Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 September 2010 -
Baca: 2 Raja-Raja 3:1-20
"Beginilah firman Tuhan: Biarlah di lembah ini dibuat parit-parit," 2 Raja-Raja 3:16
Berkat dan pertolongan Tuhan seringkali datang justru pada saat harapan sepertinya tidak ada lagi dan secara logika manusia mengatakan itu sudah tak mungkin. Kesembuhan sering terjadi justru pada saat semua dokter mengangkat tangan dan mengatakan bahwa sakitnya sudah tidak dapat disembuhkan, apa pun caranya.
Mujizat Tuhan inilah yang sering membuat orang terpesona akan kebesaran dan keajaiban Tuhan. Kalau dokter berkata bahwa penyakit itu masih bisa disembuhkan, apa istimewanya kesembuhan yang dilakukan Tuhan? Sudah pasti jalan Tuhan selalu heran dan ajaib. Dia punya banyak cara untuk menolong umatNya, tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat. "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,..." (Pengkotbah 3:11). Tuhan berfirman: "Kamu tidak akan mendapatkan angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum. Dan itupun adalah perkara yang ringan di mata Tuhan: juga orang Moab dan diserahkanNya ke dalam tanganmu." (2 Raja-Raja 3:17:18).
Bangsa Israel mendapat berkat ganda yang tak terduga yaitu air dan kemenangan atas orang Moab. Pada saat tidak ada angin dan hujan, melalui nabi Elisa, Tuhan justru memerintahkan mereka untuk membuat parit-parit. Secara manusia, hal itu tidak make sense. Namun andaikata mereka tidak taat pada perintah Tuhan yang diucapkan melalui Elisa, dan tidak menggali parit-parit, binasalah mereka: kalah di tangan bangsa Moab dan semua ternaknya akan mati karena kehausan. Di sini terkandung satu rahasia Ilahi yang besar, yaitu berkat Tuhan dan pertolonganNya tidak akan turun jika tak ada ketaatan dan iman yang disertai dengan perbuatan. Sekalipun Tuhan berkata, "Aku akan memberkati engkau", tapi jika yang akan diberkati berpikir, "Tak mungkin aku mendapat berkat, darimana berkat bisa datang? Tokoku sepi terus, usahaku hanya kecil begini, mana mungkin?", maka berkat Tuhan itu pun tak akan turun, sebab orang itu sendirilah yang menyumbat parit-paritnya, sehingga hujan tak tercurah.
Berkat dan pertolongan Tuhan datang secara ajaib, tak perlu kita reka-reka atau pikirkan caraNya. Cukup percaya dan beriman saja! Walaupun tak ada angin dan tak ada mendung Tuhan sanggup mencurahkan hujan lebat memenuhi semua parit kita sampai berlimpah. Kuncinya adalah taat saja.
Wednesday, September 8, 2010
Tuesday, September 7, 2010
DI DALAM KRISTUS SELALU ADA "YA"
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 September 2010 -
Baca: 2 Korintus 1:12-24
"...bukanlah 'ya' dan 'tidak', tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada 'ya'." 2 Korintus 1:19b
Yesus tidak pernah memperkatakan hal-hal yang negatif meski berada di tengah-tengah situasi yang sulit. Ia berkata bahwa dengan pikiran dan perkataan yang positif kita dapat mengalahkan gunung-gunung persoalan, gunung-gunung penyakit dan sebagainya. Tetapi sekalipun kita mencoba berdoa atau mengusir segala kuasa Iblis yang menyebabkan orang menderita, namun jika masih ada pikiran negatif di dalam diri kita, semuanya tidak akan berhasil.
Sering orang berkata, "Janji-janji Tuhan itu bohong, buktinya aku tak pernah menikmatinya." Maka, terjadilah sesuai dengan apa yang mereka katakan seperti tertulis: "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a). Tuhan Yesus menegaskan, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu." (Lukas 21:33). Dan Allah berkata, "demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11). Perhatikan pula! "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilagan 23:29).
Mengapa banyak orang Kristen tak mengalami kuasa firmanNya ini? Kita tak dapat menikmati janji firmanNya karena dalam pikiran dan hati kita ada ya dan tidak. Kata ya dan tidak sama sekali tak dapat digabungkan, sama seperti gelap dan terang tak dapat dipertemukan. Karena itu, pikiran dan hati kita harus beres terlebih dahulu sebelum kita menyatakan semua permohonan kepada Tuhan. Rasa bimbang adalah salah satu faktor utama ketidakberesan hati di hadapan Tuhan. Jangan sampai kebimbangan itu melebihi pengharapan kita akan kuasa Tuhan dan menjadi batu sandungan bagi iman ketika kita berdoa kepada Tuhan. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup menolong kita. Tuhan Yesus berkata, "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." (Markus 11:22-23).
