Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Maret 2019
Baca: 2 Korintus 11:7-33
"Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus." 2 Korintus 11:13
Orang dunia seringkali melihat segala sesuatu dari apa yang terlihat oleh kasat mata. Itulah sebabnya mereka mudah tertipu dan terpedaya karena tidak sanggup membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang asli dan mana yang palsu. Hal-hal tidak benar dan yang palsu ini tidak hanya terjadi di dunia luar, tapi juga terjadi di dunia pelayanan. Ada banyak orang menyebut diri pelayan Tuhan, tapi cara hidupnya sangat bertolak belakang dengan firman Tuhan. Rasul Paulus menyebutnya sebagai rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus (ayat nas).
Di zaman sekarang ini banyak orang lebih suka "...mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng." (2 Timotius 4:3-4). Karena itu mereka tidak lagi peduli dengan 'kualitas rohani' dari para pelayan Tuhan, yang penting keinginan telinganya terpuaskan. Tak mengherankan banyak bermunculan pelayan-pelayan Tuhan palsu untuk menyamar. Melihat hal ini rasul Paulus tidak tinggal diam! "Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka
yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami
dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar
sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan
perbuatan mereka." (2 Korintus 11:12-15).
Alkitab memperingatkan bahwa di masa-masa akhir "Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang." (Matius 24:11). Kita harus selalu berjaga-jaga dan waspada! Ingat! "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Matius 7:16a). Kunci agar tidak jatuh dalam rupa-rupa pengajaran yang menyesatkan adalah semakin melekat kepada Tuhan dan makin meningkatkan kualitas kerohanian kita.
Orang yang dewasa rohani pasti tidak akan mudah terombang-ambingkan oleh ajaran palsu!
Monday, March 25, 2019
Sunday, March 24, 2019
KEPUTUSAN KITA MENENTUKAN HIDUP KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Maret 2019
Baca: 1 Samuel 27:1-12
"Dan lamanya Daud tinggal di daerah orang Filistin adalah satu tahun empat bulan." 1 Samuel 27:7
Daud mengerti benar bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memilih dan mengurapi dia sebagai raja atas Israel yang baru, namun butuh kesabaran sampai waktu itu tergenapi, sebab Saul tak berhenti untuk mengejar dan berusaha untuk membunuhnya. Dalam pelariannya ini hati dan pikiran Daud pun berkecamuk: "Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul." (1 Samuel 27:1a).
Karena dihantui rasa takut Daud membuat keputusan: "...tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya." (1 Samuel 27:1b), padahal ia tahu persis orang-orang Filistin adalah penyembah berhala dan Tuhan melarang keras bangsa Israel bergaul dengan bangsa penyembah berhala. Daud membuat keputusan yang keliru! "Maka pada hari itu Akhis memberikan Ziklag kepadanya; itulah sebabnya Ziklag menjadi kepunyaan raja-raja Yehuda sampai sekarang." (1 Samuel 27:6), dan menetaplah Daud di daerah Ziklag. Daud berpikir Tuhan akan berkenan dengan keputusannya ini. Sejak saat itu Daud dan pasukannya turut membantu orang-orang berperang, termasuk berperang melawan bangsanya sendiri. Karena kasihnya yang besar kepada Daud Tuhan tidak membiarkan dia berlama-lama tinggal di tengah-tengah bangsa kafir, sehingga Tuhan mengijinkan orang Amalek datang menyerang tanah Negap dan Ziklag, tepat pada saat pasukan Daud bersama orang-orang Filistin hendak pergi berperang melawan bangsa Israel.
Untunglah raja-raja kota orang Filistin menolak keberadaan pasukan Daud sehingga mereka menyuruh Daud dan pasukannya pulang ke Ziklag. Sesampai di Ziklag mereka melihat kota itu sudah habis terbakar, isteri serta anak-anak mereka ditawan. Ini menimbulkan kepedihan mendalam! Tiba-tiba rakyat berbalik memusuhi Daud, bahkan hendak melemparinya dengan batu. Daud benar-benar dalam keadaan terjepit dan hari itu ia kehilangan segala-galanya. "Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN," (1 Samuel 30:6b).
Karena telah membuat keputusan yang salah dan tak melibatkan Tuhan, Daud harus menuai masalah!
Baca: 1 Samuel 27:1-12
"Dan lamanya Daud tinggal di daerah orang Filistin adalah satu tahun empat bulan." 1 Samuel 27:7
Daud mengerti benar bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memilih dan mengurapi dia sebagai raja atas Israel yang baru, namun butuh kesabaran sampai waktu itu tergenapi, sebab Saul tak berhenti untuk mengejar dan berusaha untuk membunuhnya. Dalam pelariannya ini hati dan pikiran Daud pun berkecamuk: "Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul." (1 Samuel 27:1a).
Karena dihantui rasa takut Daud membuat keputusan: "...tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya." (1 Samuel 27:1b), padahal ia tahu persis orang-orang Filistin adalah penyembah berhala dan Tuhan melarang keras bangsa Israel bergaul dengan bangsa penyembah berhala. Daud membuat keputusan yang keliru! "Maka pada hari itu Akhis memberikan Ziklag kepadanya; itulah sebabnya Ziklag menjadi kepunyaan raja-raja Yehuda sampai sekarang." (1 Samuel 27:6), dan menetaplah Daud di daerah Ziklag. Daud berpikir Tuhan akan berkenan dengan keputusannya ini. Sejak saat itu Daud dan pasukannya turut membantu orang-orang berperang, termasuk berperang melawan bangsanya sendiri. Karena kasihnya yang besar kepada Daud Tuhan tidak membiarkan dia berlama-lama tinggal di tengah-tengah bangsa kafir, sehingga Tuhan mengijinkan orang Amalek datang menyerang tanah Negap dan Ziklag, tepat pada saat pasukan Daud bersama orang-orang Filistin hendak pergi berperang melawan bangsa Israel.
