Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 September 2010 -
Baca: Ayub 3:1-26
"Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." Ayub 3:25
Bangsa Israel tidak mengarahkan pandangannya ke depan di mana Tuhan sudah menyediakan suatu kehidupan yang berpengharapan di Kanaan, "...suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,..." (Keluaran 3:8). Sebaliknya, pikiran mereka terus menoleh ke belakang Mesir. Masa lalu di Mesir terus menghantui hati dan pikiran mereka. Mental sebagai budak tetap melekat di benak mereka, padahal mereka sudah dipilih Tuhan sebagai anak-anakNya, umat pilihanNya dan juga kesayanganNya sendiri! Hal ini bisa terlihat, di mana di sepanjang perjalanan menuju Tanah Perjanjian mereka tak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut, kuatir, cemas, bahkan terus membanding-bandingkan hidup mereka saat berada di Mesir. Keluh mereka, "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Keluaran 16:3).
Sesungguhnya, kegagalan mereka mencapai Tanah Perjanjian bukanlah masalah fisik, tetapi masalah mental, masalah alam berpikir mereka yang belum diperbaharui. Karena itu jangan pernah menganggap remeh apa yang kita pikirkan, karena hal itu akan berdampak pada tindakan. Alam pikiran kita acapkali membawa kita pada kenyataan seperti yang kita pikirkan, baik itu berkat atau kutuk. Salomo berkata, "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a). Tuhan tidak pernah merancangkan kegagalan dalam kehidupan kita, sebaliknya "...rancangan damai sejahtera... untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11).
Stop mengeluh, bersungut-sungut dan juga kuatir! Buang itu semua dari pikiran kita! Hal-hal itu hanya akan merugikan diri kita sendiri dan juga menjadi penghambat kemajuan kita, bahkan keadaan kita justru akan semakin buruk. Mari kita tinggalkan kegagalan, luka dan apa saja di masa lalu yang membuat kita gagal!
Karena di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, maka "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18). Haleluya!
Wednesday, September 29, 2010
Tuesday, September 28, 2010
JANGAN TERBELENGGU MASA LALU (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 September 2010 -
Baca: Lukas 9:57-62
"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Lukas 9:62
Di bawah kepemimpinan Musa bangsa Israel keluar dari perbudakannya di Mesir. Pada suatu ketika Tuhan membawa mereka melewati Laut Teberau. Dengan kuasaNya yang ajaib Tuhan membelah laut itu menjadi tanah kering sehingga seluruh orang Israel "...berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka." (Keluaran 14:22). Dan setelah mereka berhasil melewatinya dan sampai ke seberang, laut itu pun menutup kembali, "Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut." (Keluaran 14:30b). Dengan demikian bangsa Israel tidak pernah memiliki jalan untuk kembali lagi ke Mesir.
Melalui peristiwa ini ada makna rohani terkandung: Tuhan ingin seluruh umat Israel menutup lembaran hidup mereka di Mesir serta melupakannya. Sayang, bayangan dan kenangan Mesir tetap melekat dalam hati dan pikiran mereka. Memang secara fisik (kasat mata) mereka tidak dapat kembali lagi ke Mesir; namun dalam hal roh dan pikiran, mreka tidak bersedia menutup pintu kehidupan masa lalu mereka di Mesir. Mereka tidak melepaskan bayangan masa lalu dan tetap bermental seorang budak. Akhirnya mereka tidak pernah mencapai garis akhir, dan hampir semua orang yang keluar dari Mesir akhirnya mati di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Untuk dapat menikmati Kanaan mereka harus bersedia melepaskan jubah seorang budak dan mau mengenakan jubah seorang anak-anak Allah, mengubah pola pikir kita dari status sebagai 'budak' menjadi seorang 'anak'. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:6-7).
Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata, " Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah." Kita harus mengarahkan pandangan ke depan dan jangan pernah menoleh ke belakang. Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu. Mereka tidak mau menutup lembaran masa lalunya sehingga masa lalu itu terus mengejar dan menghantuinya setiap saat. (Bersambung)
Baca: Lukas 9:57-62
"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Lukas 9:62
Di bawah kepemimpinan Musa bangsa Israel keluar dari perbudakannya di Mesir. Pada suatu ketika Tuhan membawa mereka melewati Laut Teberau. Dengan kuasaNya yang ajaib Tuhan membelah laut itu menjadi tanah kering sehingga seluruh orang Israel "...berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka." (Keluaran 14:22). Dan setelah mereka berhasil melewatinya dan sampai ke seberang, laut itu pun menutup kembali, "Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut." (Keluaran 14:30b). Dengan demikian bangsa Israel tidak pernah memiliki jalan untuk kembali lagi ke Mesir.
Melalui peristiwa ini ada makna rohani terkandung: Tuhan ingin seluruh umat Israel menutup lembaran hidup mereka di Mesir serta melupakannya. Sayang, bayangan dan kenangan Mesir tetap melekat dalam hati dan pikiran mereka. Memang secara fisik (kasat mata) mereka tidak dapat kembali lagi ke Mesir; namun dalam hal roh dan pikiran, mreka tidak bersedia menutup pintu kehidupan masa lalu mereka di Mesir. Mereka tidak melepaskan bayangan masa lalu dan tetap bermental seorang budak. Akhirnya mereka tidak pernah mencapai garis akhir, dan hampir semua orang yang keluar dari Mesir akhirnya mati di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Untuk dapat menikmati Kanaan mereka harus bersedia melepaskan jubah seorang budak dan mau mengenakan jubah seorang anak-anak Allah, mengubah pola pikir kita dari status sebagai 'budak' menjadi seorang 'anak'. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:6-7).
Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata, " Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah." Kita harus mengarahkan pandangan ke depan dan jangan pernah menoleh ke belakang. Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu. Mereka tidak mau menutup lembaran masa lalunya sehingga masa lalu itu terus mengejar dan menghantuinya setiap saat. (Bersambung)
Monday, September 27, 2010
TUHAN TAHU PERGUMULAN KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 September 2010 -
Baca: 1 Samuel 2:1-10
"Hatiku bersukaria karena Tuhan, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh Tuhan; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolonganMu." 1 Samuel 2:1
Dalam 1 Samuel 1 dikisahkan seorang wanita bernama Hana, istri Elkana. Ia adalah seorang perempuan yang mandul, "...sebab Tuhan telah menutup kandungannya." (1 Samuel 1:5). Artinya Hana tidak mungkin memiliki anak karena kandungannya telah tertutup. Pada zaman itu tidak memiliki anak merupakan aib bagi para perempuan karena seorang perempuan yang mandul dianggap tidak diberkati Tuhan. Itulah sebabnya Hana mengalami pergumulan yang cukup berat. Hampir setiap hari ia menerima ejekan, cibiran dan juga hinaan karena ia tidak mempunyai keturunan, apalagi yang menghinanya adalah 'madu' nya sendiri yaitu Penina. Bisa dibayangkan betapa sakit dan hancurnya hati Hana! Meskipun demikian Hana tidak menyerah begitu saja. Ia tekun mencari Tuhan serta mencurahkan isi hati dan kesedihannya itu kepada Tuhan. Dan akhirnya jeritan hati Hana itu menggerakkan hati Tuhan. Hana memperoleh jawaban doa; Tuhan menjamah kandungannya hingga ia dapat mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Bahkan anaknya bukanlah sembarang anak, anak itu adalah seorang nabi Allah di jaman raja Saul dan Daud, dialah nabi Samuel yang lahir dari rahimnya.
Mungkin apa yang terjadi dalam diri Hana juga sedang kita alami: pergumulan yang sangat berat seperti 'langit yang tertutup awan tebal'. Berbagai cara sudah kita tempuh, tapi seolah-olah 'mendung itu tetap kelabu', dan akhirnya kita pun putus asa. Dalam kondisi terpuruk seperti ini yang kita butuhkan adalah perubahan dalam hidup kita. Suatu ketika Hana bernazar kepada Tuhan, dan ia berjanji apabila Tuhan menjawab doanya dan memberikan seorang anak baginya, ia akan menyerahkan anak itu kepada Tuhan. Dan Hana menepati janji itu, padahal anak itu sangat berharga dalam hidup Hana, tapi ia rela menyerahkan kepada Tuhan.