Bila ingin kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita, buanglah segala kebimbangan ada keraguan.
Baca: 2 Korintus 1:12-24
"...bukanlah 'ya' dan 'tidak', tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada 'ya'." 2 Korintus 1:19b
Yesus tidak pernah memperkatakan hal-hal yang negatif meski berada di tengah-tengah situasi yang sulit. Ia berkata bahwa dengan pikiran dan perkataan yang positif kita dapat mengalahkan gunung-gunung persoalan, gunung-gunung penyakit dan sebagainya. Tetapi sekalipun kita mencoba berdoa atau mengusir segala kuasa Iblis yang menyebabkan orang menderita, namun jika masih ada pikiran negatif di dalam diri kita, semuanya tidak akan berhasil.
Sering orang berkata, "Janji-janji Tuhan itu bohong, buktinya aku tak pernah menikmatinya." Maka, terjadilah sesuai dengan apa yang mereka katakan seperti tertulis: "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a). Tuhan Yesus menegaskan, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu." (Lukas 21:33). Dan Allah berkata, "demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11). Perhatikan pula! "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilagan 23:29).
Mengapa banyak orang Kristen tak mengalami kuasa firmanNya ini? Kita tak dapat menikmati janji firmanNya karena dalam pikiran dan hati kita ada ya dan tidak. Kata ya dan tidak sama sekali tak dapat digabungkan, sama seperti gelap dan terang tak dapat dipertemukan. Karena itu, pikiran dan hati kita harus beres terlebih dahulu sebelum kita menyatakan semua permohonan kepada Tuhan. Rasa bimbang adalah salah satu faktor utama ketidakberesan hati di hadapan Tuhan. Jangan sampai kebimbangan itu melebihi pengharapan kita akan kuasa Tuhan dan menjadi batu sandungan bagi iman ketika kita berdoa kepada Tuhan. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup menolong kita. Tuhan Yesus berkata, "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." (Markus 11:22-23).
Bila ingin kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita, buanglah segala kebimbangan ada keraguan.
Monday, September 6, 2010
SAAT KITA LEMAH TAK BERDAYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2010 -
Baca: Matius 4:1-11
"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus."
Matius 4:2
Iblis tahu benar bahwa setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam Yesus pasti merasa lapar. Iblis berpikir inilah saat yang tepat untuk mencobai dan menjatuhkan Yesus. "Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya: 'Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu itu menjadi roti.' " (ayat 3).
Yesus tidak emosi dengan membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah sehingga langsung mengubah batu menadi roti. Walaupun perutNya lapar, Yesus sadar betul dengan tidak menuruti permintaan Iblis untuk mengubah batu menadi roti. Tak perlu Ia membuktikan kuasanya mengubah batu menadi roti untuk dapat disebut Anak Allah. Dia memang Anak Allah dan Dia tidak perlu mendemonstrasikan hal itu kepada Iblis, karena Iblis sendiri sudah tahu bahwa Yesus itu Anak Allah. Maka Yesus menjawab, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (ayat 4).
Banyak orang diserang dan dicobai Iblis pada waktu mereka sedang sakit atau dalam keadaan lemah tak berdaya, di kala sedang mengalami krisis ekonomi, membutuhkan uang, atau keluarga butuh biaya untuk pengobatan. Secepat kilat Iblis pun akan datang bak malaikat menawarkan pertolongan, seperti katanya keapda Yesus, "Dan Iblis membawaNya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadaNya semua kerjaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepadaNya: 'Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.' Maka berkatalah Yesus kepadanya: 'Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!' " (ayat 8:10).
Apabila Iblis berbisik atau teman mengajak kita untuk mencari pertolongan kepada kuasa gelap, dukun, paranormal dan sebagainya, janganlah takut untuk menolaknya! Pertolongan atau kekayaan yang diberikan Iblis hanyalah semu belaka, bahkan dapat menjerumuskan jiwa kita ke dalam kebinasaan kekal. Sebagai orang percaya, pertolongan kita hanya datang dari Tuhan, bukan dari yang lain. Gunakan firman Tuhan untuk mengusir Iblis, maka ia akan lari.
