Sunday, March 11, 2018

TEGURAN DAN HAJARAN: Demi Masa Depan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Maret 2018

Baca:  Amsal 23:1-35

"Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan."  Amsal 23:13

Menjadi suatu kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi para orangtua bila melihat anak-anaknya memiliki perilaku yang baik, berhasil dalam studi dan sukses di dalam karirnya.  Rasa-rasanya semua usaha, jerih payah dan pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua lunas terbayar alias tidak sia-sia.  Tidak sedikit orangtua yang harus mengelus dada karena kecewa ketika melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang tidak sesuai yang diharapkan:  nakal, suka memberontak, studi berantakan dan sebagainya.  Padahal orangtua sudah melakukan apa saja demi anak.

     Firman Tuhan memperingatkan agar orangtua tidak melupakan didikan terhadap anak, artinya harus bersikap tegas dalam hal mendidik anak-anaknya.  Ada tertulis:  "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."  (Amsal 13:24).  Tidak sedikit orangtua yang bersikap lunak terhadap anak-anaknya.  Ketika anak-anak terlihat jelas telah melakukan kesalahan atau pelanggaran mereka enggan menegur apalagi memukulnya dengan tongkat, dengan alasan tidak tega atau merasa kasihan.  Padahal teguran dan hajaran itu penting sekali bagi anak!  "Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya."  (Amsal 19:18).  Adalah sebuah keharusan bagi orangtua untuk memberikan pujian atas keberhasilan dan prestasi yang diraih oleh anaknya, tapi saat anak melakukan kesalahan dan pelanggaran maka teguran yang keras dan hajaran perlu diberlakukan agar si anak mengerti bahwa hal itu tidak boleh dilakukan dan tidak boleh diulangi.

     Dalam kehidupan rohani berlaku hal yang sama!  Selain berlimpah dengan kasih, Tuhan itu sangat tegas dan penuh kedisiplinan.  Ketika ada pelanggaran atau dosa yang kita perbuat Tuhan akan menegur, memperingatkan dan menghajar anak-anak-Nya.  "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  (Ibrani 12:5-6).  Adapun bentuk teguran dan hajaran Tuhan itu bisa berupa masalah atau penderitaan.  Hal itu bertujuan agar kita segera menyadari akan kesalahan dan berbalik ke jalan-Nya yang benar!

Saturday, March 10, 2018

YANG MUDA YANG BERSINAR (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Maret 2018

Baca:  Pengkhotbah 12:1-8

"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: 'Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!'"  Pengkhotbah 12:1

Kita sering membaca berita di surat kabar atau melihat tayangan di televisi tentang anak-anak muda yang tersangkut masalah hukum:  terlibat tawuran, mabuk-mabukan  (pesta miras), pergaulan bebas  (seks bebas), mengonsumsi narkoba dan sebagainya.  Ini sangat menyedihkan!  "Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan."  (Pengkhotbah 11:9-10).

     Kalau di usia muda sudah salah melangkah, maka kemudaan dan fajar hidupnya akan menjadi sia-sia.  Penting sekali bagi anak muda untuk membangun fondasi hidupnya dengan baik.  Fondasi hidup ini berbicara tentang kehidupan rohani!  "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu."  (Mazmur 119:9).  Usia muda adalah usia yang sangat rawan dan rentan terhadap pengaruh-pengaruh buruk.  "Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya."  (Amsal 22:15).  Alkitab memperingatkan:  "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korintus 15:33).  Jika sedari muda sudah memiliki fondasi iman yang kuat, ia takkan mudah terbawa oleh arus dunia.  Usia muda seharusnya menjadi usia emas, masa di mana orang dapat mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki.

     3.  Punya semangat.  Yosua pemuda dengan semangat luar biasa.  Tuhan memerintahkan Musa untuk menyemangati Yosua dengan penumpangan tangan:  "Yosua bin Nun, pelayanmu, dialah yang akan masuk ke sana. Berilah kepadanya semangat,"  (Ulangan 1:38), sebab  "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"  (Amsal 18:14).

Orang muda yang hidup takut akan Tuhan akan beroleh keberanian, kekuatan dan semangat Ilahi, sehingga kehidupannya bersinar dan menjadi teladan.