Untunglah raja-raja kota orang Filistin menolak keberadaan pasukan Daud sehingga mereka menyuruh Daud dan pasukannya pulang ke Ziklag. Sesampai di Ziklag mereka melihat kota itu sudah habis terbakar, isteri serta anak-anak mereka ditawan. Ini menimbulkan kepedihan mendalam! Tiba-tiba rakyat berbalik memusuhi Daud, bahkan hendak melemparinya dengan batu. Daud benar-benar dalam keadaan terjepit dan hari itu ia kehilangan segala-galanya. "Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN," (1 Samuel 30:6b).
Karena telah membuat keputusan yang salah dan tak melibatkan Tuhan, Daud harus menuai masalah!
Saturday, March 23, 2019
RASUL PAULUS: Memberi Teladan Hidup
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Maret 2019
Baca: Filipi 4:2-9
"Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu." Filipi 4:9
Adalah hal yang bijak bila kita mau belajar dari pengalaman hidup orang lain, terutama berkenaan dengan proses hidupnya dalam meraih keberhasilan. Kita pun juga bisa mengambil sisi positif (hikmah) di balik kegagalan yang orang lain alami. Itulah sebabnya Alkitab secara lengkap menulis tentang perjalanan hidup tokoh-tokoh besar yang berhasil menggenapi rencana Tuhan dalam hidupnya, tak ketinggalan juga mengungkap tentang kegagalan tokoh-tokoh tertentu dalam menggenapi rencana Tuhan.
Rasul Paulus ialah orang yang berhasil menggenapi rencana Tuhan dalam hidupnya. Ia layak menjadi teladan atau panutan bagi para pelayan Tuhan atau pemimpin rohani. Mengapa kita harus meneladani rasul Paulus? Karena ia adalah orang yang tidak hanya sekedar mengajarkan kebenaran kepada orang lain secara teori, tapi ia juga hidup dalam kebenaran itu sendiri. Rasul Paulus taat melakukan kehendak Tuhan (pelaku firman). Ini sangat kontradiktif dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang hanya mahir berteori: "...mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3). Karena itu patutlah kita mengikuti jejak Paulus yaitu hidup dalam ketaatan.
Dalam mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil Paulus tidak melakukannya dengan setengah-setengah, tapi totalitas. Ia rela menderita bagi Injil Kristus, bahkan nyawa pun rela dipertaruhkan. "...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku..." (Kisah 20:24), dan "...aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Korintus 9:27). Sekalipun harus diperhadapkan dengan berbagai tantangan, ujian, aniaya dan penderitaan, tak terbersit sedikit pun dalam pikiran Paulus untuk mundur atau berhenti memberitakan Injil. Semangatnya untuk melayani Tuhan terus berkobar-kobar dan tak pernah padam. Ia berprinsip: "...bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:21-22).
Milikilah roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan, seperti rasul Paulus!
Baca: Filipi 4:2-9
"Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu." Filipi 4:9
Adalah hal yang bijak bila kita mau belajar dari pengalaman hidup orang lain, terutama berkenaan dengan proses hidupnya dalam meraih keberhasilan. Kita pun juga bisa mengambil sisi positif (hikmah) di balik kegagalan yang orang lain alami. Itulah sebabnya Alkitab secara lengkap menulis tentang perjalanan hidup tokoh-tokoh besar yang berhasil menggenapi rencana Tuhan dalam hidupnya, tak ketinggalan juga mengungkap tentang kegagalan tokoh-tokoh tertentu dalam menggenapi rencana Tuhan.
Rasul Paulus ialah orang yang berhasil menggenapi rencana Tuhan dalam hidupnya. Ia layak menjadi teladan atau panutan bagi para pelayan Tuhan atau pemimpin rohani. Mengapa kita harus meneladani rasul Paulus? Karena ia adalah orang yang tidak hanya sekedar mengajarkan kebenaran kepada orang lain secara teori, tapi ia juga hidup dalam kebenaran itu sendiri. Rasul Paulus taat melakukan kehendak Tuhan (pelaku firman). Ini sangat kontradiktif dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang hanya mahir berteori: "...mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3). Karena itu patutlah kita mengikuti jejak Paulus yaitu hidup dalam ketaatan.
Dalam mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil Paulus tidak melakukannya dengan setengah-setengah, tapi totalitas. Ia rela menderita bagi Injil Kristus, bahkan nyawa pun rela dipertaruhkan. "...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku..." (Kisah 20:24), dan "...aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Korintus 9:27). Sekalipun harus diperhadapkan dengan berbagai tantangan, ujian, aniaya dan penderitaan, tak terbersit sedikit pun dalam pikiran Paulus untuk mundur atau berhenti memberitakan Injil. Semangatnya untuk melayani Tuhan terus berkobar-kobar dan tak pernah padam. Ia berprinsip: "...bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:21-22).
