Monday, October 22, 2018

JANGAN JEMU BERDOA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Oktober 2018

Baca:  Lukas 18:1-8

"Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?"  Lukas 18:7

Umumnya manusia itu gampang sekali putus asa karena tak sabar jika harus menunggu, terlebih-lebih menunggu jawaban doa.  Kita seringkali berubah sikap jika doa kita belum beroleh jawaban, mulai ogah-ogahan untuk berdoa.  Bahkan tidak sedikit dari kita yang menjadi kecewa dan  'patah arang', tak mau lagi beribadah.  Karena itulah Tuhan memberikan  "...suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu."  (Lukas 18:1).

     Secara umum kata  'jemu'  memiliki pengertian:  sudah tidak suka lagi karena terlalu sering dan sebagainya:  atau merasa bosan.  Bukankah kita seringkali merasa jemu berdoa, karena seolah-olah doa kita tak pernah mencapai tempat di mana Tuhan berada, bahkan rasanya langit terasa tebal seperti tembaga yang menghalangi doa kita.  Tetapi Tuhan menghendaki kita untuk tetap berdoa, sekalipun kita belum melihat tanda-tanda bahwa doa kita akan dijawab.  Sebagai orang percaya kita ini adalah umat pilihan Tuhan,  "...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,"  (1 Petrus 2:9), sehingga kita mendapatkan hak istimewa untuk datang mendekat kepada Tuhan, meminta sesuatu kepada-Nya dan beroleh kepastian untuk mendapatkan jawaban doa.  "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."  (Matius 7:7).

     Tuhan sama sekali tidak mengulur-ulur waktu, tapi kadang-kadang kita harus belajar bersabar untuk memperoleh segala sesuatu menurut rencana dan waktu Tuhan.  Sesungguhnya apa yang kita perlukan Tuhan sudah sediakan, hanya perlu waktu sedikit lagi jawaban itu dinyatakan bagi kita.  Petani yang menabur benih pun tak langsung menuai dalam waktu semalam,  "...ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi."  (Yakobus 5:7b).  Demikian halnya dengan doa, adakalanya doa memerlukan beberapa waktu lamanya sampai kita mendapatkan jawabannya.  Oleh karena itu janganlah berhenti berdoa sampai Tuhan bekerja!

Teruslah berdoa dan nantikanlah Tuhan, karena waktu-Nya adalah yang terbaik!

Sunday, October 21, 2018

DOA YANG BELUM TERUCAPKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Oktober 2018

Baca:  Kejadian 24:1-67

"Belum lagi aku habis berkata dalam hatiku, Ribka telah datang membawa buyung di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum."  Kejadian 24:45

Orang beranggapan doa yang didengar Tuhan adalah:  doa yang diucapkan dengan sangat keras, kalau perlu pakai loud speaker;  doa yang kalimatnya panjang dengan bahasa indah seperti puisi para punjangga;  doa seperti orang berpidato dengan kata-kata yang diatur sedemikian rupa.  Tertulis:  "...dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan."  (Matius 6:7).  Jika doa-doa tersebut hanya sebatas lips service, semuanya akan sia-sia.

     Doa yang didengar Tuhan adalah doa dengan sikap hati yang dibenar disertai ketaatan melakukan kehendak-Nya!  Bahkan doa yang tak terucapkan pun Tuhan sanggup mendengar, karena Ia Mahatahu, tahu setiap getaran dan suara hati, pikiran dan rencana kita.  Jadi doa yang dipanjatkan kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, yang keluar dari dalam hati, walaupun tanpa suara.  Tuhan tahu dan mendengarnya.  Hamba Abraham yang diutus Abraham mencarikan isteri bagi Ishak  (anaknya),  "...berangkat menuju Aram-Mesopotamia ke kota Nahor."  (Kejadian 24:10), dan hanya berkata dalam hati meminta tanda mengenai gadis yang dilihatnya, apakah dia benar untuk Ishak, Tuhan mendengar dan menjawabnya.  Ketika bergumul untuk keturunan, Hana berdoa dengan keluhan dalam hati, bahkan imam Eli mengira ia sedang mabuk anggur  (1 Samuel 1:13-15).  Imam bisa saja salah menduga karena manusia tidak tahu getaran dan suara hati orang, tetapi Tuhan tahu persis pergumulan Hana dan Ia menjawab doanya  (1 Samuel 1:20).

