Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Agustus 2019
Baca: Yesaya 40:25-31
"tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru:
mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi
lelah." Yesaya 40:31
Sudah menjadi rahasia umum bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Kalau kita punya kesibukan atau ada sesuatu yang dikerjakan rasanya waktu berjalan sangat cepat, tetapi kalau kita menunggu tanpa ada sesuatu yang dikerjakan, walaupun kita tahu bahwa yang kita tunggu itu pasti datang, akan terasa lama dan sangat membosankan. Dalam situasi ini kita gampang sekali berubah sikap: menggerutu, mengeluh, bersungut-sungut karena tak sabar.
Hal ini juga terjadi dalam kehidupan doa! Pada saat kita menanti datangnya jawaban doa dari Tuhan seringkali kita tidak sabar, menyerah di tengah jalan dan berhenti berharap, karena mata jasmani kita belum melihat secara nyata jawaban doa tersebut. Padahal sesungguhnya Tuhan telah mempersiapkan berkat yang kita perlukan, hanya waktunya belum tiba, sebab Tuhan lebih tahu kapan waktu yang terbaik untuk menjawab doa-doa kita. Saat-saat menunggu inilah saat yang berbahaya dan merupakan ujian bagi seseorang. Ketidaksabaran dalam menunggu jawaban seringkali membuat seseorang menempuh jalan pintas, mencari jalan keluar untuk masalahnya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Ketidaksabaran dalam menanti-nantikan Tuhan inilah yang justru menjadi penghambat berkat baginya sendiri. Mungkin saat menempuh jalan pintas kita mendapatkan apa yang kita perlukan, tapi seringkali apa yang kita peroleh malah menimbulkan masalah yang baru bagi kita, "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." (Amsal 10:22).
Oleh karena itu bersabarlah dan tetap nanti-nantikan Tuhan! Sebab waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Pertolongan dan jawaban dari Tuhan itu tidak pernah terlambat dan juga tidak terlalu cepat. Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan terlambat dalam bertindak, tapi sesungguhnya tidak demikian, hanya kita saja yang terburu-buru, tidak sabar menanti-nantikan Tuhan. Jangan sekali-kali bertindak mendahului kehendak Tuhan, tapi nantikanlah Dia dengan sabar, Tuhan pasti menolong.
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya," Pengkhotbah 3:11
Monday, August 5, 2019
Sunday, August 4, 2019
KADAR KEKRISTENAN DI MATA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Agustus 2019
Baca: Matius 24:3-14
"...dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci." Matius 24:10
Berita tentang musibah, bencana, teror, kelaparan, bom bunuh diri dan sebagainya, yang terjadi di berbagai tempat di dunia ini sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dan tak mengejutkan lagi. Belum lagi berita tentang kejahatan manusia yang semakin menjadi-jadi adalah tanda nyata bahwa hari-hari ini adalah hari akhir. Tetapi firman Tuhan menasihati kita untuk tidak takut dan gelisah, sebab hal itu memang harus terjadi. Karena tidak tahan dengan penderitaan dan aniaya, ada banyak orang Kristen tak mampu bertahan dn akhirnya menjadi murtad dan meninggalkan Tuhan. "Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku," (Matius 24:9). Alkitab menasihati: "...janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya." (Ibrani 10:35).
Yang lebih mengejutkan lagi adalah, pada hari penghakiman Kristus nanti tidak sedikit orang yang walaupun sudah banyak melakukan perkara besar menurut pandangan manusia: bernubuat, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya, pada akhirnya mengalami penolakan dari Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:22-23). Ini benar-benar diluar pemikiran manusia, mereka yang tampak begitu rohani dan dipakai Tuhan secara luar biasa ternyata harus menelan pil pahit, yaitu ditolak Tuhan.
Penampilan luar orang percaya bukanlah suatu jaminan; gemerlap dan kemegahan sebuah pelayanan tak secara otomatis mendatangkan pujian dari Tuhan. Tuhan tidak menilai kualitas rohani seseorang dari apa yang terlihat kasat mata, yang Tuhan perhatikan adalah ketaatan kita dalam melakukan kehendak-Nya.
Bersyukur bila kita masih punya kesempatan untuk berbenah! Mari kita luruskan motivasi kita dalam melayani Tuhan dan hidup taat. Itulah kadar kekristenan yang berkualitas di mata Tuhan!
Baca: Matius 24:3-14
"...dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci." Matius 24:10
Berita tentang musibah, bencana, teror, kelaparan, bom bunuh diri dan sebagainya, yang terjadi di berbagai tempat di dunia ini sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dan tak mengejutkan lagi. Belum lagi berita tentang kejahatan manusia yang semakin menjadi-jadi adalah tanda nyata bahwa hari-hari ini adalah hari akhir. Tetapi firman Tuhan menasihati kita untuk tidak takut dan gelisah, sebab hal itu memang harus terjadi. Karena tidak tahan dengan penderitaan dan aniaya, ada banyak orang Kristen tak mampu bertahan dn akhirnya menjadi murtad dan meninggalkan Tuhan. "Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku," (Matius 24:9). Alkitab menasihati: "...janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya." (Ibrani 10:35).
Yang lebih mengejutkan lagi adalah, pada hari penghakiman Kristus nanti tidak sedikit orang yang walaupun sudah banyak melakukan perkara besar menurut pandangan manusia: bernubuat, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya, pada akhirnya mengalami penolakan dari Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:22-23). Ini benar-benar diluar pemikiran manusia, mereka yang tampak begitu rohani dan dipakai Tuhan secara luar biasa ternyata harus menelan pil pahit, yaitu ditolak Tuhan.
