Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2019
Baca: Amsal 28:1-28
"Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda." Amsal 28:1
Seseorang yang berlaku fasik, sampai kapan pun, pasti tidak pernah tenang dalam menjalani hidupnya. (Orang fasik adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, hidup dalam kejahatan, atau hidup menyimpang dari jalan Tuhan.) Mengapa? Karena ia terus dihantui oleh rasa bersalah dan selalu dijejar-kejar oleh rasa takut. Hati yang menyimpan dosa pasti merasa tidak tenang dan gelisah, tidur pun tak nyenyak. Rasa takut, tidak tenang dan gelisah disebabkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. "Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan," (Amsal 12:3). Sebaliknya, orang yang berlaku hidup benar di hadapan Tuhan dan manusia selalu merasa aman dan tak ada rasa cemas sedikit pun. "Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya." (Amsal 11:8).
Tentang orang yang melawan hukum Tuhan, tidak taat, atau berlaku fasik, Tuhan berkata, "...Aku akan mendatangkan kecemasan ke dalam hati mereka di dalam
negeri-negeri musuh mereka, sehingga bunyi daun yang ditiupkan anginpun
akan mengejar mereka, dan mereka akan lari seperti orang lari menjauhi
pedang, dan mereka akan rebah, sungguhpun tidak ada orang yang mengejar. Dan mereka akan jatuh tersandung seorang kepada seorang seolah-olah
hendak menjauhi pedang, sungguhpun yang mengejar tidak ada, dan kamu
tidak akan dapat bertahan di hadapan musuh-musuhmu." (Imamat 26:36-37). Apakah hari-hari Saudara dipenuhi dengan kecemasan atau ketakutan? Kadang-kadang dosa yang tak kita sadari pun dapat menyebabkan hati merasa cemas dan takut. Perlu sekali kita datang kepada Tuhan dan mengundang Roh Kudus untuk menyelidiki dan membereskan hati kita.
Jika kita telah membereskan dosa-dosa yang tersembunyi, damai sejahtera Tuhan akan kembali kita rasakan. Tuhan selalu bersedia memberi pengampunan apabila kita memohon ampun kepada-Nya. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia
akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Rasa takut juga menunjukkan adanya hubungan yang tak lagi harmonis dengan Tuhan, karena kita telah meninggalkan persekutuan dengan Tuhan.
Selama dosa belum beres, damai sejahtera Tuhan akan jauh dari hati kita!
Saturday, June 22, 2019
Friday, June 21, 2019
BUKAN DARI DUNIA INI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juni 2019
Baca: Yohanes 17:1-19
"Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia." Yohanes 17:16
Firman Tuhan memperingatkan orang percaya agar memiliki kehidupan yang 'berbeda' dengan dunia ini. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini," (Roma 12:2). Mengapa? Karena kita bukan berasal dari dunia. Kita hidup di dunia ini dalam tubuh jasmani, namun manusia rohani kita bukanlah dari dunia ini. "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4).
Namun banyak di antara orang percaya yang memiliki cara hidup yang setali tiga uang dengan orang-orang dunia. Mereka berpikir seperti orang dunia berpikir, mereka berkata-kata seperti orang dunia berkata, dan perbuatan mereka seperti orang-orang dunia. Mereka telah terjebak dunia dan terperangkap oleh tipu muslihat Iblis sehingga mereka enggan untuk 'keluar' dan 'melepaskan diri' dari ikatan-ikatan dunia ini. Firman Tuhan dengan tegas memberikan perintah: "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan," (2 Korintus 6:17), tapi kita malah semakin karib membangun persahabatan dengan dunia. "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakobus 4:4).
Dalam menghadapi masalah hidup ini kita pun seringkali membicarakan hal-hal yang negatif dengan membesar-besarkan ketidakmampuan, kemustahilan, kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Kita lupa bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7), dan bahwa "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Kita diberi kuasa dari atas, dari tempat yang mahatinggi, tempat di mana Tuhan berada. Kuasa itulah yang memberi jaminan kemenangan bagi kita! Tertulis: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19).
Selama kita memiliki kehidupan yang sama dengan dunia artinya kita telah kehilangan identitas diri kita sebagai orang-orang yang bukan dari dunia!
Baca: Yohanes 17:1-19
"Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia." Yohanes 17:16
Firman Tuhan memperingatkan orang percaya agar memiliki kehidupan yang 'berbeda' dengan dunia ini. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini," (Roma 12:2). Mengapa? Karena kita bukan berasal dari dunia. Kita hidup di dunia ini dalam tubuh jasmani, namun manusia rohani kita bukanlah dari dunia ini. "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4).
Namun banyak di antara orang percaya yang memiliki cara hidup yang setali tiga uang dengan orang-orang dunia. Mereka berpikir seperti orang dunia berpikir, mereka berkata-kata seperti orang dunia berkata, dan perbuatan mereka seperti orang-orang dunia. Mereka telah terjebak dunia dan terperangkap oleh tipu muslihat Iblis sehingga mereka enggan untuk 'keluar' dan 'melepaskan diri' dari ikatan-ikatan dunia ini. Firman Tuhan dengan tegas memberikan perintah: "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan," (2 Korintus 6:17), tapi kita malah semakin karib membangun persahabatan dengan dunia. "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakobus 4:4).
Dalam menghadapi masalah hidup ini kita pun seringkali membicarakan hal-hal yang negatif dengan membesar-besarkan ketidakmampuan, kemustahilan, kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Kita lupa bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7), dan bahwa "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Kita diberi kuasa dari atas, dari tempat yang mahatinggi, tempat di mana Tuhan berada. Kuasa itulah yang memberi jaminan kemenangan bagi kita! Tertulis: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19).
Selama kita memiliki kehidupan yang sama dengan dunia artinya kita telah kehilangan identitas diri kita sebagai orang-orang yang bukan dari dunia!
