Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 April 2019
Baca: Yesaya 55:1-13
"Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu
akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut
kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud." Yesaya 55:3
Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut dengan tujuan yang sangat jelas yaitu supaya manusia lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara. Dalam praktek hidup sehari-hari yang terjadi justru kebalikannya! Banyak orang lebih suka berbicara daripada mendengar: mudah sekali berkomentar, mudah sekali menghujat, mudah sekali menghakimi, mudah sekali mengkritik, mudah sekali menggosip dan sebagainya. Ada tertulis: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19).
Tuhan berfirman melalui Yesaya: "Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu
akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut
kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud." (Yesaya 55:3). Tuhan ingin kita senantiasa menyendengkan telinga mendengar Dia berbicara. Selama ini tanpa disadari kita terlalu sibuk berbicara kepada orang lain, banyak bicara kepada Tuhan dalam doa-doa yang dipenuhi segudang permintaan, tapi kita tak memberi kesempatan Tuhan berbicara, tak menghiraukan perkataan Tuhan: "Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar." (Yesaya 42:20). Padahal Tuhan ingin sekali berbicara kepada kita dan Ia mau kita dengar-dengaran akan Dia. Tuhan berbicara kepada kita dengan berbagai cara, termasuk melalui hamba-hamba-Nya yang Ia percaya untuk menyampaikan isi hati-Nya.
Mendengarkan Tuhan berbicara adalah langkah menuju kehidupan dan berkat (ayat nas). Nuh adalah contoh orang yang dengar-dengaran akan suara Tuhan. Ketika Tuhan berfirman untuk memberitahukan segala rencana-Nya (Kejadian 6:13-21), Nuh mendengarkan dengan baik, lalu melakukan tepat seperti yang Tuhan firmankan. Karena mau mendengar dan taat, Nuh dan seisi keluarga selamat dari air bah yang menenggelamkan bumi.
Banyak mendengar firman Tuhan dan taat melakukan pasti diselamatkan dan diberkati!
Monday, April 15, 2019
Sunday, April 14, 2019
SALING MENOPANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 April 2019
Baca: Keluaran 17:8-16
"Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya,..." Keluaran 17:12
Akhir-akhir ini ada banyak orang Kristen mengalami kelesuan rohani. Mereka tidak lagi punya roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Apa yang menjadi penyebabnya? Masalah atau beban hidup yang menindih membuat mereka merasa lelah dan penat secara rohani. Dalam situasi ini kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk menguatkan dan menopang. Ada tertulis: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkhotbah 4:9-10).
Dalam peperangan orang Israel melawan bangsa Amalek Musa sendirian berada di puncak bukit dengan mengangkat tongkat Tuhan di tangannya. Dan terjadilah: "...apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek." (Keluaran 17:11). Cepat atau lambat Musa pun merasa lelah dan penat, "...sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang." (Keluaran 17:12-13). Pelajaran yang kita dapatkan: sekalipun merasa lelah dan penat, tapi bila ada yang menopang, maka musuh pasti dapat dikalahkan. Karena itu, firman Tuhan menasihati kita untuk saling menopang dan menguatkan di antara saudara seiman. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
Kekristenan identik dengan kasih, yaitu kasih yang bukan sekedar slogan, melainkan kasih yang disertai dengan tindakan nyata. Jika ada saudara kita sedang lemah tak berdaya, adakah kita tergerak hati untuk menolongnya?
"Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." Roma 15:1
Baca: Keluaran 17:8-16
"Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya,..." Keluaran 17:12
Akhir-akhir ini ada banyak orang Kristen mengalami kelesuan rohani. Mereka tidak lagi punya roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Apa yang menjadi penyebabnya? Masalah atau beban hidup yang menindih membuat mereka merasa lelah dan penat secara rohani. Dalam situasi ini kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk menguatkan dan menopang. Ada tertulis: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkhotbah 4:9-10).
Dalam peperangan orang Israel melawan bangsa Amalek Musa sendirian berada di puncak bukit dengan mengangkat tongkat Tuhan di tangannya. Dan terjadilah: "...apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek." (Keluaran 17:11). Cepat atau lambat Musa pun merasa lelah dan penat, "...sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang." (Keluaran 17:12-13). Pelajaran yang kita dapatkan: sekalipun merasa lelah dan penat, tapi bila ada yang menopang, maka musuh pasti dapat dikalahkan. Karena itu, firman Tuhan menasihati kita untuk saling menopang dan menguatkan di antara saudara seiman. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
Kekristenan identik dengan kasih, yaitu kasih yang bukan sekedar slogan, melainkan kasih yang disertai dengan tindakan nyata. Jika ada saudara kita sedang lemah tak berdaya, adakah kita tergerak hati untuk menolongnya?
"Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." Roma 15:1
Saturday, April 13, 2019
KEYAKINAN KOKOH DALAM INJIL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 April 2019
Baca: Roma 1:16-32
"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Roma 1:16
Kehidupan kekristenan bukanlah sebuah permainan, melainkan suatu medan pertempuran. Oleh karena itu orang percaya tak boleh main-main dengan keyakinan imannya. Di hari-hari ini ada banyak orang percaya yang mempermainkan imannya kepada Kristus. Demi mendapatkan jodoh, demi bisnisnya lancar, demi karir yang menanjak, demi mendapatkan sebuah jabatan, tidak sedikit orang rela menanggalkan predikat sebagai orang percaya. Mereka memilih undur dari Tuhan, atau tetap menjalani hidup kekristenannya tapi tak lebih dari sekedar kulit luarnya.
