Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2010 -
Baca: Yosua 14:6-15
"Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan Tuhan pada waktu itu,..." Yosua 14:12
Tuhan menciptakan setiap umatNya dengan suatu tujuan atau rencana indah. Demi terlaksananya rencana Tuhan bagi kita, kita harus bekerjasama denganNya, tak boleh pasif. Apabila Ia mengungkapkan rencana itu kepada kita haruslah kita tanggapi dengan positif. Dengan keyakinan penuh kita akan sanggup memenuhi apa yang Ia inginkan dalam hidup kita, tak peduli besar atau berat rintangan yang mungkin menghadang.
Pada zaman Musa Tuhan berjanji akan memberi bangsa Israel suatu negeri bagi mereka. Sesuai perintah Tuhan Musa pun mengutus 12 kepala suku untuk mengintai keadaan negeri itu. Ada pun 10 utusan yang telah mengintai negeri Kanaan itu memberikan laporan bahwa negeri itu memang berlimpah dengan susu dan madu, hanya sayang bangsa yang mendiami negeri itu kuat-kuat sehingga mereka tak mungkin masuk ke sana, hanya Yosua dan Kaleb yang memberikan tanggapan dan pernyataan positif. Namun bangsa Israel justru mengikuti suara negatif yang lebih banyak jumlahnya. Mereka tak berani masuk ke negeri perjanjian itu sehingga mereka harus mengembara selama 40 tahun. Ketika Musa meninggal Tuhan mengangkat Yosua sebagai penggantinya. Di bawah pimpinan Yosua mereka masuk ke negeri perjanjian. Kemudian Kaleb datang kepada Yosua mengingatkan janji Tuhan. Kaleb mengembara di padang belantara selama 40 tahun bersama bangsa yang tak percaya mengenai negeri yang Ia janjikan. 45 tahun setelah janji itu diberikan kepadanya Kaleb datang kepada Yosua dan berkata, "...berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan Tuhan pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu,..."
Seperti Kaleb, kita pun dapat meraih apa yang Tuhan janjikan kepada kita. Tak peduli apakah janji itu sudah lama atau baru. Tuhan tidak pernah ingkar janji, "Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang menganggapnya sebagai kelalaian," (2 Petrus 3:9). Untuk memiliki janji itu kita dapat bertindak seperti Kaleb mengingatkan Tuhan akan janjiNya.
Dan yang lebih penting jagalah sikap hati dan benar dan tetap teguh menanti-nantikan Dia!
Wednesday, August 11, 2010
Tuesday, August 10, 2010
SYARAT YANG HARUS DIPENUHI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Agustus 2010 -
Baca: Yohanes 15:1-8
"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Yohanes 15:7
Tetapi sekalipun kita memakai ayat itu sebagai senjata menggugah hati Tuhan agar janji firmanNya dipenuhi, tidak akan berguna sama sekali jika 'syarat' yang diminta Tuhan tidak kita penuhi. Syarat pertama adalah kita tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Artinya: kehidupan kita seluruhnya disalut oleh pribadi Tuhan. Seluruh kehendak pribadi kita harus dimatikan dan ditaklukkan untuk Kristus. Tuhan Yesus harus menjadi teladan di segala aspek kehidupan kita. Rasul Paulus berkata, "Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihiku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (Galatia 2:19-20). Kalau kita tinggal di dalam Kristus hidup kita akan mencerminkan sifat-sifat Kristus.
Ada pun syarat berikutnya: firmanNya tinggal di dalam kita. Jika firman Tuhan tinggal di dalam kita maka kita dapat menggunakannya untuk melepaskan kuasa cipta untuk memenuhi janji-janji firmanNya, karena setiap firman yang tertulis dalam Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri. FirmanNya tinggal di dalam kita berarti kita merenungkannya siang malam dan berpegang teguh kepada segala perintahNya, taat melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Salomo menasihati, "Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu. Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu." (Amsal 7:1-2).
Sudahkah kita hidup dalam ketaatan? Jangan menuntut Tuhan memberkati kita apabila kita tidak melakukan bagian kita!
