Monday, December 14, 2020

NYANYIAN BARU YANG LAHIR DARI HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Desember 2020

Baca:  Mazmur 96:1-13

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari." Mazmur 96:1-2

Sebuah nyanyian atau lagu bukanlah sekedar rangkaian kata-kata indah disertai dengan nada dan irama, tapi nyanyian juga merupakan ungkapan hati, perasaan atau ekspresi seseorang tentang sesuatu yang ia tuangkan dalam lirik.  Oleh karena itu suatu lagu takkan tersampaikan pesannya bila dinyanyikan dengan sekedar menyanyi, tapi harus dinyanyikan dengan penuh penghayatan, mengalir dari kedalaman hati.  Hati yang dipenuhi dengan nyanyian pujian seharusnya menjadi bagian dari hidup orang percaya!

     Adalah aneh dan mengherankan jika ada orang Kristen tak suka menyanyi atau memuji Tuhan, sebab hidup Kristen tidak bisa dipisahkan dari nyanyian atau pujian!  Di dalam setiap ibadah, persekutuan doa, dan bahkan dalam suasana kedukaan  (ketika ada jemaat yang dipanggil Tuhan)  sekalipun, selalu ada nyanyian dan pujian.  Ayat nas menyatakan,  "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN..."  Yang dimaksud  'nyanyian baru'  bukanlah lirik lagu atau nyayian yang gres atau baru saja diciptakan oleh seorang pencipta lagu, lalu dibawakan oleh seorang penyanyi.  Makna dari  'nyanyian baru'  ini berkaitan dengan hati seseorang yang sudah dibaharui oleh Roh Kudus sehingga setiap hari lahir suatu nyanyian baru sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan,  "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  (Ratapan 3:22-23).

     Nyanyian baru adalah nyanyian yang keluar dari hati karena pengalaman berjalan bersama Tuhan, nyanyian yang mengubahkan hidup kita, nyanyian yang menjadi rhema bagi setiap pribadi:  firman yang hidup dan bekerja di dalam kita, yang terekspresikan melalui ucapan kita dengan senandung.  Sekalipun lagu itu lagu lama, tapi jika dinyanyikan dari hati yang dipenuhi ucapan syukur, karena Tuhan bekerja melalui lagu itu, maka itu adalah nyanyian baru.  Dari lagu tersebut kita dapat merasakan jamahan tangan Tuhan yang penuh kuasa, sehingga kita beroleh kekuatan baru menjalani hidup.

Nyanyian baru adalah nyanyian yang benar-benar menjadi rhema, hidup di dalam kita dan mengubahkan!

Sunday, December 13, 2020

SAAT DALAM PENDERITAAN: Berdoa Dan Berdoalah!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Desember 2020

Baca:  Yakobus 5:12-20

"Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan."  Yakobus 5:13-14

Mengikut Tuhan bukan berarti luput dari masalah, kesusahan dan penderitaan, atau tanpa aral melintang.  Selama kita masih bernafas dan menjalani hidup di dunia ini masalah selalu ada dan mewarnai hari-hari kita.  Masalah boleh saja terjadi, tapi kita percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk kita, tangan-Nya selalu siap menolong kita.  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Sekalipun ada banyak pergumulan yang harus kita hadapi, tak perlu kita kuatir, karena kita punya Tuhan yang Mahakuasa dan Mahamelihat!

     Dalam suratnya Yakobus menasihatkan apabila ada jemaat yang mengalami masalah, penderitaan atau sakit-penyakit, langkah yang harus dilakukan adalah berdoa.  Inilah tindakan yang paling tepat ketika kita diterpa badai permasalahan.  Ada banyak orang Kristen ketika masalah datang langsung panik dan kalang kabut sehingga mereka tidak bisa berdoa dengan tenang, karena fokus perhatiannya hanya tertuju kepada besarnya masalah atau sakit yang dideritanya.  Ada dua cara berdoa yang Yakobus anjurkan:  1.  Berdoa secara personal  (pribadi).  "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."  (Mazmur 50:15).  Bangun persekutuan yang karib dengan Tuhan melalui jam-jam doa pribadi.  Nyatakan isi hati dan kerinduan Saudara kepada Tuhan!  Kalau kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, kita pasti memiliki respons hati yang benar terhadap masalah, dan  "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya."  (Mazmur 34:18).

     2.  Memanggil penatua  (hamba Tuhan).  Yakobus juga menasihati kita untuk berdoa dengan cara memanggil penatua jemaat.  Bukan berarti kita diajar bergantung pada orang lain atau mengandalkan manusia, tetapi kehadiran hamba Tuhan untuk berdoa bersama juga sangat diperlukan:  kita beroleh nasihat, dorongan, semangat, kekuatan, penghiburan.

Jangan tinggalkan jam-jam doa;  doa yang disertai iman menghasilkan kuasa!

Saturday, December 12, 2020

MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN: Ada Kekuatan Dahsyat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Desember 2020

Baca:  Mazmur 150:1-6

"Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!" Mazmur 150:2

Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan berkenan dan sangat disenangkan atas pujian dan penyembahan yang dinaikkan oleh umat-Nya.  Pujian dan penyembahan yang lahir dari kedalaman hati yang tulus adalah korban yang berbau harum di hadapan Tuhan.  Bahkan Daud menegaskan bahwa saat umat memuji dan menyembah,  "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."  (Mazmur 22:4).

