waktu dan kesempatan, mari kita kerjakan panggilan Tuhan ini dengan roh yang menyala-nyala, karena akan ada saatnya kesempatan itu tidak ada lagi.

     Ketika banyak orang berputus asa, frustasi dan kehilangan semangat, ini adalah kesempatan bagi orang percaya untuk bangkit dan menjadi terang bagi mereka.  Kita harus bersaksi kepada mereka bahwa di dalam Kristus selalu ada masa depan dan harapan, Kristus adalah jawaban yang pasti untuk setiap pergumulan hidup ini.

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,"  Yesaya 42:6

Wednesday, January 15, 2020

ORANG PERCAYA: Dipanggil Menjadi Terang (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2020

Baca:  Yesaya 60:1-22

"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu."  Yesaya 60:1

Hidup orang percaya adalah hidup yang berjalan bersama Kristus setiap hari.  Sebagaimana Kristus adalah terang dunia:  "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."  (Yohanes 8:12), maka orang percaya pun dituntut untuk bisa menjadi terang, sebab  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  "Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:14a, 16).

     Hidup yang menjadi terang berarti orang percaya tidak lagi menjalani hidup secara asal-asalan, tetapi punya kehidupan yang berarti dan berdampak bagi dunia.  Karena itu orang percaya harus mengalami percepatan untuk bangkit dari segala permasalahan hidup, bangkit dari keterpurukan, dan bangkit dari segala ketertinggalan.  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).  Itulah cara agar supaya kehidupan kita bisa menjadi kesaksian yang baik.  Tanpa memiliki kehidupan yang berbeda dari orang-orang dunia, kita tidak akan bisa menjadi terang dan menyatakan kemuliaan Kristus di tengah-tengah dunia ini.  Perhatikan dunia saat ini!  Dunia semakin hari semakin kelam dan diliputi oleh kegelapan yang teramat pekat.

     Karena dunia berada dalam kegelapan, banyak orang dibelenggu oleh ketakutan, banyak orang tidak lagi malu berbuat dosa.  Kehidupan orang-orang dunia saat ini benar-benar semakin jauh dari kehendak Tuhan.  Mereka sudah tidak lagi menyadari dan menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada, sehingga mereka dengan sengaja hidup dalam dosa.  Itulah sebabnya orang percaya dipanggil untuk menjadi terang di tengah-tengah mereka, sebab kita ini adalah anak-anak terang, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Kristus yang ajaib  (1 Petrus 2:9).  Terang itu hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran  (Efesus 5:9).  Kalau orang percaya tidak bisa menjadi terang, orang-orang dunia meneladani siapa?

Tuesday, January 14, 2020

JANGAN BERKATA TUHAN TAK ADIL!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2020

Baca:  Ayub 8:1-22

"Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?"  Ayub 8:3

Saat berada dalam masalah, penderitaan, tekanan dan kesulitan, yang sepertinya tiada berujung, biasanya orang akan cenderung untuk menjadi kecewa, marah, dan berontak kepada Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan berlaku tidak adil terhadapnya.  Ayub pun pernah mengalami dan merasakan hal itu.  Padahal Ayub adalah orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan  (Ayub 1:1), tapi ia pun tak luput dari penderitaan dan pencobaan yang datang secara bertubi-tubi:  semua anaknya mati, harta benda ludes, dan bahkan isteri yang dikasihinya pun menghujat dia,  "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"  (Ayub 2:9).

     Alkitab menyatakan bahwa Ayub berkeluh kesah dan frustasi, sampai-sampai ia mengutuki dirinya sendiri karena tak tahan menanggung beban penderitaan yang teramat berat ini:  "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan."  (Ayub 3:3), dan kemudian ia juga protes kepada Tuhan,  "Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?"  (Ayub 7:20).  Karena itu  "...aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku."  (Ayub 7:15).  Prihatin dengan kondisi ini, Bildad, orang Suah, menegur Ayub,  "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?"  (Ayub 8:2).

     Mungkin Saudara sedang kecewa dengan Tuhan, karena Saudara sudah merasa hidup benar di hadapan-Nya, tapi mengapa masalah datang silih berganti dengan tiada henti.  Sementara kita melihat perjalanan hidup orang-orang di luar Tuhan sepertinya tampak mulus tanpa aral.  Jangan sekali-kali menuduh Tuhan berlaku tidak adil!  Tak satu pun peristiwa yang kita alami luput dari pengawasan Tuhan.  Adakalanya Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kadar iman kita.  Segeralah Ayub menyadari kesalahannya dan mencabut semua kata-kata negatif yang pernah diucapkan  (Ayub 42:6), Tuhan pun memulihkan dan memberkati Ayub dengan double portion.

Di balik masalah yang Tuhan ijinkan terjadi, ada rencana-Nya yang besar atas kita.

Monday, January 13, 2020

TUHAN MEMBERKATI ORANG SALEH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2020

Baca:  Mazmur 37:1-40

"TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;"  Mazmur 37:18

Orang percaya tak perlu takut menghadapi beratnya hidup ini, sebab ada jaminan berkat secara khusus yang Tuhan sediakan bagi kita anak-anak-Nya.  Namun untuk menikmati berkat dari Tuhan dan beroleh perlakuan khusus dari Tuhan ini ada syaratnya, yaitu hidup dalam kesalehan.  Supaya kita bisa hidup saleh, hal mendasar yang harus kita perhatikan adalah ibadah.  Kita harus terus melatih diri dalam hal ibadah, supaya ibadah kita berkenan kepada Tuhan.  "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:7b-8).

     Apa yang dimaksud dengan kesalehan?  Kesalehan berarti hidup bagi Tuhan dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.  Secara garis besar, hidup dalam kesalehan berarti seseorang mampu menjadi  "...teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."  (1 Timotius 4:12b).  Tak mudah menemukan orang yang berlaku saleh di zaman seperti sekarang ini!  Banyak orang menganggap bahwa hidup dalam kesalehan sebagai kerugian karena harus mengekang segala keinginan dagingnya.  Untuk berlaku saleh tekananannya cukup besar:  dicemooh, dijauhi teman, dianggap kuno, aneh, sok suci, sok fanatik dan sebagainya.  Tak kuat menghadapi tekanan, akhirnya banyak orang Kristen mengkompromikan diri dengan cara hidup dunia.

     Tidak ada kata rugi berlaku hidup saleh, justru mendatangkan keuntungan besar.  Janganlah menganggap semua janji Tuhan itu hanya berlaku untuk hidup yang akan datang, bukan hanya waktu kita berada di sorga nanti.  Tuhan tidak hanya rindu untuk menyelamatkan kita, tetapi Dia juga ingin memberkati kita selama kita masih hidup di dunia ini dengan tujuan supaya kehidupan kita menjadi berkat dan mempermuliakan nama-Nya.  Jadi hidup saleh bukanlah penghalang untuk meraih sukses, justru sebaliknya, hidup saleh adalah jalan menuju hidup yang diberkati.  "Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya."  (Amsal 11:5).

Orang saleh hidupnya pasti dijaga, dipelihara, dan diberkati Tuhan! 

Catatan:
"'Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.' Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  Roma 9:15-16