Bagaimana kita? Adakah kita memiliki penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya? Selain itu, Hana memiliki ketekunan dalam memelihara jam-jam ibadahnya. Tertulis: "Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan Tuhan;" (1 Samuel 1:19a).
Bila sampai saat ini kita belum menikmati janji Tuhan, belajarlah punya penyerahan diri kepada Tuhan dan jangan abaikan jam-jam ibadah yang ada!
Baca: 1 Samuel 2:1-10
"Hatiku bersukaria karena Tuhan, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh Tuhan; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolonganMu." 1 Samuel 2:1
Dalam 1 Samuel 1 dikisahkan seorang wanita bernama Hana, istri Elkana. Ia adalah seorang perempuan yang mandul, "...sebab Tuhan telah menutup kandungannya." (1 Samuel 1:5). Artinya Hana tidak mungkin memiliki anak karena kandungannya telah tertutup. Pada zaman itu tidak memiliki anak merupakan aib bagi para perempuan karena seorang perempuan yang mandul dianggap tidak diberkati Tuhan. Itulah sebabnya Hana mengalami pergumulan yang cukup berat. Hampir setiap hari ia menerima ejekan, cibiran dan juga hinaan karena ia tidak mempunyai keturunan, apalagi yang menghinanya adalah 'madu' nya sendiri yaitu Penina. Bisa dibayangkan betapa sakit dan hancurnya hati Hana! Meskipun demikian Hana tidak menyerah begitu saja. Ia tekun mencari Tuhan serta mencurahkan isi hati dan kesedihannya itu kepada Tuhan. Dan akhirnya jeritan hati Hana itu menggerakkan hati Tuhan. Hana memperoleh jawaban doa; Tuhan menjamah kandungannya hingga ia dapat mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Bahkan anaknya bukanlah sembarang anak, anak itu adalah seorang nabi Allah di jaman raja Saul dan Daud, dialah nabi Samuel yang lahir dari rahimnya.
Mungkin apa yang terjadi dalam diri Hana juga sedang kita alami: pergumulan yang sangat berat seperti 'langit yang tertutup awan tebal'. Berbagai cara sudah kita tempuh, tapi seolah-olah 'mendung itu tetap kelabu', dan akhirnya kita pun putus asa. Dalam kondisi terpuruk seperti ini yang kita butuhkan adalah perubahan dalam hidup kita. Suatu ketika Hana bernazar kepada Tuhan, dan ia berjanji apabila Tuhan menjawab doanya dan memberikan seorang anak baginya, ia akan menyerahkan anak itu kepada Tuhan. Dan Hana menepati janji itu, padahal anak itu sangat berharga dalam hidup Hana, tapi ia rela menyerahkan kepada Tuhan.
Bagaimana kita? Adakah kita memiliki penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya? Selain itu, Hana memiliki ketekunan dalam memelihara jam-jam ibadahnya. Tertulis: "Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan Tuhan;" (1 Samuel 1:19a).
Bila sampai saat ini kita belum menikmati janji Tuhan, belajarlah punya penyerahan diri kepada Tuhan dan jangan abaikan jam-jam ibadah yang ada!
Sunday, September 26, 2010
TABIR BAIT SUCI TERBELAH DUA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 September 2010 -
Baca: Markus 15:33-41
"Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." Markus 15:38
Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa hadirat Allah itu bersemayam di dalam bait yang dibuat oleh manusia. Namun, ketika Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, tabir Bait Suci yang memisahkan hadirat Allah di dalam Ruang yang Kudus dan yang Mahakudus terbelah dari atas sampai ke bawah.
Sekarang Hadirat Allah tidak saja untuk kita, tetapi Dia juga di dalam kita. Hal ini menjadi fakta yang harus kita percayai, karena firmanNya mengatakan, "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Syukur kepada Tuhan! Kini kita tidak perlu takut terhadap apa pun yang ada di dunia, karena 'lebih besar Roh (Allah) yang ada di dalam kita, dari pada dia (roh) yang ada di dalam dunia.' Jadi sangat jelas bahwa Allah kita di dalam nama Tuhan Yesus lebih besar dari semua ujian dan persoalan yang sedang kita alami dan hadapi di dunia ini. Dia lebih besar daripada segala krisis apa pun: sakit-penyakit, keuangan, atau penderitaan. Dia Mahabesar dan yang Terbesar! Roh Kudus yang lebih besar dari pada segala roh yang ada di dunia akan selalu menolong kita! Alkitab berkata, "tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan." (Ibrani 3:6).