     Kata  'bersemayam'  memiliki beberapa makna:  berdiam, tinggal di dalamnya, hadir dan bertakhta.  Jadi Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang hanya berdiam diri di atas takhta-Nya di sorga mulia, tapi Ia sudi hadir, melawat dan menyatakan hadirat-Nya di tengah-tengah umat yang memuji, menyembah dan mempermuliakan nama-Nya.  Bukti bahwa puji-pujian dan penyembahan adalah kesukaan Tuhan!  Itu artinya Tuhan sangat menyukai dan menikmati puji-pujian umat-Nya!  Inilah yang menyenangkan hati Tuhan!  Oleh sebab itu  "Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!"  (Mazmur 150:6).  Saat Tuhan  'bersemayam dan bertakhta', saat itulah Ia bekerja dan melepaskan kuasa-Nya untuk orang-orang yang memuji dan menyembah Dia:  kemenangan, kesembuhan, pemulihan, dan bahkan kekuatan untuk menghancurkan musuh.  Musuh itu adalah Iblis, pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara.  Puji-pujian itu seperti pedang tajam bermata dua:  "untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa, penyiksaan-penyiksaan terhadap suku-suku bangsa, untuk membelenggu raja-raja mereka dengan rantai, dan orang-orang mereka yang mulia dengan tali-tali besi,"  (Mazmur 149:7-8).  Yang dimaksud penyiksa-penyiksa adalah kuasa Iblis.  Betapa dahsyatnya kekuatan dan kuasa puji-pujian, sanggup melumpuhkan dan menghancurkan pekerjaan Iblis.

     Jangan pernah berhenti memuji dan menyembah Tuhan!  Terlebih-lebih saat dalam pergumulan, angkat hati Saudara dan pujilah Tuhan!  "Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku."  (Mazmur 34:2).

Sebab saat kita memuji dan menyembah Tuhan, Tuhan sedang mengambil alih peperangan kita, artinya Tuhan berperang ganti kita!

Friday, December 11, 2020

TIADA HARI TANPA BERJUANG!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Desember 2020

Baca:  Ayub 7:1-21

"Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?"  Ayub 7:1

Semua orang mengakui bahwa menjalani hidup di dunia ini membutuhkan perjuangan yang tak mudah, terlebih-lebih ketika COVID-19 yang disebabkan oleh virus Corona sudah dinyatakan sebagai pandemi:  suatu penyakit baru yang menyebar ke seluruh dunia.  Pandemi ini benar-benar telah meluluhlantakkan tatanan segala bidang kehidupan manusia.  Semua orang menjerit dan frustasi, terkena dampaknya!

     Hari-hari manusia benar-benar diperhadapkan dengan pergumulan yang berat setiap saat setiap waktu.  Selain harus bergumul melawan permasalahan hidupnya  (bersifat jasmani), manusia juga harus bergumul melawan dosa  (bersifat rohani).  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak hanya fokus kepada permasalahan-permasalahan di dunia ini, dipusingkan dengan masalah-masalah hidup di dunia yang sifatnya hanya sementara.  Tapi ada hal yang lebih penting yang harus menjadi perhatian dan prioritas hidup kita yaitu perjuangan rohani:  berjuang melawan dosa, berjuang mengerjakan keselamatan yang telah kita terima  (Filipi 2:12)  dan berjuang mempertahankan iman kita sampai akhir.  "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."  (Yudas 1:3).  Perjuangan rohani inilah yang akan menentukan bagian kehidupan kita di masa depan.  Kemenangan dan keberhasilan hidup kita dalam perkara-perkara lahiriah adalah dampak dari perjuangan rohani!  Contohlah Daniel yang memiliki roh yang luar biasa!  Pergumulan hidup yang dialami Daniel tidaklah mudah karena ia harus menghadapi berbagai tekanan.  Dalam situasi ini Daniel terus membangun iman, tapi tak menyurutkan semangatnya untuk bersekutu dengan Tuhan:  3x sehari ia berlutut, berdoa dan memuji Tuhan  (Daniel 6:11).

     Tetap membangun persekutuan dengan Tuhan menjadi kunci kekuatan hidup Daniel sehingga ia mampu bertahan di tengah kesukaran.

Kemenangan dalam perjuangan rohani menjadi kunci kemenangan dalam menghadapi pergumulan hidup!

Thursday, December 10, 2020

SIKAP DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Desember 2020

Baca:  Yakobus 5:7-11

"Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!"  Yakobus 5:7a

Sejak dulu sering timbul pertanyaan di antara orang Kristen,  'Kapankah zaman ini akan berakhir?  Kapan Tuhan Yesus akan datang kedua kalinya?'  Seiring berjalannya waktu banyak di antara kita yang tak lagi mempertanyakan hal ini, tak ambil pusing.  Akhirnya kita terlena dan tertidur rohani seperti lima gadis yang bodoh  (Matius 25:1-13).  Yakobus menasihati kita untuk menantikan kedatangan Tuhan dengan penuh kesabaran.  Kesabaran berbicara tentang daya tahan seseorang dalam menghadapi situasi apa pun, semangat yang tidak mudah patah.  Jika kita peka menilai keadaan zaman ini sesungguhnya dunia ini sedang menuju kepada kesudahannya.

