Saturday, January 6, 2018

TEGUH JAYA DI SEGALA KEADAAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2018

Baca:  Yesaya 7:1-9

"Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya."  Yesaya 7:9b

Masih banyak orang Kristen berpikir bahwa hidup seorang pengikut Kristus adalah hidup yang terbebas dari masalah, namun Alkitab tidak pernah menjanjikan hal yang demikian.  Semua manusia yang hidup di bawah langit dan di atas bumi ini tak satu pun yang terluput dari masalah.  Dengan kata lain semua orang pasti menghadapi dan mengalami masalah!  Namun perhatikan apa yang dikatakan oleh Pemazmur:  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20), dan  "Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman."  (Mazmur 34:22).  Karena itu orang percaya tak perlu kecut dan tawar hati karena ada Tuhan di pihak kita.  Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, orang percaya akan tetap teguh jaya, asalkan kita tetap hidup dalam kebenaran, percaya kepada Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala hal.

     Teguh jaya bisa diartikan berkemenangan dan tak tergoyahkan di segala keadaan.  Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa kuat kalau situasi yang ada sangat mendukung.  Bagaimana jika situasi yang terjadi sangat bertolak belakang?  Hidup orang percaya tidaklah ditentukan oleh situasi dan kondisi.  Meskipun situasi tidak memungkinkan dan sungguh teramat berat, orang percaya akan tetap teguh jaya asalkan ia tetap melekat kepada Tuhan, karena ada Roh Kudus yang senantiasa memberi kekuatan, ada tangan Tuhan yang selalu siap untuk menopang, sehingga  "...apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."  (Mazmur 37:24).

     Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap syukur di segala keadaan, sebab dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.  Kita juga patut bersyukur karena kita punya Bapa yang baik.  "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."  (Matius 7:9-11).  Kita seringkali merasa tidak kuat menghadapi masalah karena kita terlampau banyak memikirkan hal-hal yang negatif.

Selalu ada kemenangan di pihak orang benar karena Tuhan selalu campur tangan!

Friday, January 5, 2018

APAKAH YANG SAUDARA CARI?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Januari 2018

Baca:  Mazmur 14:1-7

"TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah."  Mazmur 14:2

Banyak perkara dicari-cari oleh manusia di dunia ini.  Apa yang dicari itulah yang dianggap sangat menentukan kebahagiaan hidup manusia.  Ada banyak orang menginginkan hidup yang berbahagia, namun justru kekecewaan dan kegagalan yang mereka alami.  Mengapa?  Karena mereka mencari  'sesuatu'  yang salah, mencari hal-hal yang bersumber dari dunia ini, bukan dari Tuhan.  Ada pula orang-orang yang berusaha mencari segala hal dengan mengandalkan kekuatan sendiri, dan ujung-ujungnya mereka akan kecewa.  Pemazmur menasihati:  "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya,"  (Mazmur 105:4-5).  Alkitab menyatakan bahwa bila kita mencari Tuhan terlebih dahulu dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup ini.  (Matius 6:33).

     Tuhan Yesus bertanya,  "Apakah yang kamu cari?"  (Yohanes 1:38).  Di hari-hari ini manusia tidak lagi menempatkan perkara-perkara rohani sebagai agenda utama dalam hidupnya, tetapi inilah yang umumnya sedang mereka cari:  1.  Kekayaan.  Materi duniawi telah menyilaukan mata semua orang sehingga mereka mudah sekali tergiur dengan iming-iming Iblis yang menawarkan kekayaan secara instan.  Karenanya mereka rela menempuh cara apa pun demi mendapatkan apa yang dicari, meskipun cara yang ditempuhnya itu tidak halal, melanggar hukum dan bertentangan dengan firman Tuhan.  Tragisnya lagi, tidak sedikit dari mereka yang terlibat dalam kuasa kegelapan.  Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dituntun Iblis menuju kepada kebinasaan.

