Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Desember 2018
Baca: Lukas 5:1-11
"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap
apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala
juga." Lukas 5:5
Bukan hal yang mengejutkan bila manusia terlalu sering membangga-banggakan kepintaran akal dan pengalaman hidupnya, meski tak selamanya kepintaran dan pengalaman dapat menyelesaikan semua permasalahan yang dialami. Berdasarkan pengalaman, orang yang sudah divonis dokter bahwa penyakitnya tak mungkin disembuhkan, masa hidupnya pasti tak akan lama lagi; orang yang ekonominya sulit (miskin), takkan mungkin dapat menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi; rumah tangga yang hancr, mustahil dapat dipulihkan seperti sediakala; orang yang tidak punya ranking di sekolah, mustahil menjadi orang yang berhasil.
Untuk menyatakan pekerjaan-Nya yang dahsyat dalam hidup seseorang Tuhan tak membutuhkan pengalaman manusia, sebab tiada perkara yang terlalu sulit untuk Dia lakukan, sekalipun itu mustahil bagi manusia. Sara, Hana dan Elisabet, secara ilmu kedokteran mustahil memiliki keturunan karena usia mereka sudah lanjut dan dianggap mandul, tapi Tuhan sanggup membuka rahim mereka sehingga mereka memiliki keturunan; seorang yang buta sejak lahir, mustahil dapat melihat, tapi Tuhan sanggup mencelikkan matanya; Lazarus sudah meninggal selama 4 hari, Tuhan sanggup bangkitkan. Janganlah sekali-kali membatasi kuasa Tuhan berdasarkan pengalaman manusia atau ilmu pengetahuan.
Petrus dan Andreas memiliki pengalaman menangkap ikan karena profesi mereka nelayan. Suatu waktu mereka gagal, semalam-malaman melaut tapi tak mendapatkan ikan. Tuhan memberikan perintah kepada Petrus, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Pikir Petrus: "Aku sudah berpengalaman, apa tak salah Tuhan menyuruhku menebarkan jala lagi?" Syukurlah Petrus tak membanggakan pengalaman, tapi ia taat: "'...karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.' Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (Lukas 5:5-6).
Ketaatan akan firman Tuhanlah yang menjadikan segala perkara terjadi, bukan karena pengalaman manusia.
Tuesday, December 18, 2018
Monday, December 17, 2018
TAK MAU DISEBUT ORANG BODOH?
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Desember 2018
Baca: Efesus 5:1-21
"Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." Efesus 5:17
Semua orang pasti tidak akan terima, tersinggung, jengkel dan marah besar bila dirinya dikatai-katai sebagai orang yang bodoh, karena merasa sangat direndahkan. Menurut pemahaman orang kebanyakan, orang yang disebut bodoh berarti tidak pintar, ber-IQ jongkok, dan tak mengerti apa-apa. Berbicara tentang kata 'bodoh' sesungguhnya bukan semata-mata berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang rendah, atau kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, melainkan berkaitan erat dengan sifat, sikap, perilaku, karakter, keputusan atau pilihan yang diambil oleh seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak, kita sendiri sering berlaku bodoh!
Apa yang firman Tuhan katakan tentang orang yang bodoh? Seseorang dikatakan bodoh apabila ia hidup menjauh dari Tuhan. Padahal Tuhan sendiri sudah memperingatkan, "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5b). Hidup menjauh dari Tuhan berarti hidup mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri. Sadarilah bahwa dunia, tempat di mana kita hidup sekarang, adalah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan, di mana-mana ada jebakan dan jerat Iblis. Apa yang bisa dibanggakan dari diri kita ini yang tak lebih dari hembusan nafas? (Yesaya 2:22). "...seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi." (Mazmur 103:15-16). Begitu pula dengan semua yang ada di dunia ini, dapatkan menolong dan menyelamatkan kita? Semakin kita hidup menjauh dari Tuhan, semakin mendekatkan kita kepada kehancuran.
Kita disebut bodoh bila kita tetap saja hidup dalam ketidaktaatan (dosa). "Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir." (Matius 7:26). Ketika Saul tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan (tidak taat), berkatalah Samuel kepada Saul, "Perbuatanmu itu bodoh." (1 Samuel 13:13). Alkitab secara tegas menyatakan bahwa jika seorang sudah tahu kebenaran, tetapi dengan sengaja berbuat dosa, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa (Ibrani 10:26).
Seorang percaya tak seharusnya berlaku bodoh, hiduplah seturut kehendak Tuhan!
Baca: Efesus 5:1-21
"Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." Efesus 5:17
Semua orang pasti tidak akan terima, tersinggung, jengkel dan marah besar bila dirinya dikatai-katai sebagai orang yang bodoh, karena merasa sangat direndahkan. Menurut pemahaman orang kebanyakan, orang yang disebut bodoh berarti tidak pintar, ber-IQ jongkok, dan tak mengerti apa-apa. Berbicara tentang kata 'bodoh' sesungguhnya bukan semata-mata berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang rendah, atau kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, melainkan berkaitan erat dengan sifat, sikap, perilaku, karakter, keputusan atau pilihan yang diambil oleh seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak, kita sendiri sering berlaku bodoh!
Apa yang firman Tuhan katakan tentang orang yang bodoh? Seseorang dikatakan bodoh apabila ia hidup menjauh dari Tuhan. Padahal Tuhan sendiri sudah memperingatkan, "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5b). Hidup menjauh dari Tuhan berarti hidup mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri. Sadarilah bahwa dunia, tempat di mana kita hidup sekarang, adalah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan, di mana-mana ada jebakan dan jerat Iblis. Apa yang bisa dibanggakan dari diri kita ini yang tak lebih dari hembusan nafas? (Yesaya 2:22). "...seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi." (Mazmur 103:15-16). Begitu pula dengan semua yang ada di dunia ini, dapatkan menolong dan menyelamatkan kita? Semakin kita hidup menjauh dari Tuhan, semakin mendekatkan kita kepada kehancuran.