     Kita diingatkan untuk memiliki buah Roh, salah satunya adalah kesabaran  (daya tahan).  Kalau kita tak punya kesabaran kita takkan mampu mencapai garis akhir, apalagi di masa-masa mejelang kedatangan Tuhan kita akan menghadapi banyak kesukaran.  Tetaplah arahkan pandangan mata kita kepada Tuhan, jangan menyangka kedatangan Tuhan masih lama!  "...hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."  (1 Tesalonika 5:2).  1.  Berjaga-jaga selalu.  Seperti seorang hamba yang bekerja di rumah tuannya dan tuannya sedang pergi jauh, hamba itu tidak boleh lengah dan harus tetap giat bekerja sehingga ketika tuannya datang, si tuan mendapati hambanya sedang bekerja.  2.  Bersikap seperti petani.  Petani tahu dan mengerti cuaca atau musim, karena itu ia terus bekerja tanpa mempedulikan hujan atau panas terik, terus mengolah tanahnya dan menabur.  "...ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.  (Yakobus 5:7b).  

     Karena kedatangan Tuhan tak lama lagi, maka kita harus menjaga hidup kita tetap berada dalam kebenaran Tuhan, sehingga ketika waktu yang dinantikan itu tiba kita tidak akan tertinggal.  Jangan sampai kita melupakan perkara-perkara rohani karena disibukkan mengejar harta dan kekayaan dunia ini, padahal semuanya itu akan kita tinggalkan.  Mari kita semakin giat mengumpulkan harta sorgawi.  "...jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."  (Yakobus 4:17).

Tanda-tanda kedatangan Tuhan semakin tampak jelas, berjaga-jagalah selalu sebab Ia datang pada waktu yang tidak disangka-sangka!

Wednesday, December 9, 2020

KEWARGAAN SORGA: Menjadi Orang Asing

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Desember 2020

Baca:  Mazmur 119:17-24

"Aku ini orang asing di dunia, janganlah sembunyikan perintah-perintah-Mu terhadap aku."  Mazmur 119:19

Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, keberadaan orang percaya bukan hanya berstatus pengikut Kristus  (orang Kristen), tapi juga telah diangkat sebagai anak-anak Tuhan dan sekaligus menjadi anggota keluarga Kerajaan Sorga atau kewargaan Sorga  (Filipi 3:20), sekalipun kita masih menjalani hidup di dunia.  Karena berkewargaan sorga, mutlak bagi kita hidup sesuai aturan-aturan yang berlaku di sorga, ialah firman Tuhan.

     Memang kita berada di dunia, tapi kita bukan berasal dari dunia ini, sehingga kita disebut orang asing di dunia  (ayat nas).  Jika kita menyadari bahwa kita adalah orang asing di tengah dunia, takkan lagi kita merasa heran, terkejut dan kecewa, apabila orang-orang dunia membenci kita, merendahkan kita, dan menempuh segala cara untuk menjatuhkan kita.  Tuhan memperingatkan,  "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu."  (Yohanes 15:18-19).  Mengapa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi?  Karena Tuhan mempunyai tujuan atas setiap orang percaya, yaitu sebagai orang asing di dunia ini untuk membuat perbedaan:  hidup tidak serupa dengan dunia.  Ketika orang-orang dunia hidup menurut kehendak sendiri, memuaskan nafsu kedagingannya, kita justru dituntut untuk hidup menurut kehendak Tuhan.  Saat kita sedang berjuang untuk hidup benar, orang-orang dunia justru memusuhi dan menjauhi kita.  Apa yang menjadi kenyamanan, kesenangan dan kenikmatan bagi dunia justru harus kita tinggalkan.

     Kita dituntut hidup seperti Nuh, yang tetap hidup benar sekalipun dunia dipenuhi dengan kejahatan.  Ketika orang-orang dunia mementingkan diri sendiri  (egois)  tanpa memedulikan orang lain, kita justru dituntut mempraktekkan kasih Kristus.  Sekalipun di dunia ini kita diperhadapkan dengan banyak sekali tantangan dan pergumulan, kita harus tetap kuat di dalam Tuhan!

Sudahkah kita memiliki kehidupan yang  'berbeda'  dengan dunia?  Ingat!  Kita ini adalah orang asing.

Tuesday, December 8, 2020

KRISTUS ADALAH JAMINAN HIDUP ORANG PERCAYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Desember 2020

Baca:  Ibrani 7:11-28

"demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat."  Ibrani 7:22

Jika merenungkan besarnya pelanggaran dan dosa kita, sesungguhnya kita tak layak menerima semua yang baik dari Tuhan, tak layak menerima berkat-berkat-Nya.  Tetapi patutlah kita bersyukur, Ia telah mengorbankan nyawa-Nya sebagai jaminan bagi kita, sehingga kita dapat memperoleh dan menikmati berkat rohani di dalam sorga  (Efesus 1:3).

