Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Agustus 2010 -
Baca: Yosua 1:1-9
"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." Yosua 1:8
Tuhan memiliki rancangan hidup berkemenangan bagi umatNya. Dia sendiri berkata, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Jelas bahwa Tuhan tidak merancangkan yang jahat terhadap anak-anakNya, sebaliknya merancangkan kemenangan yang gilang gemilang bagi setiap kita sehingga kita pun mengalami kehidupan yang senantiasa berhasil dan beruntung.
Ada perbedaan antara keberhasilan dan keberuntungan itu: Keberhasilan adalah sesuatu yang diraih melalui ketekunan, kerja keras dan perjuangan. Keberhasilan itu tidak seperti durian yang jatuh dari pohon atau dapat dicapai dalam semalam saja, namun selalu ada harga yang harus dibayar! Sedangkan keberuntungan adalah sebuah pencapaian yang diraih oleh karena pertolongan dan campur tangan Tuhan. Ayat nas di atas menegaskan bahwa perjalanan hidup orang percaya itu dirancang Tuhan untuk mengalami keberhasilan dan keberuntungan. Di dalam kenyataannya belum semua orang Kristen mengalami dan merasakan hidup dalam keberhasilan dan keberuntungan. Maka kepada Yosua Tuhan memberikan petunjuknya: 1. Kita harus kuat dan meneguhkan hati (baca Yosua 1:6-7). Bahkan perkataan "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu" itu disampaikan sebanyak dua kali, berarti ini sangat penting, karena seringkali kita mudah down dan putus asa ketika mengalami permasalahan sedikit saja lalu berkata, "Aku sudah tidak kuat lagi, rasa-rasanya ingin mati saja!". 2. Kita haru merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan, Artinya: dalam keadaan apa pun kita tetap berpegang teguh pada firman Tuhan. Tuhan Yesus berkata, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7).
Yosua mengalami keberhasilan dan keberuntungan dalam hidupnya, dan menikmati Kanaan karena ia melakukan kehendak Tuhan!
Wednesday, August 25, 2010
Tuesday, August 24, 2010
BERKAT BAGI YANG MENGHORMATI ORANGTUA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Agustus 2010 -
Baca: Keluaran 20:1-17
"Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." Keluaran 20:12
Demikian pentingnya menaruh rasa hormat kepada orangtua sampai-sampai Tuhan pun menuliskannya dalam kesepuluh firmanNya (10 hukum Taurat). Tidak hanya itu, ada berkat yang Dia sediakan!
Kalau seorang anak hormat kepada orangtuanya bukan hanya orangtuanya sendiri yang ingin membalas dan memberkati si anak, tetapi Tuhan pun menjadikan diriNya jaminan untuk membalas dan memberkati si anak yang tahu menghormati orangtuanya. Mungkin orangtua tidak mampu membalas sendiri perbuatan anak-anaknya, karena keterbatasannya, tetapi Tuhan selalu mampu dan pasti sanggup memberkati, dan berkat itu akan sampai pada anak-anak yang berkenan ini. Jadi anak-anak, jangan melihat apakah orangtuamu nantinya bisa memberkatimu atau tidak. Seringkali terjadi kalau orangtua punya kedudukan, perusahaan, kaya dan warisannya besar, maka si anak menjadi orang yang penurut, tidak terlalu berani kurang ajar, tetap hormat kepada orangtuanya sekalipun mereka sudah tua dan tidak berdaya. Sebaliknya kalau orangtuanya miskin, tidak punya apa-apa dan tidak terhormat, seringkali si anak kurang peduli, meremehkan, bahkan kadang-kadang ada yang tega menelantarkan dan menghina mereka.
Sebagai orang Kristen, sekalipun orangtua kita tidak punya apa-apa dan tidak bisa diharapkan, kita harus tetap menghormati mereka dengan penuh cinta dan kesungguhan hati karena itu adalah kehendak Tuhan bagi anak-anakNya. Kita harus taat akan firman Tuhan ini karena firmanNya jelas menyatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan memberkati kita, bukan orangtua. Setiap anak yang sungguh-sungguh menghormati orangtuanya akan hidup diberkati Tuhan jasmani dan rohani. Jangan sekali-kali kurang ajar, jangan pernah hitung-hitungan ketika kita memberi sesuatu kepada orangtua, karena Tuhan yang akan membalas memberkati kembali dengan limpahnya.