Kita disebut bodoh bila kita tetap saja hidup dalam ketidaktaatan (dosa). "Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir." (Matius 7:26). Ketika Saul tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan (tidak taat), berkatalah Samuel kepada Saul, "Perbuatanmu itu bodoh." (1 Samuel 13:13). Alkitab secara tegas menyatakan bahwa jika seorang sudah tahu kebenaran, tetapi dengan sengaja berbuat dosa, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa (Ibrani 10:26).
Seorang percaya tak seharusnya berlaku bodoh, hiduplah seturut kehendak Tuhan!
Sunday, December 16, 2018
ROHANI TAK BERTUMBUH TIADA GUNA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2018
Baca: Ibrani 6:1-8
"tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran." Ibrani 6:8
Sasaran hidup orang percaya adalah mencapai kedewasaan rohani secara penuh di dalam Kristus (Efesus 4:13), sampai kita kedapatan tak bercacat cela saat Dia datang kelak untuk menjemput kita sebagai mempelai-Nya (2 Petrus 3:14). Ada banyak orang yang menyebut diri Kristen tapi tak mengalami pertumbuhan sekalipun mereka sudah mengikut Kristus selama bertahun-tahun, atau Kristen kawakan. "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras." (Ibrani 5:11-12).
Faktor penghambat pertumbuhan rohani: 1. Tak mau membayar harga. Banyak orang kristen memiliki pemahaman keliru tentang pertumbuhan rohani. Mereka berpikir pertumbuhan rohani akan terjadi otomatis ketika orang mendapatkan penumpangan tangan dari hamba Tuhan, atau menunggu Tuhan bertindak menjamah kita. Itu pemikiran keliru! Pertumbuhan rohani takkan pernah terjadi tanpa ada harga yang harus dibayar. Untuk itu dibutuhkan kemauan, kesungguhan, tekad dan kerelaan diri untuk dibentuk. Selain itu ada komitmen untuk mematikan segala keinginan daging. Selama kita masih bersikap acuh dan tak mau bayar harga, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh.
2. Kemalasan. Banyak orang ingin rohaninya bertumbuh, ingin berhasil dalam pelayanan, ingin hidupnya menjadi berkat, ingin dipakai Tuhan sebagai alat-Nya secara luar biasa, ingin menikmati berkat-berkat Tuhan, tapi mereka sendiri tak mau berubah, tetap saja bermalas-malasan: malas untuk berdoa, malas untuk baca Alkitab, malas untuk terlibat dalam pelayanan dan sebagainya. Itu sama juga bohong! "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia," (Amsal 13:4). Keberhasilan takkan pernah menghampiri hidup seorang pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta Tuhan menyebut hamba yang malas itu sebagai hamba yang jahat!
Selama tak mau membayar harga dan bermalas-malasan, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh, apalagi berbuah.
Baca: Ibrani 6:1-8
"tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran." Ibrani 6:8
Sasaran hidup orang percaya adalah mencapai kedewasaan rohani secara penuh di dalam Kristus (Efesus 4:13), sampai kita kedapatan tak bercacat cela saat Dia datang kelak untuk menjemput kita sebagai mempelai-Nya (2 Petrus 3:14). Ada banyak orang yang menyebut diri Kristen tapi tak mengalami pertumbuhan sekalipun mereka sudah mengikut Kristus selama bertahun-tahun, atau Kristen kawakan. "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras." (Ibrani 5:11-12).
Faktor penghambat pertumbuhan rohani: 1. Tak mau membayar harga. Banyak orang kristen memiliki pemahaman keliru tentang pertumbuhan rohani. Mereka berpikir pertumbuhan rohani akan terjadi otomatis ketika orang mendapatkan penumpangan tangan dari hamba Tuhan, atau menunggu Tuhan bertindak menjamah kita. Itu pemikiran keliru! Pertumbuhan rohani takkan pernah terjadi tanpa ada harga yang harus dibayar. Untuk itu dibutuhkan kemauan, kesungguhan, tekad dan kerelaan diri untuk dibentuk. Selain itu ada komitmen untuk mematikan segala keinginan daging. Selama kita masih bersikap acuh dan tak mau bayar harga, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh.
2. Kemalasan. Banyak orang ingin rohaninya bertumbuh, ingin berhasil dalam pelayanan, ingin hidupnya menjadi berkat, ingin dipakai Tuhan sebagai alat-Nya secara luar biasa, ingin menikmati berkat-berkat Tuhan, tapi mereka sendiri tak mau berubah, tetap saja bermalas-malasan: malas untuk berdoa, malas untuk baca Alkitab, malas untuk terlibat dalam pelayanan dan sebagainya. Itu sama juga bohong! "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia," (Amsal 13:4). Keberhasilan takkan pernah menghampiri hidup seorang pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta Tuhan menyebut hamba yang malas itu sebagai hamba yang jahat!
Selama tak mau membayar harga dan bermalas-malasan, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh, apalagi berbuah.
