Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Mei 2019
Baca: Ibrani 5:1-10
"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," Ibrani 5:8
Ketaatan adalah hal terpenting dalam kehidupan orang percaya dan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi untuk kita mengalami pertumbuhan rohani dan mencapai kedewasaan penuh, bahkan bagi Tuhan Yesus sendiri: "...Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," (Ibrani 5:8), dan "...dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8). Kalau bapa yang ada di dunia ini saja menginginkan setiap anaknya untuk taat terhadap apa saja yang diperintahkannya, apalagi Bapa yang ada di sorga, Ia sangat mengharapkan anak-anak-Nya hidup di dalam ketaatan, bukan hidup menurut kemauannya sendiri atau seenaknya sendiri.
Ketika Tuhan Yesus berada di dunia sebagai Anak, Ia memberi teladan kepada kita tentang bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, oleh karena itu "...Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Filipi 2:9-11). Kristus adalah teladan utama dalam ketaatan! Begitu pula bila kita baca di dalam Perjanjian Lama, Abraham begitu taat kepada Allah ketika ia harus mempersembahkan anak satu-satunya yaitu Ishak, sebagai korban persembahan. Dalam hal ini, ketaatan Abraham benar-benar telah teruji.
Tuhan berfirman: "Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu
sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut,
dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." (Kejadian 22:16-18). Memang tidak mudah untuk hidup taat, tapi hal itu bukan alasan untuk kita tidak mau belajar melakukannya.
"Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu," 1 Petrus 1:14
Friday, May 17, 2019
Thursday, May 16, 2019
SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Mei 2019
Baca: Kejadian 1:26-31
"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26
Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan sangat luar biasa, namun banyak orang tidak menyadarinya, sehingga mereka mengisi hari-harinya dengan asal, sembrono, diliputi ketidakpuasan, ketakutan dan mudah berputus asa. Bahkan, sering dijumpai tidak sedikit orang yang karena tidak kuat dengan beratnya tekanan hidup, mereka melakukan tindakan yang salah dan mengambil jalan pintas: mengonsumsi narkoba, larut dalam dunia malam, atau bunuh diri, dan sebagainya.
Bila kita merenungkan firman Tuhan hari ini, jelas sekali dikatakan bahwa Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, yang artinya adalah bahwa kita seharusnya juga mewarisi sifat-sifat atau karakter Ilahi. Itulah sebabnya kita dapat berpikir, mengasihi, mengampuni, berbuat baik dan sebagainya, dan ini berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Segambar dan serupa dengan Tuhan juga berarti bahwa Tuhan memberikan kuasa kepada manusia untuk menjalani hidupnya: "...supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26b). Ayat ini memberi satu kekuatan kepada kita bahwa sesungguhnya kita bukanlah seorang pecundang, tetapi kita ini lebih dari pemenang karena kita punya kuasa! Alangkah sayangnya apabila banyak anak Tuhan yang hidupnya tidak menunjukkan 'kuasa' itu, yaitu hidup di dalam kekalahan dan terus kalah.
Melalui renungan hari ini Tuhan menegaskan bahwa kita ini diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, oleh karena itu hidup kita harus memancarkan sifat dan karakter seperti Dia; dan sudah seharusnya kita menjalani hidup ini dengan penuh semangat dan keberanian, karena kita memiliki kuasa, bahkan "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" (Yohanes 1:12). Apa pun keadaannya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menang atas masalah, tantangan, pergumulan, dosa dan atas roh-roh jahat.
Jalanilah hidup ini dengan kuasa kemenangan di dalam Tuhan!
Baca: Kejadian 1:26-31
"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26
Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan sangat luar biasa, namun banyak orang tidak menyadarinya, sehingga mereka mengisi hari-harinya dengan asal, sembrono, diliputi ketidakpuasan, ketakutan dan mudah berputus asa. Bahkan, sering dijumpai tidak sedikit orang yang karena tidak kuat dengan beratnya tekanan hidup, mereka melakukan tindakan yang salah dan mengambil jalan pintas: mengonsumsi narkoba, larut dalam dunia malam, atau bunuh diri, dan sebagainya.
Bila kita merenungkan firman Tuhan hari ini, jelas sekali dikatakan bahwa Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, yang artinya adalah bahwa kita seharusnya juga mewarisi sifat-sifat atau karakter Ilahi. Itulah sebabnya kita dapat berpikir, mengasihi, mengampuni, berbuat baik dan sebagainya, dan ini berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Segambar dan serupa dengan Tuhan juga berarti bahwa Tuhan memberikan kuasa kepada manusia untuk menjalani hidupnya: "...supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26b). Ayat ini memberi satu kekuatan kepada kita bahwa sesungguhnya kita bukanlah seorang pecundang, tetapi kita ini lebih dari pemenang karena kita punya kuasa! Alangkah sayangnya apabila banyak anak Tuhan yang hidupnya tidak menunjukkan 'kuasa' itu, yaitu hidup di dalam kekalahan dan terus kalah.
Melalui renungan hari ini Tuhan menegaskan bahwa kita ini diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, oleh karena itu hidup kita harus memancarkan sifat dan karakter seperti Dia; dan sudah seharusnya kita menjalani hidup ini dengan penuh semangat dan keberanian, karena kita memiliki kuasa, bahkan "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" (Yohanes 1:12). Apa pun keadaannya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menang atas masalah, tantangan, pergumulan, dosa dan atas roh-roh jahat.
Jalanilah hidup ini dengan kuasa kemenangan di dalam Tuhan!
