- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Mei 2010 -
Baca: Bilangan 14:1-19
“Berapa lami lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lami lagi mereka tidak mau percaya kepadaKu, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!” Bilangan 14:11
Tidak selamanya kasih Tuhan menyenangkan, menyanjung, membelai kita. Adakalanya kasih Tuhan keras berupa teguran dan hajaran, namun semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita. Itulah sebabnya Salomo menasihati, “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya.” (Amsal 3:11).
Perlukah kasih Tuhan yang ‘keras’ ini kita alami? Sangat perlu! Sebab bila kita tak pernah mengalami kasihNya yang keras berupa didikan, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang manja, cengeng, mengasihi diri sendiri, selalu mengeluh, menggerutu dan tak mau menyadari kesalahan. Kasih Tuhan yang ‘keras’ ini merupakan proses untuk menguji dan membentuk kehidupan kita sebagai anak-anakNya. Tanpa kasih yang keras ini kita cenderung akan selalu melakukan hal-hal jahat dan memberontak kepada Tuhan, contohnya bangsa Israel. Di sepanjang perjalanan menuju Kanaan mereka tidak pernah berhenti mengeluh dan bersungut-sungut, padahal di setiap langkah hidup mereka, tapak demi tapak, Tuhan selalu menyatakan kebaikan dan pertolonganNya yang ajaib. Tetapi apa respon mereka? “Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” (Bilangan 14:3). Mereka menganggap Tuhan berlaku tidak adil dan membuat mereka makin sengsara. Bahkan ketika Tuhan membawa mereka sampai ke Kadesy, di padang gurun Paran, mereka tetap tidak berhenti menista Tuhan padalah Kadesy adalah jalan masuk terdekat menuju Kanaan.
Hati Tuhan benar-benar kesal melihat pemberontakan mereka, akibatnya Ia memproses mereka dalam kurun waktu yang sangat lama yaitu 40 tahun di padang gurun, sehingga akhirnya mereka harus mengubur impiannya untuk dapat masuk ke Tanah Perjanjian. Hanya Kaleb dan Yosua, yang sepenuh hati percaya akan rencana Tuhan, dapat menikmati Kanaan.
Bila sedang dididik Tuhan jangan sekali-sekali memberontak, Dia tahu yang berbaik bagi kita.
Wednesday, May 12, 2010
Tuesday, May 11, 2010
BERKAT BAGI PELAYAN TUHAN
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Mei 2010 -
Baca: Yosua 21:1:3
“Tuhan telah memerintahkan dengan perantaraan Musa, supaya diberikan kepada kami kota-kota untuk didiami dan tanah-tanah penggembalaannya untuk ternak kami.” Yosua 21:2
Bangsa Israel terdiri atas 12 suku yaitu: suku Ruben, suku Simeon, suku Yehuda, suku Isakhar, suku Zebulon, suku Efraim, suku Manasye, suku Benjamin, suku Dan, suku Asyer, suku Gad dan suku Naftali. Ketika mencapai Tanah perjanjian masing-masing suku memperoleh tanah warisan, kecuali suku Lewi. Jadi satu-satunya suku dari dua belas suku di Israel yang tidak memperoleh tanah warisan adalah suku Lewi. Mengapa? Tuhan berfirman, “Demikianlah harus engkau mentahirkan mereka dari tengah-tengah orang Israel, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaanKu.” (Bilangan 8:14).
Suku Lewi tidak memperoleh tanah warisan karena Tuhan sudah memilih dan menetapkan suku ini secara khusus untuk melayani di Tabernakel atau Rumah Tuhan. Dengan demikian kehidupan suku Lewi dan keluarganya sangat bergantung pada berkat yang mereka terima dari persembahan yang dibawa oleh bangsa Israel ke rumah Tuhan ini, di mana besar kecilnya berkat itu sangat ditentukan oleh ketaatan atau ketidaktaatan bangsa Israel. Namun bukan berarti Tuhan membiarkan mereka, karena Tuhan juga memberkati mereka dengan memberikan kota-kota untuk mereka diami, plus tanah-tanah penggembalaan bagi ternak mereka.
