Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 September 2010 -
Baca: Ayub 1:13-22
"Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." Ayub 1:22
Iblis sangat tidak suka melihat orang percaya memiliki hubungan karib dengan Tuhan. Itulah sebabnya Iblis berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan kita dari Tuhan, apa pun caranya. Salah satunya berusaha menanamkan keraguan dalam hati orang percaya mengenai kebaikan dan penyertaan Tuhan. Iblis tahu benar apa yang menjadi kelemahan manusia, karena seringkali manusia mengukur besarnya kebaikan Tuhan dari kemampuanNya memberikan berkat berupaya materi. Banyak yang berpikir bahwa semakin kaya semakin terbukti bahwa ia diberkati oleh Tuhan. Inilah celah yang secara jitu dimanfaatkan Iblis untuk meruntuhkan iman orang percaya, yaitu berusaha menghilangkan atau merampas harta yang dimiliki mereka. Alkitab menyatakan: "Pencuri (Iblis) datang hanya untuk mencuri dan membinasakan;" (Yohanes 10:10a).
Inilah yang dilakukan Iblis terhadap Ayub: menghancurkan segala yang dimiliki Ayub, karena Iblis tahu benar bahwa Ayub memiliki kehidupan yang saleh: "Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8b). Iblis mengira bahwa Ayub memiliki hidup yang saleh karena Tuhan telah memberikan berkat yang melimpah kepadanya. Iblis berkata kepada Tuhan, "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu." (Ayub 1:9-10).
Bukankah banyak orang Kristen yang dalam pengiringannya kepada Tuhan hanya bertujuan ingin mendapatkan berkat materi? Mereka menganggap berkat materi sebagai ukuran kebaikan Tuhan dan hal ini sangat disukai oleh Iblis. Itulah sebabnya Iblis akan menggunakan jurus yang pernah ia terapkan kepada Ayub untuk menyerang orang Kristen. Iblis menghancurkan Ayub dengan cara mengambil semua yang menjadi kekayaan dan kebanggaannya. Iblis mengambil semua milik Ayub (baca Ayub 1:13-19). Iblis, dengan caranya yang licik, juga berupaya mengambil segala sesuatu yang dimiliki umatNya saat ini. Dan cara ini terbukti sangat efektif menjauhkan orang Kristen dari Tuhan. (Bersambung)
Wednesday, September 1, 2010
Tuesday, August 31, 2010
SULIT TERTAWA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Agustus 2010 -
Baca: Amsal 17:13-28
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Amsal 17:22
Para dokter terkenal di Amerika Serikat mengadakan penelitian dan akhirnya membuat satu kesimpulan: ternyata tertawa itu sehat. Tertawa dapat menjadi obat yang mujarab, sebab melalui tertawa humor yang sehat muncul, hati menjadi riang, tekanan darah dapat turun, saraf-saraf tidak lagi tegang, terutama lagi bila hal-hal ini disertai dengan kekuatan batiniah misalnya dengan keyakinan penuh akan Tuhan dan iman yang kuat.
Apa yang diungkapkan para dokter dalam penelitian itu benar karena Alkitab juga menegaskan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Semangat yang patah adalah semangat yang sudah padam, tak ada lagi gairah dalam hidup, wajah selalu bermuram durja dan sulit untuk tertawa. Orang Kristen yang menaruh pengharapan penuh di dalam Kristus pasti tidak akan mahal untuk tertawa, sebab mereka tahu bahwa hidup mereka dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih. Bermuram durja dan selalu pesimistis di sepanjang hari tak ada faedahnya seperti tertulis: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).
Sulitkah Anda tertawa? Tentu ada beban berat dan berbagai macam kecemasan merajai hati kita bila memang demikian. Bila berbeban berat tentu sulit tertawa. Beban itu seharusnya tidak kita tanggung dan pikul sendiri. Kita harus bawa beban itu dan menyerahkannya kepada Tuhan Yesus, pasti ada kelepasan dan kelegaan. Inilah undangan Tuhan Yesus, pasti ada kelepasan dan kelegaan. Inilah undangan Tuhan Yesus: "Marilah kepadaKu, semua yang lebih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Ingat! Kekuatiran itu tidak dapat mengubah keadaan dan kodisi kita seperti yang Yesus katakan, "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Tuhan mengetahui segala keperluan kita dan Dia akan memelihara kita dengan cukup, asal kita mendahulukan KerajaanNya dan kebenaranNya. Kalau fokus kita hanya pada masalah yang ada, hati kita jadi tawar dan sulit untuk tertawa.
"Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku berosark-sorak,..." Mazmur 16:8-9a
Baca: Amsal 17:13-28
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Amsal 17:22
Para dokter terkenal di Amerika Serikat mengadakan penelitian dan akhirnya membuat satu kesimpulan: ternyata tertawa itu sehat. Tertawa dapat menjadi obat yang mujarab, sebab melalui tertawa humor yang sehat muncul, hati menjadi riang, tekanan darah dapat turun, saraf-saraf tidak lagi tegang, terutama lagi bila hal-hal ini disertai dengan kekuatan batiniah misalnya dengan keyakinan penuh akan Tuhan dan iman yang kuat.
Apa yang diungkapkan para dokter dalam penelitian itu benar karena Alkitab juga menegaskan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Semangat yang patah adalah semangat yang sudah padam, tak ada lagi gairah dalam hidup, wajah selalu bermuram durja dan sulit untuk tertawa. Orang Kristen yang menaruh pengharapan penuh di dalam Kristus pasti tidak akan mahal untuk tertawa, sebab mereka tahu bahwa hidup mereka dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih. Bermuram durja dan selalu pesimistis di sepanjang hari tak ada faedahnya seperti tertulis: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).
Sulitkah Anda tertawa? Tentu ada beban berat dan berbagai macam kecemasan merajai hati kita bila memang demikian. Bila berbeban berat tentu sulit tertawa. Beban itu seharusnya tidak kita tanggung dan pikul sendiri. Kita harus bawa beban itu dan menyerahkannya kepada Tuhan Yesus, pasti ada kelepasan dan kelegaan. Inilah undangan Tuhan Yesus, pasti ada kelepasan dan kelegaan. Inilah undangan Tuhan Yesus: "Marilah kepadaKu, semua yang lebih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Ingat! Kekuatiran itu tidak dapat mengubah keadaan dan kodisi kita seperti yang Yesus katakan, "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Tuhan mengetahui segala keperluan kita dan Dia akan memelihara kita dengan cukup, asal kita mendahulukan KerajaanNya dan kebenaranNya. Kalau fokus kita hanya pada masalah yang ada, hati kita jadi tawar dan sulit untuk tertawa.
"Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku berosark-sorak,..." Mazmur 16:8-9a
Monday, August 30, 2010
TETAP KUAT MESKI TAK DIANGGAP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Agustus 2010 -
Baca: Yohanes 17:1-26
"Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia." 1 Petrus 4:19
Alkitab menyatakan, "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah." (Ibrani 11:24-26)
Demi panggilan Tuhan Musa rela meninggalkan harta kekayaan dan segala kehormatan yang ia dapat saat berada di Mesir, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Tetapi bangsa Israel sama sekali tidak menunjukkan respons positif terhadap pengorbanan Musa ini. Sebaliknya mereka seringkali marah, menggerutu dan mengolok-olok Musa. Bahkan mereka menuduh bahwa Musalah penyebab penderitaan yang mereka alami selama ini. Bangsa Israel merasa lebih senang dan betah tinggal di Mesir dari pada harus mengembara di padang gurun menuju tanah Perjanjian, tidak ada makanan, tak ada air, tidak seperti di Mesir. Namun Musa bisa menjaga hati, tetap taat kepada pimpinan Tuhan dan terus berupaya menjalankan tugasnya demi kebaikan bangsa Israel itu, walau mereka memandangnya dengan sebelah mata.
