Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2010 -
Baca: Yesaya 1:10-20
"Marilah, baiklah kita berperkara! - firman Tuhan - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." Yesaya 1:18
Ketika doa-doa yang mereka panjatkan belum juga terjawab, banyak orang beranggapan bahwa Tuhan itu tidak ada atau Tuhan itu tidak adil.
Sesungguhnya hal utama yang harus kita lakukan adalah memeriksa diri terlebih dahulu, masalah apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Kita mengira bahwa dengan memberikan persembahan yang banyak atau uang jutaan untuk gereja, hati Tuhan sudah disenangkan. Mari perhatikan ini: korban yang dipersembahkan kepada Tuhan jika tidak disertai dengan pertobatan hidup yang merupakan kekejian bagi Tuhan. Tuhan berkata kepada bangsa Israel, "Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu." (Yesus 1:13a). Bahkan Tuhan berkata, "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah." (Yesaya 1:15). Yang dimaksud tangan penuh dengan darah bukan semata-mata pembunuhan secara fisik, tapi juga penganiayaan rohani terhadap orang lain seperti gosip, fitnah, iri hati dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Dan satu-satunya cara membuat Tuhan mau mendengar dan memperhatikan doa-doa kita adalah kita harus berhenti berbuat dosa dan bertobat bersungguh-sugguh. Ia berkata, "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataKu. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yesaya 1:16-17).
Jika kita bertobat dengan sungguh-sungguh, doa kita akan diampuni! Seperti dikatakanNya, "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25). Karena Dia sudah mengampuni dosa kita, Dia menghendaki ada tindakan nyata kita, "Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!" (Yesaya 43:26).
Janji Tuhan itu ya dan amin, "Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu." (Yesaya 1:19).
Wednesday, October 6, 2010
Tuesday, October 5, 2010
HARUS BERTANGGUNG JAWAB
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2010 -
Baca: Matius 25:14-30
"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Matius 25:21
Tuhan berkuasa mengerjakan segala sesuatu, tapi ada hal-hal tertentu di mana Dia ingin kita menjadi partnerNya karena kita diciptakanNya untuk sebuah misi. Dia ingin kita mau bekerjasama dengan Dia.
Tugas yang Tuhan Yesus jalankan semasa ada di bumi sekarang menjadi tugas dan tanggungjawab kita karena kita merupakan Tubuh Kristus. Dia telah memilih kita sebagai kawan sekerjaNya dan memilih kita untuk mengambil bagian dalam memenuhi tujuan dan rencanaNya, seperti dikatakan Paulus, "...kami adalah kawan sekerja Allah;" (1 Korintus 3:9a). Meski demikian Tuhan tidak pernah memaksa kita. Pilihan tetap ada di tangan kita: mau atau tidak!
Banyak orang Kristen yang tidak produktif karena mereka meremehkan ketaatan kepada Tuhan. Mereka menolak bekerjasama dengan Tuhan karena kemalasan dan ketidaktaatannya. Maka Tuhan pun akan membiarkan mereka, sebab tak perlu Tuhan memaksakan kehendak kepada manusia. Banyak orang dengan anugerah Allah melalui iman telah lahir baru, tapi kemudian mereka gagal bekerjasama dengan Roh Kudus dalam hidup kekudusannya, yang merupakan proses untuk menjadi semakin hari semakin serupa dengna Kristus. Mereka tetap menjadi orang Kristen yang kerdil dan tidak berbuah. Orang-orang seperti ini biasanya akan menyalahkan Tuhan, seperti hamba yang menerima satu talenta; katanya, "Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!" (Matius 25:24-25). Sudah tentu tuannya sangat marah dan akhirnya menjatuhkan hukuman. Tidak seharusnya mereka menyalahkan Tuhan atas kegagalannya karena mereka sendiri yang telah menolak atau meremehkan untuk tidak bekerjasama dengan Tuhan. Karena itu mereka tak akan pernah mengembangkan akarnya mencapai kedalaman yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan buah.
Setiap orang Kristen bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mereka peroleh dari Tuhan; bila tak bertanggungjawab, yang mereka terima itu akan diambil kembali.
