Friday, June 9, 2017

PENGAMPUNAN YANG TIADA BATASNYA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juni 2017

Baca:  Matius 18:21-35

"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"  Matius 18:21

Pengampunan adalah sebuah kata yang mudah sekali diucapkan, tapi tak mudah untuk dilakukan.  Dalam istilah hukum kata pengampunan berarti melepaskan seseorang dari suatu kewajiban;  sedangkan dalam konteks keuangan pengampunan bisa diartikan sebuah gagasan mengenai pembatalan hutang.

     Sebagai manusia biasa yang punya banyak kelemahan dan kekurangan seperti kita sangatlah wajar bila Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus tentang berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain.  Pikir Petrus bahwa mengampuni sebanyak tujuh kali  (sehari sekali)  adalah perbuatan yang sangat mulia, patut dihargai dan diacungi jempol, karena tidak semua orang mampu melakukannya.  Namun Tuhan Yesus menjawab,  "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."  (ayat 22).  Pengampunan sebanyak 70x7 kali ini memiliki makna pengampunan yang tiada batas.  Dengan kata lain, ketika mengampuni kesalahan orang lain kita tidak perlu menghitungnya, berhentilah mengingat  'angka'  dan teruslah mengampuni.  Memang tidak gampang, sebab mengampuni bukan berarti kita lupa seratus persen dan tidak ingat apa-apa lagi, melainkan kita membuat keputusan untuk melupakan dan tidak mencoba mengingat-ingat lagi.  "Pengampunan adalah sebuah keputusan untuk melepaskan atau membatalkan seseorang dari kewajiban atau hutang yang terjadi ketika orang tersebut melukai Anda."  (William Hines).  Banyak orang merasa sulit melepaskan pengampunan terhadap orang lain karena terlalu besar luka hati yang dirasakan atau menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu.

     Kita bisa belajar melalui kehidupan Yusuf, orang yang memiliki pengalaman hidup yang teramat pahit karena disakiti, dilukai dan diperlakukan jahat oleh orang lain, bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri.  Meski demikian Yusuf tidak pernah melakukan pembalasan, tapi mengampuni kesalahan orang-orang yang berbuat jahat terhadapnya.  Dalam Kejadian 41:51 dinyatakan bahwa Yusuf memberi nama anak sulungnya  'Manasye'  yang artinya Tuhan telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku, termasuk juga melupakan kesalahan orang lain, dan mengampuninya.  (Bersambung)

Thursday, June 8, 2017

KELAHIRAN BARU: Karya Roh Kudus

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juni 2017

Baca:  1 Petrus 1:3-12

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,"  1 Petrus 1:3

Kehidupan iman Kristen sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang ada di dunia ini.  Kalau kepercayaan lain berisi hukum-hukum, aturan-aturan, atau syarat-syarat yang sifatnya agamawi  (tidak boleh berbuat ini dan itu, ini boleh dilakukan dan itu tidak boleh dilakukan, kalau melanggar akan dihukum, dan kalau taat akan beroleh pahala)  tanpa ada pemecahan masalah dosa, maka iman Kristen adalah iman yang membebaskan dan memerdekakan manusia dari kuasa dosa dan setan.

     Yesus berkata,  "'Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.' Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."  (Yohanes 8:31, 32, 36).  Di dalam iman Kristiani ada yang disebut  'kelahiran baru'  yang dikerjakan oleh Roh Kudus berdasarkan iman kepada Kristus.  Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib setiap orang yang percaya kepada-Nya telah dimerdekakan dari dosa dan kini menyandang status ciptaan baru:  yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang  (baca  2 Korintus 5:17).  Tertulis:  "pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita."  (Titus 3:5-7).

     Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bertobat!  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya."  (Yehezkiel 36:26-27).

Oleh kuasa firman dan Roh Kudus setiap orang yang percaya dilahirkan baru!  

Wednesday, June 7, 2017

DAMAI SEJAHTERA TUHAN: Sumber Kekuatan Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juni 2017

Baca:  Filipi 4:4-9

"Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."  Filipi 4:7

Semua orang mengakui bahwa situasi dunia saat ini semakin hari semakin membuat bulu kuduk merinding karena kejahatan merajalela di mana-mana:  kekacauan, kerusuhan, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, wabah penyakit dan berbagai bencana alam terjadi.  Hal ini menandakan bahwa dunia sudah semakin rusak.  Keadaan ini terjadi karena pekerjaan si Iblis beserta bala tentaranya yang berusaha untuk menghancurkan umat Tuhan.  Iblis tahu bahwa sebentar lagi Tuhan akan menjemput umat pilihan-Nya, itu artinya bahwa waktu penghukuman bagi Iblis sudah ada di depan mata.

     Di tengah situasi yang gawat seperti sekarang ini tak bisa dipungkiri jika orang-orang di luar Kristus mengalami ketakutan dan kekuatiran hidup.  Namun firman Tuhan menasihatkan agar orang percaya tidak terprovokasi oleh situasi yang ada, dan jangan sampai situasi yang ada ini merampas damai sejahtera kita.  Justru ini saatnya bagi kita untuk  'bangun dari tidur', makin giat melayani Tuhan.  "Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya."  (Roma 13:11b).  Ketakutan dan kekuatiran bukan milik orang yang percaya kepada Kristus, tapi milik Iblis bersama dengan pengikutnya.  Kita harus melawan ketakutan dan kekuatiran itu karena damai sejahtera yang melampaui segala hal telah Tuhan berikan melalui Roh Kudus-Nya yang tinggal di dalam kita.  "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14:27).

     Damai sejahtera tetap kita rasakan di segala keadaan apabila kita senantiasa mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan, sehingga semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, itulah yang akan memenuhi pikiran kita  (Filipi 4:8).  Ada tertulis:  "Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau."  (Yesaya 54:10).