Wednesday, May 15, 2019
MATA ROHANI YANG TERCELIK
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Mei 2019
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23
"'Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.'" Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa." (2 Raja-Raja 6:17a)
Suatu ketika "Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel." (2 Raja-Raja 6:8a). Raja Aram mengirim pasukan tentara dengan kuda dan keretanya yang teramat besar jumlahnya untuk mengepung kota Dotan, tempat di mana abdi Tuhan (Elisa) tinggal. Timbullah ketakutan yang luar biasa di dalam diri Gehazi (pelayan Elisa): "Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: 'Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?'" (2 Raja-Raja 6:15).
Secara jasmaniah mata Gehazi tidaklah buta, bisa melihat segala hal, namun mata rohaninya buta sehingga ia tidak bisa melihat hal-hal yang adikodrati. Gehazi hanya dapat melihat sebatas pandangan jasmaniah, tak mampu menembus pandangan adikodrati. Tidak sedikit orang Kristen yang tak beda jauh dengan Gehazi, ketika sedang diperhadapkan dengan masalah atau kesulitan mereka begitu panik, cemas dan takut, lalu berteriak: "Celaka! Apa yang harus kuperbuat? Masalahku terlalu besar, tak mungkin dapat terselesaikan!" Mata rohani yang buta selalu meragukan kuasa Tuhan; mata rohani yang buta tak sanggup melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar; mata rohani yang buta tak mampu berjalan di atas kemustahilan. Hanya mata rohani yang sudah tercelik yang dapat melihat dan mengalami tanda-tanda dan mujizat-mujizat dari Tuhan.
Selagi mata kita hanya tertuju dan terpaku pada kenyataan dan situasi yang ada, kita akan mudah sekali lemah, putus asa, dihantui ketakutan. "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." (Ayub 3:25-26). Bila mata rohani kita tercelik, kita tak lagi hidup dalam ketakutan dan kecemasan, karena kita dapat melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas. Kebutaan rohani sangat merugikan, sebab kemuliaan Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang besar dan dahsyat tak mampu kita lihat.
Hidup karena percaya, bukan karena melihat, adalah tanda mata rohani tercelik!
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23
"'Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.'" Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa." (2 Raja-Raja 6:17a)
Suatu ketika "Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel." (2 Raja-Raja 6:8a). Raja Aram mengirim pasukan tentara dengan kuda dan keretanya yang teramat besar jumlahnya untuk mengepung kota Dotan, tempat di mana abdi Tuhan (Elisa) tinggal. Timbullah ketakutan yang luar biasa di dalam diri Gehazi (pelayan Elisa): "Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: 'Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?'" (2 Raja-Raja 6:15).
Secara jasmaniah mata Gehazi tidaklah buta, bisa melihat segala hal, namun mata rohaninya buta sehingga ia tidak bisa melihat hal-hal yang adikodrati. Gehazi hanya dapat melihat sebatas pandangan jasmaniah, tak mampu menembus pandangan adikodrati. Tidak sedikit orang Kristen yang tak beda jauh dengan Gehazi, ketika sedang diperhadapkan dengan masalah atau kesulitan mereka begitu panik, cemas dan takut, lalu berteriak: "Celaka! Apa yang harus kuperbuat? Masalahku terlalu besar, tak mungkin dapat terselesaikan!" Mata rohani yang buta selalu meragukan kuasa Tuhan; mata rohani yang buta tak sanggup melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar; mata rohani yang buta tak mampu berjalan di atas kemustahilan. Hanya mata rohani yang sudah tercelik yang dapat melihat dan mengalami tanda-tanda dan mujizat-mujizat dari Tuhan.
Selagi mata kita hanya tertuju dan terpaku pada kenyataan dan situasi yang ada, kita akan mudah sekali lemah, putus asa, dihantui ketakutan. "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." (Ayub 3:25-26). Bila mata rohani kita tercelik, kita tak lagi hidup dalam ketakutan dan kecemasan, karena kita dapat melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas. Kebutaan rohani sangat merugikan, sebab kemuliaan Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang besar dan dahsyat tak mampu kita lihat.
Hidup karena percaya, bukan karena melihat, adalah tanda mata rohani tercelik!
Tuesday, May 14, 2019
TEGURAN TUHAN SEBAGAI TANDA KASIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Mei 2019
Baca: 2 Samuel 12:1-25
"Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." 2 Samuel 12:14
Tuhan sendiri menyatakan bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati-Nya: "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah 13:22). Daud dikenan Tuhan karena ia melakukan segala kehendak Tuhan. Apakah berarti sepanjang hidupnya Daud tidak pernah melakukan pelanggaran atau berbuat dosa? Sebagai manusia Daud tak luput dari kesalahan dan dosa. Itulah sebabnya Daud juga mengalami teguran Tuhan untuk mengoreksi dosa yang diperbuatnya. Bagaimanapun juga Tuhan tidak menutup mata dengan membiarkan orang yang dikasihi-Nya melakukan pelanggaran tanpa teguran.
Teguran Tuhan sering sangat menyakitkan. Sekalipun demikian Daud tetaplah biji mata Tuhan, dan kasih Tuhan tak berkurang karena kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya. Bahkan janji Tuhan kepada Daud tak berubah, bahwa dari keturunannyalah, sesuai dengan janji-Nya, Tuhan akan membangkitkan Juruselamat bagi bangsa Israel, yaitu Yesus Kristus (Kisah 13:23). Bila Tuhan menegur Saudara, sehingga Saudara harus mengalami hal-hal yang tak menyenangkan, jangan pernah menyalahkan Tuhan dan menganggap Dia tak mengasihi Saudara. Justru teguran Tuhan ini adalah tanda kasih-Nya terhadap Saudara, sebab Tuhan ingin meluruskan jalan Saudara yang sudah melenceng.
