Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2020
Baca: Daniel 1:1-21
"Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel
dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya
Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego." Daniel 1:7
Karena telah memberontak dan hidup jauh dari kehendak-Nya, Tuhan memakai bangsa Babel untuk menghajar bangsa Israel. Karena kalah berperang orang-orang Israel pun menjadi tawanan dan diangkut ke Babel. Apakah Tuhan tidak sanggup menolong mereka? Dalam hal ini Tuhan hendak menegur bangsa Israel yang telah memberontak terhadap-Nya dengan memakai bangsa Babel: "Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari
perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu
dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu
dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya." (Daniel 1:2).
Menurut sejarah kuno, jika dua bangsa sedang berperang, yang turut berperang bukan hanya rakyatnya, tetapi dewa sesembahan mereka pun turut berperang. Apabila salah satu bangsa itu kalah, dewa mereka juga ikut kalah. Saat bangsa Yehuda kalah, segala perkakas yang ada di dalam Bait Suci turut dibawa dan dimasukkan ke dalam rumah dewa baal. Pada kesempatan itu Nebukadnezar mulai memilih beberapa orang muda Israel untuk dididik dalam istana raja: "...orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik,
yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang
mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk
bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa
orang Kasdim." (Daniel 1:4), dengan maksud supaya identitas mereka sebagai umat pilihan Tuhan hilang. Bahkan Alkitab mencatat bahwa pemimpin pegawai istana memberi nama lain kepada empat pemuda itu: "Daniel
dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya
Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego." (ayat nas)
Sekalipun nama ke-4 pemuda itu diganti, hati mereka tidak terpengaruh, iman mereka tak pernah goyah. Mereka berketetapan hati untuk tidak mencemarkan diri dengan pola kehidupan di Babel.
Iman seseorang teruji kualitasnya saat ia dihadapkan pada tekanan dan ancaman!
Sunday, January 12, 2020
Saturday, January 11, 2020
HAMBA TUHAN PATUT DIHORMATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2020
Baca: Ibrani 13:17-25
"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." Ibrani 13:17
Ada banyak orang Kristen kurang respek kepada hamba Tuhan atau pemimpin rohani. Mereka suka sekali membicarakan dan mempergunjingkan kekurangan dan kelemahan para hamba Tuhan. Topik tentang hamba Tuhan tertentu selalu menjadi gosip terhangat di antara jemaat. Padahal para hamba Tuhan atau pemimpin rohani adalah orang-orang pilihan Tuhan yang mengemban tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan, yaitu memelihara domba-domba dan berjaga-jaga atas keselamatan jiwa-jiwa.
Sebagai jemaat Tuhan seharusnya kita menaruh hormat dan menghargai setiap jerih lelah dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pemimpin rohani kita. Bagaimanapun seorang hamba Tuhan/pemimpin rohani adalah manusia biasa yang punya keterbatasan, tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Seringkali kita dengan mudahnya mengkritik, mencemooh, merendahkan, dan cenderung menghakimi dengan seenaknya ketika hamba Tuhan/pemimpin rohani tersebut melakukan suatu kesalahan. Rasul Paulus menasihati, "Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar." (1 Timotius 5:17).
Bila hamba Tuhan menyampaikan firman keras berisi teguran dan peringatan, tak perlu kita sakit hati atau tersinggung, karena teguran dan peringatan tersebut adalah untuk kebaikan kita, hamba Tuhan hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya. Kita seharusnya mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan atau pemimpin rohani dalam menjalankan Amanat Agung Tuhan. Daud, sekalipun hidupnya dibuat menderita oleh Saul, namun ia tetap belajar untuk menghormati Saul selaku pemegang otoritas: "...siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?" (1 Samuel 26:9). Karena berani mengolok Musa selaku pemimpin rohani, Miryam harus menanggung akibat yaitu terkena kusta (Bilangan 12:10).
Berhentilah mendiskreditkan hamba Tuhan, karena mereka adalah orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk memimpin kita dalam kerohanian.
Baca: Ibrani 13:17-25
"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." Ibrani 13:17
Ada banyak orang Kristen kurang respek kepada hamba Tuhan atau pemimpin rohani. Mereka suka sekali membicarakan dan mempergunjingkan kekurangan dan kelemahan para hamba Tuhan. Topik tentang hamba Tuhan tertentu selalu menjadi gosip terhangat di antara jemaat. Padahal para hamba Tuhan atau pemimpin rohani adalah orang-orang pilihan Tuhan yang mengemban tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan, yaitu memelihara domba-domba dan berjaga-jaga atas keselamatan jiwa-jiwa.
