Wednesday, July 3, 2019

TIDAK TAAT, DITOLAK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juli 2019

Baca:  1 Samuel 15:1-35

"Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  1 Samuel 15:23b

Suatu ketika Saul menerima perintah dari Tuhan untuk menyerang Amalek dan menumpas semuanya, tanpa terkecuali.  "Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."  (1 Samuel 15:3).  Saul melakukan apa yang Tuhan perintahkan yaitu membunuh semua orang Amalek;  hanya saja ia menyisakan satu orang, yaitu  "Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang."  (1 Samuel 15:8),  "...kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu."  (1 Samuel 15:9).  Mereka juga menyelamatkan kambing domba dan lembu yang terbaik dengan dalih hendak dipersembahkan kepada Tuhan.

     Sekalipun Saul sudah membunuh ribuan orang Amalek, tapi dengan menyelamatkan raja Agag itu artinya Saul tetap saja tidak mengindahkan perintah Tuhan, sebab Tuhan menghendaki Saul membunuh semua orang Amalek, tanpa terkecuali.  Apa akibatnya jika orang tidak melakukan perintah Tuhan dengan segenap hati?  Tentunya apa yang dilakukannya menjadi tidak sesuai dengan keinginan hati Tuhan, alias tidak berkenan kepada-Nya.  "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan."  (1 Samuel 15:22).  Ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan tidak ada istilah taat yang setengah-setengah!

     Ketaatan setengah-setengah itu sama artinya melakukan tindakan kompromi.  Yang Tuhan kehendaki adalah ketaatan secara total.  Apa yang diperbuat Saul ini menimbulkan kemarahan Tuhan.  Akibatnya?  Tuhan menolak Saul menjadi raja, dan bahkan Dia merasa menyesal karena telah menjadikan Saul sebagai raja atas Israel.

Tak ingin mengalami penolakan dari Tuhan?  Jadilah anak-anak yang taat.

Tuesday, July 2, 2019

KRISTUS SEBAGAI KORBAN SEMPURNA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juli 2019

Baca:  Ibrani 10:1-18

"Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan."  Ibrani 10:14

Alkitab menyatakan bahwa  "...hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan."  (Ibrani 9:22).  Di zaman Perjanjian Lama, apabila seseorang ingin beribadah kepada Tuhan, ia harus membawa korban persembahan sebagai pengganti dosanya.  Dengan kata lain, seseorang dianggap tidak layak untuk menghadap Tuhan yang Mahakudus apabila tidak ada korban yang dibawa untuk dipersembahkan.  "Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba."  (Imamat 1:2), dan  "Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati."  (Imamat 1:14).  Selalu ada korban sebagai pengganti dosa, dan korban yang dipersembahkan kepada Tuhan haruslah yang sempurna dan tak bercacat.

     Jadi, ketika seseorang datang kepada Tuhan, hal pertama yang dilakukan oleh seorang imam adalah memeriksa korban yang hendak dipersembahkan.  Orang itu dianggap layak untuk menghadap Tuhan bukan karena siapa dirinya, melainkan karena korban yang dipersembahkan sebagai pengganti dosanya.  Sekarang ini kita patut bersyukur karena kita tidak perlu lagi menghadap Tuhan dengan membawa binatang sebagai korban, sebab segala korban itu sudah disempurnakan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Dalam hal ini Kristus tidak hanya bertindak sebagai Imam Besar untuk menjadi perantara antara Bapa dengan manusia, tetapi Ia juga menjadi korban pengganti.

     Saat kita datang kepada Bapa, Bapa tidak lagi melihat diri kita yang berdosa, tapi Dia melihat Kristus yang menjadi korban untuk penebusan dosa.

Pengorbanan Kristus di kayu salib melayakkan kita untuk datang kepada Bapa!