Penampilan luar orang percaya bukanlah suatu jaminan; gemerlap dan kemegahan sebuah pelayanan tak secara otomatis mendatangkan pujian dari Tuhan. Tuhan tidak menilai kualitas rohani seseorang dari apa yang terlihat kasat mata, yang Tuhan perhatikan adalah ketaatan kita dalam melakukan kehendak-Nya.
Bersyukur bila kita masih punya kesempatan untuk berbenah! Mari kita luruskan motivasi kita dalam melayani Tuhan dan hidup taat. Itulah kadar kekristenan yang berkualitas di mata Tuhan!
Saturday, August 3, 2019
RENCANA TUHAN TAK BISA DIGAGALKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Agustus 2019
Baca: Kejadian 37:12-36
"Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" Kejadian 37:20
Rencana Tuhan atas hidup anak-anak-Nya adalah baik adanya, tetapi seringkali untuk sampai pada apa yang Tuhan rencanakan kita harus menempuh jalan yang berliku-liku. Saat-saat itulah iman percaya kita terhadap rencana Tuhan sedang diuji, apakah kita tetap percaya kepada Dia ataukah semakin kehilangan pengharapan.
Untuk sampai kepada rencana Tuhan yang indah Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang penuh dengan nestapa. Proses hidup yang harus Yusuf jalani begitu menyentuh dan menggetarkan hati. Kalau kita berada di posisi Yusuf mungkin kita takkan pernah sanggup menjalaninya. Bukan hanya tantangan dari luar, tapi Yusuf harus menghadapi tantangan dari saudara-saudaranya sendiri yang begitu marah dan benci terhadapnya sehingga mereka merencanakan kejahatan sedemikian keji. Mereka berlaku brutal dengan niat hendak merusak mimpi anak muda ini. Tak terbayangkan betapa hancur hati Yusuf ketika jubahnya dilucuti dan ia dilemparkan ke dalam sumur kering, lalu "...diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir." (Kejadian 37:28). Secara akal, Yusuf tak punya harapan lagi untuk melihat rumahnya serta ayahnya lagi. Pupuslah harapan melihat jubahnya bernodakan darah kambing untuk mengecoh ayahnya bahwa ia dibunuh binatang buas. Gagalkah rencana Tuhan atas hidup Yusuf? Apakah Tuhan melupakan mimpi-mimpi yang telah Ia berikan? Justru selangkah lagi rencana Tuhan akan digenapi, saat "...ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja." (Kejadian 37:36).
Ketika dalam masalah dan penderitaan hidup yang berat kita seringkali menganggap Tuhan melupakan rencana-Nya atas hidup kita. Tidak! Tuhan justru memakai masalah dan penderitaan sebagai jembatan untuk menggenapi rencana-Nya. Jangan putus asa.
Kuatkan hati dan ikuti prosesnya dengan sikap hati yang benar, sebab Tuhan mempunyai waktu yang terbaik untuk menggenapi rencana-Nya.
Baca: Kejadian 37:12-36
"Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" Kejadian 37:20
Rencana Tuhan atas hidup anak-anak-Nya adalah baik adanya, tetapi seringkali untuk sampai pada apa yang Tuhan rencanakan kita harus menempuh jalan yang berliku-liku. Saat-saat itulah iman percaya kita terhadap rencana Tuhan sedang diuji, apakah kita tetap percaya kepada Dia ataukah semakin kehilangan pengharapan.
Untuk sampai kepada rencana Tuhan yang indah Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang penuh dengan nestapa. Proses hidup yang harus Yusuf jalani begitu menyentuh dan menggetarkan hati. Kalau kita berada di posisi Yusuf mungkin kita takkan pernah sanggup menjalaninya. Bukan hanya tantangan dari luar, tapi Yusuf harus menghadapi tantangan dari saudara-saudaranya sendiri yang begitu marah dan benci terhadapnya sehingga mereka merencanakan kejahatan sedemikian keji. Mereka berlaku brutal dengan niat hendak merusak mimpi anak muda ini. Tak terbayangkan betapa hancur hati Yusuf ketika jubahnya dilucuti dan ia dilemparkan ke dalam sumur kering, lalu "...diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir." (Kejadian 37:28). Secara akal, Yusuf tak punya harapan lagi untuk melihat rumahnya serta ayahnya lagi. Pupuslah harapan melihat jubahnya bernodakan darah kambing untuk mengecoh ayahnya bahwa ia dibunuh binatang buas. Gagalkah rencana Tuhan atas hidup Yusuf? Apakah Tuhan melupakan mimpi-mimpi yang telah Ia berikan? Justru selangkah lagi rencana Tuhan akan digenapi, saat "...ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja." (Kejadian 37:36).
Ketika dalam masalah dan penderitaan hidup yang berat kita seringkali menganggap Tuhan melupakan rencana-Nya atas hidup kita. Tidak! Tuhan justru memakai masalah dan penderitaan sebagai jembatan untuk menggenapi rencana-Nya. Jangan putus asa.
Kuatkan hati dan ikuti prosesnya dengan sikap hati yang benar, sebab Tuhan mempunyai waktu yang terbaik untuk menggenapi rencana-Nya.