Thursday, June 20, 2019
TUHAN TELAH MEMILIH KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2019
Baca: Yesaya 61:1-11
"Tetapi kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita." Yesaya 61:6a
Kesempurnaan seseorang dalam pengetahuan tentang Alkitab atau ilmu theologia bukan suatu jaminan untuk masuk dalam panggilan Ilahi, sebab Tuhan tidak melihat seberapa hebat dan pintarnya seseorang, tapi Dia mau berurusan dengan hati orang. "...manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Tuhan mencari hati orang yang bersedia dan rela untuk masuk dalam rencana-Nya di akhir zaman, yaitu menegakkan kerajaan-Nya di muka bumi ini.
Sekalipun seseorang menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari Alkitab, bila tanpa tujuan untuk mencari kehendak-Nya, maka sia-sialah semua, sebab firman itu akhirnya hanya merupakan ilmu pengetahuan saja baginya. Mereka akan terus menanti dan menanti panggilan Tuhan, namun mereka belum sadar bahwa sesungguhnya ia telah dipanggil Tuhan. Tuhan sendiri telah mengatakan-Nya dan itu sudah cukup sebagai dasar pegangan yang kokoh; "...kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita..." (ayat nas). Sudah tiba saatnya kita masuk dalam panggilan Tuhan, "...untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara," (Yesaya 61:6b).
Seperti telah dikatakan karena kita disebut imam Tuhan dan dinamai pelayan Tuhan, maka kita sudah ditandai dengan benang 'kirmizi', jadi kita tak dapat lari dari tujuan Ilahi ini. Dalam Alkitab dinyatakan bahwa ada tiga warna benang yang harus dipintal menjadi satu untuk membuat tirai pemisah antara tempat kudus dan tempat Mahakudus. "Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun." (Keluaran 26:31). Warna 'biru' berbicara tentang sifat kenabian Kristus, warna sorgawi; warna 'ungu' berbicara tentang segala sesuatu yang bersifat kerajaan; dan 'kirmizi' (merah) menyatakan tentang pelayanan imam Tuhan.
Kita yang dahulu bukan umat Tuhan, sekarang telah dipilih untuk menjadi umat pilihan-Nya karena darah Kristus!
Baca: Yesaya 61:1-11
"Tetapi kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita." Yesaya 61:6a
Kesempurnaan seseorang dalam pengetahuan tentang Alkitab atau ilmu theologia bukan suatu jaminan untuk masuk dalam panggilan Ilahi, sebab Tuhan tidak melihat seberapa hebat dan pintarnya seseorang, tapi Dia mau berurusan dengan hati orang. "...manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Tuhan mencari hati orang yang bersedia dan rela untuk masuk dalam rencana-Nya di akhir zaman, yaitu menegakkan kerajaan-Nya di muka bumi ini.
Sekalipun seseorang menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari Alkitab, bila tanpa tujuan untuk mencari kehendak-Nya, maka sia-sialah semua, sebab firman itu akhirnya hanya merupakan ilmu pengetahuan saja baginya. Mereka akan terus menanti dan menanti panggilan Tuhan, namun mereka belum sadar bahwa sesungguhnya ia telah dipanggil Tuhan. Tuhan sendiri telah mengatakan-Nya dan itu sudah cukup sebagai dasar pegangan yang kokoh; "...kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita..." (ayat nas). Sudah tiba saatnya kita masuk dalam panggilan Tuhan, "...untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara," (Yesaya 61:6b).
Seperti telah dikatakan karena kita disebut imam Tuhan dan dinamai pelayan Tuhan, maka kita sudah ditandai dengan benang 'kirmizi', jadi kita tak dapat lari dari tujuan Ilahi ini. Dalam Alkitab dinyatakan bahwa ada tiga warna benang yang harus dipintal menjadi satu untuk membuat tirai pemisah antara tempat kudus dan tempat Mahakudus. "Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun." (Keluaran 26:31). Warna 'biru' berbicara tentang sifat kenabian Kristus, warna sorgawi; warna 'ungu' berbicara tentang segala sesuatu yang bersifat kerajaan; dan 'kirmizi' (merah) menyatakan tentang pelayanan imam Tuhan.
Kita yang dahulu bukan umat Tuhan, sekarang telah dipilih untuk menjadi umat pilihan-Nya karena darah Kristus!
Wednesday, June 19, 2019
TIADA KESIA-SIAAN DI DALAM KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juni 2019
Baca: Pengkhotbah 1:1-18
"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." Pengkhotbah 1:2
Pengkhotbah menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sia-sia, tak ada harapan. Manusia hanya melihat masalah, kesulitan, kesesakan, penderitaan, ketidakmungkinan dan sebagainya. Tetapi ada jalan untuk merobohkan dan menghancurkan tembok-tembok kemustahilan ini yaitu dengan menggunakan pendobrak yang ampuh, yaitu doa yang penuh iman. Doa akan menjadi ampuh dan penuh kuasa apabila diarahkan ke sasaran yang tepat, yaitu kepada Bapa dalam nama Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Ada tertulis: "... apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." (Yohanes 14:13-14), bukan kepada arwah-arwah, dewa-dewa atau patung-patung yang dipuja oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (orang kafir).
Kristus adalah Nama diatas segala nama, Nama yang ajaib, dimana ribuan tahun sebelumnya nabi Yesaya telah menubuatkannya (Yesaya 9:5). Mengapa hanya Kristus saja yang dapat melepaskan segala belenggu dan menjadikan kita bebas dari segala penderitaan, serta mengubah kesia-siaan menjadi suatu pengharapan yang pasti? Sebab "...penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,..." (Yesaya 53:4), dan "...dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5).
