Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 September 2010 -
Baca: Efesus 1:3-14
"Aku katakan 'di dalam Kristus', karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendaknya - " Efesus 1:11
Siapa pun orangnya di dunia ini pasti tidak akan pernah menolak bila diberi waisan, apalagi warisan itu dari Tuhan. Alkitab menegaskan bahwa setiap orang percaya di dalam Kristus akan mendapat bagian yang dijanjikan Tuhan.
Hal itu juga disampaikan oleh Petrus, bahwa melalui kelahiran baru kita akan mendapat bagian kita, seperti dikatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4). Selanjutnya Petrus memberikan semangat kepada kita bahwa ada suatu keyakinan, yaitu Allah turut bekerja mewujudkan apa yang dijanjikanNya kepada kita melalui iman kita: "Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir." (1 Petrus 1:5). Inilah jalan keselamatan yang telah ditentukan Allah bagi kita.
Kita boleh saja berjalan dan memilih jalan sendiri, namun jalan itu pasti penuh dengan ketidakpastian karena tak ada jaminan apa-apa melainkan hampa tanpa janji keselamatan bagi yang tersesat. Dunia tak dapat menawarkan keselamatan, hanya Yesus sang Juruselamat yang menyediakan jalan keselamatan sempurna, lengkap dan memuaskan. Tuhan yang penuh kasih juga berjanji menuntun tangan kita dan berjalan menyertai kita: "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mataKu tertuju kepadamu." (Mazmur 32:8). Dia akan menunjukkan kepada kita jalan memperoleh hidup kekal dan akan memberikan kita hidup kekal itu. Percayalah! Dia Allah yang memegang teguh setiap janjiNya.
Menjelang kedatanganNya yang teramat dekat, mari persiapkan diri sebaik mungkin agar bila Dia datang kita tidak kedapatan bercacat cela, sehingga warisan hidup kekal itu menjadi bagian kita!
Wednesday, September 15, 2010
Tuesday, September 14, 2010
TERLUKA KARENA TERTOLAK
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 September 2010 -
Baca: 2 Samuel 16:15-23
"Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel." 2 Samuel 16:22
Absalom adalah salah satu anak Daud. Ia memiliki perawakan nyaris sempurna. Sebagai anak raja, masa kecil Absalom berlimpah kasih sayang dan segala kenyamanan. Ia juga menjadi kebanggaan Daud. Namun semuanya berubah ketika terjadi suatu tragedi di keluarga istana. Absalom membunuh saudara tirinya, Amnon, karena telah memperkosa Tamar, adik kandungnya. Karena kejadian itu hati Daud (ayahnya) menjadi sangat murka. Lalu, Absalom "...melarikan diri dan telah pergi ke Gesur; ia tinggal di sana tiga tahun lamanya." (2 Samuel 13:38). Di kemudian hari dengan bantuan Yoab, Absalom dapat bertemu lagi dengan Daud. Kemarahan Daud telah reda, dan Absalom menerima pengampunan dari ayahnya.
Seiring berjalannya waktu, meski telah dimaafkan dan diampuni kesalahannya oleh ayahnya, ternyata Absalom masih menyimpan dendam dan sakit hati. Ia memberontak, bahkan berusaha untuk membunuh ayahnya. Absalom memberontak bukan karena ia tidak dimaafkan oleh Daud, tetapi di dalam lubuk hatinya tergores luka yang begitu dalam. Sekian lama hidup terpisah dari ayahnya pastilah ia kehilangan banyak hal: perhatian, kasih sayang, fasilitas dan yang terutama adalah keintiman. Sesungguhnya Absalom sangat mendambakan kasih dan penerimaan terhadap dirinya seperti di masa-masa sebelumnya. Sayang, semuanya sudah berlalu, ia tidak pernah bisa mendapatkannya lagi. Absalom merasa dirinya ditolak; hatinya terluka. Sejak saat itu Absalom merasa tidak dicintai lagi. Iblis memanfaatkan celah dalam diri Absalom dan mengambil kesempatan emas ini. Iblis mendorongnya untuk melakukan pemberontakan dan kejahatan yang keji. Ia pun berusaha membunuh Daud dan meniduri gundik-gundik ayahnya di depan banyak orang seperti tertulis: "Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel."
