Friday, December 13, 2019

SATU SAJA BERHARGA BAGI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Desember 2019

Baca:  Lukas 15:1-10

"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."  Lukas 15:10

Nilai jiwa manusia adalah sangat berharga di mata Tuhan.  Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sangat mengasihi jiwa-jiwa lebih dari ciptaan-Nya yang lain, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya  (Kejadian 1:26).  Itulah sebabnya ketika manusia jatuh dalam dosa, meninggalkan-Nya dan tersesat, hati Tuhan sedih.  Dilandasi atas kasih-Nya yang tak terbatas dan inisiatif-Nya sendiri, Bapa ingin membawa setiap jiwa yang terhilang itu kembali kepada-Nya, walau dengan harga yang teramat mahal, yaitu dengan tidak menyayangkan Putera tunggal-Nya yang diutus-Nya untuk turun ke dunia demi menyelamatkan manusia  (Yohanes 3:16).

     Sebagai umat tebusan Tuhan, adakah kita punya  'hati Bapa'  yang begitu mengasihi dan terbeban ketika melihat banyak orang belum diselamatkan dan tersesat di luar sana?  Banyak orang Kristen tidak mau peduli dengan keberadaan orang lain, yang dipikirkan hanyalah keselamatan diri sendiri.  Bila diminta untuk turut terlibat dalam pelayanan penginjilan, mereka menolak secara terang-terangan dengan berbagai alasan dikemukakan.  Kalau pun kita tidak bisa terjun langsung ke ladang Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa, kita bisa turut ambil bagian dengan mendukung pelayanan misi penginjilan, menjadi sponsor untuk sekolah-sekolah misi atau pos-pos PI  (Pekabaran Injil), dan lain-lain.  Rasul Paulus menasihati,  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!"  (2 Timotius 4:2, 5).

     Jangan berkata tidak bisa, sebab umat Tuhan harus turut ambil bagian dalam tugas penyelamatan jiwa-jiwa ini, karena kita adalah saksi-saksi-Nya.  "Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api."  (Yudas 1:22, 23a).  Dan  "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."  (Yohanes 4:35).

Satu jiwa saja dimenangkan, seluruh sorga akan bersorak-sorai!  Dan mahkota sudah Tuhan sediakan bagi pemenang jiwa.

Thursday, December 12, 2019

BADAI HIDUP SANGGUP TUHAN REDAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Desember 2019

Baca:  Mazmur 107:25-32

"dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang."  Mazmur 107:29

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan Mei 2019, badai siklon tropis Lili melanda wilayah pulau Timor, Nusa Tenggara Timur  (NTT), disertai gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai 6 meter.  Siklon tropis ini menimbulkan ancaman cuaca ekstrem di wilayah Indonesia Timur dan juga Timor Leste.  Terjangan badai seringkali menimbulkan ketakutan dan kepanikan semua orang karena tak seorang pun tahu kapan badai itu datang melanda.  Oleh karena itu penting sekali untuk kita punya sikap waspada dan berjaga-jaga, supaya kita memiliki kesiapan menghadapinya.

     Dalam perjalanan hidup kita mengiring Kristus pun acapkali kita harus menghadapi  'badai'.  Tak perlu kita takut dan kuatir, sebab ada Tuhan yang selalu beserta kita dan penyertaan-Nya sungguh sempurna.  Milikilah respons hati yang benar ketika badai itu datang, sebab Tuhan bisa memakai  'badai'  sebagai salah satu cara untuk mendewasakan iman kita.  Jika badai itu datang jangan lari menjauh, tapi milikilah keberanian untuk menghadapinya, seperti Daud yang tidak takut terhadap Goliat.  Selama kita tinggal dekat Tuhan, segala perkara pasti dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan  (Filipi 4:13).  Kunci untuk menang melawan badai adalah percaya kepada Tuhan.  Kalau pandangan mata kita tidak lagi tertuju kepada Tuhan, iman kita pasti goyah, seperti Petrus yang mulai takut karena merasakan tiupan angin dan akhirnya tenggelam  (Matius 14:30).  Kalau Tuhan mengijinkan badai itu terjadi, percayalah, Tuhan pasti sudah menyediakan jalan keluarnya.  Sekalipun saat ini kita masih belum melihat tanda-tanda pertolongan Tuhan, tetaplah percaya, karena kita ini hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).