Rumah Allah adalah gereja dan kita sebagai kesatuan adalah gerejaNya. Ketika tabir Bait Suci terbelah dari atas sampai bawah, tak ada lagi halangan bagi kita untuk masuk ke ruang Mahakudus melalui Yesus - Imam Besar Agung itu, seperti tertulis; "Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:14-15). Tuhan ada di dalam kita dan Ia pun turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Jangan pernah takut!
"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." Ibrani 4:16
Baca: Markus 15:33-41
"Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." Markus 15:38
Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa hadirat Allah itu bersemayam di dalam bait yang dibuat oleh manusia. Namun, ketika Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, tabir Bait Suci yang memisahkan hadirat Allah di dalam Ruang yang Kudus dan yang Mahakudus terbelah dari atas sampai ke bawah.
Sekarang Hadirat Allah tidak saja untuk kita, tetapi Dia juga di dalam kita. Hal ini menjadi fakta yang harus kita percayai, karena firmanNya mengatakan, "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4). Syukur kepada Tuhan! Kini kita tidak perlu takut terhadap apa pun yang ada di dunia, karena 'lebih besar Roh (Allah) yang ada di dalam kita, dari pada dia (roh) yang ada di dalam dunia.' Jadi sangat jelas bahwa Allah kita di dalam nama Tuhan Yesus lebih besar dari semua ujian dan persoalan yang sedang kita alami dan hadapi di dunia ini. Dia lebih besar daripada segala krisis apa pun: sakit-penyakit, keuangan, atau penderitaan. Dia Mahabesar dan yang Terbesar! Roh Kudus yang lebih besar dari pada segala roh yang ada di dunia akan selalu menolong kita! Alkitab berkata, "tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan." (Ibrani 3:6).
Rumah Allah adalah gereja dan kita sebagai kesatuan adalah gerejaNya. Ketika tabir Bait Suci terbelah dari atas sampai bawah, tak ada lagi halangan bagi kita untuk masuk ke ruang Mahakudus melalui Yesus - Imam Besar Agung itu, seperti tertulis; "Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:14-15). Tuhan ada di dalam kita dan Ia pun turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Jangan pernah takut!
"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." Ibrani 4:16
Saturday, September 25, 2010
MENGHORMATI NAMA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 September 2010 -
Baca: Maleakhi 3:13-18
"Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman Tuhan." Maleakhi 3:13a
Banyak orang beranggapan bahwa apa pun yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak diketahui Tuhan. Namun Alkitab jelas menyatakan: "...tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13).
Dalam kitab Maleakhi ini ditunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mendata secara detil semua cara yang dilakukan umatNya untuk menolak kasih yang telah Allah berikan, dengan ketidaktaatan mereka. Manusia seringkali tidak menyadari akan pertolongan dan bimbingan Tuhan dalam hidupnya. Mereka menganggap bahwa semua yang telah mereka capai selama ini adalah buah dari kerja kerasnya sendiri, tanpa embel-embel. Namun, pada saat manusia mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka mulai mengkambinghitamkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak peduli terhadap dirinya. Bangsa Israel, yang adalah bangsa pilihan Tuhan dan umat kesayanganNya sendiri, justru menanggapi apa yang Tuhan telah berikan dan nyatakan sebagai kasihNya terhadap bangsa itu dengan meragukan kesungguhan hati Tuhan. Ketika Tuhan meminta supaya bangsa itu kembali kepadaNya dan mau bertobat dari jalannya yang sesat dan kurang percaya itu, agar mereka kembali menerima apa yang baik dari Tuhan, mereka malah balik bertanya dan menantang Tuhan dengan berkata, "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?" (Maleakhi 3:7b). Kita pun seringkali bersikap demikian, setengah hati dalam iman. Tampaknya kita begitu mengasihi Tuhan dan melayani Dia, padahal sesungguhnya kita sedang mengasihi dan melayani diri sendiri atau ego kita. Kita melakukan segala sesuatu bukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, tetapi mencari nama dan hormat untuk diri kita sendiri.