     "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  (Yohanes 19:30).  Kata  'sudah selesai'  mengandung arti bahwa Tuhan telah menggenapi apa yang menjadi kehendak Bapa, yaitu menjadi jaminan dan membayar lunas hutang dosa melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib.  Tuhan Yesus telah menjadi jaminan bagi kita dengan tubuh-Nya sendiri, sehingga pintu anugerah, pintu keselamatan, pintu pemulihan, pintu kesembuhan, pintu kemenangan, pintu berkat, telah terbuka.  Sekarang tinggal bagaimana kita melangkah untuk meraih segala hal yang telah Tuhan sediakan!  Ada tertulis:  "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku."  (Amsal 8:17).  Untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan dibutuhkan ketekunan dalam melakukan kehendak-Nya  (Ibrani 10:36).  Ketekunan adalah ketetapan hati yang kuat untuk bersungguh-sungguh di dalam Tuhan.  Banyak orang Kristen menginginkan janji Tuhan digenapi dalam hidupnya tapi tak mau bertekun mencari Tuhan.  Mengapa demikian?  Karena mereka berpikir bahwa Tuhan bertindak tidak sesuai yang ia mau, bahkan sepertinya jalan Tuhan sangat bertentangan dengan keinginannya.  Itulah sebabnya mereka kecewa dan menyerah di tengah jalan sebelum janji Tuhan digenapi, padahal mereka tahu bahwa Tuhan Yesus sudah menjadi jaminan bagi kita untuk mengalami berkat yang dijanjikan-Nya;  dan yang pasti Tuhan Yesus adalah jaminan bagi orang percaya untuk masuk ke dalam kerajaan sorga, sebab  "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (Yohanes 14:6b).

     Bagian kita adalah mengerjakan keselamatan dan menjaga hidup agar tetap kudus dan tak bercela sampai Tuhan datang menjemput kita.

Di dalam Tuhan Yesus kita mendapatkan jaminan pasti untuk mengalami janji firman-Nya.

Monday, December 7, 2020

KRISTEN SEJATI: Menyukai Firman Tuhan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Desember 2020

Baca:  Mazmur 119:169-176

"Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku."  Mazmur 119:174

Semua orang pasti punya aktivitas yang menjadi kesukaan atau kegemaran.  Orang yang memiliki kesukaan atau kegemaran terhadap sesuatu, sesibuk apa pun pasti berusaha menyediakan waktunya untuk mengerjakan apa yang menjadikan kesukaannya tersebut.  Dari pembacaan firman hari ini kita belajar dari orang yang memiliki kesukaan atau kegemaran yang berbeda dari orang-orang kebanyakan.  Dia adalah Daud!  Dalam mazmurnya Daud berkata,  "Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku."  (Mazmur 119:143).  Dalam masalah sekalipun tak menyurutkan gairah Daud untuk menjadikan firman Tuhan sebagai kesukaannya.

     Setiap orang percaya haruslah meneladani Daud yang menjadikan firman Tuhan sebagai kegemaran atau kesukaan dalam hidupnya.  Namun seringkali terjadi banyak orang Kristen justru tidak menyukai firman Tuhan.  Mereka enggan menyediakan waktu membaca firman Tuhan dan merenungkannya, karena dianggap sangat membosankan dan menjenuhkan.  Tetapi begitu tertimpa masalah barulah mereka getol membaca Alkitab, mencari ayat-ayat yang cocok dengan situasi yang dialami.  Perhatikan!  Firman Tuhan adalah kebutuhan utama orang percaya!  Sebab kita hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman Tuhan  (Matius 4:4), dan kita takkan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan jika kita tak mau tekun membaca, merenungkan dan melakukan firman-Nya.  Pemazmur menyatakan semakin kita bergaul karib dengan firman Tuhan, semakin kita pahami apa kehendak Tuhan, karena di dalam firman-Nya sudah dinyatakan dengan jelas.

     Inilah kehendak Tuhan bagi orang percaya:  hidup berkemenangan, diberkati, hidup semakin serupa dengan Kristus.  Semakin kita menjadikan firman Tuhan sebagai kesukaan dan kegemaran, maka kuasa firman-Nya bekerja di dalam kita:  hidup kita diubahkan.  Walau ada masalah dan tantangan,  "Biarlah bibirku mengucapkan puji-pujian, sebab Engkau mengajarkan ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku."  (Mazmur 119:171), sebab selalu ada pertolongan di dalam Tuhan.

"Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku."  Mazmur 119:92

Sunday, December 6, 2020

SELALU MENGENAKAN 'KASUT' ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Desember 2020

Baca:  Efesus 6:10-20

"kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;"  Efesus 6:15

Zaman dahulu prajurit Romawi selalu mengenakan kasut terbuat dari kulit yang tebal dan dilengkapi dengan tali sampai ke betis atas, sehingga tidak mudah lepas saat berada di medan peperangan.  Kasut tersebut harus selalu dikenakan, tak boleh dilepas sembarangan, sebab jika sewaktu-waktu ada musuh datang menyerang tiba-tiba atau mendadak, mereka dalam keadaan sigap dan siap sedia untuk berperang, karena kasut sudah mereka kenakan.