     Selain itu tetaplah tenang.  Ketika murid-murid-Nya takut atau panik, Tuhan berkata,  "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"  (Matius 14:27).  Mengapa kita harus tetap tenang?  Karena dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita  (Yesaya 30:15),  "...jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7).

Sebesar apa pun badai melanda, tak perlu takut, Tuhan sanggup meredakan.

Wednesday, December 11, 2019

TUHAN TAKKAN TINGGALKAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Desember 2019

Baca:  Yohanes 14:15-31

"Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu."  Yohanes 14:18a

Ketika sedang diperhadapkan dengan pergumulan hidup yang berat, seperti menderita sakit-penyakit, pergumulan dalam hal ekonomi, seringkali kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan tak mempedulikan kita.  Ini pemikiran yang keliru!  Perlu ditegaskan kembali bahwa mengikut Kristus bukan berarti bebas dari masalah atau penderitaan.  Justru terkadang Tuhan mengijinkan semua itu terjadi dengan maksud yang indah, yaitu Ia hendak membentuk dan memurnikan kita.

     Janji firman-Nya patut kita pegang, yaitu Dia tidak akan pernah meninggalkan kita sebagai yatim piatu  (ayat nas).  Suatu jaminan yang tidak akan pernah kita peroleh dari siapa pun di dunia ini!  Biasanya banyak orang berada di dekat kita ketika kita sedang dalam keadaan suka atau senang, tapi ketika kita sedang dalam keadaan susah, terjepit, terpuruk, atau sedang berada  'di bawah', saat itu pula orang-orang beranjak pergi, menjauh dan meninggalkan.  Alkitab menyatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami di dunia ini adalah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan kita, dan Tuhan kita adalah setia, karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, dan pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya  (baca  1 Korintus 10:13).

     Karena itu kita tak perlu takut dan gentar menghadapi masalah apa pun.  Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia di zaman sekarang ini sungguh sangat mengerikan, di mana kejahatan dan kekejaman manusia semakin menjadi-jadi.  Tetapi bahaya apa pun yang kita hadapi, perbuatan jahat apa pun yang dilakukan manusia, selama kita hidup melekat kepada Tuhan dan tinggal di dalam firman-Nya, tak ada yang perlu ditakutkan.  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).  Perhatikan nasihat firman Tuhan ini:  "Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka."  (Matius 10:28).

Orang benar tidak akan pernah ditinggalkan oleh Tuhan, pemeliharaan dan perlindungan Tuhan nyata ada padanya!

Tuesday, December 10, 2019

JANGAN MENJADI PENDUSTA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Desember 2019

Baca:  1 Yohanes 2:1-6

"Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."  1 Yohanes 2:4

Kekristenan itu bukan hanya sekedar doktrin agama dengan segala kegiatannya, tetapi lebih dari itu, kekristenan adalah kebenaran dan sebuah hubungan dengan Tuhan.  Sebab itu seberapa pun aktif dan terkenalnya seseorang dalam dunia pelayanan bukan menjadi jaminan bahwa orang tersebut hidup dalam kebenaran Tuhan dan memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan.  Ada banyak orang Kristen yang hanya menjadikan pelayanan sebagai kedok dan topeng, dan tidak sedikit pula yang menjadikan pelayanan hanya sebagai rutinitas rohani, tidak lebih.  Jadi terlibat dalam pelayanan di gereja tak menjamin seseorang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

     Kristus sudah memperingatkan dengan keras bahwa bukan setiap orang yang berseru  'Tuhan... Tuhan...'  yang akan masuk dalam kerajaan-Nya, melainkan setiap orang yang melakukan kehendak-Nya, merekalah yang layak dan berhak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya  (Matius 7:21-22).  Kristus menginginkan setiap orang yang berseru kepada-Nya  'Tuhan... Tuhan...'  harus berani membayar harga, yaitu menyalibkan kedagingannya untuk taat melakukan segala perintah-Nya.  Karena itu menjadi pelaku firman adalah harga mati bagi semua pengikut Kristus, tidak bisa ditawar dan dikompromikan.  Bila orang percaya tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan, ia tidak mengenal Dia dengan benar, sebab tanda orang mengenal Tuhan adalah menuruti perintah-perintah-Nya  (1 Yohanes 2:3).  Rasul Yohanes menegaskan bahwa orang yang tidak menuruti perintah Tuhan disebut pendusta  (ayat nas).