Sebagai jemaat Tuhan seharusnya kita menaruh hormat dan menghargai setiap jerih lelah dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pemimpin rohani kita. Bagaimanapun seorang hamba Tuhan/pemimpin rohani adalah manusia biasa yang punya keterbatasan, tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Seringkali kita dengan mudahnya mengkritik, mencemooh, merendahkan, dan cenderung menghakimi dengan seenaknya ketika hamba Tuhan/pemimpin rohani tersebut melakukan suatu kesalahan. Rasul Paulus menasihati, "Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar." (1 Timotius 5:17).
Bila hamba Tuhan menyampaikan firman keras berisi teguran dan peringatan, tak perlu kita sakit hati atau tersinggung, karena teguran dan peringatan tersebut adalah untuk kebaikan kita, hamba Tuhan hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya. Kita seharusnya mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan atau pemimpin rohani dalam menjalankan Amanat Agung Tuhan. Daud, sekalipun hidupnya dibuat menderita oleh Saul, namun ia tetap belajar untuk menghormati Saul selaku pemegang otoritas: "...siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?" (1 Samuel 26:9). Karena berani mengolok Musa selaku pemimpin rohani, Miryam harus menanggung akibat yaitu terkena kusta (Bilangan 12:10).
Berhentilah mendiskreditkan hamba Tuhan, karena mereka adalah orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk memimpin kita dalam kerohanian.
Friday, January 10, 2020
BERSAHABAT DENGAN ORANG YANG TEPAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2020
Baca: Amsal 13:1-25
"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." Amsal 13:20
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita semua membutuhkan kehadiran orang lain, karena kita takkan bisa hidup seorang diri saja. Sekalipun ia orang yang kaya dengan uang dan harta yang melimpah, ia tetap saja membutuhkan kehadiran orang lain. Kita membutuhkan orang lain untuk membangun suatu hubungan atau kerjasama satu sama lain karena adanya kepentingan bersama. Kehadiran orang lain, teman atau sahabat sangatlah perlu. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makhluk sosial.
Namun sebagai orang percaya kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai dasar untuk membangun hubungan dengan orang lain. Kita diperingatkan untuk berlaku bijak dalam memilih dengan siapa kita membangun suatu hubungan. Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Korintus, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Suatu ketika Yehu menegur raja Yosafat karena ia telah menjalin hubungan dengan orang-orang yang berlaku fasik, yaitu orang-orang yang tidak mengindahkan kebenaran, menganggap remeh perintah Tuhan, yang suka sekali melakukan kejahatan dan berhati busuk. "Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: 'Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau.'" (2 Tawarikh 19:2). Yehu memperingatkan Yosafat agar segera mengakhiri hubungan terlarang ini, karena bila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat fatal bagi dirinya dan kerajaan yang dipimpinnya.
Berawal dari membangun pertemanan yang sembarangan (salah pergaulan) banyak orang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas, terjerumus ke dalam prostitusi, terjerumus ke dalam narkoba, terlibat dalam penipuan dan tindak kejahatan lainnya. Berhati-hatilah! Apalagi di zaman yang serbacanggih ini, di mana membangun hubungan bisa dilakukan dengan amat mudah (instan) seperti melalui facebook, line, instagram dan sebagainya, tanpa kita mengetahui siap orang itu sesungguhnya, latar belakang hidupnya seperti apa, dan sebagainya.
Dengan siapa bergaul akan memengaruhi ke mana arah perjalanan hidup kita!
Baca: Amsal 13:1-25
"Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." Amsal 13:20
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita semua membutuhkan kehadiran orang lain, karena kita takkan bisa hidup seorang diri saja. Sekalipun ia orang yang kaya dengan uang dan harta yang melimpah, ia tetap saja membutuhkan kehadiran orang lain. Kita membutuhkan orang lain untuk membangun suatu hubungan atau kerjasama satu sama lain karena adanya kepentingan bersama. Kehadiran orang lain, teman atau sahabat sangatlah perlu. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makhluk sosial.
Namun sebagai orang percaya kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai dasar untuk membangun hubungan dengan orang lain. Kita diperingatkan untuk berlaku bijak dalam memilih dengan siapa kita membangun suatu hubungan. Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Korintus, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Suatu ketika Yehu menegur raja Yosafat karena ia telah menjalin hubungan dengan orang-orang yang berlaku fasik, yaitu orang-orang yang tidak mengindahkan kebenaran, menganggap remeh perintah Tuhan, yang suka sekali melakukan kejahatan dan berhati busuk. "Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: 'Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau.'" (2 Tawarikh 19:2). Yehu memperingatkan Yosafat agar segera mengakhiri hubungan terlarang ini, karena bila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat fatal bagi dirinya dan kerajaan yang dipimpinnya.
