Monday, July 27, 2009

Arti Sahabat (1)

- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juli 2009 -

Baca: 2 Tawarikh 19:1-3

"Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau." 2 Tawarikh 19:2

Sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain karena kita tidak dapat hidup tanpa membangun suatu hubungan atau kerjasama dengan orang lain. Hubungan baik dibina karena adanya kepentingan bersama; yang seseorang memerlukan orang lain, dan berdasarkan itu terjalinlah sebuah persahabatan. Sulit bagi seorang individu hidup seorang diri tanpa berhubungan dengan orang lain. Dan apa pun istilahnya, sebuah persahabatan selalu berkaitan dengan kepentingan. Namun, sebagai seorang Kristen, kita harus menempatkan Kristus sebagai telada dan dasar utama dalam membangun hubungan dalam suatu persahabatan.
Pentingkah arti sahabat? Persahabatan yang bagaimana agar kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan keteduhan batin bermukim di dalam hati kita? Kita memerlukan seorang sahabat yang dengan jujur menegur dan membangun iman kita. Dari ayat firman Tuhan yang kita baca jelas menunjukkan bagaimana Yehu menegur raja Yosafat karena dia telah menjalin hubungan dengan orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak mengindahkan perintah Tuhan, suka melakukan kejahatan dan berhati busuk. Oleh sebab itu Yehu memperingatkan Yosafat agar segera mengakhiri hubungan yang terlarang itu, karena bila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat fatal bagi dirinya dan kerajaannya. Alkitab menyatakan "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." (Amsal 13:20), karena "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33).
Seorang sahabat yang baik akan menegur dengan jujur ketika ia mengetahui kesalahan yang dilakukan sahabatnya. Ia tidak peduli bagaimana reaksi sahabatnya itu, yang penting ia tidak mau melihat sahabatnya terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak benar di pemandangan Tuhan. Seorang sahabat sejati bila melihat sahabatnya dalam kesusahan tidka menghindar atau menjauh, tetapi segera memberikan pertolongan; bila tidak mampu menolong secara materi, ia memberikan jalan keluar dengan nasihatnya yang bijak. Ia bisa menjadi saudara ketika sahabatnya berada dalam kesukaran, bukannya malah memutuskan persahabatan itu (Bersambung)

No comments:

Post a Comment