Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Agustus 2010 -
Baca: Yohanes 2:13-25
"...Ia mengenal mereka (orang-orang Yerusalem - red.) semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia." Yohanes 2:24-25
Tuhan Yesus mengetahui apa yang ada dalam hati manusia. Segala perbuatan manusia, jahat atau baik, sekalipun disembunyikan begitu rupa di hadapan manusia, tak satupun lolos dari mata Tuhan. Menjadi Kristen saja tidaklah cukup sebab yang menyelamatkan kita bukanlah 'gelar' Kristen itu. Walaupun mengaku Kristen tapi bila kita tidak melakukan firman Tuhan, pengakuan itu tak ada manfaatnya bagi kehidupan rohani kita.
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi Ia hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah Bapa, sehingga Ia memiliki pikiran Allah yang bekerja di dalamNya setiap saat. Oleh sebab itu ketika orang-orang berkata tentangNya di dalam hati mereka, Tuhan Yesus mengetahui pikiran mereka: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?" (Matius 9:4). Bagi Yesus pikiran-pikiran yang terkandung dalam benak hati manusia, siapa pun dia, tampak jelas tanpa batas apa pun. Suatu ketika Yesus diundang makan oleh Simon, seorang Farisi. Yesus mengetahui apa yang dipikirkan Simon sehubungan dengan perempuan berdosa yang meminyaki kakiNya. Dengan mudah Yesus menjawab pikiran Simon yang disimpan dalam hati itu dengan bertanya, "Simon, ada yang hendak Kukatan kepadamu." (Lukas 7:40). Tuhan Yesus memiliki pengetahuan Ilahi tanpa batas dalam segala hal. Itulah yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan orang percaya, yaitu memiliki pikiran Kristus. Dengan memiliki pikiran Kristus kita menjadi peka terhadap kehendak Tuhan dan dalam hidup ini sebagaimana disampaikan Paulus kepada jemaat di Filipi: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus," (Filipi 2:5).
Bagaimana kita dapat memiliki pikiran Kristus? Ialah dengan keharusan membangun kekariban dengan Tuhan setiap waktu seperti Yesus yang selalu bersekutu dengan Bapa. Semakin kita intim dengan Tuhan semakin pikiran kita diperbaharui dari hari ke hari.
Hendaklah setiap saat kita berjalan sesuai firman Tuhan, karena segala perbuatan dan pikiran kita terbaca jelas olehNya, tidak ada yang tersembunyi!
Wednesday, August 4, 2010
Tuesday, August 3, 2010
ALLAH YANG TAK TERBATAS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Agustus 2010 -
Baca: Yohanes 3:22-36
"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas." Yohanes 3:34
Sudah terlalu lama manusia membatasi Allah dengan segala macam pikiran sia-sia. Tetapi Allah ingin menunjukkan tentang ketidakterbatasan kuasaNya melalui PuteraNya Yesus Kristus. Hidup Tuhan Yesus merupakan gambaran kesempurnaan, tentang seorang Anak manusia yang hidup di antara manusia tetapi tanpa batas-batas. Kesempuranaan ini adalah karena Allah mengaruniakan RohNya tanpa batas kepada PuteraNya itu. Tertulis: "Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya." (Ayat 35).
Allah selalu menghendaki anak-anakNya juga hidup dalam kesempurnaan. Dia ingin umatNya selalu membuka mata rohaninya dengan baik, karena umat yang selalu tersandung, terjatuh dan meraba-raba ketika berjalan dalam kegelapan dunia ini tidaklah dapat memuliakan Allah. Pemazmur menulis: "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Kalau kita menjadikan firman Allah sebagai pelita dan terang bagi jalan kita, kita tak akan tersandung menghadapi gelapnya situasi dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan jemaat di Laodikia untuk melumas mata mereka dengan minyak agar mereka dapat melihat (baca Wahyu 3:18). Minyak lambang Roh Kudus, yang berkuasa membersihkan semua kotran yang menhalangi pandangan mata rohani manusia, agar orang-orang pilihanNya memiliki visi yang jelas, tak terbatas, sehingga siapa pun musuhnya tak dapat memperdaya.