Milikilah roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan, seperti rasul Paulus!
Friday, March 22, 2019
SIAP MENANTIKAN KUASA TUHAN BEKERJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2019
Baca: Yohanes 5:1-18
"...di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu." Yohanes 5:3
Alkitab menyatakan bahwa di dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda. Nama 'Betesda' ini berasal dari bahasa Ibrani atau bahasa Aram: 'Bet hesda' yang artinya rumah kemurahan atau rumah anugerah. Di sini Tuhan telah menyediakan anugerah dan kemurahan-Nya bagi mereka yang buta, timpang dan lumpuh, yang sangat membutuhkan anugerah kesembuhan dari Tuhan. Terlebih lagi mereka yang buta rohani, timpang rohani dan lumpuh rohani, yang seringkali menjadi penghambat pertumbuhan iman dan penghalang untuk mengalami kuasa dan mujizat dari Tuhan.
Untuk beroleh kesembuhan dan pemulihan orang-orang sakit ini harus siap menantikan kegerakan pekerjaan Tuhan: "Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya." (Yohanes 5:4). Goncangan 'air' itu adalah gambaran gerakan atau aliran kuasa Roh Kudus yang siap untuk menjamah dan memulihkan hidup seseorang. Karena itu kita harus selalu dalam keadaan siap; bila hadirat Tuhan turun kita pun harus cepat bertindak yaitu membuka hati kita dengan iman untuk menerima anugerah-Nya. Tetapi banyak di antara kita berada dalam keadaan seperti orang yang sudah sakit selama tiga puluh delapan tahun, tak dapat bergerak untuk masuk ke dalam kolam. Artinya tak dapat bertindak dan berusaha dengan iman untuk menerima anugerah Tuhan yang sudah disediakan. Ketika Tuhan bertanya, "Maukah engkau sembuh?" Jawabnya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (Yohanes 5:6b-7).
Saat Tuhan bertanya apakah ia mau sembuh justru dijawab dengan menyalahkan orang lain yang tak menolongnya saat terjadi goncangan. Melalui renungan ini Tuhan hendak mengajar kita untuk selalu siap sedia menantikan gerakan kuasa-Nya bekerja. Dan jangan sekali-kali hidup mengandalkan pertolongan manusia!
Iman yang disertai dengan tindakan adalah kunci kesembuhan dan pemulihan!
Baca: Yohanes 5:1-18
"...di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu." Yohanes 5:3
Alkitab menyatakan bahwa di dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda. Nama 'Betesda' ini berasal dari bahasa Ibrani atau bahasa Aram: 'Bet hesda' yang artinya rumah kemurahan atau rumah anugerah. Di sini Tuhan telah menyediakan anugerah dan kemurahan-Nya bagi mereka yang buta, timpang dan lumpuh, yang sangat membutuhkan anugerah kesembuhan dari Tuhan. Terlebih lagi mereka yang buta rohani, timpang rohani dan lumpuh rohani, yang seringkali menjadi penghambat pertumbuhan iman dan penghalang untuk mengalami kuasa dan mujizat dari Tuhan.
Untuk beroleh kesembuhan dan pemulihan orang-orang sakit ini harus siap menantikan kegerakan pekerjaan Tuhan: "Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya." (Yohanes 5:4). Goncangan 'air' itu adalah gambaran gerakan atau aliran kuasa Roh Kudus yang siap untuk menjamah dan memulihkan hidup seseorang. Karena itu kita harus selalu dalam keadaan siap; bila hadirat Tuhan turun kita pun harus cepat bertindak yaitu membuka hati kita dengan iman untuk menerima anugerah-Nya. Tetapi banyak di antara kita berada dalam keadaan seperti orang yang sudah sakit selama tiga puluh delapan tahun, tak dapat bergerak untuk masuk ke dalam kolam. Artinya tak dapat bertindak dan berusaha dengan iman untuk menerima anugerah Tuhan yang sudah disediakan. Ketika Tuhan bertanya, "Maukah engkau sembuh?" Jawabnya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (Yohanes 5:6b-7).
Saat Tuhan bertanya apakah ia mau sembuh justru dijawab dengan menyalahkan orang lain yang tak menolongnya saat terjadi goncangan. Melalui renungan ini Tuhan hendak mengajar kita untuk selalu siap sedia menantikan gerakan kuasa-Nya bekerja. Dan jangan sekali-kali hidup mengandalkan pertolongan manusia!
Iman yang disertai dengan tindakan adalah kunci kesembuhan dan pemulihan!
Thursday, March 21, 2019
SURYA KEBENARAN TELAH TERBIT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Maret 2019
Baca: Maleakhi 4:1-6
"...kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang." Maleakhi 4:2
Kitab Maleakhi merupakan kitab terakhir dari kitab Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru. Nabi Maleakhi menubuatkan bahwa surya kebenaran akan terbit dengan kesembuhan pada sayapnya. Lalu ia melanjutkan: "Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang." (ayat nas). Nubuatan ini digenapi di dalam Kristus, Putera Tunggal Bapa. "Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya," (Lukas 1:32), dan "oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Lukas 1:78-79).
