Monday, October 3, 2011

KETAATAN ELIA DI TENGAH KRISIS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi  3 Oktober 2011 -

Baca:  1 Raja-Raja 17

"Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu."  1 Raja-Raja 17:7

Tahun 1998 lalu adalah awal masa-masa sulit bagi bangsa Indonesia karena pada waktu itu terjadi krisis moneter.  Tentunya hal ini berdampak buruk di segala aspek kehidupan;  tidak hanya dialami oleh orang-orang di luar Tuhan, tetapi orang percaya pun juga mengalami akibat dari krisis tersebut.  Meski demikian ada berita baiknya:  walaupun semua orang mengalami masalah yang sama, anak-anak Tuhan tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan.  Pemazmur berkata,  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semua itu;"  (Mazmur 34:20).

     Ketika seluruh negeri mengalami masa-masa sukar karena dilanda bencana kekeringan, Tuhan tetap memperhatikan dan memelihara Elia dengan caraNya yang ajaib.  Tuhan membawa Elia ke sungai Kerit, di  "...sebelah timur sungai Yordan."  (1 Raja-Raja 17:6).  Dan ketika sungai itu mulai mengering dan sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, Tuhan terus melanjutkan karyaNya atas Elia.  Ia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sarfat karena Tuhan telah memerintahkan seorang janda, untuk memberinya makan.

     Untuk bisa mengalami perkara-perkara dahsyat seperti Elia kita harus:  1.  Taat terhadap perintah Tuhan.  Ketika 'sungai Kerit' menjadi kering, banyak orang percaya yang akhirnya putus asa dan menyerah pada keadaan.  Sungai Kerit adalah zona nyaman bagi Elia, di situ segala kebutuhannya dicukupi Tuhan.  Namun ketika Tuhan memerintahkan Elia untuk meninggalkan zona itu, Elia tetap taat.  Selama kita tidak mau bayar harga dan tetap menikmati 'zona nyaman' yang selama ini meninabobokan kita, kita tidak akan mengalami perubahan.  2.  Jangan takut dan kuatir.  Sesungguhnya Elia punya alasan untuk takut dan kuatir karena ia diperintahkan pergi ke Sarfat, padahal Sarfat berada di wilayah Sidon.  Raja Sidon adalah orangtua Izebel, isteri Ahab yang pernah mengancam hidup Elia.  Meski demikian Elia tetap mengikuti cara Tuhan karena ia tahu bahwa Tuhan menyertainya.  Dan ketika Elia mengikuti cara Tuhan, melalui janda Sarfat yang sederhana, ternyata Tuhan sanggup melakukan perkara yang ajaib!

Tidak hanya diberkati, Elia juga menjadi saluran berkat bagi orang lain.

No comments:

Post a Comment