Anak-anak yang sungguh-sungguh menghormati orangtuanya akan mengalami penggenapan segala janji Tuhan. Dikatakan: "...supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." Kalau Tuhan yang memperpanjang hidup kita pastilah hidup kita akan senantiasa dalam pemeliharaanNya.
Sudahkah kita menghormati orang tua kita seperti yang dikehendaki Tuhan?
Baca: Keluaran 20:1-17
"Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." Keluaran 20:12
Demikian pentingnya menaruh rasa hormat kepada orangtua sampai-sampai Tuhan pun menuliskannya dalam kesepuluh firmanNya (10 hukum Taurat). Tidak hanya itu, ada berkat yang Dia sediakan!
Kalau seorang anak hormat kepada orangtuanya bukan hanya orangtuanya sendiri yang ingin membalas dan memberkati si anak, tetapi Tuhan pun menjadikan diriNya jaminan untuk membalas dan memberkati si anak yang tahu menghormati orangtuanya. Mungkin orangtua tidak mampu membalas sendiri perbuatan anak-anaknya, karena keterbatasannya, tetapi Tuhan selalu mampu dan pasti sanggup memberkati, dan berkat itu akan sampai pada anak-anak yang berkenan ini. Jadi anak-anak, jangan melihat apakah orangtuamu nantinya bisa memberkatimu atau tidak. Seringkali terjadi kalau orangtua punya kedudukan, perusahaan, kaya dan warisannya besar, maka si anak menjadi orang yang penurut, tidak terlalu berani kurang ajar, tetap hormat kepada orangtuanya sekalipun mereka sudah tua dan tidak berdaya. Sebaliknya kalau orangtuanya miskin, tidak punya apa-apa dan tidak terhormat, seringkali si anak kurang peduli, meremehkan, bahkan kadang-kadang ada yang tega menelantarkan dan menghina mereka.
Sebagai orang Kristen, sekalipun orangtua kita tidak punya apa-apa dan tidak bisa diharapkan, kita harus tetap menghormati mereka dengan penuh cinta dan kesungguhan hati karena itu adalah kehendak Tuhan bagi anak-anakNya. Kita harus taat akan firman Tuhan ini karena firmanNya jelas menyatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan memberkati kita, bukan orangtua. Setiap anak yang sungguh-sungguh menghormati orangtuanya akan hidup diberkati Tuhan jasmani dan rohani. Jangan sekali-kali kurang ajar, jangan pernah hitung-hitungan ketika kita memberi sesuatu kepada orangtua, karena Tuhan yang akan membalas memberkati kembali dengan limpahnya.
Anak-anak yang sungguh-sungguh menghormati orangtuanya akan mengalami penggenapan segala janji Tuhan. Dikatakan: "...supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." Kalau Tuhan yang memperpanjang hidup kita pastilah hidup kita akan senantiasa dalam pemeliharaanNya.
Sudahkah kita menghormati orang tua kita seperti yang dikehendaki Tuhan?
Monday, August 23, 2010
MENGHORMATI ORANGTUA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Agustus 2010 -
Baca: Efesus 6:1-9
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:" Efesus 6:1-2
Adalah suatu keharusan bagi anak untuk menghormati kedua orangtuanya karena orangtua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal mengasihi, memelihara, mengasuh dan juga memperhatikan. Itulah sebabnya firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan.
Takut akan Tuhan mempunyai arti segan dan hormat. Bukan rasa takut seperti seorang anak yang telah mencuri uang dan kepergok ayah ibunya. Atau seorang pencuri yang takut terhadap polisi dan sebagainya. Tetapki rasa takut ini menyebabkan anak-anak bersikap sebaik mungkin kepada orangtuanya supaya jangan sampai membuat kesalahan dan menyakiti hatinya, takut jangan sampai berbuat dosa kepadanya. Sudah sepantasnya bila anak menghormati orangtua dan takut kepadanya, sebab memang orangtua adalah orang-orang yang sangat terhormat bagi anak-anak, ibarat pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap saat siap menolong, melindungi dan mencintai kita lebih dari pada semua orang lain di dunia ini. Oleh karenanya anak-anak harus takut, hormat dan selalu taat kepada mereka. Di zaman sekarang ini banyak anak memberontak dan melawan orangtua, bahkan cenderung meremehkan dan merendahkan mereka. Salomo memberi nasihat, "Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku." (Amsal 4:1-2).