Banyak hamba Tuhan yang tak luput dari hal yang demikian. Meski sudah melayani jiwa-jiwa dengan segenap hati dan jiwa, berkorban waktu dan tenaga, mereka masih kurang dianggap dan sering diremehkan pelayanannya. Janganlah kita berkecil hati! Tetaplah teguh pada tugas dan panggilan Tuhan seperti Musa. Kalau pun kita harus menderita karena melakukan kehendak Allah, kita harus menyerahkan jiwa kita kepadaNya. Sekalipun kita menderita karena perbuatan orang lain yang memusuhi perbuatan benar kita, jangan sekali-kali kita menuntut balas. Sebaliknya haruslah kita selalu berbuat baik kepada mereka dan juga kepada Allah Pencipta yang setia.
Itulah yang dikehendaki Allah kepada kita. Yang terpenting ialah motif pelayanan yang benar harus tetap kita pertahankan sekalipun banyak tantangan dan masalah yang menyerang. Percayalah, "Penjagamu tidak akan terlelap. Tuhan Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:3b, 5).
Jerih lelah kita bagi Tuhan tidak pernah sia-sia! Tetap lakukan tugasmu dengan setia.
Baca: Yohanes 17:1-26
"Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia." 1 Petrus 4:19
Alkitab menyatakan, "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah." (Ibrani 11:24-26)
Demi panggilan Tuhan Musa rela meninggalkan harta kekayaan dan segala kehormatan yang ia dapat saat berada di Mesir, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Tetapi bangsa Israel sama sekali tidak menunjukkan respons positif terhadap pengorbanan Musa ini. Sebaliknya mereka seringkali marah, menggerutu dan mengolok-olok Musa. Bahkan mereka menuduh bahwa Musalah penyebab penderitaan yang mereka alami selama ini. Bangsa Israel merasa lebih senang dan betah tinggal di Mesir dari pada harus mengembara di padang gurun menuju tanah Perjanjian, tidak ada makanan, tak ada air, tidak seperti di Mesir. Namun Musa bisa menjaga hati, tetap taat kepada pimpinan Tuhan dan terus berupaya menjalankan tugasnya demi kebaikan bangsa Israel itu, walau mereka memandangnya dengan sebelah mata.
Banyak hamba Tuhan yang tak luput dari hal yang demikian. Meski sudah melayani jiwa-jiwa dengan segenap hati dan jiwa, berkorban waktu dan tenaga, mereka masih kurang dianggap dan sering diremehkan pelayanannya. Janganlah kita berkecil hati! Tetaplah teguh pada tugas dan panggilan Tuhan seperti Musa. Kalau pun kita harus menderita karena melakukan kehendak Allah, kita harus menyerahkan jiwa kita kepadaNya. Sekalipun kita menderita karena perbuatan orang lain yang memusuhi perbuatan benar kita, jangan sekali-kali kita menuntut balas. Sebaliknya haruslah kita selalu berbuat baik kepada mereka dan juga kepada Allah Pencipta yang setia.
Itulah yang dikehendaki Allah kepada kita. Yang terpenting ialah motif pelayanan yang benar harus tetap kita pertahankan sekalipun banyak tantangan dan masalah yang menyerang. Percayalah, "Penjagamu tidak akan terlelap. Tuhan Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:3b, 5).
Jerih lelah kita bagi Tuhan tidak pernah sia-sia! Tetap lakukan tugasmu dengan setia.
Sunday, August 29, 2010
HIDUP YANG KEKAL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Agustus 2010 -
Baca: Yohanes 17:1-26
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." Yohanes 17:3
Berjuta-juta manusia di dunia ini sedang mencari hidup kekal. Semua orang ingin masuk Kerajaan Sorga tetapi mereka tidak tahu jalan yang benar menuju ke sorga. Ada juga yang berkata, "Banyak jalan menuju Roma" atau banyak jalan menuju kepada kehidupan kekal itu. Dan nabi-nabi palsu akhir zaman ini menggunakan kesempatan emas ini untuk menipu banyak orang dan membawa mereka kepada jalan yang salah.
Tetapi puji syukur kepada Allah, karena Dia telah memberikan Yesus Kristus kekuasaan atas semua manusia, yaitu memberi hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Alkitab menegaskan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Jadi, "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yesus Kristus - red)." (Yohanes 14:6b).