Baca: Matius 25:14-30
"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Matius 25:21
Tuhan berkuasa mengerjakan segala sesuatu, tapi ada hal-hal tertentu di mana Dia ingin kita menjadi partnerNya karena kita diciptakanNya untuk sebuah misi. Dia ingin kita mau bekerjasama dengan Dia.
Tugas yang Tuhan Yesus jalankan semasa ada di bumi sekarang menjadi tugas dan tanggungjawab kita karena kita merupakan Tubuh Kristus. Dia telah memilih kita sebagai kawan sekerjaNya dan memilih kita untuk mengambil bagian dalam memenuhi tujuan dan rencanaNya, seperti dikatakan Paulus, "...kami adalah kawan sekerja Allah;" (1 Korintus 3:9a). Meski demikian Tuhan tidak pernah memaksa kita. Pilihan tetap ada di tangan kita: mau atau tidak!
Banyak orang Kristen yang tidak produktif karena mereka meremehkan ketaatan kepada Tuhan. Mereka menolak bekerjasama dengan Tuhan karena kemalasan dan ketidaktaatannya. Maka Tuhan pun akan membiarkan mereka, sebab tak perlu Tuhan memaksakan kehendak kepada manusia. Banyak orang dengan anugerah Allah melalui iman telah lahir baru, tapi kemudian mereka gagal bekerjasama dengan Roh Kudus dalam hidup kekudusannya, yang merupakan proses untuk menjadi semakin hari semakin serupa dengna Kristus. Mereka tetap menjadi orang Kristen yang kerdil dan tidak berbuah. Orang-orang seperti ini biasanya akan menyalahkan Tuhan, seperti hamba yang menerima satu talenta; katanya, "Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!" (Matius 25:24-25). Sudah tentu tuannya sangat marah dan akhirnya menjatuhkan hukuman. Tidak seharusnya mereka menyalahkan Tuhan atas kegagalannya karena mereka sendiri yang telah menolak atau meremehkan untuk tidak bekerjasama dengan Tuhan. Karena itu mereka tak akan pernah mengembangkan akarnya mencapai kedalaman yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan buah.
Setiap orang Kristen bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mereka peroleh dari Tuhan; bila tak bertanggungjawab, yang mereka terima itu akan diambil kembali.
Monday, October 4, 2010
KOMPONEN-KOMPONEN DOA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2010 -
Baca: Habakuk 2:1-5
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." Habakuk 2:3
Ketiga. Kita harus sabar menanti jawaban dari Tuhan. Tuhan Yesus berkata, "Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (Matius 26:38b). Tinggallah di sini mengandung arti bahwa kita harus belajar bersabar dan tetap tekun menunggu jawaban doa. Seberapa sabar kita menanti-nantikan Tuhan? Sebagian besar orang Kristen tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Maunya doa kita langsung dijawab Tuhan dalam waktu semalam. Kita menginginkan segala sesuatu dengan instan. Saat doa kita belum dijawab Tuhan kita langsung kecewa, tidak lagi bertekun mencari Dia, bahkan dengan secepat kilat kita meninggalkan Tuhan dengan segala keluh dan omelan. Daud menasihati. "Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!" (Mazmur 27:14), karena "...semua orang yang menantikan Engkau (Tuhan) takkan mendapat malu;" (Mazmur 25:3a). Seringkali doa kita tidak dijawab karena kita tidak mau bertahan dalam doa sampai terobosan terjadi. Periode penantian berlaku menurut waktu Tuhan. Ini adalah masa inkubasi di mana Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima curahan apa yang telah direncanakanNya bagi kita. Ketika kita masuk di dalam doa untuk pergumulan yang berat, seperti juga dialami oleh Tuhan Yesus saat di Getsemani, kita harus berjaga-jaga karena saat itu kita masuk di dalam peperangan rohani sebab Iblis tidak pernah senang melihat kita menerima jawaban doa dari Tuhan.