Ketika rakyatnya sedang berperang, Daud, yang seharusnya memimpin peperangan, justru bersantai-santai. Saat terbangun dari pembaringannya dan berjalan-jalan di sotoh (balkon) istana, tampak seorang perempuan elok sedang mandi (2 Samuel 11:2). Celah inilah yang dimanfaatkan Iblis, Daud pun jatuh dalam dosa perzinahan (2 Samuel 11:4). Untuk menutupi rahasia ini diutusnyalah Uria (suami Batsyeba, perempuan itu) turun ke medan pertempuran dan sengaja ditempatkan di barisan depan; Uria pun tewas dalam pertempuran itu. Karena kejahatannya ini Daud harus menanggung akibatnya: anak yang dilahirkan Batsyeba pun meninggal. Daud pun menyesali perbuatannya itu dan bertobat!
Bersyukurlah bila Tuhan menegur kita...walaupun sakit, teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Amsal 6:23).
Baca: 2 Samuel 12:1-25
"Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." 2 Samuel 12:14
Tuhan sendiri menyatakan bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati-Nya: "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah 13:22). Daud dikenan Tuhan karena ia melakukan segala kehendak Tuhan. Apakah berarti sepanjang hidupnya Daud tidak pernah melakukan pelanggaran atau berbuat dosa? Sebagai manusia Daud tak luput dari kesalahan dan dosa. Itulah sebabnya Daud juga mengalami teguran Tuhan untuk mengoreksi dosa yang diperbuatnya. Bagaimanapun juga Tuhan tidak menutup mata dengan membiarkan orang yang dikasihi-Nya melakukan pelanggaran tanpa teguran.
Teguran Tuhan sering sangat menyakitkan. Sekalipun demikian Daud tetaplah biji mata Tuhan, dan kasih Tuhan tak berkurang karena kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya. Bahkan janji Tuhan kepada Daud tak berubah, bahwa dari keturunannyalah, sesuai dengan janji-Nya, Tuhan akan membangkitkan Juruselamat bagi bangsa Israel, yaitu Yesus Kristus (Kisah 13:23). Bila Tuhan menegur Saudara, sehingga Saudara harus mengalami hal-hal yang tak menyenangkan, jangan pernah menyalahkan Tuhan dan menganggap Dia tak mengasihi Saudara. Justru teguran Tuhan ini adalah tanda kasih-Nya terhadap Saudara, sebab Tuhan ingin meluruskan jalan Saudara yang sudah melenceng.
Ketika rakyatnya sedang berperang, Daud, yang seharusnya memimpin peperangan, justru bersantai-santai. Saat terbangun dari pembaringannya dan berjalan-jalan di sotoh (balkon) istana, tampak seorang perempuan elok sedang mandi (2 Samuel 11:2). Celah inilah yang dimanfaatkan Iblis, Daud pun jatuh dalam dosa perzinahan (2 Samuel 11:4). Untuk menutupi rahasia ini diutusnyalah Uria (suami Batsyeba, perempuan itu) turun ke medan pertempuran dan sengaja ditempatkan di barisan depan; Uria pun tewas dalam pertempuran itu. Karena kejahatannya ini Daud harus menanggung akibatnya: anak yang dilahirkan Batsyeba pun meninggal. Daud pun menyesali perbuatannya itu dan bertobat!
Bersyukurlah bila Tuhan menegur kita...walaupun sakit, teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Amsal 6:23).
Monday, May 13, 2019
RESPONS TERHADAP KARYA DAN RENCANA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Mei 2019
Baca: Mazmur 104:1-35
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." Mazmur 104:24
Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan orang percaya bukanlah hal yang kebetulan saja, melainkan selalu berada dalam kehendak dan rencana Tuhan. Jadi setiap kejadian atau hal-hal yang kita alami yang menghiasi hari-hari kita ini bukan hanya merupakan suatu rangkaian peristiwa tanpa makna, tapi ada dalam agenda Tuhan. Bahkan Tuhan yang Mahakasih berkarya dalam kehidupan orang-orang yang dikasihi-Nya, Ia menaruh tangan-Nya atas kita, membentuk hidup kita, menuntun dan membimbing kita kepada rencana-Nya yang sempurna. "Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:16).
Rencana Tuhan sangat sempurna bagi setiap orang yang mengasihi-Nya, sebab Dia sanggup melakukan segala sesuatu dan tak ada rencana-Nya yang gagal (Ayub 42:2). Termasuk alam semesta ini dirancang dan diciptakan Tuhan dengan penuh kebijaksanaan (ayat nas). Tuhan adalah Arsitek Mahaagung yang tak ada taranya dalam menciptakan bintang, bulan, matahari, dan bumi, yang disemarakkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Itu semua tercipta atas kehendak dan rencana-Nya, dan Tuhan puas sekali dengan hasil ciptaan-Nya, sebab "...segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (Kejadian 1:31a). Kita baru akan mengerti rencana-Nya ini apabila kita bertumbuh semakin dewasa dalam rohani dan semakin bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Saat itulah kita baru menyadari dan merasakan betapa rencana Tuhan itu Mahasempurna. Sekalipun terkadang kita harus melewati jalan-jalan yang penuh liku, tapi semuanya selalu mendatangkan kebaikan bagi kita.
Miliki respons hati yang benar terhadap karya dan rencana Tuhan, seperti Daud: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya...mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:14, 16). Jangan mengeluh dan bersungut-sungut!