Hidup kekal itu kita terima dari Allah melalui AnakNya Yesus Kristus. Tanpa itu tidak ada cara yang dapat kita tempuh untuk mengenal Allah. Kita dapat berbicara tentang Dia, tahu tentang Alkitab dan ajaran-ajaran di dalamNya, bahkan kita boleh bekerja keras bagi Dia dalam banyak pelayanan, tetapi semuanya tak berarti sampai kita menerima hidup kekal sebagai anugerahNya serta menikmati pengenalan secara pribadi bersama Dia. Tertulis: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah Tuhan yang menujukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi: sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan." (Yeremia 9:23-24).
Iman secara pikiran orang tak dapat menggantikan untuk mengetahui Allah dalam roh kita. Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah langkah memasuki hidup yang kekal dan menemukan pengetahuan tentang Allah yang benar yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Tuhan Yesus berkata, "...Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Hidup kekal kita terima dari Allah hanya melalui Yesus Kristus tidak ada jalan lain!
Baca: Yohanes 17:1-26
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." Yohanes 17:3
Berjuta-juta manusia di dunia ini sedang mencari hidup kekal. Semua orang ingin masuk Kerajaan Sorga tetapi mereka tidak tahu jalan yang benar menuju ke sorga. Ada juga yang berkata, "Banyak jalan menuju Roma" atau banyak jalan menuju kepada kehidupan kekal itu. Dan nabi-nabi palsu akhir zaman ini menggunakan kesempatan emas ini untuk menipu banyak orang dan membawa mereka kepada jalan yang salah.
Tetapi puji syukur kepada Allah, karena Dia telah memberikan Yesus Kristus kekuasaan atas semua manusia, yaitu memberi hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Alkitab menegaskan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Jadi, "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yesus Kristus - red)." (Yohanes 14:6b).
Hidup kekal itu kita terima dari Allah melalui AnakNya Yesus Kristus. Tanpa itu tidak ada cara yang dapat kita tempuh untuk mengenal Allah. Kita dapat berbicara tentang Dia, tahu tentang Alkitab dan ajaran-ajaran di dalamNya, bahkan kita boleh bekerja keras bagi Dia dalam banyak pelayanan, tetapi semuanya tak berarti sampai kita menerima hidup kekal sebagai anugerahNya serta menikmati pengenalan secara pribadi bersama Dia. Tertulis: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah Tuhan yang menujukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi: sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan." (Yeremia 9:23-24).
Iman secara pikiran orang tak dapat menggantikan untuk mengetahui Allah dalam roh kita. Percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah langkah memasuki hidup yang kekal dan menemukan pengetahuan tentang Allah yang benar yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Tuhan Yesus berkata, "...Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Hidup kekal kita terima dari Allah hanya melalui Yesus Kristus tidak ada jalan lain!
Saturday, August 28, 2010
YAKIN TERHADAP INJIL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Agustus 2010 -
Baca: Roma 1:16-17
"Sebab di dalamnya (Injil - red).) nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.' " Roma 1:17
Menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah karena kekristenan bukanlah suatu permainan, tetapi adalah suatu medan pertempuran. Terlebih lagi hidup di zaman sekarang ini, dimana banyak 'ilah-ilah' dunia yang siap menjerat dan menyeret orang-orang Kristen yang tidak memiliki keyakinan teguh terhadap Injil.
Kehidupan orang Kristen yang tidak memiliki keyakinan kuat terhadap kebenaran Injil "...sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Lukas 6:49). Saat ini tidak sedikit orang Kristen yang mulai bimbang dan terpengaruh berbagai macam angin pengajaran yang menyesatkan. Saat dalam masalah atau kesulitan mereka tidak lagi lari kepada Tuhan atau meminta nasihat kepada hamba-hamba Tuhan, tetapi lebih memilih mencari pertolongan atau nasihat kepada paranormal dan juga orang pintar. Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, " (Mazmur 1:1a), karenanya "...jalan orang fasik menuju kebinasaan." (Mazmur 1:6b).