Rasa tertolak dan kehausan akan penerimaan dan kasih yang tidak terpenuhi ternyata dapat melahirkan rasa benci dan dendam. Apa yang dilakukan Absalom itu lahir dari perasaan tidak dicintai dan kehausan akan penerimaan dan pengakuan.
Gambar diri yang rusak serta kegagalan menerima diri sendiri menjadi senjata ampuh Iblis untuk menghancurkan seseorang.
Baca: 2 Samuel 16:15-23
"Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel." 2 Samuel 16:22
Absalom adalah salah satu anak Daud. Ia memiliki perawakan nyaris sempurna. Sebagai anak raja, masa kecil Absalom berlimpah kasih sayang dan segala kenyamanan. Ia juga menjadi kebanggaan Daud. Namun semuanya berubah ketika terjadi suatu tragedi di keluarga istana. Absalom membunuh saudara tirinya, Amnon, karena telah memperkosa Tamar, adik kandungnya. Karena kejadian itu hati Daud (ayahnya) menjadi sangat murka. Lalu, Absalom "...melarikan diri dan telah pergi ke Gesur; ia tinggal di sana tiga tahun lamanya." (2 Samuel 13:38). Di kemudian hari dengan bantuan Yoab, Absalom dapat bertemu lagi dengan Daud. Kemarahan Daud telah reda, dan Absalom menerima pengampunan dari ayahnya.
Seiring berjalannya waktu, meski telah dimaafkan dan diampuni kesalahannya oleh ayahnya, ternyata Absalom masih menyimpan dendam dan sakit hati. Ia memberontak, bahkan berusaha untuk membunuh ayahnya. Absalom memberontak bukan karena ia tidak dimaafkan oleh Daud, tetapi di dalam lubuk hatinya tergores luka yang begitu dalam. Sekian lama hidup terpisah dari ayahnya pastilah ia kehilangan banyak hal: perhatian, kasih sayang, fasilitas dan yang terutama adalah keintiman. Sesungguhnya Absalom sangat mendambakan kasih dan penerimaan terhadap dirinya seperti di masa-masa sebelumnya. Sayang, semuanya sudah berlalu, ia tidak pernah bisa mendapatkannya lagi. Absalom merasa dirinya ditolak; hatinya terluka. Sejak saat itu Absalom merasa tidak dicintai lagi. Iblis memanfaatkan celah dalam diri Absalom dan mengambil kesempatan emas ini. Iblis mendorongnya untuk melakukan pemberontakan dan kejahatan yang keji. Ia pun berusaha membunuh Daud dan meniduri gundik-gundik ayahnya di depan banyak orang seperti tertulis: "Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel."
Rasa tertolak dan kehausan akan penerimaan dan kasih yang tidak terpenuhi ternyata dapat melahirkan rasa benci dan dendam. Apa yang dilakukan Absalom itu lahir dari perasaan tidak dicintai dan kehausan akan penerimaan dan pengakuan.
Gambar diri yang rusak serta kegagalan menerima diri sendiri menjadi senjata ampuh Iblis untuk menghancurkan seseorang.
Monday, September 13, 2010
KASIH: Hukum yang Terutama dan Pertama
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 September 2010 -
Baca: Matius 22:34-40
“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:40
Kekristenan dan kasih tak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan. Tidak ada kekristenan tanpa kasih; kasih itu juga harus menjadi bagian kehidupan orang Kristen. Jika ada orang Kristen yang tidak punya kasih, sia-sialah kekristenannya.
Mengapa kasih sangat penting bagi kita sebagai orang percaya? Karena kasih itu adalah suatu perintah yang harus kita taati, bukan suatu himbauan atau sekedar saran. Tuhan Yesus menegaskan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (ayat 37, 38). Kata kasihilah menunjuk pada suatu perintah. Karena ini suatu perintah, kita harus menaatinya. Melanggarnya sama dengan berbuat dosa. Jadi, kasih adalah pilihan hidup yang harus kita ambil Seringkali kita mengasihi seseorang hanya apabila orang itu juga mengasihi atau memberi keuntungan kepada kita. Sebaliknya, orang yang tidak mengasihi atau memberi kontribusi positif pada kita tidak kita anggap sebagai orang yang perlu dikasihi.