Ada contoh tentang nabi Elisa ketika raja Aram hendak berperang melawan bangsa Israel. Setiap rencana raja Aram selalu diketahui Elisa sekalipun pembicaraan itu dilakukan di dalam kamar. Akibatnya raja Aram menjadi sangat marah sehingga ia menyuruh pasukan besar lengkap dengan kuda dan keretanya mengepung Elisa. Itu sangat mengejutkan bujang Elisa dan ia menjadi sangat takut. Tetapi Elisa mempunyai mata rohani yang tajam, yang sanggup menembus penglihatan yang tidak dapat dilihat oleh bujangnya. Elisa berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka." (2 Raja-Raja 6:16). Elisa melihat ada sepasukan besar malaikat dengan kereta berapi yang siap menolong dan berperang bagi Elisa.
Dengan mata rohani kita dapat melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas!
Baca: Yohanes 3:22-36
"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas." Yohanes 3:34
Sudah terlalu lama manusia membatasi Allah dengan segala macam pikiran sia-sia. Tetapi Allah ingin menunjukkan tentang ketidakterbatasan kuasaNya melalui PuteraNya Yesus Kristus. Hidup Tuhan Yesus merupakan gambaran kesempurnaan, tentang seorang Anak manusia yang hidup di antara manusia tetapi tanpa batas-batas. Kesempuranaan ini adalah karena Allah mengaruniakan RohNya tanpa batas kepada PuteraNya itu. Tertulis: "Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya." (Ayat 35).
Allah selalu menghendaki anak-anakNya juga hidup dalam kesempurnaan. Dia ingin umatNya selalu membuka mata rohaninya dengan baik, karena umat yang selalu tersandung, terjatuh dan meraba-raba ketika berjalan dalam kegelapan dunia ini tidaklah dapat memuliakan Allah. Pemazmur menulis: "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Kalau kita menjadikan firman Allah sebagai pelita dan terang bagi jalan kita, kita tak akan tersandung menghadapi gelapnya situasi dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan jemaat di Laodikia untuk melumas mata mereka dengan minyak agar mereka dapat melihat (baca Wahyu 3:18). Minyak lambang Roh Kudus, yang berkuasa membersihkan semua kotran yang menhalangi pandangan mata rohani manusia, agar orang-orang pilihanNya memiliki visi yang jelas, tak terbatas, sehingga siapa pun musuhnya tak dapat memperdaya.
Ada contoh tentang nabi Elisa ketika raja Aram hendak berperang melawan bangsa Israel. Setiap rencana raja Aram selalu diketahui Elisa sekalipun pembicaraan itu dilakukan di dalam kamar. Akibatnya raja Aram menjadi sangat marah sehingga ia menyuruh pasukan besar lengkap dengan kuda dan keretanya mengepung Elisa. Itu sangat mengejutkan bujang Elisa dan ia menjadi sangat takut. Tetapi Elisa mempunyai mata rohani yang tajam, yang sanggup menembus penglihatan yang tidak dapat dilihat oleh bujangnya. Elisa berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka." (2 Raja-Raja 6:16). Elisa melihat ada sepasukan besar malaikat dengan kereta berapi yang siap menolong dan berperang bagi Elisa.
Dengan mata rohani kita dapat melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas!
Monday, August 2, 2010
JANJI PENYERTAAN TUHAN BAGI ORANG PERCAYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Agustus 2010 -
Baca: Roma 15:1-13
"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:20b
Janji penyertaan Yesus kepada murid-muridNya berlaku juga bagi semua orang Kristen, karena kita adalah pengikutNya juga. Tetapi banyak yang masih ragu-ragu, tak mempercayai janji Tuhan. Murid-murid Yesus pun yang waktu itu bersama-sama dengan Dia banyak yang ragu-ragu. Maka Yesus kembali meyakinkan mereka: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus," (Ayat 18:19).