Dalam keluarga-keluarga di mana orangtua masih belum mengenal Tuhan, anak-anak harus tetap hormat dan takut akan orangtua, tetapi dalam hal-hal yang melawan firman Tuhan patutlah anak-anak menurut Tuhan lebih dari pada orangtua. Tuhan sangat benci terhadap anak yang tidak menghormati orangtuanya. Alkitab menyatakan: "Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya." (Ulangan 27:16a). Contohnya Absalom. Ia menjadi orang yang berhasil dan memiliki segalanya (fasilitas dan harta) karena bapanya (Daud). Sayang, setelah dewasa ia malah mengusir bapanya sendiri dan hendak membunuhnya.
Hidup Absalom pun berakhir tragis sebagai akibat ia berlaku kurang ajar dan tidak menghormati ayahnya!
Baca: Efesus 6:1-9
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:" Efesus 6:1-2
Adalah suatu keharusan bagi anak untuk menghormati kedua orangtuanya karena orangtua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal mengasihi, memelihara, mengasuh dan juga memperhatikan. Itulah sebabnya firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan.
Takut akan Tuhan mempunyai arti segan dan hormat. Bukan rasa takut seperti seorang anak yang telah mencuri uang dan kepergok ayah ibunya. Atau seorang pencuri yang takut terhadap polisi dan sebagainya. Tetapki rasa takut ini menyebabkan anak-anak bersikap sebaik mungkin kepada orangtuanya supaya jangan sampai membuat kesalahan dan menyakiti hatinya, takut jangan sampai berbuat dosa kepadanya. Sudah sepantasnya bila anak menghormati orangtua dan takut kepadanya, sebab memang orangtua adalah orang-orang yang sangat terhormat bagi anak-anak, ibarat pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap saat siap menolong, melindungi dan mencintai kita lebih dari pada semua orang lain di dunia ini. Oleh karenanya anak-anak harus takut, hormat dan selalu taat kepada mereka. Di zaman sekarang ini banyak anak memberontak dan melawan orangtua, bahkan cenderung meremehkan dan merendahkan mereka. Salomo memberi nasihat, "Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku." (Amsal 4:1-2).
Dalam keluarga-keluarga di mana orangtua masih belum mengenal Tuhan, anak-anak harus tetap hormat dan takut akan orangtua, tetapi dalam hal-hal yang melawan firman Tuhan patutlah anak-anak menurut Tuhan lebih dari pada orangtua. Tuhan sangat benci terhadap anak yang tidak menghormati orangtuanya. Alkitab menyatakan: "Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya." (Ulangan 27:16a). Contohnya Absalom. Ia menjadi orang yang berhasil dan memiliki segalanya (fasilitas dan harta) karena bapanya (Daud). Sayang, setelah dewasa ia malah mengusir bapanya sendiri dan hendak membunuhnya.
Hidup Absalom pun berakhir tragis sebagai akibat ia berlaku kurang ajar dan tidak menghormati ayahnya!
Sunday, August 22, 2010
PERIHAL TUGAS ORANGTUA: Mendidik Anak Untuk Hormat
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Agustus 2010 -
Baca: Efesus 6:1-9
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Eefesus 6:4
Secara garis besar ada tiga cara untuk mendidik anak supaya mereka memiliki rasa hormat terhadap orangtua: 1. Firman Tuhan. Anak-anak perlu tahu bahwa menghormati orangtua adalah kehendak Tuhan dan hal itu tertulis di dalam Alkitab, bukan hanya sekedar himbauan atau saran, atau tradisi turun-temurun. Jadi menghormati orangtua adalah Alkitabiah, suatu perintah dari Tuhan. Karena itulah orangtua punya tanggung jawab penuh untuk mengajar dan menanamkan nilai-nilai firman Tuhan kepada anak-anaknya sejak dini. Bila hati anak sudah diterangi oleh firman Tuhan, langkah hidupnya tidak lagi sembarangan karena Roh Kudus akan selalu mengingatkan setiap saat dan pada saat yang tepat. Kalau mereka tidak menghormati orangtuanya, hati nuraninya akan menyalahkannya sebab mereka sudah berdosa dan melawan Tuhan. Pemazmur berkata, "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu." (Mazmur 119:9).