Kristus inilah yang diutus oleh Bapa untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis (1 Yohanes 3:8). Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib kutuk dosa telah dipatahkan-Nya, dan segala kelemahan dan sakit-penyakit kita ditanggung-Nya (Matius 8:17). Kedatangan Kristus benar-benar menggenapi apa yang Maleakhi nubuatkan bahwa Dia datang sebagai Tabib yang ajaib, Sang Penyembuh. Matius menulis: "Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka." (Matius 4:24). Kristus bukan hanya berkuasa menyembuhkan penyakit fisik, sakit rohani pun Ia sanggup. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), bahkan Ia berkuasa menyembuhkan ekonomi yang sakit, sebab "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Kalau dulu Kristus adalah surya kebenaran dengan 'kesembuhan' pada sayapnya, sampai sekarang pun dan bahkan selama-lamanya, Dia tidak pernah berubah (Ibrani 13:8).
Surya Kebenaran hanya terbit bagi orang-orang yang takut akan nama Tuhan!
Baca: Maleakhi 4:1-6
"...kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang." Maleakhi 4:2
Kitab Maleakhi merupakan kitab terakhir dari kitab Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru. Nabi Maleakhi menubuatkan bahwa surya kebenaran akan terbit dengan kesembuhan pada sayapnya. Lalu ia melanjutkan: "Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang." (ayat nas). Nubuatan ini digenapi di dalam Kristus, Putera Tunggal Bapa. "Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya," (Lukas 1:32), dan "oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Lukas 1:78-79).
Kristus inilah yang diutus oleh Bapa untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis (1 Yohanes 3:8). Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib kutuk dosa telah dipatahkan-Nya, dan segala kelemahan dan sakit-penyakit kita ditanggung-Nya (Matius 8:17). Kedatangan Kristus benar-benar menggenapi apa yang Maleakhi nubuatkan bahwa Dia datang sebagai Tabib yang ajaib, Sang Penyembuh. Matius menulis: "Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka." (Matius 4:24). Kristus bukan hanya berkuasa menyembuhkan penyakit fisik, sakit rohani pun Ia sanggup. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), bahkan Ia berkuasa menyembuhkan ekonomi yang sakit, sebab "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Kalau dulu Kristus adalah surya kebenaran dengan 'kesembuhan' pada sayapnya, sampai sekarang pun dan bahkan selama-lamanya, Dia tidak pernah berubah (Ibrani 13:8).
Surya Kebenaran hanya terbit bagi orang-orang yang takut akan nama Tuhan!
Wednesday, March 20, 2019
KITA INI MILIK KEPUNYAAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2019
Baca: Yesaya 43:1-7
"Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku." Yesaua 43:1
Di dalam Alkitab terkandung banyak sekali janji Tuhan yang luar biasa bagi orang percaya. Janji ini bukan keluar dari mulut manusia yang mudah sekali berubah atau mengecewakan, tapi yang berjanji adalah Tuhan yang Mahakudus, Tuhan yang Mahakuasa, Tuhan Israel, Sang Juruselamat, yang "...bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Sebagai orang percaya, kita adalah Israel-Israel rohani yang dikasihi dan dipelihara Tuhan sedemikian rupa, oleh karena itu kita patut tahu janji-janji-Nya tersebut.
Tuhan menegaskan: "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau," (Yesaya 43:4). Tuhan menasihati kita untuk tidak takut, sebab kita ini berharga di mata Tuhan, Dia telah menebus kita yang berarti kita ini telah menjadi milik-Nya; "...engkau ini kepunyaan-Ku." (ayat nas), kita telah dibeli lunas dengan darah Anak Domba. Jikalau kita ini milik Tuhan tentunya Dia takkan rela dan membiarkan kita terhilang dan binasa. Itulah sebabnya Tuhan berani menjamin kita: "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." (Yesaya 43:2, 3a).
Ini berbicara tentang janji perlindungan dan penyertaan Tuhan! Air atau sungai melambangkan derasnya gelombang (masalah) kehidupan manusia. Api berbicara tentang pencobaan. Sedahsyatnya apa pun masalah dan pencobaan yang kita alami tak perlu kita takut, sebab Tuhan selalu ada untuk kita. Jika Tuhan beserta kita, adakah perkara yang mustahil? Sewaktu bangsa Israel dikejar pasukan Firaun, secara logika mustahil mereka bisa luput, sebab di hadapan mereka terbentang laut Teberau (Kolsom) yang dalam, di kanan dan kiri padang belantara, dan di belakang sudah siap pasukan Firaun. Tetapi, Tuhan selalu punya cara menolong umat kepunyaan-Nya ini dan cara-Nya selalu ajaib.
Tak perlu takut menjalani hidup, karena kita dikasihi Tuhan sedemikian rupa!
Baca: Yesaya 43:1-7
"Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku." Yesaua 43:1
Di dalam Alkitab terkandung banyak sekali janji Tuhan yang luar biasa bagi orang percaya. Janji ini bukan keluar dari mulut manusia yang mudah sekali berubah atau mengecewakan, tapi yang berjanji adalah Tuhan yang Mahakudus, Tuhan yang Mahakuasa, Tuhan Israel, Sang Juruselamat, yang "...bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Sebagai orang percaya, kita adalah Israel-Israel rohani yang dikasihi dan dipelihara Tuhan sedemikian rupa, oleh karena itu kita patut tahu janji-janji-Nya tersebut.