Jika kita menggunakan firman Tuhan untuk mengusir Iblis atau segala macam godaan, firmanNya bekerja dan Dia akan memberi kemenangan atas kita.
Baca: Matius 4:1-11
"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus."
Matius 4:2
Iblis tahu benar bahwa setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam Yesus pasti merasa lapar. Iblis berpikir inilah saat yang tepat untuk mencobai dan menjatuhkan Yesus. "Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya: 'Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu itu menjadi roti.' " (ayat 3).
Yesus tidak emosi dengan membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah sehingga langsung mengubah batu menadi roti. Walaupun perutNya lapar, Yesus sadar betul dengan tidak menuruti permintaan Iblis untuk mengubah batu menadi roti. Tak perlu Ia membuktikan kuasanya mengubah batu menadi roti untuk dapat disebut Anak Allah. Dia memang Anak Allah dan Dia tidak perlu mendemonstrasikan hal itu kepada Iblis, karena Iblis sendiri sudah tahu bahwa Yesus itu Anak Allah. Maka Yesus menjawab, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (ayat 4).
Banyak orang diserang dan dicobai Iblis pada waktu mereka sedang sakit atau dalam keadaan lemah tak berdaya, di kala sedang mengalami krisis ekonomi, membutuhkan uang, atau keluarga butuh biaya untuk pengobatan. Secepat kilat Iblis pun akan datang bak malaikat menawarkan pertolongan, seperti katanya keapda Yesus, "Dan Iblis membawaNya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadaNya semua kerjaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepadaNya: 'Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.' Maka berkatalah Yesus kepadanya: 'Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!' " (ayat 8:10).
Apabila Iblis berbisik atau teman mengajak kita untuk mencari pertolongan kepada kuasa gelap, dukun, paranormal dan sebagainya, janganlah takut untuk menolaknya! Pertolongan atau kekayaan yang diberikan Iblis hanyalah semu belaka, bahkan dapat menjerumuskan jiwa kita ke dalam kebinasaan kekal. Sebagai orang percaya, pertolongan kita hanya datang dari Tuhan, bukan dari yang lain. Gunakan firman Tuhan untuk mengusir Iblis, maka ia akan lari.
Jika kita menggunakan firman Tuhan untuk mengusir Iblis atau segala macam godaan, firmanNya bekerja dan Dia akan memberi kemenangan atas kita.
Sunday, September 5, 2010
LUPAKAN YANG LALU, JANGAN LUPAKAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 September 2010 -
Baca: Filipi 3:1-16
"...tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku," Filipi 3:13
Di dalam kehidupan ini pasti ada hal yang selalu kita ingat-ingat: pengalaman manis juga pahit. Tetapi ada satu hal yang harus selalu kita ingat dan tidak boleh kita lupakan, yaitu Tuhan!
Seringkali manusia begitu gampang melupakan Tuhan, apalagi saat keadaan mereka baik dan menyenangkan, seperti yang dikatakan: "...umatKu melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya." (Yeremia 2:32b). Namun sesungguhnya yang harus kita lupakan adalah pengalaman pahit, kegagalan dan juga kesalahan-kesalahan di masa lalu. Kita bisa belajar dari Rasul Paulus yang memiliki masa lalu yang hendak ia lupakan. Sebelum 'ditangkap' oleh Tuhan Yesus, Paulus yang sebelumnya bernama Saulus adalah penganiaya jemaat; ia sangat antipati terhadap orang-orang Kristen. Namun sejak bertemu Yesus hidup Paulus diubahkan. Alkitab menyatakan; "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Itulah sebabnya Paulus bertekad untuk melupakan masa lalunya yang kelam.
Sebagai orang percaya kita pun harus melakukan hal yang sama: mengunci pintu masa lalu dan tidak mengingatnya lagi. Adalah percuma mempersalahkan diri dan terus-menerus menyesali semua keadaan yang sudah terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah belajar dari keadaan itu dan bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Mari gunakan seluruh kekuatan kita menuju keberhasilan bersama Tuhan. Mungkin kita gagal di masa lalu, lupakan itu. Pikirkanlah langkah di depan kita. Jika kita senantiasa mengarahkan tujuan kepada Kristus, kita akan mengalami kemuliaan bersama Dia. Paulus telah melakukan banyak hal bagi Tuhan, tetapi dia tak menganggap dirinya telah mencapai semuanya. Saat di penjara pun dia tetap ingin lebih mengenal Tuhan dan mengerjakan segala yang Tuhan ingin ia lakukan. Ia tak pernah menghiraukan situasi dalam hidupnya, sekalipun penderitaan dan aniaya karena nama Tuhan harus dialaminya. Mungkin kita berkata, "Aku bukan Paulus. Aku tidak bisa seperti dia." Kita tidak perlu menjadi seperti Paulus!