Friday, August 2, 2019
ZAMAN SEKARANG: Seperti Zaman Nuh
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Agustus 2019
Baca: Matius 24:37-44
"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." Matius 24:37
Kehidupan orang-orang di zaman Nuh adalah cerminan dari kehidupan orang-orang di masa-masa sekarang menjelang hari kedatangan Kristus kedua kalinya, "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." (Matius 24:38-39). Pertanyaan: mampukah kita menunjukkan kualitas hidup sama seperti Nuh di zamannya, yang sekalipun berada di antara orang-orang yang berlaku sedemikian jahatnya tidak terpengaruh dan tidak terbawa arus yang ada. Alkitab menyatakan bahwa Nuh adalah pribadi yang hidup benar dan bergaul karib dengan Tuhan (Kejadian 6:9).
Adalah mudah berlaku hidup benar dan memiliki persekutuan karib dengan Tuhan bila berada dalam situasi atau keadaan yang mendukung, tanpa masalah dan tekanan. Tetapi Nuh harus berjuang sedemikian rupa mempertahankan hidup kudus di tengah dunia yang rusak dan moral manusia yang bobrok. "Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi." (Kejadian 6:11-12). Ketika diperintahkan Tuhan untuk membuat bahtera, Nuh taat melakukan. Ini bukan perkara mudah, butuh pengorbanan dan keberanian untuk bertindak, karena pada waktu itu ia harus mengalami penolakan dan mungkin intimidasi dari orang-orang di sekitarnya. Sekalipun diperingatkan bahwa bahtera dibuat dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia dari air bah, orang-orang tetap meremehkan dan tak mau peduli.
Ketaatan adalah bukti kasih seseorang kepada Tuhan. Karena kasih, orang akan menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya dan mau melakukan yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan Nuh ini menjadi sebuah teladan bagi kita. Menjelang hari kedatangan Kristus yang semakin dekat kita diperingatkan untuk tidak sarat dengan pesta-pora, kemabukan, juga kepentingan diri sendiri.
Tanpa ketaatan dan hidup benar kita takkan masuk ke dalam bahtera keselamatan!
Baca: Matius 24:37-44
"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." Matius 24:37
Kehidupan orang-orang di zaman Nuh adalah cerminan dari kehidupan orang-orang di masa-masa sekarang menjelang hari kedatangan Kristus kedua kalinya, "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." (Matius 24:38-39). Pertanyaan: mampukah kita menunjukkan kualitas hidup sama seperti Nuh di zamannya, yang sekalipun berada di antara orang-orang yang berlaku sedemikian jahatnya tidak terpengaruh dan tidak terbawa arus yang ada. Alkitab menyatakan bahwa Nuh adalah pribadi yang hidup benar dan bergaul karib dengan Tuhan (Kejadian 6:9).
Adalah mudah berlaku hidup benar dan memiliki persekutuan karib dengan Tuhan bila berada dalam situasi atau keadaan yang mendukung, tanpa masalah dan tekanan. Tetapi Nuh harus berjuang sedemikian rupa mempertahankan hidup kudus di tengah dunia yang rusak dan moral manusia yang bobrok. "Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi." (Kejadian 6:11-12). Ketika diperintahkan Tuhan untuk membuat bahtera, Nuh taat melakukan. Ini bukan perkara mudah, butuh pengorbanan dan keberanian untuk bertindak, karena pada waktu itu ia harus mengalami penolakan dan mungkin intimidasi dari orang-orang di sekitarnya. Sekalipun diperingatkan bahwa bahtera dibuat dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia dari air bah, orang-orang tetap meremehkan dan tak mau peduli.
Ketaatan adalah bukti kasih seseorang kepada Tuhan. Karena kasih, orang akan menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya dan mau melakukan yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan Nuh ini menjadi sebuah teladan bagi kita. Menjelang hari kedatangan Kristus yang semakin dekat kita diperingatkan untuk tidak sarat dengan pesta-pora, kemabukan, juga kepentingan diri sendiri.
Tanpa ketaatan dan hidup benar kita takkan masuk ke dalam bahtera keselamatan!
Thursday, August 1, 2019
KUNCI MENGALAMI PENGGENAPAN JANJI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Agustus 2019
Baca: Yakobus 5:7-11
"Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan." Yakobus 5:11
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus menerima kuasa untuk menjadi anak-anak Tuhan (Yohanes 1:12), "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:17). Dengan demikian setiap kita memiliki kepastian untuk mendapatkan, mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan sebagaimana yang difirmankan-Nya.
Agar semua janji Tuhan bisa kita nikmati, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan: 1. Butuh Kesabaran. Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan, kita harus bersabar menanti-nantikan waktu Tuhan. Kesabaran adalah bagian dari proses ujian yang harus kita jalani, seperti seorang petani yang harus bersabar menantikan hasil panen. "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Mengapa banyak anak Tuhan tak mengalami janji-janji Tuhan? Karena mereka tidak sabar. Mereka berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, maunya saat itu juga Tuhan mengabulkan permintaannya. Mereka tak mau menunggu lama-lama. Di zaman sekarang ini, yang serba instan itulah yang sedang dicari. Kita harus ingat bahwa di dalam Tuhan tidak ada istilah 'instan'.