Friday, March 9, 2018

YANG MUDA YANG BERSINAR (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Maret 2018

Baca:  1 Timotius 4:12-16

"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda."  1 Timotius 4:12a

Anak muda seringkali dipandang sebelah mata atau dipandang remeh oleh orang-orang yang usianya lebih tua, karena kemudaannya.  Kita sering mendengar orang berkata,  "Kamu tahu apa...kamu masih bau kencur... kamu masih belum merasakan asam garam kehidupan."  Tetapi rasul Paulus memberikan nasihat dan motivasi kepada Timotius,  "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."  (1 Timotius 4:12b).  Tak selayaknya kita memandang remeh orang muda, karena ada banyak tokoh-tokoh di Alkitab yang hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa ketika mereka masih berusia muda:  Daud, Gideon, Samson, Yosua, Kaleb, Daniel dan sebagainya.

     Apa saja yang menjadi  'nilai lebih'  dari orang muda?  1.  Punya keberanian.  Terlebih orang muda yang takut akan Tuhan pasti memiliki keberanian Ilahi.  Alkitab menyatakan:  "Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda."  (Amsal 28:1).  Ketika berhadapan dengan raksasa dari Filistin, Saul yang waktu itu menjadi raja atas Israel, sangat meragukan kemampuan Daud:  "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda,"  (1 Samuel 17:33).  Ternyata usia muda tak menjadi penghalang Daud untuk unjuk gigi.  Tak ada ketakutan sedikit pun dalam diri Daud ketika harus berhadapan dengan Goliat!  Tindakan Daud bukan karena nekat, tapi dalam dirinya ada keberanian Ilahi.  "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."  (1 Samuel 17:45).

     2.  Punya kekuatan.  "Hiasan orang muda ialah kekuatannya,"  (Amsal 20:29a).  Seorang yang masih berusia muda memiliki kelebihan dibanding dengan mereka yang sudah beruban  (tua)  yaitu kelebihan dalam hal kekuatan fisiknya.  Itu laksana sebuah mahkota yang indah pada diri anak-anak muda.  Namun yang harus diperhatikan oleh orang muda adalah jangan sekali-kali kita menyalahgunakan kekuatan yang dimiliki untuk kepentingan diri sendiri, berbangga-bangga atau memuaskan nafsunya.

Thursday, March 8, 2018

KEKAYAAN MATERI: Tak Bisa Menolong

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2018

Baca:  Lukas 6:20-26

"Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu."  Lukas 6:24

Masih teringat di benak kita tahun 1998 krisis ekonomi melanda hampir seluruh kawasan Asia, termasuk negara-negara di Asia Tenggara.  Krisis 1998 merembet dari ekonomi menjadi multikrisis, yaitu krisis di segala bidang kehidupan.  Dampak dari krisis ini perekonomian bangsa Indonesia porak-poranda.  Situasi bangsa kita benar-benar sulit:  banyak perusahaan dan badan usaha yang gulung tikar alias bangkrut.  Orang yang kaya ada yang mendadak jatuh miskin.  Harga saham anjlok dengan sangat parahnya dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing naik.  Pelajaran berharga yang kita dapatkan dari peristiwa ini:  kondisi keuangan sangat rentan terhadap perubahan, tidak ada yang tetap, sewaktu-waktu bisa berubah.  Begitu pula harta kekayaan, sewaktu-waktu bisa lenyap.

     Alkitab memperingatkan agar kita tidak menggantungkan harapan kepada uang atau kekayaan.  Uang dan kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti dan tidak bertahan lama.  Krisis, bencana, pencurian, perampokan, kebakaran dan sebagainya dapat dengan mudah melenyapkan uang dan kekayaan secara tidak terduga, dan sekejap.  "Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia (kekayaan - Red.), karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali."  (Amsal 23:5).  Namun sekarang ini banyak orang mengorbankan perkara-perkara rohani yang bernilai kekal demi mengejar harta kekayaan yang sifatnya hanya sementara ini.  Padahal,  "...walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."  (Lukas 12:15).  Mengandalkan harta kekayaan adalah sebuah kebodohan yang membinasakan, karena semuanya itu tak bisa menyelamatkan jiwa seseorang.