Saturday, December 15, 2018
TAK ADA HIDUP TANPA MASALAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Desember 2018
Baca: Mazmur 90:1-17
"Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." Mazmur 90:10
Hidup tanpa masalah itu tidak ada! Musa pun mengakui bahwa kebanggaan hidup manusia adalah kesukaran dan penderitaan (ayat nas). Selama kita hidup kita takkan bisa menghindarkan diri atau lari dari masalah, yang ada ialah bagaimana kita menemukan jalan keluar dari setiap masalah. Jadi, kita tak perlu mengasihani diri sedemikian rupa saat dalam masalah, sebab bukan kita saja yang mengalaminya, tetapi semua orang tanpa terkecuali, dan di mana pun mereka berada juga mengalami hal yang sama.
Mungkin timbul pertanyaan di dalam hati kita: "Mengapa masalah, penderitaan atau tekanan seringkali menimpa hidup orang percaya?" Kita tak perlu terkejut lagi, sebab Kristus sudah menyampaikan hal ini dari sebelumnya: "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33). Masalah selalu ada karena kita hidup di tengah-tengah dunia, di mana orang-orangnya memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat. Itulah sebabnya keberadaan orang percaya di dunia ini seperti domba di tengah serigala (Matius 10:16). Meski demikian kita tak perlu takut karena Roh Kudus yang ada di dalam kita itu lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:4), dan Kristus telah mengalahkan dunia!
Masalah dan penderitaan selalu ada karena Iblis tidak suka melihat orang percaya hidup dalam kebahagiaan, karena itu segala cara dilakukannya untuk mengintimidasi, mencuri, melemahkan dan menghancurkan hidup kita (Yohanes 10:10a). Namun kita juga harus ingat bahwa ada pula masalah yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri (1 Petrus 2:20). Menyadari bahwa masalah dialami oleh semua orang maka kita harus lebih kuat dan tabah menghadapinya, sebab ada Tuhan di pihak kita, "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:24). Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup ini tanpa masalah, tetapi yang Ia janjikan adalah kekuatan, penyertaan, perlindungan, pemeliharaan dan jalan keluar dari masalah yang kita alami.
"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" Mazmur 34:20
Baca: Mazmur 90:1-17
"Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." Mazmur 90:10
Hidup tanpa masalah itu tidak ada! Musa pun mengakui bahwa kebanggaan hidup manusia adalah kesukaran dan penderitaan (ayat nas). Selama kita hidup kita takkan bisa menghindarkan diri atau lari dari masalah, yang ada ialah bagaimana kita menemukan jalan keluar dari setiap masalah. Jadi, kita tak perlu mengasihani diri sedemikian rupa saat dalam masalah, sebab bukan kita saja yang mengalaminya, tetapi semua orang tanpa terkecuali, dan di mana pun mereka berada juga mengalami hal yang sama.
Mungkin timbul pertanyaan di dalam hati kita: "Mengapa masalah, penderitaan atau tekanan seringkali menimpa hidup orang percaya?" Kita tak perlu terkejut lagi, sebab Kristus sudah menyampaikan hal ini dari sebelumnya: "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33). Masalah selalu ada karena kita hidup di tengah-tengah dunia, di mana orang-orangnya memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat. Itulah sebabnya keberadaan orang percaya di dunia ini seperti domba di tengah serigala (Matius 10:16). Meski demikian kita tak perlu takut karena Roh Kudus yang ada di dalam kita itu lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:4), dan Kristus telah mengalahkan dunia!
Masalah dan penderitaan selalu ada karena Iblis tidak suka melihat orang percaya hidup dalam kebahagiaan, karena itu segala cara dilakukannya untuk mengintimidasi, mencuri, melemahkan dan menghancurkan hidup kita (Yohanes 10:10a). Namun kita juga harus ingat bahwa ada pula masalah yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri (1 Petrus 2:20). Menyadari bahwa masalah dialami oleh semua orang maka kita harus lebih kuat dan tabah menghadapinya, sebab ada Tuhan di pihak kita, "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:24). Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup ini tanpa masalah, tetapi yang Ia janjikan adalah kekuatan, penyertaan, perlindungan, pemeliharaan dan jalan keluar dari masalah yang kita alami.
"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" Mazmur 34:20
Friday, December 14, 2018
KEHADIRAN TUHAN MENDATANGKAN PEMULIHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Desember 2018
Baca: Mazmur 80:1-20
"Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat." Mazmur 80:4
Saat menulis mazmur ini, pemazmur sedang mengalami penderitaan dan tekanan hidup yang berat dan sangat mengharapkan pemulihan dari Tuhan. Tindakan pemazmur datang kepada Tuhan adalah tindakan yang tepat. Betapa banyak orang ketika mengalami penderitaan dan tekanan hidup lari mencari pertolongan kepada dunia dan terlibat dengan kuasa-kuasa gelap. Bukannya pemulihan yang diperoleh, tapi keadaan mereka malah semakin terpuruk dan hancur. Itulah sebabnya firman Tuhan selalu memperingatkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan berharap kepada-Nya saja.
Pemulihan di segala aspek kehidupan akan kita alami bila kita mau datang kepada Tuhan dan mengundang Dia hadir dalam kehidupan kita. Di mana Tuhan hadir di situ pasti terjadi manifestasi kuasa: ada pemulihan, perubahan, kelepasan, kemenangan, pertolongan dan mujizat. Contoh: Ketika tabut Tuhan berada di rumah Obed Edom selama tiga bulan, terjadilah pemulihan secara luar biasa, Tuhan memberkati Obed Edom dan seisi rumahnya (2 Samuel 6:11-12). Tabut Tuhan adalah lambang kehadiran Tuhan. Saat Obed Edom menghormati hadirat Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidupnya, semua Tuhan tambahkan. Seketika itu kehidupan Obed Edom sekeluarga menjadi buah bibir di seluruh negeri alias menjadi kesaksian, bahkan berita tentang keluarga ini sampai ke telinga raja Daud. Hal ini selaras dengan pernyataan pemazmur: "Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" (Mazmur 126:1-2).