Seringkali bukan kasih yang meninggalkan kita, tetapi kitalah yang meninggalkan kasih itu. Bukti kalau ada kasih di dalam kita adalah kalau kita mengasihi Tuhan dan juga sesama. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi bukti mengasihi orang lain itu tidak ada, berarti kita belum sampai kepada kasih kepada Tuhan. Ada berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia dan juga sesama. FirmanNya berkata, “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi Tuhan, Allahmu, dan beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.” (Ulangan 11:13-15). Jadi, setiap orang yang berlabel Kristen harus punya kasih
“...barangsiapa menuruti firmanNya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah;” (1 Yohanes 2:5a) dan “...ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:21b).
Baca: Matius 22:34-40
“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:40
Kekristenan dan kasih tak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan. Tidak ada kekristenan tanpa kasih; kasih itu juga harus menjadi bagian kehidupan orang Kristen. Jika ada orang Kristen yang tidak punya kasih, sia-sialah kekristenannya.
Mengapa kasih sangat penting bagi kita sebagai orang percaya? Karena kasih itu adalah suatu perintah yang harus kita taati, bukan suatu himbauan atau sekedar saran. Tuhan Yesus menegaskan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (ayat 37, 38). Kata kasihilah menunjuk pada suatu perintah. Karena ini suatu perintah, kita harus menaatinya. Melanggarnya sama dengan berbuat dosa. Jadi, kasih adalah pilihan hidup yang harus kita ambil Seringkali kita mengasihi seseorang hanya apabila orang itu juga mengasihi atau memberi keuntungan kepada kita. Sebaliknya, orang yang tidak mengasihi atau memberi kontribusi positif pada kita tidak kita anggap sebagai orang yang perlu dikasihi.
Seringkali bukan kasih yang meninggalkan kita, tetapi kitalah yang meninggalkan kasih itu. Bukti kalau ada kasih di dalam kita adalah kalau kita mengasihi Tuhan dan juga sesama. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi bukti mengasihi orang lain itu tidak ada, berarti kita belum sampai kepada kasih kepada Tuhan. Ada berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia dan juga sesama. FirmanNya berkata, “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi Tuhan, Allahmu, dan beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.” (Ulangan 11:13-15). Jadi, setiap orang yang berlabel Kristen harus punya kasih
“...barangsiapa menuruti firmanNya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah;” (1 Yohanes 2:5a) dan “...ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:21b).
Sunday, September 12, 2010
KEHILANGAN SESUATU YANG BERHARGA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 September 2010 -
Baca: Rut 1:1-22
“Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” Rut 1:20
Ketika di tanah Israel terjadilah kelaparan hebat, Naomi dan keluarganya memutuskan meninggalkan Betlehem dan menetap di Moab sebagai orang asing. Namun tragis, selang beberapa waktu tinggal di Moab bukan keberuntungan yang ia peroleh, tapi justru kepedihan mendalam yang harus ia rasakan. Naomi harus kehilangan orang-orang yang ia cintai, suami dan kedua anak laki-lakinya mati. Dalam luka hatinya Naomi memutuskan kembali ke Betlehem.
Kehilangan seseorang yang kita cintai atau sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita sungguh menyakitkan. Namun bila kita larut dalam kepedihan dan meratapi kehilangan itu terus menerus, kita dapat kehilangan berkat yang Tuhan sediakan bagi kita. Rasa kehilangan akan membuat kita tidak pernah melangkah maju karena kita dilumpuhkan oleh rasa kesedihan atas kehilangan itu. Jadi kita harus bisa melupakan rasa kehilangan itu dengan mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. Adakalanya Tuhan mengijinkan seseorang kehilangan karena Dia sedang membawa kita ke dalam rencanaNya.
Allah juga merasakan pengalaman kehilangan ketika manusia jatuh dalam dosa, di mana persekutuan roh antara Adam dan Allah langsung terputus. Manusia terpisah dari Allah sehingga Allah berjalan memanggil-manggil Adam, “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9). Ini menunjukkan Allah sangat kehilangan manusia; manusia berbuat dosa dan memberontak. Sesugguhnya hati Tuhan menjadi sangat pilu karena Dia akan ‘kehilangan’, karena manusia akan binasa oleh dosa. “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya.” (Kejadian 6:5-6).
