Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2018
Baca: Yeremia 2:20-28
"Namun Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan,
sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon
berbau busuk, pohon anggur liar!" Yeremia 2:21
Perubahan adalah hal yang tak bisa dihindari oleh semua orang. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap semua orang pasti akan menghadapi dan mengalami perubahan, baik itu perubahan secara otomatis (alamiah) dan juga perubahan karena upaya. Perubahan otomatis (alamiah) adalah perubahan-perubahan biasa, seperti bertambahnya usia yang secara otomatis disertai dengan perubahan fisik: dari bayi bertumbuh menjadi kanak-kanak, remaja, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Perubahan karena upaya adalah perubahan yang terjadi karena ada upaya dari pihak kita untuk berubah, atau karena dorongan atau pengaruh dari pihak luar. Perubahan tersebut bisa bersifat positif atau negatif. "Perubahan tidak akan pernah terjadi jika kita terus menunggu waktu atau orang yang tepat. Kita adalah perubahan itu sendiri." (Barrack Obama).
Melalui Yeremia Tuhan mengungkapkan kekecewaan-Nya terhadap bangsa Israel, yang adalah bangsa pilihan-Nya. Betapa Tuhan telah mengasihi mereka sedemikian rupa: merawat, memelihara, menjaga dan melindungi mereka dengan harapan supaya mereka dapat tumbuh menjadi pokok anggur pilihan dan berbuah lebat. Yang terjadi apa? Mereka tumbuh menjadi pohon yang berbau busuk, menghasilkan buah yang masam dan semakin liar. Artinya mereka telah menunjukkan perubahan yang negatif. Bahkan mereka telah meninggalkan Tuhan: "...mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? ...Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan
segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu
menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian." (Yeremia 2:5, 7).
Kehidupan Kristen yang normal adalah kehidupan yang mengalami perubahan: dari Kristen 'kanak-kanak' menjadi Kristen dewasa rohani, dari kehidupan lama menjadi kehidupan baru, dan semakin berubah ke arah Kristus. Kalau perubahan itu perubahan negatif, seperti pohon yang tidak berbuah, cepat atau lambat, kita pasti akan ditebang.
"Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya." 2 Korintus 5:9
Thursday, March 22, 2018
Wednesday, March 21, 2018
SAAT KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Maret 2018
Baca: Yesaya 35:1-10
"Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;" Yesaya 35:1
Tak bisa dipungkiri bahwa kehidupan orang percaya tidak terlepas dari pergumulan hidup. Acapkali hari-hari yang kita jalani berjalan tidak seperti yang kita harapkan: krisis keuangan, usaha atau bisnis seret, anggota keluarga sakit, dan masih banyak lagi. Seberat apa pun itu, kita diajarkan untuk tetap kuat dan selalu berpegang teguh pada janji firman Tuhan. "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20). Selalu ada pertolongan di dalam Tuhan!
Kalau pun kita harus melewati padang gurun, padang kering, padang belantara (gambaran masalah, penderitaan, kesesakan atau situasi sulit), biarlah mata kita tetap tertuju kepada Tuhan. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia! Pada saatnya Tuhan akan menyatakan kebesaran kuasa dan kemuliaan-Nya! "Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita." (Yesaya 35:2b). Kata kemuliaan (bahasa Ibrani Kabod) memiliki arti mulia, makmur, berlimpah; (bahasa Yunani doxa) berarti semarak, kecemerlangan, kemashyuran, terkenal. Kalau Tuhan datang melawat kita sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, kehidupan kita akan dipulihkan dan diubahkan. Tertulis: "...mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka...orang lumpuh akan melompat seperti rusa...mulut orang bisu akan bersorak-sorai; ...mata air memancar di padang gurun,...tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan." (Yesaya 35:5-7). Luar biasa!
Pergumulan berat apa yang sedang Saudara alami saat ini? Berhentilah untuk mengeluh dan bersungut-sungut. Jangan pula menjadi tawar hati, "Kuatkanlah hati, janganlah takut!" (Yesaya 35:4). Jangan berhenti berharap kepada Tuhan: "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!" (Mazmur 27:14).
"Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan." Mazmur 73:24
Baca: Yesaya 35:1-10
"Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;" Yesaya 35:1
Tak bisa dipungkiri bahwa kehidupan orang percaya tidak terlepas dari pergumulan hidup. Acapkali hari-hari yang kita jalani berjalan tidak seperti yang kita harapkan: krisis keuangan, usaha atau bisnis seret, anggota keluarga sakit, dan masih banyak lagi. Seberat apa pun itu, kita diajarkan untuk tetap kuat dan selalu berpegang teguh pada janji firman Tuhan. "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20). Selalu ada pertolongan di dalam Tuhan!
Kalau pun kita harus melewati padang gurun, padang kering, padang belantara (gambaran masalah, penderitaan, kesesakan atau situasi sulit), biarlah mata kita tetap tertuju kepada Tuhan. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia! Pada saatnya Tuhan akan menyatakan kebesaran kuasa dan kemuliaan-Nya! "Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita." (Yesaya 35:2b). Kata kemuliaan (bahasa Ibrani Kabod) memiliki arti mulia, makmur, berlimpah; (bahasa Yunani doxa) berarti semarak, kecemerlangan, kemashyuran, terkenal. Kalau Tuhan datang melawat kita sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, kehidupan kita akan dipulihkan dan diubahkan. Tertulis: "...mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka...orang lumpuh akan melompat seperti rusa...mulut orang bisu akan bersorak-sorai; ...mata air memancar di padang gurun,...tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan." (Yesaya 35:5-7). Luar biasa!