     2.  Kesenangan daging.  Segala yang menyenangkan dan memuaskan daging sedang dicari manusia..  Berhati-hatilah!  Kepuasan daging ujungnya adalah maut,  "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,"  (Galatia 6:8).  Karena itu  "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu...dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya."  (Roma 13:13-14).

Ketika kita mencari Kristus dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup ini, kita akan beroleh berkat dan kebahagiaan hidup yang sejati!

Thursday, January 4, 2018

PERHATIAN DAN PIKIRAN HANYA KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Januari 2018

Baca:  Ayub 12:1-25

"Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?"  Ayub 12:9-10

Ada dua sisi penting dalam kehidupan manusia yaitu hidup dan mati, yang sepenuhnya adalah otoritas Tuhan.  "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia."  (Yohanes 1:4).  Tuhan bukan saja pemberi hidup, tapi juga menyediakan segala sarana dan prasarana penunjang kehidupan manusia, supaya hidup yang dikaruniakan-Nya dapat dipertahankan.  Karena itu penting sekali kita memusatkan pikiran dan perhatian kepada Tuhan Sang Pemberi Hidup, sebab hidup manusia sepenuhnya berada dalam kuasa-Nya.

     Jika perhatian dan pikiran kita hanya terpusat kepada kehidupan saja maka kita akan takut dan kuatir.  Karena berbicara tentang kehidupan akan membuat perhatian dan pikiran kita tertuju kepada kebutuhan-kebutuhan.  Tuhan memperingatkan:  "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"  (Matius 6:25).  Sebaliknya kalau arah pandang kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, kita akan menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur, sebab  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     Kematian adalah rahasia Tuhan, tak satu pun manusia tahu kapan kematian itu datang menghampirinya.  Jika kita hanya memusatkan pikiran dan perhatian pada kematian, kita pun akan dihantui oleh rasa takut dan kuatir.  Yang terpenting adalah jangan sampai kematian itu menjadi suatu jerat bagi kita seperti tertulis:  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

Rasul Paulus menasihati:  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,"  Efesus 5:15

Wednesday, January 3, 2018

MENIKMATI SEMUA YANG BAIK, ASALKAN... (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Januari 2018

Baca:  Yesaya 1:10-20

"Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya."  Yesaya 1:20

Mari kita perbarui komitmen dalam menjalani kehidupan di tahun 2018 ini, yaitu belajar untuk mau menurut dan mau mendengar apa yang Tuhan firmankan, serta tidak lagi hidup dalam pemberontakan, supaya hari-hari yang kita jalani penuh dengan kemenangan.  Inilah yang Tuhan janjikan bagi setiap orang yang mau menurut dan mendengar.  1.  Memakan hasil yang baik.  Artinya apa saja yang kita kerjakan dibuat Tuhan menjadi berhasil.  Orang yang hidup taat kepada Tuhan  "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:3).  Sebaliknya jika tidak menurut dan mendengar, kita akan  'dimakan oleh pedang':  apa pun yang kita kerjakan sia-sia tanpa hasil.  Oleh karena itu menurutlah dan mendengarlah supaya kita memakan hasil yang baik.

     2.  Pelanggaran kita diampuni Tuhan.  Mungkin kita memiliki masa lalu yang sangat buruk, tetapi ingatlah bahwa Tuhan tidak tertarik pada masa lalu kita.  Bahkan,  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18);  asalkan kita mau merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mengakui segala pelanggaran kita, Ia akan mengampuni dosa kita  (1 Yohanes 1:9).  Dan  "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:10-12).

     3.  Doa kita didengar Tuhan.  Ketaatan adalah pintu gerbang menuju berkat.  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  (Yakobus 5:16b).  Adalah kebodohan besar jika kita tetap saja melawan dan memberontak kepada Tuhan, sebab ketidaktaatan adalah penghalang utama untuk kita mengalami berkat-berkat Tuhan  (Yesaya 59:1-3).

Berkat-berkat Tuhan akan kita nikmati di sepanjang tahun yang akan kita jalani, asalkan kita mau menurut dan mendengarkan Tuhan.