Untuk maksud dan tujuan inilah Kristus datang ke dunia. Tak ada manusia atau pun nabi mana pun yang dapat disamakan dengan Kristus karena Bapa sangat meninggikan Dia, sehingga segala yang ada di langit dan yang ada di bumi dan yang ada di bawah bumi bertekuk lutut kepada-Nya (Filipi 2:10-11). Bapa telah mengaruniakan Putera-Nya kepada kita, tidaklah Ia juga akan mendengarkan dan menjawab doa-doa kita yang dipanjatkan dalam nama Yesus Kristus?
Tidak ada lagi kesia-siaan bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus, sebab Dia memberikan jaminan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya!
Baca: Pengkhotbah 1:1-18
"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." Pengkhotbah 1:2
Pengkhotbah menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sia-sia, tak ada harapan. Manusia hanya melihat masalah, kesulitan, kesesakan, penderitaan, ketidakmungkinan dan sebagainya. Tetapi ada jalan untuk merobohkan dan menghancurkan tembok-tembok kemustahilan ini yaitu dengan menggunakan pendobrak yang ampuh, yaitu doa yang penuh iman. Doa akan menjadi ampuh dan penuh kuasa apabila diarahkan ke sasaran yang tepat, yaitu kepada Bapa dalam nama Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Ada tertulis: "... apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." (Yohanes 14:13-14), bukan kepada arwah-arwah, dewa-dewa atau patung-patung yang dipuja oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (orang kafir).
Kristus adalah Nama diatas segala nama, Nama yang ajaib, dimana ribuan tahun sebelumnya nabi Yesaya telah menubuatkannya (Yesaya 9:5). Mengapa hanya Kristus saja yang dapat melepaskan segala belenggu dan menjadikan kita bebas dari segala penderitaan, serta mengubah kesia-siaan menjadi suatu pengharapan yang pasti? Sebab "...penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,..." (Yesaya 53:4), dan "...dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5).
Untuk maksud dan tujuan inilah Kristus datang ke dunia. Tak ada manusia atau pun nabi mana pun yang dapat disamakan dengan Kristus karena Bapa sangat meninggikan Dia, sehingga segala yang ada di langit dan yang ada di bumi dan yang ada di bawah bumi bertekuk lutut kepada-Nya (Filipi 2:10-11). Bapa telah mengaruniakan Putera-Nya kepada kita, tidaklah Ia juga akan mendengarkan dan menjawab doa-doa kita yang dipanjatkan dalam nama Yesus Kristus?
Tidak ada lagi kesia-siaan bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus, sebab Dia memberikan jaminan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya!
Tuesday, June 18, 2019
TUHAN SANG PEMBUAT KEAJAIBAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juni 2019
Baca: Keluaran 15:1-21
"Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." Keluaran 15:8
Tuhannya bangsa Israel adalah Tuhan yang sama yang kita puji dan sembah! Dialah Tuhan yang melakukan keajaiban. Ia membuat air berdiri tegak pada kedua sisi seperti tembok, membuat air membeku di tengah-tengah laut, sehingga orang Israel dapat berjalan menyeberangi lautan seperti berjalan di tanah yang kering. Ketika firman Tuhan diucapkan, air pun kembali lagi memenuhi lautan. "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut." (Keluaran 15:19). Dia Tuhan yang begitu setia yang selalu memenuhi janji-Nya. Jika Tuhan berjanji akan menyertai kita maka Dia pasti menepati janji-Nya.
Tuhan berkata, "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN...Juruselamatmu." (Yesaya 43:2-3a). Air dan api di sini berbicara tentang pencobaan dan penderitaan. Karena itu kita tak perlu takut menghadapi hidup ini sekalipun kita harus melewati pencobaan dan penderitaan, ada jaminan penyertaan dan perlindungan dari Tuhan, asalkan kita selalu taat kepada firman-Nya, bahkan penyertaan Tuhan sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20).
Setelah Musa meninggal Tuhan memilih Yosua memimpin bangsa Israel. Berfirmanlah Tuhan, "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ketika orang Israel tiba di Kanaan mereka menghadapi banyak kesulitan. Suatu kali mereka bertempur melawan musuh. Mereka dapat menang pada siang hari, tetapi pada malam hari mereka nyaris kalah. Berdoalah Yosua kepada Tuhan memohon agar matahari dan bulan tetap ditempatnya. "Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya." (Yosua 10:13a).
Tiada perkara yang mustahil bagi Tuhan, karena Dia pembuat keajaiban.
Baca: Keluaran 15:1-21
"Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." Keluaran 15:8
Tuhannya bangsa Israel adalah Tuhan yang sama yang kita puji dan sembah! Dialah Tuhan yang melakukan keajaiban. Ia membuat air berdiri tegak pada kedua sisi seperti tembok, membuat air membeku di tengah-tengah laut, sehingga orang Israel dapat berjalan menyeberangi lautan seperti berjalan di tanah yang kering. Ketika firman Tuhan diucapkan, air pun kembali lagi memenuhi lautan. "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut." (Keluaran 15:19). Dia Tuhan yang begitu setia yang selalu memenuhi janji-Nya. Jika Tuhan berjanji akan menyertai kita maka Dia pasti menepati janji-Nya.
Tuhan berkata, "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN...Juruselamatmu." (Yesaya 43:2-3a). Air dan api di sini berbicara tentang pencobaan dan penderitaan. Karena itu kita tak perlu takut menghadapi hidup ini sekalipun kita harus melewati pencobaan dan penderitaan, ada jaminan penyertaan dan perlindungan dari Tuhan, asalkan kita selalu taat kepada firman-Nya, bahkan penyertaan Tuhan sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20).