Mereka digambarkan seperti seorang prajurit yang sudah kalah sebelum berperang! Peperangan yang dihadapi oleh orang percaya bukanlah peperangan secara fisik/daging, melainkan peperangan secara roh (Efesus 6:12). Karena itu perlu sekali kita memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata rohani. Salah satu senjata rohani adalah pedang Roh yaitu firman Tuhan (Efesus 6:17), senjata yang Mahadahsyat kuasanya. Jika kita ingin menggunakan pedang Roh (firman Tuhan) sebagai senjata dalam peperangan, maka kita sendiri pun harus mempunyai keyakinan yang kokoh terhadapnya. Jika tidak, musuh pasti akan menertawakan kita. Rasul Paulus punya keyakinan kokoh akan firman Tuhan: "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,... Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.'" (Roma 1:16-17).
Punya keyakinan kokoh dalam Injil berarti berpegang teguh pada Injil dan hidup di dalamnya. Inilah yang kita perlukan di masa-masa seperti sekarang ini. Jika kita yakin akan Injil dan kuasa-Nya, iman kita tak akan tergoncang, sekalipun dunia bergoncang. "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35).
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." Roma 15:4
Baca: Roma 1:16-32
"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Roma 1:16
Kehidupan kekristenan bukanlah sebuah permainan, melainkan suatu medan pertempuran. Oleh karena itu orang percaya tak boleh main-main dengan keyakinan imannya. Di hari-hari ini ada banyak orang percaya yang mempermainkan imannya kepada Kristus. Demi mendapatkan jodoh, demi bisnisnya lancar, demi karir yang menanjak, demi mendapatkan sebuah jabatan, tidak sedikit orang rela menanggalkan predikat sebagai orang percaya. Mereka memilih undur dari Tuhan, atau tetap menjalani hidup kekristenannya tapi tak lebih dari sekedar kulit luarnya.
Mereka digambarkan seperti seorang prajurit yang sudah kalah sebelum berperang! Peperangan yang dihadapi oleh orang percaya bukanlah peperangan secara fisik/daging, melainkan peperangan secara roh (Efesus 6:12). Karena itu perlu sekali kita memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata rohani. Salah satu senjata rohani adalah pedang Roh yaitu firman Tuhan (Efesus 6:17), senjata yang Mahadahsyat kuasanya. Jika kita ingin menggunakan pedang Roh (firman Tuhan) sebagai senjata dalam peperangan, maka kita sendiri pun harus mempunyai keyakinan yang kokoh terhadapnya. Jika tidak, musuh pasti akan menertawakan kita. Rasul Paulus punya keyakinan kokoh akan firman Tuhan: "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,... Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.'" (Roma 1:16-17).
Punya keyakinan kokoh dalam Injil berarti berpegang teguh pada Injil dan hidup di dalamnya. Inilah yang kita perlukan di masa-masa seperti sekarang ini. Jika kita yakin akan Injil dan kuasa-Nya, iman kita tak akan tergoncang, sekalipun dunia bergoncang. "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35).
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." Roma 15:4
Friday, April 12, 2019
BERLAKU ANGKUH PASTI DIRENDAHKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 April 2019
Baca: Obaja 1:7
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: 'Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?'" Obaja 1:3
Kitab Obaja adalah kitab terpendek dalam Perjanjian Lama karena hanya terdiri dari 1 pasal (21 ayat). Obaja mendapatkan penglihatan dari Tuhan dan bernubuat tentang kehancuran dan penghukuman Tuhan terhadap bangsa Edom, yang adalah keturunan dari Esau. Sementara bangsa Israel adalah keturunan dari saudara kembarnya, yaitu Yakub.
Mengapa Tuhan menghukum bangsa Edom? Karena mereka berlaku congkak dan memandang rendah bangsa Israel. Edom secara geografis merupakan negeri yang aman, kuat dan terlindung. Secara teori kecil kemungkinan dapat diserang oleh bangsa lain. Itulah sebabnya mereka membangga-banggakan diri dan berpikir tak akan ada bangsa lain yang dapat mengalahkannya. Mereka lupa bahwa keangkuhan atau kecongkakan adalah kebencian di mata Tuhan. Tuhan sangat menentang keras orang yang berlaku congkak, tetapi Ia mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b). Bangsa atau orang yang bertumbuh menjadi kuat dan beroleh peninggian dari Tuhan seharusnya semakin merendahkan diri di hadapan penciptanya, sebab di luar Tuhan kita ini tidak bisa berbuat apa-apa. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18), "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6).
Sekarang ini dunia dipenuhi dengan roh keangkuhan! Banyak orang membusungkan dada dengan membangga-banggakan kepintaran, kehebatan, prestasi, kekuatan, uang, harta, kesuksesan, jabatan dan sebagainya. Alkitab menasihati: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Kalau bukan karena Tuhan tak mungkin kita dapat mempertahankan keadaan kita, dan apa yang kita punyai hari ini belum tentu besok masih ada, sebab kekayaan dan kejayaan dapat lenyap dalam seketika. Karena itu jadikan Tuhan sebagai tempat sandaran hidup ini, bukan yang lain, dan milikilah kerendahan hati.