Berawal dari membangun pertemanan yang sembarangan (salah pergaulan) banyak orang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas, terjerumus ke dalam prostitusi, terjerumus ke dalam narkoba, terlibat dalam penipuan dan tindak kejahatan lainnya. Berhati-hatilah! Apalagi di zaman yang serbacanggih ini, di mana membangun hubungan bisa dilakukan dengan amat mudah (instan) seperti melalui facebook, line, instagram dan sebagainya, tanpa kita mengetahui siap orang itu sesungguhnya, latar belakang hidupnya seperti apa, dan sebagainya.
Dengan siapa bergaul akan memengaruhi ke mana arah perjalanan hidup kita!
Thursday, January 9, 2020
HIDUP MANUSIA: Dibatasi Oleh Waktu
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2020
Baca: Pengkhotbah 3:1-15
"Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;" Pengkhotbah 3:2
Kehidupan manusia di muka bumi ini dibatasi oleh dimensi waktu. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkhotbah 3:1). Sehebat dan sepintar apa pun seseorang takkan mampu menahan lajunya sang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi. Sampai pada akhirnya manusia dihadapkan pada perhentian (kematian). Oleh sebab itu jangan pernah sekalipun kita menyia-nyiakan waktu dan jangan biarkan waktu berlalu dengan sia-sia, tanpa makna.
Musa berdoa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12). Semakin kita menyadari betapa pentingnya waktu, semakin kita bijak dalam menjalani kehidupan ini. Kesadaran seseorang akan pentingnya waktu akan semakin memengaruhi tingkat produktivitas dan kesungguhan dalam menggunakan waktu. Muncullah kalimat bijak: 'Bekerjalah segiat mungkin seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah engkau akan mati besok.' Karena waktu itu terbatas, kita harus bisa menggunakannya secara seimbang, antara bekerja dan beribadah.
Begitu jatah waktu dari Tuhan sudah habis, berakhir pula waktu kita untuk berjerih lelah di dunia ini. Bukan berarti semuanya sudah tamat, justru saat itulah babak baru dimulai, kita harus memberikan pertanggungan jawab kepada Tuhan segala perbuatan kita selama di dunia. "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13), di mana tiap-tiap pekerjaan akan diuji: "Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah." (1 Korintus 3:12-14).
Sebelum segala sesuatunya terlambat, selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup, buatlah pilihan hidup yang benar!
Baca: Pengkhotbah 3:1-15
"Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;" Pengkhotbah 3:2
Kehidupan manusia di muka bumi ini dibatasi oleh dimensi waktu. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkhotbah 3:1). Sehebat dan sepintar apa pun seseorang takkan mampu menahan lajunya sang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi. Sampai pada akhirnya manusia dihadapkan pada perhentian (kematian). Oleh sebab itu jangan pernah sekalipun kita menyia-nyiakan waktu dan jangan biarkan waktu berlalu dengan sia-sia, tanpa makna.
Musa berdoa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12). Semakin kita menyadari betapa pentingnya waktu, semakin kita bijak dalam menjalani kehidupan ini. Kesadaran seseorang akan pentingnya waktu akan semakin memengaruhi tingkat produktivitas dan kesungguhan dalam menggunakan waktu. Muncullah kalimat bijak: 'Bekerjalah segiat mungkin seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah engkau akan mati besok.' Karena waktu itu terbatas, kita harus bisa menggunakannya secara seimbang, antara bekerja dan beribadah.
Begitu jatah waktu dari Tuhan sudah habis, berakhir pula waktu kita untuk berjerih lelah di dunia ini. Bukan berarti semuanya sudah tamat, justru saat itulah babak baru dimulai, kita harus memberikan pertanggungan jawab kepada Tuhan segala perbuatan kita selama di dunia. "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13), di mana tiap-tiap pekerjaan akan diuji: "Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah." (1 Korintus 3:12-14).
Sebelum segala sesuatunya terlambat, selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup, buatlah pilihan hidup yang benar!