Asal kita taat melakukan firmanNya dan meneladani Kristus dalam segala hal, apa pun yang kita perlukan pasti Dia sediakan!
Baca: Yohanes 15:1-8
"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Yohanes 15:7
Tetapi sekalipun kita memakai ayat itu sebagai senjata menggugah hati Tuhan agar janji firmanNya dipenuhi, tidak akan berguna sama sekali jika 'syarat' yang diminta Tuhan tidak kita penuhi. Syarat pertama adalah kita tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Artinya: kehidupan kita seluruhnya disalut oleh pribadi Tuhan. Seluruh kehendak pribadi kita harus dimatikan dan ditaklukkan untuk Kristus. Tuhan Yesus harus menjadi teladan di segala aspek kehidupan kita. Rasul Paulus berkata, "Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihiku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (Galatia 2:19-20). Kalau kita tinggal di dalam Kristus hidup kita akan mencerminkan sifat-sifat Kristus.
Ada pun syarat berikutnya: firmanNya tinggal di dalam kita. Jika firman Tuhan tinggal di dalam kita maka kita dapat menggunakannya untuk melepaskan kuasa cipta untuk memenuhi janji-janji firmanNya, karena setiap firman yang tertulis dalam Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri. FirmanNya tinggal di dalam kita berarti kita merenungkannya siang malam dan berpegang teguh kepada segala perintahNya, taat melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Salomo menasihati, "Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu. Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu." (Amsal 7:1-2).
Sudahkah kita hidup dalam ketaatan? Jangan menuntut Tuhan memberkati kita apabila kita tidak melakukan bagian kita!
Asal kita taat melakukan firmanNya dan meneladani Kristus dalam segala hal, apa pun yang kita perlukan pasti Dia sediakan!
Monday, August 9, 2010
JANGAN RAGUKAN KUASA TUHAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Agustus 2010 -
Baca: Keluaran 15:1-21
"Karena nafas hidungMu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." Keluaran 15:8
Dengan kuasaNya yang dahsyat Allah membuat air laut mampu berdiri tegak pada kedua sisi seperti tembok. Di tanganNya air laut seperti membeku sehingga orang Israel berjalan melintasi lautan itu seperti berjalan di tanah kering. Puji Tuhan! Firman Allah berkuasa! Ketika firman diucapkan air kembali lagi memenuhi lautan! Dia Allah yang Mahakuasa sanggup melakukan segal perkara, sehingga "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka Tuhan membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering di tengah-tengah laut." (Ayat 19).
Ini bukti kasih setiaNya; tidak ada janji yang tidak Dia penuhi. Jika Allah berjanji menyertai, Dia akan melakukannya. Dia tak pernah meninggalkan kita. "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." (Yesaya 43:2-3a). 'Air dan api' berbicara mengenai pencobaan dan penderitaan. Dia selalu menyertai kita sehingga tak satu pun perkara dapat menghancurkan kita jika kita selalu taat pada firmanNya; "...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).
Setelah Musa meninggal, Yosua dipilih Tuhan menadi pemimpin orang Israel. Tuhan berkata, "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ketika bangsa Israel tiba di Kanaan mereka menghadapi banyak musuh, di antaranya pertempuran melawan orang Amori. Bangsa Israel menang pada siang hari, tetapi malam hari kalah. Yosua pun berdoa agar matahari dan bulan tetap di tempatnya, "Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu (Israel) membalaskan dendamnya kepada musuhnya." (Yosua 10:13a).
Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan karena Dia Mahakuasa!
Baca: Keluaran 15:1-21
"Karena nafas hidungMu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." Keluaran 15:8
Dengan kuasaNya yang dahsyat Allah membuat air laut mampu berdiri tegak pada kedua sisi seperti tembok. Di tanganNya air laut seperti membeku sehingga orang Israel berjalan melintasi lautan itu seperti berjalan di tanah kering. Puji Tuhan! Firman Allah berkuasa! Ketika firman diucapkan air kembali lagi memenuhi lautan! Dia Allah yang Mahakuasa sanggup melakukan segal perkara, sehingga "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka Tuhan membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering di tengah-tengah laut." (Ayat 19).