Tuesday, January 2, 2018

MENIKMATI SEMUA YANG BAIK, ASALKAN... (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Januari 2018

Baca:  Yesaya 1:10-20

"Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu."  Yesaya 1:19

Dalam hidup ini kita seringkali menginginkan hal-hal yang menyenangkan dan tampak indah menurut pandangan kita.  Tapi ketika Tuhan mendidik kita dengan mengijinkan masalah, penderitaan atau kegagalan terjadi, kita pun tidak bisa menerima keadaan, lalu kita memberontak dan menolak proses Tuhan tersebut.  Memang proses pembentukan Tuhan kadangkala keras dan teramat menyakitkan, tetapi kita harus ingat bahwa tangan Tuhan selalu siap untuk menolong kita.  Kita akan mengalami dan menikmati semua yang baik di sepanjang tahun 2018 ini, asalkan kita mau hidup seturut dengan kehendak Tuhan.  Ada dua kata kunci yaitu menurut dan mendengar.  

     Menjadi seorang yang mau menurut dan mau mendengar adalah perkara yang tak mudah, karena umumnya orang memiliki kecenderungan untuk memberontak dan hidup menurut kehendak diri sendiri.  Menurut dan mendengar ini berbicara tentang ketaatan.  Orangtua manakah yang tak senang jika anak-anaknya taat?  Pemimpin manakah yang tak bersyukur jika memiliki anak buah atau karyawan yang mau menurut dan mau mendengarkan perintah?  Secara kasat mata umat Israel memang tampak melakukan sesuatu yang kelihatannya rohani  (beribadah)  dengan membawa korban persembahan kepada Tuhan.  Namun apalah artinya aktivitas-aktivitas rohani dan korban persembahan jika tidak disertai dengan ketaatan?  Tanpa ketaatan semuanya tidak akan berarti apa-apa di mata Tuhan.  Karena begitu besarnya kejahatan yang telah mereka perbuat Tuhan pun menyamakan keberadaan mereka sama seperti orang-orang di zaman Sodom dan Gomora:  "Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!"  (Yesaya 1:10).

     Dalam kegeraman Ia berkata,  "Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku."  (Yesaya 1:13a).  Betapa kecewanya Tuhan terhadap bangsa pilihan-Nya sendiri.  Padahal jika orang percaya mau menurut dan mau mendengar apa yang Tuhan firmankan, kita akan mengecap semua yang baik.

"Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku."  Yesaya 1:16

Monday, January 1, 2018

MENIKMATI SEMUA YANG BAIK, ASALKAN... (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Januari 2018

Baca:  Yesaya 1:1-9

"Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya."  Yesaya 1:3

Selamat Tahun Baru!  Hari ini adalah hari pertama di tahun 2018.  Semua orang berharap bahwa hari-hari yang akan mereka jalani di tahun yang baru ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.  Keinginan, cita-cita dan impian yang selama ini belum terwujud diharapkan menjadi kenyataan di tahun baru ini.  Segudang harapan kita bahwa di hari yang baru ini.  Kita pun bertekad tidak lagi mengulang kesalahan-kesalahan lalu, mengubur dalam luka lama dan menjadikan kegagalan kemarin sebagai cambuk untuk melangkah lebih maju.

     Firman Tuhan yang kita baca hari ini adalah nubuatan yang ditulis oleh Yesaya, seorang nabi, anak Amos.  Nama Yesaya berarti Tuhan adalah keselamatan.  Jelas sekali dinyatakan bahwa penderitaan dan kegagalan bangsa Israel,  -yang waktu itu sudah terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Utara disebut Israel, dan Kerajaan Selatan disebut Yehuda-, bukan karena serangan Iblis dan juga bukan karena nasib mereka sedang tidak baik  (buruk), tetapi sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri yang telah meninggalkan Tuhan dan tidak lagi setia kepada-Nya, padahal mereka telah dipelihara Tuhan sedemikian rupa:  "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku....Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia."  (Yesaya 1:2, 4).  Meskipun berkali-kali ditegur dan diperingatkan Tuhan melalui utusan-utusan-Nya mereka tetap saja mengeraskan hati, tak menghiraukan teguran dan peringatan Tuhan ini dan lebih memilih untuk berjalan menurut kehendak diri sendiri.