     Roh Kudus  "...membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."  (Roma 8:26).  Tidak ada alasan untuk tidak berdoa, karena doa dalam hati dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, asal dengan sikap hati yang benar Tuhan pasti mendengarnya.

"...Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."  Matius 6:8

Saturday, October 20, 2018

SINGKIRKAN RUBAH-RUBAH KECIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2018

Baca:  Kidung Agung 2:8-17

"Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!"  Kidung Agung 2:15

Kitab Kidung Agung ini selain menggambarkan tentang hubungan antara Kristus sebagai Kepala jemaat dengan tubuh-Nya yang adalah jemaat-Nya, juga menggambarkan tentang hubungan antara gereja-Nya dengan rumah tangga.

     Dalam kehidupan bergereja dan rumah tangga seringkali kita tidak menyadari adanya rubah-rubah yang berkeliaran.  Rubah adalah binatang kecil yang suka sekali merusak hasil panenan.  Rubah mampu beradaptasi dalam segala musim dan lingkungan, bergerak secara diam-diam tapi sangat gesit, dan hanya meninggalkan jejak.  Rubah bisa dikatakan pemburu yang ulung, ahli strategi, dan lihai menarik perhatian mangsa.  Rubah-rubah kecil berbicara tentang persoalan-persoalan kecil yang seringkali dianggap remeh atau sepele, tapi kalau dibiarkan dapat merusak kehidupan rumah tangga, pekerjaan, dan bahkan pelayanan pekerjaan Tuhan.  Kebanyakan fokus dan perhatian orang hanya tertuju kepada hal-hal besar, sedangkan hal yang kecil diabaikannya, padahal dari yang kecil kalau terus dibiarkan dapat menjadi perkara besar yang membahayakan dan sulit teratasi kalau terlambat penanganannya.  Oleh karena itu jangan biarkan  'rubah-rubah kecil'  itu berkeliaran!  Rubah-rubah kecil itu harus segera disingkirkan karena dapat merusak kebun anggur yang sedang berbunga  (ayat nas).  Rubah-rubah kecil yang bisa merusak hubungan kita dengan Tuhan bisa berupa:  kemalasan, keterikatan dengan hal-hal duniawi, atau perkataan sia-sia yang seringkali terlontar dari mulut kita.  Sakit hati, kepahitan, kebencian, dendam, tak mau mengampuni dan sebagainya yang tersimpan di dalam hati juga ibarat rubah-rubah kecil yang siap menggerogoti hati kita.

     Perselisihan, suka menghakimi, bergosip, yang seringkali terjadi di antara jemaat Tuhan, atau masalah-masalah kecil dalam kehidupan keluarga-keluarga Kristen, jika tidak segera dibereskan akan berdampak buruk bagi pekerjaan Tuhan dan dapat mengancam keutuhan keluarga-keluarga Kristiani.  Banyak kasus terjadi rumah tangga hancur karena adanya rubah-rubah kecil yang tak diperhatikan dan tak disingkirkan sedari awal.

Jangan sepelekan hal-hal kecil, karena perkara yang besar berawal dari perkara kecil!

Friday, October 19, 2018

PEKERJAAN TUHAN: Heran dan Ajaib

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2018

Baca:  2 Raja-Raja 3:1-27

"Kemudian berkatalah ia: "Beginilah firman TUHAN: Biarlah di lembah ini dibuat parit-parit,"  2 Raja-Raja 3:16

Pemazmur menyatakan bahwa jalan Tuhan dan pekerjaan-Nya itu penuh keajaiban  (Mazmur 77:15)  dan  "...rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu."  (Yesaya 25:1).  Berkat, mujizat dan pertolongan-Nya seringkali datang justru pada saat kita hendak menyerah, pada saat orang lain berkata bahwa hal itu mustahil, saat dokter mengangkat tangan tanda tak sanggup, saat semua pintu serasa tertutup dan sudah tiada jalan, saat itulah Ia menyatakan kebesaran kuasa-Nya;  kita seringkali dibuat sport jantung oleh Tuhan!  Sungguh... Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat untuk bertindak, karena waktu-Nya adalah yang terbaik bagi kita.