Ini bukti kasih setiaNya; tidak ada janji yang tidak Dia penuhi. Jika Allah berjanji menyertai, Dia akan melakukannya. Dia tak pernah meninggalkan kita. "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." (Yesaya 43:2-3a). 'Air dan api' berbicara mengenai pencobaan dan penderitaan. Dia selalu menyertai kita sehingga tak satu pun perkara dapat menghancurkan kita jika kita selalu taat pada firmanNya; "...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).
Setelah Musa meninggal, Yosua dipilih Tuhan menadi pemimpin orang Israel. Tuhan berkata, "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ketika bangsa Israel tiba di Kanaan mereka menghadapi banyak musuh, di antaranya pertempuran melawan orang Amori. Bangsa Israel menang pada siang hari, tetapi malam hari kalah. Yosua pun berdoa agar matahari dan bulan tetap di tempatnya, "Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu (Israel) membalaskan dendamnya kepada musuhnya." (Yosua 10:13a).
Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan karena Dia Mahakuasa!
Sunday, August 8, 2010
PERPISAHAN ABRAM DAN LOT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Agustus 2010 -
Baca: Kejadian 13:1-13
"Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama" Kejadian 13:6
Allah memanggil Abram untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya pergi ke negeri yang akan Dia tunjukkan. "...pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lot pun bersama-sama dengan dia." (ayat 1).
Lot bukanlah orang yang terkenal atau pun orang yang istimewa, namun ia menjadi terkenal karena Abram adalah orang beriman yang setia. Sebelum Allah memanggilnya, Abram adalah orang dari keluarga yang berlatar belakang menyembah berhala: "Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: 'Beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya." (Yosua 24:2-3). Mengetahui bahwa pamannya akan memisahkan diri dari dunia dan hidup sebagai anak Tuhan, Lot ikut dan turut meninggalkan Ur dengan Abram. Banyak di antara kita seperti Lot, tak pernah mendengar secara pribadi panggilan Ilahi, tetapi di bawa keluar dari dunia oleh sanak keluarga atau teman-teman yang sudah mendengar panggilan Tuhan. Itu tetap anugerah Allah dan sangat baik, bagaimanapun juga kita telah mengikuti mereka dalam jejak iman. Begitu juga Lot yang tidak hanya mengikuti Abram tetapi turut menjadi orang benar dan diselamatkan.
Awalnya Abram dan Lot mempunyai hubungan indah, namun akhirnya mereka harus berpisah dan perjalanan rohani mereka pun juga sangat berbeda. Ikut bersama Abram membuat kehidupan Lot turut diberkati Tuhan: mempunyai domba, lembu dan kemah, hartanya pun bertambah banyak sehingga negeri itu tak cukup bagi mereka untuk tinggal bersama. Mereka pun memutuskan berpisah. Memang sangatlah mudah berbagi dalam kesesakan, tetapi sangatlah sukar berbagi dalam hal kekayaan.
Persahabatan sangat indah bila dalam kesulitan; tetapi ketika salah seorang diberkati lebih, perpisahan pun terjadi.
Baca: Kejadian 13:1-13
"Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama" Kejadian 13:6
Allah memanggil Abram untuk meninggalkan negeri dan sanak saudaranya pergi ke negeri yang akan Dia tunjukkan. "...pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lot pun bersama-sama dengan dia." (ayat 1).
