Thursday, July 25, 2019

INGIN MENJADI BESAR? Miliki Hati Hamba (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juli 2019

Baca:  1 Samuel 16:1-23

"Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."  1 Samuel 16:1b

Daud, yang namanya berarti yang dicintai atau dikasihi adalah orang yang begitu setia mengerjakan tugas apa pun yang dipercayakan kepadanya, sekalipun tugas itu dipandang orang merupakan tugas yang kecil dan sepele, yaitu menggembalakan kambing domba yang jumlahnya hanya dua tiga ekor saja.  Tanpa keluh kesah dan persungutan Daud mengerjakan tugas itu dengan penuh kesetiaan.  Takkan mudah mendapati orang yang benar-benar setia, seperti ada tertulis:  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6).

     Tuhan melihat dan sangat memperhatikan kesetiaan Daud ini!  Kesetiaannya dalam mengerjakan perkara-perkara kecil akhirnya membuka jalan bagi Daud untuk beroleh kepercayaan dari Tuhan mengerjakan perkara-perkara yang jauh lebih besar.  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."  (Lukas 16:10).  Setelah Saul ditolak Tuhan sebagai raja atas Israel karena ketidaktaatannya, yaitu menyelamatkan Agag, raja orang Amalek dan juga ternak mereka yang terbaik dan tambun, yang tidak ditumpasnya  (1 Samuel 15:8-9), Tuhan pun memiliki rencana besar atas diri Daud.  Tuhan memilih, mempersiapkan, dan mengurapi Daud menjadi raja untuk menggantikan Saul.

     Setelah menerima pengurapan dari Samuel, seperti tertulis:  "Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud."  (1 Samuel 16:13), Daud tidak secara langsung memerintah sebagai raja di Israel.  Daud tetap harus melewati proses demi proses, ujian  'kehambaan' pun harus dijalaninya yaitu menjadi pelayan di istana Saul.  Ia merendahkan dirinya dan datang kepada Saul yang saat itu masih memegang otoritas tertinggi dan melayani dia sebagai pembawa senjata.  "Demikianlah Daud sampai kepada Saul dan menjadi pelayannya. Saul sangat mengasihinya, dan ia menjadi pembawa senjatanya."  (1 Samuel 16:21).

Wednesday, July 24, 2019

USAHA YANG TAK MEMBAWA HASIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juli 2019

Baca:  Hagai 1:1-4

"Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya."  Hagai 1:9a

Kita pasti pernah mengalami suatu fase di dalam kehidupan ini, di mana segala usaha dan kerjakeras yang kita lakukan tak membawa hasil, selalu saja gagal dan gagal.  Kalau ia petani, segala benih yang ditanamnya tak menghasilkan panenan karena diserang oleh hama.  Kalau ia peternak, kambing, domba lembu dan sapi yang selama ini dirawat dan dipelihara sedemikian rupa juga tak menghasilkan apa-apa, ternak yang bakal beranak pada keguguran.  Kalau ia seorang pengusaha atau pedagang atau usahawa, bisnis usaha yang dikelolanya mengalami kerugian, tokonya sepi pembeli.  Akhirnya timbul rasa kecewa dan sedih, tapi mereka tak pernah mencari tahu akar permasalahannya atau apa yang menjadi penyebab semuanya menjadi gagal.  Tidak sedikit dari mereka yang malah menyalahkan Tuhan!
     
     Apa yang firman Tuhan katakan?  "Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!"  (Hagai 1:5b-6).  Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri, adakah hal-hal yang tidak beres di dalam hidup kita yang membuat  'pintu'  berkat itu serasa tertutup.  Perhatikan ibadahmu!  Perhatikan jam-jam doamu!  Perhatikan pelayananmu!  Apakah Saudara sudah mengutamakan Tuhan?  "Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN."  (Hagai 1:8).

     Naik ke gunung, membawa kayu dan membangun Rumah ini berbicara tentang mengerjakan perkara-perkara rohani, membangun kehidupan doa dan mempersembahkan hidup kita sebagai ibadah yang sejati  (Roma 12:1).  Kalau kita ingin melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam hidup ini, pintu-pintu berkat dibukakan bagi kita, maka kita harus mencari Tuhan dan kebenaran-Nya terlebih dahulu  (Matius 6:33).