"...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  Matius 28:20b

Tuesday, June 6, 2017

KUASA ROH KUDUS: Modal Dalam Pelayanan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juni 2017

Baca:  Matius 10:5-15

"Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat."  Matius 10:7

Melayani pekerjaan Tuhan tidak bisa disamakan dengan melakukan pekerjaan secara konvensional karena kita harus memenuhi kriteria yang Tuhan inginkan:  punya hati hamba, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan terbeban untuk mengasihi jiwa-jiwa.  Melayani pekerjaan Tuhan juga harus ada yang dikorbankan:  keakuan, reputasi, gengsi, harga diri, termasuk menyalibkan kedagingan kita supaya Roh Kudus berkenan memakai hidup kita.  Selain itu melayani pekerjaan Tuhan adalah sebuah panggilan, bukan luapan emosi sesaat, tapi dipanggil dan diutus oleh Tuhan sendiri.  Ini berbeda dengan pekerjaan konvensional di mana pemanggilan dan penempatan seseorang diatur dan ditentukan oleh pimpinan atau atasan yang adalah manusia biasa.

     Kalau Tuhan berkenan memakai kita Ia akan memanggil kita.  "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  (Matius 4:19).  Panggilan ini adalah panggilan pribadi.  Tuhan bisa berbicara langsung kepada roh kita secara jelas, atau melalui mimpi, penglihatan, nubuatan atau penumpangan tangan seorang hamba Tuhan, atau juga melalui suatu pengalaman hidup pribadi yang olehnya kita yakin bahwa Tuhan telah memanggil kita untuk melayani pekerjaan-Nya.  Kalau sudah dipanggil, Tuhan akan mengutus,  "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  (Yohanes 20:21)  dan juga memperlengkapi,  "...dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus."  (Ibrani 13:21).

     Tanpa modal orang tidak bisa berdagang, tanpa modal orang tidak bisa mendirikan sebuah badan usaha, dan tanpa modal pula orang tidak bisa melayani pekerjaan Tuhan.  Melayani pekerjaan Tuhan modalnya adalah kuasa dari Tuhan.  Setelah Tuhan Yesus naik ke sorga dan Roh Kudus dicurahkan terjadilah kebangunan rohani yang luar biasa:  ribuan orang bertobat, tanda-tanda heran dan mujizat terjadi oleh karena kuasa Tuhan dinyatakan di tengah umat-Nya;  dan untuk menerima kuasa Tuhan kita harus benar-benar lahir baru dan dipenuhi dengan Roh Kudus.

Melayani pekerjaan Tuhan bukan sekedar terlibat dalam kegiatan rohani di gereja, tapi kita menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya bagi umat.

Monday, June 5, 2017

KUASA ROH KUDUS: Modal Dalam Pelayanan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juni 2017

Baca:  Markus 16:15-20

"Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."  Markus 16:20

Tuhan menghendaki setiap orang percaya menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini dan dapat berbuat sesuatu bagi kemuliaan nama-Nya.  Dengan kata lain Tuhan tidak membutuhkan orang Kristen yang hanya duduk-duduk di gereja, malas, pasif, tidak melakukan sesuatu untuk Tuhan.  Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata,  "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk."  (ayat 15).  Inilah yang disebut amanat Agung Tuhan Yesus  (baca pula Matius 28:19-20).

     Harus diakui bahwa tugas memberitakan Injil atau bekerja di ladang Tuhan itu bukanlah pekerjaan yang gampang.  Pekerjaan Tuhan janganlah dianggap seperti pekerjaan konvensional pada umumnya.  Kalau untuk pekerjaan  'dunia'  mungkin kita hanya perlu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, untuk bekerja di ladang Tuhan kita masing-masing harus  'dipanggil'  oleh Tuhan sendiri.  Tanpa panggilan Tuhan kita pasti akan gagal:  kecewa, frustasi, lemah dan mundur karena ada 1001 rintangan.  Dengan bersandar pada kepintaran, ilmu pengetahuan, strategi dan kekuatan lengan manusia kita takkan mampu menjalankan amanat agung Tuhan secara maksimal.  Karena itu kita membutuhkan kuasa dan penyertaan Roh Kudus-Nya!  "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).

     Untuk beroleh kuasa itu tentu saja kita harus percaya dan punya kerinduan yang besar seperti Daud yang merindukan hadirat Tuhan  (baca  Mazmur 42:2).  Kalau kita tidak mau berdoa, tidak mau  'tinggal'  di dalam firman-Nya, tidak mau menyangkal diri, mustahil kita akan beroleh kuasa-Nya, karena kuasa Roh Kudus itu bukan barang murahan yang diberikan kepada orang yang malas rohani, tapi diberikan kepada mereka yang mau membayar harga.  "Jadi berusahalah..."  (1 Korintus 12:31), dan  "Kejarlah..."  (1 Korintus 14:1).  Banyak orang Kristen kurang menyadari pentingnya kuasa Roh Kudus, sehingga mereka lebih banyak berdoa meminta berkat daripada minta dipimpin Roh Kudus.

Karena Roh Kudus kita beroleh kemampuan adikodrati dalam melayani Tuhan!

Sunday, June 4, 2017

HARI PENTAKOSTA: Roh Kudus Dicurahkan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juni 2017

Baca:  Kisah Para Rasul 2:1-13

"Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya."  Kisah 2:4

Kata pentakosta dalam bahasa Yunani adalah pentekoste, berarti hari ke 50, atau disebut Minggu putih, adalah hari raya untuk memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para murid di Yerusalem, yang terjadi pada hari ke-50 setelah kebangkitan Yesus Kristus, atau 10 hari setelah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.

     Makna pentakosta sesungguhnya sudah dipakai sejak zaman Perjanjian Lama.  Hari raya ini dirayakan oleh umat Israel untuk memperingati peristiwa penting yaitu turunnya 10 firman yang diterima Musa di Gunung Sinai, yang kemudian dikenal dengan Sepuluh Perintah  (The Ten Commandments).  Peristiwa ini memiliki rentang waktu 50 hari setelah Paskah;  juga sebagai hari ucapan syukur yang ditandai dengan dibawanya persembahan penuaian hulu hasil yang dikenal sebagai bikkurim, artinya persembahan hulu hasil kedua  (panen gandum).  Perayaan ini dirayakan selama 7 minggu berturut-turut atau sekitar 49 sampai 50 hari, oleh karena itu biasa dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu bagi bangsa Israel  (baca  Keluaran 34:22Ulangan 16:9).