Dengan mengakui Tuhan sebagai sumber segala sesuatu, dan apa pun yang kita miliki adalah berasal dari-Nya, maka kita akan terhindar dari sifat congkak!
Baca: Obaja 1:7
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: 'Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?'" Obaja 1:3
Kitab Obaja adalah kitab terpendek dalam Perjanjian Lama karena hanya terdiri dari 1 pasal (21 ayat). Obaja mendapatkan penglihatan dari Tuhan dan bernubuat tentang kehancuran dan penghukuman Tuhan terhadap bangsa Edom, yang adalah keturunan dari Esau. Sementara bangsa Israel adalah keturunan dari saudara kembarnya, yaitu Yakub.
Mengapa Tuhan menghukum bangsa Edom? Karena mereka berlaku congkak dan memandang rendah bangsa Israel. Edom secara geografis merupakan negeri yang aman, kuat dan terlindung. Secara teori kecil kemungkinan dapat diserang oleh bangsa lain. Itulah sebabnya mereka membangga-banggakan diri dan berpikir tak akan ada bangsa lain yang dapat mengalahkannya. Mereka lupa bahwa keangkuhan atau kecongkakan adalah kebencian di mata Tuhan. Tuhan sangat menentang keras orang yang berlaku congkak, tetapi Ia mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b). Bangsa atau orang yang bertumbuh menjadi kuat dan beroleh peninggian dari Tuhan seharusnya semakin merendahkan diri di hadapan penciptanya, sebab di luar Tuhan kita ini tidak bisa berbuat apa-apa. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18), "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6).
Sekarang ini dunia dipenuhi dengan roh keangkuhan! Banyak orang membusungkan dada dengan membangga-banggakan kepintaran, kehebatan, prestasi, kekuatan, uang, harta, kesuksesan, jabatan dan sebagainya. Alkitab menasihati: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Kalau bukan karena Tuhan tak mungkin kita dapat mempertahankan keadaan kita, dan apa yang kita punyai hari ini belum tentu besok masih ada, sebab kekayaan dan kejayaan dapat lenyap dalam seketika. Karena itu jadikan Tuhan sebagai tempat sandaran hidup ini, bukan yang lain, dan milikilah kerendahan hati.
Dengan mengakui Tuhan sebagai sumber segala sesuatu, dan apa pun yang kita miliki adalah berasal dari-Nya, maka kita akan terhindar dari sifat congkak!
Thursday, April 11, 2019
APAKAH YANG SAUDARA CARI?
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 April 2019
Baca: Mazmur 9:1-21
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." Mazmur 9:11
Apa yang kita cari di dunia ini? Kebanyakan orang pasti akan menjawab bahwa mereka mencari uang, kekayaan, popularitas dan jabatan. Pikirnya jika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pasti akan menemukan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Benarkah demikian? Tidak. Uang, kekayaan, popularitas dan jabatan tak menjamin bahwa seseorang akan mengalami kebahagiaan yang sejati.
Apa yang seharusnya kita cari? Tuhan memperingatkan kita untuk mencari Dia dengan sungguh-sungguh (dengan segenap hati). Itulah kata Tuhan yang mencipta kita, yang mengetahui masa depan kita, dan yang mengasihi kita. Dialah Tuhan, yang memberikan kepada kita apa yang kita cari. "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati," (Yeremia 29:13). Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai sasaran utama hidup kita, mencari Dia lebih dari apapun, percayalah bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan lebih, sebab "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 3:20). Bila kita membutuhkan perlindungan, carilah Tuhan sebab Dia adalah kota benteng dan gunung batu perlindungan (Mazmur 94:22), juga kubu pertahanan (Mazmur 91:2). Bila kita menginginkan berkat, carilah Tuhan sebab "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10) dan Tuhan "...akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya..." (Filipi 4:19). Tuhan bukan hanya menyediakan apa yang kita butuhkan, bahkan nyawa-Nya rela Ia serahkan untuk keselamatan kita, sebab Dia adalah Gembala yang baik. "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;" (Yohanes 10:11).
Bila saat ini kita sedang hilang semangat dan tiada berdaya, carilah Tuhan, sebab "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29). Bila kita sedang berbeban berat, datanglah kepada Tuhan, sebab Ia berjanji: "...Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).
Carilah Tuhan saja, maka kita akan memperoleh apa pun yang kita inginkan!
Baca: Mazmur 9:1-21
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." Mazmur 9:11
Apa yang kita cari di dunia ini? Kebanyakan orang pasti akan menjawab bahwa mereka mencari uang, kekayaan, popularitas dan jabatan. Pikirnya jika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pasti akan menemukan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Benarkah demikian? Tidak. Uang, kekayaan, popularitas dan jabatan tak menjamin bahwa seseorang akan mengalami kebahagiaan yang sejati.