Pergumulan berat apa yang sedang Saudara alami saat ini? Berhentilah untuk mengeluh dan bersungut-sungut. Jangan pula menjadi tawar hati, "Kuatkanlah hati, janganlah takut!" (Yesaya 35:4). Jangan berhenti berharap kepada Tuhan: "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!" (Mazmur 27:14).
"Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan." Mazmur 73:24
Tuesday, March 20, 2018
ELISA: Berawal dari Pelayan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2018
Baca: 1 Raja-Raja 19:19-21
"Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya." 1 Raja-Raja 19:21b
Ada banyak tokoh besar di Alkitab yang dipakai Tuhan secara luar biasa, yang memulai karirnya dari bawah dan menjadi seorang pelayan atau abdi. Contoh: Yosua, sebelum menjadi pemimpin besar bangsa Israel, terlebih dahulu menjadi abdi Musa (Keluaran 33:11); Daud, sebelum menjadi raja atas Israel, memulai karirnya hanya sebagai penggembala kambing domba yang jumlahnya hanya 2-3 ekor.
Juga Elisa, seorang nabi Tuhan yang penuh urapan. Elisa mampu menyisihkan 50 orang yang sedang berada dalam 'sekolah kenabian' pada waktu itu dan menjadi penerus pelayan Elia. Ketika air di Yerikho dalam keadaan tidak baik sehingga di Yerikho terjadi banyak kematian (wanita hamil mengalami keguguran), dengan campur tangan Tuhan Elisa mampu menetralkan air di Yerikho hanya dengan garam: "Demikianlah air itu menjadi sehat..." (2 Raja-Raja 2:22); ketika pergi ke Betel ada segerombolan anak yang menyemooh dan mengata-ngatai Elisa botak, maka hanya dengan perkataannya saja "...keluarlah dua ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka empat puluh dua orang anak." (2 Raja-Raja 2:24). Tuhan juga memakai Elisa untuk menjadi saluran berkat bagi salah seorang isteri hamba Tuhan yang terlilit hutang: hanya dengan berbekal sebuah buli-buli berisi minyak hutangnya pun lunas terbayar (2 Raja-Raja 4:8-37); dan Naaman (panglima raja Aram) disembuhkan dari sakit kustanya ketika taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Elisa yaitu mandi di sungai Yordan sebanyak tujuh kali (2 Raja-Raja 5:1-27).
Elisa tidak langsung menjadi hamba Tuhan yang hebat. Ia mengawali karirnya sebagai abdi atau pelayan Elisa (ayat nas). Kita percaya bahwa Elisa bukanlah abdi atau pelayan yang malas, tapi giat dan memiliki semangat mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya. Terlihat ketika Elia hendak terangkat ke sorga Elisa begitu bersemangat dan bertekad kuat untuk meminta urapan Tuhan dua kali lipat (double portion of Thy Spirit).
Setia ketika menjadi pelayan, akhirnya Tuhan memercayakan Elisa untuk mengerjakan perkara-perkara besar!
Baca: 1 Raja-Raja 19:19-21
"Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya." 1 Raja-Raja 19:21b
Ada banyak tokoh besar di Alkitab yang dipakai Tuhan secara luar biasa, yang memulai karirnya dari bawah dan menjadi seorang pelayan atau abdi. Contoh: Yosua, sebelum menjadi pemimpin besar bangsa Israel, terlebih dahulu menjadi abdi Musa (Keluaran 33:11); Daud, sebelum menjadi raja atas Israel, memulai karirnya hanya sebagai penggembala kambing domba yang jumlahnya hanya 2-3 ekor.
Juga Elisa, seorang nabi Tuhan yang penuh urapan. Elisa mampu menyisihkan 50 orang yang sedang berada dalam 'sekolah kenabian' pada waktu itu dan menjadi penerus pelayan Elia. Ketika air di Yerikho dalam keadaan tidak baik sehingga di Yerikho terjadi banyak kematian (wanita hamil mengalami keguguran), dengan campur tangan Tuhan Elisa mampu menetralkan air di Yerikho hanya dengan garam: "Demikianlah air itu menjadi sehat..." (2 Raja-Raja 2:22); ketika pergi ke Betel ada segerombolan anak yang menyemooh dan mengata-ngatai Elisa botak, maka hanya dengan perkataannya saja "...keluarlah dua ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka empat puluh dua orang anak." (2 Raja-Raja 2:24). Tuhan juga memakai Elisa untuk menjadi saluran berkat bagi salah seorang isteri hamba Tuhan yang terlilit hutang: hanya dengan berbekal sebuah buli-buli berisi minyak hutangnya pun lunas terbayar (2 Raja-Raja 4:8-37); dan Naaman (panglima raja Aram) disembuhkan dari sakit kustanya ketika taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Elisa yaitu mandi di sungai Yordan sebanyak tujuh kali (2 Raja-Raja 5:1-27).
Elisa tidak langsung menjadi hamba Tuhan yang hebat. Ia mengawali karirnya sebagai abdi atau pelayan Elisa (ayat nas). Kita percaya bahwa Elisa bukanlah abdi atau pelayan yang malas, tapi giat dan memiliki semangat mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya. Terlihat ketika Elia hendak terangkat ke sorga Elisa begitu bersemangat dan bertekad kuat untuk meminta urapan Tuhan dua kali lipat (double portion of Thy Spirit).
Setia ketika menjadi pelayan, akhirnya Tuhan memercayakan Elisa untuk mengerjakan perkara-perkara besar!
