Tuesday, March 22, 2016

HATI YANG PENUH BELAS KASIHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2016 

Baca:  Lukas 10:25-37

"Jawab orang itu: 'Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.' Kata Yesus kepadanya: 'Pergilah, dan perbuatlah demikian!'"  Lukas 10:37

Salah satu tanda utama dan bukti bahwa kita adalah orang Kristen  (pengikut Kristus)  adalah jika kita memiliki kasih.  Tuhan Yesus berkata,  "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."  (Yohanes 13:35).  Jadi pengikut Kristus wajib mengikuti teladan Kristus, di mana kasih menjadi gaya hidup sehari-hari.  Orang-orang dunia pasti akan tertawa bila melihat ada orang Kristen karakternya tidak berubah sama sekali, alias serupa dengan mereka.  Karena itu perubahan karakter adalah sebuah keharusan.  Kita yang dulunya cenderung egois dan tidak peduli terhadap orang lain kini harus berubah menjadi pribadi yang penuh empati dan belas kasih terhadap orang lain, seperti orang Samaria itu.

     Perihal kasih ini Yesus bukan sekedar mengajar atau memberikan perintah agar kita memiliki hati penuh belas kasihan, namun Ia pun memberikan teladan yang luar biasa.  Hati Yesus adalah hati yang selalu memberi, penuh empati, berlimpah kebaikan, kemurahan dan belas kasihan.  Begitu mulianya hati Yesus sehingga Dia bukan saja berkata-kata atau berteori, namun rela datang ke dunia dan menyempurnakan perbuatan-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib untuk menanggung segala dosa dan kelemahan kita.  "Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!"  (Mazmur 117:2).  Jadi kita yang telah mengalami, merasakan dan menikmati kasih-Nya yang hebat wajib menunjukkan kualitas hidup seperti yang Tuhan kehendaki, yaitu memraktekkan kasih dalam kehidupan nyata, sebab tujuan Tuhan memanggil dan menyelamatkan kita adalah supaya kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain.

     Hati yang penuh belas kasih  "...tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."  (Filipi 2:3-4).

Memiliki hati seperti Yesus berarti hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri, melainkan memerhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain juga!

1 comment:

  1. Tuhan Yesus selalu memberikan contoh perumpamaan yg bersifat paradoks. Apa yg dianggap lemah , itulah yg dipakai Allah utk mempermalukan dunia. Dengan demikian kita belajar untuk tidak menghakimi org lain (seakan2 kita yg paling benar) dan kita belajar tidak sombong. Semua hanya anugerah Allah saja dalam hidup ini. Amin

    ReplyDelete