Apa yang seharusnya kita cari? Tuhan memperingatkan kita untuk mencari Dia dengan sungguh-sungguh (dengan segenap hati). Itulah kata Tuhan yang mencipta kita, yang mengetahui masa depan kita, dan yang mengasihi kita. Dialah Tuhan, yang memberikan kepada kita apa yang kita cari. "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati," (Yeremia 29:13). Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai sasaran utama hidup kita, mencari Dia lebih dari apapun, percayalah bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan lebih, sebab "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 3:20). Bila kita membutuhkan perlindungan, carilah Tuhan sebab Dia adalah kota benteng dan gunung batu perlindungan (Mazmur 94:22), juga kubu pertahanan (Mazmur 91:2). Bila kita menginginkan berkat, carilah Tuhan sebab "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10) dan Tuhan "...akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya..." (Filipi 4:19). Tuhan bukan hanya menyediakan apa yang kita butuhkan, bahkan nyawa-Nya rela Ia serahkan untuk keselamatan kita, sebab Dia adalah Gembala yang baik. "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;" (Yohanes 10:11).
Bila saat ini kita sedang hilang semangat dan tiada berdaya, carilah Tuhan, sebab "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29). Bila kita sedang berbeban berat, datanglah kepada Tuhan, sebab Ia berjanji: "...Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).
Carilah Tuhan saja, maka kita akan memperoleh apa pun yang kita inginkan!
Wednesday, April 10, 2019
JANGAN SEPERTI BURUNG GAGAK
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2019
Baca: Yakobus 1:19-27
"...menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Yakobus 1:27
Salah satu dampak positif dari perkembangan zaman dan teknologi adalah berkembangnya bidang perindustrian. Terlihat dari semakin banyak pabrik yang dibangun. Ketika banyak pabrik dibangun timbul pula masalah baru yang berkenaan dengan limbah. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik (rumah tangga). Bila limbah industri maupun domestik dibuang dengan sembarangan pasti menimbulkan polusi: air sungai atau air laut akan menjadi kotor dan tercemar, sehingga makhluk hidup yang hidup di dalamnya bisa mati keracunan.
Tak jauh berbeda dengan kehidupan orang percaya! Kita dapat tercemar dan mengalami keracunan bila terus berada di tempat yang kotor dan penuh polusi. Inilah gambaran tentang hidup yang berkompromi dengan dunia ini atau mencemarkan diri dengan dunia. Mungkin pada awalnya tidak menampakkan gejala apa-apa, tetapi bila keadaan ini berkelanjutan dan tidak diperhatikan, kotoran-kotoran tersebut akan menembus ke dalam kehidupan mereka. Pada zaman Nuh, ketika air bah surut, Nuh melepaskan dua jenis burung dari bahteranya yaitu burung gagak dan burung merpati. Kedua burung ini memiliki sifat yang berbeda. Burung gagak suka sekali makan bangkai, sedangkan burung merpati suka makan makanan yang bersih. Gagak yang dilepas itu tak kembali ke bahtera walaupun air bah masih menutupi bumi. Besar kemungkinan gagak itu hinggap di atas bangkai yang terapung di atas air. Sedangkan burung merpati, yang adalah simbol Roh Kudus, kembali lagi ke bahtera karena tak memungkin bagi merpati hinggap di atas barang yang kotor: sampah, bangkai dan sebagainya.
Hidup di tengah dunia yang jahat dan kotor ini, setiap kita mempunyai kebebasan untuk memilih: menjadi seperti gagak atau burung merpati. Hidup dalam kecemaran atau menjaga hidup tetap bersih. Tuhan tidak memaksa kita, Ia tidak ingin memperlakukan manusia seperti robot untuk mengikuti kehendak-Nya, tapi Ia memberi kehendak bebas (free will) kepada kita. Yang harus selalu diingat adalah setiap ketidaktaatan pasti membawa konsekuensi (akibat), sedangkan ketaatan pasti mendatangkan upah.
Mana yang Saudara pilih? Hidup dalam kecemaran hanya akan membawa kepada kehancuran.
Baca: Yakobus 1:19-27
"...menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." Yakobus 1:27
Salah satu dampak positif dari perkembangan zaman dan teknologi adalah berkembangnya bidang perindustrian. Terlihat dari semakin banyak pabrik yang dibangun. Ketika banyak pabrik dibangun timbul pula masalah baru yang berkenaan dengan limbah. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik (rumah tangga). Bila limbah industri maupun domestik dibuang dengan sembarangan pasti menimbulkan polusi: air sungai atau air laut akan menjadi kotor dan tercemar, sehingga makhluk hidup yang hidup di dalamnya bisa mati keracunan.
Tak jauh berbeda dengan kehidupan orang percaya! Kita dapat tercemar dan mengalami keracunan bila terus berada di tempat yang kotor dan penuh polusi. Inilah gambaran tentang hidup yang berkompromi dengan dunia ini atau mencemarkan diri dengan dunia. Mungkin pada awalnya tidak menampakkan gejala apa-apa, tetapi bila keadaan ini berkelanjutan dan tidak diperhatikan, kotoran-kotoran tersebut akan menembus ke dalam kehidupan mereka. Pada zaman Nuh, ketika air bah surut, Nuh melepaskan dua jenis burung dari bahteranya yaitu burung gagak dan burung merpati. Kedua burung ini memiliki sifat yang berbeda. Burung gagak suka sekali makan bangkai, sedangkan burung merpati suka makan makanan yang bersih. Gagak yang dilepas itu tak kembali ke bahtera walaupun air bah masih menutupi bumi. Besar kemungkinan gagak itu hinggap di atas bangkai yang terapung di atas air. Sedangkan burung merpati, yang adalah simbol Roh Kudus, kembali lagi ke bahtera karena tak memungkin bagi merpati hinggap di atas barang yang kotor: sampah, bangkai dan sebagainya.