Jangan pikirkan dengan cara apa dan bagaimana Tuhan memulihkan, bahkan terkadang Ia bisa memakai penderitaan sebagai sarana untuk memulihkan kita, yang rusak dan hancur sekalipun Tuhan sanggup pulihkan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4).
Rindukan hadirat Tuhan selalu, niscaya kehidupan kita pasti dipulihkan!
Baca: Mazmur 80:1-20
"Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat." Mazmur 80:4
Saat menulis mazmur ini, pemazmur sedang mengalami penderitaan dan tekanan hidup yang berat dan sangat mengharapkan pemulihan dari Tuhan. Tindakan pemazmur datang kepada Tuhan adalah tindakan yang tepat. Betapa banyak orang ketika mengalami penderitaan dan tekanan hidup lari mencari pertolongan kepada dunia dan terlibat dengan kuasa-kuasa gelap. Bukannya pemulihan yang diperoleh, tapi keadaan mereka malah semakin terpuruk dan hancur. Itulah sebabnya firman Tuhan selalu memperingatkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan berharap kepada-Nya saja.
Pemulihan di segala aspek kehidupan akan kita alami bila kita mau datang kepada Tuhan dan mengundang Dia hadir dalam kehidupan kita. Di mana Tuhan hadir di situ pasti terjadi manifestasi kuasa: ada pemulihan, perubahan, kelepasan, kemenangan, pertolongan dan mujizat. Contoh: Ketika tabut Tuhan berada di rumah Obed Edom selama tiga bulan, terjadilah pemulihan secara luar biasa, Tuhan memberkati Obed Edom dan seisi rumahnya (2 Samuel 6:11-12). Tabut Tuhan adalah lambang kehadiran Tuhan. Saat Obed Edom menghormati hadirat Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidupnya, semua Tuhan tambahkan. Seketika itu kehidupan Obed Edom sekeluarga menjadi buah bibir di seluruh negeri alias menjadi kesaksian, bahkan berita tentang keluarga ini sampai ke telinga raja Daud. Hal ini selaras dengan pernyataan pemazmur: "Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" (Mazmur 126:1-2).
Jangan pikirkan dengan cara apa dan bagaimana Tuhan memulihkan, bahkan terkadang Ia bisa memakai penderitaan sebagai sarana untuk memulihkan kita, yang rusak dan hancur sekalipun Tuhan sanggup pulihkan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4).
Rindukan hadirat Tuhan selalu, niscaya kehidupan kita pasti dipulihkan!
Thursday, December 13, 2018
JANGAN KEHILANGAN SEMANGAT!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Desember 2018
Baca: Yosua 14:6-15
"pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." Yosua 14:11
Tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan dalam hidup bukan karena mereka bodoh atau tidak berpendidikan, namun karena mereka tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup. Sedikit saja mengalami masalah atau kesulitan langsung mengeluh, mengasihani diri sendiri sedemikian rupa, dan kehilangan semangat. Perhatikan! "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" (Amsal 18:14). Seberat apa pun tantangan yang dihadapi janganlah kita sampai kejilangan semangat. Mengapa? Karena kita punya Tuhan yang tak pernah meninggalkan kita, Ia begitu peduli dengan keadaan kita. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29).
Kaleb, yang tetap memiliki semangat hidup luar biasa sekalipun sudah berumur 85 tahun, berkata, "...aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ayat nas). Ia tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan karena ia senantiasa mengarahkan pandangannya kepada janji-janji Tuhan. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Orang yang memegang dan mengimani janji Tuhan dalam hidupnya takkan mudah mengeluh dan berputus asa, ia akan terus bersemangat sampai janji Tuhan tergenapi dalam hidupnya.
Kaleb berusia 40 tahun saat diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, dan ia terus memegang teguh apa yang Musa katakan: "Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (Yosua 14:9), Empat puluh lima tahun telah berlalu, Tuhan pun menggenapi janji-Nya. Yosua memberikan Hebron menjadi pusakanya (Yosua 14:13).
"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu." Mazmur 119:38
Baca: Yosua 14:6-15
"pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." Yosua 14:11
Tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan dalam hidup bukan karena mereka bodoh atau tidak berpendidikan, namun karena mereka tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup. Sedikit saja mengalami masalah atau kesulitan langsung mengeluh, mengasihani diri sendiri sedemikian rupa, dan kehilangan semangat. Perhatikan! "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" (Amsal 18:14). Seberat apa pun tantangan yang dihadapi janganlah kita sampai kejilangan semangat. Mengapa? Karena kita punya Tuhan yang tak pernah meninggalkan kita, Ia begitu peduli dengan keadaan kita. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29).
Kaleb, yang tetap memiliki semangat hidup luar biasa sekalipun sudah berumur 85 tahun, berkata, "...aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ayat nas). Ia tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan karena ia senantiasa mengarahkan pandangannya kepada janji-janji Tuhan. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Orang yang memegang dan mengimani janji Tuhan dalam hidupnya takkan mudah mengeluh dan berputus asa, ia akan terus bersemangat sampai janji Tuhan tergenapi dalam hidupnya.
Kaleb berusia 40 tahun saat diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, dan ia terus memegang teguh apa yang Musa katakan: "Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (Yosua 14:9), Empat puluh lima tahun telah berlalu, Tuhan pun menggenapi janji-Nya. Yosua memberikan Hebron menjadi pusakanya (Yosua 14:13).