Monday, July 1, 2019

JANGAN SIA-SIAKAN KESELAMATAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juli 2019

Baca:  Filipi 2:12-18

"Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,"  Filipi 2:12

Sesudah seseorang mengaku percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, dosa-dosa orang tersebut diampuni, sebab Kristus berkuasa untuk mengampuni dosa:  "...Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa..."  (Lukas 5:24).  Melalui kematian-Nya di atas kayu salib segala dosa manusia sudah  (selesai)  diampuni.  Hal ini terjadi ketika Kristus mengucapkan perkataan  "Sudah selesai"  (Yohanes 19:30).  Setelah dosa-dosa kita diampuni, hubungan kita dengan Tuhan diperdamaikan kembali, sehingga kita dapat bersekutu kembali dengan-Nya;  dan keselamatan pun diberikan kepada kita!

     Jadi, kita diselamatkan semata-mata karena anugerah atau kasih karunia Tuhan, bukan karena usaha atau perbuatan kita  (Efesus 2:8).  Namun karena keselamatan adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan secara gratis  (tidak perlu membayar), maka kita harus menghargai dan menjaganya.  Jangan pernah menyia-nyiakan keselamatan tersebut, melainkan kita harus tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.  Apa yang harus kita lakukan untuk menjaga kepastian keselamatan yang telah kita terima?  Kita harus hidup dalam pertobatan.  Pertobatan harus dilakukan terus-menerus di sepanjang hidup kita.  "Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu!"  (Yeremia 18:11b).  Tuhan sangat benci dengan kefasikan, namun Tuhan tidak mengingini kematian orang fasik.  Karena itu Tuhan ingin supaya orang fasik bertobat dari kejahatannya.  "Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!"  (Yehezkiel 33:11).  Bertobat berarti kita meninggalkan kehidupan lama!

     Peringatan keras ini juga Tuhan tujukan kepada jemaat di Efesus:  "Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat."  (Wahyu 2:5).  Kekristenan tanpa pertobatan adalah sia-sia!

Keselamatan dalam Kristus adalah pasti, jagalah dengan hati takut akan Dia!

Sunday, June 30, 2019

TUHAN MENGASIHI DAN MEMPEDULIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2019

Baca:  Matius 12:15b-21

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang."  Matius 12:20

Buluh adalah sejenis tumbuhan seperti alang-alang yang tumbuh liar yang sangat umum di sepanjang tepi sungai di Israel;  tanaman berumpun, berakar serabut, batangnya beruas-ruas, berongga, dan keras;  bambu.  Buluh yang patah sangatlah lumrah bila dibuang orang, karena selain tidak ada harganya, juga tidak memiliki nilai guna.  Buluh yang sudah terkulai dan tidak lagi tegak adalah tanda bahwa buluh tersebut tidak lama lagi akan mati.  Sumbu adalah benang  (kapas dan sebagainya)  yang berfungsi sebagai jalan peresapan minyak dan sebagainya ke bagian yang disulut  (tentang lampu, kompor, dan sebagainya).  Bila sumbu sudah pudar nyalanya, sebentar lagi pasti akan mati.

     Buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya adalah gambaran tentang orang yang hidup dalam kegagalan, orang-orang yang  'sakit', orang-orang yang frustasi, orang-orang yang dicap  'berdosa'  dan sebagainya.  Jika melihat orang-orang yang demikian, respons kebanyakan orang biasanya berusaha untuk menjauhi, meremehkan, mengucilkan, menghakimi, dan mendiskreditkan.  Perhatikan apa yang Tuhan perbuat terhadap mereka:  Tuhan tidak akan memutuskan buluh itu dan tidak akan memadamkan sumbu yang nyalanya tinggal sedikit  (ayat nas).  Firman Tuhan memberikan perintah kepada kita untuk mengasihi mereka dan memberikan perhatian yang lebih kepada mereka, sebab bila kita menjauhi mereka, hal itu justru akan membuat mereka semakin terpuruk, tertekan dan frustasi, karena merasa hidupnya tidak lagi berarti.