Monday, March 19, 2018
TAK MAU JADI PELAYAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2018
Baca: Markus 10:35-45
"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya." Markus 10:43-44
Secara naluriah semua orang pasti ingin menjadi pemimpin atau kepala yang beroleh pujian, penghargaan dan penghormatan dari sesamanya. Karena terlalu berambisi menjadi pemimpin atau kepala tidak jarang orang menempuh jalan yang salah: merendahkan orang atau mengecilkan orang lain. Pikirnya pemimpin boleh memerintah dan berlaku semena-mena. Firman Tuhan justru menyatakan bahwa 'kebesaran' diri seseorang itu tidak dicapai melalui prestasi jasmani maupun kepemilikan materi, melainkan ketika orang mau menjadi hamba dan pelayan bagi orang lain; itulah hakikat mengikut Kristus, inti menjadi murid Kristus. Tanpa memiliki kerelaan hati untuk mengabdi menjadi pelayan atau hamba, maka kita tidak layak mengikut Kristus.
Tuhan sangat memperhatikan dan selalu mengarahkan pandangan-Nya kepada kesetiaan dan ketekunan seseorang dalam melakukan tugas, pekerjaan atau pelayanan yang sepertinya tampak kecil, sederhana dan sepele. Mengapa? Sebab dari situlah Tuhan akan mengambil sebuah keputusan apakah orang itu layak dipercaya mengerjakan perkara-perkara yang jauh lebih besar. "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu," (Mazmur 75:7). Peninggian itu datangnya dari Tuhan: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain. Tuhan akan mengangkat hidup kita, "...apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini," (Ulangan 28:14).
Menjadi 'kepala' yang dimaksudkan dalam Ulangan 28:13 juga tidak semata-mata mengacu kepada suatu jabatan atau kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan atau pelayanan, tapi berbicara tentang suatu kehidupan yang menjadi teladan atau panutan bagi banyak orang. Percayalah bahwa Tuhan tahu waktu yang tepat kapan Ia akan meninggikan dan mengangkat hidup seseorang. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).
Kesetiaan dan ketekunan adalah pintu gerbang menuju kepada promosi!
Baca: Markus 10:35-45
"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya." Markus 10:43-44
Secara naluriah semua orang pasti ingin menjadi pemimpin atau kepala yang beroleh pujian, penghargaan dan penghormatan dari sesamanya. Karena terlalu berambisi menjadi pemimpin atau kepala tidak jarang orang menempuh jalan yang salah: merendahkan orang atau mengecilkan orang lain. Pikirnya pemimpin boleh memerintah dan berlaku semena-mena. Firman Tuhan justru menyatakan bahwa 'kebesaran' diri seseorang itu tidak dicapai melalui prestasi jasmani maupun kepemilikan materi, melainkan ketika orang mau menjadi hamba dan pelayan bagi orang lain; itulah hakikat mengikut Kristus, inti menjadi murid Kristus. Tanpa memiliki kerelaan hati untuk mengabdi menjadi pelayan atau hamba, maka kita tidak layak mengikut Kristus.
Tuhan sangat memperhatikan dan selalu mengarahkan pandangan-Nya kepada kesetiaan dan ketekunan seseorang dalam melakukan tugas, pekerjaan atau pelayanan yang sepertinya tampak kecil, sederhana dan sepele. Mengapa? Sebab dari situlah Tuhan akan mengambil sebuah keputusan apakah orang itu layak dipercaya mengerjakan perkara-perkara yang jauh lebih besar. "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu," (Mazmur 75:7). Peninggian itu datangnya dari Tuhan: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain. Tuhan akan mengangkat hidup kita, "...apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini," (Ulangan 28:14).
Menjadi 'kepala' yang dimaksudkan dalam Ulangan 28:13 juga tidak semata-mata mengacu kepada suatu jabatan atau kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan atau pelayanan, tapi berbicara tentang suatu kehidupan yang menjadi teladan atau panutan bagi banyak orang. Percayalah bahwa Tuhan tahu waktu yang tepat kapan Ia akan meninggikan dan mengangkat hidup seseorang. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).
Kesetiaan dan ketekunan adalah pintu gerbang menuju kepada promosi!
Sunday, March 18, 2018
TAK MAU JADI PELAYAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2018
Baca: Ulangan 28:1-14
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia," Ulangan 28:13
Rancangan Tuhan atas hidup orang percaya adalah hidup yang berhasil, menjadi kepala, bukan ekor. Banyak orang Kristen seringkali menjadikan ayat ini sebagai senjata untuk mengklaim janji Tuhan atau protes kepada Tuhan: "Katanya Tuhan akan mengangkat aku jadi kepala. Mana buktinya? Kerjaku tetap jadi bawahan?" Perhatikan secara teliti ayat tersebut! Dikatakan bahwa Tuhan akan mengangkat, artinya tidak secara langsung atau secara otomatis menjadi kepala. Ini berbicara tentang suatu proses yang berkesinambungan. Ada bagian yang harus kita kerjakan dan ada bagian yang Tuhan akan kerjakan. Bagian kita adalah taat melakukan kehendak Tuhan dan setia mengerjakan perkara apa pun yang saat ini sedang Tuhan percayakan kepada kita.
Ketika sedang melamar sebuah pekerjaan umumnya seorang pelamar mengingini suatu jabatan yang tinggi atau setidaknya sesuai dengan ijazah yang dimiliki. Jarang sekali orang mau memulai karirnya dari bawah. Semua orang berkeinginan untuk menjadi pemimpin, memegang jabatan tinggi, maunya memerintah, atau berada di posisi atas. Semua orang mengingini hal-hal yang besar dan menganggap remeh hal-hal kecil atau sederhana. Itulah sebabnya profesi 'pelayan' sangat kurang diminati, dianggap rendahan dan berusaha untuk dihindari. Mereka tak ada semangat dan kurang bergairah jika harus mengerjakan tugas-tugas yang di pemandangan manusia kurang ada artinya. Mereka merasa gengsi dan takut pamornya akan anjlok!