"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu." Mazmur 119:38
Wednesday, December 12, 2018
MERUNTUHKAN TEMBOK PERSOALAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Desember 2018
Baca: Yosua 6:1-20
"Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu." Yosua 6:20
Bagaimana kita bisa meruntuhkan 'tembok Yerikho' di dalam kehidupan ini? Tidak ada jalan lain selain kita harus mengikuti perintah Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Israel. Ketika Tuhan memerintahkan mereka untuk mengelilingi tembok Yerikho selama 7 hari berturut-turut, mereka mau taat, sekalipun perintah itu tak masuk akal. Tak kalah pentingnya adalah, selama mengelilingi tembok tersebut mereka tak boleh mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika menghadapi 'tembok' persoalan, kita seringkali sulit menahan ucapan, kita cenderung mudah sekali mengucapkan perkataan negatif: mengeluh, mengomel dan bersungut-sungut! Melalui pengalaman bangsa Israel ini kita diajar untuk 'diam' dan bisa menjaga ucapan kita dari keluh kesah dan persungutan. Adalah terlalu mudah bagi Tuhan meruntuhkan tembok Yerikho dan memberikan kota tersebut kepada bangsa Israel, tetapi Tuhan terlebih dahulu mendidik bangsa Israel untuk taat. Selama mengelilingi kota Yerikho mungkin saja para musuh mengolok-olok atau mencemooh orang-orang Israel, karena menganggap tindakan mereka itu bodoh, aneh dan gila. Lagi, mengelilingi tembok Yerikho dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari, bahkan di hari ke-7 disuruh berkeliling lagi sebanyak 7 kali pastinya merupakan suatu pekerjaan yang sangat membosankan. Apa makna rohaninya? Tuhan hendak mengajar mereka tentang ketekunan dan kesabaran. Barulah pada hari ke-7 saat sangkakala dibunyikan, Yosua memerintahkan orang-orang Israel bersorak-sorai dengan suara nyaring, lalu runtuhlah tembok Yerikho dan orang-orang Israel bisa menerobos masuk dan merebutnya.
Di dalam kehidupan kekristenan tidak ada istilah 'instan' semuanya melalui proses. Betapa banyak orang menempuh jalan 'instan' untuk mengatasi persoalan hidupnya karena mereka tidak sabar menantikan pertolongan dari Tuhan.
Ketaatan melakukan kehendak Tuhan menghasilkan mujizat dan kemenangan besar!
Baca: Yosua 6:1-20
"Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu." Yosua 6:20
Bagaimana kita bisa meruntuhkan 'tembok Yerikho' di dalam kehidupan ini? Tidak ada jalan lain selain kita harus mengikuti perintah Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Israel. Ketika Tuhan memerintahkan mereka untuk mengelilingi tembok Yerikho selama 7 hari berturut-turut, mereka mau taat, sekalipun perintah itu tak masuk akal. Tak kalah pentingnya adalah, selama mengelilingi tembok tersebut mereka tak boleh mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika menghadapi 'tembok' persoalan, kita seringkali sulit menahan ucapan, kita cenderung mudah sekali mengucapkan perkataan negatif: mengeluh, mengomel dan bersungut-sungut! Melalui pengalaman bangsa Israel ini kita diajar untuk 'diam' dan bisa menjaga ucapan kita dari keluh kesah dan persungutan. Adalah terlalu mudah bagi Tuhan meruntuhkan tembok Yerikho dan memberikan kota tersebut kepada bangsa Israel, tetapi Tuhan terlebih dahulu mendidik bangsa Israel untuk taat. Selama mengelilingi kota Yerikho mungkin saja para musuh mengolok-olok atau mencemooh orang-orang Israel, karena menganggap tindakan mereka itu bodoh, aneh dan gila. Lagi, mengelilingi tembok Yerikho dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari, bahkan di hari ke-7 disuruh berkeliling lagi sebanyak 7 kali pastinya merupakan suatu pekerjaan yang sangat membosankan. Apa makna rohaninya? Tuhan hendak mengajar mereka tentang ketekunan dan kesabaran. Barulah pada hari ke-7 saat sangkakala dibunyikan, Yosua memerintahkan orang-orang Israel bersorak-sorai dengan suara nyaring, lalu runtuhlah tembok Yerikho dan orang-orang Israel bisa menerobos masuk dan merebutnya.
Di dalam kehidupan kekristenan tidak ada istilah 'instan' semuanya melalui proses. Betapa banyak orang menempuh jalan 'instan' untuk mengatasi persoalan hidupnya karena mereka tidak sabar menantikan pertolongan dari Tuhan.
Ketaatan melakukan kehendak Tuhan menghasilkan mujizat dan kemenangan besar!
Tuesday, December 11, 2018
MERUNTUHKAN TEMBOK PERSOALAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Desember 2018
Baca: Yosua 6:1-20
"Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk." Yosua 6:1
Runtuhnya tembok Yerikho merupakan salah satu kisah yang tertulis di Alkitab yang sangat menggetarkan hati kita. Bagaimana tidak, tembok tersebut runtuh bukan karena kekuatan manusia menggunakan alat perang yang canggih, melainkan dengan kekuatan adikodrati, yaitu melalui sorak-sorai dan puji-pujian. Pada waktu itu yang dihadapi oleh bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua bukan perkara ringan, sebab mereka bukan hanya menghadapi Yerikho yang telah tertutup pintu gerbangnya, tapi juga raja dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Secara logika mustahil bagi bangsa Israel bisa masuk ke kota Yerikho karena pintu gerbangnya telah tertutup, namun bila Tuhan turut bekerja dan terlibat di dalamnya, maka perkara yang mustahil bagi manusia menjadi sangat mungkin bagi Tuhan.