Setelah Musa meninggal Tuhan memilih Yosua memimpin bangsa Israel. Berfirmanlah Tuhan, "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ketika orang Israel tiba di Kanaan mereka menghadapi banyak kesulitan. Suatu kali mereka bertempur melawan musuh. Mereka dapat menang pada siang hari, tetapi pada malam hari mereka nyaris kalah. Berdoalah Yosua kepada Tuhan memohon agar matahari dan bulan tetap ditempatnya. "Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya." (Yosua 10:13a).
Tiada perkara yang mustahil bagi Tuhan, karena Dia pembuat keajaiban.
Monday, June 17, 2019
TETAP TAK MAU BERTOBAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2019
Baca: Zakharia 1:1-6
"...Berbaliklah dari tingkah lakumu yang buruk dan dari perbuatanmu yang jahat! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku, demikianlah firman TUHAN." Zakharia 1:4
Secara garis besar arti dari bertobat adalah berbalik dari tingkah laku yang jahat dan dari perbuatan dosa, dengan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jadi, keselamatan itu diawali dengan pertobatan. Dengan bertobat, seseorang beroleh pengampunan dari Tuhan. Tetapi pertobatan itu tidak bisa dilakukan hanya sekali seumur hidup, kemudian otomatis mendapatkan keselamatan. Perhatikan! Pertobatan harus menjadi pola hidup kita dari hari ke sehari, seumur hidup kita. Tanda awal orang dikatakan sudah bertobat adalah bersikap tegas untuk tidak mau berkompromi dengan dosa, menolak dan membenci dosa, tanpa ingin kembali lagi ke dalamnya.
Nabi Zakharia menegur keras umat Israel, "Janganlah kamu seperti nenek moyangmu yang kepadanya para nabi yang dahulu telah menyerukan, demikian: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Berbaliklah dari tingkah lakumu yang buruk dan dari perbuatanmu yang jahat! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku, demikianlah firman TUHAN." (Zakharia 1:4). Banyak di antara umat Israel yang sekalipun sudah mendengar teguran dan peringatan Tuhan yang disampaikan melalui hamba-hamba-Nya tetap saja mengeraskan hati, mengabaikan teguran dan tak mau bertobat. Tak mengherankan bila Tuhan menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Sampai Kristus datang ke dunia untuk melaksanakan tugas penyelamatan, seruan pertobatan itu terus disampaikan-Nya, "Waktunya telah genap;...Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15). Tetapi respons manusia tetaplah sama, dari dahulu sampai sekarang, yaitu tak mau bertobat. Mereka tetap saja hidup dalam kejahatan dan pemberontakan kepada Tuhan.
Tidak sedikit orang tampak begitu aktif pergi ke gereja, berlaku seolah-olah sudah bertobat, padahal mereka masih hidup sebagai manusia lama. Mereka berlagak dan merasa diri sehat, padahal sebenarnya 'sakit'. Jika demikian, dokter pun tak dapat menolong... "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12).
Kekristenan tanpa pertobatan adalah sia-sia, tetap berujung kepada kebinasaan!
Baca: Zakharia 1:1-6
"...Berbaliklah dari tingkah lakumu yang buruk dan dari perbuatanmu yang jahat! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku, demikianlah firman TUHAN." Zakharia 1:4
Secara garis besar arti dari bertobat adalah berbalik dari tingkah laku yang jahat dan dari perbuatan dosa, dengan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jadi, keselamatan itu diawali dengan pertobatan. Dengan bertobat, seseorang beroleh pengampunan dari Tuhan. Tetapi pertobatan itu tidak bisa dilakukan hanya sekali seumur hidup, kemudian otomatis mendapatkan keselamatan. Perhatikan! Pertobatan harus menjadi pola hidup kita dari hari ke sehari, seumur hidup kita. Tanda awal orang dikatakan sudah bertobat adalah bersikap tegas untuk tidak mau berkompromi dengan dosa, menolak dan membenci dosa, tanpa ingin kembali lagi ke dalamnya.
Nabi Zakharia menegur keras umat Israel, "Janganlah kamu seperti nenek moyangmu yang kepadanya para nabi yang dahulu telah menyerukan, demikian: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Berbaliklah dari tingkah lakumu yang buruk dan dari perbuatanmu yang jahat! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku, demikianlah firman TUHAN." (Zakharia 1:4). Banyak di antara umat Israel yang sekalipun sudah mendengar teguran dan peringatan Tuhan yang disampaikan melalui hamba-hamba-Nya tetap saja mengeraskan hati, mengabaikan teguran dan tak mau bertobat. Tak mengherankan bila Tuhan menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Sampai Kristus datang ke dunia untuk melaksanakan tugas penyelamatan, seruan pertobatan itu terus disampaikan-Nya, "Waktunya telah genap;...Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15). Tetapi respons manusia tetaplah sama, dari dahulu sampai sekarang, yaitu tak mau bertobat. Mereka tetap saja hidup dalam kejahatan dan pemberontakan kepada Tuhan.
Tidak sedikit orang tampak begitu aktif pergi ke gereja, berlaku seolah-olah sudah bertobat, padahal mereka masih hidup sebagai manusia lama. Mereka berlagak dan merasa diri sehat, padahal sebenarnya 'sakit'. Jika demikian, dokter pun tak dapat menolong... "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12).
Kekristenan tanpa pertobatan adalah sia-sia, tetap berujung kepada kebinasaan!
Sunday, June 16, 2019
KASIH SETIA TUHAN UNTUK ORANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2019
Baca: Mazmur 52:1-11
"Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya." Mazmur 52:10
Daud sangat dikenal sebagai orang yang sangat karib dengan Tuhan, karena itulah ia mengerti benar akan kasih setia-Nya. Orang yang mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan dapat merasakan kehangatan kasih setia Tuhan senantiasa. Oleh sebab itu hati Daud tetap berlimpah dengan ucapan syukur sekalipun berada dalam masalah atau kesulitan. Di tengah bahaya yang mengancam hidupnya ia tak merasa kuatir atau cemas, sebab ia sangat percaya bahwa kasih setia Tuhan tiada pernah berkesudahan, "...tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23). Dalam menghadapi maut sekalipun Daud tetap percaya akan perlindungan Tuhan.