"...Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya." Yesaya 46:11
Baca: Mazmur 104:1-35
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." Mazmur 104:24
Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan orang percaya bukanlah hal yang kebetulan saja, melainkan selalu berada dalam kehendak dan rencana Tuhan. Jadi setiap kejadian atau hal-hal yang kita alami yang menghiasi hari-hari kita ini bukan hanya merupakan suatu rangkaian peristiwa tanpa makna, tapi ada dalam agenda Tuhan. Bahkan Tuhan yang Mahakasih berkarya dalam kehidupan orang-orang yang dikasihi-Nya, Ia menaruh tangan-Nya atas kita, membentuk hidup kita, menuntun dan membimbing kita kepada rencana-Nya yang sempurna. "Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:16).
Rencana Tuhan sangat sempurna bagi setiap orang yang mengasihi-Nya, sebab Dia sanggup melakukan segala sesuatu dan tak ada rencana-Nya yang gagal (Ayub 42:2). Termasuk alam semesta ini dirancang dan diciptakan Tuhan dengan penuh kebijaksanaan (ayat nas). Tuhan adalah Arsitek Mahaagung yang tak ada taranya dalam menciptakan bintang, bulan, matahari, dan bumi, yang disemarakkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Itu semua tercipta atas kehendak dan rencana-Nya, dan Tuhan puas sekali dengan hasil ciptaan-Nya, sebab "...segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (Kejadian 1:31a). Kita baru akan mengerti rencana-Nya ini apabila kita bertumbuh semakin dewasa dalam rohani dan semakin bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Saat itulah kita baru menyadari dan merasakan betapa rencana Tuhan itu Mahasempurna. Sekalipun terkadang kita harus melewati jalan-jalan yang penuh liku, tapi semuanya selalu mendatangkan kebaikan bagi kita.
Miliki respons hati yang benar terhadap karya dan rencana Tuhan, seperti Daud: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya...mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:14, 16). Jangan mengeluh dan bersungut-sungut!
"...Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya." Yesaya 46:11
Sunday, May 12, 2019
ORANG YANG LEMAH LEMBUT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Mei 2019
Baca: Matius 5:1-12
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." Matius 5:5
Seringkali kita memiliki persepsi yang salah tentang arti kelemahlembutan. Kita beranggapan bahwa orang yang lemah lembut adalah orang yang sikap atau tindak tanduknya lemah gemulai, suaranya halus dan terdengar irih kalau berucap, tertawa pun tidak ngakak. Bukan itu maksudnya! Sikap-sikap semacam itu bisa saja hanya seperti 'masker', yang apabila di dalamnya tersentuh, maka masker (topeng) tersebut akan runtuh dan terkelupas, dan terbukalah yang tersembunyi di dalamnya. Sikap yang tadinya 'lemah gemulai' bisa saja langsung berubah menjadi garang, keluar 'tanduk'nya, suaranya jadi seperti guntur yang menggelegar dan mengagetkan semua orang yang mendengarnya. Jadi, kelemahlembutan itu bukan suatu kepura-puraan atau sikap yang dibuat-buat.
Kelemahlembutan adalah sebuah sikap yang lembut, tenang, tidak berpura-pura, dan dapat mengendalikan keinginan. Karena itu kelemahlembutan tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan atau tidak adanya kekuatan dalam diri seseorang. Justru kelemahlembutan adalah kekuatan yang dapat dikendalikan. Orang Yunani menggunakan poros untuk menggambarkan tentang kelemahlembutan, yaitu seperti seekor binatang buas yang telah dijinakkan; atau menggambarkan tentang seekor kuda pacu yang telah dilatih untuk melakukan persis seperti apa yang diinstruksikan penunggangnya. Lemah lembut itu juga bisa diartikan suatu kesanggupan seseorang untuk menerima perasaan 'sakit' yang mungkin disebabkan oleh perbuatan orang lain, tanpa adanya keinginan untuk membalas, menumpahkan kemarahan, sakit hati, dendam, atau menyimpan kebencian di dalam hati. Inilah sikap lemah lembut yang sebenarnya, sebagaimana yang Kristus katakan: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:35b).
Tak mudah menemukan orang lemah lembut! Orang gampang marah, tak bisa menahan ucapan, tak mau mengalah demi gengsi atau harga diri. Namun "...hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang." (Titus 3:2).
Orang percaya seharusnya menghasilkan buah Roh yang salah satunya adalah kelemahlembutan (Galatia 5:22-23)
Baca: Matius 5:1-12
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." Matius 5:5
Seringkali kita memiliki persepsi yang salah tentang arti kelemahlembutan. Kita beranggapan bahwa orang yang lemah lembut adalah orang yang sikap atau tindak tanduknya lemah gemulai, suaranya halus dan terdengar irih kalau berucap, tertawa pun tidak ngakak. Bukan itu maksudnya! Sikap-sikap semacam itu bisa saja hanya seperti 'masker', yang apabila di dalamnya tersentuh, maka masker (topeng) tersebut akan runtuh dan terkelupas, dan terbukalah yang tersembunyi di dalamnya. Sikap yang tadinya 'lemah gemulai' bisa saja langsung berubah menjadi garang, keluar 'tanduk'nya, suaranya jadi seperti guntur yang menggelegar dan mengagetkan semua orang yang mendengarnya. Jadi, kelemahlembutan itu bukan suatu kepura-puraan atau sikap yang dibuat-buat.