     Ketika hendak berperang melawan orang-orang Moab, ketika Yoram  (raja Israel)  beserta Yosafat  (raja Yehuda)  dan Edom harus menempuh perjalanan selama tujuh hari lamanya dengan tidak mendapati air, segeralah mereka menemui Elisa  (abdi Tuhan).  Berkatalah Elisa,  "Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu."  (2 Raja-Raja 3:14).  Akhirnya, melalui hamba-Nya Tuhan berfirman:  "Kamu tidak akan mendapat angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air, sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum. Dan itupun adalah perkara ringan di mata TUHAN; juga orang Moab akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu."  (2 Raja-Raja 3:17-18).  Tuhan memerintahkan mereka membuat parit-parit, padahal saat itu tidak ada angin dan hujan.

     Perintah Tuhan itu tidak masuk akal, namun ketika mereka mau taat melakukan apa yang diperintahkan  (menggali parit-parit), maka mujizat pun dinyatakan.  "...datanglah dengan tiba-tiba air dari arah Edom, lalu penuhlah negeri itu dengan air."  (2 Raja-Raja 3:20);  waktu tak ada angin dan tak ada mendung Tuhan sanggup mencurahkan hujan lebat memenuhi parit-parit secara berlimpah, sehingga mereka semua, termasuk hewan-hewannya, tidak mati kehausan.  Apa yang tidak pernah dilihat mata, tak didengar oleh telinga dan tak pernah timbul di dalam hati, itulah yang Tuhan sediakan!  (1 Korintus 2:9).  Jangan pernah mengukur kuasa Tuhan yang tak terbatas itu dengan logika!

Ketaatan kita menggerakkan tangan Tuhan untuk menyatakan mujizat-Nya!

Thursday, October 18, 2018

DAMAI SEJAHTERA: Buah Ketaatan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2018

Baca:  Mazmur 29:1-11

"TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!"  Mazmur 29:11

Apa mungkin orang hidup dalam damai sejahtera di tengah dunia yang penuh dengan gejolak ini?  Secara akal manusia hal itu tak mungkin.  Akan tetapi bagi setiap orang percaya, hidup dalam damai sejahtera itu bukanlah perkara yang mustahil, sebab ada tertulis:  "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  (Markus 9:23).  Mengapa?  Ketika seseorang percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka secara otomatis ia juga menerima Sang Raja Damai  (Yesaya 9:5).  Damai sejahtera yang sejati hanya dirasakan dan dialami oleh mereka yang telah diperdamaikan dengan Bapa melalui kelahiran baru di dalam Kristus, dan damai sejahtera yang diterimanya adalah damai sejahtera yang jauh melampaui segala akal  (Filipi 4:7).

     Damai sejahtera adalah salah satu berkat rohani yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang dikatakan-Nya:  "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14:27).  Damai sejahtera yang Tuhan berikan itu tak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi.  "Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau."  (Yesaya 54:10).  Kristus kembali menguatkan:  "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."  (Yohanes 16:33).  Sesulit apa pun situasinya, Iblis tidak dapat mengambil berkat Tuhan ini jika kita tetap tinggal di dalam Kristus dan firman-Nya.

     Jadi, kunci untuk mengalami damai sejahtera di segala keadaan adalah tetap berpegang teguh pada janji firman Tuhan.  "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."  (Yesaya 26:3).  Karena itu milikilah persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari dan taatlah melakukan firman Tuhan.

Tuhan menjanjikan damai sejahtera kita akan mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, jika kita taat melakukan perintah-Nya  (Yesaya 48:18).

Wednesday, October 17, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2018

Baca:  Galatia 5:16-26

"Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  Galatia 5:16

Tuhan menghendaki agar orang percaya yang sudah dipulihkan citra dirinya bukan saja beroleh keselamatan dan hidup kekal yang menjadi bagiannya, tapi juga selama hidupnya di dunia mampu menjadi saksi dan berkat bagi kemuliaan nama-Nya.  Oleh karena itu kita harus benar-benar memiliki kehidupan yang berbeda dengan dunia  (Roma 12:2).