Hari ini Tuhan hendak menegaskan Ia tidak pernah membiarkan orang-orang pilihanNya. Pengorbanan waktu, tenaga atau pun materi yang kita lakukan untuk melayani Tuhan, apa pun jenis pelayanan kita, pasti akan diperhitungkan oleh Tuhan. Jadi jerih payah kita untuk Tuhan itu tidak pernah sia-sia. Alkitab menyatakan, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23a) dan Tuhan punya seribu satu macam cara untuk menolong dan mencukupi kebutuhan kita, contoh Elia dipelihara oleh Tuhan dengan caraNya yang sangat ajaib (baca 1 Raja-Raja 17:1-6). Akan halnya rasul Paulus, selain menjalankan tuganya sebagai pemberita Injil, ia juga masih bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak membebani orang lain.
Jangan sampai kita melayani Tuhan karena sedang ‘mengejar setoran’. Asal kita melayaniNya dengan sungguh, berkatNya pasti disediakan untuk kita.
Baca: Yosua 21:1:3
“Tuhan telah memerintahkan dengan perantaraan Musa, supaya diberikan kepada kami kota-kota untuk didiami dan tanah-tanah penggembalaannya untuk ternak kami.” Yosua 21:2
Bangsa Israel terdiri atas 12 suku yaitu: suku Ruben, suku Simeon, suku Yehuda, suku Isakhar, suku Zebulon, suku Efraim, suku Manasye, suku Benjamin, suku Dan, suku Asyer, suku Gad dan suku Naftali. Ketika mencapai Tanah perjanjian masing-masing suku memperoleh tanah warisan, kecuali suku Lewi. Jadi satu-satunya suku dari dua belas suku di Israel yang tidak memperoleh tanah warisan adalah suku Lewi. Mengapa? Tuhan berfirman, “Demikianlah harus engkau mentahirkan mereka dari tengah-tengah orang Israel, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaanKu.” (Bilangan 8:14).
Suku Lewi tidak memperoleh tanah warisan karena Tuhan sudah memilih dan menetapkan suku ini secara khusus untuk melayani di Tabernakel atau Rumah Tuhan. Dengan demikian kehidupan suku Lewi dan keluarganya sangat bergantung pada berkat yang mereka terima dari persembahan yang dibawa oleh bangsa Israel ke rumah Tuhan ini, di mana besar kecilnya berkat itu sangat ditentukan oleh ketaatan atau ketidaktaatan bangsa Israel. Namun bukan berarti Tuhan membiarkan mereka, karena Tuhan juga memberkati mereka dengan memberikan kota-kota untuk mereka diami, plus tanah-tanah penggembalaan bagi ternak mereka.
Hari ini Tuhan hendak menegaskan Ia tidak pernah membiarkan orang-orang pilihanNya. Pengorbanan waktu, tenaga atau pun materi yang kita lakukan untuk melayani Tuhan, apa pun jenis pelayanan kita, pasti akan diperhitungkan oleh Tuhan. Jadi jerih payah kita untuk Tuhan itu tidak pernah sia-sia. Alkitab menyatakan, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23a) dan Tuhan punya seribu satu macam cara untuk menolong dan mencukupi kebutuhan kita, contoh Elia dipelihara oleh Tuhan dengan caraNya yang sangat ajaib (baca 1 Raja-Raja 17:1-6). Akan halnya rasul Paulus, selain menjalankan tuganya sebagai pemberita Injil, ia juga masih bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak membebani orang lain.
Jangan sampai kita melayani Tuhan karena sedang ‘mengejar setoran’. Asal kita melayaniNya dengan sungguh, berkatNya pasti disediakan untuk kita.
Monday, May 10, 2010
YESUS: Ungkapan Kasih Bapa
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Mei 2010 -
Baca: Lukas 13:31-35
“Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,...” Lukas 13:34b
Dalam pelayananNya di bumi Tuhan Yesus telah merefleksikan kasih Bapa setiap saat: membebakan orang-orang yang tertindas dan terbelenggu oleh kuasa-kuasa kegelapan, mencelikkan mata yang buta, serta menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderit aoleh manusia. Selain itu Dia juga mengajar dan memberitakan firman tentang Kerajaan Allah bagi siapa saja yang rindu, haus dan lapar akan kebenaran.