Kehidupan yang tak benar hanya akan menyumbat berkat,  "Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya,"  Hagai 1:10

Tuesday, July 23, 2019

SELALU DALAM PENGAWASAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juli 2019

Baca:  Mazmur 32:1-11

"Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau."  Mazmur 32:9

Rasa iba dan kasihan di dalam hati kita pastilah timbul ketika kita melihat seekor kuda yang dikekang dan diberi tali les melalui mulutnya.  Tetapi, itulah jalan satu-satunya untuk mengendalikan kuda agar jalannya tetap lurus dan taat kepada kehendak tuannya.  Demikian juga dengan kita, Tuhan akan memimpin dan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh.  Mata Tuhan terus dan selalu mengawasi kita, apakah jalan yang kita tempuh seturut kehendak-Nya, selalu taat dalam sepanjang jalan hidup kita.  Karena itu, melalui Roh Kudus-Nya, Tuhan akan selalu berbicara dengan lembut dan penuh kasih untuk menasihati, menegur dan mengingatkan kita ketika jalan kita mulai melenceng dan keluar dari jalur-Nya.  Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan terhadap getaran Roh Kudus dan tak perlu kita diperlakukan seperti kuda atau bagal.

     Dalam perjalanan hidup ini kita seringkali berlaku seperti kuda yang terkadang bersifat garang, liar, suka memberontak dan ingin melepaskan diri dari pimpinan Roh Kudus, karena merasa terkekang, dibatasi, dan tidak bebas.  Kita ingin menempuh jalan menurut keinginan diri sendiri.  Saat itulah Tuhan terpaksa berlaku keras kepada kita agar kita tidak semakin terjerumus ke jalan yang sesat.  "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu."  (Mazmur 32:8).  Kita tak dapat lari dari pengawasan Tuhan, sebab  "TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka."  (Mazmur 33:13-15).

     Apabila jalan yang kita tempuh terasa mulus seringkali kita lupa diri dan merasa diri mampu tanpa harus bergantung kepada pimpinan Tuhan.  "Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan. Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan."  (Mazmur 33:16-17).

Tunduklah dalam pimpinan Tuhan, karena Dia tahu yang terbaik untuk hidup kita!

Monday, July 22, 2019

TAK PERLU IRI MELIHAT ORANG FASIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juli 2019

Baca:  Mazmur 37:1-40

"Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya."  Mazmur 37:7

Melihat orang fasik berhasil dalam hidupnya dan tinggal dalam kenyamanan, sedikit banyak pasti timbul pertanyaan dan juga rasa kesal, marah dan iri.  "Mengapa orang fasik hidupnya serasa mujur dan tak punya masalah, sedangkan aku yang mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh seringkali malang?"  Perhatikan firman Tuhan ini:  "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan."  (Mazmur 37:8).  Jangan sekali-kali menganggap Tuhan itu tidak adil, lalu kita memrotes Dia.  Apa yang dinikmati oleh orang fasik itu sifatnya hanya sementara, dan perbuatannya yang fasik akan mendatangkan jerat bagi mereka sendiri.  "Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi."  (Mazmur 37:10).  Tak perlu marah dan iri terhadap mereka.

     Sebagai anak-anak Tuhan kita berhak menikmati berkat-berkat Tuhan asalkan kita tetap sabar dan berdiam diri menanti-nantikan Dia, bukan terus mengomel, bersungut-sungut dan mengeluh, sebab  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya..."  (Pengkhotbah 3:11a).  Firman Tuhan memerintahkan kita untuk berhenti marah dan meninggalkan panas hati, karena kemarahan dan panas hati justru akan memunculkan pikiran dan niat yang jahat.  Tak perlu merasa iri kepada orang-orang yang berlaku jahat atau berlaku curang,  "sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau."  (Mazmur 37:2).  Bagaimana seharusnya orang percaya bersikap?  "Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"  (Mazmur 37:3-5).

     Jalan terbaik mencapai keberhasilan hidup ialah bertekun mengerjakan bagian kita, sesulit apa pun keadaannya,  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja."  (Amsal 14:23).

"TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;"  Mazmur 37:18

Sunday, July 21, 2019

BERBELAS KASIH KEPADA ORANG YANG LEMAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juli 2019

Baca:  Imamat 25:1-22

"Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN,..."  Imamat 25:17

Sudah menjadi hal yang biasa bila orang-orang yang kaya, menurut ukuran dunia ini, memandang rendah orang-orang yang lemah dan miskin.  Itulah dunia yang selalu melihat apa yang terlihat secara kasat mata!  Berbeda dengan Tuhan yang selalu melihat hati.  Tuhan begitu mengasihi dan berbelas kasihan terhadap umat-Nya yang lemah tak berdaya, tak dipandang remeh,  "Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara."  (Mazmur 9:19), dan  "orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan,"  (Mazmur 107:41).