     Bagaimana cara memperoleh karakter manusia baru seutuhnya?  Tanggalkan cara hidup manusia lama!  Artinya menanggalkan perbuatan-perbuatan daging atau perbuatan-perbuatan kegelapan.  "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang."  (Efesus 5:11-13);  Menanggalkan cara hidup lama juga memiliki arti menanggalkan semua beban  (dosa)  yang selama ini menjadi perintang dan penghalang dalam perlombaan iman  (Ibrani 12:1).

     Kita juga harus mau dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.  "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,"  (Galatia 5:25).  Sebagai anak-anak Tuhan kita memiliki kuasa untuk hidup oleh Roh, karena Ia tinggal di dalam kita, seperti tertulis:  "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."  (Roma 8:9).  Jadi setiap orang yang mengaku diri sebagai anak Tuhan wajib tunduk pada pimpinan Roh Kudus  (Roma 8:14).  Maka dari itu berkonsentrasilah pada hidup di dalam Roh.  Ini adalah proses yang harus kita jalani dari waktu ke waktu di sepanjang hidup kita.  Hidup dalam pimpinan Roh Kudus berarti kita tidak hidup sembarangan, melainkan hidup tertib, teratur, bukan dalam kekacauan, sebab Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).

Meninggalkan manusia lama dan hidup sebagai manusia baru adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya!

Tuesday, October 16, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2018

Baca:  1 Korintus 3:10-23

"Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya."  1 Korintus 3:10b

Melalui karya pengorbanan Kristus, manusia yang sudah jatuh dalam dosa  (rusak citra dirinya)  dikembalikan kepada rencana Bapa semula yaitu keselamatan  (Roma 3:23-24).  Ketika Kristus berkata  "Sudah selesai"  (Yohanes 19:30), selesailah sudah tugas pemulihan citra diri manusia yang dikerjakan-Nya.  Dampaknya:  kita diperdamaikan kembali dengan Bapa, yang dulunya jauh telah menjadi dekat, sehingga tidak ada lagi jurang pemisah  (Kolose 1:20-22).  "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Manusia baru adalah kembalinya citra diri Bapa pada diri manusia.

     Elemen penting kehidupan manusia  'baru'  yang sudah dipulihkan citra dirinya:  1.  Dasar bangunan.  Dasar bangunan  'rohani'  kita harus diletakkan pada dasar yang benar yaitu Kristus.  "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."  (1 Korintus 3:11).  Kehidupan manusia baru adalah kehidupan yang telah menguburkan manusia lama, yang dasar hidupnya duniawi dengan segala sifat dan karakternya.  Orientasi hidup yang dulunya tertuju kepada perkara-perkara dunia dan kepentingan diri sendiri kini berubah dengan menempatkan Kristus dan kebenaran-Nya sebagai yang utama  (Matius 6:33), memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi  (Kolose 3:2), mengumpulkan harta di sorga, bukan yang di bumi  (Matius 6:19-20).  2.  Bentuk bangunan.  Ini berbicara tentang sikap, perkataan dan perbuatan kita, di mana kita tidak lagi hidup sembrono, melainkan hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan  (1 Korintus 3:12-15), karena pada saatnya pekerjaan kita akan terlihat kualitasnya.  3.  Fungsi bangunan.  Kita harus menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai Tuhan sebagai senjata kebenaran dan menjadi saksi-saksi-Nya:  "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran."  (Roma 6:13).

Monday, October 15, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2018

Baca:  Kejadian 1:26-31

"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  Kejadian 1:26

Tuhan menciptakan manusia dengan maksud dan tujuan yang teramat mulia, karena itu dijadikannya ia menurut gambar dan rupa-Nya  (ayat nas).  Dari ayat tersebut di atas jelas dinyatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan, bukan terjadi dengan cara evolusi.  Selain memiliki citra diri Bapa, manusia juga diberi kuasa.  Inilah citra diri manusia asali yaitu manusia sebelum jatuh ke dalam dosa.  Manusia asali disebut pula manusia yang asli, murni dan tak bercela.  Pada waktu itu jiwa manusia digambarkan seperti selembar kertas yang putih dan kosong, serta mencerminkan kemuliaan Tuhan.