2. Butuh ketekunan. Ada tertulis: "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36). Hasil dari kesabaran adalah ketekunan. Ketekunan mengajar kita untuk hidup melekat kepada Tuhan, hidup mengandalkan Tuhan dan memegang teguh setiap janji firman-Nya. Orang yang bertekun takkan pernah menyerah pada situasi dan keadaan, sesulit apa pun. Ada kalanya Tuhan mengijinkan masalah atau penderitaan untuk menguji kualitas hidup kita, seperti yang dialami oleh Ayub.
Sabarlah dan tetaplah bertekun, janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita!
Baca: Yakobus 5:7-11
"Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan." Yakobus 5:11
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus menerima kuasa untuk menjadi anak-anak Tuhan (Yohanes 1:12), "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:17). Dengan demikian setiap kita memiliki kepastian untuk mendapatkan, mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan sebagaimana yang difirmankan-Nya.
Agar semua janji Tuhan bisa kita nikmati, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan: 1. Butuh Kesabaran. Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan, kita harus bersabar menanti-nantikan waktu Tuhan. Kesabaran adalah bagian dari proses ujian yang harus kita jalani, seperti seorang petani yang harus bersabar menantikan hasil panen. "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Mengapa banyak anak Tuhan tak mengalami janji-janji Tuhan? Karena mereka tidak sabar. Mereka berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, maunya saat itu juga Tuhan mengabulkan permintaannya. Mereka tak mau menunggu lama-lama. Di zaman sekarang ini, yang serba instan itulah yang sedang dicari. Kita harus ingat bahwa di dalam Tuhan tidak ada istilah 'instan'.
2. Butuh ketekunan. Ada tertulis: "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36). Hasil dari kesabaran adalah ketekunan. Ketekunan mengajar kita untuk hidup melekat kepada Tuhan, hidup mengandalkan Tuhan dan memegang teguh setiap janji firman-Nya. Orang yang bertekun takkan pernah menyerah pada situasi dan keadaan, sesulit apa pun. Ada kalanya Tuhan mengijinkan masalah atau penderitaan untuk menguji kualitas hidup kita, seperti yang dialami oleh Ayub.
Sabarlah dan tetaplah bertekun, janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita!
Wednesday, July 31, 2019
KESALEHAN HIDUP SEBAGAI UKURAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Juli 2019
Baca: Lukas 16:10-18
"Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah." Lukas 16:15b
Pandangan dan penilaian dunia terhadap seseorang berbeda dengan pandangan dan penilaian Tuhan, seperti tertulis: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b). Manusia selalu meneropong segala sesuatu dari sudut luarnya, tetapi Tuhan memandang segala perkara jauh ke kedalaman hatinya. Tuhan menilai manusia dari batinnya. "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin," (Yeremia 17:10).
Orang-orang Kristen sendiri sering menilai sesamanya dari apa yang nampak oleh mata jasmani. Mereka seringkali mengukur dan menilai keberhasilan seorang hamba Tuhan dari kulit luarnya. Mereka gampang sekali membeda-bedakan hamba Tuhan 'besar' dan 'kecil' dari pelayanannya. Jika pelayanan hamba Tuhan tersebut meliputi gereja-gereja besar, dengan jemaat yang dilayaninya berjumlah ratusan atau ribuan orang, atau melayani di acara KKR-KKR, mereka menyebutnya sebagai hamba Tuhan 'besar'. Sebaliknya, walaupun ada hamba Tuhan yang benar-benar hidup taat, kudus dan setia di hadapan Tuhan, tetapi jika ia hanya melayani gereja kecil dengan jumlah jemaat yang sedikit, pelayanannya pun di daerah pinggiran kota atau pedesaan, terhadap hamba Tuhan yang demikian, mereka menyebutnya sebagai hamba Tuhan 'kecil'.
Siapakah yang mengetahui kedalaman hati seseorang? Kita harus ingat apa yang Kristus katakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Pelayanan yang tampak besar di mata manusia dengan popularitas yang membubung tinggi bukan menjadi jaminan pelayanan seorang hamba Tuhan itu berkenan di hati Tuhan.
Ketaatan dan kesalehan hidup dalam melayani itulah yang dinilai Tuhan!
Baca: Lukas 16:10-18
"Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah." Lukas 16:15b
Pandangan dan penilaian dunia terhadap seseorang berbeda dengan pandangan dan penilaian Tuhan, seperti tertulis: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b). Manusia selalu meneropong segala sesuatu dari sudut luarnya, tetapi Tuhan memandang segala perkara jauh ke kedalaman hatinya. Tuhan menilai manusia dari batinnya. "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin," (Yeremia 17:10).
Orang-orang Kristen sendiri sering menilai sesamanya dari apa yang nampak oleh mata jasmani. Mereka seringkali mengukur dan menilai keberhasilan seorang hamba Tuhan dari kulit luarnya. Mereka gampang sekali membeda-bedakan hamba Tuhan 'besar' dan 'kecil' dari pelayanannya. Jika pelayanan hamba Tuhan tersebut meliputi gereja-gereja besar, dengan jemaat yang dilayaninya berjumlah ratusan atau ribuan orang, atau melayani di acara KKR-KKR, mereka menyebutnya sebagai hamba Tuhan 'besar'. Sebaliknya, walaupun ada hamba Tuhan yang benar-benar hidup taat, kudus dan setia di hadapan Tuhan, tetapi jika ia hanya melayani gereja kecil dengan jumlah jemaat yang sedikit, pelayanannya pun di daerah pinggiran kota atau pedesaan, terhadap hamba Tuhan yang demikian, mereka menyebutnya sebagai hamba Tuhan 'kecil'.
