Friday, October 9, 2020

MANUSIA BIASA, DOANYA LUAR BIASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2020

Baca:  Yakobus 5:12-20

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Doa adalah salah satu senjata rohani orang percaya yang sangat efektif untuk mengalahkan musuh  (Iblis).  Karena itu jangan meremehkan kekuatan doa!  Doa adalah senjata yang tidak kelihatan secara kasat mata, tapi kuasanya sungguh teramat dahsyat melebihi senjata apa pun di dunia ini, sebab doa sanggup mengalahkan musuh-musuh di alam roh  (Efesus 6:12).  Doa Elia sanggup menggerakkan tangan Tuhan untuk menahan langit agar tidak menurunkan hujan ke bumi selama tiga setengah tahun, juga membuka langit untuk mencurahkan hujan setelah tak ada hujan selama tiga setengah tahun.  Mungkin kita berkata,  "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita,..."  (Yakobus 5:17a).  Benar, Elia adalah manusia biasa yang juga punya kelemahan, kekurangan dan keterbatasan, pernah takut dan nyaris putus asa, bahkan sampai berkeinginan untuk mati saja  (1 Raja-Raja 19:3, 4).

     Terlepas dari keberadaannya sebagai manusia biasa, ada rahasia doa Elia yang membuat doanya menghasilkan mujizat!  1.  Elia taat.  Ketika diperintahan Tuhan untuk menghadap raja Ahab memberitahukan bahwa Tuhan akan menurunkan hujan bagi bangsa Israel, Elia taat  (1 Raja-Raja 18:1-2).  Ketaatnya adalah kunci utama!  Dalam hal berdoa ini Elia berdoa atas kehendak Tuhan, bukan menurut kehendaknya sendiri.  Seringkali kita berdoa menurut kehendak dan keinginan kita sendiri!  Kita hanya berdoa untuk kebutuhan diri sendiri, bukan berdoa menurut kehendak Tuhan.

     2.  Elia berdoa dengan sungguh.  "...bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan."  (Yakobus 5:17b).  Berdoa dengan sungguh berarti roh, jiwa dan tubuh menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah.  Seringkali ketika berdoa, hati dan pikiran kita tidak sinkron karena pikiran melayang kemana-mana  (tidak fokus), mulut berdoa, hati bimbang.  Yang penting juga adalah berdoa di dalam nama Tuhan Yesus!  "...dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."  (Yohanes 14:13-14), sebab segala kuasa ada di dalam nama-Nya.

Asal kita taat dan berdoa dengan sungguh dalam nama Tuhan, mujizat pasti terjadi!

Thursday, October 8, 2020

PENGORBANAN YANG TAK DIHARGAI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2020

Baca:  Bilangan 20:2-13

"Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa,"  Bilangan 20:2-3a

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan ringan, terlebih-lebih menjadi pemimpin rohani bagi umat Tuhan.  Selain kehidupan pribadinya selalu menjadi sorotan, sedikit saja melakukan kesalahan atau pelanggaran bisa fatal akibatnya:  dihakimi, dikritik, dicemooh dan dihujat.  Sebaliknya ketika si pemimpin memiliki kinerja bagus dan berprestasi jarang sekali ia mendapatkan pujian atau penghargaan,  "Ah...itu sudah seharusnya!"

     Sebagai pemimpin bangsa Israel  (bangsa pilihan Tuhan)  Musa juga mengalami perlakuan yang kurang baik dari umat yang dipimpinnya, padahal ia bukan sembarang pemimpin, tetapi pilihan Tuhan.  Setiap kali terbentur dengan masalah dan kesulitan saat menempuh perjalanan di padang gurun, umat Israel selalu menjadikan Musa sebagai kambing hitam, dipersalahkan dan dianggap sebagai penyebab kegagalan dan penderitaan yang sedang mereka alami.  Namun meski diperhadapkan dengan situasi sulit, meski harus menghadapi umat Israel yang dikenal tegar tengkuk  (Keluaran 32:9), Musa tetap menunjukkan kesabarannya:  "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi."  (Bilangan 12:3).  Dengan penuh kesabaran Musa mendampingi, menuntun dan membimbing bangsa Israel keluar dari Mesir.  Bangsa Israel tidak melihat betapa Musa telah mengorbankan banyak hal demi mereka:  "...Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa."  (Ibrani 11:24-25).

     Musa rela meninggalkan kemewahan, kenyamanan dan kenikmatan sebagai anak puteri Firaun dan memilih untuk menderita bersama umat Israel.  Bukankah ini pengorbanan luar biasa?  Tapi ini reaksi bangsa Israel saat mereka tidak mendapatkan air di Meriba,  "Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?"  (Bilangan 20:4-5).

Pengorbanan Musa tidak berarti apa-apa di hadapan umat Israel!