Hidup di tengah dunia yang jahat dan kotor ini, setiap kita mempunyai kebebasan untuk memilih: menjadi seperti gagak atau burung merpati. Hidup dalam kecemaran atau menjaga hidup tetap bersih. Tuhan tidak memaksa kita, Ia tidak ingin memperlakukan manusia seperti robot untuk mengikuti kehendak-Nya, tapi Ia memberi kehendak bebas (free will) kepada kita. Yang harus selalu diingat adalah setiap ketidaktaatan pasti membawa konsekuensi (akibat), sedangkan ketaatan pasti mendatangkan upah.
Mana yang Saudara pilih? Hidup dalam kecemaran hanya akan membawa kepada kehancuran.
Tuesday, April 9, 2019
JANGAN ADA KOTORAN MENEMPEL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 April 2019
Baca: 1 Petrus 1:13-25
"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." 1 Petrus 1:18-19
Kehidupan orang percaya adalah berharga di mata Tuhan. Mengapa? Karena Kristus telah menebus kita bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah-Nya yang mahal (ayat nas). Itu sebabnya Tuhan menghendaki kita senantiasa mempermuliakan nama-Nya. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:20).
Hidup yang memuliakan Tuhan adalah hidup yang bersih dari segala bentuk kecemaran, sebab orang percaya dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tesalonika 4:7), "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan.." (Yakobus 1:21). Tuhan menghendaki kita menjadi kudus di seluruh aspek kehidupan ini. Bukan hanya tampak kudus saat berada di lingkungan gereja atau pelayanan saja, tetapi di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya. Kata 'kudus' berarti terpisah atau berbeda. Jadi hidup seorang percaya harus benar-benar berbeda dan terpisah dari kehidupan dunia ini. "Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu." (2 Korintus 6:17). Tidak menjamah yang najis berarti menjaga kekudusan. Ini perintah Tuhan! Bukan sekedar himbauan, saran atau alternatif. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16).
Adakah kotoran-kotoran yang masih menempel di dalam hidup kita? Segera bersihkan diri, sebab hal-hal itulah yang menghalangi Tuhan memakai hidup kita, "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:21).
Selama masih ada hal yang cemar dan kotor, Tuhan takkan memakai hidup kita!
Baca: 1 Petrus 1:13-25
"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." 1 Petrus 1:18-19
Kehidupan orang percaya adalah berharga di mata Tuhan. Mengapa? Karena Kristus telah menebus kita bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah-Nya yang mahal (ayat nas). Itu sebabnya Tuhan menghendaki kita senantiasa mempermuliakan nama-Nya. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:20).
Hidup yang memuliakan Tuhan adalah hidup yang bersih dari segala bentuk kecemaran, sebab orang percaya dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tesalonika 4:7), "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan.." (Yakobus 1:21). Tuhan menghendaki kita menjadi kudus di seluruh aspek kehidupan ini. Bukan hanya tampak kudus saat berada di lingkungan gereja atau pelayanan saja, tetapi di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya. Kata 'kudus' berarti terpisah atau berbeda. Jadi hidup seorang percaya harus benar-benar berbeda dan terpisah dari kehidupan dunia ini. "Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu." (2 Korintus 6:17). Tidak menjamah yang najis berarti menjaga kekudusan. Ini perintah Tuhan! Bukan sekedar himbauan, saran atau alternatif. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16).
Adakah kotoran-kotoran yang masih menempel di dalam hidup kita? Segera bersihkan diri, sebab hal-hal itulah yang menghalangi Tuhan memakai hidup kita, "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:21).
Selama masih ada hal yang cemar dan kotor, Tuhan takkan memakai hidup kita!
Monday, April 8, 2019
TINDAKAN MENYAKITI DIRI SENDIRI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 April 2019
Baca: Kejadian 16:1-16
"Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Kejadian 16:2
Memiliki keturunan (anak) adalah kerinduan terbesar dari setiap pasangan yang sudah menikah (suami-isteri), tak terkecuali dengan Abram dan Sarai! Mereka juga merindukan kehadiran buah hati di tengah-tengah keluarga. Perihal keturunan ini Tuhan sendiri yang memprakarsai: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..." (Kejadian 1:28). Ketika Abram berusia 75 tahun Tuhan pernah berjanji akan memberinya keturunan, tapi tahun berganti tahun, janji itu belum juga digenapi. Tak sabar menunggu waktu Tuhan, Sarai pun menempuh jalan pintas untuk mendapat keturunan yaitu bersepakat dengan Hagar, dan hal itu disetujui oleh Abram, yaitu memberikan Hagar kepada Abram! "...baiklah hampiri hambaku itu;" (ayat nas), dan tak menunggu lama, Hagar mengandung dan melahirkan seorang anak.
Seiring berjalannya waktu Hagar lupa pada perjanjiannya dengan Sarai (majikan), di mana ia mulai merendahkan dan melukai hati Sarai yang dianggapnya tidak mampu memberikan keturunan kepada Abram. Sarai pun tak kuat menanggung beban dan sakit hatinya, lalu menceritakan masalah tersebut kepada suaminya, tetapi Abram lepas tangan dan memberikan hak kepada isterinya untuk masalahnya dengan Hagar. Sarai harus menanggung akibat dari tindakannya, sebab apa yang dirancangkan tidak sesuai dengan harapan, sebaliknya berdampak buruk terhadap dirinya sendiri. Hati Sarai terluka oleh karena sikap Hagar yang tak berhenti menyakitinya.