Rasa gengsi kini juga menghinggapi diri para pelayan Tuhan atau rohaniwan. Tidak sedikit dari mereka yang merasa enggan jika dirinya disebut sebagai pelayan bagi jemaat/umat. Karena berstatus sebagai hamba Tuhan besar atau punya jabatan penting di gereja, mereka inginnya dihormati, dihargai dan dilayani, padahal kata hamba itu berasal dari kata servant/slave atau doulos (Yunani) atau ebed (Ibrani) yang berarti seorang yang sedang dalam status sebagai pelayan atau budak. Maka tugas hamba atau pelayan adalah mengerjakan pekerjaan menurut apa yang menjadi kehendak tuannya.
Milikilah 'hati seorang hamba' ketika mengerjakan segala hal yang dipercayakan!
Baca: Ulangan 28:1-14
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia," Ulangan 28:13
Rancangan Tuhan atas hidup orang percaya adalah hidup yang berhasil, menjadi kepala, bukan ekor. Banyak orang Kristen seringkali menjadikan ayat ini sebagai senjata untuk mengklaim janji Tuhan atau protes kepada Tuhan: "Katanya Tuhan akan mengangkat aku jadi kepala. Mana buktinya? Kerjaku tetap jadi bawahan?" Perhatikan secara teliti ayat tersebut! Dikatakan bahwa Tuhan akan mengangkat, artinya tidak secara langsung atau secara otomatis menjadi kepala. Ini berbicara tentang suatu proses yang berkesinambungan. Ada bagian yang harus kita kerjakan dan ada bagian yang Tuhan akan kerjakan. Bagian kita adalah taat melakukan kehendak Tuhan dan setia mengerjakan perkara apa pun yang saat ini sedang Tuhan percayakan kepada kita.
Ketika sedang melamar sebuah pekerjaan umumnya seorang pelamar mengingini suatu jabatan yang tinggi atau setidaknya sesuai dengan ijazah yang dimiliki. Jarang sekali orang mau memulai karirnya dari bawah. Semua orang berkeinginan untuk menjadi pemimpin, memegang jabatan tinggi, maunya memerintah, atau berada di posisi atas. Semua orang mengingini hal-hal yang besar dan menganggap remeh hal-hal kecil atau sederhana. Itulah sebabnya profesi 'pelayan' sangat kurang diminati, dianggap rendahan dan berusaha untuk dihindari. Mereka tak ada semangat dan kurang bergairah jika harus mengerjakan tugas-tugas yang di pemandangan manusia kurang ada artinya. Mereka merasa gengsi dan takut pamornya akan anjlok!
Rasa gengsi kini juga menghinggapi diri para pelayan Tuhan atau rohaniwan. Tidak sedikit dari mereka yang merasa enggan jika dirinya disebut sebagai pelayan bagi jemaat/umat. Karena berstatus sebagai hamba Tuhan besar atau punya jabatan penting di gereja, mereka inginnya dihormati, dihargai dan dilayani, padahal kata hamba itu berasal dari kata servant/slave atau doulos (Yunani) atau ebed (Ibrani) yang berarti seorang yang sedang dalam status sebagai pelayan atau budak. Maka tugas hamba atau pelayan adalah mengerjakan pekerjaan menurut apa yang menjadi kehendak tuannya.
Milikilah 'hati seorang hamba' ketika mengerjakan segala hal yang dipercayakan!
Saturday, March 17, 2018
TIADA YANG SEPERTI TUHAN KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2018
Baca: Efesus 1:15-23
"dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya," Efesus 1:19
Semua orang percaya mengerti benar bahwa sejak dunia ini diciptakan sampai kepada kesudahan zaman nanti tidak ada ilah manapun yang menandingi kebesaran, kekuasaan dan kedahsyatan Tuhan kita, Yesus Kristus. "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1:8). Yang mengherankan banyak orang percaya yang masih meragukan kuasa Tuhan. Mereka masih suka bertanya akan nasib hidupnya kepada ahli horoskop, mencari pertolongan kepada orang pintar, mencari kekayaan ke gunung Kawi dan sebagainya. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah kekejian di mata Tuhan!
Sesungguhnya kalau kita percaya benar kepada Tuhan Yesus kita tidak perlu takut dan kuatir menghadapi apa pun juga, karena tertulis: "...betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." (Efesus 1:19-21). Nabi mana, pemimpin agama mana, dewa mana yang dapat melakukan perkara-perkara besar seperti Tuhan kita, Yesus Kristus? Dan sungguh nyata bahwa kuasa Tuhan Yesus bukan hanya di dunia ini saja, tetapi kuasa-Nya sampai di sorga.
Di zaman sekarang banyak orang lebih percaya dan lebih mengandalkan kepintaran, kehebatan teknologi, atau keajaiban ilmu kedokteran. Tapi semuanya itu terbatas! Buktinya ketika bencana melanda negara-negara yang hebat teknologinya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika badai Harvey menghantam dan banjir dahsyat melanda kawasan Texas (Amerika Serikat) semuanya diluluhlantakkan, korban pun berjatuhan. Tak perlu meremehkan atau anti teknologi atau ilmu pengetahuan, tetapi jangan sekali-kali bersandar dan berharap kepadanya.