Tembok Yerikho adalah gambaran dari masalah-masalah yang kita alami dalam kehidupan ini. Betapa sering kita dihadapkan pada masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tertutup oleh tembok yang tebal, dan hal itu membuat kita takut dan kuatir. Begitu melihat permasalahan itu tampak besar dan kuat, serasa sulit untuk ditembus dan diruntuhkan, kita pun sudah merasa kalah sebelum bertanding, alias menyerah. Perhatikan apa yang Tuhan firmankan kepada Yosua! "Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa." (Yosua 6:2). Tuhan berjanji dan membesarkan hati Yosua bahwa Ia akan memberikan kemenangan besar kepada bangsa Israel, dan janji itu pun ditepati-Nya!
Orang percaya tak perlu takut menghadapi masalah sekalipun masalah tersebut sebesar dan sekuat tembok Yerikho, sebab kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih dahsyat dalam segala perbuatan-Nya, Tuhan yang kuasa-Nya tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Orang percaya tak perlu takut sebab di dalam diri kita ada Roh Kudus, Roh yang membangkitkan kekuatan (2 Timotius 1:7) dan "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Jadi, orang percaya memiliki potensi Ilahi yang luar bisa! Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah dan takut menghadapi apa pun.
Baca: Yosua 6:1-20
"Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk." Yosua 6:1
Runtuhnya tembok Yerikho merupakan salah satu kisah yang tertulis di Alkitab yang sangat menggetarkan hati kita. Bagaimana tidak, tembok tersebut runtuh bukan karena kekuatan manusia menggunakan alat perang yang canggih, melainkan dengan kekuatan adikodrati, yaitu melalui sorak-sorai dan puji-pujian. Pada waktu itu yang dihadapi oleh bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua bukan perkara ringan, sebab mereka bukan hanya menghadapi Yerikho yang telah tertutup pintu gerbangnya, tapi juga raja dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Secara logika mustahil bagi bangsa Israel bisa masuk ke kota Yerikho karena pintu gerbangnya telah tertutup, namun bila Tuhan turut bekerja dan terlibat di dalamnya, maka perkara yang mustahil bagi manusia menjadi sangat mungkin bagi Tuhan.
Tembok Yerikho adalah gambaran dari masalah-masalah yang kita alami dalam kehidupan ini. Betapa sering kita dihadapkan pada masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tertutup oleh tembok yang tebal, dan hal itu membuat kita takut dan kuatir. Begitu melihat permasalahan itu tampak besar dan kuat, serasa sulit untuk ditembus dan diruntuhkan, kita pun sudah merasa kalah sebelum bertanding, alias menyerah. Perhatikan apa yang Tuhan firmankan kepada Yosua! "Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa." (Yosua 6:2). Tuhan berjanji dan membesarkan hati Yosua bahwa Ia akan memberikan kemenangan besar kepada bangsa Israel, dan janji itu pun ditepati-Nya!
Orang percaya tak perlu takut menghadapi masalah sekalipun masalah tersebut sebesar dan sekuat tembok Yerikho, sebab kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih dahsyat dalam segala perbuatan-Nya, Tuhan yang kuasa-Nya tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Orang percaya tak perlu takut sebab di dalam diri kita ada Roh Kudus, Roh yang membangkitkan kekuatan (2 Timotius 1:7) dan "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Jadi, orang percaya memiliki potensi Ilahi yang luar bisa! Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah dan takut menghadapi apa pun.
Monday, December 10, 2018
ROH KUDUS: Penuntun Hidup Kita
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Desember 2018
Baca: Yosua 3:1-17
"hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." Yosua 3:4
Sesaat sebelum bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan menuju Tanah Perjanjian, Yosua memberikan perintah kepada para pengatur pasukan: "dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: 'Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya-- hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.'" (Yosua 3:3-4). Hasta merupakan unit ukuran untuk panjang, sepadan dengan jarak antara ujung siku lengan sampai ujung jari tengah tangan pada lengan yang sama. Ukuran 1 hasta itu sama dengan 45 cm.
Ada rahasia besar di balik peristiwa ini, sebagaimana orang-orang Israel diperintahkan untuk menjaga jarak berjalan kira-kira dua ribu hasta antara Tabut Perjanjian dengan mereka. Tabut Perjanjian adalah lambang kehadiran Tuhan (penyertaan Tuhan). Dengan kata lain mereka harus berjalan dengan memperhatikan agar tetap dapat melihat Tabut Perjanjian tersebut. Menjalani hidup di tengah dunia yang jahat ini kita pun sangat memerlukan tuntunan dan penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Mengapa? Sebab kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di depan kita, hari esok atau hari yang akan datang. Itulah sebabnya firman Tuhan memperingatkan, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).
Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok karena kita belum melewatinya. Jika kita berjalan sendiri pasti akan tersesat atau kaki kita akan terpelecok, namun apabila kita mengikuti tuntunan Roh Kudus kita pasti tidak akan salah atau tersesat. Kita harus menjaga agar Roh Kudus tetap dapat terlihat oleh mata rohani kita. Mengikuti pimpinan Roh Kudus memang terkadang 'menyakitkan' karena kita harus mematikan segala keinginan daging!
"Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." Mazmur 32:8
Baca: Yosua 3:1-17
"hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." Yosua 3:4
Sesaat sebelum bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan menuju Tanah Perjanjian, Yosua memberikan perintah kepada para pengatur pasukan: "dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: 'Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya-- hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.'" (Yosua 3:3-4). Hasta merupakan unit ukuran untuk panjang, sepadan dengan jarak antara ujung siku lengan sampai ujung jari tengah tangan pada lengan yang sama. Ukuran 1 hasta itu sama dengan 45 cm.