     Selalu berjaga-jaga dan siap sedia adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya!  Kita harus selalu mengenakan  'kasut rohani'  tersebut.  Apa makna rohani dari  'berkasutkan kerelaan memberitakan Injil'?  Ini berbicara tentang hidup yang selaras dengan firman Tuhan di segala keadaan, harga mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi!  Inilah kehidupan Kristen yang sejati, yaitu meneladani bagaimana Kristus hidup:  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Dalam keadaan apa pun, situasi apa saja, di mana saja dan kapan pun, kita harus selalu mengenakan  'kasut'  yaitu firman Tuhan sebagai dasar untuk kita melangkah dan bertindak.  Penting sekali kita membangun rumah rohani kita di atas kebenaran firman Tuhan dan berakar kuat di dalam firman-Nya.  Tanpa punya dasar yang kuat kita takkan mungkin bisa memberitakan firman Tuhan dan kabar keselamatan kepada orang lain.  Bagaimana kita bisa memberikan jawaban yang melegakan kepada orang lain yang bertanya tentang keselamatan di dalam Kristus, bila pengenalan kita akan Tuhan dan firman-Nya masih teramat dangkal?

     Pemahaman dasar yang harus dimengerti:  satu-satunya jalan menuju kepada keselamatan kekal hanyalah di dalam Tuhan Yesus  (Yohanes 14:6;  Kisah 4:12);  keselamatan harus dipelihara dan dikerjakan dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12), dan setiap kita harus memenuhi panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil  (2 Timotius 4:2)  dan menjadi saksi-saksi-Nya.

Mengenakan  'kasut'  kerelaan untuk memberitakan Injil berarti di mana saja, ke mana saja dan kapan saja kita harus hidup selaras dengan firman Tuhan dan menjadi saksi-Nya!

Saturday, December 5, 2020

BERSIKAP DEWASA SAAT DALAM MASALAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Desember 2020

Baca:  Mazmur 124:1-8

"Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung; jerat itu telah putus, dan kitapun terluput!"  Mazmur 124:7

Masalah apa pun yang sedang kita alami pasti mendatangkan kebaikan jika kita mampu melihat dan memandangnya dari sudut pandang yang benar, jika kita mampu meresponinya dengan sikap hati yang benar pula.  Sebesar apa pun masalah yang kita alami saat ini pasti ada pelajaran berharga yang kita dapatkan.  Jika kita menyikapi masalah sebagai pemelajaran hidup dan bagian dari proses pendewasaan iman, maka kita percaya bahwa hal-hal yang baik pasti terjadi dalam hidup kita.  Tak perlu kita takut, kecewa dan marah kepada Tuhan jika sedang berada dalam masalah.  Jika Tuhan ijinkan masalah kita alami, percayalah Tuhan pasti memberikan jalan keluar yang terbaik untuk kita.

     Tak banyak orang Kristen mampu menyikapi masalah dari sudut pandang yang benar!  Kebanyakan memberikan respons negatif terhadap masalah yang dialaminya.  Ada masalah sedikit saja mereka langsung mengeluh, mengomel, merengek-rengek, bersungut-sungut, tersinggung, marah, tak mau dinasihati, tak mau ditegur, lalu mogok ke gereja dan mogok dari pelayanan.  Bukankah ini menunjukkan bahwa kita ini masih berlaku seperti kanak-kanak alias tidak dewasa rohani.  Menjadi tua secara fisik adalah pasti bagi semua orang, tetapi menjadi dewasa rohani itu akibat kita mau berproses, salah satu prosesnya adalah melalui masalah.  Melalui masalah yang ada sesungguhnya Tuhan sedang menggiring kita untuk mendekat kepada-Nya.  Kalau mau jujur, tidak sedikit orang Kristen yang ngotot pergi ke gereja karena mereka sedang mengalami pergumulan hidup  (masalah)  yang berat.  Dari situlah kita sadar bahwa sesungguhnya kekuatan dan kemampuan kita sangat terbatas, karena itu kita membutuhkan Tuhan dalam hidup ini. 

     Melalui masalah, kita diajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan belajar memegang teguh janji firman Tuhan!  Janji manusia mudah sekali tidak ditepati dan meleset, tapi janji Tuhan adalah ya dan amin"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35).  Jangan terpaku pada masalah atau situasi, sebab hidup kita ini adalah karena percaya.

"Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  1 Korintus 13:11b

Friday, December 4, 2020

BADAI SEBESAR APA PUN... TUHAN SANGGUP REDAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Desember 2020

Baca:  Markus 4:35-41

"Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."  Markus 4:35

Murid-murid Tuhan membayangkan bahwa perjalanan mereka ke seberang danau bersama Dia adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, nyaman dan aman.  Tentu tidak terbersit sedikit pun bahwa perjalanan ini akan sulit karena Tuhan ada bersama mereka.  Namun apa yang terjadi?  "...mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air."  (Markus 4:37).  Kisah ini mirip perjalanan hidup orang percaya yang tak secara otomatis mulus tanpa rintangan.