Siapakah yang mengetahui kedalaman hati seseorang? Kita harus ingat apa yang Kristus katakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Pelayanan yang tampak besar di mata manusia dengan popularitas yang membubung tinggi bukan menjadi jaminan pelayanan seorang hamba Tuhan itu berkenan di hati Tuhan.
Ketaatan dan kesalehan hidup dalam melayani itulah yang dinilai Tuhan!
Tuesday, July 30, 2019
AMBISI YANG TIDAK BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juli 2019
Baca: Matius 23:1-12
"Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Matius 23:12
Setiap manusia pasti punya ambisi dalam hidupnya. Apa itu ambisi? Ambisi adalah keinginan atau hasrat yang kuat untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat atau kedudukan), atau melakukan sesuatu; suatu gairah atau nafsu ingin memperoleh sesuatu di luar batas kemampuan dengan tujuan ingin mengatasi orang lain. Kalau ambisi itu sudah melampaui kehendak Tuhan atau keluar dari kebenaran firman Tuhan, maka ambisi tersebut tidak benar, cepat atau lambat pasti akan mendatangkan kehancuran, karena biasanya di balik ambisi tersimpan hal-hal yang negatif: tak mau kalah dari orang lain, ingin terkenal, ingin beroleh pujian dari dunia, atau ingin memperoleh kedudukan yang setinggi mungkin dengan kekuatan sendiri.
Tuhan sungguh tak berkenan akan hal-hal yang demikian: "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!" (Yeremia 45:5a). Ambisi yang bertujuan untuk kemegahan diri sendiri atau mencapai hal-hal yang besar bagi dirinya sendiri pasti mendatangkan dosa. Karena orang yang mencari hal-hal yang besar bagi dirinya pasti berani melakukan tindakan-tindakan yang negatif demi mewujudkan ambisinya, menghalalkan segala cara, menempuh cara kotor, jika perlu menyingkirkan atau menjatuhkan orang lain, tak peduli itu teman atau kawan.
Karena itu kita harus dapat membedakan antara ambisi pribadi dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan dalam diri orang percaya akan terjadi tanpa suatu ambisi, sebab kalau Tuhan merencanakan, tak seorang pun dapat menggagalkannya. "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan dengan keras: "...barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan..." (ayat nas). Kalau kita meninggikan diri Tuhan pasti akan merendahkan kita. Jika Tuhan yang merendahkan hidup seseorang, siapa yang sanggup menghalangi Dia? Sebaliknya, jika Tuhan yang mengangkat hidup seseorang dan memulihkan keadaannya, tak ada kuasa mana pun yang mampu menahannya!
Berkat dan keberhasilan tak perlu dikejar dengan ambisi, asalkan kita hidup benar di hadapan Tuhan, semua itu pasti akan mengikuti.
Baca: Matius 23:1-12
"Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Matius 23:12
Setiap manusia pasti punya ambisi dalam hidupnya. Apa itu ambisi? Ambisi adalah keinginan atau hasrat yang kuat untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat atau kedudukan), atau melakukan sesuatu; suatu gairah atau nafsu ingin memperoleh sesuatu di luar batas kemampuan dengan tujuan ingin mengatasi orang lain. Kalau ambisi itu sudah melampaui kehendak Tuhan atau keluar dari kebenaran firman Tuhan, maka ambisi tersebut tidak benar, cepat atau lambat pasti akan mendatangkan kehancuran, karena biasanya di balik ambisi tersimpan hal-hal yang negatif: tak mau kalah dari orang lain, ingin terkenal, ingin beroleh pujian dari dunia, atau ingin memperoleh kedudukan yang setinggi mungkin dengan kekuatan sendiri.
Tuhan sungguh tak berkenan akan hal-hal yang demikian: "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!" (Yeremia 45:5a). Ambisi yang bertujuan untuk kemegahan diri sendiri atau mencapai hal-hal yang besar bagi dirinya sendiri pasti mendatangkan dosa. Karena orang yang mencari hal-hal yang besar bagi dirinya pasti berani melakukan tindakan-tindakan yang negatif demi mewujudkan ambisinya, menghalalkan segala cara, menempuh cara kotor, jika perlu menyingkirkan atau menjatuhkan orang lain, tak peduli itu teman atau kawan.
Karena itu kita harus dapat membedakan antara ambisi pribadi dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan dalam diri orang percaya akan terjadi tanpa suatu ambisi, sebab kalau Tuhan merencanakan, tak seorang pun dapat menggagalkannya. "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan dengan keras: "...barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan..." (ayat nas). Kalau kita meninggikan diri Tuhan pasti akan merendahkan kita. Jika Tuhan yang merendahkan hidup seseorang, siapa yang sanggup menghalangi Dia? Sebaliknya, jika Tuhan yang mengangkat hidup seseorang dan memulihkan keadaannya, tak ada kuasa mana pun yang mampu menahannya!
Berkat dan keberhasilan tak perlu dikejar dengan ambisi, asalkan kita hidup benar di hadapan Tuhan, semua itu pasti akan mengikuti.