Ketika menjadi manusia Yesus juga harus kehilangan segala yang dimilikiNya di sorga: kehormatan, kekayaan dan kemuliaanNya. Dia rela melepaskan atribut ke-Allah-anNya untuk taat kepada Bapa demi menebus dosa umat manusia. Satu hal yang menjadi kekuatan Yesus adalah Dia senantiasa hidup dalam persekutuan dengan BapaNya.
Jadi, Yesus tahu dan merasakan arti kehilangan karena Dia juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (baca Ibrani 4:15).
Baca: Rut 1:1-22
“Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” Rut 1:20
Ketika di tanah Israel terjadilah kelaparan hebat, Naomi dan keluarganya memutuskan meninggalkan Betlehem dan menetap di Moab sebagai orang asing. Namun tragis, selang beberapa waktu tinggal di Moab bukan keberuntungan yang ia peroleh, tapi justru kepedihan mendalam yang harus ia rasakan. Naomi harus kehilangan orang-orang yang ia cintai, suami dan kedua anak laki-lakinya mati. Dalam luka hatinya Naomi memutuskan kembali ke Betlehem.
Kehilangan seseorang yang kita cintai atau sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita sungguh menyakitkan. Namun bila kita larut dalam kepedihan dan meratapi kehilangan itu terus menerus, kita dapat kehilangan berkat yang Tuhan sediakan bagi kita. Rasa kehilangan akan membuat kita tidak pernah melangkah maju karena kita dilumpuhkan oleh rasa kesedihan atas kehilangan itu. Jadi kita harus bisa melupakan rasa kehilangan itu dengan mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. Adakalanya Tuhan mengijinkan seseorang kehilangan karena Dia sedang membawa kita ke dalam rencanaNya.
Allah juga merasakan pengalaman kehilangan ketika manusia jatuh dalam dosa, di mana persekutuan roh antara Adam dan Allah langsung terputus. Manusia terpisah dari Allah sehingga Allah berjalan memanggil-manggil Adam, “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9). Ini menunjukkan Allah sangat kehilangan manusia; manusia berbuat dosa dan memberontak. Sesugguhnya hati Tuhan menjadi sangat pilu karena Dia akan ‘kehilangan’, karena manusia akan binasa oleh dosa. “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya.” (Kejadian 6:5-6).
Ketika menjadi manusia Yesus juga harus kehilangan segala yang dimilikiNya di sorga: kehormatan, kekayaan dan kemuliaanNya. Dia rela melepaskan atribut ke-Allah-anNya untuk taat kepada Bapa demi menebus dosa umat manusia. Satu hal yang menjadi kekuatan Yesus adalah Dia senantiasa hidup dalam persekutuan dengan BapaNya.
Jadi, Yesus tahu dan merasakan arti kehilangan karena Dia juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (baca Ibrani 4:15).
Saturday, September 11, 2010
JADILAH ORANG BERHIKMAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 September 2010 -
Baca: Amsal 9:1-18
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9:10
Ayat di atas menyatakan, setiap orang yang memiliki hati takut akan Tuhan akan mendapatkan hikmat. Jadi kunci memiliki hikmat adalah ketaatan kita melakukan perintah-perintah Tuhan.
Pandangan orang dunia berbeda. Sebagian besar berpendapat bahwa orang yang memiliki hikmat adalah orang yang memiliki title (gelar) tinggi atau telah menyelesaikan pendidikan sampai tingkat yang tertinggi, apalagi yang lulus dari luar negeri. Orang yang berpendidikan tinggi belum tentu memiliki hikmat, yang ia miliki adalah ilmu pengetahuan dan keahlian. Alkitab menegaskan bahwa hikmat itu sendiri hanya dapat diperoleh apabila kita takut akan Tuhan: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” (Amsal 3:13-14). Hikmat yang dimaksud adalah wahyu dari Tuhan. Orang dunia tentunya tidak pernah memikirkan tentang wahyu Tuhan ini.