Saat ini Tuhan sedang mencari orang-orang yang menghormati namaNya (ayat 16) yaitu orang-orang yang takut akan Dia, bukan orang yang suka membantah kehendak Tuhan, orang-orang yang mau berbicara kepada yang lain tentang perbuatanNya yang besar. Merekalah yang akan menjadi milik kesayangan Tuhan (ayat 17).
Apakah kita termasuk di dalamnya? Ataukah kita seperti bangsa Israel yang tidak menghormati Tuhan?
Baca: Maleakhi 3:13-18
"Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman Tuhan." Maleakhi 3:13a
Banyak orang beranggapan bahwa apa pun yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak diketahui Tuhan. Namun Alkitab jelas menyatakan: "...tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13).
Dalam kitab Maleakhi ini ditunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mendata secara detil semua cara yang dilakukan umatNya untuk menolak kasih yang telah Allah berikan, dengan ketidaktaatan mereka. Manusia seringkali tidak menyadari akan pertolongan dan bimbingan Tuhan dalam hidupnya. Mereka menganggap bahwa semua yang telah mereka capai selama ini adalah buah dari kerja kerasnya sendiri, tanpa embel-embel. Namun, pada saat manusia mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka mulai mengkambinghitamkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak peduli terhadap dirinya. Bangsa Israel, yang adalah bangsa pilihan Tuhan dan umat kesayanganNya sendiri, justru menanggapi apa yang Tuhan telah berikan dan nyatakan sebagai kasihNya terhadap bangsa itu dengan meragukan kesungguhan hati Tuhan. Ketika Tuhan meminta supaya bangsa itu kembali kepadaNya dan mau bertobat dari jalannya yang sesat dan kurang percaya itu, agar mereka kembali menerima apa yang baik dari Tuhan, mereka malah balik bertanya dan menantang Tuhan dengan berkata, "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?" (Maleakhi 3:7b). Kita pun seringkali bersikap demikian, setengah hati dalam iman. Tampaknya kita begitu mengasihi Tuhan dan melayani Dia, padahal sesungguhnya kita sedang mengasihi dan melayani diri sendiri atau ego kita. Kita melakukan segala sesuatu bukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, tetapi mencari nama dan hormat untuk diri kita sendiri.
Saat ini Tuhan sedang mencari orang-orang yang menghormati namaNya (ayat 16) yaitu orang-orang yang takut akan Dia, bukan orang yang suka membantah kehendak Tuhan, orang-orang yang mau berbicara kepada yang lain tentang perbuatanNya yang besar. Merekalah yang akan menjadi milik kesayangan Tuhan (ayat 17).
Apakah kita termasuk di dalamnya? Ataukah kita seperti bangsa Israel yang tidak menghormati Tuhan?
Friday, September 24, 2010
KETEKUNAN: Kunci Mendapatkan Hasil
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 September 2010 -
Baca: Lukas 8:4-15
"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Lukas 8:15
Suatu ketika seorang mahasiswa pertanian mencoba untuk mempraktekkan ilmu yang ia dapatkan. Mulailah ia menanam biji tanaman buncis rambat di pekarangan rumahnya. Dari hari ke sehari ia dengan tekun merawat dan memperhatikan tanaman buncis tersebut. Saat kelelahan menerpa, dan sambil beristirahat, ia mengamat-amati biji yang ia tabur itu dengan seksama. Dengan sedikit kecewa ia berguman dalam hati, mengapa biji buncis yang ia tanam belum juga menampakkan tanda adanya kehidupan. Pikirnya, apa yang ia lakukan itu tidak sesuai dengan teori yang selama ini dipelajarinya. Adalah manusiawi sekali bila kita akan merasa cepat lelah dan gampang putus asa dalam hal menanti suatu hasil. Kita menghendaki segala sesuatunya serba cepat; sekarang menanam, kalau bisa besoknya dapat kita tuai hasilnya.