Kita tidak boleh main-main dengan keyakinan iman kita. Sekali kita percaya kepada Kristus jangan sekali-kali mundur, apalagi meninggalkan Kristus. Hingga saat ini banyak orang Kristen yang terikat dengan perkara-perkara dunia ini sehingga kekristenan mereka hanya sebagai predikat saja. Akibatnya mereka belum sanggup melihat perkara-perkara dalam hidup ini dengan mata rohani. Apalagi peperangan yang kita hadapi saat ini tidak mudah, kita harus berperang melawan kuasa-kuasa kegelapan. Maka sangat perlu kita menggunakan senjata Roh untuk melawannya, yaitu firman Tuhan. Jika kita menggunakan firman Tuhan, dengan sendirinya kita harus punya keyakinan yang kuat atas firman itu. Namun jika kita sendiri tidak meyakiniNya, maka musuh akan mentertawakan kita. Bagaimana yakin, bila kita sendiri jarang membaca firmanNya? Kita harus seperti Paulus yang yakin akan kebenaran dan kuasa Injil sehingga dia sanggup berkata, "...aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya," (Roma 1:16).
Firman Tuhan itu keselamatan kita; sudahkah kita 'tinggal' di dalamnya, sehingga kita beroleh keyakinan?
Baca: Roma 1:16-17
"Sebab di dalamnya (Injil - red).) nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.' " Roma 1:17
Menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah karena kekristenan bukanlah suatu permainan, tetapi adalah suatu medan pertempuran. Terlebih lagi hidup di zaman sekarang ini, dimana banyak 'ilah-ilah' dunia yang siap menjerat dan menyeret orang-orang Kristen yang tidak memiliki keyakinan teguh terhadap Injil.
Kehidupan orang Kristen yang tidak memiliki keyakinan kuat terhadap kebenaran Injil "...sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Lukas 6:49). Saat ini tidak sedikit orang Kristen yang mulai bimbang dan terpengaruh berbagai macam angin pengajaran yang menyesatkan. Saat dalam masalah atau kesulitan mereka tidak lagi lari kepada Tuhan atau meminta nasihat kepada hamba-hamba Tuhan, tetapi lebih memilih mencari pertolongan atau nasihat kepada paranormal dan juga orang pintar. Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, " (Mazmur 1:1a), karenanya "...jalan orang fasik menuju kebinasaan." (Mazmur 1:6b).
Kita tidak boleh main-main dengan keyakinan iman kita. Sekali kita percaya kepada Kristus jangan sekali-kali mundur, apalagi meninggalkan Kristus. Hingga saat ini banyak orang Kristen yang terikat dengan perkara-perkara dunia ini sehingga kekristenan mereka hanya sebagai predikat saja. Akibatnya mereka belum sanggup melihat perkara-perkara dalam hidup ini dengan mata rohani. Apalagi peperangan yang kita hadapi saat ini tidak mudah, kita harus berperang melawan kuasa-kuasa kegelapan. Maka sangat perlu kita menggunakan senjata Roh untuk melawannya, yaitu firman Tuhan. Jika kita menggunakan firman Tuhan, dengan sendirinya kita harus punya keyakinan yang kuat atas firman itu. Namun jika kita sendiri tidak meyakiniNya, maka musuh akan mentertawakan kita. Bagaimana yakin, bila kita sendiri jarang membaca firmanNya? Kita harus seperti Paulus yang yakin akan kebenaran dan kuasa Injil sehingga dia sanggup berkata, "...aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya," (Roma 1:16).
Firman Tuhan itu keselamatan kita; sudahkah kita 'tinggal' di dalamnya, sehingga kita beroleh keyakinan?
Friday, August 27, 2010
KESELAMATAN: Kasih Karunia Allah
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Agustus 2010 -
Baca: Titus 2:11-15
"Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata." Titus 2:11
Penderitaan yang dialami oleh Yesus selama berada di bumi, bahkan sampai harus mati di atas kayu salib dan kemudian bangkit di hari yang ketiga, bukanlah suatu rentetan peristiwa dramatis yang tanpa makna dan sia-sia. Nyawa yang telah Ia pertaruhkan dan kerelaanNya menjadi kutuk adalah demi satu tujuan yang sangat mulia. Dikatakan: "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita," (Galatia 3:13).