Setiap kemenangan Daud atas segala rancangan kejahatan yang dicanangkan manusia terhadapnya selalulah ia mengakui bahwa Tuhanlah yang bertindak memberikan perlindungan dan kelepasan. Oleh sebab itu tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam doanya ia berkata, "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Keadaan yang berbeda dialami oleh orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, melainkan kekayaan sebagai pengharapan hidupnya. "Lihatlah orang itu yang tidak menjadikan Allah tempat pengungsiannya, yang percaya akan kekayaannya yang melimpah, dan berlindung pada tindakan penghancurannya!" (Mazmur 52:9).
Apa yang dikatakan Daud itu benar adanya! Kebanyakan orang kaya menggantungkan hidupnya kepada kekayaan dan menjadikan kekayaan sebagai 'tuan' atas hidupnya. Apakah kekayaan dapat menolong dan menjamin keselamatan hidupnya? Firman Tuhan kepada orang kaya yang bodoh: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Lukas 12:20-21).
Kalau kita hidup benar di hadapan Tuhan, kasih setia-Nya selalu menyertai kita. Tak perlu cemas terhadap apa pun, sebab Tuhan berada di pihak kita.
Baca: Mazmur 52:1-11
"Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya." Mazmur 52:10
Daud sangat dikenal sebagai orang yang sangat karib dengan Tuhan, karena itulah ia mengerti benar akan kasih setia-Nya. Orang yang mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan dapat merasakan kehangatan kasih setia Tuhan senantiasa. Oleh sebab itu hati Daud tetap berlimpah dengan ucapan syukur sekalipun berada dalam masalah atau kesulitan. Di tengah bahaya yang mengancam hidupnya ia tak merasa kuatir atau cemas, sebab ia sangat percaya bahwa kasih setia Tuhan tiada pernah berkesudahan, "...tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23). Dalam menghadapi maut sekalipun Daud tetap percaya akan perlindungan Tuhan.
Setiap kemenangan Daud atas segala rancangan kejahatan yang dicanangkan manusia terhadapnya selalulah ia mengakui bahwa Tuhanlah yang bertindak memberikan perlindungan dan kelepasan. Oleh sebab itu tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam doanya ia berkata, "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Keadaan yang berbeda dialami oleh orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, melainkan kekayaan sebagai pengharapan hidupnya. "Lihatlah orang itu yang tidak menjadikan Allah tempat pengungsiannya, yang percaya akan kekayaannya yang melimpah, dan berlindung pada tindakan penghancurannya!" (Mazmur 52:9).
Apa yang dikatakan Daud itu benar adanya! Kebanyakan orang kaya menggantungkan hidupnya kepada kekayaan dan menjadikan kekayaan sebagai 'tuan' atas hidupnya. Apakah kekayaan dapat menolong dan menjamin keselamatan hidupnya? Firman Tuhan kepada orang kaya yang bodoh: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Lukas 12:20-21).
Kalau kita hidup benar di hadapan Tuhan, kasih setia-Nya selalu menyertai kita. Tak perlu cemas terhadap apa pun, sebab Tuhan berada di pihak kita.
Saturday, June 15, 2019
KUASA TUHAN TAK PERNAH BERUBAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2019
Baca: Daniel 6:1-29
"Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." Daniel 6:22-23
Raja Darius mendapatkan tekanan dari para pejabat tinggi kerajaan dan wakilnya untuk mengeluarkan sebuah undang-undang yang berisi larangan, yaitu barang siapa yang dalam waktu tiga puluh hari menyembah kepada salah satu dewa atau manusia, kecuali kepada raja, maka ia akan menerima hukuman dilemparkan ke dalam gua singa.
Sekalipun telah mendengar bahwa surat perintah itu telah dibuat, Daniel tetap berdoa kepada Tuhan yang hidup dan benar, setiap hari. Ketika para musuh memdapati Daniel sedang berdoa, segeralah mereka menghadap raja dan memintanya untuk melemparkan Daniel ke gua singa. Raja Darius pun menjadi sangat sedih, sebab ia sangat mengasihi Daniel, tapi surat perintah tersebut tidak bisa diubah! "Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa." (Daniel 6:18). Bila diperhatikan, ada perbedaan reaksi antara Darius dan Daniel ketika dihadapkan pada situasi yang tidak ada harapan. Setelah Daniel dilemparkan ke gua singa, raja tidak dapat tidur karena terus memikirkan nasib Daniel dan membayangkan hal-hal buruk terjadi. "Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: 'Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?'" Daniel 6:20-21).
Sebaliknya, Daniel tetap bisa tenang dan tak kehilangan damai sejahtera sekalipun berada di kandang singa, karena mata rohaninya senantiasa tertuju kepada Tuhan, yang kuasa-Nya tidak pernah berubah. Daniel menegaskan kepada raja bahwa Tuhan yang ia sembah, telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu.
Dengan mata iman Daniel sanggup melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dahsyat, ketika orang lain tak mampu melihatnya!
Baca: Daniel 6:1-29
"Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." Daniel 6:22-23
Raja Darius mendapatkan tekanan dari para pejabat tinggi kerajaan dan wakilnya untuk mengeluarkan sebuah undang-undang yang berisi larangan, yaitu barang siapa yang dalam waktu tiga puluh hari menyembah kepada salah satu dewa atau manusia, kecuali kepada raja, maka ia akan menerima hukuman dilemparkan ke dalam gua singa.