Berharap dan andalkan Tuhan dalam segala hal, kuasa-Nya hebat dan perkasa!
Baca: Efesus 1:15-23
"dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya," Efesus 1:19
Semua orang percaya mengerti benar bahwa sejak dunia ini diciptakan sampai kepada kesudahan zaman nanti tidak ada ilah manapun yang menandingi kebesaran, kekuasaan dan kedahsyatan Tuhan kita, Yesus Kristus. "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1:8). Yang mengherankan banyak orang percaya yang masih meragukan kuasa Tuhan. Mereka masih suka bertanya akan nasib hidupnya kepada ahli horoskop, mencari pertolongan kepada orang pintar, mencari kekayaan ke gunung Kawi dan sebagainya. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah kekejian di mata Tuhan!
Sesungguhnya kalau kita percaya benar kepada Tuhan Yesus kita tidak perlu takut dan kuatir menghadapi apa pun juga, karena tertulis: "...betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." (Efesus 1:19-21). Nabi mana, pemimpin agama mana, dewa mana yang dapat melakukan perkara-perkara besar seperti Tuhan kita, Yesus Kristus? Dan sungguh nyata bahwa kuasa Tuhan Yesus bukan hanya di dunia ini saja, tetapi kuasa-Nya sampai di sorga.
Di zaman sekarang banyak orang lebih percaya dan lebih mengandalkan kepintaran, kehebatan teknologi, atau keajaiban ilmu kedokteran. Tapi semuanya itu terbatas! Buktinya ketika bencana melanda negara-negara yang hebat teknologinya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika badai Harvey menghantam dan banjir dahsyat melanda kawasan Texas (Amerika Serikat) semuanya diluluhlantakkan, korban pun berjatuhan. Tak perlu meremehkan atau anti teknologi atau ilmu pengetahuan, tetapi jangan sekali-kali bersandar dan berharap kepadanya.
Berharap dan andalkan Tuhan dalam segala hal, kuasa-Nya hebat dan perkasa!
Friday, March 16, 2018
BERKEMENANGAN DI SITUASI RAWAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2018
Baca: Mazmur 145:1-21
"TUHAN menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya." Mazmur 145:20
Kita perhatikan keadaan dunia tidak semakin baik. Masalah, bencana, musibah datang silih berganti serasa tiada henti. Beberapa bulan lalu siklon tropis Cempaka dan Dahlia melanda sejumlah wilayah Indonesia, memicu terjadinya peningkatan hujan lebat, gelombang tinggi, angin kencang, kilat atau petir di beberapa wilayah Indonesia. BMKG menyatakan bahwa fenomena banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Pacitan adalah salah satu dampaknya. Pada saat yang bersamaan pula Gunung Agung di Bali juga mengalami erupsi, banyak orang harus diungsikan dan dunia pariwisata di pulau Dewata pun terkena dampak yang luar biasa!
Peristiwa-peristiwa tersebut semakin menyadarkan bahwa kita membutuhkan Tuhan dalam hidup ini. Kalau ada orang mengatakan tidak membutuhkan Tuhan, itu adalah kebodohan besar. Apa yang bisa diandalkan dalam hidup ini? Uang, kekayaan materi, kedudukan, koneksi, kekuatan atau kepintaran manusia? Alkitab jelas mengingatkan bahwa di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5b). Kunci mengalami hidup berkemenangan di tengah situasi dunia yang rawan ini adalah hidup mengandalkan Tuhan dan mencari wajah-Nya selalu. "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" (1 Tawarikh 16:11), "...sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11).
Kalau kita mau hidup mengandalkan Tuhan sepenuhnya tidak ada perkara mustahil. Daud, sekalipun menurut penilaian manusia mustahil dapat mengalahkan Goliat, sang raksasa Filistin, namun karena Tuhan beserta Daud maka Goliat pun berhasil dikalahkan. Daud berkeyakinan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:37). Saat menghadapi kemustahilan Daud belajar mengingat-ingat kebaikan Tuhan dan pertolongan-Nya, ia tidak terpaku pada besarnya masalah atau beratnya situasi yang sedang dialami!
Kemenangan pasti tersedia bagi orang yang hidup dekat dengan Tuhan dan mengandalkan-Nya!
Baca: Mazmur 145:1-21
"TUHAN menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya." Mazmur 145:20
Kita perhatikan keadaan dunia tidak semakin baik. Masalah, bencana, musibah datang silih berganti serasa tiada henti. Beberapa bulan lalu siklon tropis Cempaka dan Dahlia melanda sejumlah wilayah Indonesia, memicu terjadinya peningkatan hujan lebat, gelombang tinggi, angin kencang, kilat atau petir di beberapa wilayah Indonesia. BMKG menyatakan bahwa fenomena banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Pacitan adalah salah satu dampaknya. Pada saat yang bersamaan pula Gunung Agung di Bali juga mengalami erupsi, banyak orang harus diungsikan dan dunia pariwisata di pulau Dewata pun terkena dampak yang luar biasa!
Peristiwa-peristiwa tersebut semakin menyadarkan bahwa kita membutuhkan Tuhan dalam hidup ini. Kalau ada orang mengatakan tidak membutuhkan Tuhan, itu adalah kebodohan besar. Apa yang bisa diandalkan dalam hidup ini? Uang, kekayaan materi, kedudukan, koneksi, kekuatan atau kepintaran manusia? Alkitab jelas mengingatkan bahwa di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5b). Kunci mengalami hidup berkemenangan di tengah situasi dunia yang rawan ini adalah hidup mengandalkan Tuhan dan mencari wajah-Nya selalu. "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" (1 Tawarikh 16:11), "...sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11).