Wednesday, January 8, 2020
BERPERANG UNTUK MENANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2020
Baca: Roma 8:31-39
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." Roma 8:37
Semua orang pasti menginginkan suatu kehidupan yang enak tanpa masalah, situasi yang menyenangkan, tenang, bahagia, berhasil, aman, damai, tanpa ada sesuatu yang pahit, tanpa ada pencobaan, tanpa ada masalah, tanpa ada peperangan. Adakah kehidupan yang demikian? Ini suatu kehidupan yang sungguh sangat tidak realistis. Selama kita masih hidup di dunia ini kita semua takkan bisa melepaskan diri dari semuanya itu. Hidup tanpa masalah sedikit pun hanya akan ditemukan di negeri dongeng!
Alkitab tidak pernah mencatat bahwa orang percaya akan memiliki kehidupan yang tanpa ombak, gelombang dan badai. Justru hidup orang percaya adalah hidup dalam peperangan dan pergumulan setiap hari! Orang percaya adalah tentara-tentara Kristus yang harus siap berperang setiap hari. Berperang melawan siapa? 1. Iblis. "...bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Iblis adalah musuh utama yang harus kita perangi. 2. Dunia. Ini berbicara tentang cara hidup yang berlawanan atau bertentangan dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu firman Tuhan memperingatkan, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17).
3. Diri sendiri (kedagingan). Ini adalah musuh terdekat. "...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Untuk bisa menang dari diri sendiri (kedagingan) kita harus menempuh jalan 'salib' yaitu dengan cara 'memaku segala keinginan diri sendiri' di atas kayu salib. Dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti mampu.
Kemenangan takkan pernah kita raih tanpa kita mau berperang!
Baca: Roma 8:31-39
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." Roma 8:37
Semua orang pasti menginginkan suatu kehidupan yang enak tanpa masalah, situasi yang menyenangkan, tenang, bahagia, berhasil, aman, damai, tanpa ada sesuatu yang pahit, tanpa ada pencobaan, tanpa ada masalah, tanpa ada peperangan. Adakah kehidupan yang demikian? Ini suatu kehidupan yang sungguh sangat tidak realistis. Selama kita masih hidup di dunia ini kita semua takkan bisa melepaskan diri dari semuanya itu. Hidup tanpa masalah sedikit pun hanya akan ditemukan di negeri dongeng!
Alkitab tidak pernah mencatat bahwa orang percaya akan memiliki kehidupan yang tanpa ombak, gelombang dan badai. Justru hidup orang percaya adalah hidup dalam peperangan dan pergumulan setiap hari! Orang percaya adalah tentara-tentara Kristus yang harus siap berperang setiap hari. Berperang melawan siapa? 1. Iblis. "...bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Iblis adalah musuh utama yang harus kita perangi. 2. Dunia. Ini berbicara tentang cara hidup yang berlawanan atau bertentangan dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu firman Tuhan memperingatkan, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17).
3. Diri sendiri (kedagingan). Ini adalah musuh terdekat. "...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Untuk bisa menang dari diri sendiri (kedagingan) kita harus menempuh jalan 'salib' yaitu dengan cara 'memaku segala keinginan diri sendiri' di atas kayu salib. Dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti mampu.
Kemenangan takkan pernah kita raih tanpa kita mau berperang!
Tuesday, January 7, 2020
AKU DISALIBKAN DENGAN KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Januari 2020
Baca: Galatia 2:15-21
"...Aku telah disalibkan dengan Kristus;" Galatia 2:19b
Untuk dapat hidup sama seperti Kristus hidup kita harus terlebih dahulu menjadi sama dengan kematian-Nya: "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (Roma 6:5-6). Artinya kehidupan lama kita turut disalibkan bersama dengan Kristus. Kematian ini berarti mati terhadap segala keinginan daging.
Berbicara tentang salib ada beberapa hal yang patut direnungkan! Orang yang tergantung di kayu salib ia tidak bisa memandang ke mana-mana, pandangannya hanya tertuju ke satu arah saja. Orang percaya yang telah diselamatkan, pandangan matanya harus tertuju ke satu arah saja yaitu Kristus, fokus kepada perkara-perkara rohani. Namun banyak orang Kristen berusaha memandang ke dua arah pada saat yang bersamaan. Memandang kepada Tuhan, juga memandang dunia; mengasihi Tuhan, tapi enggan meninggalkan dosa. Sikap semacam ini sama seperti isteri Lot, yang lari tapi masih menoleh ke belakang. Rasul Paulus menasihati, "...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada...Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:1-2). Firman Tuhan menegaskan, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62).
Orang yang tergantung di kayu salib tak mungkin kembali lagi (pasti mati). Karena Kristus telah menyelamatkan kita dan menebus dosa-dosa kita, maka jangan pernah kembali kepada kehidupan yang lama. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:" (1 Korintus 6:20), "...bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal," (1 Petrus 1:18-19). Dan "...jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula." (2 Petrus 2:20).
Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17) kita harus benar-benar 'mati' dari segala keinginan daging (manusia lama).
Baca: Galatia 2:15-21
"...Aku telah disalibkan dengan Kristus;" Galatia 2:19b
Untuk dapat hidup sama seperti Kristus hidup kita harus terlebih dahulu menjadi sama dengan kematian-Nya: "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (Roma 6:5-6). Artinya kehidupan lama kita turut disalibkan bersama dengan Kristus. Kematian ini berarti mati terhadap segala keinginan daging.
Berbicara tentang salib ada beberapa hal yang patut direnungkan! Orang yang tergantung di kayu salib ia tidak bisa memandang ke mana-mana, pandangannya hanya tertuju ke satu arah saja. Orang percaya yang telah diselamatkan, pandangan matanya harus tertuju ke satu arah saja yaitu Kristus, fokus kepada perkara-perkara rohani. Namun banyak orang Kristen berusaha memandang ke dua arah pada saat yang bersamaan. Memandang kepada Tuhan, juga memandang dunia; mengasihi Tuhan, tapi enggan meninggalkan dosa. Sikap semacam ini sama seperti isteri Lot, yang lari tapi masih menoleh ke belakang. Rasul Paulus menasihati, "...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada...Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:1-2). Firman Tuhan menegaskan, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62).
Orang yang tergantung di kayu salib tak mungkin kembali lagi (pasti mati). Karena Kristus telah menyelamatkan kita dan menebus dosa-dosa kita, maka jangan pernah kembali kepada kehidupan yang lama. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:" (1 Korintus 6:20), "...bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal," (1 Petrus 1:18-19). Dan "...jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula." (2 Petrus 2:20).
Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17) kita harus benar-benar 'mati' dari segala keinginan daging (manusia lama).
Monday, January 6, 2020
HAUS DAN LAPAR: Alami Hadirat Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2020
Baca: Mazmur 42:1-12
"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." Mazmur 42:2
Tuhan berfirman dengan sangat gamblang, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Artinya untuk kita dapat menikmati dan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan, tidak ada jalan lain, selain kita harus tinggal di dalam Tuhan dan taat melakukan firman-Nya. Tinggal di dalam Tuhan berbicara tentang persekutuan yang karib (keintiman) dengan Tuhan, selalu ada di dalam hadirat-Nya. Pemazmur menyatakan, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14).
Bagaimana supaya kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan dan masuk dalam hadirat-Nya? Semua diawali oleh rasa haus dan lapar, serta kerinduan yang besar akan Tuhan dan kebenaran-Nya. "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan." (Matius 5:6). Pemazmur memiliki kerinduan yang luar biasa untuk mendekat kepada Tuhan. "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." (ayat nas). Besarnya rasa haus dan lapar itu digambarkan seperti seekor rusa yang sangat merindukan sungai yang berair. Kerinduan si rusa akan sungai yang berair itu bukan semata-mata untuk memuaskan rasa haus dan dahaganya saja, tetapi saat berada di tepi sungai yang berair aroma air itu akan menetralisir bau tubuh si rusa, sehingga hewan-hewan buas yang berkeliaran di sekitarnya tidak dapat mendeteksi baunya. Sungai yang berair benar-benar menjadi tempat yang sangat dirindukan si rusa, sebab selain untuk memuaskan rasa hausnya, sekaligus sebagai tempat untuk melindungi diri dari musuh.
Seberapa besar rasa haus dan lapar kita akan Tuhan? Saat kita mendekat kepada Tuhan dengan rasa haus dan lapar, saat itulah awal Tuhan melawat hidup kita. Di mana ada lawatan Tuhan (kehadiran Tuhan), sesuatu pasti terjadi, karena Dia hadir dengan segala otoritasnya. Banyak orang Kristen tampak rajin datang beribadah ke gereja dan terlibat aktif dalam pelayanan tapi tanpa disertai rasa haus dan lapar akan Tuhan!
Tanpa rasa haus dan lapar akan Tuhan takkan terjadi kebangunan rohani!
Baca: Mazmur 42:1-12
"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." Mazmur 42:2
Tuhan berfirman dengan sangat gamblang, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Artinya untuk kita dapat menikmati dan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan, tidak ada jalan lain, selain kita harus tinggal di dalam Tuhan dan taat melakukan firman-Nya. Tinggal di dalam Tuhan berbicara tentang persekutuan yang karib (keintiman) dengan Tuhan, selalu ada di dalam hadirat-Nya. Pemazmur menyatakan, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14).