Yesus Kristus merupakan ujud Allah Bapa di bumi, dan melalui Kristus Bapa menjalankan misi penyelamatan bagi manusia ciptaanNya. Tuhan Yesus dengan sepenuhnya mendemonstrasikan kasih Bapa bagi manusia dan mewujudkan keinginNya memberkati kita. Ungkapan atau ekspresi kasih Bapa bagi semua manusia dapat terlihat dari pernyataan Yesus kepada Yerusalem, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (ayat 34). Ayat ini menegaskan bahwa Allah Bapa masih tetap mengekspresikan kemauan dan keinginan yang keras untuk menyelamatkan dan memberkati kita.
Sesungguhnya Tuhan masih tetap dan rindu mengusahakan agar manusia terlepas dari belenggu-belenggu dosa dan mau kembali ke Rumah Bapa. Tetapi sampai sekarang ini masih banyak orang Farisi yang menghalagi kasih Bapa dengan berbagai-bagai batasan dan peraturan-peraturan yang dibuatnya, sehingga kelancaran pertolongan Bapa menjadi terhambat. Orang-orang Farisi sangat membenci Yesus dan tidak senang apabila Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat sehingga Tuhan Yesus berkata, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya dan lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” (Lukas 14:5).
Bila saat ini masih ada hal-hal yang menjadi kendala bagi ibadah kita kepada Tuhan, misalnya peraturan-peraturan manusia, adat-istiadat atau tradisi nenek moyang, mari mohon Roh Kudus mematahkan belenggu-belenggu ini.
Baca: Lukas 13:31-35
“Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,...” Lukas 13:34b
Dalam pelayananNya di bumi Tuhan Yesus telah merefleksikan kasih Bapa setiap saat: membebakan orang-orang yang tertindas dan terbelenggu oleh kuasa-kuasa kegelapan, mencelikkan mata yang buta, serta menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderit aoleh manusia. Selain itu Dia juga mengajar dan memberitakan firman tentang Kerajaan Allah bagi siapa saja yang rindu, haus dan lapar akan kebenaran.
Yesus Kristus merupakan ujud Allah Bapa di bumi, dan melalui Kristus Bapa menjalankan misi penyelamatan bagi manusia ciptaanNya. Tuhan Yesus dengan sepenuhnya mendemonstrasikan kasih Bapa bagi manusia dan mewujudkan keinginNya memberkati kita. Ungkapan atau ekspresi kasih Bapa bagi semua manusia dapat terlihat dari pernyataan Yesus kepada Yerusalem, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (ayat 34). Ayat ini menegaskan bahwa Allah Bapa masih tetap mengekspresikan kemauan dan keinginan yang keras untuk menyelamatkan dan memberkati kita.
Sesungguhnya Tuhan masih tetap dan rindu mengusahakan agar manusia terlepas dari belenggu-belenggu dosa dan mau kembali ke Rumah Bapa. Tetapi sampai sekarang ini masih banyak orang Farisi yang menghalagi kasih Bapa dengan berbagai-bagai batasan dan peraturan-peraturan yang dibuatnya, sehingga kelancaran pertolongan Bapa menjadi terhambat. Orang-orang Farisi sangat membenci Yesus dan tidak senang apabila Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat sehingga Tuhan Yesus berkata, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya dan lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” (Lukas 14:5).
Bila saat ini masih ada hal-hal yang menjadi kendala bagi ibadah kita kepada Tuhan, misalnya peraturan-peraturan manusia, adat-istiadat atau tradisi nenek moyang, mari mohon Roh Kudus mematahkan belenggu-belenggu ini.
Sunday, May 9, 2010
PERCAYA SEPENUHNYA KEPADA TUHAN
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Mei 2010 -
Baca: 2 Korintus 1:3-11
“Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaahn pada diri sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” 2 Korintus 1:9b
Sebagai hamba Tuhan Paulus telah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Tuhan ijinkan hal ini terjadi karena Dia ingin agar Paulus bertumbuh lebih mendalam dalam Kristus.