     Hidup di dunia ini tak luput dari ombak, taufan dan gelombang yang ganas.  Semua bisa terjadi, datang kapan saja tanpa bisa diprediksi!  Namun percayalah bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah.  Murid-murid tak menyangka perahu mereka diterjang taufan, angin topan dan ombak besar, tapi mereka tetap luput dari petaka karena semua yang terjadi ada dalam kendali Tuhan.  Dia Jehovah Shammah.  Sebesar apa pun taufan dan badai mengamuk, semua tunduk pada otoritas Tuhan.  Saat Tuhan Yesus berkata,  "'Diam! Tenanglah!' Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali."  (Markus 4:39).  Sekalipun para murid adalah orang-orang yang berpengalaman dalam hal melaut, mereka tak mampu mengatasi badai.  Bukti bahwa kepintaran, kehebatan, kekuatan dan pengalaman manusia pun tak bisa menolong.  Hanya Tuhan Yesus yang sanggup menenangkan badai hidup ini!  Pertolongan kita bukan datang dari manusia, tetapi dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi  (Mazmur 121:2).  Murid-murid selamat walau dalam amukan badai karena mereka membangunkan Tuhan Yesus yang sedang tertidur di buritan dan meminta pertolongan kepada-Nya  (Markus 4:38).

     Apa pun yang kita alami berserulah kepada Tuhan, maka Ia akan menjawab kita.  Karena itu jangan pernah tinggalkan jam-jam doa.  Doa kita akan menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak, menenangkan amukan badai apa yang sedang menerpa hidup.

Saat diserang badai datanglah kepada Tuhan Yesus dan berserulah kepada-Nya, Dia sanggup memulihkan keadaan yang kita alami!

Thursday, December 3, 2020

JANGAN TERBAWA ARUS DUNIA INI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Desember 2020

Baca:  Ibrani 2:1-4

"bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya,..."  Ibrani 2:3

Arus kejahatan dunia ini semakin hari semakin deras.  Hantaman gelombang kehidupan dunia yang begitu keras dapat membuat orang percaya tenggelam dan terseret di dalamnya.  Firman Tuhan menasihati kita agar lebih memperhatikan apa yang kita dengar  (Ibrani 2:1), artinya kita harus mempertajam pendengaran kita akan firman Tuhan.  Semakin kita tinggal di dalam firman-Nya semakin kita beroleh kekuatan untuk menghadapi arus gelombang kehidupan dunia yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Jika tak kuat, kapal kita bisa hanyut, tenggelam, kandas dan terdampar.

     Kapal adalah gambaran kehidupan kita!  Jika orang percaya terbawa oleh arus dunia hingga kapalnya kandas, ia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan sekali waktu kelak, sebab itu sebagai pertanda bahwa ia tak mampu menjaga dan memelihara keselamatan yang telah diterimanya.  Perjalanan orang dalam mengiring Tuhan bisa kandas di tengah jalan oleh karena mereka kurang teliti dan kurang memperhatikan serta kurang mendengar firman Tuhan.  Ketelitian dalam mendengar firman Tuhan adalah hal yang penting karena hidup kita ini seumpama kapal dan kita sendiri adalah nahkodanya.  Tak lagi teliti dalam memperhatikan firman Tuhan membuat seseorang kehilangan arah tujuan, sebab  "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."  (Mazmur 119:105).  Karena itu kita harus melatih dan mendisiplinkan diri dalam hal ibadah, sebab dalam ibadah kita mendengar dan merenungkan firman Tuhan.  Jika firman Tuhan kita dengar dengan sungguh-sungguh dan dimengerti, firman-Nya akan menjadi rhema, hidup di dalam kita.  Kalau firman Tuhan berakar kuat di dalam kita, arus dunia takkan bisa menyeret kita.

     Berhati-hatilah!  Sebab setiap pelanggaran dan ketidaktaatan selalu mendatangkan akibat  (Ibrani 2:2).  Banyak orang Kristen tak sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan sehingga mereka mudah terseret arus dunia ini.  Inilah waktunya untuk kita:  rajinkan dan giatlah beribadah  (Ibrani 10:25)  dan benar-benar mempraktekkan firman  (Kolose 3:23).

Arus kehidupan dunia ini membawa seseorang kepada kehancuran dan kebinasaan!

Wednesday, December 2, 2020

BERKEMENANGAN KARENA TUHAN TURUN TANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Desember 2020

Baca:  Ulangan 20:1-20

"Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu."  Ulangan 20:4

Suka atau tidak, kehidupan kekristenan itu ibarat sedang berada di medan peperangan!  Ada musuh-musuh di sekitar kita yang selalu mengintai, yang siap menyerang saat kita lengah.  Peperangan kita ini bukanlah melawan darah dan daging, tetapi  "...melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).

     Kita berperang melawan Iblis  (musuh utama), berperang melawan kedagingan  (cara hidup dunia), juga berperang melawan masalah dalam hidup ini.  Jelas sekali bahwa hidup di dalam Tuhan bukan berarti tanpa rintangan atau mulus tanpa hambatan... justru sebaliknya, kita semakin diperhadapkan dengan tantangan dan peperangan setiap saat yang mungkin jauh lebih besar.  "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak dari padamu,"  (Ulangan 20:1),  "...janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka,"  (Ulangan 20:3), sebab ada tangan Tuhan yang siap menopang dan menyertai kita.  Mengapa Tuhan mengijinkan ada  'peperangan'?  Karena di balik itu Tuhan hendak memberikan kemenangan bagi kita:  "Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN."  (Amsal 21:31).