     Pencurahan Roh Kudus merupakan penggenapan janji bapa sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh nabi Yoel bahwa Bapa akan mencurahkan Roh-Nya pada hari-hari terakhir  (baca  Yoel 2:28-29), bukti dari apa yang Tuhan Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke sorga:  "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran."  (Yohanes 14:16-17).  Kata Penolong yang lain dalam bahasa Yunani  (Parakletos)  memiliki arti:  dipanggil untuk mendampingi, menolong, menghibur, menasihati, memberi semangat, menuntun dan menyertai.  Roh Kudus,  "Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."  (Yohanes 14:26b).

Pentakosta adalah hari bersejarah bagi pertumbuhan gereja, karena di hari itu Roh Kudus mendemonstrasikan kuasa-Nya:  menjamah dan mengurapi murid-murid Tuhan sehingga mereka mengalami breakthrough di dalam pelayanan.

Saturday, June 3, 2017

MURID TUHAN YESUS TIDAK BERPUASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juni 2017

Baca:  Matius 9:14-17

"Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Matius 9:14

Dalam kalangan orang-orang Yahudi ada 3 praktik keagamaan yang dianggap sangat penting:  bersedekah, berdoa dan berpuasa.  Karena itulah Tuhan Yesus menjadikan hal itu sebagai pokok pembahasan dalam khotbah-Nya yang pertama di atas bukit  (baca  Matius 6:1-18).  Namun begitu melihat murid-murid-Nya tidak berpuasa, murid-murid Yohanes mempertanyakan hal itu.  Jawaban Tuhan Yesus,  "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."  (ayat 15).  Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai mempelai laki-laki dan umat-Nya adalah sebagai mempelai wanita.

     Layakkah mempelai wanita bermuram durja saat pesta perkawinan berlangsung?  Kita tahu bahwa dalam sebuah pesta kedua mempelai harus membuka pintu rumahnya untuk para tamu.  Suasana sukacita pasti terlihat dalam pesta itu, di mana semua orang menikmati hidangan yang disajikan.  Tidak ada seorang pun yang menghadiri pesta dengan sedih hati dan tidak menyantap hidangan yang disajikan.  Tuhan Yesus juga menjelaskan dengan suatu kiasan:  "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya."  (ayat 16).  Kain yang belum disusutkan pasti akan merobek kain yang lama, bila ditambalkan.  Karena itu setiap kain penambal harus disusutkan atau dicuci terlebih dahulu.  Puasa adalah proses penyusutan untuk merendahkan diri, bukan ajang untuk pamer kerohanian.

     Dalam ajaran Yudaisme puasa adalah saat untuk meratap atau berdukacita, oleh karenanya orang yang berpuasa akan cenderung memperlihatkan raut muka yang muram, supaya khalayak ramai tahu bahwa ia sedang berpuasa.  Pada masa itu makna puasa sudah mengalami pergeseran karena banyak orang menjadikan puasa hanya sebagai suatu kebiasaan, atau ajang untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang  'rohani'.  Melalui nas ini Tuhan Yesus mengajarkan agar berpuasa dengan wajah yang cerah, hati yang bersukacita dan tidak perlu diketahui orang lain.

Puasa yang disertai dengan pertobatan adalah puasa yang dikehendaki Tuhan!

Friday, June 2, 2017

TINGGAL DALAM FIRMAN: Hikmat Menjalani Hidup (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juni 2017

Baca:  Amsal 7:1-4

"Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu."  Amsal 7:3

Supaya langkah kaki kita tidak melenceng arah firman Tuhan harus menjadi pegangan hidup kita, sebab  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Firman Tuhan harus menjadi cermin, tolak ukur, dan acuan untuk seluruh aspek kehidupan kita, baik itu dalam pekerjaan, aktivitas, pelayanan, studi, apa pun yang kita kerjakan.

     Kemudian kita diperintahkan untuk menyimpan ajaran-Nya seperti kita menjaga biji mata kita sendiri.  Artinya kita menempatkan firman Tuhan sebagai hal yang utama, terpenting dan berharga, lebih dari apa pun.  Dari firman Tuhan itulah kita beroleh hikmat, di mana hikmat itu  "...lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya."  (Amsal 3:15).  Jangan sekali-kali mengijinkan hal-hal yang duniawi lebih mendominasi hidup kita dibandingkan dengan firman Tuhan, sebab semua yang ada di dunia ini semata-mata berorientasi kepada tiga hal, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup  (baca  1 Yohanes 2:16), yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Jika hal itu terjadi tentunya sangat berbahaya karena akan berdampak pada sikap, perkataan dan perbuatan kita.  Tetapi jika firman Tuhan memenuhi hati dan pikiran kita setiap hari, kuasa firman itu akan bekerja di dalam kita.  Caranya?  Kita harus membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari seperti yang Daud perbuat:  "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."  (Mazmur 119:97).  Itulah yang dimaksud menjaga firman-Nya tetap hidup di dalam hati kita.

     Kita harus membuat firman Tuhan itu lekat dan menyatu dalam hidup kita, sebab  "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu."  (Roma 10:8).  Misalkan ada  'sesuatu'  terikat dan tertambat di jari kita, maka ke mana pun dan di mana pun kita berada  'sesuatu'  itu akan tetap bersama kita dan takkan terpisahkan.

"Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah."  Mazmur 37:30-31

Thursday, June 1, 2017

TINGGAL DALAM FIRMAN: Hikmat Menjalani Hidup (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juni 2017

Baca:  Amsal 7:1-4

"Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu."  Amsal 7:1

Kitab Amsal adalah kumpulan ajaran tentang cara menjalani hidup yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan.  Ajaran-ajaran itu diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa atau pun pepatah;  kebanyakan berkaitan dengan persoalan hidup manusia sehari-hari.  Ada banyak hikmat yang diajarkan dalam kitab Amsal ini, dan kunci untuk memiliki hikmat itu adalah takut akan Tuhan,  "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian."  (Amsal 9:10).