Tuhan menegaskan: "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau," (Yesaya 43:4). Tuhan menasihati kita untuk tidak takut, sebab kita ini berharga di mata Tuhan, Dia telah menebus kita yang berarti kita ini telah menjadi milik-Nya; "...engkau ini kepunyaan-Ku." (ayat nas), kita telah dibeli lunas dengan darah Anak Domba. Jikalau kita ini milik Tuhan tentunya Dia takkan rela dan membiarkan kita terhilang dan binasa. Itulah sebabnya Tuhan berani menjamin kita: "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." (Yesaya 43:2, 3a).
Ini berbicara tentang janji perlindungan dan penyertaan Tuhan! Air atau sungai melambangkan derasnya gelombang (masalah) kehidupan manusia. Api berbicara tentang pencobaan. Sedahsyatnya apa pun masalah dan pencobaan yang kita alami tak perlu kita takut, sebab Tuhan selalu ada untuk kita. Jika Tuhan beserta kita, adakah perkara yang mustahil? Sewaktu bangsa Israel dikejar pasukan Firaun, secara logika mustahil mereka bisa luput, sebab di hadapan mereka terbentang laut Teberau (Kolsom) yang dalam, di kanan dan kiri padang belantara, dan di belakang sudah siap pasukan Firaun. Tetapi, Tuhan selalu punya cara menolong umat kepunyaan-Nya ini dan cara-Nya selalu ajaib.
Tak perlu takut menjalani hidup, karena kita dikasihi Tuhan sedemikian rupa!
Tuesday, March 19, 2019
JANGAN KARENA TERPAKSA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2019
Baca: 1 Petrus 5:1-4
"Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu." 1 Petrus 5:4
Kristus pernah mengajukan pertanyaan kepada Petrus untuk menguji kesungguhannya dalam mengikut Dia. "apakah engkau mengasihi Aku?" Bahkan, pertanyaan tersebut Ia ulangi sampai tiga kali berturut-turut. Kemudian Ia memberikan suatu mandat penting kepada Petrus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:17).
Melalui suratnya ini Petrus kembali mengingatkan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi orang percaya yaitu supaya turut ambil bagian dalam menggembalakan domba-domba. 'Domba-domba' berbicara tentang jiwa-jiwa atau orang-orang yang harus dilayani. Jadi menggembalakan jiwa-jiwa itu bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab para pemilik jemaat, gembala sidang atau pendeta, melainkan semua orang percaya memiliki tanggung jawab yang sama. Adapun kata 'penggembalaan' ini berasal dari kata kerja bahasa Yunani yaitu bosko yang berarti merawat, memelihara, mengawasi dan memperhatikan kawanan domba yang sedang makan rumput di padang.
Siapakah kawanan domba yang harus digembalakan? Bagi para gembala sidang (pendeta), kawanan domba adalah setiap anggota jemaat gereja yang dilayani, tanpa terkecuali, tanpa memandang status sosial; bagi seorang suami, kawanan domba itu adalah seluruh anggota keluarganya (isteri dan anak-anak); bagi boss perusahaan, kawanan domba adalah setiap pekerja atau karyawan. Yang termasuk juga kawanan domba yang harus dilayani adalah orang-orang di sekitar yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Karena itu marilah kita saling mengasihi, memerhatikan dan menguatkan satu sama lain, bukan karena mereka kaya atau mendatangkan keuntungan bagi kita; bukan pula karena terpaksa, melainkan lakukan semua itu dengan tulus hati. "...kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." (1 Petrus 4:8-10).
"Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi." Amsal 10:21
Baca: 1 Petrus 5:1-4
"Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu." 1 Petrus 5:4
Kristus pernah mengajukan pertanyaan kepada Petrus untuk menguji kesungguhannya dalam mengikut Dia. "apakah engkau mengasihi Aku?" Bahkan, pertanyaan tersebut Ia ulangi sampai tiga kali berturut-turut. Kemudian Ia memberikan suatu mandat penting kepada Petrus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:17).
Melalui suratnya ini Petrus kembali mengingatkan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi orang percaya yaitu supaya turut ambil bagian dalam menggembalakan domba-domba. 'Domba-domba' berbicara tentang jiwa-jiwa atau orang-orang yang harus dilayani. Jadi menggembalakan jiwa-jiwa itu bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab para pemilik jemaat, gembala sidang atau pendeta, melainkan semua orang percaya memiliki tanggung jawab yang sama. Adapun kata 'penggembalaan' ini berasal dari kata kerja bahasa Yunani yaitu bosko yang berarti merawat, memelihara, mengawasi dan memperhatikan kawanan domba yang sedang makan rumput di padang.
Siapakah kawanan domba yang harus digembalakan? Bagi para gembala sidang (pendeta), kawanan domba adalah setiap anggota jemaat gereja yang dilayani, tanpa terkecuali, tanpa memandang status sosial; bagi seorang suami, kawanan domba itu adalah seluruh anggota keluarganya (isteri dan anak-anak); bagi boss perusahaan, kawanan domba adalah setiap pekerja atau karyawan. Yang termasuk juga kawanan domba yang harus dilayani adalah orang-orang di sekitar yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Karena itu marilah kita saling mengasihi, memerhatikan dan menguatkan satu sama lain, bukan karena mereka kaya atau mendatangkan keuntungan bagi kita; bukan pula karena terpaksa, melainkan lakukan semua itu dengan tulus hati. "...kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." (1 Petrus 4:8-10).
"Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi." Amsal 10:21
Monday, March 18, 2019
TUHAN MURKA TERHADAP YANG JAHAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2019
Baca: Nahum 1:1-8
"TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya." Nahum 1:2
Kitab Nahum ini selain berisikan tentang peringatan-peringatan keras Tuhan terhadap orang-orang yang berlaku jahat, juga adalah kabar baik bagi orang-orang yang taat kepada-Nya. Hal kabar baik (sukacita) ini sesuai dengan nama 'Nahum' yang berarti kesukaan. Ayat nas secara tegas menyatakan bahwa Tuhan itu pembalas kepada para lawan-nya, dan pendendam kepada para musuh-Nya. yang dimaksud lawan dan musuh adalah orang-orang yang berlaku jahat. Hal ini mengacu pada penumpahan darah yang terjadi di Niniwe, "Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman!" (Nahum 3:1).
Tuhan sangat benci terhadap penumpahan darah, karena itu Ia akan melawan segala bentuk perbuatan jahat tanpa terkecuali. Orang-orang yang berlaku jahat atau mereka yang menentang Tuhan pada saatnya akan beroleh balasannya, sebab Tuhan takkan membiarkan diri-Nya dipermainkan (Galatia 6:7a). Camkan ini! Memang Tuhan adalah Pribadi yang panjang sabar dan penuh kasih setia, tetapi jangan lupa bahwa Dia adalah Tuhan yang adil. "TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah" (Nahum 1:3a). Tuhan berlaku sabar terhadap siapa pun dengan maksud "...supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9).
Jangan sekali-kali meremehkan kesabaran Tuhan, lalu dengan sengaja kita berbuat dosa, sebab jika murka Tuhan datang tak seorang pun akan luput dari hukuman-Nya. Sebaliknya, bila kita mau taat melakukan firman Tuhan dan punya penyerahan diri penuh kepada Tuhan, maka Dia akan menjadi tempat perlindungan bagi kita (Nahum 1:7). Bila saat ini kita sedang tertimpa masalah yang berat, jangan menyerah dan berputus asa, sebab Tuhan sanggup mengangkat hidup kita, asal kita tetap setia dan taat kepada-Nya. "Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau." (Nahum 1:13).
Yang jahat beroleh murka Tuhan, tetapi yang taat beroleh pemulihan dari-Nya!
Baca: Nahum 1:1-8
"TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya." Nahum 1:2
Kitab Nahum ini selain berisikan tentang peringatan-peringatan keras Tuhan terhadap orang-orang yang berlaku jahat, juga adalah kabar baik bagi orang-orang yang taat kepada-Nya. Hal kabar baik (sukacita) ini sesuai dengan nama 'Nahum' yang berarti kesukaan. Ayat nas secara tegas menyatakan bahwa Tuhan itu pembalas kepada para lawan-nya, dan pendendam kepada para musuh-Nya. yang dimaksud lawan dan musuh adalah orang-orang yang berlaku jahat. Hal ini mengacu pada penumpahan darah yang terjadi di Niniwe, "Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman!" (Nahum 3:1).
Tuhan sangat benci terhadap penumpahan darah, karena itu Ia akan melawan segala bentuk perbuatan jahat tanpa terkecuali. Orang-orang yang berlaku jahat atau mereka yang menentang Tuhan pada saatnya akan beroleh balasannya, sebab Tuhan takkan membiarkan diri-Nya dipermainkan (Galatia 6:7a). Camkan ini! Memang Tuhan adalah Pribadi yang panjang sabar dan penuh kasih setia, tetapi jangan lupa bahwa Dia adalah Tuhan yang adil. "TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah" (Nahum 1:3a). Tuhan berlaku sabar terhadap siapa pun dengan maksud "...supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9).
Jangan sekali-kali meremehkan kesabaran Tuhan, lalu dengan sengaja kita berbuat dosa, sebab jika murka Tuhan datang tak seorang pun akan luput dari hukuman-Nya. Sebaliknya, bila kita mau taat melakukan firman Tuhan dan punya penyerahan diri penuh kepada Tuhan, maka Dia akan menjadi tempat perlindungan bagi kita (Nahum 1:7). Bila saat ini kita sedang tertimpa masalah yang berat, jangan menyerah dan berputus asa, sebab Tuhan sanggup mengangkat hidup kita, asal kita tetap setia dan taat kepada-Nya. "Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau." (Nahum 1:13).
Yang jahat beroleh murka Tuhan, tetapi yang taat beroleh pemulihan dari-Nya!
Sunday, March 17, 2019
HARTA KUSAYANG, NYAWAKU MELAYANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2019
Baca: Kejadian 19:1-29
"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." Kejadian 19:26
Kisah tentang Tuhan membumihanguskan kota Sodom Gomora adalah kisah yang tak asing di telinga orang percaya. Pada mulanya Tuhan hanya ingin memusnahkan Sodom dan Gomora beserta penduduknya karena mereka hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan dengan perbuatan mereka yang jahat dan menyimpang dari kebenaran. Waktu itu Lot dan keluarganya tinggal di kota itu, tapi tidak satu pun orang yang tertarik dengan kehidupan keluarga Lot yang hidup percaya dan menyembah Tuhan.