Tuhan ingin kita lakukan apa yang dapat kita lakukan bagi kemuliaanNya, jangan terpaku masa lalu!
Baca: Filipi 3:1-16
"...tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku," Filipi 3:13
Di dalam kehidupan ini pasti ada hal yang selalu kita ingat-ingat: pengalaman manis juga pahit. Tetapi ada satu hal yang harus selalu kita ingat dan tidak boleh kita lupakan, yaitu Tuhan!
Seringkali manusia begitu gampang melupakan Tuhan, apalagi saat keadaan mereka baik dan menyenangkan, seperti yang dikatakan: "...umatKu melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya." (Yeremia 2:32b). Namun sesungguhnya yang harus kita lupakan adalah pengalaman pahit, kegagalan dan juga kesalahan-kesalahan di masa lalu. Kita bisa belajar dari Rasul Paulus yang memiliki masa lalu yang hendak ia lupakan. Sebelum 'ditangkap' oleh Tuhan Yesus, Paulus yang sebelumnya bernama Saulus adalah penganiaya jemaat; ia sangat antipati terhadap orang-orang Kristen. Namun sejak bertemu Yesus hidup Paulus diubahkan. Alkitab menyatakan; "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Itulah sebabnya Paulus bertekad untuk melupakan masa lalunya yang kelam.
Sebagai orang percaya kita pun harus melakukan hal yang sama: mengunci pintu masa lalu dan tidak mengingatnya lagi. Adalah percuma mempersalahkan diri dan terus-menerus menyesali semua keadaan yang sudah terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah belajar dari keadaan itu dan bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Mari gunakan seluruh kekuatan kita menuju keberhasilan bersama Tuhan. Mungkin kita gagal di masa lalu, lupakan itu. Pikirkanlah langkah di depan kita. Jika kita senantiasa mengarahkan tujuan kepada Kristus, kita akan mengalami kemuliaan bersama Dia. Paulus telah melakukan banyak hal bagi Tuhan, tetapi dia tak menganggap dirinya telah mencapai semuanya. Saat di penjara pun dia tetap ingin lebih mengenal Tuhan dan mengerjakan segala yang Tuhan ingin ia lakukan. Ia tak pernah menghiraukan situasi dalam hidupnya, sekalipun penderitaan dan aniaya karena nama Tuhan harus dialaminya. Mungkin kita berkata, "Aku bukan Paulus. Aku tidak bisa seperti dia." Kita tidak perlu menjadi seperti Paulus!
Tuhan ingin kita lakukan apa yang dapat kita lakukan bagi kemuliaanNya, jangan terpaku masa lalu!
Saturday, September 4, 2010
TUHAN MENJAMIN HIDUP ORANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 September 2010 -
Baca: Habakuk 3:1-19
"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, ...namun aku akan bersorak sorak di dalam Tuhan," Habakuk 3:17-18a
Arti nama Habakuk adalah pelukan. Habakuk adalah nabi yang cepat mengambil kesimpulan. Ia menganggap Tuhan tidak adil karena membiarkan bangsa Asyur menghukum bangsa Israel.