     Jelas sekali bahwa untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan, tidak ada jalan lain, selain kita harus tinggal di dalam firman Tuhan.  Dari situlah kita akan mendapatkan fondasi yang kuat bagi kehidupan kita  (baca  Matius 7:24-27), sehingga kita dapat berdiri kuat dan tak tergoyahkan meski diterpa badai permasalahan seberat apa pun.  Ketika kita memilih hidup di jalan Tuhan kita akan beroleh hikmat sehingga kita dapat membedakan manakah yang menjadi kehendak Tuhan:  apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.  Akhirnya dengan hikmat tersebut kita dapat berlaku seperti yang Tuhan mau dan inginkan.  Raja Salomo, ketika hidup mengandalkan Tuhan, dan senantiasa melibatkan Dia di setiap rencana hidupnya serta bergantung penuh kepada-Nya, Tuhan  "...memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut,"  (1 Raja-Raja 4:29), bahkan Alkitab mencatat bahwa  "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat."  (1 Raja-Raja 10:23).  Hidup Salomo diberkati Tuhan secara luar biasa dan ia pun menjadi raja yang sangat terkenal di zamannya.

     Begitu pula dengan kehidupan ini, selama kita mau berjalan bersama Tuhan setiap hari dan tinggal dalam firman-Nya, maka  "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa."  (Mazmur 16:11).  Untuk tetap tinggal dalam firman Tuhan kita harus berpegang pada perintah Tuhan dan menjaga-Nya seperti menjaga biji mata sendiri.

"Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik."  Mazmur 111:10

Wednesday, May 31, 2017

TAKUTLAH AKAN TUHAN: Berkat Pasti Melimpah!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Mei 2017

Baca:  Mazmur 112:1-10

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya."  Mazmur 112:1

Berkat adalah sesuatu yang sangat dirindukan, dinantikan dan diharapkan oleh semua orang, tanpa terkecuali.  Siapakah di antara kita yang menolak berkat?  Tak seorang pun!  Ke mana pun kaki ini melangkah, yang timbul di pikiran hanyalah soal berkat;  saat memberi persembahan di gereja atau melayani kita pun berharap Tuhan membalasnya dengan berkat;  doa-doa kita pun dipenuhi dengan segala keinginan dan permohonan kepada Tuhan.  Intinya banyak orang hanya mengejar berkat!  Karena itu Tuhan Yesus berkata,  "...sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).

     Berkat Tuhan itu sangat berkenaan dengan sikap hidup kita, kesiapan kita untuk bekerja keras dan sejauh mana kita memiliki persekutuan dengan Tuhan.  Kalau kita hidup dalam ketidaktaatan, malas berusaha dan bekerja, serta hidup menjauh dari Tuhan, berkat takkan pernah menghampiri hidup kita.  Sebaliknya kalau kita hidup dalam kebenaran, bergaul karib dengan Tuhan dan bersungguh-sungguh dalam memaksimalkan potensi atau talenta yang Tuhan beri, niscaya hidup kita pasti akan diberkati,  "...apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:3), takkan pernah berkekurangan  (Mazmur 112:3).  Jadi, kunci mengalami berkat-berkat Tuhan adalah memiliki hati yang takut akan Dia, karena takut akan Tuhan membawa kita hidup dalam perjanjian berkat-Nya yang tidak bisa dibatalkan dan dibatasi oleh apa pun dan siapa pun, dan tidak terpengaruh situasi.

     Berkat bagi kita yang takut akan Tuhan akan mengalir ke seluruh anggota keluarga kita:  "Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati."  (Mazmur 112:2).  Bila kita hidup takut akan Tuhan maka berkat Tuhan akan sampai kepada anak cucu  (keturunan)  kita.  Luar biasa!  Hidup dalam perjanjian berkat Tuhan bukan berarti bebas dari masalah, justru masalah akan Tuhan pakai untuk meneguhkan perjanjian-Nya;  dan satu hal yang tak boleh dilupakan adalah tujuan Tuhan memberkati yaitu supaya kita jadi berkat.  Karena itu orang yang takut akan Tuhan pasti akan banyak memberi karena ia diberi kelimpahan oleh Tuhan  (Mazmur 112:9).

Orang yang takut akan Tuhan hidupnya pasti akan dikejar oleh berkat!

Catatan:
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).

Tuesday, May 30, 2017

KEDIAMAN ORANG BIJAK: Rumahku Istanaku

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Mei 2017

Baca:  Amsal 21:17-23

"Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya."  Amsal 21:20

Kita sering mendengar ungkapan  'rumahku istanaku'  yang artinya tidak ada tempat yang paling nyaman selain saat berada di rumah sendiri.  Dalam ungkapan ini, bentuk fisik sebuah rumah, entah itu rumah berukuran besar atau kecil, mewah atau sederhana, berada di kawasan elite atau di gang yang sempit  (perkampungan), tidaklah begitu berpengaruh.  Sering kita temui ada orang-orang yang tinggal di rumah yang mewah dengan perabotan yang serba lux, tetapi suasana di dalam rumah itu tidak seindah nampaknya, tidak ada ketenteraman dan kenyamanan, yang ada justru percekcokan dan pertengkaran di antara anggota keluarga:  anak-anak memberontak, suami selingkuh, dan sebagainya.

     Rasa nyaman, tenteram, tenang dan damai sangat dipengaruhi oleh faktor intern dalam rumah itu.  Mungkin saja rumah itu kecil dan sederhana, tapi bila setiap penghuni rumah itu atau masing-masing anggota keluarga senantiasa mempraktekkan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan, pasti akan memiliki suasana yang berbeda.  Itulah tempat kediaman orang bijak!  Orang bijak menurut kitab Amsal adalah orang yang mau belajar dan diajar, mau menerima teguran;  orang yang bertumbuh di dalam hikmat, nasihat, kebijaksanaan dan pengetahuan;  orang yang menjauhi kejahatan.  Atau dengan kata lain orang bijak adalah orang yang takut akan Tuhan  (orang benar).  Karena memiliki hati yang takut akan Tuhan dan mempraktekkan firman, bisa dipastikan bahwa di dalam kediaman orang bijak ada buah Roh:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."  (Galatia 5:22-23a).