2. Doa. Ternyata tidak mudah mendidik anak meskipun itu anak sendiri. Ketika anak-anak memberontak dan kurang ajar seringkali orangtua langsung naik pitam dan marah kepada mereka. Ingatlah bahwa setiap didikan yang kita berikan kepada anak-anak membutuhkan doa juga! Janganlah mengira bahwa karena dia adalah anak sendiri lalu kita akan mudah mendidiknya. Kita sangat membutuhkan kuasa Roh Kudus untuk menyatakan yang salah dan menanamkan kebenaran firman Tuhan itu di hati anak. Tanpa kuasa Roh Kudus terlalu sukar mengubah yang salah atau memulai hal-hal yang benar dan baik kepada anak.
3. Hajaran (rotan). Anak yang berbuat salah harus dinasehati, ditegur bahkan kalau perlu dihajar dengan rotan. Yang dimaksud dengan 'rotan' di sini adalah lidi untuk dipukulkan ke anak dengan beberapa pukulan saja, bukan memukul dengan emosi. Alkitab mencatat: "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" (Ibrani 12:7b). Banyak orangtua kaya memanjakan anak dengan uang dan harta tapi tidak pernah bertindak 'keras' kepada anak. Akibatnya tidak sedikit anak dari keluarga berada yang malah memberontak dan terlibat narkoba dan lain-lain.
Orangtua yang dewasa rohani pasti akan mendidik anaknya dengan benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan!
Baca: Efesus 6:1-9
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Eefesus 6:4
Secara garis besar ada tiga cara untuk mendidik anak supaya mereka memiliki rasa hormat terhadap orangtua: 1. Firman Tuhan. Anak-anak perlu tahu bahwa menghormati orangtua adalah kehendak Tuhan dan hal itu tertulis di dalam Alkitab, bukan hanya sekedar himbauan atau saran, atau tradisi turun-temurun. Jadi menghormati orangtua adalah Alkitabiah, suatu perintah dari Tuhan. Karena itulah orangtua punya tanggung jawab penuh untuk mengajar dan menanamkan nilai-nilai firman Tuhan kepada anak-anaknya sejak dini. Bila hati anak sudah diterangi oleh firman Tuhan, langkah hidupnya tidak lagi sembarangan karena Roh Kudus akan selalu mengingatkan setiap saat dan pada saat yang tepat. Kalau mereka tidak menghormati orangtuanya, hati nuraninya akan menyalahkannya sebab mereka sudah berdosa dan melawan Tuhan. Pemazmur berkata, "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu." (Mazmur 119:9).
2. Doa. Ternyata tidak mudah mendidik anak meskipun itu anak sendiri. Ketika anak-anak memberontak dan kurang ajar seringkali orangtua langsung naik pitam dan marah kepada mereka. Ingatlah bahwa setiap didikan yang kita berikan kepada anak-anak membutuhkan doa juga! Janganlah mengira bahwa karena dia adalah anak sendiri lalu kita akan mudah mendidiknya. Kita sangat membutuhkan kuasa Roh Kudus untuk menyatakan yang salah dan menanamkan kebenaran firman Tuhan itu di hati anak. Tanpa kuasa Roh Kudus terlalu sukar mengubah yang salah atau memulai hal-hal yang benar dan baik kepada anak.
3. Hajaran (rotan). Anak yang berbuat salah harus dinasehati, ditegur bahkan kalau perlu dihajar dengan rotan. Yang dimaksud dengan 'rotan' di sini adalah lidi untuk dipukulkan ke anak dengan beberapa pukulan saja, bukan memukul dengan emosi. Alkitab mencatat: "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" (Ibrani 12:7b). Banyak orangtua kaya memanjakan anak dengan uang dan harta tapi tidak pernah bertindak 'keras' kepada anak. Akibatnya tidak sedikit anak dari keluarga berada yang malah memberontak dan terlibat narkoba dan lain-lain.
Orangtua yang dewasa rohani pasti akan mendidik anaknya dengan benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan!