     Memang kita harus membenci segala bentuk dosa, tetapi bukan membenci orangnya.  Sedapat mungkin kita harus membawa mereka kembali kepada pertobatan!  Kita harus menggandeng mereka, merangkul mereka, dan menguatkan mereka, agar kembali bangkit, karena di dalam Tuhan selalu ada harapan.  Inilah panggilan Tuhan bagi orang percaya, yang adalah hamba-hamba-Nya.  Tuhan memerintahkan penduduk tanah Tema untuk keluar dan menyambut mereka dengan membawa air dan roti  (Yesaya 21:14-15), bukan pedang dan batu.  Air dan roti berbicara tentang firman Tuhan.

"...tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."  2 Petrus 3:9b

Saturday, June 29, 2019

TUHAN PEMILIK SEGALANYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2019

Baca:  Amsal 9:1-18

"Karena oleh aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah."  Amsal 9:11

Semua manusia pada umumnya akan mengalami kegentaran dan kengerian bila memikirkan bagaimana menghadapi kematian.  Banyak orang gagah perkasa berani berperang di medan pertempuran dan tidak takut menghadapi binatang buas, tapi bila mereka mengingat apa yang ada di balik kematian, mereka pun menjadi gentar.  Banyak orang yang sewaktu hidupnya bermulut besar mengatakan bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan, dan tidak percaya akan adanya sorga dan neraka, tapi begitu maut mengintip dan ajal sudah hampir menjemput, ketakutan yang luar biasa terjadi dalam batinnya.  Mereka minta segera dipanggilkan hamba Tuhan atau pemimpin rohani untuk berdoa baginya, barulah mereka bertobat.  Syukur jika masih ada kesempatan... bagaimana jika tidak?

     Sekaya dan sehebat apa pun manusia takkan dapat  'membeli'  umur panjang.  Umur panjang tak dapat dicari dengan usaha manusia, karena hanya Tuhanlah yang empunya.  Tuhan adalah sumber segala-galanya, Dialah yang memberi umur panjang, Dia pula yang  "...membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan."  (1 Samuel 2:7-8).  Bagaimana pun panjangnya umur manusia, semua pasti ada batasnya dan pada akhirnya kita semua harus menghadap Sang Pencipta.  Kematian jasmani bukan apa-apa, tetapi kematian kekal itulah yang sangat mengerikan dan menakutkan semua orang.

     Bagaimana caranya memperoleh hidup kekal dan tak kehilangan nyawa, artinya nyawanya tidak binasa karena siksaan abadi di neraka?  Kita harus mencari Tuhan.  "Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut."  (Amsal 8:35-36).  Jelas sekali bahwa barangsiapa tidak memiliki Kristus di dalam hidupnya semakin mendekatkan dirinya kepada maut.  

Mumpung masih hidup, bertobatlah dan percayalah kepada Kristus!

Friday, June 28, 2019

KUALITAS HIDUP YANG TERUJI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Juni 2019

Baca:  Mazmur 18:1-20

"Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku."  Mazmur 18:4

Jangan pernah bermimpi akan terluput dari segala macam krisis atau masalah selama kita masih hdiup di dunia ini.  Krisis atau masalah coraknya bermacam-macam, datang tanpa bisa diduga, tanpa permisi, dan sewaktu-waktu.  Yang terpenting adalah bagaimana reaksi kita dalam menyikapi masalah atau krisis yang ada.  Daud, yang hidup melekat kepada Tuhan, juga tak luput dari krisis atau masalah, namun ia telah siap sebelum krisis atau masalah menyerang, karena ia sudah  'tinggal'  di dalam firman-Nya, sehingga dalam situasi yang buruk sekalipun, dengan penuh keyakinan, ia dapat berkata,  "Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!"  (Mazmur 18:3).