     Maukah kita ini disebut pendusta?  Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa Iblis adalah bapa segala dusta  (Yohanes 8:44).  Di dalam Kerajaan Sorga tidak ada tempat bagi pendusta, seperti tertulis:  "...orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."  (Wahyu 21:8).

Orang percaya wajib hidup sama seperti Kristus hidup, jangan jadi pendusta.

Monday, December 9, 2019

JANGAN SAMPAI DITOLAK TUHAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Desember 2019

Baca:  Mazmur 27:1-14

"Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!"  Mazmur 27:9

Menjadi orang yang tertolak sangat menyakitkan dan bisa menimbulkan luka-luka batin yang teramat dalam.  Seorang anak yang mengalami penolakan dari orangtuanya pasti hatinya terluka dan luka itu akan terus membekas di sepanjang hidup.  Seorang pemuda/pemudi yang mengalami penolakan cinta dari sang pacar pasti akan frustasi;  seseorang menjadi kecewa ketika lamaran kerjanya ditolak oleh perusahaan.  Semua jenis penolakan itu selalu berdampak buruk bagi kehidupan orang.

     Kata ditolak ini mengandung pengertian yang sama dengan  'adokimos'  (bahasa Gerika)  yang artinya tidak memenuhi standar yang ditetapkan atau gagal dalam menghadapi ujian.  Itulah yang menjadi pergumulan hidup Daud!  Hal utama yang menjadi ketakutan Daud adalah jika dirinya ditolak oleh Tuhan.  Ia tak ingin ditolak atau dibuang oleh Tuhan.  Ditolak Tuhan berarti bencana besar bagi seseorang!  Alkitab banyak mencatat tentang kehidupan orang-orang yang ditolak Tuhan, yang hidupnya harus berakhir dengan kehancuran.  Orang-orang di zaman Nuh ditolak Tuhan karena kejahatan mereka sehingga Tuhan membinasakan mereka dengan air bah, hanya Nuh sekeluarga yang luput dari bencana itu  (Kejadian 6:5-8);  Penduduk Sodom dan Gomora dibumihangungskan oleh Tuhan dengan api dan belerang, mereka mengalami penolakan dari Tuhan karena kebejatan moral dan dosanya yang besar  (Kejadian 19);  Saul juga ditolak menjadi raja oleh Tuhan karena ketidaktaatannya.  Akibatnya?  "TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu."  (1 Samuel 15:28).

     Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Kristus jangan sampai kita menyia-nyiakan keselamatan itu, melainkan kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12)  sampai akhir hidup kita.  Banyak orang Kristen yang menyerah di tengah jalan hanya karena tak tahan dengan masalah atau penderitaan yang kita alami di dunia ini, bahkan rela lepaskan kepercayaannya demi dunia.

Ditolak oleh Tuhan berarti mengalami kebinasaan kekal!

Sunday, December 8, 2019

MENGENAL TUHAN: Karib dan Taat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Desember 2019

Baca:  1 Yohanes 2:1-6

"Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya."  1 Yohanes 2:3

Untuk dapat mengenal Tuhan kita harus memiliki hubungan yang dekat atau bergaul karib dengan Dia setiap saat sebagaimana yang Nuh perbuat, sehingga ia disebut sahabat Tuhan.  Dalam firman-Nya Tuhan berkata,  "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu."  (Yohanes 15:14).  Jangan berbangga diri dulu dengan mengatakan bahwa kita sudah mengenal Tuhan bila kita tidak menuruti perintah-perintah-Nya, sebab ada tertulis:  "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"  (Matius 7:22-23).

     Nabi Yeremia memperingatkan agar orang bijaksana jangan bermegah karena kebijaksanaannya, orang yang kuat jangan bermegah karena kekuatannya dan orang yang kaya jangan bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang bermegah hendaknya mereka bermegah karena telah memahami dan mengenal Tuhan dengan benar  (Yeremia 9:23-24).  Bagaimana caranya?  Selain membangun persekutuan yang karib, kita dapat mengenal Tuhan melalui kebenaran firman-Nya.  Karena itu sediakanlah waktu untuk membaca, meneliti dan merenungkan firman-Nya siang dan malam.  Daud menyatakan bahwa firman Tuhan itu  "...sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya....lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah."  (Mazmur 19:8, 9, 11).