     Tidak ada kemenangan tanpa peperangan!  Tidak ada jarahan tanpa melucuti musuh!  Jadi rancangan Tuhan atas kita bukan sekedar memberkati kita, tapi Ia juga menghendaki kita menjadi orang-orang yang berkemenangan:  menang atas musuh, menang atas masalah sebesar apa pun... dan untuk menjadi pemenang ada harga yang harus dibayar!  Kita takkan punya kekuatan dalam berperang bila kita tidak memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata rohani dan sikap yang selalu berjaga-jaga dalam doa setiap waktu dalam Roh  (Efesus 6:18).

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  (Mazmur 20:7).

Tuesday, December 1, 2020

BERANDAI-ANDAI TANPA TINDAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Desember 2020

Baca:  Ibrani 3:7-19

"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan 'hari ini', supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa."  Ibrani 3:13

Suka menunda-nunda sesuatu untuk dikerjakan adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan banyak orang, bahkan mereka juga terjebak dengan pemikiran berandai-andai:  "Andai aku punya uang banyak, aku akan membantu pembangunan gereja, menjadi donatur bagi hamba-hamba Tuhan di pedalaman, dan juga panti asuhan.  Andai aku tidak sibuk dengan bisnisku, aku akan melayani Tuhan.  Andai aku punya dua mobil, maka mobil yang satu akan kupakai untuk antar-jemput jemaat yang kurang mampu."  Andai saja... seandainya ini... seandainya itu...  Selama kita hanya berandai-andai saja tapi no action, itu adalah sia-sia belaka.  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23), bukan cuma berandai-andai.

     Tak perlu menunggu esok hari, tak perlu menunggu sampai menjadi orang yang berhasil, tak perlu menunggu punya banyak uang, tak perlu menunggu waktu luang untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan dan sesama.  Sekarang dan hari ini adalah waktu untuk bertindak!  Kita sudah menerima banyak berkat dari Tuhan dan pertolongan-Nya, tapi untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan kita masih berpikir 1000 kali, suka menunda-nunda waktu, bahkan kita selalu mencari alasan untuk mengelak.

     Untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan tidak harus menunggu sampai menjadi pendeta, full timer, atau punya uang banyak dahulu.  Sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu bagi Tuhan dan sesama dengan apa pun yang bisa kita kerjakan saat ini mulai dari hal-hal kecil dan sederhana.  Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat di mana pun, kapan pun dan apa pun profesi kita.  Kita bisa menjadi berkat di kantor, di lingkungan tempat kita tinggal, sekolah, pabrik, di mana pun berada.  Kita bisa berkontribusi bagi orang lain dari hal-hal yang sederhana:  berkorban waktu untuk membesuk mendengarkan keluh kesah, berkorban tenaga dan pikiran.  Kita bisa belajar untuk menjadi seorang pendengar yang baik, mendengarkan keluh kesah mereka saat mereka sedang dalam masalah.  Tak ada alasan untuk tidak berbuat sesuatu!

Jangan berandai-andai saja!  Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

Monday, November 30, 2020

TAMPAK ROHANI HANYA DI DEPAN MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 November 2020

Baca:  1 Petrus 2:1-10

"Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah."  1 Petrus 2:1

Adalah kesalahan besar di dalam diri orang Kristen bila kita berusaha menunjukkan diri agar tampak rohani di hadapan manusia.  Kita berusaha menunjukkan kesucian hidup dengan perkataan-perkataan yang tampak rohani dan alkitabiah.  Tidak ada keuntungan yang kita dapatkan ketika kita berusaha berkenan di hati manusia, ketika kita bersikap pura-pura baik dan berpura-pura rohani di depan umum, dengan maksud untuk mendapatkan perhatian, pujian dan sanjungan.  Inilah yang biasa dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!  "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;"  (Matius 23:5).  Kita lupa bahwa apa yang terlihat dari luar bukanlah kriteria penilaian Tuhan, sebab Tuhan menyelidiki isi hati.  Tuhan sangat mengasihi orang-orang yang menjaga hatinya, tapi Ia benci terhadap kemunafikan.

     Mengapa kita cenderung lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan?  Mengapa kita lebih menginginkan pengakuan dari mulut manusia daripada mendapatkan perkenanan dari Tuhan?  Mungkin kita berpikir bahwa ketika kita berlaku hidup benar dan menjaga hati tetap murni kita justru mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari manusia:  dibenci, dijauhi, dicemooh, Iblis pun mengambil keuntungan dari situasi ini dengan menarik perhatian kita untuk lebih mengutamakan penilaian manusia terhadap kita.

     Berhati-hatilah!  Jangan sampai kita terjebak dalam belenggu kepura-puraan, dengan berusaha untuk tampak benar di hadapan manusia.  Jangan sampai kita hanya dapat mengajarkan orang lain untuk hidup dalam kebenaran dan membangun hubungan yang karib dengan Tuhan, tetapi kita sendiri justru tidak memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan, karena segala sesuatu yang kita kerjakan hanya sebatas aktivitas agamawi.  Segeralah bertobat sebelum semuanya terlambat!  Jangan sampai kita ini berlaku seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!  "...mengajarkannya tetapi tidak melakukannya."  (Matius 23:3).  Jangan hanya menjadi seorang Kristen teori!  Apalah artinya pujian dan penghormatan dari manusia, tapi akhirnya ditolak oleh Tuhan.

Tuhan menghendaki kita menjadi pelaku-pelaku firman!  Sebab yang Tuhan lihat dan perhatikan adalah buah-buah pertobatan dari hidup kita!