     Nabi Yeremia menasihati kita untuk hidup mengandalkan Tuhan!  Karena orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan hidupnya pasti diberkati.  "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"  (Yeremia 17:7);  dan berkat Tuhan itu tak mengenal musim dan situasi.

Orang yang senantiasa mengandalkan Mesir  (dunia - Red.), kuda dan kereta  (harta/kekayaan - Red.), pasti akan tergelincir, jatuh, habis dan binasa  (Yesaya 31:1, 3).

Wednesday, March 7, 2018

HIDUP KRISTIANI: Sebuah Pertanggungan Jawab (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Maret 2018

Baca:  2 Korintus 5:1-11

"...jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."  2 Korintus 5:1

Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang pasti dan tidak ada yang patut untuk dibanggakan dan diharapkan.  Alkitab jelas menyatakan bahwa hidup di dunia ini sangatlah singkat dan keberadaan kita ini hanyalah sebagai pendatang atau perantau  (1 Petrus 2:11).  Karena itu selama menjalani hidup di dunia ini kita harus menunjukkan kualitas hidup yang berbeda.  Rasul Paulus menasihati,  "Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa."  (1 Petrus 2:11), sebab setiap orang akan menghadap takhta pengadilan dan mempertanggungjawabkan segala hal yang sudah diperbuat selama hidup di dunia.

     Penting sekali memperhatikan bagaimana cara kita menjalani hidup ini, sebab Tuhan tidak akan memperhatikan cara kita mati, tetapi bagaimana cara kita hidup.  Kristus sendiri yang adalah Tuhan mengalami kematian dengan cara yang tidak terhormat yaitu tergantung di kayu salib.  "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"  (Galatia 3:13).  Tapi di balik kematian-Nya ada rencana yang indah!  Cara kita menjalani hidup itulah yang terutama, sebab tak satu pun yang akan terluputkan di pemandangan mata Tuhan:  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Hidup di dunia singkat, ibarat orang yang sedang berkemah, suatu saat kemah itu akan dibongkar!  Bagi orang yang hidup benar di hadapan Tuhan, Tuhan telah menyediakan tempat kediaman di sorga  (ayat nas).  William Shakespeare pernah berujar:  "Orang yang selalu ingat sorga, pasti akan berperilaku seperti para penghuni sorga!"  Karena itu jangan kita hidup dengan sembrono.  "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:8).

Ingin menikmati kehidupan kekal di sorga?  Persiapkan diri mulai sekarang.

Tuesday, March 6, 2018

HIDUP KRISTIANI: Sebuah Pertanggungan Jawab (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Maret 2018

Baca:  2 Korintus 5:1-11

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."  2 Korintus 5:10

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hidup kristiani adalah kehidupan yang mudah, sebab melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, yang olehnya kita diselamatkan, kita terhindarkan dari sebuah tanggung jawab.  Kita tak perlu repot ini itu, sekali selamat tetap selamat.  Benarkah?  Tidak.  Justru anugerah keselamatan yang Kristus berikan dengan cuma-cuma ini menempatkan setiap orang percaya pada sebuah tanggung jawab yang besar.  Rasul Paulus menasihati,  "...tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,... Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda,"  (Roma 14:12).

     Jika menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah pertanggungan jawab, masihkah kita menjalani hidup kekristenan dengan sembrono dan seenaknya sendiri?  "...saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup."  (Roma 8:12-13).  Kita adalah orang-orang yang berhutang secara Roh, karena itu kita harus hidup menurut Roh, artinya bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak Tuhan.  Firman Tuhan menegaskan:  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).

     Sebagai ciptaan baru kita harus mengalami kematian  'manusia lama'  dan hidup mengenakan  'manusia baru'.  Mati dari manusia lama berarti kita bersikap tegas dan tidak lagi kompromi dengan dunia ini.  Cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan harus benar-benar ditinggalkan, seperti umat Israel yang diperintahkan Tuhan untuk menumpas bangsa-bangsa di Kanaan, sebab bangsa-bangsa itu adalah penyembah berhala, jika tidak ditumpas, mereka bisa menjadi jerat.

Enggan melepaskan diri dari ikatan-ikatan dunia adalah tanda bahwa orang percaya masih belum  'mati'  dari manusia lama.