     Citra diri manusia asali itu menjadi rusak setelah manusia melanggar perintah Tuhan yaitu memakan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan.  "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  (Kejadian 2:16-17).  Ketidaktaatan manusia kepada Tuhan ini membawa manusia jatuh ke dalam dosa dan terusir dari taman Eden  (Kejadian 3:23-24).  Dosa telah merusak citra diri manusia.  Manusia yang citra dirinya telah rusak ini disebut manusia berdosa, yang hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan  (jauh dari Tuhan).  Dosa telah menjadi penghalang persekutuan manusia dengan Bapa,  "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."  (Yesaya 59:1-2).

     Kemudian Bapa berinisiatif sendiri untuk memulihkan keadaan manusia, hal itu dimulai dengan memanggil para leluhur kita yaitu orang-orang pilihan-Nya.  Empat nama besar yang dipilih oleh Bapa untuk menjadi mata rantai pemulihan:  Nuh, Abraham, Yusuf dan Daud.  Puncak pemulihan citra diri manusia itu terjadi melalui inkarnasi Kristus, Dia diutus oleh Bapa untuk turun ke dunia dengan satu misi yaitu menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya  (Roma 5:12-21), melalui pengorban-Nya di kayu salib.

Sunday, October 14, 2018

HAL-HAL YANG MENGHERANKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2018

Baca:  Lukas 5:17-26

"Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: 'Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.'"  Lukas 5:26

Sekalipun hari-hari yang kita jalani terasa semakin berat, masalah dan tantangan datang silih berganti, sebagai orang percaya kita tidak perlu takut dan kuatir sebab kita punya Tuhan yang ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil dan ajaib.  Mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, keseluruhannya berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar dan mengherankan:  Ia membentuk manusia dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas hidup, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup;  "Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya;"  (Mazmur 146:6).

     Semasa pelayanan-Nya yang singkat di bumi Kristus melakukan perbuatan-perbuatan yang heran.  Alkitab menyatakan bahwa Ia berkeliling ke semua kota dan desa;  Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melakukan banyak mujizat, di antaranya:  mengubah air menjadi anggur  (Yohanes 2:1-11);  memberi makan lima ribu orang laki-laki  (tidak termasuk perempuan dan anak-anak), hanya dengan lima roti dan dua ikan, itu pun masih ada sisa sebanyak 12 bakul penuh  (Matius 14:13-21);  berjalan di atas air  (Matius 14:22-33), dan masih banyak lagi.

     Kuasa Tuhan tidak pernah berubah dari dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.  Jadi perbuatan-perbuatan Tuhan yang heran itu bukan hanya terjadi di masa lampau, sampai hari ini pun Tuhan tetap mampu dan sanggup melakukannya untuk kita.  Hari-hari kita akan dipenuhi dengan perkara-perkara heran dan ajaib asalkan kita mau berjalan bersama Tuhan dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.  Ada banyak orang Kristen memiliki respons hati yang salah ketika dihadapkan pada masalah atau kesulitan, dengan berkata:  tak mungkin, mustahil, mana bisa... akhirnya apa yang mereka katakan menjadi kenyataan.  Tuhan berfirman:  "...bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu."  (Bilangan 14:28).

"Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa."  Mazmur 77:15

Saturday, October 13, 2018

TAK GONCANG DI TENGAH GONCANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2018

Baca:  Ibrani 12:18-29

"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  Ibrani 12:28

Seberapa waktu lalu teror bom kembali menggoncang Indonesia.  Surabaya, kota yang dikenal aman dan tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan bom bunuh diri yang meledak di 3 gereja, pada Minggu pagi tanggal 13 Mei 2018 lalu.  Akibat ledakan bom ini aada puluhan orang menjadi korban.  Seketika itu suasana di kota Pahlawan menjadi sangat mencekam, membuat orang menjadi  takut dan was-was, aktivitas hidup pun menjadi terganggu.