Kita seringkali takut dan kuatir karena merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Tuhan ingatkan bahwa Dia adalah Imanuel: senantiasa menyertai kita. Segala kuasa di sorga dan di bumi di tanganNya, tidak perlu diragukan lagi! Bila nama Yesus kita sebut, kuasaNya bekerja atas kita. Kebutuhan materi pun diperhatikan dan dicukupkanNya: "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padmu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.' " (Ibrani 13:5).
Awalnya ketika Musa diutus Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari negeri perbudakan (Mesir), ia diliputi keraguan dan kegentaran. Tetapi Tuhan berkata, "...pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (Keluaran 4:12). Janji penyertaan Tuhan pun terbukti; ketika bangsa Israel berdiri di depan laut Teberau karena dikejar tentara Firaun, Tuhan ada di sana dan menolong mereka. Saat itu pula Dia menguatkan Musa sehingga Musa dapat membangkitkan semangat orang Israel: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikanNya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (Keluaran 14:13). Mujizat pun terjadi, laut Teberau terbelah! Dalam menghadapi badai apa pun tetaplah tenang, Tuhan tak akan membiarkan kita tenggelam dalam lautan penderitaan.
"Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? "Ibrani 13:6
Baca: Roma 15:1-13
"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:20b
Janji penyertaan Yesus kepada murid-muridNya berlaku juga bagi semua orang Kristen, karena kita adalah pengikutNya juga. Tetapi banyak yang masih ragu-ragu, tak mempercayai janji Tuhan. Murid-murid Yesus pun yang waktu itu bersama-sama dengan Dia banyak yang ragu-ragu. Maka Yesus kembali meyakinkan mereka: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus," (Ayat 18:19).
Kita seringkali takut dan kuatir karena merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Tuhan ingatkan bahwa Dia adalah Imanuel: senantiasa menyertai kita. Segala kuasa di sorga dan di bumi di tanganNya, tidak perlu diragukan lagi! Bila nama Yesus kita sebut, kuasaNya bekerja atas kita. Kebutuhan materi pun diperhatikan dan dicukupkanNya: "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padmu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.' " (Ibrani 13:5).
Awalnya ketika Musa diutus Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari negeri perbudakan (Mesir), ia diliputi keraguan dan kegentaran. Tetapi Tuhan berkata, "...pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (Keluaran 4:12). Janji penyertaan Tuhan pun terbukti; ketika bangsa Israel berdiri di depan laut Teberau karena dikejar tentara Firaun, Tuhan ada di sana dan menolong mereka. Saat itu pula Dia menguatkan Musa sehingga Musa dapat membangkitkan semangat orang Israel: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikanNya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (Keluaran 14:13). Mujizat pun terjadi, laut Teberau terbelah! Dalam menghadapi badai apa pun tetaplah tenang, Tuhan tak akan membiarkan kita tenggelam dalam lautan penderitaan.
"Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? "Ibrani 13:6
Sunday, August 1, 2010
HAL IBADAH: Keharusan Menjaga Ucapan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Agustus 2010 -
Baca: Roma 15:1-13
"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beibadah, tapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." Yakobus 1:26
Hati manusia bisa diibaratkan seperti sumur yang dalam, yang bila belum ditimba airnya keadaannya tampak jernih dan bening. Tetapi begitu batu besar dan berat dijatuhkan ke dalamnya, kualitas air segera dapat kita ketahui: bila di dalamnya terdapat banyak kotoran, segeralah kotoran itu keluar semua dan airnya pun menjadi sangat keruh.