Karena itu Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk memberikan perintah kepada Lot dan keluarganya untuk segera meninggalkan kota Sodom dan Gomora ke tempat yang lebih aman agar terhindar dari bencana. "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." (Kejadian 19:17). Saat melarikan diri ini Lot dan keluarganya tidak membawa harta sedikit pun, alias lari dengan tangan kosong. Namun sayang, di tengah pelariannya itu isteri Lot tidak mengindahkan perintah Tuhan. Ia tampak sekali berat meninggalkan rumah dan harta bendanya, pikirnya ia sudah bersusah payah mengumpulkan harta benda, sayang jika harus ditinggalkan begitu saja... Maka ia pun "...menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (Kejadian 19:26).
"...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Hati isteri Lot terpaut kepada harta (duniawi) sehingga ia memandang remeh peringatan Tuhan. Ia lebih mengasihi harta (duniawi) daripada Tuhan yang adalah Sang Pemberi berkat. Harta duniawi telah membutakan mata rohaninya, dan karena hartanya pula nyawa isteri Lot pun melayang. Kehidupan isteri Lot harus berakhir dengan sangat tragis. Harta disayang, nyawa pun melayang! Ini menjadi suatu peringatan keras bahwa harta sebanyak apa pun takkan bisa menolong dan menyelamatkan hidup seseorang. "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26).
Hidup kita ini sangat bergantung sepenuhnya kepada Tuhan! Karena itu jangan sekali-kali kita mengandalkan harta duniawi!
Baca: Kejadian 19:1-29
"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." Kejadian 19:26
Kisah tentang Tuhan membumihanguskan kota Sodom Gomora adalah kisah yang tak asing di telinga orang percaya. Pada mulanya Tuhan hanya ingin memusnahkan Sodom dan Gomora beserta penduduknya karena mereka hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan dengan perbuatan mereka yang jahat dan menyimpang dari kebenaran. Waktu itu Lot dan keluarganya tinggal di kota itu, tapi tidak satu pun orang yang tertarik dengan kehidupan keluarga Lot yang hidup percaya dan menyembah Tuhan.
Karena itu Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk memberikan perintah kepada Lot dan keluarganya untuk segera meninggalkan kota Sodom dan Gomora ke tempat yang lebih aman agar terhindar dari bencana. "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." (Kejadian 19:17). Saat melarikan diri ini Lot dan keluarganya tidak membawa harta sedikit pun, alias lari dengan tangan kosong. Namun sayang, di tengah pelariannya itu isteri Lot tidak mengindahkan perintah Tuhan. Ia tampak sekali berat meninggalkan rumah dan harta bendanya, pikirnya ia sudah bersusah payah mengumpulkan harta benda, sayang jika harus ditinggalkan begitu saja... Maka ia pun "...menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (Kejadian 19:26).
"...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Hati isteri Lot terpaut kepada harta (duniawi) sehingga ia memandang remeh peringatan Tuhan. Ia lebih mengasihi harta (duniawi) daripada Tuhan yang adalah Sang Pemberi berkat. Harta duniawi telah membutakan mata rohaninya, dan karena hartanya pula nyawa isteri Lot pun melayang. Kehidupan isteri Lot harus berakhir dengan sangat tragis. Harta disayang, nyawa pun melayang! Ini menjadi suatu peringatan keras bahwa harta sebanyak apa pun takkan bisa menolong dan menyelamatkan hidup seseorang. "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26).
Hidup kita ini sangat bergantung sepenuhnya kepada Tuhan! Karena itu jangan sekali-kali kita mengandalkan harta duniawi!
Saturday, March 16, 2019
BELAJARLAH MENGUTAMAKAN ORANG LAIN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2019
Baca: Matius 14:13-21
"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." Matius 14:14
Hal terbaik yang biasa kita lakukan setelah lelah bekerja seharian adalah mengambil waktu untuk beristirahat, entah itu tidur di kamar atau hanya sekedar rebahan di sofa, tanpa mau diganggu oleh siapa pun. Kita beristirahat dengan tujuan untuk melepaskan rasa penat, meregangkan otot-otot yang kaku. Tetapi seringkali kita menjadi kesal ketika sedang enak-enaknya beristirahat tiba-tiba ada gangguan datang.
Suatu ketika Kristus ingin sekali beristirahat dan mengasingkan diri, karena di balik kelelahan tubuh-Nya Ia juga sedang berduka karena telah mendengar kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis yang tragis yaitu dipenggal kepalanya oleh raja Herodes. Karena itu Ia ingin sekali menyendiri dan menenangkan diri-Nya. Namun orang-orang tidak mengetahui apa yang Kristus rasakan, sehingga mereka tetap saja mengikuti Dia sekalipun harus menempuhnya dengan berjalan kaki, karena mereka ingin sekali mendapatkan kesembuhan dan mujizat. Melihat orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya Kristus pun menemui mereka dan melayani mereka, sekalipun hari sudah larut malam. Kristus rela mengesampingkan kebutuhan pribadinya yang semula ingin menyendiri, beristirahat dan menenangkan hati, dengan tetap mengutamakan kepentingan orang banyak itu, melayani mereka bahkan memberi mereka makan.
Tuhan telah meninggalkan teladan hidup bagi orang percaya. Kristus rela mengesampingkan kepentingan pribadi-Nya dengan memerhatikan kepentingan orang lain. Karena itu "...hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Selain itu kita juga diajar untuk memiliki kasih yang diwujudkan dengan tindakan yaitu menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Matius 7:12
Baca: Matius 14:13-21
"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." Matius 14:14
Hal terbaik yang biasa kita lakukan setelah lelah bekerja seharian adalah mengambil waktu untuk beristirahat, entah itu tidur di kamar atau hanya sekedar rebahan di sofa, tanpa mau diganggu oleh siapa pun. Kita beristirahat dengan tujuan untuk melepaskan rasa penat, meregangkan otot-otot yang kaku. Tetapi seringkali kita menjadi kesal ketika sedang enak-enaknya beristirahat tiba-tiba ada gangguan datang.