Dalam pasal 1 dan 2 terdapat dialog antara Habakuk dengan Tuhan, Habakuk tidak hanya memprotes kejahatan yang terjadi tapi dia juga sempat menantang Tuhan, bagaimana Dia yang Mahakudus dapat bertoleransi terhadap kejahatan. Mengapa Tuhan memakai bangsa Asyur untuk menghukum Israel (umatNya sendiri) yang enggan bertobat dari dosa-dosa mereka, padahal moral bangsa Asyur jauh lebih buruk daripada umat Israel. Namun di pasal 2:1-5 Tuhan menegaskan bahwa Dia akan menghukum semua bangsa secara adil, termasuk bangsa Israel, apabila mereka tidak segera bertobat; sebaliknya Tuhan akan memberikan jaminan pemeliharaan kepada orang benar. Jadi orang percaya tidak akan dihukum oleh Tuhan. Tetapi dalam pasal 3 Habakuk berdoa agar Tuhan menggenapi rencanaNya di tengah-tengah bangsa yang tertindas. Tuhan kemudian memberinya suatu penglihatan: "Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paron. KeagunganNya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadaNya. Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisiNya dan di situlah terselubung kekuatanNya." (Habakuk 3:3-4). Penglihatan-penglihatan yang dilihatnya itu menimbulkan perasaan gentar bercampur keyakinan dalam hati Habakuk. Ia berkata, "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, mengigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami," (Habakuk 3:16). Akhirnya timbul iman yang luar biasa dari Habakuk. Iman yang bukan sekedar percaya, tapi mengandung unsur kesetiaan dan ketaatan yang teguh.
Jadi, iman bukan sekedar doktrin yang dipercayai, tapi adalah cara hidup seutuhnya. Iman adalah ketergantungan sepenuhnya kepada Tuhan setiap saat.
Meski keadaan tampak buruk, Habakuk tetap punya keyakinan kuat bahwa Tuhan akan membela dan menjamin hidup orang percaya!
Baca: Habakuk 3:1-19
"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, ...namun aku akan bersorak sorak di dalam Tuhan," Habakuk 3:17-18a
Arti nama Habakuk adalah pelukan. Habakuk adalah nabi yang cepat mengambil kesimpulan. Ia menganggap Tuhan tidak adil karena membiarkan bangsa Asyur menghukum bangsa Israel.
Dalam pasal 1 dan 2 terdapat dialog antara Habakuk dengan Tuhan, Habakuk tidak hanya memprotes kejahatan yang terjadi tapi dia juga sempat menantang Tuhan, bagaimana Dia yang Mahakudus dapat bertoleransi terhadap kejahatan. Mengapa Tuhan memakai bangsa Asyur untuk menghukum Israel (umatNya sendiri) yang enggan bertobat dari dosa-dosa mereka, padahal moral bangsa Asyur jauh lebih buruk daripada umat Israel. Namun di pasal 2:1-5 Tuhan menegaskan bahwa Dia akan menghukum semua bangsa secara adil, termasuk bangsa Israel, apabila mereka tidak segera bertobat; sebaliknya Tuhan akan memberikan jaminan pemeliharaan kepada orang benar. Jadi orang percaya tidak akan dihukum oleh Tuhan. Tetapi dalam pasal 3 Habakuk berdoa agar Tuhan menggenapi rencanaNya di tengah-tengah bangsa yang tertindas. Tuhan kemudian memberinya suatu penglihatan: "Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paron. KeagunganNya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadaNya. Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisiNya dan di situlah terselubung kekuatanNya." (Habakuk 3:3-4). Penglihatan-penglihatan yang dilihatnya itu menimbulkan perasaan gentar bercampur keyakinan dalam hati Habakuk. Ia berkata, "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, mengigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami," (Habakuk 3:16). Akhirnya timbul iman yang luar biasa dari Habakuk. Iman yang bukan sekedar percaya, tapi mengandung unsur kesetiaan dan ketaatan yang teguh.
Jadi, iman bukan sekedar doktrin yang dipercayai, tapi adalah cara hidup seutuhnya. Iman adalah ketergantungan sepenuhnya kepada Tuhan setiap saat.
Meski keadaan tampak buruk, Habakuk tetap punya keyakinan kuat bahwa Tuhan akan membela dan menjamin hidup orang percaya!
Friday, September 3, 2010
DALAM PERLINDUNGAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 September 2010 -
Baca: Mazmur 91:1-16
"Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu." Mazmur 91:14
Sering orang Kristen mempertanyakan janji-janji firman Tuhan dalam kehidupan ini. Mereka mengeluh mengapa janji Tuhan belum juga dapat dinikmati.
Sesungguhnya, kepada siapakah janji-janji Tuhan itu ditujukan? Yaitu kepada "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan: 'Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.' " (Mazmur 91:1-2). Tempat perlindungan itu ialah Tuhan Yesus dan firmanNya; maksudnya kita harus tinggal dalam Kristus dan di dalam firmanNya (baca Yohanes 15:7). Bila kita tak mau tinggal di dalam firmanNya kita akan menjumpai banyak kesulitan. Banyak orang Kristen mencoba-coba hidup di luar firmanNya dan berpikir suatu saat kelak masih ada kesempatan kembali bertobat. Tetapi, seringkali masalah sudah datang terlebih dahulu sebelum kita sempat kembali dan tinggal dalam 'tempat perlindungan' tadi; maka bertanya-tanyalah kita mengapa itu terjadi, mengapa Tuhan ijinkan, bukankah Tuhan berjanji akan melindungi di bawah kapakNya dan kesetiaanNya seperti perisai dan pagar tembok.