Demikian juga dengan hati manusia. Bila hati kita penuh melimpah dengan firman Tuhan saat kita berada dalam situasi yang tidak enak, tekanan atau kesesakan, maka yang ke luar dari mulut kita pun adalah perkataan yang selaras dengan firman Tuhan yaitu perkataan positif, bukan negatif. Alkitab menegaskan: "...yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b). Menguji keadaan hati seseorang mudah saja: bila dalam keadaan terjepit, perkataan apa yang meluncur ke luar? Bila hati kosong firman Tuhan, yang ke luar dari mulut kita pastilah perkataan-perkataan yang bernada negatif: umpatan, omelan, keluhan, putus asa, kecewa dan menyalahkan Tuhan. Jika kita mengaku sebagai orang yang beribadah, tapi tidak dapat mengekang lidah, maka ibadah kita akan sia-sia. Sia-sia artinya tak berfaedah. Bila kita membiarkan mulut kita mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak sesuai firman Tuhan, Roh Kudus tak dapat berkarya dalam kehidupan kita. Berkat-berkat yang seharusnya akan kita nikmati melalui janji firmanNya akan hilang semua karena batal terjadi karena kita terperangkap oleh ucapan kita sendiri, seperti dikatakan: "...engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, terperangkap dalam perkataan mulutmu," (Amsal 6:2). Ucapan negatif akan membuahkan hal-hal negatif pula. Bila berkat, kesembuhan, kemenangan, keselamatan, diucapkan sesuai firmanNya, maka terjadilah sesuai firman itu.
Berhati-hatilah! Jangan sampai kita celaka karena mulut kita seperti peribahasa demikian: "Mulutmu harimaumu!" Jadi segala yang kita ucapkan dapat menjadi bumerang bagi kita sendiri. Namun, "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." (Amsal 21:23).
Jika kita tak mampu mengendalikan lidah kita, apa bedanya dengan orang yang tidak beribadah? Akan percuma saja.
Baca: Roma 15:1-13
"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beibadah, tapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." Yakobus 1:26
Hati manusia bisa diibaratkan seperti sumur yang dalam, yang bila belum ditimba airnya keadaannya tampak jernih dan bening. Tetapi begitu batu besar dan berat dijatuhkan ke dalamnya, kualitas air segera dapat kita ketahui: bila di dalamnya terdapat banyak kotoran, segeralah kotoran itu keluar semua dan airnya pun menjadi sangat keruh.
Demikian juga dengan hati manusia. Bila hati kita penuh melimpah dengan firman Tuhan saat kita berada dalam situasi yang tidak enak, tekanan atau kesesakan, maka yang ke luar dari mulut kita pun adalah perkataan yang selaras dengan firman Tuhan yaitu perkataan positif, bukan negatif. Alkitab menegaskan: "...yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b). Menguji keadaan hati seseorang mudah saja: bila dalam keadaan terjepit, perkataan apa yang meluncur ke luar? Bila hati kosong firman Tuhan, yang ke luar dari mulut kita pastilah perkataan-perkataan yang bernada negatif: umpatan, omelan, keluhan, putus asa, kecewa dan menyalahkan Tuhan. Jika kita mengaku sebagai orang yang beribadah, tapi tidak dapat mengekang lidah, maka ibadah kita akan sia-sia. Sia-sia artinya tak berfaedah. Bila kita membiarkan mulut kita mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak sesuai firman Tuhan, Roh Kudus tak dapat berkarya dalam kehidupan kita. Berkat-berkat yang seharusnya akan kita nikmati melalui janji firmanNya akan hilang semua karena batal terjadi karena kita terperangkap oleh ucapan kita sendiri, seperti dikatakan: "...engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, terperangkap dalam perkataan mulutmu," (Amsal 6:2). Ucapan negatif akan membuahkan hal-hal negatif pula. Bila berkat, kesembuhan, kemenangan, keselamatan, diucapkan sesuai firmanNya, maka terjadilah sesuai firman itu.