Kelemahlembutan adalah sebuah sikap yang lembut, tenang, tidak berpura-pura, dan dapat mengendalikan keinginan. Karena itu kelemahlembutan tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan atau tidak adanya kekuatan dalam diri seseorang. Justru kelemahlembutan adalah kekuatan yang dapat dikendalikan. Orang Yunani menggunakan poros untuk menggambarkan tentang kelemahlembutan, yaitu seperti seekor binatang buas yang telah dijinakkan; atau menggambarkan tentang seekor kuda pacu yang telah dilatih untuk melakukan persis seperti apa yang diinstruksikan penunggangnya. Lemah lembut itu juga bisa diartikan suatu kesanggupan seseorang untuk menerima perasaan 'sakit' yang mungkin disebabkan oleh perbuatan orang lain, tanpa adanya keinginan untuk membalas, menumpahkan kemarahan, sakit hati, dendam, atau menyimpan kebencian di dalam hati. Inilah sikap lemah lembut yang sebenarnya, sebagaimana yang Kristus katakan: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:35b).
Tak mudah menemukan orang lemah lembut! Orang gampang marah, tak bisa menahan ucapan, tak mau mengalah demi gengsi atau harga diri. Namun "...hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang." (Titus 3:2).
Orang percaya seharusnya menghasilkan buah Roh yang salah satunya adalah kelemahlembutan (Galatia 5:22-23)
Saturday, May 11, 2019
BERDOA TEKUN DAN YAKIN: Menghasilkan Mujizat
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Mei 2019
Baca: 1 Raja-Raja 18:20-46
"Elia kepada Ahab: 'Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.'" 1 Raja-Raja 18:41
Elia tidak melihat adanya tanda-tanda akan turun hujan ketika ia berkata kepada Ahab bahwa akan segera turun hujan. Apa yang Elia ucapkan ini merupakan suatu nubuatan bahwa ia sangat percaya sesuatu akan terjadi, sekalipun tak melihat sedikit pun adanya tanda-tanda akan turun hujan. Harapannya kepada Tuhan begitu kuat, karena itu Elia tekun berdoa memohon kepada Tuhan agar hujan dicurahkan ke atas bumi.
Ketekunan Elia dalam berdoa itu tersirat dari pernyataan Alkitab yang mengatakan bahwa setelah tujuh kali dia berdoa, barulah tampak ada tanda 'kecil' yaitu: "...awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut." (1 Raja-Raja 18:44). Kalimat 'setelah tujuh kali berdoa' menunjukkan suatu doa yang dilakukan secara terus-menerus (tiada berkeputusan), sampai sesuatu terjadi. Maka ketika melihat ada awan kecil, iman dan pengharapan Elia semakin diteguhkan, meski secara logika tak mungkin awan sekecil telapak tangan dapat menurunkan hujan. Elia percaya bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. Doa yang dinaikkan dengan iman pasti menyentuh hati Tuhan dan menggerakkan tangan-Nya untuk bekerja: "Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat." (1 Raja-Raja 18:45a). Tuhan sanggup mengubah hal kecil (awan setelapak tangan) menjadi sesuatu yang besar (hujan lebat). "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).
Untuk mengalami kuasa dan mujizat Tuhan kita harus "...memiliki pikiran Kristus." (1 Korintus 2:16b), artinya berpikir seperti Kristus berpikir, pikiran yang dipenuhi firman Tuhan, sehingga "...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji," (Filipi 4:8). Itulah yang memenuhi pikiran kita. Yang mustahil akan menjadi mungkin bila kita berdoa dengan tekun dan penuh iman kepada Tuhan. "...Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air." (Mazmur 107:35).
Tuhan sudah lebih dari cukup, mengapa harus mencari pertolongan yang lain? Karena Dia adalah Sumber Mujizat!
Baca: 1 Raja-Raja 18:20-46
"Elia kepada Ahab: 'Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.'" 1 Raja-Raja 18:41
Elia tidak melihat adanya tanda-tanda akan turun hujan ketika ia berkata kepada Ahab bahwa akan segera turun hujan. Apa yang Elia ucapkan ini merupakan suatu nubuatan bahwa ia sangat percaya sesuatu akan terjadi, sekalipun tak melihat sedikit pun adanya tanda-tanda akan turun hujan. Harapannya kepada Tuhan begitu kuat, karena itu Elia tekun berdoa memohon kepada Tuhan agar hujan dicurahkan ke atas bumi.
Ketekunan Elia dalam berdoa itu tersirat dari pernyataan Alkitab yang mengatakan bahwa setelah tujuh kali dia berdoa, barulah tampak ada tanda 'kecil' yaitu: "...awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut." (1 Raja-Raja 18:44). Kalimat 'setelah tujuh kali berdoa' menunjukkan suatu doa yang dilakukan secara terus-menerus (tiada berkeputusan), sampai sesuatu terjadi. Maka ketika melihat ada awan kecil, iman dan pengharapan Elia semakin diteguhkan, meski secara logika tak mungkin awan sekecil telapak tangan dapat menurunkan hujan. Elia percaya bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. Doa yang dinaikkan dengan iman pasti menyentuh hati Tuhan dan menggerakkan tangan-Nya untuk bekerja: "Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat." (1 Raja-Raja 18:45a). Tuhan sanggup mengubah hal kecil (awan setelapak tangan) menjadi sesuatu yang besar (hujan lebat). "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).
Untuk mengalami kuasa dan mujizat Tuhan kita harus "...memiliki pikiran Kristus." (1 Korintus 2:16b), artinya berpikir seperti Kristus berpikir, pikiran yang dipenuhi firman Tuhan, sehingga "...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji," (Filipi 4:8). Itulah yang memenuhi pikiran kita. Yang mustahil akan menjadi mungkin bila kita berdoa dengan tekun dan penuh iman kepada Tuhan. "...Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air." (Mazmur 107:35).