     Kesimpulannya, di dalam kediaman orang bijak senantiasa ada berkat yang berkelimpahan sebagai dampak ketaatannya melakukan firman Tuhan.  Kata  'harta yang indah'  berbicara tentang berkat;  sedangkan kata  'minyak'  berbicara tentang pengurapan Tuhan.  Karena dalam kediaman orang bijak ada kebenaran maka ada jaminan perlindungan dan pembelaan dari Tuhan bagi mereka, sehingga hari-harinya penuh dengan kemenangan.  "Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai."  (Amsal 21:22).

Kenyamanan ada di kediaman orang bijak, karena Tuhan ada di antara mereka!

Monday, May 29, 2017

NATAN: Tuhan Telah Memberikan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Mei 2017

Baca:  2 Samuel 12:1-25

"TUHAN mengutus Natan kepada Daud."  2 Samuel 12:1a

Berbicara tentang nabi Natan, ingatan kita pasti tertuju kepada Daud.  Mengapa?  Karena nabi Natan adalah salah seorang nabi yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan raja Daud.  Karena kedekatannya ini maka Daud tidak segan-segan untuk mengungkapkan apa yang menjadi pergumulan hidupnya kepada nabi Natan.  Salah satu contohnya adalah ketika Daud punya kerinduan untuk membangun bait Tuhan, kerinduan itu ia share kepada nabi Natan, di mana akhirnya Tuhan memakai nabi-Nya untuk menjawab kerinduan Daud ini walaupun yang akan melaksanakan pembangunan bait-Nya bukanlah dia tapi keturunannya.  "...Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku..."  (2 Samuel 7:12-13).

     Nama Natan dalam bahasa Ibrani memiliki arti:  Tuhan telah memberikan.  Sesuai dengan arti namanya Tuhan telah memberikan Natan bagi Daud, Tuhan memakai nabi Natan untuk menyatakan kehendak-Nya atau menjadi juru bicara-Nya bagi Daud.  Bukan hanya itu, Tuhan juga menyediakan seorang kawan yang tidak takut menyatakan kebenaran, menegur kesalahan, atau yang mampu bersikap tegas tanpa kompromi.  Ketika Daud jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba, nabi Natan menegurnya dengan menggunakan metode perumpamaan.  Dengan perumpamaan yang disampaikan Natan ini tanpa disadari Daud menyalahkan dirinya sendiri  (2 Samuel 12:5).  Teguran keras nabi Natan terhadapnya ini tidak membuat Daud kebakaran jenggot, marah atau memusuhi Natan, justru ia menunjukkan kualitas hidup sebagai pemimpin sejati,  "...menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya."  (2 Samuel 8:15).  Dengan penuh penyesalan Daud mengakui kesalahan dan dosanya  (2 Samuel 12:13), karena itu Tuhan pun mengampuninya  (baca  1 Yohanes 1:9).

     Adalah tidak mudah menegur, menyatakan kebenaran dan bersikap tegas seperti nabi Natan.  Banyak orang memilih melakukan kompromi atau menutup mata ketika melihat orang-orang yang dikasihi melakukan perbuatan yang menyimpang dari firman.

"Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."  Amsal 27:6

Sunday, May 28, 2017

BANGKIT BERSAMA KRISTUS: Kedagingan Harus Mati (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Mei 2017

Baca:  Kolose 3:1-4

"Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah."  Kolose 3:3

Rasul Paulus mengingatkan,  "Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar."  (1 Tesalonika 5:6).  Ingat!  Waktu dan kesempatan kita untuk hidup di dunia ini adalah terbatas, karena itu jangan sampai disia-siakan, kita harus mempergunakannya dengan sebaik mungkin.

     Tatkala orang-orang di luar Tuhan sedang disibukkan dengan perkara-perkara duniawi, dan berupaya untuk memuaskan segala keinginan dagingnya, orang percaya justru dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang berbedda,  "...supaya kita jangan hanyut dibawa arus."  (Ibrani 2:1).  Mengapa?  Karena status kita adalah manusia baru.  Hidup sebagai manusia baru bukan sekedar tampak aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani  (pelayanan)  saja.  "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."  (Roma 12:2).  Hanya dengan mematikan segala keinginan daging dan hal-hal yang duniawi maka kita akan tampil sebagai pribadi yang berbeda.  Hanya dengan cara ini kehidupan kita akan memancarkan hal-hal sorgawi dan Kristus dimuliakan di dalam kita.  Selama kita masih hidup dalam kedagingan berarti kita belum mengalami kematian di dalam Tuhan, sebab kematian di dalam Tuhan itu berkenaan dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan segala keinginan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

     Rasul Petrus menasihati,  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Sebagai umat yang telah ditebus oleh darah Kristus, hidup kita sekarang bukan lagi milik kita sendiri, namun sepenuhnya menjadi milik Tuhan untuk kepentingan Tuhan dan kemuliaan nama Tuhan.

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20

Saturday, May 27, 2017

BANGKIT BERSAMA KRISTUS: Kedagingan Harus Mati (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Mei 2017

Baca:  Kolose 3:1-4

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah."  Kolose 3:1

Menjalani hidup sebagai manusia baru adalah hal yang mutlak bagi semua orang percaya.  Mengapa?  Karena  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Jadi, jika ada orang Kristen yang hidupnya masih belum berubah 100% atau masih menjalani hidup sebagai manusia lama  (berkompromi dengan dosa), maka kekristenannya patut dipertanyakan!  Kita layak disebut manusia baru di dalam Kristus apabila kita benar-benar menanggalkan kehidupan lama, mematikan segala keinginan yang sifatnya duniawi.  Apa dasarnya?  Karena kita telah  "...dibangkitkan bersama dengan Kristus,"  (ayat nas).