     Bukankah perilaku umat Israel ini tak beda jauh dengan kita?  Coba renungkan berapa banyak kita mengalami kasih dan pertolongan Tuhan?  Tak terhitung banyaknya!  Namun kita tidak merespons campur tangan Tuhan ini dengan sikap hati yang benar.  Kita cenderung fokus pada masalah dan kesulitan yang ada;  kita terus disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini, yang menyeret kita semakin menjauh dari hadirat Tuhan.

Semakin berontak dan meninggalkan Tuhan semakin kita jauh dari hal-hal baik yang telah Tuhan persiapkan!

Sunday, December 31, 2017

PEMBERIAN BAPA: Baik dan Sempurna

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Desember 2017

Baca:  Yakobus 1:12-18

"Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."  Yakobus 1:17

Dalam tulisannya rasul Yakobus mengingatkan supaya kita jangan pernah mengatakan kalau kita sedang dalam pencobaan, lalu kita menyimpulkan bahwa pencobaan tersebut berasal dari Bapa.  Mengapa?  Karena Bapa tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.  "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya."  (Yakobus 1:14).  Banyak dari kita yang tak menyadari bahwa segala yang baik itu berasal dan datang dari Bapa, karena Dia adalah sumber segala yang baik.  Berbagai cara Bapa lakukan untuk menghadirkan kebaikan bagi kita, bahkan di balik masalah atau peristiwa yang menyakitkan sekali pun  (Roma 8:28);  dan apa pun yang Bapa berikan bagi anak-anak-Nya, sungguh tak dapat diukur dan dinilai berdasarkan akal dan pemikiran manusia.

     Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan musim berganti musim, namun kasih, pemeliharaan dan penyertaan tak pernah berubah dalam hidup kita.  Sungguh, tanpa Tuhan yang menyertai, kita takkan mampu menjalani hari-hari yang berat, hingga akhirnya tanpa terasa kita sudah berada di penghujung hari di tahun 2017.  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  (Mazmur 103:2).  Haruslah selalu kita ingat bahwa Bapa memberikan sesuatu bukan semata-mata untuk kesenangan kita, tapi Ia memberikan segala yang baik supaya kita dapat memuliakan Dia dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.  "Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa."  (Mazmur 67:2-3).  Bapa memberkati kita supaya kita menjadi penyalur berkat-Nya, yaitu dengan menabur.

     Kita patut bersyukur karena kita memiliki Bapa yang sungguh teramat baik, yang suka memberi dan selalu memberi;  dan apa yang Bapa beri adalah berkat yang baru!

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  Ratapan 3:22

Saturday, December 30, 2017

MENGHARAPKAN PENGGENAPAN JANJI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Desember 2017

Baca:  Mazmur 119:81-88

"Habis mataku merindukan janji-Mu; aku berkata: 'Bilakah Engkau akan menghiburkan aku?'"  Mazmur 119:82

Tinggal menghitung hari, tepatnya dua hari lagi tahun 2017 sudah akan berakhir, tapi masih banyak yang mengganjal dalam hati orang percaya dan timbul tanda tanya:  "Mengapa janji Tuhan belum juga tergenapi dalam hidupku, padahal sudah setahun lamanya aku menunggu-nunggu?"  Tak semua orang percaya menyadari bahwa antara janji sampai kepada kegenapannya membutuhkan waktu;  dan Tuhan memakai waktu untuk membentuk dan memroses kita agar kita semakin dewasa rohani, mengajar kita untuk hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

     Orang percaya tak seharusnya ragu dan bimbang terhadap apa yang Tuhan telah janjikan, karena janji Tuhan adalah ya dan amin.  Kalau Tuhan yang berjanji pasti Dia pasti akan menggenapinya, sebab Dia  "bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"  (Bilangan 23:19).  Namun yang harus diperhatikan adalah ada harga yang harus dibayar untuk kita melihat janji Tuhan itu digenapi.