Sunday, November 29, 2020

BERPALING DARI TUHAN: Berakibat Fatal

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 November 2020

Baca:  1 Raja-Raja 11:1-13

"...supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN."  1 Raja-Raja 11:10

Kalau kita perhatikan secara teliti, secara garis besar ada tiga tahapan perjalanan hidup Salomo;  1.  Hidup takut akan Tuhan dan mengandalan Dia.  2.  Masa-masa kejayaan.  3.  Kemerosotan atau kejatuhan.  Salomo gagal mempertahankan kesetiaannya kepada Tuhan setelah ia sukses dan berjaya.  Bisa dikatakan ia memulai secara roh, tapi mengakhirinya secara daging.  Oleh karena itu kita tak bisa membangga-banggakan kehidupan di masa lalu, karena yang Tuhan lihat adalah kehidupan saat ini dan nantinya, dan hanya orang-orang yang setia dan taat sampai akhirlah yang akan menikmati kemuliaan yang Tuhan sediakan!  Tuhan menghendaki kehidupan kekristenan kita semakin hari semakin bertumbuh, bukan jatuh bangun, terseok-seok dan semakin merosot.

     Bercermin dari pengalaman hidup Salomo ada dua kemungkinan ketika seseorang hidup dalam keberkatan, yaitu semakin taat dan mengasihi Tuhan, atau sebaliknya justru membuatnya lupa diri dan akhirnya meninggalkan Tuhan.  Berkat materi yang melimpah dapat menyondongkan hati seseorang kepada kehidupan dunia yang sarat dengan hawa nafsu.  Inilah celah yang dimanfaatkan oleh Iblis untuk menghancurkan hidup manusia!  Ternyata Iblis tidak secara langsung atau frontal membuat orang jatuh dan meninggalkan Tuhan, tapi melalui siasat dan taktik yang begitu rapi, tahap demi tahap.  Mencintai wanita-wanita asing!  Inilah yang akhirnya menjadi jerat bagi Salomo yang membawanya jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala.  Padahal Tuhan sudah menampakkan diri-Nya kepada Salomo sampai dua kali dan memperingatkan keras  "...supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN."   (ayat nas), Salomo tetap tak bergeming.  "Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."  (1 Yohanes 2:15b).

     Salomo tak menghiraukan peringatan Tuhan ini dan malah membelakangi Tuhan karena mata rohaninya telah dibutakan oleh harta, kekuasaan dan kenikmatan duniawi.  Salomo lupa bahwa setiap ketidaktaatan selalu mendatangkan hukuman!

Akibat ketidaktaan Salomo sendiri Tuhan berkata,  "Aku akan mengoyakkan kerajaan itu..."  (1 Raja-Raja 11:11)  dan membangkitkan lawan-lawan bagi Salomo.

Saturday, November 28, 2020

CARA PANDANG KITA: Mempengaruhi Hidup Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 November 2020

Baca:  Bilangan 13:1-33

"Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu."  Bilangan 13:26b

Masalah yang dialami, situasi atau keadaan yang terjadi di sekitar bisa berdampak buruk namun juga bisa mendatangkan kebaikan.  Hal itu bergantung dari cara kita memandang atau menyikapinya.  Masalah berat dan situasi sulit seringkali menjadi beban yang begitu menekan dan membuat orang menjadi patah semangat dan menyerah.  Hati dan pikiran dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran, akhirnya sikap pesimis pun menguasai.

     Suatu ketika Musa mengutus 12 orang pengintai untuk pergi mengintai tanah Kanaan.  Kedua belas orang itu adalah para pemimpin dari masing-masing suku di Israel.  Menjadi perwakilan suku berarti bukanlah sembarang orang, melainkan orang-orang pilihan yang memiliki potensi dan kualitas hidup yang sangat mumpuni.  Namun meski sama-sama mengintai tempat  (obyek)  yang sama dan lamanya waktu untuk mengintai juga sama, yaitu empat puluh hari  (Bilangan 13:25), tapi mereka pulang dengan membawa laporan yang berbeda:  10 orang memberikan laporan negatif, sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi takut dan was-was.  2 orang membawa laporan positif, yang menguatkan dan membangkitkan semangat.  Mengapa hasil laporannya ada dua versi?  Yang membedakan adalah cara pandang!  Kalau kita memandang diri kita ini penuh kekurangan dan keterbatasan, kita pasti lemah dan menjadi takut:  "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."  (Bilangan 13:31).  Mereka merasa kecil sedangkan musuh tampak besar seperti raksasa yang sepertinya mustahil dikalahkan.  Mereka langsung gemetar melihat orang-orang yang mendiami Kanaan berperawakan seperti raksasa  (Bilangan 13:32-33).

     Jangan mau dikalahkan situasi!  Jangan termakan provokasi Iblis!  Kita harus punya iman seperti Yosua dan Kaleb:  "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"  (Bilangan 13:30).  Iman Yosua dan Kaleb menjadi bangkit oleh karena pandangannya terarah kepada Tuhan!  "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah."  (Mazmur 16:8).

Pandanglah terus hanya kepada Tuhan Yesus!  Bersama Dia kita pasti sanggup menanggung segala perkara!