     Apa yang terjadi esok tak seorang pun yang tahu!  Bisa saja hari ini semuanya tampak tenang dan wajar, sampai suatu ketika krisis datang menyerang dengan tiba-tiba, sehingga keadaan yang semula tenang berubah menjadi lautan yang bergelora.  Saat itulah orang lain akan memperhatikan bagaimana orang yang menyebut diri sebagai orang percaya itu bereaksi.  Saat itu terbukalah keadaan rohani kita yang sesungguhnya.  Respons kita terhadap krisis ini akan menyingkapkan kadar iman kita, kualitas hubungan kita dengan Tuhan.  Tentu saja dalam keadaan yang normal semua orang dapat memuji-muji Tuhan, mengucap syukur dan mengutip ayat-ayat firman Tuhan.

     Bila krisis datang melanda, sengsaralah orang yang tak hidup karib dengan Tuhan, yang baru mencari Dia kala tembok pertahanannya hampir runtuh.  Reaksi yang mula-mula timbul pastilah kepahitan hati;  dan kemudian kita marah kepada Tuhan, menyalahkan Dia, dan menganggap bahwa Dialah yang menjadi penyebabnya.  "Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya, dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap. Ia telah menanggalkan kemuliaanku dan merampas mahkota di kepalaku. Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap, dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya."  (Ayub 19:8-10).  Berbeda dengan orang yang kualitas imannya teruji, yang di tengah krisis melanda ia mampu berkata,  "Bangkitlah, ya TUHAN, di dalam kuasa-Mu! Kami mau menyanyikan dan memazmurkan keperkasaan-Mu."  (Mazmur 21:14).

Kualitas iman seseorang akan teruji kualitasnya saat krisis atau masalah datang!

Thursday, June 27, 2019

MELAYANI DAN KESAKSIAN HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juni 2019

Baca:  1 Timotius 3:8-13

"Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa."  1 Timotius 3:13

Setiap orang yang ingin melayani Tuhan wajib hidup sesuai firman Tuhan.  Bila pelayan Tuhan hidupnya tak sesuai dengan kehendak Tuhan, mereka bukan hanya tak memuliakan Tuhan, tapi hidupnya juga menjadi batu sandungan bagi orang lain.  Bila kita berkomitmen menyerahkan hidup bagi kemuliaan Tuhan, kita pun harus berani membereskan semua hal yang tak berkenan kepada Tuhan!  Jangan menunggu perkara-perkara negatif berakar kuat dalam diri Saudara.  "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:21).

     Janganlah mengeraskan hati, pekalah terhadap suara Roh Kudus!  "Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus..."  (Kolose 3:3).  Jadi  "...hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu..."  (Kolose 2:6-7).  Alkitab menegaskan:  "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa."  (Kolose 1:13-14).  Jika kita telah dilepaskan dari kuasa kegelapan, tak selayaknya hidup kita sembrono dengan tetap tinggal di dalam kegelapan itu.

     Menanggalkan segala hal yang disukai bukanlah perkara gampang dan mungkin menyakitkan, tapi bila kasih kita kepada Kristus sangat besar, maka  'penderitaan'  yang kita alami akibat melepaskan kesenangan daging takkan menjadi rintangan untuk maju bersama Dia.  Belajarlah dari rasul Paulus dengan kesaksian hidupnya yang luar biasa.  Berbagai penderitaan telah dialaminya, namun tak setapak pun ia mundur dari pelayanan.  Ia juga mampu mengalahkan segala keinginan daging demi Kristus yang dilayaninya.  Ini menunjukkan bahwa Paulus tidak hanya pandai berbicara, tapi hidupnya benar-benar nyata menjadi kesaksian bagi banyak orang.

Tanpa kesaksian hidup, pelayanan kita tak lebih dari sekedar kegiatan rohani!

Wednesday, June 26, 2019

ADA SEPASANG MATA MELIHAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Juni 2019

Baca:  Amsal 15:1-33

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik."  Amsal 15:3

Seringkali banyak orang berkamuflase menghiasi hidupnya dengan berbagai bentuk kemunafikan.  Mereka sedemikian rupa menutup rapat-rapat  'kebusukan'  hidupnya dengan penampilan luarnya:  tutur kata halus, sikap ramah dan tindak tanduk yang tampak rohani, padahal kehidupan yang dijalani sesungguhnya adalah suatu kehidupan gelap yang penuh liku-liku.  Mereka menyembunyikan  'belang'nya di hadapan manusia dengan berbagai trik, namun mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang tak berkedip mengawasi setiap gerak-gerik hidupnya tanpa ada yang terlewatkan.  "Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik."  (ayat nas).