     Untuk bisa menjadi satu dalam kebangkitan Kristus orang harus menjadi satu juga dalam kematian-Nya, artinya mau membayar harga, bersedia taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, seperti Kristus yang taat tak bersyarat kepada kehendak Bapa,  "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:6-8).  Karena ketaatan-Nya yang tanpa syarat kepada Bapa akhirnya Kristus menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya, seperti tertulis:  "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,"  (Ibrani 5:8-9).

     Oleh karena itu setiap orang percaya wajib mengikuti teladan Kristus, yang telah mematikan kehendak sendiri untuk melakukan kehendak bapa dan menyelesaikan misi yang Bapa percayakan kepada-Nya.  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).  Mati terhadap segala keinginan daging atau hal-hal duniawi bukanlah proses yang instan dan mudah, tapi meliputi seluruh aspek kehidupan kita dan berlangsung seumur hidup kita.

Tanda nyata orang hidup sebagai manusia baru adalah kedagingannya mati!

Friday, May 26, 2017

TUHAN YESUS NAIK KE SORGA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Mei 2017

Baca:  Ibrani 9:11-28

"demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia."  Ibrani 9:28

Banyak orang Kristen hanya sekedar ikut merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus namun tidak tahu apa makna sesungguhnya yang terkandung dalam peristiwa itu.  Kenaikan Yesus Kristus ke sorga adalah peristiwa yang terjadi 40 hari setelah hari kebangkitan-Nya.

     Dikatakan:  "...Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya."  (Ibrani 6:20).  Artinya Tuhan Yesus naik ke sorga untuk menjadi perintis bagi kita, Ia pergi mendahului kita untuk menyediakan tempat bagi kita.  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Karena itu seberat apa pun tantangan yang ada di dunia tak seharusnya membuat kita takut dan kuatir, karena dunia ini bukanlah tempat tinggal yang permanen, melainkan persinggahan sementara, sedangkan tempat tinggal kita yang sesungguhnya adalah di dalam sorga.

     Tuhan Yesus telah naik ke sorga.  Ia mengambil suatu pekerjaan baru yaitu mendoakan kita dan menghadap hadirat Bapa guna kepentingan umat-Nya  (Ibrani 7:24)  dan menjadi Pengantara bagi kita.  "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka."  (Ibrani 7:25), sehingga kita beroleh keberanian untuk menghampiri takhta kasih karunia Bapa.  Tuhan Yesus naik ke sorga juga untuk memberikan Penolong yaitu Roh Kudus.  "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu."  (Yohanes 16:7)

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga memberi jaminan keselamatan bagi orang percaya!

Thursday, May 25, 2017

YESUS KRISTUS MENEMBUS SEGALA LANGIT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Mei 2017

Baca:  Ibrani 4:14-16

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita."  Ibrani 4:14

Setelah bangkit dari kematian dan mengalahkan kuasa maut Tuhan Yesus mempunyai tubuh kebangkitan, dan tubuh kebangkitan-Nya itu tidak dapat dibatasi oleh pintu atau tembok atau lain-lainnya, karena tubuh itu adalah tubuh kemuliaan, yang tentunya tidak sesuai dengan keadaan di bumi ini.  Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya berulang-ulang kali dan selanjutnya Ia naik ke sorga,  "...terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka."  (Kisah 1:9).  Arti kenaikan Yesus Kristus ialah dipisahkan dari murid-murid-Nya, serta dibawa naik ke sorga, di mana peristiwa ini disaksikan oleh para murid-Nya ketika mereka sedang berkumpul bersama-Nya di bukit Zaitun.

     Kenaikan ke sorga merupakan klimaks dari kehidupan Yesus Kristus di dunia dalam peristiwa inkarnasi-Nya.  Kehidupan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, serta ditutup secara dramatis dengan kenaikan-Nya ke sorga adalah bukti nyata bahwa Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa.  Dari fakta ini tak ada alasan bagi manusia untuk menyangkal ke-Ilahian-Nya.  "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!"  (Filipi 2:9-11).  Yesus Kristus datang ke dunia dengan cara yang ajaib, maka patutlah Ia keluar dengan cara ajaib dan mulia pula.  Ayat nas di atas menyatakan bahwa Tuhan Yesus telah menembus dan ditinggikan dari segala langit.

     Kenaikan Yesus Kristus ke sorga dengan tubuh nyata dan dapat disaksikan secara langsung oleh murid-murid-Nya memiliki tujuan agar murid-murid-Nya dapat bersaksi kepada orang lain dan dapat memberikan jawaban kepada semua orang yang sebelumnya mengejek, meremehkan dan merendahkan Sang Mesias, sehingga jawaban itu dapat membungkam mulut orang yang tidak mau percaya kepada kebangkitan Yesus Kristus.

Yesus Kristus naik ke sorga adalah real atau fakta, masihkah kita tidak percaya?

Wednesday, May 24, 2017

BERAWAL DARI MATA MELIHAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Mei 2017

Baca:  Amsal 23:29-35

"Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,"  Amsal 23:31

Alkitab menyatakan bahwa  "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu."  (Matius 6:22-23).  Sebelum Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang Tuhan, Iblis terlebih dahulu memprovokasi Hawa tentang buah kehidupan itu, lalu  "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya."  (Kejadian 3:6).  Kejatuhan dosa manusia pertama dimulai dari mata!

     Mengapa kita harus menjaga penglihatan kita?  1.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi keputusan kita.  Kita bisa belajar dari pengalaman hidup Lot.  "Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah."  (Kejadian 13:10-11).  Namun Lot harus menelan pil pahit kehidupan karena ia salah dalam membuat keputusan;  bukannya berdoa atau meminta petunjuk dari Tuhan terlebih dahulu, tapi keputusannya didasarkan pada apa yang terlihat secara mata jasmani.