Monday, July 29, 2019
BERLAKU FASIK KARENA HARTA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juli 2019
Baca: Amsal 14:1-35
"Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut." Amsal 14:27
Salah satu tanda nyata bahwa orang tidak takut akan Tuhan adalah tak mau taat melakukan kehendak Tuhan. Itu artinya ia menganggap remeh firman Tuhan. Ada tertulis: "Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan." (Amsal 13:13). Apalagi kalau sudah hidup dalam berkat, berhasil, atau hidup mapan secara materi, ada banyak orang Kristen tidak lagi menyandarkan hidupnya kepada Tuhan, melainkan bersandar kepada harta kekayaan atau keberhasilannya. Mereka berpikir bahwa dengan uang atau materi mereka dapat berbuat apa saja dan dapat membeli apa saja. Tapi mereka lupa bahwa uang tak bisa membeli umur panjang. Nyawa itu bukan berada di tangan dokter. "Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (Amsal 3:16).
Bila Tuhan sudah memberkati hidup kita seharusnya kita semakin hidup takut akan Tuhan dan mengikuti jalan-jalan-Nya, sebab bila kita menyimpang dari jalan Tuhan dan tidak lagi menyandarkan hidup kepada Dia, bukan kebahagiaan yang kita peroleh, tapi jerat dan malapetaka. Orang yang takut akan Tuhan pasti menemukan jalan yang penuh kebahagiaan, "Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat." (Amsal 3:26). "Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata." (Amsal 3:17). Kalau kita hidup takut akan Tuhan, kita akan mengalami kelimpahan berkat-Nya yang dapat dinikmati sampai anak cucu. "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar." (Amsal 13:22).
Takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan! Sebaliknya orang yang tamak, yang menjadikan harta sebagai 'tuan' dalam hidupnya, pasti akan celaka. "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan." (Amsal 15:16). Berkat yang Tuhan limpahkan kepada kita janganlah membuat kita berlaku fasik, tetapi biarlah membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.
Berkat Tuhan seharusnya membuat kita semakin takut akan Tuhan dan mengasihi Dia lebih dan lebih lagi.
Baca: Amsal 14:1-35
"Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut." Amsal 14:27
Salah satu tanda nyata bahwa orang tidak takut akan Tuhan adalah tak mau taat melakukan kehendak Tuhan. Itu artinya ia menganggap remeh firman Tuhan. Ada tertulis: "Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan." (Amsal 13:13). Apalagi kalau sudah hidup dalam berkat, berhasil, atau hidup mapan secara materi, ada banyak orang Kristen tidak lagi menyandarkan hidupnya kepada Tuhan, melainkan bersandar kepada harta kekayaan atau keberhasilannya. Mereka berpikir bahwa dengan uang atau materi mereka dapat berbuat apa saja dan dapat membeli apa saja. Tapi mereka lupa bahwa uang tak bisa membeli umur panjang. Nyawa itu bukan berada di tangan dokter. "Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (Amsal 3:16).
Bila Tuhan sudah memberkati hidup kita seharusnya kita semakin hidup takut akan Tuhan dan mengikuti jalan-jalan-Nya, sebab bila kita menyimpang dari jalan Tuhan dan tidak lagi menyandarkan hidup kepada Dia, bukan kebahagiaan yang kita peroleh, tapi jerat dan malapetaka. Orang yang takut akan Tuhan pasti menemukan jalan yang penuh kebahagiaan, "Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat." (Amsal 3:26). "Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata." (Amsal 3:17). Kalau kita hidup takut akan Tuhan, kita akan mengalami kelimpahan berkat-Nya yang dapat dinikmati sampai anak cucu. "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar." (Amsal 13:22).
Takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan! Sebaliknya orang yang tamak, yang menjadikan harta sebagai 'tuan' dalam hidupnya, pasti akan celaka. "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan." (Amsal 15:16). Berkat yang Tuhan limpahkan kepada kita janganlah membuat kita berlaku fasik, tetapi biarlah membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.
Berkat Tuhan seharusnya membuat kita semakin takut akan Tuhan dan mengasihi Dia lebih dan lebih lagi.
Sunday, July 28, 2019
TAKUT BERSAKSI TENTANG KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Juli 2019
Baca: Yohanes 12:37-50
"Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah." Yohanes 12:43
Alkitab menegaskan bahwa ada harga yang harus dibayar sebagai pengikut Kristus. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Banyak orang Kristen yang melemah imannya oleh karena mereka tidak tahan dengan celaan atau kritikan karena keberadaannya sebagai pengikut Kristus. Jujur kita akui bahwa celaan atau kritikan yang tidak sehat memang dapat meruntuhkan mental dan mematahkan semangat. Apalagi kritikan pedas yang dilandasi oleh rasa benci dan iri, pasti sangatlah menyakitkan.
Sekalipun dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah, tak patut kita menjadi sakit hati dan lemah, karena kita punya Roh Kudus, yang adalah Parakletos, Penolong dan Penghibur bagi kita. Kita harus terus maju dan punya keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dan memberitakan keselamatan kepada dunia, "...siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,..." (2 Timotius 4:2). Harus diakui bahwa tak semua orang senang mendengar kesaksian tentang Kristus dan berita keselamatan itu. Tidak sedikit dari mereka yang malah mengejek, mengolok atau menghina. Karena tak sanggup menghadapi kritikan, celaan, hinaan, atau tekanan, akhirnya banyak yang tak mau membuka jati dirinya sebagai pengikut Kristus. Mereka merasa malu bila harus bersaksi tentang Kristus karena kuatir reputasinya akan jatuh, takut dibenci, takut kehilangan kedudukan atau popularitas. Alkitab menyatakan: "Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan." (Yohanes 12:42-43).