Keempat. Kita harus berdoa dengan kerendahan hati. "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa,..." (Matius 26:39). Sikap Yesus yang sujud sampai ke tanah adalah bukti nyata akan kondisi hatiNya. Dia adalah seorang yang rendah hati. Yesus tahu bahwa kunci untuk menerima jawaban atas doa-doaNya itu adalah kerendahan hati. Firman Tuhan berkata, "...barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Matis 23:12). Setiap kali kita berdoa kita harus menunjukkan sikap hormat dan penuh penghargaan kepada Tuhan, karena Dia Allah yang patut kita sembah. Doa yang kita sertai dengan penyembahan akan menggerakkan tangan Tuhan untuk bertindak.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Yakobus 5:16b
Baca: Habakuk 2:1-5
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." Habakuk 2:3
Ketiga. Kita harus sabar menanti jawaban dari Tuhan. Tuhan Yesus berkata, "Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." (Matius 26:38b). Tinggallah di sini mengandung arti bahwa kita harus belajar bersabar dan tetap tekun menunggu jawaban doa. Seberapa sabar kita menanti-nantikan Tuhan? Sebagian besar orang Kristen tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Maunya doa kita langsung dijawab Tuhan dalam waktu semalam. Kita menginginkan segala sesuatu dengan instan. Saat doa kita belum dijawab Tuhan kita langsung kecewa, tidak lagi bertekun mencari Dia, bahkan dengan secepat kilat kita meninggalkan Tuhan dengan segala keluh dan omelan. Daud menasihati. "Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!" (Mazmur 27:14), karena "...semua orang yang menantikan Engkau (Tuhan) takkan mendapat malu;" (Mazmur 25:3a). Seringkali doa kita tidak dijawab karena kita tidak mau bertahan dalam doa sampai terobosan terjadi. Periode penantian berlaku menurut waktu Tuhan. Ini adalah masa inkubasi di mana Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima curahan apa yang telah direncanakanNya bagi kita. Ketika kita masuk di dalam doa untuk pergumulan yang berat, seperti juga dialami oleh Tuhan Yesus saat di Getsemani, kita harus berjaga-jaga karena saat itu kita masuk di dalam peperangan rohani sebab Iblis tidak pernah senang melihat kita menerima jawaban doa dari Tuhan.
Keempat. Kita harus berdoa dengan kerendahan hati. "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa,..." (Matius 26:39). Sikap Yesus yang sujud sampai ke tanah adalah bukti nyata akan kondisi hatiNya. Dia adalah seorang yang rendah hati. Yesus tahu bahwa kunci untuk menerima jawaban atas doa-doaNya itu adalah kerendahan hati. Firman Tuhan berkata, "...barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Matis 23:12). Setiap kali kita berdoa kita harus menunjukkan sikap hormat dan penuh penghargaan kepada Tuhan, karena Dia Allah yang patut kita sembah. Doa yang kita sertai dengan penyembahan akan menggerakkan tangan Tuhan untuk bertindak.
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Yakobus 5:16b
Sunday, October 3, 2010
KOMPONEN-KOMPONEN DOA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2010 -
Baca: Matius 26:36-46
"Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: 'Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.' " Matius 26:36b.
Saudara ingin menjadi seorang Kristen yang diberkati? Sukses? Mengalami lawatan Tuhan dan dipakai olehNya? Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa. Kecerdasan dan keahlian yang kita miliki belumlah cukup, harus disertai pula dengan doa. Doa itu nafas hidup orang percaya! Tanpa doa, kita tidak akan mengalami terobosan dalam hidup ini. Jadi, jangan kita meremehkan atau menganggap sepele doa karena dalam doa terkandung kuasa yang dahsyat! Alkitab menulis: "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).
Ada hal-hal penting yang harus kita perhatikan dalam berdoa: Pertama. Kita harus memiliki tempat yang khusus untuk berdoa (Matius 26:36a). Tertulis: "Maka sampailah Yesus bersama murid-muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani." Ketika kita datang berdoa kepada Tuhan, usahakanlah memilih suatu tempat yang khusus, baik itu di rumah, ruangan pribadi, di menara doa atau gereja, karena ruangan yang biasa kita pakai untuk berdoa terus-menerus dan telah kita doakan secara khusus akan menjadi tempat perjanjian kita untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi setiap hari. Namun bukan berarti kita tidak bisa berdoa di sembarang tempat, tetapi alangkah baiknya jika ada tempat khusus dan waktu khusus yang kita sediakan secara rutin untuk bersaat teduh dengan Tuhan setiap hari.
