Saturday, November 9, 2019

DALAM KELEMAHAN KUASA TUHAN NYATA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 November 2019

Baca: Yeremia 1:4-19

"Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."  Yeremia 1:6

Pada awalnya Yeremia adalah orang yang tidak percaya akan kemampuan dirinya, tak jauh berbeda dengan Musa.  Hal itu terlihat dari responsnya terhadap panggilan Tuhan, dimana ia menolak panggilan Tuhan itu dengan alasan:  "...aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."  (ayat nas).  Yeremia merasa tidak mampu, tidak fasih bicara, karena usianya masih teramat mudan dan belum berpengalaman.  

     Dalam pelayanannya Yeremia dikenal sebagai nabi peratap, yaitu nabi yang banyak menangis.  Hatinya lembut, penuh kasih dan mudah sekali tersentuh ketika melihat penderitaan umat.  Itulah sebabnya Yeremia merasa tidak sanggup untuk menjadi penyambung lidah Tuhan, yang terkadang harus berbicara keras dan tegas dalam menegur umat Israel karena dosa-dosa yang diperbuatnya.  Dalam benak Yeremia:  "Sanggupkah aku menyatakan kehendak Tuhan di hadapan umat Israel yang dikenal tegar tengkuk itu?"  Keraguan dan ketidakmampuan membayangi langkahnya.  Pernyataan Yeremia ini bukan berarti ia tidak bersedia melaksanakan tugas dari Tuhan, tapi merupakan sebuah pengakuan jujur bahwa ia mempunyai banyak kelemahan.  Tuhan tahu akan hal itu, maka berfirmanlah Ia,  "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,..."  (Yeremia 1:7-8).

     Yang Tuhan cari dalam diri Yeremia hanyalah hati seorang hamba, yang bersedia dan rela untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya.  Segala kelemahan dan kekurangan yang Yeremia ungkapkan bukanlah halangan bagi Tuhan untuk memakai hidupnya.  Hanya dengan jamahan tangan Tuhan segala kelemahan dan kekurangan dapat teratasi,  "...TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: 'Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.'"  (Yeremia 1:9).  Tuhan tahu bagaimana mengajar, memperlengkapi, dan memampukan kita.  Jangan jadikan  'kelemahan/kekurangan'  sebagai alasan untuk lari dari panggilan-Nya.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."  2 Korintus 12:9

Friday, November 8, 2019

MEMPERHATIKAN PERINGATAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 November 2019

Baca:  Filipi 2:1-11

"...janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."  Filipi 2:4

Alkitab menegaskan bahwa di masa-masa akhir ini manusia memiliki kecenderungan untuk mementingkan dirinya sendiri,  "...karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."  (Matius 24:12).  Kini fokus hidup manusia adalah berlomba-lomba mencari kekayaan untuk diri sendiri, mencari  'nama'  untuk diri sendiri, tak lagi peduli dengan orang lain, dan bahkan tidak lagi memperhatikan aturan atau hukum.  Kepentingan diri sendiri atau golongan sendiri saja yang diutamakan dan dikedepankan.  Hidup dalam kasih tak lagi ada dalam kamus hidup manusia masa kini!

     Rasul Paulus menasihati,  "...hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."  (Filipi 2:3b, 4).  Tetapi sayang, banyak orang tak mau memperhatikan nasihat, teguran dan peringatan firman Tuhan, padahal  "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran ... membawa kepada kehidupan..."  (Amsal 15:31).  Demi mendapatkan apa yang diinginkan, mereka tidak lagi punya rasa segan, segala cara ditempuhnya... sekalipun merugikan orang lain, mereka tak ambil pusing.  Mereka berdalih bahwa hidup di zaman yang  'gila'  seperti sekarang ini kalau tidak mengikuti tren atau cara hidup orang dunia akan sulit berhasil, karena persaingan kerja dan bisnis semakin hari semakin ketat.  Jika ada orang lain yang berani menyuap oknum pejabat sebagai pelicin dan akhirnya bisnisnya berjalan lancar, mengapa kita tidak menempuh cara yang sama? 

     Firman Tuhan berkata,  "Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar."  (Keluaran 23:8).  Tuhan sangat membenci perbuatan yang demikian,  "Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang."  (Amos 5:12).

Mengorbankan orang lain demi keuntungan diri sendiri dan menempuh jalan pintas adalah dosa besar!