Kalau kita mau hidup mengandalkan Tuhan sepenuhnya tidak ada perkara mustahil. Daud, sekalipun menurut penilaian manusia mustahil dapat mengalahkan Goliat, sang raksasa Filistin, namun karena Tuhan beserta Daud maka Goliat pun berhasil dikalahkan. Daud berkeyakinan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:37). Saat menghadapi kemustahilan Daud belajar mengingat-ingat kebaikan Tuhan dan pertolongan-Nya, ia tidak terpaku pada besarnya masalah atau beratnya situasi yang sedang dialami!
Kemenangan pasti tersedia bagi orang yang hidup dekat dengan Tuhan dan mengandalkan-Nya!
Thursday, March 15, 2018
UPAH TUHAN: Lebih Mulia dari Apa Pun
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2018
Baca: Matius 19:27-30
"Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." Matius 19:29
Banyak orang Kristen berharap dengan mengikut Kristus kehidupannya akan diberkati secara melimpah, terluput dari masalah atau kesulitan. Namun masalah tetap ada, situasi sulit tetap terjadi, bahkan tantangan hidup semakin berat, mereka pun berpikir: apa bedanya dengan orang-orang di luar Tuhan? Malahan secara kasat mata kehidupan orang-orang dunia sepertinya jauh lebih baik. Akhirnya kita selalu mengeluh, menggerutu dan terus mempertanyakan upah mengikut Kristus.
Petrus pernah mengalami pergumulan yang sama! Ia merasa banyak berkorban dalam mengikut Kristus: kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, kenyamanan hidup, dan kebersamaan dengan keluarga. Tentunya ia berharap mendapatkan upah dari Tuhan selama di dunia. Apa jawaban Tuhan? Setiap orang yang telah berkorban dan mau membayar harga demi Dia "...akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (ayat nas). Berbicara tentang upah seringkali fokus kebanyakan orang Kristen semata-mata uang, harta atau kekayaan materi. Yesus sendiri menegaskan bahwa setiap orang yang mau berjerih lelah bagi-Nya dan kerajaan-Nya akan mendapatkan upah yang jauh lebih berharga dan lebih mulia dibandingkan dengan kekayaan materi sebesar apa pun. Dan kalau kita mengutamakan Tuhan, kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya semuanya akan ditambahkan kepada kita (Matius 6:33). Berkat materi itu bonusnya! Jadi tidak ada kata 'sia-sia' berjerih lelah dan berkorban bagi Tuhan!
Jangan bangga karena kita lama mengikut Tuhan, karena yang dinilai ketaatan kita melakukan kehendak-Nya. "...banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Apa pun tantangannya jangan pernah undur dari Tuhan, sebab "...penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18).
Kehidupan kekal di sorga telah tersedia bagi orang-orang yang setia mengiring Kristus sampai akhir!
Baca: Matius 19:27-30
"Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." Matius 19:29
Banyak orang Kristen berharap dengan mengikut Kristus kehidupannya akan diberkati secara melimpah, terluput dari masalah atau kesulitan. Namun masalah tetap ada, situasi sulit tetap terjadi, bahkan tantangan hidup semakin berat, mereka pun berpikir: apa bedanya dengan orang-orang di luar Tuhan? Malahan secara kasat mata kehidupan orang-orang dunia sepertinya jauh lebih baik. Akhirnya kita selalu mengeluh, menggerutu dan terus mempertanyakan upah mengikut Kristus.
Petrus pernah mengalami pergumulan yang sama! Ia merasa banyak berkorban dalam mengikut Kristus: kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, kenyamanan hidup, dan kebersamaan dengan keluarga. Tentunya ia berharap mendapatkan upah dari Tuhan selama di dunia. Apa jawaban Tuhan? Setiap orang yang telah berkorban dan mau membayar harga demi Dia "...akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (ayat nas). Berbicara tentang upah seringkali fokus kebanyakan orang Kristen semata-mata uang, harta atau kekayaan materi. Yesus sendiri menegaskan bahwa setiap orang yang mau berjerih lelah bagi-Nya dan kerajaan-Nya akan mendapatkan upah yang jauh lebih berharga dan lebih mulia dibandingkan dengan kekayaan materi sebesar apa pun. Dan kalau kita mengutamakan Tuhan, kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya semuanya akan ditambahkan kepada kita (Matius 6:33). Berkat materi itu bonusnya! Jadi tidak ada kata 'sia-sia' berjerih lelah dan berkorban bagi Tuhan!
Jangan bangga karena kita lama mengikut Tuhan, karena yang dinilai ketaatan kita melakukan kehendak-Nya. "...banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Apa pun tantangannya jangan pernah undur dari Tuhan, sebab "...penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18).
Kehidupan kekal di sorga telah tersedia bagi orang-orang yang setia mengiring Kristus sampai akhir!
Wednesday, March 14, 2018
JANGAN BERMEGAH KARENA DUNIA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Maret 2018
Baca: Yeremia 9:23-24
"Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya," Yeremia 9:23
Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa dunia ini berputar seperti roda pedati, adakalanya di atas, terkadang juga berada di bawah. Itulah perjalanan hidup manusia! Hidup manusia itu sepenuhnya di dalam kuasa dan kedaulatan Tuhan. "...direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:8).