Sebagai orang percaya, di dalam diri kita ada Roh Kudus, dan “...Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu...” (baca Yohanes 14:26). Sayang, seringkali kita mengingini hikmat dari Tuhan namun kita tidak hidup dalam ketaatan sehingga Roh Kudus undur dari kita, padahal Roh Kuduslah yang memberikan hikmat. Bukan berarti kita tidak perlu sekolah tinggi atau menggunakan akal pikiran kita, tetapi yang lebih utama adalah kita harus selalu mengandalkan hikmat dari Tuhan, jangan hanya membanggakan kepandaian dan keahlian kita saja sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Daud, dalam keluarga kurang dianggap dan diremehkan. Ia pun hanya sebagai gembala domba. Daud mengakui, “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” (Mazmur 73:22, 24). Sedangkan kakak-kakaknya dinilai lebih punya potensi, pintar dan berpostur ideal di pemandangan manusia. Tapi Daud mempunyai nilai lebih yaitu senantiasa takut akan Tuhan dan karib denganNya sehingga kuasa Roh Allah yang dahsyat bekerja dalam diri Daud, menjadikan dirinya sebagai pribadi yang luar biasa dan istimewa. Alhasil, ketika Goliat bertekuk lutut, pada saat yang tepat Daud pun menjadi raja atas Israel.
Tiada yang mustahil bagi Tuhan!
Baca: Amsal 9:1-18
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9:10
Ayat di atas menyatakan, setiap orang yang memiliki hati takut akan Tuhan akan mendapatkan hikmat. Jadi kunci memiliki hikmat adalah ketaatan kita melakukan perintah-perintah Tuhan.
Pandangan orang dunia berbeda. Sebagian besar berpendapat bahwa orang yang memiliki hikmat adalah orang yang memiliki title (gelar) tinggi atau telah menyelesaikan pendidikan sampai tingkat yang tertinggi, apalagi yang lulus dari luar negeri. Orang yang berpendidikan tinggi belum tentu memiliki hikmat, yang ia miliki adalah ilmu pengetahuan dan keahlian. Alkitab menegaskan bahwa hikmat itu sendiri hanya dapat diperoleh apabila kita takut akan Tuhan: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” (Amsal 3:13-14). Hikmat yang dimaksud adalah wahyu dari Tuhan. Orang dunia tentunya tidak pernah memikirkan tentang wahyu Tuhan ini.
Sebagai orang percaya, di dalam diri kita ada Roh Kudus, dan “...Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu...” (baca Yohanes 14:26). Sayang, seringkali kita mengingini hikmat dari Tuhan namun kita tidak hidup dalam ketaatan sehingga Roh Kudus undur dari kita, padahal Roh Kuduslah yang memberikan hikmat. Bukan berarti kita tidak perlu sekolah tinggi atau menggunakan akal pikiran kita, tetapi yang lebih utama adalah kita harus selalu mengandalkan hikmat dari Tuhan, jangan hanya membanggakan kepandaian dan keahlian kita saja sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Daud, dalam keluarga kurang dianggap dan diremehkan. Ia pun hanya sebagai gembala domba. Daud mengakui, “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” (Mazmur 73:22, 24). Sedangkan kakak-kakaknya dinilai lebih punya potensi, pintar dan berpostur ideal di pemandangan manusia. Tapi Daud mempunyai nilai lebih yaitu senantiasa takut akan Tuhan dan karib denganNya sehingga kuasa Roh Allah yang dahsyat bekerja dalam diri Daud, menjadikan dirinya sebagai pribadi yang luar biasa dan istimewa. Alhasil, ketika Goliat bertekuk lutut, pada saat yang tepat Daud pun menjadi raja atas Israel.
Tiada yang mustahil bagi Tuhan!
Friday, September 10, 2010
BARTIMEUS: Sembuh Karena Iman
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 September 2010 -
Baca: Markus 10:46-52
“ ‘Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab orang buta itu: ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!’ “ Markus 10:51
Bartimeus adalah orang yang buta dan tidak berdaya. Namun meski memiliki keterbatasan fisik ia tidak putus asa atau mengasihani diri sendiri. Dengan mata rohaninya ia dapat melihat kebesaran dan kuasa Tuhan. Pengharapan yang ia tujukan kepada Yesus adalah kunci utama yang membangkitkan imannya meski orang-orang di sekitarnya meremehkan dan menuding bahwa dia tidak akan bisa disembuhkan. Bartimeus tidak terkecil hati atau menyerah pada keadaan. Iman adalah melihat apa yang tidak terlihat, dan ini membutuhkan perjuangan.