Demikian juga di dalam menggantungkan harapan kepada Tuhan, seringkali kita mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dan beragumen dengan Dia, bahwa kita sudah melakukan apa yang baik, apa yang Tuhan mau; tetapi mengapa Tuhan seolah-olah tidak peduli? Di saat itulah timbul rasa iri dalam diri kita: apa bedanya orang yang benar dan orang fasik di hadapan Tuhan? Ketahuilah bahwa Tuhan tidak mungkin dan tidak pernah menyesatkan umatNya, "dari segala yang baik, yang telah dijanjikanNya... tidak ada satupun yang tidak dipenuhi." (1 Raja-Raja 8:56b). Contoh: akan halnya perjalanan bangsa Israel Tuhan tidak pernah gagal dalam setiap rencanaNya. Dengan bergantung kepada Tuhan dalam setiap ketidakmampuan bangsa Israel, Tuhan senantiasa memberi kemampuan supaya mereka dapat masuk ke negeri perjanjian (Kanaan). Oleh karena itu mari kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan dengan tulus dan penuh kesabaran. Tuhan menanti kesungguhan iman kita.
Perumpamaan bacaan di atas mengajarkan bagaimana benih firman Tuhan itu akan menghasilkan tuaian jika di tanam di tanah yang baik. Namun, sebuah benih hanya akan memberi hasil jika tanah tempat di mana ia tabur itu mau menerimanya. Jadi, yakinlah bahwa setiap firman yang keluar tidak akan kembali dengan sia-sia, artinya: pasti menghasilkan.
"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." Ibrani 10:36
Baca: Lukas 8:4-15
"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Lukas 8:15
Suatu ketika seorang mahasiswa pertanian mencoba untuk mempraktekkan ilmu yang ia dapatkan. Mulailah ia menanam biji tanaman buncis rambat di pekarangan rumahnya. Dari hari ke sehari ia dengan tekun merawat dan memperhatikan tanaman buncis tersebut. Saat kelelahan menerpa, dan sambil beristirahat, ia mengamat-amati biji yang ia tabur itu dengan seksama. Dengan sedikit kecewa ia berguman dalam hati, mengapa biji buncis yang ia tanam belum juga menampakkan tanda adanya kehidupan. Pikirnya, apa yang ia lakukan itu tidak sesuai dengan teori yang selama ini dipelajarinya. Adalah manusiawi sekali bila kita akan merasa cepat lelah dan gampang putus asa dalam hal menanti suatu hasil. Kita menghendaki segala sesuatunya serba cepat; sekarang menanam, kalau bisa besoknya dapat kita tuai hasilnya.
Demikian juga di dalam menggantungkan harapan kepada Tuhan, seringkali kita mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan dan beragumen dengan Dia, bahwa kita sudah melakukan apa yang baik, apa yang Tuhan mau; tetapi mengapa Tuhan seolah-olah tidak peduli? Di saat itulah timbul rasa iri dalam diri kita: apa bedanya orang yang benar dan orang fasik di hadapan Tuhan? Ketahuilah bahwa Tuhan tidak mungkin dan tidak pernah menyesatkan umatNya, "dari segala yang baik, yang telah dijanjikanNya... tidak ada satupun yang tidak dipenuhi." (1 Raja-Raja 8:56b). Contoh: akan halnya perjalanan bangsa Israel Tuhan tidak pernah gagal dalam setiap rencanaNya. Dengan bergantung kepada Tuhan dalam setiap ketidakmampuan bangsa Israel, Tuhan senantiasa memberi kemampuan supaya mereka dapat masuk ke negeri perjanjian (Kanaan). Oleh karena itu mari kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan dengan tulus dan penuh kesabaran. Tuhan menanti kesungguhan iman kita.
Perumpamaan bacaan di atas mengajarkan bagaimana benih firman Tuhan itu akan menghasilkan tuaian jika di tanam di tanah yang baik. Namun, sebuah benih hanya akan memberi hasil jika tanah tempat di mana ia tabur itu mau menerimanya. Jadi, yakinlah bahwa setiap firman yang keluar tidak akan kembali dengan sia-sia, artinya: pasti menghasilkan.