Lot bukanlah orang yang terkenal atau pun orang yang istimewa, namun ia menjadi terkenal karena Abram adalah orang beriman yang setia. Sebelum Allah memanggilnya, Abram adalah orang dari keluarga yang berlatar belakang menyembah berhala: "Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: 'Beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya." (Yosua 24:2-3). Mengetahui bahwa pamannya akan memisahkan diri dari dunia dan hidup sebagai anak Tuhan, Lot ikut dan turut meninggalkan Ur dengan Abram. Banyak di antara kita seperti Lot, tak pernah mendengar secara pribadi panggilan Ilahi, tetapi di bawa keluar dari dunia oleh sanak keluarga atau teman-teman yang sudah mendengar panggilan Tuhan. Itu tetap anugerah Allah dan sangat baik, bagaimanapun juga kita telah mengikuti mereka dalam jejak iman. Begitu juga Lot yang tidak hanya mengikuti Abram tetapi turut menjadi orang benar dan diselamatkan.
Awalnya Abram dan Lot mempunyai hubungan indah, namun akhirnya mereka harus berpisah dan perjalanan rohani mereka pun juga sangat berbeda. Ikut bersama Abram membuat kehidupan Lot turut diberkati Tuhan: mempunyai domba, lembu dan kemah, hartanya pun bertambah banyak sehingga negeri itu tak cukup bagi mereka untuk tinggal bersama. Mereka pun memutuskan berpisah. Memang sangatlah mudah berbagi dalam kesesakan, tetapi sangatlah sukar berbagi dalam hal kekayaan.
Persahabatan sangat indah bila dalam kesulitan; tetapi ketika salah seorang diberkati lebih, perpisahan pun terjadi.
Saturday, August 7, 2010
MEMILIKI HATI YANG MURNI DAN BERSIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Agustus 2010 -
Baca: Ibrani 10:19-25
"Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." Ibrani 10:22
Kepada jemaat di Efesus Paulus menegaskan bahwa hidup kekristenan adalah perjuangan melawan kuasa-kuasa gelap dan tipu muslihat Iblis. Maka "...berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan." (Efesus 6:14).
Apakah maksud berbaju zirah itu? Baju zirah adalah baju yang dipakai untuk melindungi dada prajurit dari serangan musuh. Hati dan Tuhan agar kita tak mudah tertembus peluru si Iblis. Seseorang yang mengenakan baju zirah keadilan dan kebenaran akan terjaga dari hal-hal cemar dan jahat, sehingga ia pun dapat menghadap Tuhan ranpa rintangan atau ganjalan dalam hati. Alkitab berkata: "...karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." Agar dapat memperoleh kemenangan atas musuh kita (Iblis), hati kita harus bersih dari segala kejahatan. Terlebih lagi bila kita rindu dipakai menjadi alat kemuliaanNya kita harus memiliki hati yang benar dan bersih di hadapan Tuhan seperti kata rasul Paulus, "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2 Timotius 2:21-22).
Hati merupakan sumber segala sesuatu, berkat atau kutuk. Ia dapat memancarkan kehidupan atau kematian, "karena dari hati timbul pikiran jahat,..." (Matius 15:19). Jika hati tercemar dan memancarkan air berpolusi dan keruh, sanggupkah ia menyegarkan jiwa yang dahaga? Maka untuk dapat memberi kesegaran jiwa-jiwa, perlulah hati kita dibersihkan setiap saat oleh darah Kristus yang kudus sehingga segala noda hilang! Dan melalui firmanNya hati kita akan diperbaharui setiap saat.
"...Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." Mazmur 73:1
Baca: Ibrani 10:19-25
"Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus iklas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." Ibrani 10:22
Kepada jemaat di Efesus Paulus menegaskan bahwa hidup kekristenan adalah perjuangan melawan kuasa-kuasa gelap dan tipu muslihat Iblis. Maka "...berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan." (Efesus 6:14).
Apakah maksud berbaju zirah itu? Baju zirah adalah baju yang dipakai untuk melindungi dada prajurit dari serangan musuh. Hati dan Tuhan agar kita tak mudah tertembus peluru si Iblis. Seseorang yang mengenakan baju zirah keadilan dan kebenaran akan terjaga dari hal-hal cemar dan jahat, sehingga ia pun dapat menghadap Tuhan ranpa rintangan atau ganjalan dalam hati. Alkitab berkata: "...karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." Agar dapat memperoleh kemenangan atas musuh kita (Iblis), hati kita harus bersih dari segala kejahatan. Terlebih lagi bila kita rindu dipakai menjadi alat kemuliaanNya kita harus memiliki hati yang benar dan bersih di hadapan Tuhan seperti kata rasul Paulus, "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2 Timotius 2:21-22).