Sekalipun telah mendengar bahwa surat perintah itu telah dibuat, Daniel tetap berdoa kepada Tuhan yang hidup dan benar, setiap hari. Ketika para musuh memdapati Daniel sedang berdoa, segeralah mereka menghadap raja dan memintanya untuk melemparkan Daniel ke gua singa. Raja Darius pun menjadi sangat sedih, sebab ia sangat mengasihi Daniel, tapi surat perintah tersebut tidak bisa diubah! "Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa." (Daniel 6:18). Bila diperhatikan, ada perbedaan reaksi antara Darius dan Daniel ketika dihadapkan pada situasi yang tidak ada harapan. Setelah Daniel dilemparkan ke gua singa, raja tidak dapat tidur karena terus memikirkan nasib Daniel dan membayangkan hal-hal buruk terjadi. "Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: 'Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?'" Daniel 6:20-21).
Sebaliknya, Daniel tetap bisa tenang dan tak kehilangan damai sejahtera sekalipun berada di kandang singa, karena mata rohaninya senantiasa tertuju kepada Tuhan, yang kuasa-Nya tidak pernah berubah. Daniel menegaskan kepada raja bahwa Tuhan yang ia sembah, telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu.
Dengan mata iman Daniel sanggup melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dahsyat, ketika orang lain tak mampu melihatnya!
Friday, June 14, 2019
TUHAN SANGGUP MEMULIHKAN KEADAANMU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2019
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8
"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 1 Raja-Raja 19:4b
Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Karena beratnya masalah yang harus dihadapi, orang menjadi sangat tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami depresi, lupa bahwa di dalam Kristus selalu ada harapan. Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan dan kesehatan mental seseorang; gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan). Biasanya orang yang mengalami depresi cenderung berpikir bahwa dirinya tak berguna atau berharga lagi, penuh kegagalan tanpa adanya suatu harapan baru yang memungkinkan dia bangkit kembali.
Orang Kristen yang sungguh-sungguh pun dapat terserang penyakit ini. Bahkan salah satu tokoh besar di Alkitab juga ada yang mengalami depresi sampai meminta mati. Ialah Elia, yang bukanlah orang biasa-biasa saja, namun telah dipakai Tuhan untuk menyatakan mujizat kepada seorang janda di Sarfat, bahkan ia juga mampu mengalahkan nabi-nabi Baal yang berjumlah 450 orang. Luar biasa! Namun ketika mendengar ancaman dari Izebel, perempuan yang hendak membunuhnya, Elia mengalami ketakutan yang luar biasa, "...dan pergi menyelamatkan nyawanya..." (1 Raja-Raja 19:3a). Pada saat itu Elia benar-benar mengalami kelelahan fisik dan mental, yang membuatnya merasa tak berguna lagi untuk hidup... ia putus asa.
Tuhan memperhatikan dan mengerti benar apa yang Elia alami dan rasakan, karena itu Ia membuat hamba-Nya itu beristirahat. Lalu Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk melayani Elia. "Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: 'Bangunlah, makanlah!'" (1 Raja-Raja 19:5). Eelia mendapati ada roti bakar dan sebuah kendi yang berisi air. Setelah makan Elia berbaring lagi, tapi Tuhan memerintahkan dia untuk bangun dan melanjutkan perjalanannya ke gunung Horeb dengan menempuh perjalanan selama 40 hari 40 malam.
Di dalam Tuhan selalu ada kekuatan dan harapan baru! Kaena itu jangan mudah berputus asa.
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8
"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 1 Raja-Raja 19:4b
Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Karena beratnya masalah yang harus dihadapi, orang menjadi sangat tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami depresi, lupa bahwa di dalam Kristus selalu ada harapan. Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan dan kesehatan mental seseorang; gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan). Biasanya orang yang mengalami depresi cenderung berpikir bahwa dirinya tak berguna atau berharga lagi, penuh kegagalan tanpa adanya suatu harapan baru yang memungkinkan dia bangkit kembali.
Orang Kristen yang sungguh-sungguh pun dapat terserang penyakit ini. Bahkan salah satu tokoh besar di Alkitab juga ada yang mengalami depresi sampai meminta mati. Ialah Elia, yang bukanlah orang biasa-biasa saja, namun telah dipakai Tuhan untuk menyatakan mujizat kepada seorang janda di Sarfat, bahkan ia juga mampu mengalahkan nabi-nabi Baal yang berjumlah 450 orang. Luar biasa! Namun ketika mendengar ancaman dari Izebel, perempuan yang hendak membunuhnya, Elia mengalami ketakutan yang luar biasa, "...dan pergi menyelamatkan nyawanya..." (1 Raja-Raja 19:3a). Pada saat itu Elia benar-benar mengalami kelelahan fisik dan mental, yang membuatnya merasa tak berguna lagi untuk hidup... ia putus asa.
Tuhan memperhatikan dan mengerti benar apa yang Elia alami dan rasakan, karena itu Ia membuat hamba-Nya itu beristirahat. Lalu Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk melayani Elia. "Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: 'Bangunlah, makanlah!'" (1 Raja-Raja 19:5). Eelia mendapati ada roti bakar dan sebuah kendi yang berisi air. Setelah makan Elia berbaring lagi, tapi Tuhan memerintahkan dia untuk bangun dan melanjutkan perjalanannya ke gunung Horeb dengan menempuh perjalanan selama 40 hari 40 malam.
Di dalam Tuhan selalu ada kekuatan dan harapan baru! Kaena itu jangan mudah berputus asa.
Thursday, June 13, 2019
BUKTI DULU, PERCAYA KEMUDIAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juni 2019
Baca: Yohanes 20:24-29
"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Yohanes 20:29
Kebanyakan orang ingin melihat hal-hal yang spektakuler atau menuntut mujizat dari Tuhan terlebih dahulu, barulah mereka mau percaya bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa. Ini tidaklah mengherankan! Tomas, yang notabene sudah menjadi murid Kristus dan berkumpul setiap hari bersama-Nya, masih saja minta bukti.