Thursday, November 7, 2019

TERLALU PERCAYA DIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 November 2019

Baca:  Matius 26:30-35

"Petrus menjawab-Nya: 'Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.'"  Matius 26:33

Punya rasa percaya diri adalah sangat baik, karena itu merupakan salah satu modal penting untuk meraih keberhasilan.  Namun, bila rasa percaya diri itu sangat berlebihan atau over confidence, justru sangatlah tidak baik, karena selain dapat merugikan diri sendiri, juga dapat merugikan orang lain.  Dalam kehidupan rohani penting sekali kita punya rasa percaya diri, artinya punya prinsip yang kokoh dalam mengiring Kristus.  Jika tidak, kita akan mudah sekali disesatkan oleh ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil.  Sering dijumpai ada banyak orang Kristen yang over confidence dengan kehidupan rohaninya.  Ini sangat berbahaya, karena ini bisa mengarah kepada kesombongan rohani.

     Petrus, salah seorang murid Kristus, yang awalnya begitu menggebu-gebu serasa rela berkorban bagi Sang Guru, justru meninggalkan Kristus di saat krusial menjelang penyaliban-Nya.  Sesungguhnya Kristus sudah memperingatkan,  "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai."  (Markus 14:27).  Petrus merespons pernyataan Kristus ini dengan penuh percaya diri,  "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."  (ayat nas).  Namun, Kristus tahu apa yang terjadi di depan,  "...pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali. Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: 'Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.'"  (Markus 14:30-31).

     Pernyataan Petrus ini sepertinya menunjukkan bahwa ia begitu  'rohani', punya iman yang luar biasa, dan pendirian yang kokoh.  Tetapi sesungguhnya apa yang Petrus katakan ini menunjukkan rasa percaya diri yang terlalu berlebihan, dan sesungguhnya ia sedang menonjolkan  'keakuannya', bukan menaruh keyakinan kepada Tuhan tetapi pada kekuatan dan akalnya sendiri.  Banyak orang Kristen yang punya sikap seperti Petrus ini, penuh percaya diri berjanji akan mengiring Kristus dan melayani Dia, apa pun yang terjadi.  Ketika ada ujian dan masalah sedikit saja mereka sudah meninggalkan ibadah dan tak lagi semangat melayani Tuhan.

Terlalu percaya diri adalah awal kesombongan!  Sombong itu awal kehancuran!

Wednesday, November 6, 2019

JADILAH SAKSI YANG BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2019

Baca:  1 Petrus 2:11-17

"Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka."  1 Petrus 2:12

Sekalipun berada di tengah-tengah dunia yang begitu rusak, orang percaya dituntut untuk tetap memiliki cara hidup yang baik yang sesuai dengan kehendak Tuhan.  Itulah cara untuk kita bisa menjadi saksi yang benar.  Jangan sampai kita yang sudah menyandang status  'anak Tuhan'  punya cara hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.  Bila perbuatan dan tingkah laku kita tidak jauh berbeda dengan orang dunia, mustahil kita dapat menjadi saksi Kristus yang benar.  Sebaliknya, kita malah akan menjadi batu sandungan bagi mereka dan mereka pun akan menertawakan kita.

     Kita diselamatkan Tuhan dengan tujuan supaya kita memberitakan perbuatan Tuhan dan menjadi saksi-Nya yang baik.  Untuk menjadi saksi Kristus, tidak ada jalan lain selain harus berani membuang segala sesuatu yang  'lama'  dalam hidup ini, walaupun mungkin yang lama itu menyenangkan daging.  Inilah harga yang harus dibayar!  Jadi, kita harus berani bertindak untuk membereskan semua yang tidak berkenan pada Tuhan, tanpa terkecuali, dan kembali kepada prinsip Alkitab.  Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa kita telah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Bapa  (Kolose 3:3),  "...Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."  (Kolose 2:6-7), sebab  "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa."  (Kolose 1:13-14).

     Membuang segala hal yang disukai bukan perkara gampang, tetapi bila kasih Kristus telah sepenuhnya menguasai hidup kita, tidak ada penderitaan seberat apa pun yang dapat menghalangi kita untuk maju bersama Kristus.  Inilah yang dialami Paulus, yang tidak hanya bisa berbicara, tetapi hidupnya benar-benar menjadi saksi Kristus. 

Tanpa memiliki kesaksian hidup, kita hanya akan menjadi batu sandungan!