     Bagaimana sikap kita dalam mengharapkan kegenapan janji Tuhan?  1.  Pegang teguh janji Tuhan.  Kalau kita tahu bahwa yang berjanji itu Tuhan, bukan manusia, maka tidak ada hal-hal yang perlu dipertanyakan lagi, semisal:  benarkah mujizat Tuhan masih ada?  Sungguhkah penyakitku bisa sembuh?  Dapatkah ekonomi keluarga pulih?  Seharusnya pertanyaan kita ini:  apa yang perlu berubah dari hidupku?  Sudahkah hidupku berkenan kepada Tuhan?  Karena itu jangan pernah memberontak saat dalam proses!  2.  Jangan terpengaruh oleh situasi.  Setelah kita tahu ada janji Tuhan, maka fokus kita harus pada janji Tuhan itu, bukan pada situasi atau kondisi yang ada.  Sekalipun hari-hari yang kita jalani tampak berat, ada masalah dan kesulitan, tapi jika arah pandang kita senantiasa tertuju kepada Tuhan dan janji-Nya, kita takkan menjadi lemah dan putus asa.  Ingatlah ahwa waktu Tuhan bukan waktu kita, dan waktu Tuhan adalah yang terbaik.  Oleh karena itu belajarlah untuk tetap bersyukur, dan semakin kita bersyukur semakin kita beroleh kekuatan untuk menanti-nantikan Tuhan.

"Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya."  Mazmur 119:140

Friday, December 29, 2017

JANGAN PERNAH MENDUA HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2017

Baca:  Yeremia 44:1-30

"Mengapa kamu mau menimbulkan sakit hati-Ku dengan perbuatan tanganmu, yakni membakar korban kepada allah lain di tanah Mesir yang kamu masuki untuk tinggal sebagai orang asing di sana?"  Yeremia 44:8 

Salah satu faktor yang seringkali menjadi penyebab retaknya keharmonisan dalam sebuah rumah tangga adalah ketika salah satu dari mereka  (suami/isteri)  melakukan perselingkuhan, atau kehadiran orang ke-3.  Hal itu menunjukkan bahwa salah satu dari pasangan telah mendua hati dan tidak lagi setia terhadap pasangannya.  Inilah juga yang diperbuat oleh bangsa Yehuda, dimana mereka tidak lagi mengasihi Tuhan sepenuh hati, tidak lagi setia kepada-Nya.  Bangsa Yehuda sudah tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai Single Authority, karena ada allah lain yang bertakhta di hati mereka, tanda bahwa hati mereka telah bercabang.

     Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa mereka telah  "...beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal oleh mereka sendiri..."  (ayat 3), hidup mengandalkan dan berharap kepada Mesir, yang adalah gambaran tentang kekuatan dan kemegahan dunia.  Perbuatan mereka telah menyakiti dan melukai hati Tuhan.  Padahal sudah berkali-kali Tuhan memperingatkan mereka dengan mengutus nabi-nabi-Nya, salah satunya melalui Yeremia ini:  "Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikan supaya berbalik dari kejahatan mereka dan tidak membakar korban lagi kepada allah lain."  (ayat 4-5).  Tetapi teguran dan peringatan Tuhan ini dianggapnya sebagai angin lalu.

     Berhati-hatilah!  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7).  Mereka tidak menyadari bahwa ketidaktaatan mereka mendatangkan hukuman bagi diri sendiri.  "Inilah tanda bagimu, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menghukum kamu di tempat ini, supaya kamu mengetahui bahwa perkataan-perkataan-Ku terhadap kamu akan sungguh-sungguh terwujud untuk kecelakaanmu."  (Yeremia 44:29).  Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, sehingga Ia pun menuntut kesetiaan kita kepada-Nya.