Ada rahasia besar di balik peristiwa ini, sebagaimana orang-orang Israel diperintahkan untuk menjaga jarak berjalan kira-kira dua ribu hasta antara Tabut Perjanjian dengan mereka. Tabut Perjanjian adalah lambang kehadiran Tuhan (penyertaan Tuhan). Dengan kata lain mereka harus berjalan dengan memperhatikan agar tetap dapat melihat Tabut Perjanjian tersebut. Menjalani hidup di tengah dunia yang jahat ini kita pun sangat memerlukan tuntunan dan penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Mengapa? Sebab kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di depan kita, hari esok atau hari yang akan datang. Itulah sebabnya firman Tuhan memperingatkan, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).
Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok karena kita belum melewatinya. Jika kita berjalan sendiri pasti akan tersesat atau kaki kita akan terpelecok, namun apabila kita mengikuti tuntunan Roh Kudus kita pasti tidak akan salah atau tersesat. Kita harus menjaga agar Roh Kudus tetap dapat terlihat oleh mata rohani kita. Mengikuti pimpinan Roh Kudus memang terkadang 'menyakitkan' karena kita harus mematikan segala keinginan daging!
"Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." Mazmur 32:8
Sunday, December 9, 2018
MARILAH BERPERKARA DENGAN TUHAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Desember 2018
Baca: Yesaya 1:10-20
"Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" Yesaya 1:16-17
Pemazmur mencatat: "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." (Mazmur 66:18). Baru niatan di dalam hati saja Tuhan sudah tidak mau mendengar doanya, apalagi mereka yang melakukan kejahatan atau hidup dalam dosa, "Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, firman TUHAN semesta alam." (Zakharia 7:13). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar bersikap tegas dalam menjalankan firman-Nya dan tidak berkompromi dengan dosa sekecil apa pun.
Satu-satunya cara agar doa-doa kita didengar Tuhan dan Ia pun akan menggerakkan tangan-Nya untuk menolong kita adalah berhenti berbuat dosa dan bertobat sungguh-sungguh (ayat nas). Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih setia, panjang sabar dan Mahapengampun. Asalkan kita mau jujur dan terbuka di hadapan-Nya, dengan penuh penyesalan mengakui tiap-tiap dosa yang pernah kita lakukan secara tuntas tanpa ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi, Tuhan akan mengampuni segala dosa dan pelanggaran kita, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi atau merah seperti kain kesumba, jika kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh, akan menjadi putih seperti salju atau bulu domba. "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25).
Pertobatan memberikan keberanian kepada kita datang ke hadirat-Nya dan mengklaim janji-janji-Nya digenapi dalam hidup ini. Tuhan berfirman, "Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!" (Yesaya 43:26). Tak satu pun janji Tuhan yang takkan ditepati-Nya bagi orang benar!
"Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu." (Yesaya 1:19); ketaatan membuka pintu-pintu berkat!
Baca: Yesaya 1:10-20
"Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" Yesaya 1:16-17
Pemazmur mencatat: "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." (Mazmur 66:18). Baru niatan di dalam hati saja Tuhan sudah tidak mau mendengar doanya, apalagi mereka yang melakukan kejahatan atau hidup dalam dosa, "Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, firman TUHAN semesta alam." (Zakharia 7:13). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar bersikap tegas dalam menjalankan firman-Nya dan tidak berkompromi dengan dosa sekecil apa pun.
Satu-satunya cara agar doa-doa kita didengar Tuhan dan Ia pun akan menggerakkan tangan-Nya untuk menolong kita adalah berhenti berbuat dosa dan bertobat sungguh-sungguh (ayat nas). Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih setia, panjang sabar dan Mahapengampun. Asalkan kita mau jujur dan terbuka di hadapan-Nya, dengan penuh penyesalan mengakui tiap-tiap dosa yang pernah kita lakukan secara tuntas tanpa ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi, Tuhan akan mengampuni segala dosa dan pelanggaran kita, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi atau merah seperti kain kesumba, jika kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh, akan menjadi putih seperti salju atau bulu domba. "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25).
Pertobatan memberikan keberanian kepada kita datang ke hadirat-Nya dan mengklaim janji-janji-Nya digenapi dalam hidup ini. Tuhan berfirman, "Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!" (Yesaya 43:26). Tak satu pun janji Tuhan yang takkan ditepati-Nya bagi orang benar!
"Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu." (Yesaya 1:19); ketaatan membuka pintu-pintu berkat!
Saturday, December 8, 2018
MARILAH BERPERKARA DENGAN TUHAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Desember 2018
Baca: Yesaya 1:10-20
"Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;..." Yesaya 1:18
Ketika doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan tak terjawab, hal yang biasa terjadi adalah kecewa dan menyalahkan Tuhan. Kita berpikir Tuhan tidak mengasihi kita dan berlaku kejam dengan membiarkan kita terkurung dalam permasalahan yang berat.
Hal jawaban doa terbagi menjadi tiga yaitu ada doa yang langsung dijawab (ya), ada doa yang tidak dijawab dan jawabannya tidak, dan ada doa yang jawabannya: tunggu. Ketika doa kita tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri atau memeriksa terlebih dahulu masalah apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Banyak orang mengira dengan mempersembahkan korban-korban di gereja hati Tuhan sudah disenangkan. Belum tentu! Korban yang dipersembahkan tanpa disertai pertobatan hidup merupakan kejijikan di mata Tuhan. Inilah yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel: "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah." (Yesaya 1:15). Tangan yang penuh dengan darah bukan semata-mata karena telah membunuh seseorang secara fisik, tetapi penganiayaan secara rohani termasuk di dalamnya. Juga perbuatan-perbuatan jahat lainnya, seperti: gosip, fitnah, iri hati, dengki, dendam, tak bisa mengampuni, dan sebagainya. Jadi alasan utama Tuhan tidak menjawab doa adalah karena ada dosa.