Yesus rela menanggung kutuk dosa supaya seluruh umat manusia di atas bumi diselamatkan. Coba renungkan! Andaikan Yesus tidak taat kepada Bapa dan gagal (tetapi Dia tidak pernah gagal), maka kita pun tidak punya pengharapan dan masa depan lagi. Tetapi Yesus berkata, "...tetapi janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Bila Yesus tidak mati di kayu salib, kita semua akan mengalami kebinasaan yang kekal dan menjadi bagian dari 'keluarga besar' Iblis dan bala tentaranya. Betapa mengerikan!
Syukur bagi Tuhan! Yesus telah menyelesaikan tugas dari panggilanNya sebagai Juruselamat umat manusia. Saat berada di atas kayu salib dan "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya." (Yohanes 19:20). Dampak dari pengorbanan Yesus ini sungguh luar biasa: Kita dibebaskan dari belenggu dosa, kutuk dan maut. Tidak hanya itu, status kita pun berubah, kita bukan lagi menjadi hamba dosa, tetapi menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:18), kita disucikan, diperdamaikan dengan Allah dan diangkat sebagai anak-anakNya. Berkat keselamatan yang luar biasa! Oleh karena itu jangan pernah berkata bahwa keselamatan ini adalah hasil usaha dan pekerjaan kita, atau karena perbuatan baik dan jasa-jasa kita. Semuanya itu semata-mata karena kasih karunia Allah dan pekerjaan Allah di dalam Yesus Kristus sebagaimana tertulis di ayat nas yang kita baca hari ini (baca juga dalam Yohanes 3:16-17). Jadi, kita menerima keselamatan sendiri karena Allah sendiri yang memberikannya kepada kita melalui iman percaya kita di dalam Yesus Kristus.
Setelah diselamatkan kita harus '...meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi..." (Titus 2:12), tetaplah mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (baca Filipi 2:12) dan beritakanlah kabar keselamatan ini kepada orang lain.
Baca: Titus 2:11-15
"Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata." Titus 2:11
Penderitaan yang dialami oleh Yesus selama berada di bumi, bahkan sampai harus mati di atas kayu salib dan kemudian bangkit di hari yang ketiga, bukanlah suatu rentetan peristiwa dramatis yang tanpa makna dan sia-sia. Nyawa yang telah Ia pertaruhkan dan kerelaanNya menjadi kutuk adalah demi satu tujuan yang sangat mulia. Dikatakan: "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita," (Galatia 3:13).
Yesus rela menanggung kutuk dosa supaya seluruh umat manusia di atas bumi diselamatkan. Coba renungkan! Andaikan Yesus tidak taat kepada Bapa dan gagal (tetapi Dia tidak pernah gagal), maka kita pun tidak punya pengharapan dan masa depan lagi. Tetapi Yesus berkata, "...tetapi janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Bila Yesus tidak mati di kayu salib, kita semua akan mengalami kebinasaan yang kekal dan menjadi bagian dari 'keluarga besar' Iblis dan bala tentaranya. Betapa mengerikan!
Syukur bagi Tuhan! Yesus telah menyelesaikan tugas dari panggilanNya sebagai Juruselamat umat manusia. Saat berada di atas kayu salib dan "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya." (Yohanes 19:20). Dampak dari pengorbanan Yesus ini sungguh luar biasa: Kita dibebaskan dari belenggu dosa, kutuk dan maut. Tidak hanya itu, status kita pun berubah, kita bukan lagi menjadi hamba dosa, tetapi menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:18), kita disucikan, diperdamaikan dengan Allah dan diangkat sebagai anak-anakNya. Berkat keselamatan yang luar biasa! Oleh karena itu jangan pernah berkata bahwa keselamatan ini adalah hasil usaha dan pekerjaan kita, atau karena perbuatan baik dan jasa-jasa kita. Semuanya itu semata-mata karena kasih karunia Allah dan pekerjaan Allah di dalam Yesus Kristus sebagaimana tertulis di ayat nas yang kita baca hari ini (baca juga dalam Yohanes 3:16-17). Jadi, kita menerima keselamatan sendiri karena Allah sendiri yang memberikannya kepada kita melalui iman percaya kita di dalam Yesus Kristus.