Bagaimana supaya kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan dan masuk dalam hadirat-Nya? Semua diawali oleh rasa haus dan lapar, serta kerinduan yang besar akan Tuhan dan kebenaran-Nya. "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan." (Matius 5:6). Pemazmur memiliki kerinduan yang luar biasa untuk mendekat kepada Tuhan. "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." (ayat nas). Besarnya rasa haus dan lapar itu digambarkan seperti seekor rusa yang sangat merindukan sungai yang berair. Kerinduan si rusa akan sungai yang berair itu bukan semata-mata untuk memuaskan rasa haus dan dahaganya saja, tetapi saat berada di tepi sungai yang berair aroma air itu akan menetralisir bau tubuh si rusa, sehingga hewan-hewan buas yang berkeliaran di sekitarnya tidak dapat mendeteksi baunya. Sungai yang berair benar-benar menjadi tempat yang sangat dirindukan si rusa, sebab selain untuk memuaskan rasa hausnya, sekaligus sebagai tempat untuk melindungi diri dari musuh.
Seberapa besar rasa haus dan lapar kita akan Tuhan? Saat kita mendekat kepada Tuhan dengan rasa haus dan lapar, saat itulah awal Tuhan melawat hidup kita. Di mana ada lawatan Tuhan (kehadiran Tuhan), sesuatu pasti terjadi, karena Dia hadir dengan segala otoritasnya. Banyak orang Kristen tampak rajin datang beribadah ke gereja dan terlibat aktif dalam pelayanan tapi tanpa disertai rasa haus dan lapar akan Tuhan!
Tanpa rasa haus dan lapar akan Tuhan takkan terjadi kebangunan rohani!
Sunday, January 5, 2020
MENIKMATI BERKAT JASMANI DAN ROHANI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Januari 2020
Baca: Mazmur 9:1-21
"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;" Mazmur 9:2
Sepanjang hidupnya Daud senantiasa merasakan dan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Bukan hanya berkat jasmani yang dirasakan, tapi berkat-berkat rohani juga Tuhan limpahkan dalam kehidupannya sehingga ia berkata, "...aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi," (Mazmur 9:3).
Daud berkata, "Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (Mazmur 23:5). Hidangan berbicara tentang berkat-berkat jasmani. Selain itu Tuhan memperlengkapi Daud dengan pengurapan Roh-Nya yang kudus: "Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;" (ayat nas). Urapan berbicara tentang berkat rohani. Urapan adalah tanda penyertaan, perlindungan, penjagaan dari Tuhan. Adapun 'piala' berbicara tentang suatu kemenangan, kebesaran dan kejayaan. Karena itu, sekalipun harus diperhadapkan dengan berbagai masalah dan besarnya tantangan, Daud sangat percaya bahwa ia tidak menghadapinya seorang diri, ada Tuhan selalu menyertai dan berada di pihaknya. Ketika berhadapan dengan Goliat, raksasa Filistin yang "Tingginya enam hasta sejengkal." (1 Samuel 17:4), lengkap dengan "Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga." (1 Samuel 17:5), Daud tidak gentar dan tawar hati. Secara akal manusia Goliat bukanlah lawan yang sepadan, namun Daud percaya jika Tuhan beserta maka tidak ada perkara yang mustahil. "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam...Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu;" (1 Samuel 17:45-46). Daud begitu yakin dapat mengalahkan Goliat, bukan dengan kehebatan dan kekuatan manusia, tapi dengan nama Tuhan. Inilah bahasa iman!
Bukan dari kata orang, tapi Daud melihat dan mengalami sendiri betapa Tuhan memelihara hidupnya, sehingga ia dapat berkata, "...tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;" (Mazmur 37:25).
Orang benar hidupnya pasti dijamin oleh Tuhan, jasmani dan rohani!
Catatan:
"...Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).
Baca: Mazmur 9:1-21
"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;" Mazmur 9:2
Sepanjang hidupnya Daud senantiasa merasakan dan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Bukan hanya berkat jasmani yang dirasakan, tapi berkat-berkat rohani juga Tuhan limpahkan dalam kehidupannya sehingga ia berkata, "...aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi," (Mazmur 9:3).