     2.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi iman kita.  Tak bisa dipungkiri apa yang kita imani seringkali berbeda dengan kenyataan, itulah sebabnya banyak orang Kristen kecewa dan akhirnya berhenti berharap kepada Tuhan.  "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."  (Habakuk 2:3).  Milikilah prinsip hidup rasul Paulus,  "kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."  (2 Korintus 4:18).

Yang terlihat oleh mata seringkali menipu, oleh karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan Yesus!

Tuesday, May 23, 2017

PERCAYAKAH BAHWA TUHAN DAPAT MELAKUKAN?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Mei 2017

Baca:  Matius 9:27-31

"'Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?' Mereka menjawab: 'Ya Tuhan, kami percaya.'"  Matius 9:28

Kisah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan mata dua orang buta ini adalah kisah yang hanya ditulis di Injil Matius.  Ketika bertemu dengan dua orang buta ada sebuah pertanyaan yang tak biasa Tuhan sampaikan.  Tuhan Yesus terlebih dahulu bertanya kepada kedua orang buta itu,  "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?"  (ayat nas).  Dan kedua orang buta itu pun dengan penuh keyakinan menjawab,  "Ya Tuhan, kami percaya."  (ayat nas).  Meskipun kedua orang itu tidak dapat melihat secara mata jasmaniah, tapi mata rohani mereka dapat melihat Tuhan dengan kebesaran kuasa-Nya, sehingga mereka percaya bahwa Dia pasti sanggup melakukan mujizat kesembuhan.  Karena memiliki respons hati yang benar Tuhan Yesus pun bertindak untuk menjamah mereka,  "Jadilah kepadamu menurut imanmu...  Maka meleklah mata mereka."  (ayat 29-30).

     Ada banyak orang Kristen secara fisik tidak mengalami kebutaan, mata jasmani mereka dapat melihat apa pun, tetapi mata rohaninya  'buta'  seperti pelayan Elisa yang tak mampu melihat kebesaran kuasa Tuhan.  Sedikit saja dihadapkan pada masalah atau kesulitan, mereka sudah diliputi oleh ketakutan, mereka lupa dengan pertolongan Tuhan dalam hidupnya di waktu-waktu lalu.  Pemazmur menasihati,  "...dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  (Mazmur 103:2).  Pada situasi-situasi seperti itu yang diperlukan adalah iman.  Iman dan ketakutan adalah dua hal yang sangat kontradiktif.  Ketakutan hanya akan membawa kita untuk mempercayai hal-hal yang buruk terjadi, seperti yang Ayub katakan,  "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku."  (Ayub 3:25).

     Iman membawa kita untuk percaya bahwa hal-hal yang baik dan dahsyat pasti akan terjadi.  Iman membuka mata rohani kita sehingga kita dapat mempercayai bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara yang dahsyat...  alhasil kita tidak menyerah dengan keadaan yang ada.  Iman menuntun kita untuk melewati kemustahilan, sedangkan ketakutan hanya akan memunculkan kata mustahil dalam hidup ini.

"Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu..."  Mazmur 145:3-4

Monday, May 22, 2017

HAL MUSTAHIL ADALAH BAGIAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Mei 2017

Baca:  Mazmur 114:1-8

"Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!"  Mazmur 114:7-8

Ada satu kata yang seringkali menjadi momok bagi semua orang yaitu kata mustahil.  Ketika sakit parah dan banyak orang bilang kalau sakitnya mustahil untuk disembuhkan, orang pasti mengalami kesedihan yang mendalam, stress dan putus asa;  ketika krisis keuangan melanda dalam rumah tangga, dan sepertinya tidak ada jalan keluar, ditambah lagi dengan pernyataan orang lain yang mengatakan bahwa keadaannya mustahil untuk dipulihkan, orang pasti langsung drop.  Ya...  Iblis memang tidak pernah berhenti untuk melepaskan panah  'kemustahilan'  ini kepada semua orang agar mereka hidup dalam ketakutan, kekuatiran, dan keputusasaan.

     Dalam hidup ini seringkali kita dibawa kepada suatu masalah, situasi atau keadaan yang secara manusia memang mustahil untuk mendapatkan pertolongan, jawaban atau jalan keluar.  Namun pemazmur kembali menegaskan dan menguatkan bahwa manusia boleh saja berkata bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin alias mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, dan bahkan Alkitab menyatakan bahwa  "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  (Markus 9:23).  Artinya jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan percaya terhadap janji firman-Nya maka semuanya tidak ada yang mustahil.  Ada tertulis:  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     Jangan pernah takut menghadapi apa pun, karena Tuhan kita adalah ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil!  "Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?"  (Yesaya 51:10);  Tuhan yang sanggup mengubah air menjadi anggur;  Tuhan yang sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari.  Karena itu jangan pernah kita membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita yang terbatas, sebab  "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:9).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa!

Sunday, May 21, 2017

HIDUP ADALAH SUATU PILIHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Mei 2017

Baca:  Lukas 13:22-30

"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat."  Lukas 13:24

Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal dalam hidup ini.

     Demikian dalam hidup kerohanian, kita juga dihadapkan pada pilihan hidup:  taat atau tidak taat, berjalan menurut kehendak sendiri atau menurut kehendak Tuhan, berkat atau kutuk.  Tuhan menegur jemaat di Laodikia oleh karena mereka  'tidak dingin dan tidak panas'  alias suam-suam kuku.  "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  (Wahyu 3:16).  Hidup di zaman ini seringkali kita diombang-ambingkan antara memilih kenikmatan dan kesenangan dunia yang sifatnya hanya sementara, ataukah tetap berjuang melawan keinginan daging, yang meski sakit tapi mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

     Pergumulan berat juga di alami oleh orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama, di mana Tuhan menghadapkan mereka pada pilihan hidup:  "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN,..."  (Ulangan 30:15-16).  Jangan pernah terbuai dengan apa yang tampak indah menurut mata jasmaniah, tetapi pastikan bahwa yang kita pilih adalah pilihan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan,  "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."  (Matius 7:13-14).

Pilihan hidup harus tegas!  Jangan sekali-kali melakukan tindakan berkompromi!