Suatu ketika Kristus ingin sekali beristirahat dan mengasingkan diri, karena di balik kelelahan tubuh-Nya Ia juga sedang berduka karena telah mendengar kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis yang tragis yaitu dipenggal kepalanya oleh raja Herodes. Karena itu Ia ingin sekali menyendiri dan menenangkan diri-Nya. Namun orang-orang tidak mengetahui apa yang Kristus rasakan, sehingga mereka tetap saja mengikuti Dia sekalipun harus menempuhnya dengan berjalan kaki, karena mereka ingin sekali mendapatkan kesembuhan dan mujizat. Melihat orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya Kristus pun menemui mereka dan melayani mereka, sekalipun hari sudah larut malam. Kristus rela mengesampingkan kebutuhan pribadinya yang semula ingin menyendiri, beristirahat dan menenangkan hati, dengan tetap mengutamakan kepentingan orang banyak itu, melayani mereka bahkan memberi mereka makan.
Tuhan telah meninggalkan teladan hidup bagi orang percaya. Kristus rela mengesampingkan kepentingan pribadi-Nya dengan memerhatikan kepentingan orang lain. Karena itu "...hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Selain itu kita juga diajar untuk memiliki kasih yang diwujudkan dengan tindakan yaitu menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Matius 7:12
Friday, March 15, 2019
MILIKILAH HATI YANG BERSIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2019
Baca: Amsal 20:1-30
"Siapakah dapat berkata: "Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?" Amsal 20:9
Hati merupakan organ vital yang berfungsi menawar dan menetralisir racun, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein dan zat-zat lainnya. Hati juga membuat empedu, zat yang membantu pencernaan lemak di dalam tubuh. Ini menunjukkan bahwa hati memiliki peranan yang teramat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu kita semua dianjurkan untuk selalu menjaga dan merawat hati supaya tetap sehat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan rajin berolahraga dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Berkenaan dengan soal 'hati' ini, firman Tuhan juga tak henti-hentinya menasihati dan memperingatkan kita untuk selalu menjaganya. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Dari hati dapat timbul berbagai masalah dalam kehidupan ini: "...timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Bila 'hati' bermasalah, muncullah sakit hati, panas hati, pahit hati, patah hati, hati yang luka, dan sebagainya. Hati yang bermasalah atau hati yang tidak bersih adalah penghalang untuk kita mendekat kepada Tuhan, penghalang untuk kita menerima jawaban doa, penghalang untuk kita mengalami kebaikan Tuhan, sebab Tuhan itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya (Mazmur 73:1). Karena itu "Bersihkanlah hatimu dari kejahatan, hai Yerusalem, supaya engkau diselamatkan! Berapa lama lagi tinggal di dalam hatimu rancangan-rancangan kedurjanaanmu?" (Yeremia 4:14). Daud berdoa dan memohon kepada Tuhan, "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12).
Syukur kepada Tuhan! Karena penebusan Kristus di kayu salib hati kita telah dibersihkan dari segala kotoran, sehingga kita dilayakkan untuk menghadap Tuhan. "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." (Ibrani 10:22).
Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari segala jenis kejahatan!
Baca: Amsal 20:1-30
"Siapakah dapat berkata: "Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?" Amsal 20:9
Hati merupakan organ vital yang berfungsi menawar dan menetralisir racun, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein dan zat-zat lainnya. Hati juga membuat empedu, zat yang membantu pencernaan lemak di dalam tubuh. Ini menunjukkan bahwa hati memiliki peranan yang teramat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu kita semua dianjurkan untuk selalu menjaga dan merawat hati supaya tetap sehat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan rajin berolahraga dan menerapkan pola hidup yang sehat.
Berkenaan dengan soal 'hati' ini, firman Tuhan juga tak henti-hentinya menasihati dan memperingatkan kita untuk selalu menjaganya. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Dari hati dapat timbul berbagai masalah dalam kehidupan ini: "...timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Bila 'hati' bermasalah, muncullah sakit hati, panas hati, pahit hati, patah hati, hati yang luka, dan sebagainya. Hati yang bermasalah atau hati yang tidak bersih adalah penghalang untuk kita mendekat kepada Tuhan, penghalang untuk kita menerima jawaban doa, penghalang untuk kita mengalami kebaikan Tuhan, sebab Tuhan itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya (Mazmur 73:1). Karena itu "Bersihkanlah hatimu dari kejahatan, hai Yerusalem, supaya engkau diselamatkan! Berapa lama lagi tinggal di dalam hatimu rancangan-rancangan kedurjanaanmu?" (Yeremia 4:14). Daud berdoa dan memohon kepada Tuhan, "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12).
Syukur kepada Tuhan! Karena penebusan Kristus di kayu salib hati kita telah dibersihkan dari segala kotoran, sehingga kita dilayakkan untuk menghadap Tuhan. "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." (Ibrani 10:22).
Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari segala jenis kejahatan!
Subscribe to:
Comments (Atom)