Jika pada hari ini kita sedang berada 'di atas', keadaan kita mungkin lebih baik, lebih sehat, lebih berkecukupan, lebih populer, atau lebih beruntung bila dibandingkan dengan orang lain di sekitar, tak sepatutnya kita jemawa atau berlaku congkak, apalagi sampai merendahkan orang lain. Ingatlah selalu bahwa semua yang ada di dunia ini tidaklah kekal alias sementara. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok! Firman Tuhan mengingatkan: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Orang lain yang hari ini kita pandang lebih 'rendah' dan kurang beruntung bisa saja di kemudian hari menjadi orang yang lebih berhasil, lebih kaya, lebih mujur, atau bahkan lebih terkenal. Tidak ada perkara yang mustahil! Bukankah masalah, sakit-penyakit, krisis, bahaya, musibah atau bencana bisa datang kapan saja dan tanpa pernah diduga sebelumnya? Fakta membuktikan ada orang yang dulunya kaya raya kita harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi; yang dulunya punya rumah besar, karena musibah atau bencana, rumahnya menjadi rata dengan tanah dalam sekejap; yang dulunya terkenal, dielu-elukan dan disanjung-sanjung, dalam seketika bisa menjadi orang yang dihujat dan tak dianggap oleh khalayak.
Dalam segala keadaan hendaklah kita selalu ingat kepada Tuhan, Sang Pemberi dan jangan pernah takabur, karena proses ujian dalam hidup seseorang bisa saja melalui kesuksesan atau kekayaan, dan juga kegagalan atau kekurangan. Bermegahlah karena Tuhan, bukan karena apa yang ada di dunia ini!
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Ayub 1:21
Baca: Yeremia 9:23-24
"Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya," Yeremia 9:23
Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa dunia ini berputar seperti roda pedati, adakalanya di atas, terkadang juga berada di bawah. Itulah perjalanan hidup manusia! Hidup manusia itu sepenuhnya di dalam kuasa dan kedaulatan Tuhan. "...direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:8).
Jika pada hari ini kita sedang berada 'di atas', keadaan kita mungkin lebih baik, lebih sehat, lebih berkecukupan, lebih populer, atau lebih beruntung bila dibandingkan dengan orang lain di sekitar, tak sepatutnya kita jemawa atau berlaku congkak, apalagi sampai merendahkan orang lain. Ingatlah selalu bahwa semua yang ada di dunia ini tidaklah kekal alias sementara. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok! Firman Tuhan mengingatkan: "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Orang lain yang hari ini kita pandang lebih 'rendah' dan kurang beruntung bisa saja di kemudian hari menjadi orang yang lebih berhasil, lebih kaya, lebih mujur, atau bahkan lebih terkenal. Tidak ada perkara yang mustahil! Bukankah masalah, sakit-penyakit, krisis, bahaya, musibah atau bencana bisa datang kapan saja dan tanpa pernah diduga sebelumnya? Fakta membuktikan ada orang yang dulunya kaya raya kita harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi; yang dulunya punya rumah besar, karena musibah atau bencana, rumahnya menjadi rata dengan tanah dalam sekejap; yang dulunya terkenal, dielu-elukan dan disanjung-sanjung, dalam seketika bisa menjadi orang yang dihujat dan tak dianggap oleh khalayak.
Dalam segala keadaan hendaklah kita selalu ingat kepada Tuhan, Sang Pemberi dan jangan pernah takabur, karena proses ujian dalam hidup seseorang bisa saja melalui kesuksesan atau kekayaan, dan juga kegagalan atau kekurangan. Bermegahlah karena Tuhan, bukan karena apa yang ada di dunia ini!
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Ayub 1:21
Tuesday, March 13, 2018
SALAH DIDIKAN: Fatal Akibatnya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Maret 2018
Baca: 1 Samuel 2:11-26
"Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku." 1 Samuel 2:23-24a
Imam Eli adalah seorang imam besar Israel di kota Silo, sebelum ia digantikan oleh Samuel. ia adalah orang Lewi dari garis keturunan Itamar bin Harun. Sebagai imam ia bertugas melayani Tuhan dan menjadi perantara antara umat dengan Tuhan, seorang yang dipilih untuk tugas-tugas keimamatan yang suci dan yang diharapkan mampu menjadi teladan yang baik, serta memberi pengaruh besar terhadap suku-suku di Israel.
Sangat disesalkan, nama besar imam Eli telah tercoreng oleh karena kelakuan anak-anaknya. Alkitab menyatakan bahwa "...anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu." (1 Samuel 2:12-13). Kedua anak imam Eli, Hofni dan Pinehas, terbukti tidak menghormati Tuhan dan menyalahgunakan jabatan imam mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Mereka yang seharusnya menjaga kekudusan hidup, malah berlaku najis di hadapan Tuhan dengan melakukan perzinahan dan berbagai macam pelanggaran. Sebagaimana diketahui tugas keimaman merupakan tugas turun-temurun. Demikian juga tugas keimaman Eli, yang oleh karena umurnya sudah lanjut maka tugasnya sebagai imam diturunkan kepada kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Meski demikian Eli tetap sebagai imam senior atau pemimpin di tempat tersebut.
Mengapa anak-anak imam Eli bisa berlaku dursila? Karena imam Eli kurang keras dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Ia terlalu bersikap lunak dan bertoleransi terhadap apa yang dilakukan oleh anak-anaknya, padahal mereka jelas-jelas hidup menyimpang dari kebenaran. Sebagai orangtua dan juga pemimpin rohani seharusnya imam Eli punya keberanian dan ketegasan untuk menegur anak-anaknya, dan jika perlu menghajarnya. Usia tua seharusnya bukan menjadi penghalang baginya untuk tetap bertindak tegas! Mengasihi anak itu harus, tapi bukan memanjakan. Teguran dan hajaran itu perlu, karena hal itu berguna untuk menyelamatkan anak dari jalan yang sesat.