Kedua. Kita harus berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan. Saat kita berdoa untuk suatu permohonan, kita harus tahu apa kehendak Tuhan bagi permohonan yang kita doakan itu. Seringkali kita berdoa menurut kehendak dan keinginan diri kita sendiri, serta untuk memuaskan nafsu kita, seperti dikatakan: "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3); doa semacam ini tidaklah akan dijawab oleh Tuhan. Atau kita berdoa, tapi kita melakukannya dengan asal-asalan atau tidak sungguh-sungguh. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang senantiasa bersungguh hati saat berdoa, "HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya." (Matius 26:38a). Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini menggambarkan suatu pergumulan yang begitu berat. Karena itu Yesus berdoa dengan penyerahan total, bahkan sampai berkeringat darah. (Berlanjut)
Baca: Matius 26:36-46
"Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: 'Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.' " Matius 26:36b.
Saudara ingin menjadi seorang Kristen yang diberkati? Sukses? Mengalami lawatan Tuhan dan dipakai olehNya? Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa. Kecerdasan dan keahlian yang kita miliki belumlah cukup, harus disertai pula dengan doa. Doa itu nafas hidup orang percaya! Tanpa doa, kita tidak akan mengalami terobosan dalam hidup ini. Jadi, jangan kita meremehkan atau menganggap sepele doa karena dalam doa terkandung kuasa yang dahsyat! Alkitab menulis: "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).
Ada hal-hal penting yang harus kita perhatikan dalam berdoa: Pertama. Kita harus memiliki tempat yang khusus untuk berdoa (Matius 26:36a). Tertulis: "Maka sampailah Yesus bersama murid-muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani." Ketika kita datang berdoa kepada Tuhan, usahakanlah memilih suatu tempat yang khusus, baik itu di rumah, ruangan pribadi, di menara doa atau gereja, karena ruangan yang biasa kita pakai untuk berdoa terus-menerus dan telah kita doakan secara khusus akan menjadi tempat perjanjian kita untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi setiap hari. Namun bukan berarti kita tidak bisa berdoa di sembarang tempat, tetapi alangkah baiknya jika ada tempat khusus dan waktu khusus yang kita sediakan secara rutin untuk bersaat teduh dengan Tuhan setiap hari.
Kedua. Kita harus berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan. Saat kita berdoa untuk suatu permohonan, kita harus tahu apa kehendak Tuhan bagi permohonan yang kita doakan itu. Seringkali kita berdoa menurut kehendak dan keinginan diri kita sendiri, serta untuk memuaskan nafsu kita, seperti dikatakan: "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3); doa semacam ini tidaklah akan dijawab oleh Tuhan. Atau kita berdoa, tapi kita melakukannya dengan asal-asalan atau tidak sungguh-sungguh. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang senantiasa bersungguh hati saat berdoa, "HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya." (Matius 26:38a). Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini menggambarkan suatu pergumulan yang begitu berat. Karena itu Yesus berdoa dengan penyerahan total, bahkan sampai berkeringat darah. (Berlanjut)
Saturday, October 2, 2010
BANGUNAN KUAT: Hal Merespons Firman
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2010 -
Baca: Lukas 6:46-49
"...Orang yang menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyangkan, karena rumah itu kokoh dibangun." Lukas 6:48
Setelah kita memiliki fondasi yang kuat dan kokoh yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka selanjutnya kita perlu belajar membangun iman kita dengan sungguh di atas fondasi itu. Mengapa kita harus membangun iman kita? Karena perjalanan hidup orang percaya tidak selamanya mulus, terbebas dari ujian, masalah atau penderitaan; terkadang ada angin, banjir dan juga badai.