Marilah memeriksa diri apakah kita sudah 'tinggal' di dalam Dia dan firmanNya di 'dalam' kita. Bila kita tidak tinggal dalam 'daerah perlindunganNya' (firmanNya), ketika masalah terjadi secara bertubi-tubi menyerang kehidupan kita bukankah Tuhan yang ingkar janji, karena apabila kita berjalan di jalur Tuhan dan melakukan kehendakNya, persoalan boleh saja datang, tetapi Tuhan pasti turut campur tangan dan membela kita. Dia berkata, "Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawat, Aku akan menyertai dia dalm kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya." (Mazmur 91:15). Jika kita tinggal di luar perlindunganNya dan firmanNya itulah kesukaan Iblis dan sasaran empuknya. Iblis akan berusaha menganggu kita dengan berbagai masalah, sebab Iblis tahu bahwa kita akan kalah. Orang yang berada di luar 'benteng perlindungan' mudah terkena serangan musuh, sebab "...si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8).
Untuk beroleh pemeliharaan dan perlindunganNya kita harus karib dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan!
Baca: Mazmur 91:1-16
"Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu." Mazmur 91:14
Sering orang Kristen mempertanyakan janji-janji firman Tuhan dalam kehidupan ini. Mereka mengeluh mengapa janji Tuhan belum juga dapat dinikmati.
Sesungguhnya, kepada siapakah janji-janji Tuhan itu ditujukan? Yaitu kepada "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan: 'Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.' " (Mazmur 91:1-2). Tempat perlindungan itu ialah Tuhan Yesus dan firmanNya; maksudnya kita harus tinggal dalam Kristus dan di dalam firmanNya (baca Yohanes 15:7). Bila kita tak mau tinggal di dalam firmanNya kita akan menjumpai banyak kesulitan. Banyak orang Kristen mencoba-coba hidup di luar firmanNya dan berpikir suatu saat kelak masih ada kesempatan kembali bertobat. Tetapi, seringkali masalah sudah datang terlebih dahulu sebelum kita sempat kembali dan tinggal dalam 'tempat perlindungan' tadi; maka bertanya-tanyalah kita mengapa itu terjadi, mengapa Tuhan ijinkan, bukankah Tuhan berjanji akan melindungi di bawah kapakNya dan kesetiaanNya seperti perisai dan pagar tembok.
Marilah memeriksa diri apakah kita sudah 'tinggal' di dalam Dia dan firmanNya di 'dalam' kita. Bila kita tidak tinggal dalam 'daerah perlindunganNya' (firmanNya), ketika masalah terjadi secara bertubi-tubi menyerang kehidupan kita bukankah Tuhan yang ingkar janji, karena apabila kita berjalan di jalur Tuhan dan melakukan kehendakNya, persoalan boleh saja datang, tetapi Tuhan pasti turut campur tangan dan membela kita. Dia berkata, "Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawat, Aku akan menyertai dia dalm kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya." (Mazmur 91:15). Jika kita tinggal di luar perlindunganNya dan firmanNya itulah kesukaan Iblis dan sasaran empuknya. Iblis akan berusaha menganggu kita dengan berbagai masalah, sebab Iblis tahu bahwa kita akan kalah. Orang yang berada di luar 'benteng perlindungan' mudah terkena serangan musuh, sebab "...si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8).
Untuk beroleh pemeliharaan dan perlindunganNya kita harus karib dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan!