Seringkali kita berpikir bahwa hamba Tuhan atau setiap orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, baik itu full timer atau pun part timer, pasti akan terluput dari masalah atau kesulitan, hidupnya akan lancar-lancar saja. Tidak! Namun yang pasti, di setiap pergumulan yang kita alami Tuhan turut bekerja dan selalu memberikan pertolongan dan jalan ke luar, sebab “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13).
Perihal penderitaan dan masalah yang dialami, Paulus menuturkan pengalamannya, “...saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.” (2 Korintus 1:8-9a). Beban yang begitu besar dan berat tidak membuat Paulus hilang pengharapan, sebaliknya ia mempunyai alasan yang kuat untuk menaruh kepercayaannya pada Tuhan karena hanya Tuhan saja yang sanggup menolong dan menyelamatkannya. Paulus menambahkan, “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepadaNya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,” (2 Korintus 1:10).
Mungkin kita berpikir Paulus telah ke luar ‘jalur’ dari rencana Tuhan sehingga harus mengalami berbagai macam kesulitan. Tidak sama sekali! Justru ia berada dalam rencana Tuhan sepenuhnya dan sedang mengerjakan tugasnya sebagai pemberita Injil.
DiijinkanNya Paulus masuk dalam situasi sulit dengan maksud agar ia jangan menaruh kepercayaan kepada diri sendiri, melainkan hanya kepada Tuhan.
Baca: 2 Korintus 1:3-11
“Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaahn pada diri sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” 2 Korintus 1:9b
Sebagai hamba Tuhan Paulus telah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Tuhan ijinkan hal ini terjadi karena Dia ingin agar Paulus bertumbuh lebih mendalam dalam Kristus.
Seringkali kita berpikir bahwa hamba Tuhan atau setiap orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, baik itu full timer atau pun part timer, pasti akan terluput dari masalah atau kesulitan, hidupnya akan lancar-lancar saja. Tidak! Namun yang pasti, di setiap pergumulan yang kita alami Tuhan turut bekerja dan selalu memberikan pertolongan dan jalan ke luar, sebab “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13).
Perihal penderitaan dan masalah yang dialami, Paulus menuturkan pengalamannya, “...saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.” (2 Korintus 1:8-9a). Beban yang begitu besar dan berat tidak membuat Paulus hilang pengharapan, sebaliknya ia mempunyai alasan yang kuat untuk menaruh kepercayaannya pada Tuhan karena hanya Tuhan saja yang sanggup menolong dan menyelamatkannya. Paulus menambahkan, “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepadaNya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,” (2 Korintus 1:10).
Mungkin kita berpikir Paulus telah ke luar ‘jalur’ dari rencana Tuhan sehingga harus mengalami berbagai macam kesulitan. Tidak sama sekali! Justru ia berada dalam rencana Tuhan sepenuhnya dan sedang mengerjakan tugasnya sebagai pemberita Injil.
DiijinkanNya Paulus masuk dalam situasi sulit dengan maksud agar ia jangan menaruh kepercayaan kepada diri sendiri, melainkan hanya kepada Tuhan.
Saturday, May 8, 2010
MUJIZAT TUHAN TAK PERNAH BERAKHIR
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Mei 2010 -
Baca: Lukas 9:37-43a
“Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah.” Lukas 9:43a
Sekarang ini adalah era modernisasi. Semua serba modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Bermunculan pula pakar dan ilmuwan di bidangnya masing-masing dengan kemampuan luar biasa yang tak perlu disangsikan lagi. Akhirnya banyak orang yang menjadi sangat bergantung pada kepintaran dan kecanggihan teknologi yang ada. Rasa-rasanya mujizat Tuhan mulai diabaikan, orang lebih percaya kepada pengetahuan dan cara berpikir para pakar atau ilmuwan yang mengandalkan logika. Tetapi sesungguhnya mujizat Tuhan tak pernah berakhir dan tetap ada bagi orang percaya.