Ketika mendengar Yesus sedang lewat, dengan segenap kekuatan ia berseru, “ ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!’ “ (ayat 47-48). Bartimeus tahu bahwa inilah saat dan kesempatan baginya bertemu dengan Yesus, karena itu ia terus berteriak memanggil-manggil Yesus di tengah keramaian. Akhirnya teriakannya itu menggetarkan hati Yesus untuk bereaksi; Yesus memalingkan wajahnya ke arah Bartimeus yang sedang bertindak dengan imannya itu. Lalu kata Yesus kepadanya, “ ‘Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’ Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalananNya.” (ayat 52).
Mungkin saat ini dokter sudah memvonis umur kita tidak panjang lagi akibat penyakit yang kita derita, atau orang memprediksi usaha kita akan hancur, atau keluargamu nampak tidak mungkin dipulihkan. Kita akan semakin tidak berdaya bila kita terlalu memberi tempat pada masalah itu dan terpengaruh oleh situasi yang ada. Mari kita ubah cara berpikir kita! Berilah tempat untuk Tuhan, sumber segala mujizat itu. Berkatalah dengan iman, “Tuhan, aku percaya Engkau sanggup menyembuhkanku. Manusia sangat terbatas, tetapi aku memiliki Engkau yang sungguh tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagiMu.” Camkan ayat ini: "Sebab Tuhan maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah." (Mazmur 96:4).
Kalau kita memandang Dia sebagai orang yang Mahabesar, maka apa pun masalah kita tidak berarti apa-apa di hadapanNya. Bartimeus mengalami lawatan Tuhan karena ia memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain.
Perjumpaan dengan Yesus telah mengubah hidup Bartimeus; ia dipulihkan dan disembuhkan!
Baca: Markus 10:46-52
“ ‘Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab orang buta itu: ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!’ “ Markus 10:51
Bartimeus adalah orang yang buta dan tidak berdaya. Namun meski memiliki keterbatasan fisik ia tidak putus asa atau mengasihani diri sendiri. Dengan mata rohaninya ia dapat melihat kebesaran dan kuasa Tuhan. Pengharapan yang ia tujukan kepada Yesus adalah kunci utama yang membangkitkan imannya meski orang-orang di sekitarnya meremehkan dan menuding bahwa dia tidak akan bisa disembuhkan. Bartimeus tidak terkecil hati atau menyerah pada keadaan. Iman adalah melihat apa yang tidak terlihat, dan ini membutuhkan perjuangan.
Ketika mendengar Yesus sedang lewat, dengan segenap kekuatan ia berseru, “ ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!’ “ (ayat 47-48). Bartimeus tahu bahwa inilah saat dan kesempatan baginya bertemu dengan Yesus, karena itu ia terus berteriak memanggil-manggil Yesus di tengah keramaian. Akhirnya teriakannya itu menggetarkan hati Yesus untuk bereaksi; Yesus memalingkan wajahnya ke arah Bartimeus yang sedang bertindak dengan imannya itu. Lalu kata Yesus kepadanya, “ ‘Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’ Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalananNya.” (ayat 52).
Mungkin saat ini dokter sudah memvonis umur kita tidak panjang lagi akibat penyakit yang kita derita, atau orang memprediksi usaha kita akan hancur, atau keluargamu nampak tidak mungkin dipulihkan. Kita akan semakin tidak berdaya bila kita terlalu memberi tempat pada masalah itu dan terpengaruh oleh situasi yang ada. Mari kita ubah cara berpikir kita! Berilah tempat untuk Tuhan, sumber segala mujizat itu. Berkatalah dengan iman, “Tuhan, aku percaya Engkau sanggup menyembuhkanku. Manusia sangat terbatas, tetapi aku memiliki Engkau yang sungguh tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagiMu.” Camkan ayat ini: "Sebab Tuhan maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah." (Mazmur 96:4).