Bagaimana cara membangun iman kita? Dikatakan: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan perkataanKu serta melakukannya - ..." (ayat 47). Jadi kita harus menyukai firman, seperti yang dilakukan Daud: "aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku; TauratMu ada dalam dadaku." (Mazmur 40:9). Dengan mendengar, mempelajari, merenungkan dan melakukan atau mempraktekkan firman setiap hari, kita bukan saja memiliki dasar yang kokoh, namun 'bangunan' kehidupan rohani kita juga akan tahan dan tidak tergoyahkan meski ada badai yang menyerang.
Semakin kita rindu mengenal Tuhan Yesus, akan semakin tekun pula kita mempelajari firman Tuhan. Respons atau tanggapan kita terhadap firmanNya akan menentukan pengenalan kita terhadap kuasa firman itu. Jika kita sudah membaca firman Tuhan bekali-kali namun kita tetap saja belum mengalami kuasa firman itu bukanlah berarti bahwa firman tersebut tidak ada kuasanya. Yang penting diperhatikan adalah: sudah benarkah respons kita terhadap firman itu? Ada tertulis: "...buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:21-22).
Bila respons kita benar, maka akan ada satu tindakan nyata dalam hidup kita yaitu kita akan membuang segala sesuatu yang kotor dan meninggalkan kejahatan, lalu menerima firman itu dengan lemah lembut, berarti kita tunduk.
Kehidupan rohani kita akan kuat bila respons dan sikap hati kita terhadap firman, benar!
Baca: Lukas 6:46-49
"...Orang yang menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyangkan, karena rumah itu kokoh dibangun." Lukas 6:48
Setelah kita memiliki fondasi yang kuat dan kokoh yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka selanjutnya kita perlu belajar membangun iman kita dengan sungguh di atas fondasi itu. Mengapa kita harus membangun iman kita? Karena perjalanan hidup orang percaya tidak selamanya mulus, terbebas dari ujian, masalah atau penderitaan; terkadang ada angin, banjir dan juga badai.
Bagaimana cara membangun iman kita? Dikatakan: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan perkataanKu serta melakukannya - ..." (ayat 47). Jadi kita harus menyukai firman, seperti yang dilakukan Daud: "aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku; TauratMu ada dalam dadaku." (Mazmur 40:9). Dengan mendengar, mempelajari, merenungkan dan melakukan atau mempraktekkan firman setiap hari, kita bukan saja memiliki dasar yang kokoh, namun 'bangunan' kehidupan rohani kita juga akan tahan dan tidak tergoyahkan meski ada badai yang menyerang.
Semakin kita rindu mengenal Tuhan Yesus, akan semakin tekun pula kita mempelajari firman Tuhan. Respons atau tanggapan kita terhadap firmanNya akan menentukan pengenalan kita terhadap kuasa firman itu. Jika kita sudah membaca firman Tuhan bekali-kali namun kita tetap saja belum mengalami kuasa firman itu bukanlah berarti bahwa firman tersebut tidak ada kuasanya. Yang penting diperhatikan adalah: sudah benarkah respons kita terhadap firman itu? Ada tertulis: "...buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:21-22).
Bila respons kita benar, maka akan ada satu tindakan nyata dalam hidup kita yaitu kita akan membuang segala sesuatu yang kotor dan meninggalkan kejahatan, lalu menerima firman itu dengan lemah lembut, berarti kita tunduk.
Kehidupan rohani kita akan kuat bila respons dan sikap hati kita terhadap firman, benar!
Friday, October 1, 2010
YESUS KRISTUS: Fondasi Hidup Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Oktober 2010 -
Baca: Mazmur 11:1-7
"Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?" Mazmur 11:3
Negara Jepang adalah salah satu negara yang rentan bencana gempa. Kita tahu apabila terjadi bencana gempa yang dahsyat ribuan bahkan jutaan manusia menjadi korban. Akibat bencana itu gedung-gedung roboh dan hancur, rata dengan tanah. Oleh karena itu para ahli beusaha bagaimana bisa membangun sebuah gedung yang antigempa, minimal tahan gempa; tidak hanya di Jepang tapi di negara-negara yang lain pun demikian. Pastinya mereka akan membuat fondasi yang kuat terlebih dahulu supaya bangunan yang hendak didirikan di atasnya juga kuat berdiri. Jadi, hal terpenting dari suatu bangunan adalah fondasinya. Kualitas fondasi sebuah bangunan menentukan seberapa kokoh, serta setinggi apa bangunan bisa dibangun di atasnya.