Setelah diselamatkan kita harus '...meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi..." (Titus 2:12), tetaplah mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (baca Filipi 2:12) dan beritakanlah kabar keselamatan ini kepada orang lain.
Thursday, August 26, 2010
BAIT TUHAN ITU KUDUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Agustus 2010 -
Baca: Markus 11:15-19
"Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkanNya," Markus 11:15b
Dalam 1 Korintus 3:16, 17 dikatakan: "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu." Bait Allah adalah tempat di mana Allah hadir; tempat di mana hadiratNya bersemayam. Dikatakan bahwa bait Allah adalah kudus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sangat marah ketika melihat banyak orang menyalahgunakan Bait Allah di mana mereka menggunakannya sebagai tempat untuk berdagang dan berjual beli, sehingga akhirnya "Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikanNya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kataNya: Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!' " (Markus 11:15b-17). Tindakan Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah tidak hanya berlaku 2000 tahun yang lalu atau hanya sebagai peristiwa sejarah di masa lampau. Sampai saat ini pun Dia akan terus memperbaharui dan menyucikan gerejaNya! Tuhan sangat membenci segala bentuk kecemaran. Tidak ada istilah kompromi terhadap dosa.
Kita harus menyadari bahwa kita ini adalah baitNya, tempat di mana Roh Kudus tinggal. FirmanNya menegaskan: "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama dengan Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Ketika mendengar kata kudus kita sering mengidentikkan dengan kesempuranaan. Memang tidak ada manusia yang sempurna, namun jangan jadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak hidup kudus. Ingatlah bahwa kekudusan itu mutlak harus dimiliki oleh orang percaya, sebab tanpa kekudusan tidak ada seorang pun dapat melihat Allah. Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu hidup kudus, tapi ada Roh Kudus yang akan menolong kita. Setiap orang yang percaya kepada Kristus dikuduskan dan dipanggil menjadi orang yang percaya kepada Kristus dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus (baca Korintus 1:2).
Maka dari itu jangan sekali-kali bermain-main dengan dosa!
Baca: Markus 11:15-19
"Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkanNya," Markus 11:15b
Dalam 1 Korintus 3:16, 17 dikatakan: "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu." Bait Allah adalah tempat di mana Allah hadir; tempat di mana hadiratNya bersemayam. Dikatakan bahwa bait Allah adalah kudus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sangat marah ketika melihat banyak orang menyalahgunakan Bait Allah di mana mereka menggunakannya sebagai tempat untuk berdagang dan berjual beli, sehingga akhirnya "Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikanNya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kataNya: Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!' " (Markus 11:15b-17). Tindakan Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah tidak hanya berlaku 2000 tahun yang lalu atau hanya sebagai peristiwa sejarah di masa lampau. Sampai saat ini pun Dia akan terus memperbaharui dan menyucikan gerejaNya! Tuhan sangat membenci segala bentuk kecemaran. Tidak ada istilah kompromi terhadap dosa.
Kita harus menyadari bahwa kita ini adalah baitNya, tempat di mana Roh Kudus tinggal. FirmanNya menegaskan: "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama dengan Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Ketika mendengar kata kudus kita sering mengidentikkan dengan kesempuranaan. Memang tidak ada manusia yang sempurna, namun jangan jadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak hidup kudus. Ingatlah bahwa kekudusan itu mutlak harus dimiliki oleh orang percaya, sebab tanpa kekudusan tidak ada seorang pun dapat melihat Allah. Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu hidup kudus, tapi ada Roh Kudus yang akan menolong kita. Setiap orang yang percaya kepada Kristus dikuduskan dan dipanggil menjadi orang yang percaya kepada Kristus dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus (baca Korintus 1:2).
Maka dari itu jangan sekali-kali bermain-main dengan dosa!
Subscribe to:
Posts (Atom)