     Oleh sebab itu Tuhan berbicara kepada Musa ketika ia berada di gunung Sinai, memerintahkan bangsa Israel untuk tidak saling merugikan dan harus takut akan Tuhan.  Tetapi sifat manusia sejak dari zaman dahulu sampai sekarang ini tidak pernah berubah.  Orang-orang kaya bertindak semena-mena terhadapa mereka yang miskin;  karena merasa punya uang atau bisa membayar atau membeli tenaga, orang kaya memperdaya mereka yang miskin papa.  Yang kuat secara ekonomi menindas mereka yang lemah.  Perbuatan-perbuatan semacam ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dunia, tapi banyak juga orang-orang yang mengaku diri sebagai orang percaya juga berlaku demikian.  Kehidupan yang mencerminkan sifat Kristus hanya terjadi saat berada di ruangan gedung gereja.  Saat berada di dalam rumah, di tempat pekerjaan, di dunia perdagangan atau bisnis, mereka menunjukkan sifat aslinya yaitu tak punya belas kasihan.

     Tuhan berfirman,  "Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain."  (Imamat 25:14).  Bukankah sudah lazim bila orang kaya menekan orang miskin dalam praktik perdagangan?  Majikan-majikan ibu rumah tangga menekan para asisten rumah tangga sedemikian rupa dengan pekerjaan yang tak mengenal waktu, dengan upah yang serendah mungkin?  Seperti itukah sikap seorang pengikut Kristus?  Orang yang takut akan Tuhan pasti takkan melakukan tindakan demikian, yaitu menekan orang yang miskin atau yang lemah.

"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu."  Amsal 19:17

Saturday, July 20, 2019

PUNYA IMAN DAN KERENDAHAN HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juli 2019

Baca:  Matius 8:5-13

"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."  Matius 8:8

Selama hidup di dunia ini kita tak bisa menghindarkan diri dari masalah atau persoalan hidup yang selalu datang tanpa diduga dan tanpa memandang bulu.  Sekalipun berbagai cara dan upaya kita tempuh dengan mengerahkan kekuatan dan kemampuan, kita seringkali tak mampu mengatasinya.  Ini membuktikan bahwa kekuatan kita sebagai manusia ada batasnya.  Satu-satunya cara yang dapat menolong dan melepaskan kita dari persoalan yang membelit adalah kita harus datang kepada Kristus, Dialah Sang Juruselamat, karena Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup  (Yohanes 14:6).

     Langkah inilah yang juga ditempuh oleh seorang perwira Romawi yang sedang mengalami persoalan, yaitu hambanya sedang sakit keras.  Perwira ini datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan bagi hambanya yang sedang sakit.  Mendengar hal ini Tuhan pun tergerak hati untuk segera menjawab permintaannya, padahal Tuhan tak kenal dia sebelumnya, dan perwira itu bukanlah termasuk murid-murid-Nya.  Ada beberapa faktor yang menggerakkan Tuhan untuk bertindak:  1.  Perwira itu punya iman.  Perwira Romawi itu tahu bahwa orang Yahudi tidak bergaul dengan orang dari bangsa lain, seperti dirinya, seperti tertulis:  "...betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka."  (Kisah 10:28).  Itulah yang menjadi alasan baginya mengapa Tuhan tak perlu datang ke rumahnya, tetapi cukup dengan sepatah kata saja itu sudah cukup untuk menyembuhkan hambanya itu.  Inilah bukti perwira ini punya iman yang luar biasa:  "...sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel."  (Matius 8:10).

     2.  Punya kerendahan hati.  Perwira Romawi ini, sekalipun pangkatnya tinggi  (mengepalai 100 prajurit), tetaplah orang yang rendah hati, tersirat dari pernyataannya:  "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku,"  (ayat nas).  Ia pun berempati terhadap hambanya yang sedang sakit di rumahnya.  Meski sibuk, ia meluangkan waktu untuk hambanya itu dengan datang kepada Tuhan memohonkan kesembuhan  (Matius 8:6).

Iman dan kerendahan hati adalah kunci mendapatkan belas kasihan Tuhan!