Kalau kita memandang Dia sebagai orang yang Mahabesar, maka apa pun masalah kita tidak berarti apa-apa di hadapanNya. Bartimeus mengalami lawatan Tuhan karena ia memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain.
Perjumpaan dengan Yesus telah mengubah hidup Bartimeus; ia dipulihkan dan disembuhkan!
Thursday, September 9, 2010
MENGUSIR SI IBLIS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 September 2010 -
Baca: Yakobus 4:1-10
“...tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4:7
Kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh pengaruh atau pekerjaan kuasa kegelapan dan roh-roh Iblis. Dikatakan: “...Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan setan-setan” (1 Timotius 4:1).
Karena tahu bahwa waktu penghukumannya sudah semakin dekat, roh penyesat atau Iblis semakin menggebu-gebu, mereka (Iblis) kerja lembur demi memenangkan jiwa juga. Dalam situasi seperti ini kita harus selalu waspada, berjaga-jaga dan berdoa lebih intens lagi. Karena itu, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Semakin roh kita dekat kepada Tuhan semakin beroleh kekuatan karena Roh Kudus menguatkan kita. Sebelum Iblis dapat mendekati kita, usirlah dan lawanlah dia dalam melakukan untuk kita. Tuhan Yesus tak pernah menolong kita untuk mengusir Iblis; kita harus mengusir sendiri. Alkitab mengajarkan kita: “...tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Mengapa Tuhan Yesus tak mengusir Iblis untuk kita? Sebab Dia sudah memberi kita kuasa untuk melakukan segala perkara di dalam namaNya. Juga kuasa untuk mengusir setan dalam namaNya (baca Markus 16:17). Tetapi jika kita mengusir setan dengan ragu-ragu atau bimbang, dengan sendirinya Iblis tak akan lari, bahkan dia akan mengejek kita. Rasul Paulus memberitahukan bagaimana cara berperang atau mengalahkan musuh kita (si Iblis): “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopang keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,” (Efesus 6:16-17). Ditambahkan oleh Paulus bahwa kita juga harus beroda “...setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus,” (Efesus 6:18). Kita diajarkan berdoa juga untuk orang lain, terlebih bagi para hamba Tuhan. Mereka perlu kita doakan karena mereka adalah incaran utama Iblis.
Dalam nama Yesus kita pasti menang melawan kuasa Iblis!
Baca: Yakobus 4:1-10
“...tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4:7
Kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh pengaruh atau pekerjaan kuasa kegelapan dan roh-roh Iblis. Dikatakan: “...Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan setan-setan” (1 Timotius 4:1).
Karena tahu bahwa waktu penghukumannya sudah semakin dekat, roh penyesat atau Iblis semakin menggebu-gebu, mereka (Iblis) kerja lembur demi memenangkan jiwa juga. Dalam situasi seperti ini kita harus selalu waspada, berjaga-jaga dan berdoa lebih intens lagi. Karena itu, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Semakin roh kita dekat kepada Tuhan semakin beroleh kekuatan karena Roh Kudus menguatkan kita. Sebelum Iblis dapat mendekati kita, usirlah dan lawanlah dia dalam melakukan untuk kita. Tuhan Yesus tak pernah menolong kita untuk mengusir Iblis; kita harus mengusir sendiri. Alkitab mengajarkan kita: “...tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Mengapa Tuhan Yesus tak mengusir Iblis untuk kita? Sebab Dia sudah memberi kita kuasa untuk melakukan segala perkara di dalam namaNya. Juga kuasa untuk mengusir setan dalam namaNya (baca Markus 16:17). Tetapi jika kita mengusir setan dengan ragu-ragu atau bimbang, dengan sendirinya Iblis tak akan lari, bahkan dia akan mengejek kita. Rasul Paulus memberitahukan bagaimana cara berperang atau mengalahkan musuh kita (si Iblis): “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopang keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,” (Efesus 6:16-17). Ditambahkan oleh Paulus bahwa kita juga harus beroda “...setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus,” (Efesus 6:18). Kita diajarkan berdoa juga untuk orang lain, terlebih bagi para hamba Tuhan. Mereka perlu kita doakan karena mereka adalah incaran utama Iblis.
Dalam nama Yesus kita pasti menang melawan kuasa Iblis!
Subscribe to:
Posts (Atom)