Tak bisa dipungkiri bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi menunggu janji untuk waktu yang lama, bukan pekerjaan mudah. Menunggu janji Tuhan butuh kesabaran dan ketekunan! Kita harus benar-benar memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan. Bila saat ini kita sedang menunggu janji Tuhan, apa pun itu: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, keturunan dan sebagainya, tetaplah tekun dan sabar menanti-nantikan Tuhan dan belajarlah untuk selalu taat kepada kehendak Tuhan. Jangan sekali-kali mencari jalan keluar dengan menggunakan akal dan kekuatan sendiri.
"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." Ibrani 10:23
Baca: Kejadian 16:1-16
"Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Kejadian 16:2
Memiliki keturunan (anak) adalah kerinduan terbesar dari setiap pasangan yang sudah menikah (suami-isteri), tak terkecuali dengan Abram dan Sarai! Mereka juga merindukan kehadiran buah hati di tengah-tengah keluarga. Perihal keturunan ini Tuhan sendiri yang memprakarsai: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..." (Kejadian 1:28). Ketika Abram berusia 75 tahun Tuhan pernah berjanji akan memberinya keturunan, tapi tahun berganti tahun, janji itu belum juga digenapi. Tak sabar menunggu waktu Tuhan, Sarai pun menempuh jalan pintas untuk mendapat keturunan yaitu bersepakat dengan Hagar, dan hal itu disetujui oleh Abram, yaitu memberikan Hagar kepada Abram! "...baiklah hampiri hambaku itu;" (ayat nas), dan tak menunggu lama, Hagar mengandung dan melahirkan seorang anak.
Seiring berjalannya waktu Hagar lupa pada perjanjiannya dengan Sarai (majikan), di mana ia mulai merendahkan dan melukai hati Sarai yang dianggapnya tidak mampu memberikan keturunan kepada Abram. Sarai pun tak kuat menanggung beban dan sakit hatinya, lalu menceritakan masalah tersebut kepada suaminya, tetapi Abram lepas tangan dan memberikan hak kepada isterinya untuk masalahnya dengan Hagar. Sarai harus menanggung akibat dari tindakannya, sebab apa yang dirancangkan tidak sesuai dengan harapan, sebaliknya berdampak buruk terhadap dirinya sendiri. Hati Sarai terluka oleh karena sikap Hagar yang tak berhenti menyakitinya.
Tak bisa dipungkiri bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi menunggu janji untuk waktu yang lama, bukan pekerjaan mudah. Menunggu janji Tuhan butuh kesabaran dan ketekunan! Kita harus benar-benar memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan. Bila saat ini kita sedang menunggu janji Tuhan, apa pun itu: pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, keturunan dan sebagainya, tetaplah tekun dan sabar menanti-nantikan Tuhan dan belajarlah untuk selalu taat kepada kehendak Tuhan. Jangan sekali-kali mencari jalan keluar dengan menggunakan akal dan kekuatan sendiri.
"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." Ibrani 10:23
Sunday, April 7, 2019
PEREMPUAN SUNEM: Tak Sia-Sia Melayani Tuhan (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 April 2019
Baca: 2 Raja-Raja 4:8-37
"Kemudian berkatalah Elisa: 'Apakah yang dapat kuperbuat baginya?' Jawab Gehazi: 'Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.'" 2 Raja-Raja 4:14
Banyak orang Kristen berpikir bahwa jika sudah melayani Tuhan atau terlibat pelayanan kita akan terbebas dari segala jenis masalah atau kesulitan. Firman Tuhan tidak menulis demikian! Selama kita masih hidup kita takkan luput dari masalah, tapi bagi orang yang hidup benar pasti ada pertolongan, pemulihan, dan jalan keluar di dalam Tuhan.
Perempuan Sunem dan suaminya ini memiliki hati yang mengasihi Tuhan dan punya roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan, tapi mereka juga mengalami masalah yang tak bisa dipandang remeh yaitu tidak mempunyai anak. Sekalipun mengalami masalah yang berat, semangat keluarga ini dalam melayani Tuhan tak pernah surut. Berbeda sekali dengan orang-orang Kristen di zaman sekarang, ketika ada masalah mereka justru mudah sekali kecewa dan mundur dari pelayanan. Justru di tengah masalah seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan dan giat melayani Dia. Percayalah bahwa jerih lelah kita dalam melayani Tuhan tidak pernah sia-sia. Berkatalah Elisa (abdi Tuhan) kepada perempuan Sunem: "'Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.' Tetapi jawab perempuan itu: 'Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!' Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya." (ayat 16-17). Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan! Proses hidup yang harus dilalui keluarga ini tidak berhenti sampai di situ, anak yang diberikan Tuhan itu mati (ayat 20).
Perempuan Sunem pun datang kepada Elisa dan meminta pertolongan. Meski tahu anaknya sudah mati, ibu ini tetap memperkatakan iman: "'Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?'" Jawab perempuan itu: 'Selamat!'" (ayat 26). Lalu Elisa menyuruh Gehazi datang kepada keluarga ini, tapi tidak terjadi apa-apa. Akhirnya Elisa sendiri yang datang dan bertindak, mujizat terjadi: anak itu hidup kembali! Ketekunan dan kesabaran perempuan Sunem ini pun terbayarkan.
Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan berharap kepada-Nya tidak pernah dikecewakan!
Baca: 2 Raja-Raja 4:8-37
"Kemudian berkatalah Elisa: 'Apakah yang dapat kuperbuat baginya?' Jawab Gehazi: 'Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.'" 2 Raja-Raja 4:14
Banyak orang Kristen berpikir bahwa jika sudah melayani Tuhan atau terlibat pelayanan kita akan terbebas dari segala jenis masalah atau kesulitan. Firman Tuhan tidak menulis demikian! Selama kita masih hidup kita takkan luput dari masalah, tapi bagi orang yang hidup benar pasti ada pertolongan, pemulihan, dan jalan keluar di dalam Tuhan.
Perempuan Sunem dan suaminya ini memiliki hati yang mengasihi Tuhan dan punya roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan, tapi mereka juga mengalami masalah yang tak bisa dipandang remeh yaitu tidak mempunyai anak. Sekalipun mengalami masalah yang berat, semangat keluarga ini dalam melayani Tuhan tak pernah surut. Berbeda sekali dengan orang-orang Kristen di zaman sekarang, ketika ada masalah mereka justru mudah sekali kecewa dan mundur dari pelayanan. Justru di tengah masalah seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan dan giat melayani Dia. Percayalah bahwa jerih lelah kita dalam melayani Tuhan tidak pernah sia-sia. Berkatalah Elisa (abdi Tuhan) kepada perempuan Sunem: "'Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.' Tetapi jawab perempuan itu: 'Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!' Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya." (ayat 16-17). Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan! Proses hidup yang harus dilalui keluarga ini tidak berhenti sampai di situ, anak yang diberikan Tuhan itu mati (ayat 20).
Perempuan Sunem pun datang kepada Elisa dan meminta pertolongan. Meski tahu anaknya sudah mati, ibu ini tetap memperkatakan iman: "'Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?'" Jawab perempuan itu: 'Selamat!'" (ayat 26). Lalu Elisa menyuruh Gehazi datang kepada keluarga ini, tapi tidak terjadi apa-apa. Akhirnya Elisa sendiri yang datang dan bertindak, mujizat terjadi: anak itu hidup kembali! Ketekunan dan kesabaran perempuan Sunem ini pun terbayarkan.
Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan berharap kepada-Nya tidak pernah dikecewakan!
Saturday, April 6, 2019
PEREMPUAN SUNEM: Tak Sia-Sia Melayani Tuhan (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2019
Baca: 2 Raja-Raja 4:8-37
"Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus." 2 Raja-Raja 4:9
Keadaan yang serba cukup, semua serba nyaman, berkelimpahan atau kaya secara materi seringkali membuat orang menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengabaikan perkara-perkara rohani dan tidak lagi hidup mengandalkan Tuhan. Melayani Tuhan dianggap sebagai hal yang tak penting, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mereka juga merasa sayang jika harus berkorban untuk pekerjaan Tuhan, karena hati mereka telah melekat dan terpaut kepada materi (harta).
Perempuan Sunem yang dikisahkan dalam Alkitab ini, bukanlah orang yang berekonomi lemah, tapi merupakan orang yang 'berada', tapi ia tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Ia begitu mengasihi Tuhan dan memiliki kerinduan besar untuk melayani pekerjaan Tuhan. Dengan berkat kekayaan yang dimiliki ia melayani Tuhan seperti ada tertulis: "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu," (Amsal 3:9). Salah satu bukti kasihnya kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya adalah ia mengajak suaminya untuk membuat sebuah kamar atau ruangan khusus di rumahnya yang ia peruntukkan bagi hamba Tuhan yang singgah ke rumahnya. Inilah hidup yang menjadi teladan bagi orang lain. Teladan (bahasa Yunani tupos) artinya: model, pola, contoh. Jika perempuan Sunem ini tidak terlebih dahulu menunjukkan teladan hidup kepada suaminya, sulit rasanya ia bisa mengajak atau memengaruhi suaminya untuk mendukung pelayanan Tuhan ini.
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang menunjukkan kasih, perhatian atau menyambut hamba Tuhan (utusan-Nya) dengan baik, pasti Tuhan perhitungkan. Mereka akan menerima upah untuk setiap korban dan jerih lelahnya. "Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:40-42).
Baca: 2 Raja-Raja 4:8-37
"Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus." 2 Raja-Raja 4:9
Keadaan yang serba cukup, semua serba nyaman, berkelimpahan atau kaya secara materi seringkali membuat orang menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengabaikan perkara-perkara rohani dan tidak lagi hidup mengandalkan Tuhan. Melayani Tuhan dianggap sebagai hal yang tak penting, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mereka juga merasa sayang jika harus berkorban untuk pekerjaan Tuhan, karena hati mereka telah melekat dan terpaut kepada materi (harta).