     Orang-orang seperti ini tak pernah menyesal atau merasa berdosa, bahkan mereka menganggap bahwa Tuhan tak melihat segala yang diperbuatnya.  Mereka tetap tenang seolah-olah tak terjadi apa-apa dan tak pernah berbuat dosa.  Apalah artinya nampak aktif ke gereja bila hidup kita tak berubah, dan dosa tetap saja kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi?  Itu sia-sia belaka.  Alkitab menegaskan:  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).  Kerajaan Sorga hanya disediakan bagi orang-orang yang taat melakukan kehendak Tuhan.  Hendaknya kita berhati-hati dalam segala hal, sebab mata Tuhan ada di segala tempat.

     Walaupun tidak ada pastur, pendeta, pemimpin rohani atau orang lain yang tahu, kita harus menjaga hidup agar tetap berkenan kepada Tuhan.  Jangan sampai kita memakai  'kedok'  apa pun!  Sadarlah dan ingatlah bahwa  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).  Ada orang yang melakukan dosa, tapi begitu mendengar teguran mereka segera sadar dan minta ampun kepada Tuhan.  Tetapi tidak sedikit orang, yang sekalipun sudah mendengar kebenaran firman Tuhan, tetap saja melakukan dosa dengan sembunyi.

"Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu."  Ibrani 10:26

Tuesday, June 25, 2019

PELANGGARAN MENDATANGKAN MURKA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juni 2019

Baca:  Yeremia 29:17-23

"Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku akan mengirim pedang, kelaparan dan penyakit sampar ke antara mereka, dan Aku akan membuat mereka seperti buah ara yang busuk dan demikian jeleknya, sehingga tidak dapat dimakan."  Yeremia 29:17

Di pemandangan mata Tuhan tidak ada yang namanya  'dosa besar atau dosa kecil', dosa tetaplah dosa, dan Tuhan sangat membenci dosa.  Akibat dari dosa sangatlah jelas yaitu hukuman.  Tuhan berkali-kali memperingatkan umat-Nya agar tidak berbuat dosa atau melanggar apa yang difirmankan-Nya, tapi pada kenyataannya sejak dari zaman dahulu hingga detik hari ini masih saja ada orang yang menganggap remeh peringatan Tuhan ini dan tetap saja hidup dalam ketidaktaatan.  Padahal jelas sekali dinyatakan:  "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,"  (Ibrani 2:2).

     Banyak orang seringkali mengabaikan pelanggaran-pelanggaran kecil atau menganggap sepele hal-hal kecil, padahal ada dampak yang besar dari setiap pelanggaran.  Contoh:  Akhan mencuri barang rampasan yang diangkut dari Yerikho, padahal ia tahu Tuhan berfirman bahwa barang rampasan dari kota itu tidak boleh disentuh atau dimiliki oleh siapa pun, jika ada yang melanggar pasti akan dihukum mati.  Meski sudah diperingatkan dengan keras Akhan tetap saja mengingini barang jarahan tersebut, timbul sifat serakah sehingga ia berani ambil resiko mencuri jarahan itu.  Mungkin Akhan berpikir tidak ada seorang pun tahu apa yang telah diperbuatnya, sehingga ia akan dapat menikmati hasil curiannya dengan bebas.  Ia pun tidak akan mengira bahwa akibat dari perbuatannya itu seluruh bangsa Israel ikut menanggung akibatnya, yaitu kalah dari bangsa Ai, yang notabene adalah bangsa yang jauh lebih lemah dari bangsa Israel.  Akhirnya Akhan dan keluarganya harus mengalami penghukuman di lembah Akhor  (Yosua 7:24-25).