Tuesday, November 5, 2019

TINDAKAN IMAN: Kunci Pemulihan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 November 2019

Baca:  Markus 5:25-34Lukas 17:11-19

"Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  Markus 5:28

Tuhan tahu benar bahwa manusia adalah lemah,  "Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."  (Mazmur 103:14).  Manusia, sekuat apa pun jasmaninya, sepintar apa pun otaknya, tetaplah terbatas.  Maka dari itu Tuhan sendirilah yang menyediakan pemulihan bagi segala persoalan yang manusia hadapi.  Hanya satu syarat yang Tuhan tuntut dalam diri manusia, yaitu mengimani dan menaati firman-Nya.

  Ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  Ia sudah mendengar berita-berita tentang Kristus dengan segala hal yang diperbuat-Nya;  timbullah imannya, sehingga ia berani berkata,  "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  (ayat nas).  Karena tindakan imannya ini perempuan itu pun sembuh total dari sakit pendarahannya.  Begitu juga tentang kisah sepuluh orang kusta:  "Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: '...Guru, kasihanilah kami!' Lalu Ia memandang mereka dan berkata: 'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.' Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."  (Lukas 17:12-14).  Mengapa Kristus tidak terlebih dahulu berkata kepada sepuluh orang kusta itu,  "Sembuhlah engkau",  melainkan langsung menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada para imam, padahal mereka belum mengalami jamahan tangan-Nya?  Di sinilah tantangannya!  Kristus tahu benar bahwa mereka perlu bertindak dengan iman, artinya mereka mau taat akan apa yang diperintahkan-Nya.  Alkitab tidak mencatat bahwa orang-orang kusta itu bertanya terlebih dahulu kepada Kristus bagaimana mereka bisa menghadapi imam-imam, padahal mereka belum sembuh... sebaliknya mereka bertindak dan berjalan menghadap imam-imam, mereka taat akan perintah Tuhan, sehingga  "sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."  (Lukas 17:14b).

     Kita patut meneladani sikap yang diperbuat oleh perempuan yang sakit pendarahan dan juga orang-orang kusta itu, yang bertindak dengan iman.  Karena tindakan imannya tersebut mereka mengalami kesembuhan dan pemulihan dari Tuhan.

Tuhan telah menyediakan berkat kesembuhan dan pemulihan, yang perlu kita lakukan adalah mengaktifkan iman dengan tindakan dan taat akan perintah-Nya!

Monday, November 4, 2019

TINGGALKAN KEHIDUPAN DUNIAWI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 November 2019

Baca:  2 Korintus 6:11-18

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"  2 Korintus 6:14

Dunia dengan segala gemerlap dan kemegahannya seringkali menjadi  'magnet'  bagi banyak orang untuk datang mendekat.  Semakin kita mendekat kepada dunia dan mengasihinya, semakin hilang kasih kita kepada Tuhan.  Karena itu firman Tuhan memperingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan yang duniawi.  Hanya dengan cara itu kita dapat berkenan kepada Tuhan.  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).

     Kita tidak boleh bersahabat dengan dunia, sebab cara hidup dunia sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Jadi, bukan tanpa tujuan bila Tuhan memerintahkan Abraham dan keluarganya untuk meninggalkan Ur Kasdim  (Kejadian 11:31);  Lot dan keluarganya diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan Sodom dan Gomora  (Kejadian 19);  begitu juga bangsa Israel diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan Mesir  (Keluaran 12:51).  Sodom dan Gomora adalah lambang kebejatan moral manusia;  Ur Kasdim dan Mesir adalah lambang kehidupan dunia.  Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dengan Anak Domba Paskah.  Setiap anak sulung di Mesir akan dibunuh malaikat Tuhan, tetapi bila malaikat melihat darah teroles di ambang pintu, malaikat pemusnah itu akan melewatinya dan kematian terhindar.  Keselamatan mutlak karena darah Anak Domba.  "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).

     Setiap kita yang sudah menerima keselamatan dari Tuhan harus keluar dari Mesir.  Sayang masih banyak umat Tuhan, yang sekalipun sudah berada di luar Mesir, masih saja menjamah yang  'najis', yang menjadi kebencian Tuhan.

"Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis!"  Yesaya 52:11a

Sunday, November 3, 2019

MENGERTI KEBENARAN FIRMAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 November 2019

Baca:  Roma 1:16-17

"Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.'"  (Roma 1:17).