Sewaktu murid-murid yang lain bercerita bahwa mereka telah melihat Kristus sudah bangkit, Tomas tidak langsung mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25b). Tuhan tahu benar apa yang berkecamuk di dalam pikiran dan hati Tomas, karena itu setelah delapan hari kemudian Ia datang lagi ke rumah itu. Untuk meyakinkan Tomas berkatalah Tuhan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Setelah melihat bukti dengan mata kepala sendiri barulah ia percaya kepada-Nya: "Ya Tuhanku..." (Yohanes 20:28).
Sampai saat ini, sekalipun sudah mendengar tentang berita Injil dan juga mendengar kedahsyatan kuasa Kristus yang sanggup melakukan mujizat (membangkitkan orang mati, mencelikkan mata buta, memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, menyembuhkan orang sakit, dan masih banyak lagi mujizat yang dikerjakan-Nya), tapi masih saja orang tidak mau percaya kepada Kristus. Mereka tetap menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia biasa, kecuali kalau sudah ada bukti dan tanda-tanda ajaib (disembuhkan dari sakit, dipulihkan ekonominya), barulah mereka percaya dan menerima Kristus dalam hidupnya. Ini juga terjadi sewaktu Filipus melayani: "Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu." (Kisah 8:6). Terimalah Kristus terlebih dahulu, berkat pasti mengikuti!
"--sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--" 2 Korintus 5:7
Baca: Yohanes 20:24-29
"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Yohanes 20:29
Kebanyakan orang ingin melihat hal-hal yang spektakuler atau menuntut mujizat dari Tuhan terlebih dahulu, barulah mereka mau percaya bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa. Ini tidaklah mengherankan! Tomas, yang notabene sudah menjadi murid Kristus dan berkumpul setiap hari bersama-Nya, masih saja minta bukti.
Sewaktu murid-murid yang lain bercerita bahwa mereka telah melihat Kristus sudah bangkit, Tomas tidak langsung mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25b). Tuhan tahu benar apa yang berkecamuk di dalam pikiran dan hati Tomas, karena itu setelah delapan hari kemudian Ia datang lagi ke rumah itu. Untuk meyakinkan Tomas berkatalah Tuhan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Setelah melihat bukti dengan mata kepala sendiri barulah ia percaya kepada-Nya: "Ya Tuhanku..." (Yohanes 20:28).
Sampai saat ini, sekalipun sudah mendengar tentang berita Injil dan juga mendengar kedahsyatan kuasa Kristus yang sanggup melakukan mujizat (membangkitkan orang mati, mencelikkan mata buta, memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, menyembuhkan orang sakit, dan masih banyak lagi mujizat yang dikerjakan-Nya), tapi masih saja orang tidak mau percaya kepada Kristus. Mereka tetap menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia biasa, kecuali kalau sudah ada bukti dan tanda-tanda ajaib (disembuhkan dari sakit, dipulihkan ekonominya), barulah mereka percaya dan menerima Kristus dalam hidupnya. Ini juga terjadi sewaktu Filipus melayani: "Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu." (Kisah 8:6). Terimalah Kristus terlebih dahulu, berkat pasti mengikuti!
"--sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--" 2 Korintus 5:7
Wednesday, June 12, 2019
MELAYANI TUHAN: Hidup Dekat Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juni 2019
Baca: Yehezkiel 44:4-16
"Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah..." Yehezkiel 44:15
Banyak orang dengan bangganya mengaku diri sebagai pelayan Tuhan karena merasa sudah terlibat pelayanan di gereja. Perhatikan apa yang Tuhan katakan: "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26). Faktanya? Tak semua pelayan Tuhan memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, padahal syarat utama bagi pelayan Tuhan adalah mendekat kepada-Nya.
Betapa banyak pelayan Tuhan yang menjadikan pelayanan di gereja hanya sebatas rutinitas atau sekedar ajang unjuk kebolehan atau pengembangan talenta saja. Seringkali kita terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang disebut pelayanan, tapi kita sendiri tak pernah mau menyediakan waktu secara pribadi dengan Tuhan, duduk diam di bawah kaki Tuhan seperti Maria. Padahal Tuhan sangat rindu pada penyembahan kita. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan akan mendekat kepada kita kalau kita mendekat kepada-Nya (Yakobus 4:8). Namun kita lebih senang bekerja di antara kerumunan orang banyak di luar halaman, enggan memberi waktu untuk dekat dengan Tuhan di tempat-Nya yang kudus. Dapatkah kita berkata seperti pemazmur: "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11).
Sangatlah tidak mungkin seseorang melayani Tuhan jika ia hidup jauh dari hadirat-Nya. "Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus." (Mazmur 65:5). Jelas sekali ada berkat yang besar bagi orang yang senantiasa dekat dengan Tuhan, yaitu ia akan dikenyangkan dengan segala yang baik di Bait-Nya yang kudus: ada kemenangan, ada berkat, ada pemulihan.
"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Yesaya 55:6
Baca: Yehezkiel 44:4-16
"Tetapi mengenai imam-imam orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat kudus-Ku waktu orang Israel sesat dari pada-Ku, merekalah yang akan mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas di hadapan-Ku untuk mempersembahkan kepada-Ku lemak dan darah..." Yehezkiel 44:15
Banyak orang dengan bangganya mengaku diri sebagai pelayan Tuhan karena merasa sudah terlibat pelayanan di gereja. Perhatikan apa yang Tuhan katakan: "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26). Faktanya? Tak semua pelayan Tuhan memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, padahal syarat utama bagi pelayan Tuhan adalah mendekat kepada-Nya.