Berhati-hatilah! Jangan sampai kita celaka karena mulut kita seperti peribahasa demikian: "Mulutmu harimaumu!" Jadi segala yang kita ucapkan dapat menjadi bumerang bagi kita sendiri. Namun, "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." (Amsal 21:23).
Jika kita tak mampu mengendalikan lidah kita, apa bedanya dengan orang yang tidak beribadah? Akan percuma saja.
Saturday, July 31, 2010
ROH KUDUS: Hal Pertumbuhan Iman
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Juli 2010 -
Baca: Roma 15:1-13
"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Roma 15:13
Sebelum Yesus kembali ke sorga Ia berjanji, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17)
Yesus menepati janjiNya. Saat ini Roh Kudus yang adalah Penolong ada dan selalu ada untuk menolong, mengajar, membimbing, menghibur, menguatkan dan menyertai kehidupan orang percaya sampai kesudahan zaman. Ayat nas di atas menunjukkan bahwa setiap orang percaya sangat membutuhkan kekuatan Roh Kudus supaya mereka semakin berlimpah-limpah dalam pengharapan. Menjadi orang Kristen tidak cukup hanya rutin ke gereja setiap Minggu, menjabat majelis, pengurus gereja dan terlibat di berbagai aktivitas yang berbau Kristen, namun harus terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan semakin dewasa rohani.
Apa peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan iman orang percaya? Roh Kudus menyinari umat Tuhan dengan memberikan firman yang sudah tertulis dalam Alkitab. Maksudnya adalah membuat kita memahami pengajaran dan tuntutan Allah yang diberikan kepada kita yang selama ini tidak atau belum kita mengerti. Bukan karena kita orang awam, tetapi karena keterbatasan kita sebagai manusia. Setiap pribadi, baik Kristen awam atau para pengkotbah (hamba Tuhan), memerlukan bimbingan dan pencerahan dari Roh Kudus untuk mencapai tahap pengertian tertentu. Jadi kemampuan memahami firman Tuhan bukan karena kepandaian dan kehebatan kita. Walapun kita mampu menyampaikan firman Tuhan, bersaksi di hadapan orang lain dan pada akhirnya dapat membawa seseorang bertobat dan menerima Kristus secara pribadi, itu karena karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bekerja mengubah hati serta menyingkapkan pengertian dan pengenalan yang benar akan Tuhan, sehingga seseorang dapat percaya dan beriman.
Tanpa penyertaan Roh Kudus pelayanan yang kita lakukan tidak berarti apa-apa!
Baca: Roma 15:1-13
"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Roma 15:13
Sebelum Yesus kembali ke sorga Ia berjanji, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17)
Yesus menepati janjiNya. Saat ini Roh Kudus yang adalah Penolong ada dan selalu ada untuk menolong, mengajar, membimbing, menghibur, menguatkan dan menyertai kehidupan orang percaya sampai kesudahan zaman. Ayat nas di atas menunjukkan bahwa setiap orang percaya sangat membutuhkan kekuatan Roh Kudus supaya mereka semakin berlimpah-limpah dalam pengharapan. Menjadi orang Kristen tidak cukup hanya rutin ke gereja setiap Minggu, menjabat majelis, pengurus gereja dan terlibat di berbagai aktivitas yang berbau Kristen, namun harus terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan semakin dewasa rohani.
Apa peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan iman orang percaya? Roh Kudus menyinari umat Tuhan dengan memberikan firman yang sudah tertulis dalam Alkitab. Maksudnya adalah membuat kita memahami pengajaran dan tuntutan Allah yang diberikan kepada kita yang selama ini tidak atau belum kita mengerti. Bukan karena kita orang awam, tetapi karena keterbatasan kita sebagai manusia. Setiap pribadi, baik Kristen awam atau para pengkotbah (hamba Tuhan), memerlukan bimbingan dan pencerahan dari Roh Kudus untuk mencapai tahap pengertian tertentu. Jadi kemampuan memahami firman Tuhan bukan karena kepandaian dan kehebatan kita. Walapun kita mampu menyampaikan firman Tuhan, bersaksi di hadapan orang lain dan pada akhirnya dapat membawa seseorang bertobat dan menerima Kristus secara pribadi, itu karena karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang bekerja mengubah hati serta menyingkapkan pengertian dan pengenalan yang benar akan Tuhan, sehingga seseorang dapat percaya dan beriman.