Monday, March 5, 2018

WAKTU ITU MAHAL HARGANYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Maret 2018

Baca:  Matius 24:32-36

"Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu."  Matius 24:33

Ketika sedang berpergian dengan mengendarai taksi, hal yang paling diperhatikan oleh kebanyakan orang adalah argometer, alat ukur banyaknya uang yang harus dibayar berdasarkan jarak tempuh dan waktu penggunaan.  Semakin jauh jarak yang ditempuh dan semakin lama waktunya, semakin mahal ongkos yang harus dikeluarkan, terlebih ketika jalanan sedang macet, sementara tujuan masih sangat jauh.  Selama argometer terus berjalan alias waktu terus berputar, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.  Saat itulah kita benar-benar menyadari betapa mahal dan berharganya  'waktu'.

     Semua orang memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari atau 168 jam dalam seminggu.  Coba renungkan:  berapa banyak waktu yang telah kita pergunakan untuk bekerja atau berkarya?  Dan berapa banyak waktu yang kita manfaatkan untuk mengerjakan perkara-perkara rohani atau melayani Tuhan?  Tidak sedikit orang Kristen berkata:  "Ah...waktu masih panjang.  Yang penting sekarang adalah mencari uang dan uang.  Urusan pelayanan atau perkara-perkara rohani, nanti sajalah!"  Jangan pernah menunda-nunda waktu untuk mengerjakan segala sesuatu, karena kita tidak pernah tahu apakah kesempatan itu datang lagi atau tidak, seperti tertulis:  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

     Mari pergunakan waktu sebaik mungkin dan jangan pernah menyia-nyiakannya!  "Waktu tidak berpihak pada siapa pun, tapi waktu dapat menjadi sahabat bagi mereka yang memegang dan memperlakukannya dengan baik."  (Winston Churchill).  Kalau kita menyia-nyiakan waktu berarti kita sedang menyia-nyiakan hidup.  Sebaliknya, jika kita berhasil memanfaatkan waktu dengan baik, berarti kita berhasil mengisi hidup ini dengan baik.  Karena itu  "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik."  (Pengkhotbah 11:6).

Waktu itu sangat berharga, karena itu jangan sia-siakan agar tidak menyesal!

Sunday, March 4, 2018

BERDOA DAN MERATAP: Jawaban dan Pemulihan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Maret 2018

Baca:  2 Raja-Raja 20:1-11

"Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: 'Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.'"  2 Raja-Raja 20:2-3

Seberapa besar intensitas Saudara mendirikan tembok-tembok doa?  Seringkali kita hanya berdoa secara liturgis dan bukan merupakan ratapan dari dasar hati yang terdalam.  Di masa-masa sulit seperti sekarang ini hamba-hamba Tuhan perlu berdoa agar umat yang digembalakannya tetap terpelihara;  keluarga-keluarga Kristen perlu sekali membangun tembok doa, sebab tembok doa itu merupan benteng.  Makna dasar kata Ibrani untuk benteng atau pertahanan ialah tempat yang tidak bisa ditembus, tidak dapat dicapai.  Benteng doa akan melindungi kita dari serangan Iblis dan berbagai macam persoalan.

     Suatu ketika Hizkia jatuh sakit dan bahkan Tuhan sudah mengutus nabi Yesaya untuk menyampaikan pesan kepadanya:  "...Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."  (2 Raja-Raja 20:1).  Mendengar hal itu segeralah Hizkia memalingkan muka ke arah dinding tembok dan berdoa kepada Tuhan disertai dengan ratapan, tanda bahwa ia berdoa dengan sungguh-sungguh.  Walaupun Tuhan telah menentukan Hizkia untuk mati, tetapi oleh karena kekuatan doa yang disertai dengan ratapan, Tuhan bisa mengubah keputusan-Nya.  Tergeraklah hati Tuhan untuk menolong dan memulihkan Hizkia:  "Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."  (2 Raja-Raja 20:4-6).

     Tuhan menyembuhkan Hizkia dan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi.

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Saturday, March 3, 2018

MEMBANGUN TEMBOK DOA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Maret 2018

Baca:  Yehezkiel 22:1-31

"Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya."  Yehezkiel 22:30

Doa adalah hal penting dalam hidup orang percaya karena doa adalah nafas hidup.  Karena itulah orang percaya harus berdoa setiap saat dan tiada berkeputusan.