Saturday, August 21, 2010
HIDUP DALAM KESALEHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Agustus 2010 -
Baca: 1 Timotius 4:1-16
"Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya." 1 Timotius 4:10
Sebagai orang percaya kita harus mengerti bahwa ada jaminan berkat khusus dalam hidup kita jika kita menuruti firman Tuhan dan hidup saleh di hadapanNya. Oleh sebab itu kita harus melatih diri untuk hidup saleh dengan cara memelihara ibadah kita kepada Tuhan.
Sebegitu pentingkah ibadah? Alkitab berkata, "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ayat 8). Jadi, ibadah itu mengandung janji! Lalu, apa arti kesalehan? Kesalehan berarti hidup bagi Tuhan dan melakukan apa yang difirmankanNya. Memiliki hidup yang saleh berarti hidup menjadi teladan bagi semua orang, "...dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (ayat 12). Hidup bagi Tuhan selalu memberi keuntungan. Janganlah menganggap bahwa semua janji Tuhan itu hanya untuk hidup yang akan datang. Tuhan memiliki rencana di dalam hidup kita saat ini, bukan hanya waktu kita berada di sorga. Dia rindu investasinya menghasilkan untung. Tuhan tidak hanya rindu untuk menyelamatkan kita, tetapi Dia menginginkan kita membawa kemuliaan bagi namaNya. Dia ingin agar setiap orang dapat melihat kemajuan kita karena kita hidup bagi Dia.
Hidup saleh bukan halangan bagi kita untuk sukses; sebaliknya ada keuntungan dalam segala hal. Ada jaminan berkat bila kita hidup bagi Tuhan: berkat-berkat rohani di dalam sorga (penebusan, perlindungan, damai sejahtera, kekayaan dan sebagainya) dikaruniakan kepada kita. Karena kita sekarang adalah milik Allah maka kita pun harus hidup dalam kesalehan. Paulus berkata, "Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:18-20).
Hidup saleh adalah kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan!
Baca: 1 Timotius 4:1-16
"Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya." 1 Timotius 4:10
Sebagai orang percaya kita harus mengerti bahwa ada jaminan berkat khusus dalam hidup kita jika kita menuruti firman Tuhan dan hidup saleh di hadapanNya. Oleh sebab itu kita harus melatih diri untuk hidup saleh dengan cara memelihara ibadah kita kepada Tuhan.
Sebegitu pentingkah ibadah? Alkitab berkata, "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ayat 8). Jadi, ibadah itu mengandung janji! Lalu, apa arti kesalehan? Kesalehan berarti hidup bagi Tuhan dan melakukan apa yang difirmankanNya. Memiliki hidup yang saleh berarti hidup menjadi teladan bagi semua orang, "...dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (ayat 12). Hidup bagi Tuhan selalu memberi keuntungan. Janganlah menganggap bahwa semua janji Tuhan itu hanya untuk hidup yang akan datang. Tuhan memiliki rencana di dalam hidup kita saat ini, bukan hanya waktu kita berada di sorga. Dia rindu investasinya menghasilkan untung. Tuhan tidak hanya rindu untuk menyelamatkan kita, tetapi Dia menginginkan kita membawa kemuliaan bagi namaNya. Dia ingin agar setiap orang dapat melihat kemajuan kita karena kita hidup bagi Dia.
Hidup saleh bukan halangan bagi kita untuk sukses; sebaliknya ada keuntungan dalam segala hal. Ada jaminan berkat bila kita hidup bagi Tuhan: berkat-berkat rohani di dalam sorga (penebusan, perlindungan, damai sejahtera, kekayaan dan sebagainya) dikaruniakan kepada kita. Karena kita sekarang adalah milik Allah maka kita pun harus hidup dalam kesalehan. Paulus berkata, "Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:18-20).
Hidup saleh adalah kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan!
Friday, August 20, 2010
MASIH DIBERI KESEMPATAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Agustus 2010 -
Baca: Galatia 6:1-10
"Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Galatia 6:7a
Seringkali kita berpikir apabila kita berhenti atau tidak lagi melakukan dosa, beres sudah segala persoalan, kita tak usah membayar harganya. Firman Tuhan menegaskan: "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." (Galatia 6:7). Sesungguhnya, Dia adalah Tuhan yang penuh kesabaran. Bila seseorang berdosa kepadaNya tidak segera diberiNya ganjaran. Dia selalu menunggu ia bertobat dan sadar akan segala perbuatannya. DibiarkanNya mereka terluput dari ganjaran sebab Dia rakhmani dan rakhimi, dengan tujuan agar orang itu cepat bertobat.