Tanpa penyertaan Roh Kudus pelayanan yang kita lakukan tidak berarti apa-apa!
Friday, July 30, 2010
MANUSIA BARU: Diangkat Sebagai Anak
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juli 2010 -
Baca: Galatia 3:15-29
"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus." Galatia 3:26
Setiap orang percaya yang menerima Kristus sebagai Tuhan memiliki status baru yaitu sebagai anak Allah. Posisi sebagai 'anak' bukan karena kelahiran jasmani, tetapi rohani.
Sebagai anak-anak Allah kita beroleh hak-hak istimewa. Seorang anak pasti tinggal serumah dengan bapanya sehingga tidak ada hal yang perlu dirisaukan atau takutkan karena semua yang diperlukan pasti disediakan. Apa yang bapa punya, anak pun memilikinya juga seperti kata ayah kepada si sulung dalam perumpamaan anak yang hilang, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu." (Lukas 15:31). Berada di rumah Bapa berarti kita menjadi obyek pecurahan kasihNya. Perhatian dan pemeliharaan Tuhan kepada anak-anakNya seperti hubungan gembala dengan domba-dombanya. Tuhan adalah Gembala Agung kita, dan sebagai Gembala Ia mengenal dengan baik domba-dombanya. Daud merasakan hal itu: "...takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya." (Mamur 23:1-3).
Namun ada yang tidak boleh kita lupakan, bahwa sebagai anak kita pun tidak luput dari didikan dan hajaran Bapa: "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" (Ibrani 12:7b). "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Dia mendidik kita supaya kita tidak menjadi anak sembarang, tetapi anak yang berkualitas dan bermental juara. Selain itu, menjadi anak Allah berarti kita juga adalah ahli warisNya. Kita berhak menerima kegenapan semua yang dijanjikan Tuhan kepada kita, baik untuk waktu sekarang ini saat kita masih hidup di dunia maupun di waktu yang akan datang yaitu mewarisi Kerajaan Sorga. Alkitab menyatakan, "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah...," (Roma 8:17).
Jadilah anak-anak Allah yang taat, karena upah besar menanti!
Baca: Galatia 3:15-29
"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus." Galatia 3:26
Setiap orang percaya yang menerima Kristus sebagai Tuhan memiliki status baru yaitu sebagai anak Allah. Posisi sebagai 'anak' bukan karena kelahiran jasmani, tetapi rohani.
Sebagai anak-anak Allah kita beroleh hak-hak istimewa. Seorang anak pasti tinggal serumah dengan bapanya sehingga tidak ada hal yang perlu dirisaukan atau takutkan karena semua yang diperlukan pasti disediakan. Apa yang bapa punya, anak pun memilikinya juga seperti kata ayah kepada si sulung dalam perumpamaan anak yang hilang, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu." (Lukas 15:31). Berada di rumah Bapa berarti kita menjadi obyek pecurahan kasihNya. Perhatian dan pemeliharaan Tuhan kepada anak-anakNya seperti hubungan gembala dengan domba-dombanya. Tuhan adalah Gembala Agung kita, dan sebagai Gembala Ia mengenal dengan baik domba-dombanya. Daud merasakan hal itu: "...takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya." (Mamur 23:1-3).