Daud berkata, "Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (Mazmur 23:5). Hidangan berbicara tentang berkat-berkat jasmani. Selain itu Tuhan memperlengkapi Daud dengan pengurapan Roh-Nya yang kudus: "Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;" (ayat nas). Urapan berbicara tentang berkat rohani. Urapan adalah tanda penyertaan, perlindungan, penjagaan dari Tuhan. Adapun 'piala' berbicara tentang suatu kemenangan, kebesaran dan kejayaan. Karena itu, sekalipun harus diperhadapkan dengan berbagai masalah dan besarnya tantangan, Daud sangat percaya bahwa ia tidak menghadapinya seorang diri, ada Tuhan selalu menyertai dan berada di pihaknya. Ketika berhadapan dengan Goliat, raksasa Filistin yang "Tingginya enam hasta sejengkal." (1 Samuel 17:4), lengkap dengan "Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga." (1 Samuel 17:5), Daud tidak gentar dan tawar hati. Secara akal manusia Goliat bukanlah lawan yang sepadan, namun Daud percaya jika Tuhan beserta maka tidak ada perkara yang mustahil. "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam...Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu;" (1 Samuel 17:45-46). Daud begitu yakin dapat mengalahkan Goliat, bukan dengan kehebatan dan kekuatan manusia, tapi dengan nama Tuhan. Inilah bahasa iman!
Bukan dari kata orang, tapi Daud melihat dan mengalami sendiri betapa Tuhan memelihara hidupnya, sehingga ia dapat berkata, "...tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;" (Mazmur 37:25).
Orang benar hidupnya pasti dijamin oleh Tuhan, jasmani dan rohani!
Catatan:
"...Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).
Saturday, January 4, 2020
BERDOA SYAFAAT BAGI BANGSA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Januari 2020
Baca: Yehezkiel 22:1-31
"Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya." Yehezkiel 22:30
Orang percaya yang punya kepekaan rohani pasti akan teriris hatinya melihat betapa beratnya masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Perselisihan dan pertikaian di kalangan elit politik, bencana, musibah, ketidakadilan, penyalahgunaan wewenang, tindak kejahatan, narkoba, praktik prostitusi terselubung, dan sebagainya, seolah-olah sudah menjadi bahan berita sehari-hari di negeri ini. Keadaan ini tak beda jauh dengan bangsa Israel di zaman nabi Yesaya. "Hukum telah terdesak ke belakang, dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang. Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi TUHAN melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum. Ia melihat bahwa tidak seorangpun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia." (Yesaya 59:14-16).
Melihat keadaan ini apakah orang percaya tak tersentuh hati dan terbeban untuk berdoa bagi keselamatan bangsa? Orang yang mendirikan tembok (ayat nas) adalah orang-orang yang mau berdoa syafaat untuk orang lain (bangsanya). Tembok berbicara tentang perlindungan. Orang yang berdoa syafaat bagi bangsanya ibarat orang yang sedang membangun tembok perlindungan bagi bangsanya; orang yang tampil ke depan untuk menghadap Tuhan artinya memohon belas kasihan-Nya supaya Tuhan meluputkan bangsanya dari segala permasalahan. Sedangkan orang yang mau membayar harga menyediakan waktu secara khusus berdoa bagi bangsanya. Inilah yang sedang Tuhan cari!
Tuhan sendiri menegaskan, "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14). Doa sanggup mengubah segala sesuatu!
Bila Tuhan melawat umat-Nya, maka perkara-perkara yang besar pasti dinyatakan atas bangsa Indonesia. Indonesia bagi bagi kemuliaan nama Tuhan!
Baca: Yehezkiel 22:1-31
"Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya." Yehezkiel 22:30
Orang percaya yang punya kepekaan rohani pasti akan teriris hatinya melihat betapa beratnya masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Perselisihan dan pertikaian di kalangan elit politik, bencana, musibah, ketidakadilan, penyalahgunaan wewenang, tindak kejahatan, narkoba, praktik prostitusi terselubung, dan sebagainya, seolah-olah sudah menjadi bahan berita sehari-hari di negeri ini. Keadaan ini tak beda jauh dengan bangsa Israel di zaman nabi Yesaya. "Hukum telah terdesak ke belakang, dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang. Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi TUHAN melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum. Ia melihat bahwa tidak seorangpun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia." (Yesaya 59:14-16).
Melihat keadaan ini apakah orang percaya tak tersentuh hati dan terbeban untuk berdoa bagi keselamatan bangsa? Orang yang mendirikan tembok (ayat nas) adalah orang-orang yang mau berdoa syafaat untuk orang lain (bangsanya). Tembok berbicara tentang perlindungan. Orang yang berdoa syafaat bagi bangsanya ibarat orang yang sedang membangun tembok perlindungan bagi bangsanya; orang yang tampil ke depan untuk menghadap Tuhan artinya memohon belas kasihan-Nya supaya Tuhan meluputkan bangsanya dari segala permasalahan. Sedangkan orang yang mau membayar harga menyediakan waktu secara khusus berdoa bagi bangsanya. Inilah yang sedang Tuhan cari!