Kita hidup di zaman Roh Kudus yang berlainan dengan zaman Perjanjian Lama. Pada zaman Perjanjian Lama secepet orang berbuat dosa, secepat itu pula menerima ganjarannya. Di zaman Roh Kudus ini Tuhan penuh anugerah dan kesabaran, sehingga setiap orang punya banyak kesempatan untuk bertobat. Berbahagialah kita sebagai anak-anakNya, karena apabila kita berbuat dosa Roh Kudus akan selalu mengingatkan kita agar kita tidak mengulangi dosa itu. Dikatakan: "...Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26). Tapi banyak di antara kita yang kurang peka terhadap peringatan Roh Kudus. Kita tetap melakukan dosa dan terasa berat sekali untuk berhenti. Dosa-dosa tetap diperbuat tapi ganjaran belum akan diterimanya secara langsung seperti di zaman Perjanjian Lama. Kemudian kita berhenti berbuat dosa, tapi kelakuan dan perbuatan dosa kita di masa lampau itu tetap harus dibayar harganya. Jadi penderitaan yang kita alami saat ini adakalanya sebagai akibat dari perbuatan dosa di masa lalu. Dosa sudah diampuni tapi ganjaran tetap harus kita rasakan.
Kita tak mungkin dapat melarikan diri dari akibat perbuatan di masa lalu ini yang disebut dengan istilah ganjaran. Memang pengampunan selalu diberikan Tuhan dan pemulihan hubungan dengan Allah dapat dibina lagi dengan baik. Akan tetapi satu-satunya cara untuk menjalani dan mempersingkat waktu berlakunya masa ganjaran ialah tunduk dan menyerah kepada Tuhan.
"...Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya orang berbalik dan bertobat." 2 Petrus 3:9
Baca: Galatia 6:1-10
"Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Galatia 6:7a
Seringkali kita berpikir apabila kita berhenti atau tidak lagi melakukan dosa, beres sudah segala persoalan, kita tak usah membayar harganya. Firman Tuhan menegaskan: "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." (Galatia 6:7). Sesungguhnya, Dia adalah Tuhan yang penuh kesabaran. Bila seseorang berdosa kepadaNya tidak segera diberiNya ganjaran. Dia selalu menunggu ia bertobat dan sadar akan segala perbuatannya. DibiarkanNya mereka terluput dari ganjaran sebab Dia rakhmani dan rakhimi, dengan tujuan agar orang itu cepat bertobat.
Kita hidup di zaman Roh Kudus yang berlainan dengan zaman Perjanjian Lama. Pada zaman Perjanjian Lama secepet orang berbuat dosa, secepat itu pula menerima ganjarannya. Di zaman Roh Kudus ini Tuhan penuh anugerah dan kesabaran, sehingga setiap orang punya banyak kesempatan untuk bertobat. Berbahagialah kita sebagai anak-anakNya, karena apabila kita berbuat dosa Roh Kudus akan selalu mengingatkan kita agar kita tidak mengulangi dosa itu. Dikatakan: "...Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26). Tapi banyak di antara kita yang kurang peka terhadap peringatan Roh Kudus. Kita tetap melakukan dosa dan terasa berat sekali untuk berhenti. Dosa-dosa tetap diperbuat tapi ganjaran belum akan diterimanya secara langsung seperti di zaman Perjanjian Lama. Kemudian kita berhenti berbuat dosa, tapi kelakuan dan perbuatan dosa kita di masa lampau itu tetap harus dibayar harganya. Jadi penderitaan yang kita alami saat ini adakalanya sebagai akibat dari perbuatan dosa di masa lalu. Dosa sudah diampuni tapi ganjaran tetap harus kita rasakan.
Kita tak mungkin dapat melarikan diri dari akibat perbuatan di masa lalu ini yang disebut dengan istilah ganjaran. Memang pengampunan selalu diberikan Tuhan dan pemulihan hubungan dengan Allah dapat dibina lagi dengan baik. Akan tetapi satu-satunya cara untuk menjalani dan mempersingkat waktu berlakunya masa ganjaran ialah tunduk dan menyerah kepada Tuhan.