Thursday, September 2, 2010
PENCOBAAN AYUB (2): Penyakit
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 September 2010 -
Baca: Ayub 1:13-22
"Kemudian Iblis pergi dari hadapan Tuhan, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya" Ayub 2:7
Akibat dari serangan Iblis semacam ini banyak orang Kristen menjadi kecewa dan akhirnya meninggalkan Tuhan. Berbeda dengan Ayub; ia tidak menyalahkan Tuhan atas hal berat yang menimpa hidupnya. Ayub beranggapan bahwa Tuhan pasti mempunyai alasan ketika sesuatu yang buruk (menurut ukuran manusia) terjadi di dalam hidupnya. Ayub menyadari bahwa di dalam mengikut Tuhan perjalanan hidupnya tidaklah selalu mulus dan tanpa masalah. Jangan hanya mau menerima yang baik saja dari Tuhan. Kita pun harus berani melepaskan sesuatu dan mau menerima hal yang buruk terjadi dalam hidup kita. Kadangkala Tuhan mengijinkan Iblis mengambil apa yand sudah diberikanNya di dalam hidup umatNya bukan tanpa maksud. Karena itulah Ayub bisa mengucap syukur untuk semua kehilangan yang dialaminya, katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." (Ayub 1:21).
Selain mengambil berkat materi, Iblis juga menimpakan penyakit kepada Ayub. Iblis berhasil membuat Ayub mengalami sakit yang sangat parah, sampai-sampai "...Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk ditengah-tengah abu." (Ayub 2:8). Iblis berharap dengan penyakit parah yang dialaminya Ayub akan menyangkal Tuhan. Namun Ayub tetap berpikiran positif tentang Tuhan walaupun Tuhan mengijinkan Iblis menyerang tubuhnya dengan sakit-penyakit. Ayub tetap menganggap Tuhan itu baik atas semua peristiwa di dalam hidupnya dan mempunyai rencana yang indah untuk hidupnya. Namun isteri Ayub memiliki respons yang berbeda, ia begitu kecewa dan meminta agar Ayub mau mengutuki Tuhan.
Kebanyakan orang Kristen hanya mau menerima hal yang baik (menurut kita) dari Tuhan, padahal Tuhan terkadang mengijinkan sesuatu yang buruk (menurut kita) terjadi, tapi semuanya itu demi kebaikan kita juga. Tuhan hendak mendewasakan iman kita. Jadi, berhentilah bersungut-sungut dan mengeluh karena "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,..." (Pengkotbah 3:11).
"Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." Ayub 1:22
Baca: Ayub 1:13-22
"Kemudian Iblis pergi dari hadapan Tuhan, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya" Ayub 2:7
Akibat dari serangan Iblis semacam ini banyak orang Kristen menjadi kecewa dan akhirnya meninggalkan Tuhan. Berbeda dengan Ayub; ia tidak menyalahkan Tuhan atas hal berat yang menimpa hidupnya. Ayub beranggapan bahwa Tuhan pasti mempunyai alasan ketika sesuatu yang buruk (menurut ukuran manusia) terjadi di dalam hidupnya. Ayub menyadari bahwa di dalam mengikut Tuhan perjalanan hidupnya tidaklah selalu mulus dan tanpa masalah. Jangan hanya mau menerima yang baik saja dari Tuhan. Kita pun harus berani melepaskan sesuatu dan mau menerima hal yang buruk terjadi dalam hidup kita. Kadangkala Tuhan mengijinkan Iblis mengambil apa yand sudah diberikanNya di dalam hidup umatNya bukan tanpa maksud. Karena itulah Ayub bisa mengucap syukur untuk semua kehilangan yang dialaminya, katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." (Ayub 1:21).
Selain mengambil berkat materi, Iblis juga menimpakan penyakit kepada Ayub. Iblis berhasil membuat Ayub mengalami sakit yang sangat parah, sampai-sampai "...Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk ditengah-tengah abu." (Ayub 2:8). Iblis berharap dengan penyakit parah yang dialaminya Ayub akan menyangkal Tuhan. Namun Ayub tetap berpikiran positif tentang Tuhan walaupun Tuhan mengijinkan Iblis menyerang tubuhnya dengan sakit-penyakit. Ayub tetap menganggap Tuhan itu baik atas semua peristiwa di dalam hidupnya dan mempunyai rencana yang indah untuk hidupnya. Namun isteri Ayub memiliki respons yang berbeda, ia begitu kecewa dan meminta agar Ayub mau mengutuki Tuhan.
Kebanyakan orang Kristen hanya mau menerima hal yang baik (menurut kita) dari Tuhan, padahal Tuhan terkadang mengijinkan sesuatu yang buruk (menurut kita) terjadi, tapi semuanya itu demi kebaikan kita juga. Tuhan hendak mendewasakan iman kita. Jadi, berhentilah bersungut-sungut dan mengeluh karena "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,..." (Pengkotbah 3:11).
"Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." Ayub 1:22
Subscribe to:
Posts (Atom)