Friday, July 19, 2019

MENYELESAIKAN SAMPAI AKHIR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juli 2019

Baca:  Wahyu 21:1-8

"Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan."  Wahyu 21:6

Dalam mengerjakan misi yang diamanatkan Bapa kepada-Nya, Kristus tidak pernah mengerjakan segala sesuatunya dengan setengah-setengah, tapi diselesaikan-Nya sampai tuntas, dan puncaknya adalah melalui pengorban-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.  Dia adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang akhir;  Dia yang mengawali dan Ia pula yang mengakhirinya.  Jadi, Kristus selalu menyelesaikan karya-Nya sampai selesai, seperti tertulis:  "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."  (Filipi 1:6).

     Jika di hari-hari yang telah lalu kita mengalami kebaikan, kasih dan penyertaan Kristus yang teramat sempurna, maka tak mungkin hari ini, esok, atau lusa Dia lupa dan tak lagi menyertai kita.  Kalau Kristus sudah menyertai kita dari awal, Dia juga akan menyertai kita sampai akhir hidup kita, bahkan penyertaan-Nya sampai kepada kesudahan zaman, seperti yang dijanjikan-Nya:  "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  (Matius 28:20b).  Penyertaan Tuhan atas kita takkan pernah berubah, asalkan kita tetap setia mengikut Dia sampai akhir dan hidup seturut dengan kehendak-Nya.  "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  (Wahyu 2:10).  Karena itu jangan sekali-kali kita meninggalkan Tuhan dan tidak lagi hidup menurut firman-Nya.  Jika hal itu yang kita lakukan, maka bukan salah Tuhan bila kita tidak lagi disertai oleh-Nya.

     Selama kita tinggal dekat Tuhan dan menyediakan diri untuk disertai, Dia yang berjanji itu setia.  Tuhan berkata,  "Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan."  (ayat nas).  Kata cuma-cuma ini tidak berarti bahwa setiap orang yang menolak akan diberi, tapi hanya orang yang merasa hauslah  (yang punya kerinduan besar)  yang akan Tuhan beri.  "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan."  (Matius 5:6).

"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  Yesaya 46:4

Thursday, July 18, 2019

CARA TUHAN DI LUAR PEMIKIRAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juli 2019

Baca:  Mazmur 105:16-24

"Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak."  Mazmur 105:16-17

Saat sedang dihadapkan dengan permasalahan yang berat, seringkali dalam doa-doa kita, kita memaksa Tuhan untuk segera menolong kita dan berharap cara Tuhan menolong itu sesuai dengan cara kita, jalan Tuhan dalam menolong itu seperti jalan kita.  Dalam firman-Nya Tuhan sudah menegaskan bahwa  "...rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).  Karena itu milikilah iman dan penyerahan diri penuh kepada Tuhan, tak perlu kita mereka-reka jalan menurut pemikiran akal kita.

     Ketika bangsa Israel dilanda kelaparan yang dahsyat, Tuhan menyelamatkan umat-Nya ini dengan cara-Nya yang di luar nalar, tak dapat dimengerti dan tak terjangkau oleh jalan pemikiran manusia.  Bukankah Tuhan sanggup mendatangkan kesuburan tanah di Kanaan tanpa harus mengirim Yusuf ke Mesir dengan cara yang sedemikian unik?  Namun Tuhan tak menempuh jalan yang direka-reka manusia.  Tanah Kanaan ketika itu akan mengalami kelaparan yang dahsyat, dan Tuhan telah mengetahui apa yang akan terjadi jauh sebelum saat itu.  Yusuf, yang pada waktu itu masih berusia belia yaitu sekitar 17 tahun, diutus Tuhan untuk ke Mesir demi penyelamatan bangsa dan juga sanak saudaranya.  Untuk sampai ke Mesir Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang penuh liku dan derita.  Pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya!  "Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu. Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: 'Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.'"  (Kejadian 41:40-41).  Ketika itu Yusuf berumur sekitar 30 tahun.

     Yusuf pun mengurus tanah Mesir sehingga negeri itu makmur dan berlimpah bahan makanan  (Kejadian 41:46-49).  Dengan demikian bangsanya, orangtua serta sanak-saudaranya datang ke Mesir dan diselamatkan dari bencana kelaparan.

Jalan Tuhan dalam menolong umat-Nya itu penuh dengan keajaiban!