Dosa menyebabkan Tuhan benar-benar memalingkan wajah-Nya terhadap kita. Dosa memisahkan manusia dengan Tuhan, sebab Tuhan adalah Mahakudus, karena itu jika kita ingin menghadap Tuhan, kita pun harus hidup dalam kekudusan. Di dalam Yesaya 59:1-2 jelas dinyatakan bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, yang membuat Tuhan menyembunyikan diri-Nya terhadap kita, sehingga Ia tidak mau mendengarkan doa-doa kita, adalah segala kejahatan dan pelanggaran kita.
Baca: Yesaya 1:10-20
"Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;..." Yesaya 1:18
Ketika doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan tak terjawab, hal yang biasa terjadi adalah kecewa dan menyalahkan Tuhan. Kita berpikir Tuhan tidak mengasihi kita dan berlaku kejam dengan membiarkan kita terkurung dalam permasalahan yang berat.
Hal jawaban doa terbagi menjadi tiga yaitu ada doa yang langsung dijawab (ya), ada doa yang tidak dijawab dan jawabannya tidak, dan ada doa yang jawabannya: tunggu. Ketika doa kita tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri atau memeriksa terlebih dahulu masalah apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Banyak orang mengira dengan mempersembahkan korban-korban di gereja hati Tuhan sudah disenangkan. Belum tentu! Korban yang dipersembahkan tanpa disertai pertobatan hidup merupakan kejijikan di mata Tuhan. Inilah yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel: "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah." (Yesaya 1:15). Tangan yang penuh dengan darah bukan semata-mata karena telah membunuh seseorang secara fisik, tetapi penganiayaan secara rohani termasuk di dalamnya. Juga perbuatan-perbuatan jahat lainnya, seperti: gosip, fitnah, iri hati, dengki, dendam, tak bisa mengampuni, dan sebagainya. Jadi alasan utama Tuhan tidak menjawab doa adalah karena ada dosa.
Dosa menyebabkan Tuhan benar-benar memalingkan wajah-Nya terhadap kita. Dosa memisahkan manusia dengan Tuhan, sebab Tuhan adalah Mahakudus, karena itu jika kita ingin menghadap Tuhan, kita pun harus hidup dalam kekudusan. Di dalam Yesaya 59:1-2 jelas dinyatakan bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, yang membuat Tuhan menyembunyikan diri-Nya terhadap kita, sehingga Ia tidak mau mendengarkan doa-doa kita, adalah segala kejahatan dan pelanggaran kita.
Friday, December 7, 2018
TUHAN... MENGAPA ENGKAU MENJAUH? (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Desember 2018
Baca: Mazmur 22:1-32
"Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!" Mazmur 22:20
Ketika melihat orang lain atau saudara seiman sedang tertimpa masalah, sering kita langsung menghakimi, menyalahkan dan menganggap mereka telah melakukan dosa, sehingga doanya tidak dijawab. Tak selamanya doa yang tidak dijawab itu akibat dosa. Terkadang Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kualitas iman kita, menguji ketekunan, kesetiaan dan kesabaran kita menanti-nantikan Tuhan bertindak, atau mungkin Tuhan sedang mempersiapkan berkat yang besar untuk kita, walaupun memang faktor terbesar yang menghalangi orang mendapatkan jawaban doa adalah dosa. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2).
Meski mujizat yang kita harapkan belum terjadi dan doa-doa kita belum terjawab, jangan pernah meninggalkan Tuhan. Tetaplah setia dan percaya kepada-Nya. "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:3-6).
Pemazmur memberikan kunci agar kita tetap sabar pada situasi sulit, yaitu mengingat kembali kebaikan Tuhan di dalam hidup ini. Ini akan membangkitkan iman kita, sebab Dia tidak pernah berubah. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa." (Mazmur 77:12-13, 14).
Pertolongan Tuhan itu selalu tepat pada waktu-Nya! Walau Dia sepertinya jauh, jangan pernah kita menjauh dari-Nya.
Baca: Mazmur 22:1-32
"Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!" Mazmur 22:20
Ketika melihat orang lain atau saudara seiman sedang tertimpa masalah, sering kita langsung menghakimi, menyalahkan dan menganggap mereka telah melakukan dosa, sehingga doanya tidak dijawab. Tak selamanya doa yang tidak dijawab itu akibat dosa. Terkadang Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kualitas iman kita, menguji ketekunan, kesetiaan dan kesabaran kita menanti-nantikan Tuhan bertindak, atau mungkin Tuhan sedang mempersiapkan berkat yang besar untuk kita, walaupun memang faktor terbesar yang menghalangi orang mendapatkan jawaban doa adalah dosa. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2).
Meski mujizat yang kita harapkan belum terjadi dan doa-doa kita belum terjawab, jangan pernah meninggalkan Tuhan. Tetaplah setia dan percaya kepada-Nya. "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:3-6).
Pemazmur memberikan kunci agar kita tetap sabar pada situasi sulit, yaitu mengingat kembali kebaikan Tuhan di dalam hidup ini. Ini akan membangkitkan iman kita, sebab Dia tidak pernah berubah. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa." (Mazmur 77:12-13, 14).
Pertolongan Tuhan itu selalu tepat pada waktu-Nya! Walau Dia sepertinya jauh, jangan pernah kita menjauh dari-Nya.
Subscribe to:
Comments (Atom)