Sebagai umat tebusan Kristus patutkah kita merasa malu bersaksi tentang kasih dan pengorbanan Kristus kepada orang lain? Perhatikan! "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Markus 8:38).
"...jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu." 1 Petrus 4:16
Baca: Yohanes 12:37-50
"Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah." Yohanes 12:43
Alkitab menegaskan bahwa ada harga yang harus dibayar sebagai pengikut Kristus. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Banyak orang Kristen yang melemah imannya oleh karena mereka tidak tahan dengan celaan atau kritikan karena keberadaannya sebagai pengikut Kristus. Jujur kita akui bahwa celaan atau kritikan yang tidak sehat memang dapat meruntuhkan mental dan mematahkan semangat. Apalagi kritikan pedas yang dilandasi oleh rasa benci dan iri, pasti sangatlah menyakitkan.
Sekalipun dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah, tak patut kita menjadi sakit hati dan lemah, karena kita punya Roh Kudus, yang adalah Parakletos, Penolong dan Penghibur bagi kita. Kita harus terus maju dan punya keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dan memberitakan keselamatan kepada dunia, "...siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,..." (2 Timotius 4:2). Harus diakui bahwa tak semua orang senang mendengar kesaksian tentang Kristus dan berita keselamatan itu. Tidak sedikit dari mereka yang malah mengejek, mengolok atau menghina. Karena tak sanggup menghadapi kritikan, celaan, hinaan, atau tekanan, akhirnya banyak yang tak mau membuka jati dirinya sebagai pengikut Kristus. Mereka merasa malu bila harus bersaksi tentang Kristus karena kuatir reputasinya akan jatuh, takut dibenci, takut kehilangan kedudukan atau popularitas. Alkitab menyatakan: "Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan." (Yohanes 12:42-43).
Sebagai umat tebusan Kristus patutkah kita merasa malu bersaksi tentang kasih dan pengorbanan Kristus kepada orang lain? Perhatikan! "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Markus 8:38).
"...jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu." 1 Petrus 4:16
Saturday, July 27, 2019
KEHIDUPAN LAMA: Penghalang Doa
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juli 2019
Baca: Yesaya 59:1-21
"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;" Yesaya 59:1
Ketika kita belum mengenal Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, keberadaan kita tak jauh berbeda dengan orang-orang Israel yang hidup dalam perbudakan di Mesir. Dan setelah mereka keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, mereka dibebaskan dari perbudakan. Sekalipun sudah keluar dari Mesir, banyak di antara mereka yang ingin kembali ke Mesir demi memenuhi keinginan dagingnya. Mereka terus membanding-bandingkan dengan kehidupan di Mesir yang dirasa lebih menyenangkan secara daging. Padahal di Mesir mereka menjadi 'budak'.
Seorang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus sudah seharusnya 'keluar' meninggalkan kehidupan lamanya termasuk dosa-dosanya, dan tak patut menoleh kembali ke Mesir, yang adalah lambang kehidupan duniawi. Sebab kita telah dipilih untuk menjadi imam-imam-Nya Tuhan, seperti yang rasul Petrus katakan, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10). Lalu timbul pertanyaan: kalau kita ini adalah umat pilihan Tuhan, umat kepunyaan-Nya sendiri, dan dikasihi-Nya sedemikian rupa, mengapa banyak doa-doa kita tak memperoleh jawaban? Mengapa Tuhan sepertinya tak mau mendengarkan doa-doa kita?
Yang menjadi penyebab doa-doa kita dijawab Tuhan adalah karena dosa dan pelanggaran kita. Setelah kita dikeluarkan dari kegelapan, dari perbudakan di Mesir, kita seharusnya menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan panggilan Tuhan yaitu menjadi imamat rajani dan saksi-saksi-Nya di tengah dunia. Kita tak dapat menyenangkan hati Tuhan tanpa ketaatan. Jadi, "...yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2).
Tinggalkan Mesir dan hiduplah sesuai dengan panggilan Tuhan, doa kita pasti didengar dan dijawab Tuhan!
Baca: Yesaya 59:1-21
"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;" Yesaya 59:1
Ketika kita belum mengenal Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, keberadaan kita tak jauh berbeda dengan orang-orang Israel yang hidup dalam perbudakan di Mesir. Dan setelah mereka keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, mereka dibebaskan dari perbudakan. Sekalipun sudah keluar dari Mesir, banyak di antara mereka yang ingin kembali ke Mesir demi memenuhi keinginan dagingnya. Mereka terus membanding-bandingkan dengan kehidupan di Mesir yang dirasa lebih menyenangkan secara daging. Padahal di Mesir mereka menjadi 'budak'.
Seorang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus sudah seharusnya 'keluar' meninggalkan kehidupan lamanya termasuk dosa-dosanya, dan tak patut menoleh kembali ke Mesir, yang adalah lambang kehidupan duniawi. Sebab kita telah dipilih untuk menjadi imam-imam-Nya Tuhan, seperti yang rasul Petrus katakan, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10). Lalu timbul pertanyaan: kalau kita ini adalah umat pilihan Tuhan, umat kepunyaan-Nya sendiri, dan dikasihi-Nya sedemikian rupa, mengapa banyak doa-doa kita tak memperoleh jawaban? Mengapa Tuhan sepertinya tak mau mendengarkan doa-doa kita?