Tuhan sudah lebih dari cukup, mengapa harus mencari pertolongan yang lain? Karena Dia adalah Sumber Mujizat!
Friday, May 10, 2019
HIDUP YANG BERBUAHKAN KASIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Mei 2019
Baca: 2 Korintus 9:6-15
"Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." 2 Korintus 9:8
Di setiap pertemuan ibadah atau persekutuan kita seringkali mendengar khotbah dari hamba Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan itu kasih adanya. Apakah maksudnya? Tuhan mengasihi kita karena memang sifat ke-Ilahian-Nya, dan kasih-Nya itu sama sekali tidak dipengaruhi/tidak tergantung pada perbuatan kita. Kasih Tuhan diberikan kepada kita karena memang sifat-Nya yang adalah kasih; dan kasih itu selalu memberi. Kita dapat mengerti sekarang bahwa kasih karunia Tuhan itu selalu aktif memberi, tidak pasif. Jadi kelimpahan-kelimpahan yang kita terima dari Tuhan, baik itu berkat materi maupun berkat rohani, adalah menunjukkan kegerakan kasih karunia-Nya.
Setelah memperoleh kasih karunia dari Tuhan ini tentunya Tuhan berharap kehidupan kita pun berlimpah dengan pelbagai kebajikan. Apabila seseorang mengaku telah menerima kasih karunia Tuhan namun di dalam dirinya tak terdapat kebaikan, itu menimbulkan tanda tanya besar! Orang percaya yang tak mewarisi sifat Tuhan yang berlimpah dengan kasih telah mengecewakan hati Tuhan. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus dan rendah hati menghampiri hadirat-Nya agar kasih-Nya dapat memenuhi hati kita, sehingga kita pun mampu mengalirkan kasih tersebut kepada orang lain. Alkitab mengingatkan kita: "...jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik..." (Titus 2:7a), "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Tuhan berkata, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16).
Sudahkah kita menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam hal berbuat baik? Kehidupan orang percaya yang tak pernah mengalirkan kasih adalah batu sandungan bagi orang lain dan tak mempermuliakan nama Tuhan. Itu sama artinya kita menghalangi orang lain untuk mengenal Kristus, karena hidup kita tak mencerminkan Dia.
"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Yohanes 15:8
Baca: 2 Korintus 9:6-15
"Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." 2 Korintus 9:8
Di setiap pertemuan ibadah atau persekutuan kita seringkali mendengar khotbah dari hamba Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan itu kasih adanya. Apakah maksudnya? Tuhan mengasihi kita karena memang sifat ke-Ilahian-Nya, dan kasih-Nya itu sama sekali tidak dipengaruhi/tidak tergantung pada perbuatan kita. Kasih Tuhan diberikan kepada kita karena memang sifat-Nya yang adalah kasih; dan kasih itu selalu memberi. Kita dapat mengerti sekarang bahwa kasih karunia Tuhan itu selalu aktif memberi, tidak pasif. Jadi kelimpahan-kelimpahan yang kita terima dari Tuhan, baik itu berkat materi maupun berkat rohani, adalah menunjukkan kegerakan kasih karunia-Nya.
Setelah memperoleh kasih karunia dari Tuhan ini tentunya Tuhan berharap kehidupan kita pun berlimpah dengan pelbagai kebajikan. Apabila seseorang mengaku telah menerima kasih karunia Tuhan namun di dalam dirinya tak terdapat kebaikan, itu menimbulkan tanda tanya besar! Orang percaya yang tak mewarisi sifat Tuhan yang berlimpah dengan kasih telah mengecewakan hati Tuhan. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus dan rendah hati menghampiri hadirat-Nya agar kasih-Nya dapat memenuhi hati kita, sehingga kita pun mampu mengalirkan kasih tersebut kepada orang lain. Alkitab mengingatkan kita: "...jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik..." (Titus 2:7a), "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Tuhan berkata, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16).
Sudahkah kita menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam hal berbuat baik? Kehidupan orang percaya yang tak pernah mengalirkan kasih adalah batu sandungan bagi orang lain dan tak mempermuliakan nama Tuhan. Itu sama artinya kita menghalangi orang lain untuk mengenal Kristus, karena hidup kita tak mencerminkan Dia.
"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Yohanes 15:8
Thursday, May 9, 2019
PENUH ROH MENGHASILKAN SUKACITA SEJATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Mei 2019
Baca: Efesus 5:1-21
"Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh," Efesus 5:18
Dalam Alkitab kata anggur berbicara tentang kesukaan sorgawi atau Roh Kudus. Tetapi kata anggur yang tertulis di ayat nas di atas berbicara tentang anggur dunia, atau berbicara tentang kesenangan duniawi. Orang percaya tidak boleh mabuk oleh anggur dunia ini atau terhanyut oleh kenikmatan, kesenangan dan kesukaan yang berasal dari dunia ini, yang sifatnya hanya sesaat atau sementara saja.
Rasul Paulus menasihatkan agar kita senantiasa penuh dengan Roh Kudus. Kehidupan Kristen yang sejati adalah kehidupan yang sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus diberikan kepada orang percaya untuk 'mengasuh' orang percaya, supaya roh manusianya menjadi kuat, sehingga ia beroleh kesanggupan untuk melakukan kehendak Tuhan. Karena itu kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari. Inilah yang menimbulkan rasa haus dan lapar akan kebenaran; dan "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Bila hidup kita dipenuhi Roh Kudus, dari dalam hati kita akan mengalir sukacita sorgawi, sehingga kita dapat "...berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu..." (Efesus 5:19-20).