Namun ada yang tidak boleh kita lupakan, bahwa sebagai anak kita pun tidak luput dari didikan dan hajaran Bapa: "Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?" (Ibrani 12:7b). "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Dia mendidik kita supaya kita tidak menjadi anak sembarang, tetapi anak yang berkualitas dan bermental juara. Selain itu, menjadi anak Allah berarti kita juga adalah ahli warisNya. Kita berhak menerima kegenapan semua yang dijanjikan Tuhan kepada kita, baik untuk waktu sekarang ini saat kita masih hidup di dunia maupun di waktu yang akan datang yaitu mewarisi Kerajaan Sorga. Alkitab menyatakan, "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah...," (Roma 8:17).
Jadilah anak-anak Allah yang taat, karena upah besar menanti!
Thursday, July 29, 2010
PERSEMBAHAN YANG HIDUP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juli 2010 -
Baca: Roma 12:1-8
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." Roma 12:1
Klimaks kehendak Bapa ialah pelaksanaan korban tubuh kristus Yesus. Ia mengorbankan diriNya di salib bagi umat manusia. Jadi dalam melaksanakan kehendak Bapa kita pun dituntut mengorbankan tubuh kita. Pengorbanan Yesus tentunya berbeda dengan pengorbanan kita.
Pengorbanan Yesus berarti kematianNya, tetapi pengorbanan kita ialah mempersembahkan tubuh kita yang hidup seperti dikatakan rasul Paulus, "...demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah..."
Adapun langkah kedua dalam meneladani Yesus adalah mengorbankan atau mempersembahkan tubuh kita di atas mezbahNya. Dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kita tidak lagi punya hak atas hidup kita dan sama sekali tidak punya hak menuntut apa-apa lagi karena hidup kita bukanlah milik kita lagi. Sejak saat kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, tubuh kita ini menjadi milik Dia sepenuhnya. Paulus berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dan Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (Galatia 2:19b-20).
Karena segala sesuatu yang diletakkan di mezbah menjadi milik Allah maka Dialah yang menentukan segalanya atas milikNya tadi. Kemana pun tubuh diutus kita tak dapat menuntut apa-apa, dan apa pun yang kita perlukan Dialah yang mengaturnya. Tapi sebelum Dia dapat berkarya sepenuhnya dalam hidup kita, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepadaNya, artinya tidak lagi hidup atas dasar kehendak diri sendiri.
Jadi, "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah, ...untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." Roma 6:13
Baca: Roma 12:1-8
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." Roma 12:1
Klimaks kehendak Bapa ialah pelaksanaan korban tubuh kristus Yesus. Ia mengorbankan diriNya di salib bagi umat manusia. Jadi dalam melaksanakan kehendak Bapa kita pun dituntut mengorbankan tubuh kita. Pengorbanan Yesus tentunya berbeda dengan pengorbanan kita.
Pengorbanan Yesus berarti kematianNya, tetapi pengorbanan kita ialah mempersembahkan tubuh kita yang hidup seperti dikatakan rasul Paulus, "...demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah..."
Adapun langkah kedua dalam meneladani Yesus adalah mengorbankan atau mempersembahkan tubuh kita di atas mezbahNya. Dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kita tidak lagi punya hak atas hidup kita dan sama sekali tidak punya hak menuntut apa-apa lagi karena hidup kita bukanlah milik kita lagi. Sejak saat kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, tubuh kita ini menjadi milik Dia sepenuhnya. Paulus berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dan Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (Galatia 2:19b-20).
Karena segala sesuatu yang diletakkan di mezbah menjadi milik Allah maka Dialah yang menentukan segalanya atas milikNya tadi. Kemana pun tubuh diutus kita tak dapat menuntut apa-apa, dan apa pun yang kita perlukan Dialah yang mengaturnya. Tapi sebelum Dia dapat berkarya sepenuhnya dalam hidup kita, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepadaNya, artinya tidak lagi hidup atas dasar kehendak diri sendiri.
Jadi, "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah, ...untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." Roma 6:13
Subscribe to:
Posts (Atom)