      Yang menimpa Akhan dan keluarganya ini menjadi pelajaran dan peringatan buat kita agar tidak main-main dengan dosa.  Pelanggaran terhadap firman Tuhan ternyata bukan hanya akan membuat pelakunya menderita, tapi seluruh keluarganya akan turut menanggung akibatnya.

Jangan sesat!  Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.  Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya  (Galatia 6:7).

Monday, June 24, 2019

GAMPANG MENGHAKIMI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2019

Baca:  Yohanes 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."  Yohanes 8:7

Pada suatu ketika ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mendapati ada seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.  Lalu mereka membawa perempuan itu kepada Kristus dengan maksud mencari celah untuk menyalahkan Dia.  Mereka mendesak Kristus untuk memberikan komentar.  Berkatalah Kristus kepada mereka,  "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."  (ayat nas).  Bagaimana reaksi ahli Taurat dan orang Farisi?  "...setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya."  (Yohanes 8:9).  Ternyata tak seorang pun dari mereka yang berani melempari perempuan berdosa itu dengan batu.  Akhirnya mereka pun mengundurkan diri satu persatu.

     Sampai sekarang ini masih banyak sekali orang Kristen yang berlaku seperti ahli Taurat dan orang Farisi, yang bertindak sok benar dan merasa diri lebih rohani dan suci.  Mereka gampang sekali menghakimi orang lain, gampang sekali melihat kesalahan saudara seiman, dan jeli sekali mengorek-orek kelemahan atau kekurangan dari hamba-hamba Tuhan yang melayani.  Terlihat sedikit saja kesalahan atau kelemahan saudara seiman atau hamba-hamba Tuhan, mereka langsung menjadikan hal itu sebagai bahan gosip,  "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"  (Matius 7:3).  Adakah di antara kita yang tak mempunyai kesalahan atau cacat cela sedikit pun?

     Tak selayaknya kita menghakimi orang lain!  Terlebih-lebih bila penghakiman itu kita tujukan kepada hamba-hamba Tuhan, orang-orang yang dipilih dan dipercaya Tuhan untuk sebuah pelayanan.  Itu bukan urusan kita!  Biarlah Tuhan sendiri yang berperkara dengan dia.  "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri."  (Roma 14:4).

"Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  Galatia 6:4

Sunday, June 23, 2019

BANYAK ORANG MENJADI MURTAD

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2019

Baca:  Lukas 8:4-15

"Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad."  Lukas 8:13

Orang murtad adalah orang yang sudah mendengar kebenaran firman Tuhan, bahkan sudah percaya, namun tak dapat bertahan lama.  Ketika berada dalam masalah dan pencobaan mereka meninggalkan Tuhan, karena firman yang didengarnya tak berakar kuat di dalam hatinya.  Begitu masalah sedikit saja datang hilanglah iman percayanya kepada Tuhan.  Kemudian mereka mencari-cari jalan bagaimana caranya agar dapat menyalahkan Tuhan dan menghujat nama-Nya.  "Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia."  (Yesaya 1:4b).

     Orang-orang yang murtad tidak segan-segan menista dan mengejek Tuhan.  Ketika terjadi musibah atau bencana, mereka dengan berani berkata,  "Kalau Tuhan itu ada, mengapa Dia tidak menolong dan mencegahnya?"  Bukankah ini perkataan yang kurang ajar terhadap Tuhan?  Orang yang telah meninggalkan Tuhan, tak lagi setia kepada Tuhan dan tak lagi percaya kepada firman Tuhan hatinya kosong karena Roh Kudus tak lagi tinggal di situ, sehingga roh jahat akan segera kembali menguasainya.  "Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."  (Matius 12:43-45).

     Alkitab sudah menyatakan bahwa di masa-masa akhir  "...banyak orang akan murtad..."  (Matius 24:10),  "Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,"  (2 Tesalonika 2:3).


"Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut."  Amsal 12:28