Saturday, May 20, 2017

TIDAK LAGI MEMEGANG KOMITMEN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Mei 2017

Baca:  1 Samuel 13:1-22

"Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya."  1 Samuel 13:13

Di zaman sekarang ini tidaklah mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki komitmen terhadap suatu hal.  Umumnya orang mau melakukan sesuatu yang penuh komitmen apabila diiming-imingi bonus atau hadiah yang menggiurkan.  Orang juga akan bersemangat melakukan sesuatu ketika mood-nya lagi dapat.  Begitu mood-nya gak dapat, semangatnya untuk melakukan sesuatu pun meredup.  Seseorang yang punya komitmen pasti tidak mempunyai alasan apa pun untuk berhenti di tengah jalan meski ada rintangan yang menghadang di depan, apalagi sampai ingkar.

     Komitmen adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam meraih kesuksesan atau keberhasilan.  Orang bisa saja dengan mudah mengucapkan komitmen, tapi tindakanlah yang akan membuktikan sebuah komitmen.  Saul adalah raja pertama Israel yang pada awalnya tampak hebat dan berkomitmen untuk hidup taat, tetapi apa yang menjadi komitmennya ketika diurapi menjadi raja tidak lagi mampu dipertahankannya, justru pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh Saul;  dan ketika ditegur oleh Samuel, bukannya menyesali kesalahannya, malah ia selalu berkilah.  Perbuatan Saul ini sangat menyakiti hati Tuhan.  Oleh karena gagal memegang komitmennya akhirnya Saul harus menelan pil pahit, ia ditolak sebagai raja, dan bahkan Tuhan menyatakan penyesalan-Nya:  "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."  (1 Samuel 15:11).

     Komitmen adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang sudah mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, yaitu komitmen untuk taat kepada perintah-perintah-Nya dan setia mengikuti-Nya sampai garis akhir hidup.  Tuhan Yesus berkata,  "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."  (Roma 14:8).  Milikilah komitmen seperti rasul Paulus,  "Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan."  (Roma 14:8).

Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, apa pun keadaannya!

Friday, May 19, 2017

PERISAI IMAN: Ada Jaminan Kemenangan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Mei 2017

Baca:  Mazmur 3:1-9

"Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku."  Mazmur 3:4

Di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak ini rasul Paulus mengingatkan agar dalam segala keadaan kita menggunakan perisai iman!  Dengan perisai iman kita dapat menangkal setiap serangan musuh.  Ketika berada dalam keadaan terjepit karena tekanan dan serangan musuh, dan ketika orang-orang mengatakan bahwa tidak ada pertolongan, Daud justru menemukan kekuatan di dalam Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya.  "Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."  (ayat 7).  Sungguh... Tuhan telah menjadi perisai hidup Daud!

     Sebagai perisai artinya Tuhan yang melindungi kita dan memadamkan segala serangan musuh.  Bukan berarti peperangan telah usai atau serangan musuh berhenti, karena Iblis selalu mencari cara dan celah untuk menyerang,  "...menunggu waktu yang baik."  (Lukas 4:13).  Alkitab menasihatkan agar kita selalu berjaga-jaga dan berdoa, dan  "...dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,"  (Efesus 6:16).  Karena Tuhan menjadi perisai kita, maka kita tetap terlindungi dan tak mudah untuk ditaklukkan.  Untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan kita harus memiliki iman yang tertuju hanya kepada Tuhan, yaitu iman yang tidak tergantung pada keadaan atau situasi.

     Orang yang memiliki iman di dalam Tuhan akan tetap percaya, walaupun apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan.  Sehebat apa pun serangan yang dilancarkan oleh pihak musuh, sedahsyat apa pun goncangan, kita tetap tenang karena Tuhan di pihak kita,  "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita."  (1 Yohanes 5:4).  Karena ada perlindungan yang pasti dari Tuhan kita menjadi tenang, dan dalam keadaan tenang kita pun dapat berpikir bagaimana mengalahkan dan menghancurkan musuh.  Ada tertulis:  "...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."  (Yesaya 30:15).  Bila Tuhan yang menjadi perisai ada jaminan kemenangan bagi yang percaya kepada-Nya.

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  Mazmur 20:7

Thursday, May 18, 2017

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Mei 2017

Baca:  Efesus 6:10-20

"dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,"  Efesus 6:16

Perisai adalah alat untuk melindungi diri pada masa peperangan dari serangan musuh;  salah satu perlengkapan perang yang berfungsi untuk mempertahankan diri dan melindungi tubuh si prajurit.  Pada zaman dahulu perisai seringkali dibuat atau disalut dengan emas atau tembaga.  Biasanya alat ini digunakan pada tangan dan didampingkan dengan senjata lain seperti pedang, tombak atau gada.  Permukaan perisai biasanya dijaga supaya tetap berkilau dengan minyak, yang merefleksikan matahari, dengan tujuan untuk membutakan musuh.  Perisai adalah menggambarkan perlindungan dan keamanan.

     Setiap hari dalam hidup ini adalah sebuah peperangan.  Terutama sekali kita berperang melawan Iblis dengan segala tipu muslihatnya yang tak pernah berhenti untuk melepaskan panah api kepada orang percaya:  panah api ketakutan, keraguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, dengan tujuan supaya orang percaya tidak lagi percaya kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Belum lagi kita juga harus berperang melawan diri sendiri, berperang melawan keinginan daging seperti Yakobus tulis:  "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  (Yakobus 1:14-15).  Jadi, ini bukanlah perkara yang mudah!  Rasul Paulus memiliki pengalaman:  "Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat."  (Roma 7:15, 19).

     Kalau kita berjuang dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu, kita akan tertatih-tatih, jatuh bangun dan bahkan kalah dalam peperangan.  Karena itu kita perlu campur tangan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus.  Dalam hal ini dibutuhkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Dengan iman kita dapat melihat dengan pandangan rohani bahwa Tuhan bekerja di dalam kita untuk menyatakan kuasa-Nya.

Tuhan berkata,  "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."  Korintus 12:9