Pada suatu hari Yesus bertemu seorang bapak yang anaknya kerasukan setan sehingga menjadi bisu dan sangat tersiksa. Bapak itu ingin anaknya sembuh, namun ia ragu-ragu apakah Yesus dapat menyembuhkannya karena katanya, “...aku telah meminta kepada murid-muridMu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” (ayat 40). Lalu ia berkata kepada Yesus, “ ‘Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami’. Jawab Yesus: ‘Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya!’ “ (Markus 9:22b-23).
Pada kesempatan lain Yesus membuat suatu pernyataan luar biasa, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Lukas 18:27). Apabila Tuhan mengerjakan sesuatu yang tak bisa dilakukan manusia, itulah yang dinamakan mujizat. Perbuatan Tuhan merupakan mujizat bagi kita, tapi bagi Tuhan hal itu bukanlah mujizat sebab Dia dapat mengerjakan segala perkara dan apa saja. Bahkan dari yang tidak ada Tuhan sanggup mengadakan. Bumi diciptakan dari yang tidak ada, hanya oleh firmanNya saja. Jadi, tidak ada sesuatu pun yang sukar bagi Tuhan. Bila manusia dapat terbang, itu merupakan mujizat; tetapi bagi seekor burung, terbang itu bukanlah mujizat, tapi merupakan hal yang biasa dilakukannya. Demikian juga perbuatan-perbuatan besar Tuhan, bagiNya bukanlah apa-apa, namun bagi manusia merupakan suatu keajaiban.
Selama Tuhan masih ada, mujizat masih selalu berlaku. Bila ada manusia yang berkata bahwa zaman mujizat sudah berlalu, pastilah manusia itu sudah ‘tak waras’, karena bila mujizat tak ada, berarti Tuhan juga tidak ada.
Mujizat selalu tersedia bagi orang yang percaya kepadanya!
Baca: Lukas 9:37-43a
“Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah.” Lukas 9:43a
Sekarang ini adalah era modernisasi. Semua serba modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Bermunculan pula pakar dan ilmuwan di bidangnya masing-masing dengan kemampuan luar biasa yang tak perlu disangsikan lagi. Akhirnya banyak orang yang menjadi sangat bergantung pada kepintaran dan kecanggihan teknologi yang ada. Rasa-rasanya mujizat Tuhan mulai diabaikan, orang lebih percaya kepada pengetahuan dan cara berpikir para pakar atau ilmuwan yang mengandalkan logika. Tetapi sesungguhnya mujizat Tuhan tak pernah berakhir dan tetap ada bagi orang percaya.
Pada suatu hari Yesus bertemu seorang bapak yang anaknya kerasukan setan sehingga menjadi bisu dan sangat tersiksa. Bapak itu ingin anaknya sembuh, namun ia ragu-ragu apakah Yesus dapat menyembuhkannya karena katanya, “...aku telah meminta kepada murid-muridMu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” (ayat 40). Lalu ia berkata kepada Yesus, “ ‘Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami’. Jawab Yesus: ‘Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya!’ “ (Markus 9:22b-23).
Pada kesempatan lain Yesus membuat suatu pernyataan luar biasa, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Lukas 18:27). Apabila Tuhan mengerjakan sesuatu yang tak bisa dilakukan manusia, itulah yang dinamakan mujizat. Perbuatan Tuhan merupakan mujizat bagi kita, tapi bagi Tuhan hal itu bukanlah mujizat sebab Dia dapat mengerjakan segala perkara dan apa saja. Bahkan dari yang tidak ada Tuhan sanggup mengadakan. Bumi diciptakan dari yang tidak ada, hanya oleh firmanNya saja. Jadi, tidak ada sesuatu pun yang sukar bagi Tuhan. Bila manusia dapat terbang, itu merupakan mujizat; tetapi bagi seekor burung, terbang itu bukanlah mujizat, tapi merupakan hal yang biasa dilakukannya. Demikian juga perbuatan-perbuatan besar Tuhan, bagiNya bukanlah apa-apa, namun bagi manusia merupakan suatu keajaiban.