Betapa banyak pelayan Tuhan yang menjadikan pelayanan di gereja hanya sebatas rutinitas atau sekedar ajang unjuk kebolehan atau pengembangan talenta saja. Seringkali kita terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang disebut pelayanan, tapi kita sendiri tak pernah mau menyediakan waktu secara pribadi dengan Tuhan, duduk diam di bawah kaki Tuhan seperti Maria. Padahal Tuhan sangat rindu pada penyembahan kita. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan akan mendekat kepada kita kalau kita mendekat kepada-Nya (Yakobus 4:8). Namun kita lebih senang bekerja di antara kerumunan orang banyak di luar halaman, enggan memberi waktu untuk dekat dengan Tuhan di tempat-Nya yang kudus. Dapatkah kita berkata seperti pemazmur: "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11).
Sangatlah tidak mungkin seseorang melayani Tuhan jika ia hidup jauh dari hadirat-Nya. "Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus." (Mazmur 65:5). Jelas sekali ada berkat yang besar bagi orang yang senantiasa dekat dengan Tuhan, yaitu ia akan dikenyangkan dengan segala yang baik di Bait-Nya yang kudus: ada kemenangan, ada berkat, ada pemulihan.
"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Yesaya 55:6
Tuesday, June 11, 2019
JURANG TAK TERSEBERANGI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juni 2019
Baca: Lukas 16:19-31
"Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini." Lukas 16:24
Kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin tidaklah asing di telinga kita. Kisah ini hendaknya semakin menyadarkan kita bahwa sorga dan neraka itu benar-benar ada. Jadi, neraka itu bukanlah cerita fiksi yang bertujuan untuk menakut-nakuti orang. Tak bisa dibayangkan penderitaan yang akan dialami oleh orang yang sudah berpulang dalam keadaan penuh dosa, karena belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ketika nafas terakhir terhembus, melayanglah rohnya keluar dari tubuh; betapa terkejutnya ia setelah mata rohani tercelik, karena ia melihat adanya jurang pemisah yang teramat besar antara sorga dan neraka. Orang yang terbuang ke neraka hanya bisa meratap... semuanya sudah terlambat! "Sudah lewat musim menuai, sudah berakhir musim kemarau, tetapi kita belum diselamatkan juga!" (Yeremia 8:20).
Penyesalan yang terlambat sungguh sangat menyiksa! Orang kaya (bacaan) diliputi rasa cemas memikirkan keluarganya yang belum bertobat, sebab ia tahu mereka akan mengalami siksa tiada tara, seperti dirinya yang berseru kepada bapa Abraham. Orang berdosa yang tersiksa di neraka, yang ingin melepaskan diri dari siksaan dan lari ke sorga, takkan mungkin, sebab "...di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang." (Lukas 16:26). Ia benar-benar tersiksa karena penyesalan yang tak kunjung berakhir, karena telah menyia-nyiakan kasih karunia dan kesempatan yang telah Tuhan berikan. Menyesal sangat, karena tiap saat melihat betapa indahnya sorga dan betapa dahsyatnya penderitaan di neraka.
Bagi kita yang masih hidup di dunia ini dan yang telah beroleh anugerah keselamatan dari Tuhan, tidakkah kita tergerak hati untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum diselamatkan? Apakah kita hanya ingin menikmati keselamatan itu untuk diri sendiri, dan membiarkan keluarga, teman atau sahabat kita mengalami kebinasaan kekal?
Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita berlomba-lomba menjangkau jiwa-jiwa yang masih tersesat, sebab bila terlambat, penyesalan tiada guna!
Baca: Lukas 16:19-31
"Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini." Lukas 16:24
Kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin tidaklah asing di telinga kita. Kisah ini hendaknya semakin menyadarkan kita bahwa sorga dan neraka itu benar-benar ada. Jadi, neraka itu bukanlah cerita fiksi yang bertujuan untuk menakut-nakuti orang. Tak bisa dibayangkan penderitaan yang akan dialami oleh orang yang sudah berpulang dalam keadaan penuh dosa, karena belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ketika nafas terakhir terhembus, melayanglah rohnya keluar dari tubuh; betapa terkejutnya ia setelah mata rohani tercelik, karena ia melihat adanya jurang pemisah yang teramat besar antara sorga dan neraka. Orang yang terbuang ke neraka hanya bisa meratap... semuanya sudah terlambat! "Sudah lewat musim menuai, sudah berakhir musim kemarau, tetapi kita belum diselamatkan juga!" (Yeremia 8:20).
Penyesalan yang terlambat sungguh sangat menyiksa! Orang kaya (bacaan) diliputi rasa cemas memikirkan keluarganya yang belum bertobat, sebab ia tahu mereka akan mengalami siksa tiada tara, seperti dirinya yang berseru kepada bapa Abraham. Orang berdosa yang tersiksa di neraka, yang ingin melepaskan diri dari siksaan dan lari ke sorga, takkan mungkin, sebab "...di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang." (Lukas 16:26). Ia benar-benar tersiksa karena penyesalan yang tak kunjung berakhir, karena telah menyia-nyiakan kasih karunia dan kesempatan yang telah Tuhan berikan. Menyesal sangat, karena tiap saat melihat betapa indahnya sorga dan betapa dahsyatnya penderitaan di neraka.
Bagi kita yang masih hidup di dunia ini dan yang telah beroleh anugerah keselamatan dari Tuhan, tidakkah kita tergerak hati untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum diselamatkan? Apakah kita hanya ingin menikmati keselamatan itu untuk diri sendiri, dan membiarkan keluarga, teman atau sahabat kita mengalami kebinasaan kekal?
Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita berlomba-lomba menjangkau jiwa-jiwa yang masih tersesat, sebab bila terlambat, penyesalan tiada guna!
Subscribe to:
Comments (Atom)