Adalah penting sekali untuk kita memiliki pemahaman yang benar akan Injil.  Bila kita tidak memiliki pemahaman yang benar, kita akan mudah sekali diombang-ambingkan  "...oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,"  (Efesus 4:14).  Tanpa pemahaman yang benar tentu akan timbul penafsiran-penafsiran yang dapat meresahkan dan menggoyahkan iman.

     Setiap firman Tuhan yang tertulis dalam Injil bukan untuk ditafsirkan dengan sembarangan dengan mengandalkan otak dan kepintaran kita, melainkan untuk dipercayai.  Jadi, siapa pun yang sungguh-sungguh percaya dan yakin akan kebenaran firman Tuhan pasti selamat, sebab setiap firman yang tertulis dalam Injil itu akan menuntun orang kepada jalan keselamatan.  Orang dapat saja mendengar berita Injil berkali-kali, tetapi bila ia tidak percaya dan tidak mau melakukan yang Tuhan perintahkan lewat firman-Nya tidak akan pernah menerima keselamatan.  Karena itu  "...hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."  (Yakobus 1:22).  Seorang yang memiliki pemahaman yang benar terhadap Injil akan melandaskan hidupnya pada kebenaran firman Tuhan.  Pemahaman yang benar ini sangatlah penting, sebab dengan demikian orang akan selalu mengakui dan memercayai bahwa firman Tuhan itu bukan perkataan manusia, melainkan perkataan Tuhan sendiri:  "Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya."  (1 Tesalonika 2:13).

     Injil dapat menyelamatkan orang percaya, karena Injil yang memimpin kita untuk berjalan dalam kebenaran Tuhan, asalkan kita mau taat melakukan aturan-aturan yang tertulis di dalam Injil yaitu firman Tuhan dan memercayainya, sebab Injil adalah kekuatan Tuhan yang menyelamatkan setiap orang yang percaya  (Roma 1:16a).

Injil itu bukan buah pikiran atau karangan manusia, melainkan perkataan Tuhan yang penuh kuasa dan sanggup menyelamatkan orang yang percaya!

Saturday, November 2, 2019

PERHATIKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 November 2019

Baca:  Matius 6:1-4

"Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."  Matius 6:3

Ada satu hukum Tuhan yang jika diperhatikan sepertinya tampak sepele, namun sangatlah penting, yaitu tentang memberi dengan diam-diam.  Artinya jika kita memberi kepada seseorang janganlah ada orang lain yang tahu, sebab sudah menjadi sifat manusia bahwa orang selalu ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain, yang mana sampai detik ini hal semacam ini selalu ada.  Persoalannya:  kita mau menaati perkataan Tuhan atau tidak.  Yang jelas Tuhan tidak suka pada orang yang memberi dengan disertai tendensi atau maksud terselubung, yaitu ingin dikenal dan dipuji orang.

     Tuhan berkata,  "...apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya."  (Matius 6:2).  Memang, jika ingin dipuji orang karena pemberian kita, maka upah kita hanyalah sebatas pujian itu, tetapi jika kita memberi secara diam-diam sesuai dengan firman Tuhan, Bapa yang di sorga akan membalasnya.  Karena itu  "Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."  (Matius 6:4).  Dan tentu saja di dalam memberi, kita harus memberi dengan bijaksana dan mohon hikmat dari Roh Kudus, supaya pemberian kita sampai pada sasaran yang tepat.

     Demikian juga Tuhan mengajar kita untuk benar-benar bersandar dan berharap hanya kepada-Nya saja, sebagai satu-satunya penolong dan sumber berkat dalam hidup ini.  Tidak perlu kita berusaha dengan akal untuk mencari atau mendapatkan pertolongan dari manusia, karena dengan berdoa dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan, Tuhan akan membukakan semua saluran berkat bagi kita.  Tuhan sudah memberikan kunci untuk mengalami berkat-berkat-Nya yaitu mengutamakan dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup kita  (Matius 6:33).  Firman Tuhan kelihatannya sangat sederhana, tapi mendatangkan berkat yang luar biasa bagi setiap orang yang mau memraktekkannya  (taat). 

Memberi dengan motivasi benar pasti mendapatkan balasan dari Tuhan!