Orang percaya yang hidupnya penuh Roh Kudus, hari-harinya akan dipenuhi dengan sukacita, sehingga nyanyian dan pujian bagi Tuhan keluar dari mulutnya di segala keadaan dan di setiap waktu sebagai pertanda suatu sukacita yang sejati. Kita bersukacita bukan karena berkat-berkat jasmani semata, melainkan karena hari keselamatan yang telah Tuhan jadikan bagi kita di dalam Kristus, dan karena dosa-dosa kita telah diampuni-Nya. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Kapan bersukacita? "Bersukacitalah senantiasa." (1 Tesalonika 5:16). Senantiasa artinya di segala keadaan.
Hidup yang dipenuhi Roh Kudus menghasilkan sukacita sejati, sedangkan anggur duniawi hanya memberikan kesenangan sesaat tapi menghancurkan.
Baca: Efesus 5:1-21
"Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh," Efesus 5:18
Dalam Alkitab kata anggur berbicara tentang kesukaan sorgawi atau Roh Kudus. Tetapi kata anggur yang tertulis di ayat nas di atas berbicara tentang anggur dunia, atau berbicara tentang kesenangan duniawi. Orang percaya tidak boleh mabuk oleh anggur dunia ini atau terhanyut oleh kenikmatan, kesenangan dan kesukaan yang berasal dari dunia ini, yang sifatnya hanya sesaat atau sementara saja.
Rasul Paulus menasihatkan agar kita senantiasa penuh dengan Roh Kudus. Kehidupan Kristen yang sejati adalah kehidupan yang sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus diberikan kepada orang percaya untuk 'mengasuh' orang percaya, supaya roh manusianya menjadi kuat, sehingga ia beroleh kesanggupan untuk melakukan kehendak Tuhan. Karena itu kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari. Inilah yang menimbulkan rasa haus dan lapar akan kebenaran; dan "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Bila hidup kita dipenuhi Roh Kudus, dari dalam hati kita akan mengalir sukacita sorgawi, sehingga kita dapat "...berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu..." (Efesus 5:19-20).
Orang percaya yang hidupnya penuh Roh Kudus, hari-harinya akan dipenuhi dengan sukacita, sehingga nyanyian dan pujian bagi Tuhan keluar dari mulutnya di segala keadaan dan di setiap waktu sebagai pertanda suatu sukacita yang sejati. Kita bersukacita bukan karena berkat-berkat jasmani semata, melainkan karena hari keselamatan yang telah Tuhan jadikan bagi kita di dalam Kristus, dan karena dosa-dosa kita telah diampuni-Nya. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Kapan bersukacita? "Bersukacitalah senantiasa." (1 Tesalonika 5:16). Senantiasa artinya di segala keadaan.
Hidup yang dipenuhi Roh Kudus menghasilkan sukacita sejati, sedangkan anggur duniawi hanya memberikan kesenangan sesaat tapi menghancurkan.
Wednesday, May 8, 2019
PERPECAHAN: Penyakit Gereja
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Mei 2019
Baca: 1 Korintus 1:10-17
"...supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." 1 Korintus 1:10
Perpecahan itu sampai kapan pun tidak akan membawa keuntungan atau dampak positif sedikit pun. Perpecahan hanya akan melemahkan dan menghancurkan. Coba bayangkan jika di suatu negara terjadi perpecahan di antara warga atau penduduk, bisa dipastikan negara tersebut tidak lagi kuat seperti sediakala, makin kacau dan akan berujung kepada kehancuran. Kata perpecahan berarti terbagi, terbelah. Ada tertulis: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25).
Hal perpecahan atau perselisihan ini ternyata sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Contohnya dalah perpecahan yang terjadi di antara jemaat di Korintus. Rasul Paulus benar-benar merasa prihatin ketika melihat jemaat di Korintus terkotak-kotak, berkelompok sendiri-sendiri dan membuat kubu-kubu. "...kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" (1 Korintus 1:12-13). Karena itu dengan hati yang lembut dan penuh kasih ia mengingatkan kembali tentang hubungan jemaat Tuhan sebagai anggota keluarga. "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru." (Efesus 2:19-20), dan "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12).
Ternyata, perpecahan atau perselisihan itu tidak hanya terjadi di kehidupan dunia luar, tetapi di ruang lingkup gereja, pelayanan, atau di antara orang percaya juga marak terjadi. Tragis! Mungkinkah gereja bisa menjalankan misinya untuk menjangkau jiwa-jiwa, bila di antara umat Tuhan atau gereja-Nya sendiri terjadi perpecahan?
Perpecahan merupakan penyakit gereja yang harus disembuhkan segera, jika tidak, gereja takkan punya kekuatan untuk menjadi berkat bagi dunia!
Baca: 1 Korintus 1:10-17
"...supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." 1 Korintus 1:10
Perpecahan itu sampai kapan pun tidak akan membawa keuntungan atau dampak positif sedikit pun. Perpecahan hanya akan melemahkan dan menghancurkan. Coba bayangkan jika di suatu negara terjadi perpecahan di antara warga atau penduduk, bisa dipastikan negara tersebut tidak lagi kuat seperti sediakala, makin kacau dan akan berujung kepada kehancuran. Kata perpecahan berarti terbagi, terbelah. Ada tertulis: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25).