Jangan sekali-kali menduakan Tuhan dalam hidup ini, karena Dia adalah Tuhan yang cemburu  (baca  Keluaran 34:14).

Thursday, December 28, 2017

MENJADI HAMBA YANG DISUKAI TUANNYA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Desember 2017

Baca:  Lukas 12:41-48

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya."  Lukas 12:44

Selain rajin bekerja, hal yang disukai tuan terhadap hambanya adalah:  2.  Hamba yang setia.  Kesetiaan berbicara tentang loyalitas.  Zaman sekarang tak mudah menemukan orang-orang yang setia.  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6).  Pada umumnya orang akan setia tapi disertai pamrih atau tendensi.  Tuhan menghendaki kita menjadi hamba-hamba-Nya yang setia.  Tak semua orang menyadari bahwa sesungguhnya kesetiaan adalah pintu gerbang untuk mengalami berkat dan promosi dari Tuhan.  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."  (Lukas 16:10a).  Mungkinkah tuan memercayakan perkara-perkara besar kepada hambanya, jika hamba itu tidak terlebih dahulu setia dalam perkara-perkara kecil?  Perhatikan apa yang dikatakan tuan terhadap hamba yang setia:  "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."  (Matius 25:21).

     3.  Hamba yang mengerti kehendak tuannya"Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."  (Lukas 12:47-48).  Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia menempatkan kehendak Bapa sebagai yang terutama dalam hidup-Nya.  Sebagai hamba-Nya hendaknya kita menjadikan kehendak Tuhan sebagai yang terpenting dan terutama pula, lebih dari apa pun.

     Bagaimana kita tahu kehendak Tuhan?  Ketika kita bergaul karib dengan Tuhan dan tinggal di dalam firman-Nya setiap hari.

Jadilah hamba yang setia dan senantiasa mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan, niscaya kita akan menjadi hamba kesayangan-Nya dan diberkati-Nya!

Wednesday, December 27, 2017

MENJADI HAMBA YANG DISUKAI TUANNYA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Desember 2017

Baca:  Lukas 12:41-48

"Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?"  Lukas 12:42

Salah satu panggilan Tuhan yang sulit dilakukan orang percaya adalah menjadi hamba.  Kita kurang menyadari bahwa sebagai orang percaya kita ini menyandang status sebagai hamba Tuhan.  "Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:24b).  Tak mudah menjadi orang percaya yang benar-benar memiliki hati hamba, karena kecenderungan setiap orang adalah ingin menjadi tuan, ingin menjadi yang terbesar, ingin menjadi pemimpin, ingin dilayani tapi tak mau melayani, ingin selalu memerintah tapi merasa keberatan jika harus menerima perintah.

     Ketika diselamatkan oleh pengorbanan Kristus di kayu salib  "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran...demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan."  (Roma 6:18, 19).  Karena Kristus telah memerdekakan kita dari dosa dan menjadikan kita hamba kebenaran, kini tugas kita adalah menghambakan diri sepenuhnya kepada Dia, melayani dan menyenangkan hati-Nya.  Bagaimana menyenangkan hati Tuhan, Tuan kita?  1.  Hamba yang rajin bekerja"Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang."  (Lukas 12:43).  Inilah hamba yang disukai tuannya!  Yaitu yang rajin bekerja bukan ketika dilihat tuannya atau ketika si tuan ada di dekatnya, tapi yang tetap rajin sekalipun tidak dilihat tuannya, sekalipun tuannya itu pergi, sekalipun situasi atau kondisi tampak kurang menyenangkan sekalipun, karena ia menyadari tugas utamanya adalah bekerja keras dan melakukan semua tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

     Orang yang rajin bekerja pasti akan mendapatkan banyak keuntungan:  "...tangan orang rajin menjadikan kaya."  (Amsal 10:4);  "Tangan orang rajin memegang kekuasaan..."  (Amsal 12:24);  "...hati orang rajin diberi kelimpahan."  (Amsal 13:4).

Rasul Paulus menasihati,  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  Roma 12:11