     Kerja keras dan komitmen yang kuat dibutuhkan untuk dapat mengenal Tuhan dengan benar.  Sudahkah kita bergaul karib dengan Tuhan dan senantiasa menyediakan waktu untuk merenungkan firman-Nya siang dan malam?

Yang mengasihi Tuhan dan taat kepada-Nya pasti dikenal oleh Tuhan  (1 Korintus 8:3).

Saturday, December 7, 2019

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Tertib

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Desember 2019

Baca:  2 Tesalonika 3:1-15

"Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna."  2 Tesalonika 3:11

Seorang olahragawan yang menjalani hidup dengan tidak tertib pasti tidak akan mampu meraih prestasi yang maksimal.  Contoh ketidaktertiban olahragawan:  berlatih asal-asalan, makan makanan sembarangan, tidak patuh pada instruksi pelatih, suka bergadang dan sebagainya.  Ada harga yang harus dibayar untuk bisa berprestasi, yaitu hidup tertib.  Semua orang sukses di dunia ini juga demikian!  Hari-harinya tidak pernah diisi dengan hal-hal yang tidak berguna, hidup mereka sangatlah tertib.  Itulah sebabnya mereka menjadi orang-orang yang berhasil.

     Secara umum arti kata  'tertib'  adalah teratur;  menurut aturan; rapi, sopan, dengan sepatutnya.  Memiliki kehidupan yang tertib adalah mutlak bagi orang percaya.  Untuk itulah rasul Paulus memperingatkan orang-orang di Tesalonika yang menjalani hidup dengan tidak tertib dan hanya disibukkan dengan hal-hal yang tidak berguna.  Ketidaktertiban pasti akan menimbulkan kekacauan, padahal Tuhan tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera  (1 Korintus 14:33).  Orang percaya yang menjalani hidup dengan sangat tidak tertib, keberadaannya hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan secara otomatis kehidupan yang demikian sangat mempermalukan nama Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa tubuh kita ini adalah bait-Nya Roh Kudus  (1 Korintus 3:16), tempat di mana Roh Kudus berdiam.  Oleh karena itu kita tidak boleh hidup dengan sembarangan atau sembrono.  Kalau kita berlaku sembarangan, sembrono, alias tidak tertib, kita akan mendukakan Roh Kudus yang ada di dalam kita  (Efesus 4:30).  Cepat atau lambat Roh Kudus akan meninggalkan kita.

     Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).  Bila ada seorang percaya yang hidup tidak tertib berarti ia tidak hidup menurut pimpinan Roh Kudus.  Masih banyak orang Kristen yang sekalipun sudah terlibat dalam pelayanan, hidupnya sangat tidak tertib.  Jika demikian tidaklah mengherankan bila pelayanan yang dilakukan tak membawa dampak apa-apa.

Hidup tertib adalah hidup menurut pimpinan Roh Kudus dan memuliakan Tuhan!

Friday, December 6, 2019

MASIH MENOLEH KE BELAKANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Desember 2019

Baca:  Lukas 9:57-62

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."  Lukas 9:62

Ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir mereka tidak secara langsung masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan  (Kanaan), melainkan mereka harus melewati proses yang cukup panjang di padang gurun yang penuh dengan tantangan.  Dalam perjalanan ini mereka tak henti-hentinya mengeluh dan bersungut-sungut, karena yang terbayang di pikiran mereka hanyalah masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dirasa lebih besar dari sebelumnya.  Karena itu mereka selalu teringat kepada kehidupan lama di Mesir.

     Kemarahan dan kekecewaan ditumpahkan kepada Musa, yang memimpin mereka keluar dari Mesir, dengan mengungkit-ungkit dan membanding-bandingkan kehidupan di Mesir:  "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."  (Keluaran 14:11-12).  Sikap yang sama ditunjukkan oleh banyak orang Kristen!  Mereka tidak menyadari bahwa diselamatkan melalui pengorbanan Kristus berarti kehidupan lama kita telah dikubur bersama dengan kematian-Nya, dan hidup kita sekarang adalah  'hidup baru'  di dalam Dia.  Segala sesuatu yang ada di belakang harus benar-benar ditinggalkan dan tak perlu kita menoleh ke belakang lagi, karena siapa saja yang masih  'menoleh ke belakang'  ia tidak layak bagi Kerajaan Sorga.  Menoleh ke belakang berarti masih enggan menanggalkan kehidupan manusia lama.