Kehidupan orang percaya juga diumpamakan seperti sebuah bangunan, yang juga sangat ditentukan oleh kualitas 'fondasi' yang ada. Apakah yang menjadi fondasi hidup orang percaya? Alkitab jelas menetapkan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi kita bukanlah kartu keanggotaan kita di gereja tertentu, jam terbang pelayanan kita atau jabatan kita di gereja, tetapi hanya Pribadi Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, "...Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:18-19). Di sini Tuhan Yesus sedang berbicara tentang gerejaNya.
Gereja yang 'sejati' tidak dibangun di atas pribadi Petrus, sebagai gambaran tentang keadaan manusia yang mudah goyah dan rapuh seperti kerikil kecil. Apabila gereja Tuhan dibangun di atas pribadi manusia (Petrus), maka gereja akan menjadi mudah rapuh dan tidak bisa berdiri dengan kokoh. Ini bisa terlihat dari kehidupan Petrus sendiri yang mudah goyah, bahkan pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Jadi, satu-satunya fondasi yang kuat dan kokoh bagi kehidupan orang percaya adalah batu karang Yesus Kristus.
Sebesar apa pun badai menerpa, gerejaNya akan tetap kokoh di atas fondasi Yesus Kristus!
Baca: Mazmur 11:1-7
"Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?" Mazmur 11:3
Negara Jepang adalah salah satu negara yang rentan bencana gempa. Kita tahu apabila terjadi bencana gempa yang dahsyat ribuan bahkan jutaan manusia menjadi korban. Akibat bencana itu gedung-gedung roboh dan hancur, rata dengan tanah. Oleh karena itu para ahli beusaha bagaimana bisa membangun sebuah gedung yang antigempa, minimal tahan gempa; tidak hanya di Jepang tapi di negara-negara yang lain pun demikian. Pastinya mereka akan membuat fondasi yang kuat terlebih dahulu supaya bangunan yang hendak didirikan di atasnya juga kuat berdiri. Jadi, hal terpenting dari suatu bangunan adalah fondasinya. Kualitas fondasi sebuah bangunan menentukan seberapa kokoh, serta setinggi apa bangunan bisa dibangun di atasnya.
Kehidupan orang percaya juga diumpamakan seperti sebuah bangunan, yang juga sangat ditentukan oleh kualitas 'fondasi' yang ada. Apakah yang menjadi fondasi hidup orang percaya? Alkitab jelas menetapkan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi kita bukanlah kartu keanggotaan kita di gereja tertentu, jam terbang pelayanan kita atau jabatan kita di gereja, tetapi hanya Pribadi Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, "...Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:18-19). Di sini Tuhan Yesus sedang berbicara tentang gerejaNya.
Gereja yang 'sejati' tidak dibangun di atas pribadi Petrus, sebagai gambaran tentang keadaan manusia yang mudah goyah dan rapuh seperti kerikil kecil. Apabila gereja Tuhan dibangun di atas pribadi manusia (Petrus), maka gereja akan menjadi mudah rapuh dan tidak bisa berdiri dengan kokoh. Ini bisa terlihat dari kehidupan Petrus sendiri yang mudah goyah, bahkan pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Jadi, satu-satunya fondasi yang kuat dan kokoh bagi kehidupan orang percaya adalah batu karang Yesus Kristus.
Sebesar apa pun badai menerpa, gerejaNya akan tetap kokoh di atas fondasi Yesus Kristus!