Hati merupakan sumber segala sesuatu, berkat atau kutuk. Ia dapat memancarkan kehidupan atau kematian, "karena dari hati timbul pikiran jahat,..." (Matius 15:19). Jika hati tercemar dan memancarkan air berpolusi dan keruh, sanggupkah ia menyegarkan jiwa yang dahaga? Maka untuk dapat memberi kesegaran jiwa-jiwa, perlulah hati kita dibersihkan setiap saat oleh darah Kristus yang kudus sehingga segala noda hilang! Dan melalui firmanNya hati kita akan diperbaharui setiap saat.
"...Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." Mazmur 73:1
Friday, August 6, 2010
TUHAN TAHU YANG KITA ALAMI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Agustus 2010 -
Baca: Yesaya 40:1-11
"Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk doba dituntunNya dengan hati-hati." Yesaya 40:11
Tuhan tahu setiap langkah hidup kita. Kesedihan, sakit, penderitaan atau kesendirian yang kita alami pun turut dirasakanNya. KasihNya kekal tak pernah berubah! Bagaimana pun kita dan berapa jauh kita telah salah melangkah tidak masalah bagiNya. Kegagalan kita tidak mengubah karakterNya. Asal kita dengan tulus datang kepadaNya dan merindukanNya, Dia bersedia menjadi Gembala kita.
Sebagai Gembala, Tuhan tidak mengendalikan domba-dombaNya tetapi membimbing dengan lemah lembut. "...Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati." Ketika kita tersesat dan kehilangan arah Dia akan menggendong dan menolong kita dengan kelembutanNya. Tuhan sangat peduli kesesakan yang menimpa kita sekalipun orang lain tidak mempedulikannya. TelingaNya mendengar setiap erangan dan jeritan kita.
Ketika bangsa Israel sangat menderita karena perbudakan di Mesir, Tuhan juga tahu dan sangat peduli. FirmanNya kepada Musa, "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7). Tuhan pun bertindak menolong bangsa Israel. "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus." (Keluaran 3:8). Sungguh, Tuhan sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti! Sebagaimana Tuhan memperhatikan dan menyelamatkan bangsa Israel, demikian juga Dia sanggup menolong kita.
"UmatKu tadinya seperti domba-domba yang hilang; ...mereka berjalan dari gunung ke bukit sehingga lupa akan tempat pembaringannya. Tetapi aku akan mengembalikan Israel ke padang rumputnya,..." Yeremia 50:6a, 19
Baca: Yesaya 40:1-11
"Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk doba dituntunNya dengan hati-hati." Yesaya 40:11
Tuhan tahu setiap langkah hidup kita. Kesedihan, sakit, penderitaan atau kesendirian yang kita alami pun turut dirasakanNya. KasihNya kekal tak pernah berubah! Bagaimana pun kita dan berapa jauh kita telah salah melangkah tidak masalah bagiNya. Kegagalan kita tidak mengubah karakterNya. Asal kita dengan tulus datang kepadaNya dan merindukanNya, Dia bersedia menjadi Gembala kita.
Sebagai Gembala, Tuhan tidak mengendalikan domba-dombaNya tetapi membimbing dengan lemah lembut. "...Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati." Ketika kita tersesat dan kehilangan arah Dia akan menggendong dan menolong kita dengan kelembutanNya. Tuhan sangat peduli kesesakan yang menimpa kita sekalipun orang lain tidak mempedulikannya. TelingaNya mendengar setiap erangan dan jeritan kita.
Ketika bangsa Israel sangat menderita karena perbudakan di Mesir, Tuhan juga tahu dan sangat peduli. FirmanNya kepada Musa, "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7). Tuhan pun bertindak menolong bangsa Israel. "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus." (Keluaran 3:8). Sungguh, Tuhan sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti! Sebagaimana Tuhan memperhatikan dan menyelamatkan bangsa Israel, demikian juga Dia sanggup menolong kita.