Wednesday, July 17, 2019

TUHAN HAKIM YANG ADIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2019

Baca:  Mazmur 7:1-17

"Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya."  Mazmur 7:16

Di zaman sekarang ini banyak orang tak lagi segan untuk melakukan perbuatan jahat.  Segala cara ditempuh demi mewujudkan apa yang diinginkan.  Mereka nekat memasang jerat atau ranjau untuk mencelakai dan menghancurkan hidup orang lain tanpa peduli apakah itu teman, kawan, atau lawan.  Entah dengan cara bergosip, memfitnah, menyebarkan berita hoax, atau perbuatan apa saja yang mengandung unsur negatif.  Perbuatan semacam ini bisa terjadi di segala tempat:  di tempat kerja, di sekolah, bahkan di lingkungan gereja sekalipun.  Tujuannya satu, yaitu menjatuhkan atau menghancurkan orang lain yang dianggapnya sebagai rival atau lawan.

     Mungkin tak pernah mereka sadari bahwa perbuatan jahat yang dilakukan itu justru akan menjadi bumerang yang dapat menghancurkan diri sendiri, atau senjata makan tuan  (ayat nas).  "Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala. Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya."  (Mazmur 7:14, 15, 17).  Berhati-hatilah!  Orang yang merancangkan kejahatan terhadap sesamanya akan berperkara sendiri dengan Tuhan.  Ada tertulis:  "Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN,"  (Amsal 15:3).  Ingatlah selalu bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan pengawasan-Nya terhadap semua orang.  Kejahatan sekecil apa pun, bahkan niat jahat yang timbul di dalam hati sekalipun Tuhan tahu secara persis.  Pada saatnya Tuhan akan bertindak.

     Selama kita hidup seturut dengan firman Tuhan, berlaku benar di hadapan Tuhan, kita tak perlu takut dengan segala kejahatan yang orang lain rancangkan terhadap kita.  Tuhan yang adalah Hakim yang adil pasti akan menyatakan pembelaan-Nya kepada kita.

"Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata."  Mazmur 6:11

Tuesday, July 16, 2019

TEGUHKAN HATI DAN TAK PERLU TAKUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2019

Baca:  Yesaya 7:1-9

"Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya."  Yesaya 7:4

Rasa takut dalam dialami oleh semua orang, tanpa terkecuali.  Orang yang kaya, orang yang miskin, orang yang berpendidikan atau tak berpendidikan, orang yang berpangkat atau pekerja rendahan, orang yang tinggal di kota, di desa atau di lereng-lereng gunung, semua pasti pernah mengalami rasa takut dalam hidupnya.  Banyak faktor yang menyebabkan seseorang dilanda rasa takut:  permasalahan dalam rumah tangga, krisis keuangan, bencana atau musibah, sakit-penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan dalam studi, ancaman atau intimidasi dari pihak lain, dan sebagainya.  Hamba-hamba Tuhan, pelayan Tuhan, dan termasuk jemaat yang masih awam, tak luput dari rasa takut.

     Elia, yang adalah seorang nabi yang diurapi Tuhan, juga dilanda rasa takut yang luar biasa ketika ia mendengar ancaman dan gertakan dari Izebel,  "...jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."  (1 Raja-Raja 19:3), maka  "...takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya;"  (1 Raja-Raja 19:3).  Rasa takut yang demikian hebatnya sampai membuat Elia ingin mati saja.  Padahal ia baru saja mendemonstrasikan kuasa Tuhan di hadapan umat Israel dengan berhasil membunuh 450 orang nabi baal di atas gunung Karmel.  Syukurlah pada akhirnya Elia mampu bangkit kembali imannya setelah Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menghibur dan menguatkan dia, serta memberinya makanan  (roti bakar)  dan sebuah kendi berisi air untuk diminum.

     Ahas, sekalipun raja, ketika mendengar berita bahwa raja Aram hendak menyerang dan sudah berkemah di wilayah Efraim, hatinya dan  "...hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin." (Yesaya 7:2).  Melalui hamba-Nya, Yesaya, Ia berfirman,  "Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut..."  (ayat nas).  Apa yang Saudara takutkan saat ini?  Serahkan beban permasalahan Saudara kepada Tuhan dan imani setiap kebenaran firman-Nya.

Tak perlu takut menghadapi apa pun, karena ada Roh Kudus yang selalu menyertai dan tak pernah meninggalkan kita.