Thursday, September 30, 2010
BAPA SAYANG KEPADA KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 September 2010 -
Baca: Mazmur 103:1-22
"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Mazmur 103:13
Hari ini kita menapaki hari terakhir dalam bulan September. Kita akui, bila kita dapat menjalani dan melewati hari-hari sulit yang penuh dengan pergumulan ini, semua karena penyertaan Tuhan, seperti diungkapkan Sari Simorangkir dalam lagunya: "Bukan dengan kekuatanku, kudapat jalani hidupku. Tanpa Tuhan yang di sampingku, kutak mampu sendiri. Engkau kuatku... yang menopangku!"
Kekuatan, kemampuan, kepintaran dan apa saja yang kita miliki dan mungkin selama ini kita bangga-banggakan sia-sia jika tanpa Tuhan. Namun kita patut berbangga memiliki Allah di dalam nama Tuhan Yesus, karena Dia adalah Bapa yang sangat baik bagi kita. Kata Daud, "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Kalau Bapa di sorga tidak menyayangkan AnakNya dikorbankan untuk keselamatan manusia (baca Roma 8:32), Bapa juga pasti sangat menyayangi anak-anakNya yang percaya dan yang senantiasa mengandalkan Dia dalam segala hal. Oleh karena itu mari kita hidup selalu menyenangkan hati Bapa di setiap tingkah laku, perkataan dan juga perbuatan kita. Bila hidup kita berkenan dan senantiasa menyenangkan Tuhan, maka Dia sebagai Bapa yang baik pasti akan memberi yang terbaik untuk kita. FirmanNya berkata, "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya." (Matius 7:11).
Bukankah sampai saat ini kita telah mengecap kebaikan Tuhan? Dan jika saat ini kita juga mengalami 'didikan dan hajaran' dari Dia, janganlah katakan bahwa Bapa itu jahat atau tidak adil. Dalam Ibrani 12:10 dikatakan, "Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya." Jadi, bapa yang mencintai anaknya pasti juga akan mendidik dan menghajar jika anaknya kedapatan berbuat kesalahan atau melakukan pelanggaran. TeguranNya mendatangkan kebaikan bagi kita.
Berbanggalah memiliki Bapa yang baik!
Baca: Mazmur 103:1-22
"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Mazmur 103:13
Hari ini kita menapaki hari terakhir dalam bulan September. Kita akui, bila kita dapat menjalani dan melewati hari-hari sulit yang penuh dengan pergumulan ini, semua karena penyertaan Tuhan, seperti diungkapkan Sari Simorangkir dalam lagunya: "Bukan dengan kekuatanku, kudapat jalani hidupku. Tanpa Tuhan yang di sampingku, kutak mampu sendiri. Engkau kuatku... yang menopangku!"
Kekuatan, kemampuan, kepintaran dan apa saja yang kita miliki dan mungkin selama ini kita bangga-banggakan sia-sia jika tanpa Tuhan. Namun kita patut berbangga memiliki Allah di dalam nama Tuhan Yesus, karena Dia adalah Bapa yang sangat baik bagi kita. Kata Daud, "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Kalau Bapa di sorga tidak menyayangkan AnakNya dikorbankan untuk keselamatan manusia (baca Roma 8:32), Bapa juga pasti sangat menyayangi anak-anakNya yang percaya dan yang senantiasa mengandalkan Dia dalam segala hal. Oleh karena itu mari kita hidup selalu menyenangkan hati Bapa di setiap tingkah laku, perkataan dan juga perbuatan kita. Bila hidup kita berkenan dan senantiasa menyenangkan Tuhan, maka Dia sebagai Bapa yang baik pasti akan memberi yang terbaik untuk kita. FirmanNya berkata, "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya." (Matius 7:11).
Bukankah sampai saat ini kita telah mengecap kebaikan Tuhan? Dan jika saat ini kita juga mengalami 'didikan dan hajaran' dari Dia, janganlah katakan bahwa Bapa itu jahat atau tidak adil. Dalam Ibrani 12:10 dikatakan, "Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya." Jadi, bapa yang mencintai anaknya pasti juga akan mendidik dan menghajar jika anaknya kedapatan berbuat kesalahan atau melakukan pelanggaran. TeguranNya mendatangkan kebaikan bagi kita.
Berbanggalah memiliki Bapa yang baik!
Subscribe to:
Posts (Atom)