     Kata tembok pada ayat nas berbicara tentang doa.  Di Yerusalem ada sebuah tembok yang disebut Tembok Ratapan, tempat yang penting dan dianggap suci oleh orang Yahudi.  Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Herodes.  Bait Suci itu hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada kerajaan Romawi pada tahun 70 Masehi.  Panjang tembok ini semula sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter.  Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah ada  'Shekhinah'  (kehadiran Tuhan).  Tembok ini dulu dikenal hanya sebagai Tembok Barat di Yerusalem, tetapi kini disebut  'Tembok Ratapan'  karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan, juga menyelipkan doa mereka yang ditulis dalam kertas di celah-celah dinding tembok.

     Saat mengalami masalah, kesusahan atau kesesakan, orang-orang Israel biasa datang ke tembok tersebut untuk berdoa dan meratap kepada Tuhan.  Penting sekali bagi setiap orang percaya untuk mendirikan  'tembok'  yaitu berdoa.  Berdoa bukan hanya saat perlu, tapi doa yang menggambarkan suatu persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Ayat nas di atas mengatakan bahwa Tuhan sedang mencari orang-orang yang membangun  'tembok', tetapi Ia tidak menemukannya.  Artinya betapa Tuhan sangat menginginkan umat yang berdoa.  Tuhan senang melihat umat-Nya membangun tembok  (berdoa).

     Dengan berdoa kita mengungkapkan keluhan-keluhan kepada Tuhan dan dalam iman kita mendapatkan apa yang kita butuhkan.  Dengan berdoa pula kita menyatakan kekaguman, pujian dan penghormatan kepada Tuhan.  Dengan berdoa berarti kita sedang berjaga-jaga.  Terlebih-lebih di tengah situasi dunia yang semakin buruk ini kita harus makin intensif mencari Tuhan.  Jangan biarkan tembok-tembokmu itu menjadi reruntuhan!

Karena itu  "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"  Yesaya 55:6

Friday, March 2, 2018

TERLUKIS DI TELAPAK TANGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Maret 2018

Baca:  Yesaya 49:8-26

"Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku."  Yesaya 49:16

Dalam penciptaan manusia, Alkitab menyatakan bahwa Tuhan membentuk manusia dari debu tanah dan kemudian Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya sehingga manusia menjadi mekhluk yang hidup  (Kejadian 2:7).  Di sini ada dua tindakan Tuhan yaitu:  1.  Membentuk manusia dari debu tanah, berarti menunjuk pada tindakan Tuhan menggunakan tangan-Nya sendiri;  2.  Menghembuskan nafas hidup, yang pararel dengan tindakan-Nya menghembuskan firman-Nya.  Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kehidupan yang begitu unik dan istimewa di mata Tuhan karena merupakan hasil pekerjaan tangan dan firman Tuhan.  Itulah sebabnya manusia dinyatakan sebagai  'gambar dan rupa'  Tuhan  (Kejadian 1:26-27).

     Melalui nabi Yesaya Tuhan mengungkapkan kepedulian dan perhatian-Nya begitu dalam terhadap umat-Nya sekalipun mereka seringkali menyakiti, melukai dan memberontak kepada-Nya.  Bahkan tindakan Tuhan yang selalu mau mengingat dan tidak melupakan umat-Nya digambarkan dengan sangat menarik:  "...Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku;"  (ayat nas).  Berarti setiap kali Tuhan melihat telapak tangan-Nya Dia juga melihat tiap kehidupan dan pergumulan umat-Nya.  Sebagaimana melalui tangan-Nya yang sejak semula mencipta dan membentuk manusia dari debu tanah, Ia pun bersedia mengulurkan tangan-Nya untuk menolong dan memulihkan keadaan kita.  Tuhan berkata,  "Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan."  (Yesaya 49:11).

     Jangan sekali-kali beranggapan Tuhan tidak peduli dengan keadaan kita dan melupakan kita.  Seberat apa pun perjalanan hidup yang kita tempuh, pemazmur menyatakan,  "Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."  (Mazmur 121:3-5).  Tuhan juga menegaskan,  "...sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya."  (Yesaya 65:24).

Tak perlu takut dan kuatir akan hidup ini, karena Tuhan selalu ada untuk kita!