"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." Ibrani 10:36
Thursday, September 23, 2010
MILIKI HATI YANG MAU DIBENTUK
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 September 2010 -
Baca: Yeremia 18:1-17
"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." Yeremia 18:4
Sering kita menganggap bahwa seorang yang bekerja sebagai pemulung adalah pekerja yang rendahan dan kita pun memandangnya dengan sebelah mata. Namun, tahukah Saudara bahwa pemulung mencari barang-barang yang masih bisa di daur ulang untuk menjadi barang yang dapat dipergunakan dan mempunyai nilai jual?
Begitupun juga dengan kita. Tuhan rela datang sebagai manusia untuk mengambil kita dari sampah dunia ini dan 'didaur ulang' menjadi sesuatu yang berharga. Dengan darahNya yang kudus tiada bernoda cela, Yesus rela mati untuk menebus kita dari kutuk dosa, sebab firmanNya berkata, "...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Yesaya 1:18). Karya penebusan Tuhan tidak hanya datang melalui ucapanNya tapi melalui tindakan yang nyata, dan Dia sudah membayar harganya dengan begitu mahal, bahkan di batas akhir kekuatanNya. Tertulis: "...mulailah Ia merasa sedih dan gentar, Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: "Ya, BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:37b&39). Begitu berat pergumulan Yesus menjelang penyalibanNya, hingga "...peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:44b)
Ibarat seorang pemulung, Yesus mengambil dan memilih sampah-sampah yang dapat didaur ulang. Dia pun mengambil kita untuk mengembalikan gambar BapaNya yang sudah rusak oleh karena dosa kita. Seperti bejana di tangan Sang penjunan, Dia memproses kita dan itu mungkin menyakitkan bagi daging kita. Tetapi apabila bejana sudah jadi, maka sungguh akan berharga nilainya. Yesus hanya butuh hati yang mau taat dan rela dibentuk untuk menjadi bejana yang indah di mataNya. Memang tidak mudah untuk hidup taat melakukan kehendak Tuhan, karena semua itu berlawanan dengan keinginan daging kita!
Jika kita berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, Dialah yang memberi kita kekuatan untuk melewati proses demi proses!
Baca: Yeremia 18:1-17
"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." Yeremia 18:4
Sering kita menganggap bahwa seorang yang bekerja sebagai pemulung adalah pekerja yang rendahan dan kita pun memandangnya dengan sebelah mata. Namun, tahukah Saudara bahwa pemulung mencari barang-barang yang masih bisa di daur ulang untuk menjadi barang yang dapat dipergunakan dan mempunyai nilai jual?
Begitupun juga dengan kita. Tuhan rela datang sebagai manusia untuk mengambil kita dari sampah dunia ini dan 'didaur ulang' menjadi sesuatu yang berharga. Dengan darahNya yang kudus tiada bernoda cela, Yesus rela mati untuk menebus kita dari kutuk dosa, sebab firmanNya berkata, "...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Yesaya 1:18). Karya penebusan Tuhan tidak hanya datang melalui ucapanNya tapi melalui tindakan yang nyata, dan Dia sudah membayar harganya dengan begitu mahal, bahkan di batas akhir kekuatanNya. Tertulis: "...mulailah Ia merasa sedih dan gentar, Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: "Ya, BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:37b&39). Begitu berat pergumulan Yesus menjelang penyalibanNya, hingga "...peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:44b)
Ibarat seorang pemulung, Yesus mengambil dan memilih sampah-sampah yang dapat didaur ulang. Dia pun mengambil kita untuk mengembalikan gambar BapaNya yang sudah rusak oleh karena dosa kita. Seperti bejana di tangan Sang penjunan, Dia memproses kita dan itu mungkin menyakitkan bagi daging kita. Tetapi apabila bejana sudah jadi, maka sungguh akan berharga nilainya. Yesus hanya butuh hati yang mau taat dan rela dibentuk untuk menjadi bejana yang indah di mataNya. Memang tidak mudah untuk hidup taat melakukan kehendak Tuhan, karena semua itu berlawanan dengan keinginan daging kita!
Jika kita berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, Dialah yang memberi kita kekuatan untuk melewati proses demi proses!
Subscribe to:
Posts (Atom)