"UmatKu tadinya seperti domba-domba yang hilang; ...mereka berjalan dari gunung ke bukit sehingga lupa akan tempat pembaringannya. Tetapi aku akan mengembalikan Israel ke padang rumputnya,..." Yeremia 50:6a, 19
Thursday, August 5, 2010
KETIDAKTAATAN: Akar Kegagalan.
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Agustus 2010 -
Baca: 1 Samuel 15:1-35
"Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya." 1 Samuel 15:3a
Siapa pun pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidup: gagal dalam studi, rumah tangga, pekerjaan atau mungkin dalam pelayanan. Sesungguhnya kita tidak diciptakan untuk mengalami kegagalan. Pada mulanya Allah menciptakan manusia untuk berkuasa atas segala sesuatu di bumi ini (baca Kejadian 1:26-27). Tetapi mengapa masih banyak orang percaya mengalami kegagalan demi kegagalan? Penyebab terbesar kegagalan adalah ketika kita tidak melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Beberapa di antara kita mampu mengatasi kegagalan tetapi tidak pernah menemukan 'akar' kegagalan itu.
Mari belajar dari pengalaman hidup Saul meremehkan dan mengabaikan perintah Allah. Alkitab mencatat: "...Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka." (1 Samuel 15:9). Saul menyimpan kambing domba dan lembu dengan alasan hendak dipersembahkan kepada Tuhan padahal Dia memerintahkan untuk menumpas semuanya! Melihat hal itu berkatalah Samuel kepada Saul, "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperlihatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan." (ayat 22). Akhirnya Saul harus menerima akibat ketidaktaatannya itu: "Tuhan telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu." (1 Samuel 15:28).
Hal pertama yang harus kita lakukan ketika gagal adalah mencari penyebab utama kegagalan itu. Saat gagal kita seringkali langsung menyalahkan Tuhan dan menduga Ia berlaku tidak adil kepada kita, padahal kita sendiri yang tidak taat kepadaNya.
Jika kita taat melakukan firmanNya Dia pasti akan memimpin kita dan memberkati segala usaha kita!
Baca: 1 Samuel 15:1-35
"Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya." 1 Samuel 15:3a
Siapa pun pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidup: gagal dalam studi, rumah tangga, pekerjaan atau mungkin dalam pelayanan. Sesungguhnya kita tidak diciptakan untuk mengalami kegagalan. Pada mulanya Allah menciptakan manusia untuk berkuasa atas segala sesuatu di bumi ini (baca Kejadian 1:26-27). Tetapi mengapa masih banyak orang percaya mengalami kegagalan demi kegagalan? Penyebab terbesar kegagalan adalah ketika kita tidak melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Beberapa di antara kita mampu mengatasi kegagalan tetapi tidak pernah menemukan 'akar' kegagalan itu.
Mari belajar dari pengalaman hidup Saul meremehkan dan mengabaikan perintah Allah. Alkitab mencatat: "...Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka." (1 Samuel 15:9). Saul menyimpan kambing domba dan lembu dengan alasan hendak dipersembahkan kepada Tuhan padahal Dia memerintahkan untuk menumpas semuanya! Melihat hal itu berkatalah Samuel kepada Saul, "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperlihatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan." (ayat 22). Akhirnya Saul harus menerima akibat ketidaktaatannya itu: "Tuhan telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu." (1 Samuel 15:28).
Hal pertama yang harus kita lakukan ketika gagal adalah mencari penyebab utama kegagalan itu. Saat gagal kita seringkali langsung menyalahkan Tuhan dan menduga Ia berlaku tidak adil kepada kita, padahal kita sendiri yang tidak taat kepadaNya.
Jika kita taat melakukan firmanNya Dia pasti akan memimpin kita dan memberkati segala usaha kita!
Subscribe to:
Posts (Atom)