Selama Tuhan masih ada, mujizat masih selalu berlaku. Bila ada manusia yang berkata bahwa zaman mujizat sudah berlalu, pastilah manusia itu sudah ‘tak waras’, karena bila mujizat tak ada, berarti Tuhan juga tidak ada.
Mujizat selalu tersedia bagi orang yang percaya kepadanya!
Friday, May 7, 2010
JANGAN SAMPAI LUPA DIRI
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Mei 2010 -
Baca: 1 Tawarikh 29:10-19
“Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.” 1 Tawarikh 29:12
Daud adalah raja Israel yang besar dan di berkati Tuhan. Selain kekayaan melimpah ia juga memiliki prajurit/pasukan yang kuat. Secara materi ia punya alasan membanggakan diri. Namun tidaklah demikian dengannya. Ia sadar semuanya karena campur tangan Tuhan semata, bukan karena kekuatan dan kegagahannya sehingga ia tidak merasa perlu bersikap sombong atau meninggikan diri, sebaliknya ia berkata, “...Tuhan, punyamulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyaMulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.” (ayat 11).
Tuhan sungguh tak senang pada kecongkakan! Betapa pun megah, besar dan populernya kita, bila kesombongan mulai merajai hati kita, Tuhan akan menurunkan dan mempermalukan kita. Di akhir zaman ini roh kesombongan kian melanda manusia. Tidak banyak yang menyadarinya dan tetap merasa wajar-wajar saja, padahal ketika karir, studi, bisnis atau pelayanan mulai sukses, dada kita mulai membusung dan saat berjalan pun kepala tegak mendongak ke atas. Dalam bersosialisasi pun kita mulai pilih-pilih teman. Kita tidak mau bergaul dengan sembarang orang melainkan hanya dengan teman-teman ‘selevel’; yang semula rendah hati, pandai bergaul, ramah, sopan, serta murah hati terhadap semua orang, setelah memiliki segala-galanya menjadi seperti ‘alien’ (orang aneh). Kesombongan mulai merajai hati kita dan kita pun lupa kepada Sang Pemberi berkat. Kita menganggap apa yang kita raih adalah buah jerih payah kita sendiri.
Perhatikanlah ini: semua keberhasilan yang kita miliki datangnya dari Tuhan dan semuanya adalah kepunyaanNya. Walaupun raja Daud demikian terkenal, dia tetap mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan milik Tuhan. Oleh sebab itu jangan sekali-kali menyombongkan diri!.
“Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau,...” Obaja 4
Baca: 1 Tawarikh 29:10-19
“Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.” 1 Tawarikh 29:12
Daud adalah raja Israel yang besar dan di berkati Tuhan. Selain kekayaan melimpah ia juga memiliki prajurit/pasukan yang kuat. Secara materi ia punya alasan membanggakan diri. Namun tidaklah demikian dengannya. Ia sadar semuanya karena campur tangan Tuhan semata, bukan karena kekuatan dan kegagahannya sehingga ia tidak merasa perlu bersikap sombong atau meninggikan diri, sebaliknya ia berkata, “...Tuhan, punyamulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyaMulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.” (ayat 11).
Tuhan sungguh tak senang pada kecongkakan! Betapa pun megah, besar dan populernya kita, bila kesombongan mulai merajai hati kita, Tuhan akan menurunkan dan mempermalukan kita. Di akhir zaman ini roh kesombongan kian melanda manusia. Tidak banyak yang menyadarinya dan tetap merasa wajar-wajar saja, padahal ketika karir, studi, bisnis atau pelayanan mulai sukses, dada kita mulai membusung dan saat berjalan pun kepala tegak mendongak ke atas. Dalam bersosialisasi pun kita mulai pilih-pilih teman. Kita tidak mau bergaul dengan sembarang orang melainkan hanya dengan teman-teman ‘selevel’; yang semula rendah hati, pandai bergaul, ramah, sopan, serta murah hati terhadap semua orang, setelah memiliki segala-galanya menjadi seperti ‘alien’ (orang aneh). Kesombongan mulai merajai hati kita dan kita pun lupa kepada Sang Pemberi berkat. Kita menganggap apa yang kita raih adalah buah jerih payah kita sendiri.