     Yang Tuhan kehendaki adalah kita hidup dalam pertobatan sejati.  Bagaimana caranya?  Hidup di dalam ketaatan penuh.  Iblis seringkali menggunakan pikiran kita agar kita selalu mengingat-ingat dosa kita di masa lalu, supaya kita menjadi lemah dan kembali jatuh di dalamnya.  Rasul Paulus memberi teladan bagaimana kita harus melupakan semua yang ada di belakang dan mengarahkan diri pada apa yang ada di depan  (Filipi 3:13b).

Tinggalkan semua dosa, fokuslah kepada kehendak Tuhan, supaya kita layak masuk ke dalam kerajaan-Nya!

Thursday, December 5, 2019

BERDOA DALAM NAMA YESUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Desember 2019

Baca:  Yohanes 14:1-14

"dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak."  Yohanes 14:13

Kita seringkali salah dalam menerapkan ayat nas ini, menganggap bahwa asal saja mengatakan  'dalam nama Tuhan Yesus' di setiap akhir doa, Tuhan pasti akan mengabulkan dan menjawab semua permohonan, alias doa kita akan dikabulkan.  Jika demikian hal itu sama seperti kita menjadikan nama Tuhan Yesus sebagai sebuah mantera yang berkhasiat, di mana ketika dalam keadaan terjepit atau saat butuh, kita tinggal menyebut atau memanggil nama Tuhan Yesus, maka semua akan beres.

     Tuhan Yesus berkata,  "Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."  (Yohanes 14:14).  Jadi, berdoa dalam nama Tuhan Yesus berarti kita berdoa dengan otoritas-Nya.  Mengapa?  Karena nama Tuhan Yesus adalah nama di atas segala nama!  Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, rasul Paulus menyatakan bahwa Bapa di sorga sangat meninggikan Tuhan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Tuhan Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi  (Filipi 2:9-10).  Nama Tuhan Yesus benar-benar berkuasa di segala aspek kehidupan, sebab  "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi."  (Matius 28:18):  Keadaan, situasi, masalah, roh jahat, malaikat, tunduk kepada nama-Nya, bahkan  "...namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."  (Yesaya 9:5).

     Berdoa dalam nama Yesus berarti kita berdoa sesuai dengan kehendak Bapa.  "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya."  (1 Yohanes 5:14-15).  Tuhan Yesus berkata,  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).  Bagi Tuhan Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah yang terutama dalam hidup-Nya.  Bagaimana dengan Saudara?

Ingin mengalami kedahsyatan kuasa nama Tuhan Yesus?  Berdoalah dalam nama-Nya dengan iman dan hiduplah seturut kehendak-Nya!

Wednesday, December 4, 2019

TUHAN SUMBER KESELAMATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Desember 2019

Baca:  Mazmur 27:1-14

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?"  Mazmur 27:1

Orang yang pernah ditolong Tuhan, mengalami kebaikan Tuhan, diluputkan Tuhan dari musibah atau kesulitan, yang pernah diterangi hatinya oleh firman Tuhan, dan merasakan jamahan kuasa Roh Kudus, pasti akan berkata bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber keselamatan bagi hidupnya, karena dia mengerti benar bahwa yang sanggup menolong dan menyelamatkan hidupnya bukanlah denominasi gereja tertentu, bukan pendeta, bukan pastor, bukan doktrin, bukan aturan-aturan agama, tetapi hanya Tuhan saja.

     Pengalaman hidup yang luar biasa bersama Tuhanlah yang membuat pemazmur  (bani Asaf)  bisa berkata,  "Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya."  (Mazmur 73:26).  Dalam hal ini pemazmur tidak sekedar berbicara atau asal bicara, tetapi ia punya alasan yang kuat:  "Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan."  (Mazmur 73:21-24).  Tak ada pertolongan dan keselamatan selain daripada Tuhan.  Karena itu tak ada yang lain yang mereka ingini selain hanya Tuhan.  "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi." (Mazmur 73:25).

     Hari-hari manusia di dunia selalu dibayang-bayangi ketidakpastian, ketakutan, kecemasan, kekuatiran.  Tetapi bila kita suka dekat pada Tuhan, ada perlindungan dan keselamatan.  Pemazmur, yang sekalipun diperhadapkan dengan masalah dan penderitaan yang berat, imannya tetap teguh, karena ia percaya kalau dulu Tuhan tolong, sekarang dan esok pun Tuhan pasti akan tolong, karena Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan yang tidak pernah berubah.  Karena itu tak perlu terpengaruh oleh situasi atau keadaan yang hanya akan membuat hati kita menjadi tawar.  Sebaliknya arahkan pandangan kepada Tuhan, maka iman kita akan bangkit, sebab kita tahu pertolongan-Nya selalu tepat waktu.

"Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku," Mazmur 18:36

Tuesday, December 3, 2019

HIDUP TIDAK BERGANTUNG PADA HARTA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Desember 2019

Baca:  Lukas 12:13-21

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."  Lukas 12:15

Banyak orang yang menjadikan uang atau harta kekayan sebagai andalan dalam hidupnya.  Pikirnya dengan memiliki uang atau harta kekayaan yang berlimpah, mereka bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan, bisa membeli apa saja yang mereka mau.  Itulah sebabnya tak mudah bagi orang kaya punya kerendahan hati, karena mereka masih menjadikan uang atau harta sebagai ukuran gengsi, kedudukan, dan sosial ekonomi.  Mereka lupa bahwa tidak semua bisa dibeli dengan uang.  Kesehatan, umur panjang, damai sejahtera, keamanan, kebahagiaan, apalagi keselamatan jiwa kita, tak bisa dibeli dengan uang sebesar apa pun.  Buktinya?  Ada orang kaya tapi sakit-sakitan atau mati usia muda;  ada orang kaya tapi rumah tangganya tidak bahagia;  ada orang kaya tapi selalu diliputi rasa cemas, was-was dan kuatir karena takut uang atau hartanya dirampok atau dicuri.

     Karena itu rasul Paulus meminta Timotius untuk memperingatkan orang kaya agar jangan tinggi hati dan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan  (1 Timotius 6:17).  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menaruh hati kepada harta,  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21), dan  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya."  (Matius 6:19).  Tidaklah salah memiliki uang yang banyak atau harta yang melimpah, tapi jangan sampai membuat kita lupa segala-galanya:  melupakan Tuhan dan menganggap remeh perkara rohani.

     Kita harus ingat bahwa hidup manusia tidak tergantung pada harta kekayaan!  Ada tertulis:  "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."  (Lukas 12:20-21).  Pada saat manusia dipanggil pulang oleh Tuhan  (meninggal), tak sepeser uang pun atau harta kekayaan yang dibawa.  Camkan itu!

"...celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu."  Lukas 6:24

Monday, December 2, 2019

OTORITAS TUHAN SEPENUHNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Desember 2019

Baca:  Roma 9:15-29

"Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?"  Roma 9:21

Kerap timbul pertanyaan di dalam hati kita mengapa Tuhan seringkali memakai orang-orang dengan latar belakang hidup buruk untuk dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya.  Ada bekas narapidana, dukun, pelacur, pejudi atau peminum yang mengalami jamahan tangan Tuhan, lalu menjadi hamba-hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa.  Apakah tidak ada orang baik yang layak menjadi hamba Tuhan?  Di sinilah kita melihat keajaiban dan kebesaran tangan Tuhan yang penuh kuasa, yang sanggup mengubah hidup seseorang.

     Tidak ada seorang pun yang bisa memahami jalan dan cara Tuhan dalam memilih hamba-hamba-Nya!  Pilihan manusia selalu berdasar pada apa yang terlihat secara kasat mata.  Ini bertolak belakang dengan cara pandang Tuhan, yang melihat sampai ke lubuk hati manusia.  "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).  Kita pasti terheran-heran bagaimana Tuhan memilih dan mengurapi Daud untuk menjadi raja  (1 Samuel 16:1-13).  Bukankah kakak-kakak Daud jauh lebih gagah dan lebih layak menjadi raja menurut penilaian manusia?  Bahkan ketika Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel,  "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."  (1 Samuel 16:10).  Justru yang dipilih Tuhan adalah Daud yang sedang menggembalakan kambing domba.  Ketika Daud datang, berfirmanlah Tuhan kepada Samuel,  "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."  (1 Samuel 16:12).

     Begitu juga dipilihnya Saulus menjadi hamba Tuhan secara manusia tidak masuk akal, sebab ia adalah penganiaya jemaat dan turut berperan dalam kematian Stefanus.  Tetapi Tuhan berfirman kepada Ananias,  "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel."  (Kisah 9:15).

Hanya Tuhanlah yang punya hak untuk memilih dan menentukan seseorang untuk dipakai-Nya!