Yang menjadi penyebab doa-doa kita dijawab Tuhan adalah karena dosa dan pelanggaran kita. Setelah kita dikeluarkan dari kegelapan, dari perbudakan di Mesir, kita seharusnya menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan panggilan Tuhan yaitu menjadi imamat rajani dan saksi-saksi-Nya di tengah dunia. Kita tak dapat menyenangkan hati Tuhan tanpa ketaatan. Jadi, "...yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2).
Tinggalkan Mesir dan hiduplah sesuai dengan panggilan Tuhan, doa kita pasti didengar dan dijawab Tuhan!
Friday, July 26, 2019
INGIN MENJADI BESAR? Milikilah Hati Hamba (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Juli 2019
Baca: Matius 20:25-28
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu," Matius 20:26
Tibalah akhirnya Daud bertemu dengan raksasa dari Gat, yaitu Goliat, di medan pertempuran. Arti nama Goliat adalah pemenggal kepala. Teriakan Goliat menebarkan intimidasi, kecemasan dan ketakutan. Kehadiran Goliat benar-benar menimbulkan ketakutan yang luar biasa di antara orang-orang Israel, termasuk raja Saul. Dengan mengandalkan Tuhan dan bermodalkan tongkat, batu licin dan umban, Daud berani menghadapi raksasa itu. "...Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan." (1 Samuel 17:50). Keberhasilan Daud mengalahkan Goliat akhirnya menimbulkan rasa benci dan iri hati dalam diri Saul, karena orang-orang mengelu-elukan Daud (1 Samuel 18:7-9). Berbagai cara Saul lakukan untuk membunuh Daud, tapi selalu gagal dan gagal.
Meski Saul berlaku jahat terhadap dirinya dan berulangkali berniat membunuhnya, Daud tetap menghormati dia sebagai pemegang otoritas yang Tuhan taruh di atasnya. Di sinilah Daud sedang diuji integritas hidupnya! Bahkan sekalipun beberapa kali mendapatkan peluang untuk membunuh Saul, hal itu tidak dilakukan Daud. Ia menolak untuk menjamah Saul karena ia mengerti arti tunduk kepada otoritas (1 Samuel 24:7). Daud tidak menggunakan 'aji mumpung' atau jalan pintas untuk bisa mencapai puncak. Ia tetap sabar menunggu waktu Tuhan dan dengan setia mengikuti proses yang harus dijalaninya. Adalah mudah untuk menundukkan diri kepada pemimpin yang baik dan menyukakan hati kita. Namun, ketika dihadapkan pada pimpinan yang jahat? Apa pun keadaannya kita harus tetap menundukkan diri pada otoritas. Dengan Daud menghormati Saul sebagai pemegang otoritas di atasnya, sebenarnya Daud sedang menghormati Tuhan yang memberikan otoritas itu kepada Saul.
Pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya! Setelah lulus ujian Daud mengalami penggenapan janji Tuhan. Alkitab menyatakan: "Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda." (2 Samuel 5:5).
Karena setia dan punya hati hamba, Tuhan mengangkat hidup Daud!
Baca: Matius 20:25-28
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu," Matius 20:26
Tibalah akhirnya Daud bertemu dengan raksasa dari Gat, yaitu Goliat, di medan pertempuran. Arti nama Goliat adalah pemenggal kepala. Teriakan Goliat menebarkan intimidasi, kecemasan dan ketakutan. Kehadiran Goliat benar-benar menimbulkan ketakutan yang luar biasa di antara orang-orang Israel, termasuk raja Saul. Dengan mengandalkan Tuhan dan bermodalkan tongkat, batu licin dan umban, Daud berani menghadapi raksasa itu. "...Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan." (1 Samuel 17:50). Keberhasilan Daud mengalahkan Goliat akhirnya menimbulkan rasa benci dan iri hati dalam diri Saul, karena orang-orang mengelu-elukan Daud (1 Samuel 18:7-9). Berbagai cara Saul lakukan untuk membunuh Daud, tapi selalu gagal dan gagal.
Meski Saul berlaku jahat terhadap dirinya dan berulangkali berniat membunuhnya, Daud tetap menghormati dia sebagai pemegang otoritas yang Tuhan taruh di atasnya. Di sinilah Daud sedang diuji integritas hidupnya! Bahkan sekalipun beberapa kali mendapatkan peluang untuk membunuh Saul, hal itu tidak dilakukan Daud. Ia menolak untuk menjamah Saul karena ia mengerti arti tunduk kepada otoritas (1 Samuel 24:7). Daud tidak menggunakan 'aji mumpung' atau jalan pintas untuk bisa mencapai puncak. Ia tetap sabar menunggu waktu Tuhan dan dengan setia mengikuti proses yang harus dijalaninya. Adalah mudah untuk menundukkan diri kepada pemimpin yang baik dan menyukakan hati kita. Namun, ketika dihadapkan pada pimpinan yang jahat? Apa pun keadaannya kita harus tetap menundukkan diri pada otoritas. Dengan Daud menghormati Saul sebagai pemegang otoritas di atasnya, sebenarnya Daud sedang menghormati Tuhan yang memberikan otoritas itu kepada Saul.
Pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya! Setelah lulus ujian Daud mengalami penggenapan janji Tuhan. Alkitab menyatakan: "Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda." (2 Samuel 5:5).
Karena setia dan punya hati hamba, Tuhan mengangkat hidup Daud!
Subscribe to:
Comments (Atom)