Tuhan sendiri menegaskan, "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14). Doa sanggup mengubah segala sesuatu!
Bila Tuhan melawat umat-Nya, maka perkara-perkara yang besar pasti dinyatakan atas bangsa Indonesia. Indonesia bagi bagi kemuliaan nama Tuhan!
Friday, January 3, 2020
YANG DUNIAWI HARUS MATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Januari 2020
Baca: Kolose 3:5-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." Kolose 3:5
Bila orang percaya menyadari statusnya sebagai umat yang telah ditebus dan dibenarkan oleh darah Kristus, dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak-Nya (Yohanes 1:12), maka ia tidak akan berjuang sedemikian rupa untuk menjalani hidup seturut dengan kehendak Tuhan, sebab "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:19b-20a).
Disalibkan dengan Kristus berarti segala kedagingan (keduniawian) kita harus mati, sebagaimana Kristus "...telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:7-8). Karena ketaatan-Nya ini Kristus beroleh peninggian dari Bapa (Filipi 2:9-10). Begitu pula jika kita ingin beroleh peninggian dari Tuhan, kita pun harus mengikuti jejak Kristus, yang datang ke dunia dengan satu tujuan yaitu menggenapi rencana Bapa dan melakukan kehendak-Nya: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34). Mencapai standar hidup seperti Kristus hidup adalah goal orang percaya! Goal itu takkan pernah tercapai bila kita tidak mau membayar harga, yaitu menanggalkan manusia lama (kedagingan) untuk tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya.
Yang menjadi ukuran seorang mengasihi Tuhan adalah ketaatan melakukan firman Tuhan. Selama kita masih belum bisa taat, maka sesungguhnya kasih kita kepada Kristus belum sempurna. "...barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia." (1 Yohanes 2:5). Untuk hidup sama seperti Kristus hidup adalah sebuah proses. Kita harus memberi diri untuk dibentuk, dikoreksi dan diperbaharui oleh Roh Kudus setiap hari. Firman Tuhan itu bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan (1 Yohanes 5:3), yang berat adalah kita sendiri yang cenderung mengikuti keinginan daging.
Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya untuk hidup seperti Kristus hidup, karena kita memiliki penolong yaitu Roh Kudus, Roh Kebenaran.
Baca: Kolose 3:5-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." Kolose 3:5
Bila orang percaya menyadari statusnya sebagai umat yang telah ditebus dan dibenarkan oleh darah Kristus, dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak-Nya (Yohanes 1:12), maka ia tidak akan berjuang sedemikian rupa untuk menjalani hidup seturut dengan kehendak Tuhan, sebab "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:19b-20a).
Disalibkan dengan Kristus berarti segala kedagingan (keduniawian) kita harus mati, sebagaimana Kristus "...telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:7-8). Karena ketaatan-Nya ini Kristus beroleh peninggian dari Bapa (Filipi 2:9-10). Begitu pula jika kita ingin beroleh peninggian dari Tuhan, kita pun harus mengikuti jejak Kristus, yang datang ke dunia dengan satu tujuan yaitu menggenapi rencana Bapa dan melakukan kehendak-Nya: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34). Mencapai standar hidup seperti Kristus hidup adalah goal orang percaya! Goal itu takkan pernah tercapai bila kita tidak mau membayar harga, yaitu menanggalkan manusia lama (kedagingan) untuk tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya.
Yang menjadi ukuran seorang mengasihi Tuhan adalah ketaatan melakukan firman Tuhan. Selama kita masih belum bisa taat, maka sesungguhnya kasih kita kepada Kristus belum sempurna. "...barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia." (1 Yohanes 2:5). Untuk hidup sama seperti Kristus hidup adalah sebuah proses. Kita harus memberi diri untuk dibentuk, dikoreksi dan diperbaharui oleh Roh Kudus setiap hari. Firman Tuhan itu bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan (1 Yohanes 5:3), yang berat adalah kita sendiri yang cenderung mengikuti keinginan daging.
Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya untuk hidup seperti Kristus hidup, karena kita memiliki penolong yaitu Roh Kudus, Roh Kebenaran.
Subscribe to:
Comments (Atom)