     Ada pelajaran berharga yang kita dapatkan dari peristiwa ini.  Masalah, penderitaan, ancaman, marabahaya dan sebagainya bisa saja datang dan terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa dihindari oleh siapa pun, dan unpredictable.  Dalam situasi seperti itu wajar bila semua orang menjadi tergoncang karena dihinggapi oleh rasa takut dan kuatir.  Namun sebagai orang percaya kita tak perlu larut dalam ketakutan dan kekuatiran yang berkepanjangan, sebab Alkitab menegaskan bahwa orang percaya menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan  (ayat nas), bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dan membiarkan umat-Nya  (Ibrani 13:5b);  melalui kuasa Roh kudus-Nya Tuhan ada untuk kita.  Oleh karena itu agar tidak tergoncang di tengah goncangan, kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi hidup!  "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?"  (Ibrani 12:25).  Ini sama seperti seorang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu, ketika goncangan terjadi rumah itu tidak goyah dan tetap tegak berdiri  (Lukas 6:47-48).

     Kita akan mudah tergoncang bila dalam segal hal kita mengandalkan kekuatan sendiri.  Alkitab mengajarkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya.  Karena itu jangan terpaku pada masalah atau situasi!  "...dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  (Mazmur 121:1-2).

Biar pun gunung beranjak dan bukit bergoyang, tapi kasih setia Tuhan takkan beranjak dari hidup orang percaya  (Yesaya 54:10).

Friday, October 12, 2018

DIKHIANATI ORANG TERDEKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2018

Baca:  Matius 26:47-56

"'Hai teman, untuk itukah engkau datang?' Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya."  Matius 26:50

Bagaimana perasaan Saudara seandainya orang yang teramat dekat dengan kita, sahabat dan bahkan kita sudah menganggapnya seperti saudara sendiri dan sangat kita kasihi, tiba-tiba berlaku khianat terhadap kita?  Tentunya kita sangat kecewa dan hati ini terasa sakit.  "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."  (Amsal 27:6).  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  'khianat'  memiliki arti:  perbuatan tidak setia, tipu daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji.  Sebagian besar orang yang telah dikhianati oleh orang terdekatnya akan melakukan sebuah tindakan, yaitu tidak lagi mau berhubungan dengan orang yang berkhianat tadi, sekalipun mungkin sudah memaafkan.  "Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat,"  (Amsal 18:19).

     Kristus pun pernah merasakan sebuah pengkhianatan!  Ia dikhianati oleh orang-orang terdekat-Nya dan yang dikasihi-Nya.  Pada malam sebelum ditangkap Ia dan kedua belas murid-Nya berkumpul bersama menikmati jamuan makan malam.  Pada kesempatan itu Kristus menyampaikan tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya dan murid-murid-Nya, di mana mereka akan tercerai berai dan lari ketakutan saat Kristus akan ditangkap.  Mendengar hal itu Petrus langsung reaktif dan berjanji bahwa apa pun yang terjadi ia sekali-kali tidak akan meninggalkan Sang Guru.  Namun bagaimana faktanya?  Sebelum ayam berkokok Petrus sudah menyangkal Kristus di hadapan manusia sebanyak tiga kali.  Juga, Yudas Iskariot, tega menyerahkan Sang Guru kepada imam-imam kepala untuk ditangkap demi mendapatkan uang sebesar tiga pula keping perak.

     Sekalipun Kristus telah dikhianati, dikecewakan, di sakiti dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, kasih-Nya tak pernah berubah, kasih-Nya tak lekang oleh situasi dan kondisi.  Bahkan Ia tetap berdoa untuk murid-murid-Nya  (Yohanes 17:1-26).  Suatu teladan hidup yang luar biasa!  Tuhan menghendaki kita untuk mengikuti jejak-Nya,  "...sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (Yohanes 13:34), termasuk mengasihi dan mengampuni orang yang menyakiti sekalipun.

Tetap mengasihi walau tersakiti dan dikhianati, itulah kasih yang sejati!