Perhatikanlah ini: semua keberhasilan yang kita miliki datangnya dari Tuhan dan semuanya adalah kepunyaanNya. Walaupun raja Daud demikian terkenal, dia tetap mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan milik Tuhan. Oleh sebab itu jangan sekali-kali menyombongkan diri!.
“Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau,...” Obaja 4
Thursday, May 6, 2010
ISILAH PIKIRANMU DENGAN FIRMAN
- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Mei 2010 -
Baca: Filipi 4:8-9
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8
Tidak semua orang dapat menguasai pikirannya jika tak punya landasan yang kuat dalam firman Tuhan. Pikiran yang tak dipenuhi firman Tuhan akan mudah dikenadalikan Iblis, karena Iblis tau betul bahwa apa yang kita pikirkan dan renungkan itu akan menjadi kenyataan. Ituah sebabnya Iblis selalu berusaha keras mempengaruhi agar pikiran kita hanya dipenuhi hal-hal yang buruk (permasalahan) lebih daripada firman Tuhan. Apabila kita lengah sedikit saja dan terkena siasat Iblis, serta mengijinkan pikiran kita terpaku pada permasalahan yang ada, maka masalah itu takkan terselesaikan, bahkan akan makin rumit dan bertambah berat. Akhirnya kita pun bimbang, putus asa dan tawar hati.
Penulis Amsal mengatakan, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Bila kita bimbang bisa dipastikan doa-doa kita tidak akan beroleh jawaban, “...sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7). Sebaliknya apabila kita mau melakukan apa yang dikatakan firman Tuhan dan merenungkan segala sesuatu dengan baik, kita akan memperoleh janji-janjiNya dalam hidup kita. Jangan sekali pun memikirkan hal-hal negatif, sebaliknya pikirkanlah: “...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Jadi sangatlah penting mengisi pikiran dengan firman Tuhan setiap hari, karena apa yang ada di pikiran akan trefleksikan dalam tindakan kita. Apa yang ada di pikiran kita saat ini: kebimbangan, ketakutan, kekuatiran, sakit hati, atau kebencian, semuanya akan membawa kita kepada kegagalan. Hari ini kita diingatkan, buanglah semua itu!
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam,...sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yosua 1:8
Baca: Filipi 4:8-9
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8
Tidak semua orang dapat menguasai pikirannya jika tak punya landasan yang kuat dalam firman Tuhan. Pikiran yang tak dipenuhi firman Tuhan akan mudah dikenadalikan Iblis, karena Iblis tau betul bahwa apa yang kita pikirkan dan renungkan itu akan menjadi kenyataan. Ituah sebabnya Iblis selalu berusaha keras mempengaruhi agar pikiran kita hanya dipenuhi hal-hal yang buruk (permasalahan) lebih daripada firman Tuhan. Apabila kita lengah sedikit saja dan terkena siasat Iblis, serta mengijinkan pikiran kita terpaku pada permasalahan yang ada, maka masalah itu takkan terselesaikan, bahkan akan makin rumit dan bertambah berat. Akhirnya kita pun bimbang, putus asa dan tawar hati.
Penulis Amsal mengatakan, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Bila kita bimbang bisa dipastikan doa-doa kita tidak akan beroleh jawaban, “...sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7). Sebaliknya apabila kita mau melakukan apa yang dikatakan firman Tuhan dan merenungkan segala sesuatu dengan baik, kita akan memperoleh janji-janjiNya dalam hidup kita. Jangan sekali pun memikirkan hal-hal negatif, sebaliknya pikirkanlah: “...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Jadi sangatlah penting mengisi pikiran dengan firman Tuhan setiap hari, karena apa yang ada di pikiran akan trefleksikan dalam tindakan kita. Apa yang ada di pikiran kita saat ini: kebimbangan, ketakutan, kekuatiran, sakit hati, atau kebencian, semuanya akan membawa kita kepada kegagalan. Hari ini kita diingatkan, buanglah semua itu!
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam,...sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yosua 1:8
Subscribe to:
Posts (Atom)