Karena gagal dalam menjalankan tugas keimamannya, keluarga imam Eli harus menanggung akibatnya (1 Samuel 2:34-35).
Baca: 1 Samuel 2:11-26
"Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku." 1 Samuel 2:23-24a
Imam Eli adalah seorang imam besar Israel di kota Silo, sebelum ia digantikan oleh Samuel. ia adalah orang Lewi dari garis keturunan Itamar bin Harun. Sebagai imam ia bertugas melayani Tuhan dan menjadi perantara antara umat dengan Tuhan, seorang yang dipilih untuk tugas-tugas keimamatan yang suci dan yang diharapkan mampu menjadi teladan yang baik, serta memberi pengaruh besar terhadap suku-suku di Israel.
Sangat disesalkan, nama besar imam Eli telah tercoreng oleh karena kelakuan anak-anaknya. Alkitab menyatakan bahwa "...anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu." (1 Samuel 2:12-13). Kedua anak imam Eli, Hofni dan Pinehas, terbukti tidak menghormati Tuhan dan menyalahgunakan jabatan imam mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Mereka yang seharusnya menjaga kekudusan hidup, malah berlaku najis di hadapan Tuhan dengan melakukan perzinahan dan berbagai macam pelanggaran. Sebagaimana diketahui tugas keimaman merupakan tugas turun-temurun. Demikian juga tugas keimaman Eli, yang oleh karena umurnya sudah lanjut maka tugasnya sebagai imam diturunkan kepada kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Meski demikian Eli tetap sebagai imam senior atau pemimpin di tempat tersebut.
Mengapa anak-anak imam Eli bisa berlaku dursila? Karena imam Eli kurang keras dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Ia terlalu bersikap lunak dan bertoleransi terhadap apa yang dilakukan oleh anak-anaknya, padahal mereka jelas-jelas hidup menyimpang dari kebenaran. Sebagai orangtua dan juga pemimpin rohani seharusnya imam Eli punya keberanian dan ketegasan untuk menegur anak-anaknya, dan jika perlu menghajarnya. Usia tua seharusnya bukan menjadi penghalang baginya untuk tetap bertindak tegas! Mengasihi anak itu harus, tapi bukan memanjakan. Teguran dan hajaran itu perlu, karena hal itu berguna untuk menyelamatkan anak dari jalan yang sesat.
Karena gagal dalam menjalankan tugas keimamannya, keluarga imam Eli harus menanggung akibatnya (1 Samuel 2:34-35).
Monday, March 12, 2018
TEGURAN DAN HAJARAN: Demi Masa Depan (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Maret 2018
Baca: Ibrani 12:5-11
"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" Ibrani 12:7
Jangan marah, kecewa dan memberontak kepada Tuhan kalau kita sedang ditegur dan dihajar oleh Tuhan. "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:7b-8). Teguran dan hajaran yang Tuhan berikan akan menyadarkan kita pada kesalahan dan itu berarti Tuhan menganggap kita sebagai anak yang dikasihi-Nya. Didikan keras Tuhan yang berupa hajaran dan hukuman bukan bertujuan menghancurkan atau membinasakan, tetapi bertujuan untuk kebaikan dan masa depan kita. "...dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." (Ibrani 12:10).
Seorang anak yang tidak dididik dengan benar akan bertumbuh ke arah yang tidak benar pula. Berbeda dengan seorang anak yang dididik dengan baik dan mendapat teguran maupun hajaran ketika melakukan kesalahan. Ia akan bertumbuh memiliki nilai-nilai kebenaran dalam setiap perilakunya. Oleh karena itu "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Pada saatnya ia akan menuai sendiri hasil di kemudian hari oleh karena nilai-nilai kebenaran yang ia praktekkan. "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (Ibrani 12:11).
Teguran dan hajaran itu memang sangat menyakitkan secara daging dan membuat tidak nyaman, namun di balik itu tersimpan rencana Tuhan yang indah. Tetaplah bersyukur, karena Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan atau hal jahat bagi kita.
"Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka," Mazmur 94:12-13
Baca: Ibrani 12:5-11
"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" Ibrani 12:7
Jangan marah, kecewa dan memberontak kepada Tuhan kalau kita sedang ditegur dan dihajar oleh Tuhan. "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:7b-8). Teguran dan hajaran yang Tuhan berikan akan menyadarkan kita pada kesalahan dan itu berarti Tuhan menganggap kita sebagai anak yang dikasihi-Nya. Didikan keras Tuhan yang berupa hajaran dan hukuman bukan bertujuan menghancurkan atau membinasakan, tetapi bertujuan untuk kebaikan dan masa depan kita. "...dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." (Ibrani 12:10).
Seorang anak yang tidak dididik dengan benar akan bertumbuh ke arah yang tidak benar pula. Berbeda dengan seorang anak yang dididik dengan baik dan mendapat teguran maupun hajaran ketika melakukan kesalahan. Ia akan bertumbuh memiliki nilai-nilai kebenaran dalam setiap perilakunya. Oleh karena itu "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Pada saatnya ia akan menuai sendiri hasil di kemudian hari oleh karena nilai-nilai kebenaran yang ia praktekkan. "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (Ibrani 12:11).
Teguran dan hajaran itu memang sangat menyakitkan secara daging dan membuat tidak nyaman, namun di balik itu tersimpan rencana Tuhan yang indah. Tetaplah bersyukur, karena Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan atau hal jahat bagi kita.
"Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka," Mazmur 94:12-13
Subscribe to:
Comments (Atom)