"...Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya orang berbalik dan bertobat." 2 Petrus 3:9
Thursday, August 19, 2010
BELUM MELIHAT KEMULIAAN KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Agustus 2010 -
Baca: 1 Korintus 2:6-16
"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani." 1 Korintus 2:14
Seseorang mungkin sangat cerdas mengenai beberapa hal, tapi dapat ragu-ragu atau sama sekali tidak mengerti mengenai realitas kerohanian. Kata Paulus, "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:3-4). Dalam 'mata' mereka seolah-olah terdapat suatu selubung sehingga mereka tak dapat melihat hal-hal spiritual. Tetapi, "...apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya." (2 Korintus 3:16). Sebelum selubung mata seseorang disingkapkan tak mungkin ia dapat datang kepada Kristus dan bertobat. Pengangkatan atau penyingkapan selubung ini hanya dapat dikerjakan oleh kuasa Ilahi yaitu Roh Kudus.
Injil Kristus tidak antiintelektual. Untuk mengerti kebenaran Injil Kristus diperlukan pikiran, tetapi sayang pikiran manusia sudah tercemari dosa. Pikiran manusia telah dikendalikan oleh kemauannya sendiri yang cenderung memberontak kepada kebenaran Kristus dan lebih mengandalkan akal. Alkitab menyatakan; "...oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah." (Roma 10:3). Namun setelah mengalami kebuntuan banyak orang baru tersadar dan mulai mencari 'Penolong sejati' yaitu Yesus Kristus. Raja Daud berkata, "Sebelum aku terntindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janjiMu." (Mazmur 119:67).
Orang-orang yang diperbudak oleh dosa pada saatnya ingin melepaskan diri dari cengkeraman ini. Tetapi meski ada kemauan seringkali mereka gagal dan kembali jatuh dalam dosa lagi. Namun apabila selubung mata rohani itu tersingkap barulah mereka akan mengenal kebenaran Injil, "...dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32). Hamba dosa ini dapat merdeka apabila ada 'seseorang' yang membebaskannya.
"Jadi apabila Anak itu (Yesus Kristus - red.) memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." Yohanes 8:36
Baca: 1 Korintus 2:6-16
"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani." 1 Korintus 2:14
Seseorang mungkin sangat cerdas mengenai beberapa hal, tapi dapat ragu-ragu atau sama sekali tidak mengerti mengenai realitas kerohanian. Kata Paulus, "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:3-4). Dalam 'mata' mereka seolah-olah terdapat suatu selubung sehingga mereka tak dapat melihat hal-hal spiritual. Tetapi, "...apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya." (2 Korintus 3:16). Sebelum selubung mata seseorang disingkapkan tak mungkin ia dapat datang kepada Kristus dan bertobat. Pengangkatan atau penyingkapan selubung ini hanya dapat dikerjakan oleh kuasa Ilahi yaitu Roh Kudus.
Injil Kristus tidak antiintelektual. Untuk mengerti kebenaran Injil Kristus diperlukan pikiran, tetapi sayang pikiran manusia sudah tercemari dosa. Pikiran manusia telah dikendalikan oleh kemauannya sendiri yang cenderung memberontak kepada kebenaran Kristus dan lebih mengandalkan akal. Alkitab menyatakan; "...oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah." (Roma 10:3). Namun setelah mengalami kebuntuan banyak orang baru tersadar dan mulai mencari 'Penolong sejati' yaitu Yesus Kristus. Raja Daud berkata, "Sebelum aku terntindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janjiMu." (Mazmur 119:67).
Orang-orang yang diperbudak oleh dosa pada saatnya ingin melepaskan diri dari cengkeraman ini. Tetapi meski ada kemauan seringkali mereka gagal dan kembali jatuh dalam dosa lagi. Namun apabila selubung mata rohani itu tersingkap barulah mereka akan mengenal kebenaran Injil, "...dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32). Hamba dosa ini dapat merdeka apabila ada 'seseorang' yang membebaskannya.
"Jadi apabila Anak itu (Yesus Kristus - red.) memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." Yohanes 8:36
Subscribe to:
Posts (Atom)