Perempuan Sunem yang dikisahkan dalam Alkitab ini, bukanlah orang yang berekonomi lemah, tapi merupakan orang yang 'berada', tapi ia tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Ia begitu mengasihi Tuhan dan memiliki kerinduan besar untuk melayani pekerjaan Tuhan. Dengan berkat kekayaan yang dimiliki ia melayani Tuhan seperti ada tertulis: "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu," (Amsal 3:9). Salah satu bukti kasihnya kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya adalah ia mengajak suaminya untuk membuat sebuah kamar atau ruangan khusus di rumahnya yang ia peruntukkan bagi hamba Tuhan yang singgah ke rumahnya. Inilah hidup yang menjadi teladan bagi orang lain. Teladan (bahasa Yunani tupos) artinya: model, pola, contoh. Jika perempuan Sunem ini tidak terlebih dahulu menunjukkan teladan hidup kepada suaminya, sulit rasanya ia bisa mengajak atau memengaruhi suaminya untuk mendukung pelayanan Tuhan ini.
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang menunjukkan kasih, perhatian atau menyambut hamba Tuhan (utusan-Nya) dengan baik, pasti Tuhan perhitungkan. Mereka akan menerima upah untuk setiap korban dan jerih lelahnya. "Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:40-42).
Friday, April 5, 2019
TUHAN ADALAH PRIBADI YANG PEDULI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 April 2019
Baca: Markus 10:46-52
"'Panggillah dia!' Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: 'Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.'" Markus 10:49
Semua orang tahu bahwa menolong orang lain adalah perbuatan yang sangat terpuji. Tetapi tidak semua orang mau melakukannya, karena kebanyakan orang cenderung mementingkan diri sendiri (egois), tidak peduli orang lain dan "...kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12). Mereka berpikir bahwa menolong orang lain merupakan suatu kerugian, karena ada sesuatu yang harus dilepaskan atau dikorbankan.
Orang mau berbuat baik kepada sesamanya dengan embel-embel, atau disertai dengan motivasi atau tendensi, atau pilih-pilih dalam menolong orang lain. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33). Dalam tour pelayanan-Nya sampailah Kristus dan murid-murid-Nya di kota Yerikho, bertemulah Ia dengan seorang pengemis buta yaitu Bartimeus, nama yang berasal dari kata bahasa Aram Bar yang artinya: anak lelaki, dan kata dari bahasa Yunani Timaios, yang berarti: terhormat. Bartimeus sudah lama mendengar tentang mujizat-mujizat yang kristus perbuat. Karena itu begitu mendengar Kristus sedang melintasi kota Yerikho, Bartimeus pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini: "...Anak Daud, kasihanilah aku!" (Markus 10:47, 48). Orang banyak tak menghiraukannya, bahkan memintanya untuk diam, tapi Bartimeus tak menyerah dan terus berteriak lebih keras lagi sampai Kristus mendengar.
Kerja keras tak pernah mengkhianati hasil! Usaha Bartimeus pun tidak sia-sia, Kristus mendengar seruannya. Ketika orang banyak tak mau peduli, ada satu Pribadi yang sangat peduli, Dialah Kristus. Perjumpaan dengan Kristus telah membuka lembaran baru dalam hidup Bartimeus. Jamahan tangan Kristus sanggup mencelikkan mata Bartimeus yang buta. Tak perlu takut menghadapi hidup ini!
Sekalipun dunia tak mempedulikan kita, percayalah kita punya Tuhan yang sangat peduli, "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,..." Yesaya 43:4a
Baca: Markus 10:46-52
"'Panggillah dia!' Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: 'Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.'" Markus 10:49
Semua orang tahu bahwa menolong orang lain adalah perbuatan yang sangat terpuji. Tetapi tidak semua orang mau melakukannya, karena kebanyakan orang cenderung mementingkan diri sendiri (egois), tidak peduli orang lain dan "...kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12). Mereka berpikir bahwa menolong orang lain merupakan suatu kerugian, karena ada sesuatu yang harus dilepaskan atau dikorbankan.
Orang mau berbuat baik kepada sesamanya dengan embel-embel, atau disertai dengan motivasi atau tendensi, atau pilih-pilih dalam menolong orang lain. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33). Dalam tour pelayanan-Nya sampailah Kristus dan murid-murid-Nya di kota Yerikho, bertemulah Ia dengan seorang pengemis buta yaitu Bartimeus, nama yang berasal dari kata bahasa Aram Bar yang artinya: anak lelaki, dan kata dari bahasa Yunani Timaios, yang berarti: terhormat. Bartimeus sudah lama mendengar tentang mujizat-mujizat yang kristus perbuat. Karena itu begitu mendengar Kristus sedang melintasi kota Yerikho, Bartimeus pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini: "...Anak Daud, kasihanilah aku!" (Markus 10:47, 48). Orang banyak tak menghiraukannya, bahkan memintanya untuk diam, tapi Bartimeus tak menyerah dan terus berteriak lebih keras lagi sampai Kristus mendengar.
Kerja keras tak pernah mengkhianati hasil! Usaha Bartimeus pun tidak sia-sia, Kristus mendengar seruannya. Ketika orang banyak tak mau peduli, ada satu Pribadi yang sangat peduli, Dialah Kristus. Perjumpaan dengan Kristus telah membuka lembaran baru dalam hidup Bartimeus. Jamahan tangan Kristus sanggup mencelikkan mata Bartimeus yang buta. Tak perlu takut menghadapi hidup ini!
Sekalipun dunia tak mempedulikan kita, percayalah kita punya Tuhan yang sangat peduli, "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,..." Yesaya 43:4a
Subscribe to:
Comments (Atom)