Hal perpecahan atau perselisihan ini ternyata sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Contohnya dalah perpecahan yang terjadi di antara jemaat di Korintus. Rasul Paulus benar-benar merasa prihatin ketika melihat jemaat di Korintus terkotak-kotak, berkelompok sendiri-sendiri dan membuat kubu-kubu. "...kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" (1 Korintus 1:12-13). Karena itu dengan hati yang lembut dan penuh kasih ia mengingatkan kembali tentang hubungan jemaat Tuhan sebagai anggota keluarga. "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru." (Efesus 2:19-20), dan "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12).
Ternyata, perpecahan atau perselisihan itu tidak hanya terjadi di kehidupan dunia luar, tetapi di ruang lingkup gereja, pelayanan, atau di antara orang percaya juga marak terjadi. Tragis! Mungkinkah gereja bisa menjalankan misinya untuk menjangkau jiwa-jiwa, bila di antara umat Tuhan atau gereja-Nya sendiri terjadi perpecahan?
Perpecahan merupakan penyakit gereja yang harus disembuhkan segera, jika tidak, gereja takkan punya kekuatan untuk menjadi berkat bagi dunia!
Tuesday, May 7, 2019
DIPROSES AGAR SEMAKIN BERKILAU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Mei 2019
Baca: Ayub 23:1-17
"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." Ayub 23:10
Penderitaan atau masalah yang dialami oleh seseorang secara garis besar disebabkan oleh beberapa faktor: 1. Iblis. Iblis adalah penyebab utama, karena ia adalah musuh terbesar manusia. Segala upaya yang dilakukan Iblis untuk menggoncang, melemahkan, dan menghancurkan kehidupan manusia, salah satunya melalui penderitaan atau masalah. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;" (Yohanes 10:10a). 2. Ketidaktaatan. Alkitab menyatakan bahwa "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2). Dosa selalu mendatangkan akibat atau konsekuensi. 3. Proses. Penderitaan atau masalah terkadang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup seseorang karena Dia sedang menguji, membentuk, mendewasakan dan memurnikan kualitas hidupnya agar semakin berkenan kepada-Nya.
Ayub yang "...saleh dan jujur; ...takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:1) juga tak luput dari proses pemurnian. Penderitaan atau masalah datang silih berganti dalam hidup Ayub, bahkan ia harus kehilangan segala-galanya. Begitu pula Yusuf yang harus mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tetapi, di balik penderitaan yang Ayub atau pun Yusuf alami, Tuhan punya rencana yang indah, dan rencana-Nya tidak pernah gagal (Ayub 42:2). Setelah melewati proses hidup yang begitu menyakitkan, pada akhirnya ada berkat yang luar biasa, hidup Ayub dipulihkan (Ayub 42:7-16). Begitu pula ketika Yusuf mampu bertahan di tengah proses hidup yang dijalaninya, "sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya." (Mazmur 105:19), ia pun tampil berkilau seperti emas yang murni, kehidupan Yusuf diangkat tinggi, ia pun menjadi kesaksian dan berkat bagi bangsanya!
Jika saat ini Saudara mengalami 'proses' dari Tuhan, bersyukurlah! Itu artinya Ia punya rencana indah untuk Saudara. Ia hendak membersihkan, memurnikan, menguji kualitas hidup Saudara. Jangan sekali-kali berontak! Bertahanlah, kuatkan hati! Bila kita mampu melewati proses ini dengan baik, janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita.
Apa yang tak terpikirkan itu yang Tuhan sediakan bagi setiap orang yang lulus dalam proses-Nya!
Baca: Ayub 23:1-17
"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." Ayub 23:10
Penderitaan atau masalah yang dialami oleh seseorang secara garis besar disebabkan oleh beberapa faktor: 1. Iblis. Iblis adalah penyebab utama, karena ia adalah musuh terbesar manusia. Segala upaya yang dilakukan Iblis untuk menggoncang, melemahkan, dan menghancurkan kehidupan manusia, salah satunya melalui penderitaan atau masalah. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;" (Yohanes 10:10a). 2. Ketidaktaatan. Alkitab menyatakan bahwa "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2). Dosa selalu mendatangkan akibat atau konsekuensi. 3. Proses. Penderitaan atau masalah terkadang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup seseorang karena Dia sedang menguji, membentuk, mendewasakan dan memurnikan kualitas hidupnya agar semakin berkenan kepada-Nya.
Ayub yang "...saleh dan jujur; ...takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:1) juga tak luput dari proses pemurnian. Penderitaan atau masalah datang silih berganti dalam hidup Ayub, bahkan ia harus kehilangan segala-galanya. Begitu pula Yusuf yang harus mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tetapi, di balik penderitaan yang Ayub atau pun Yusuf alami, Tuhan punya rencana yang indah, dan rencana-Nya tidak pernah gagal (Ayub 42:2). Setelah melewati proses hidup yang begitu menyakitkan, pada akhirnya ada berkat yang luar biasa, hidup Ayub dipulihkan (Ayub 42:7-16). Begitu pula ketika Yusuf mampu bertahan di tengah proses hidup yang dijalaninya, "sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya." (Mazmur 105:19), ia pun tampil berkilau seperti emas yang murni, kehidupan Yusuf diangkat tinggi, ia pun menjadi kesaksian dan berkat bagi bangsanya!
Jika saat ini Saudara mengalami 'proses' dari Tuhan, bersyukurlah! Itu artinya Ia punya rencana indah untuk Saudara. Ia hendak membersihkan, memurnikan, menguji kualitas hidup Saudara. Jangan sekali-kali berontak! Bertahanlah, kuatkan hati! Bila kita mampu melewati proses ini dengan baik, janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita.
Apa yang tak terpikirkan itu yang Tuhan sediakan bagi setiap orang yang lulus dalam proses-Nya!
Subscribe to:
Comments (Atom)