Friday, November 1, 2019

SEDIAKAN WAKTUMU UNTUK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 November 2019

Baca:  1 Petrus 4:7-11

"Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  1 Petrus 4:7

Di zaman sekarang ini semua orang tampak sibuk dengan aktivitas sehari-hari, serasa berkejar-kejaran dengan waktu.  Bangun pagi sudah disuguhi agenda kerja yang teramat padat di hari itu.  Semua dikerjakan serba terburu!  Makan terburu-buru, berangkat ke kantor/sekolah/kampus terburu-buru karena jalanan macet, berdoa terburu, baca Alkitab terburu.  Waktu 24 jam sehari serasa tidak pernah cukup.  Keadaan yang demikian ini sudah pasti membuat orang tidak bisa tenang.  Alhasil keadaan yang demikian akan mempengaruhi hidup kerohanian kita.

     Bila kita mengerjakan segala sesuatu dengan terburu-buru, kapan kita punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dalam arti yang sebenarnya?  Kapan kita punya waktu untuk membaca, meneliti dan merenungkan firman Tuhan?  Jangan sampai karena terjebak dengan kesibukan sehari-hari lalu kita mengesampingkan perkara-perkara rohani.  Adalah penting sekali kita menyediakan waktu secara khusus untuk Tuhan setiap hari.  Tuhan bertanya,  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"  (Matius 26:40b).  Satu jam saja, melepaskan diri dari kesibukan, untuk bersaat teduh, duduk diam di bawah kaki Kristus:  berdoa dan mendengar suara-Nya, tak mudah dilakukan oleh banyak orang Kristen.  Rasul Petrus mengingatkan,  "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (ayat nas).  Daud, sebagai seorang raja, pasti sibuk sekali mengatur pemerintahannya, ia pun pernah mengalami ketakutan dan kekuatiran, tapi ia tidak pernah melupakan pertolongan dan kebaikan Tuhan.  Karena itu ia paksa jiwanya untuk kembali tenang,  "Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu."  (Mazmur 116:7).  Di dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan  (Yesaya 30:15).

     Untuk dapat melihat kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidup ini kita harus bersikap tenang.  Ketenangan akan dapat kita miliki bila kita dapat berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Hanya dekat Tuhan saja kita akan merasa tenang  (Mazmur 62:2).

Dengan keyakinan penuh akan pertolongan-Nya kita akan tetap tenang, seburuk apa pun keadaan yang sedang kita hadapi!

Thursday, October 31, 2019

HAUS DAN LAPAR: Dipuaskan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Oktober 2019

Baca:  Mazmur 107:1-9

"sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan."  Mazmur 107:9

Banyak orang berlimpah harta duniawi tapi tidak merasakan kepuasan dan kebahagiaan hidup sejati.  Mengapa?  Karena hati dan pikirannya hanya tertuju kepada perkara duniawi, yang sampai kapan pun takkan pernah memberi kepuasan, sedangkan perkara-perkara rohani mereka abaikan.  "...mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air."  (Yeremia 2:13), serta  "...kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!"  (Yesaya 55:2-3a).  Mereka melupakan Tuhan dan bahkan dengan sengaja melupakan Tuhan, yang adalah Sumber Air Hidup dan Roti Kehidupan itu.

     Tuhan menegaskan bahwa orang-orang yang tidak memiliki rasa lapar dan haus akan kebenaran tidak akan mendapatkan kepuasan  (Matius 5:6).  Jadi syarat mendasar untuk mengalami kepuasan hidup adalah punya rasa lapar dan haus akan kebenaran.  Jika orang tidak punya rasa lapar dan haus akan kebenaran, sampai kapan pun ia tidak akan pernah mendahulukan Kerajaan Sorga dan kebenarannya.  Padahal jelas dikatakan bahwa  "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya."  (Yesaya 32:17).

     Akibat rasa lapar dan haus akan kebenaran, orang akan dipuaskan hidupnya oleh Tuhan.  Kata  'dipuaskan'  di sini menunjukkan kata kerja pasif yang artinya bahwa tindakan untuk memuaskan ini bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan dikerjakan oleh pihak lain terhadap kita.  Bagian Tuhan adalah memberikan kepuasan penuh kepada orang-orang yang takut kepada-Nya, sedangkan bagian kita adalah hidup takut akan Tuhan, serta mencari dan merindukan Dia senantiasa.  Ada tertulis:  "...Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik."  (Mazmur 32:11).

Milikilah rasa haus dan lapar akan Tuhan dan kebenaran-Nya,  "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah."  Mazmur 42:2