Thursday, September 24, 2020

TEMBOK PENGHALANG DIRUNTUHKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 September 2020

Baca:  Yosua 6:1-27

"Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk."  Yosua 6:1

Iblis selalu merancang hal-hal yang jahat bagi kehidupan manusia, sebagaimana tertulis:  "Pencuri (Iblis) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  (Yohanes 10:10a).  Itulah sebabnya Iblis selalu mencari cara bagaimana supaya orang percaya hidup dalam kegagalan;  Iblis berusaha menutup pintu-pintu kesempatan, menutup jalan berkat dan menyerang semua orang dengan hal-hal negatif.

     Syukur kepada Tuhan karena kita punya Tuhan yang memiliki rancangan yang indah bagi kehidupan anak-anak-Nya:  "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Bagaimana caranya supaya rancangan Tuhan tergenapi, pintu-pintu kesempatan terbuka, dan tembok-tembok penghalang dapat diruntuhkan?  Kita bisa belajar dari pengalaman adikodrati runtuhnya tembok Yerikho!  Ketika Tuhan memerintahkan orang-orang Israel untuk mengelilingi kota Yerikho tujuh hari lamanya, di mana pada hari ke-7 mereka harus mengelilinginya sebanyak 7 kali, mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, juga ketika diminta untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat mengelilingi kota Yerikho  (Yoshua 6:10).

     Tembok yang tebal sesungguhnya bukanlah penghalang untuk kita meraih kemenangan, tapi kita harus ingat bahwa tidak ada kemenangan tanpa usaha, kesabaran, ketekunan dan ketaatan!  Menurut akal manusia mustahil tembok Yerikho bisa runtuh bila hanya dikelilingi saja!  Tapi kesabaran orang-orang Israel melakukan perintah Tuhan untuk tidak berbicara selama mengelilingi kota Yerikho, dan juga ketekunan mereka mengelilingi kota  (sekali dalam sehari selama enam hari dan tujuh kali pada hari ke tujuh), akhirnya membuahkan hasil tembok penghalang itu pun runtuh... dan keberadaan Tabut Perjanjian di tengah-tengah orang Israel adalah lambang dari kehadiran Tuhan, di mana Tuhan turut bekerja, perkara yang besar dan dahsyat pasti dinyatakan!

Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil!  Tembok-tembok persoalan sebesar apa pun pasti dapat diruntuhkan!

Wednesday, September 23, 2020

BERPEGANG PADA FIRMAN: Kunci Menjaga Pikiran

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 September 2020

Baca:  Filipi 4:2-9

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  Filipi 4:6

Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi agar mereka selalu menjaga pikiran, sebab pikiran adalah medan peperangan yang sesungguhnya.  Ada tertulis:  "For as he thinks in his heart, so [is] he." (Proverbs 23:7, NKJV), artinya:  "sebagaimana dia berpikir dalam hatinya, demikianlah dia."  Jadi pikiran kita akan membentuk kehidupan kita, pikiran memimpin seluruh tindakan kita;  tindakan kita adalah refleksi pikiran kita.  Karena itu kita harus menjaga pikiran sedemikian rupa agar tetap berisikan hal-hal yang benar dan positif.

     Salah satu ciri orang yang berpikiran positif adalah tetap bersukacita di segala keadaan:  "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"  (Filipi 4:4).  Bersukacita bukanlah sekedar saran atau himbauan, melainkan suatu perintah dan kehendak Tuhan!  Sekalipun hari-hari yang sedang kita jalani terasa berat, kita diajar untuk tetap berpikiran positif dan membuang semua yang negatif:  kuatir, takut, ragu, bimbang, cemas dan sebagainya  (ayat nas).  Inilah kunci untuk memiliki pikiran yang positif:  "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  (Filipi 4:8).  Pernyataan  'Jadi akhirnya...'  menunjukkan bahwa inilah yang menjadi inti dari nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ini, supaya pikiran kita dipenuhi dengan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan.  Kita harus senantiasa bersektu dengan Tuhan dan merenungkan firman-Nya setiap hari.

     Ada tertulis:  "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya."  (Yesaya 32:17).  Kalau kita hidup dalam kebenaran Kristus kita akan memiliki damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang akan memelihara hati dan pikiran kita  (Filipi 4:7).

Hati dan pikiran yang terpelihara di dalam Kristuslah yang memampukan kita untuk terus berpikiran positif di segala keadaan.

Tuesday, September 22, 2020

TERTULIS DI KITAB KEHIDUPANNYA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 September 2020

Baca:  Wahyu 20:11-15

"Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan."  Wahyu 20:12a

Selagi kita masih hidup di dunia ini mari kita pergunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin yaitu hidup dalam kebenaran dan mengerjakan panggilan Tuhan dengan roh yang menyala-nyala.  Keselamatan yang sudah kita terima dari Tuhan harus kita kerjakan dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12), serta berjuang sedemikian rupa mengejar perkenanan Tuhan sampai garis akhir hidup kita.  Tak ada kata sia-sia kita hidup dalam kebenaran!  Karena segala sesuatu yang kita perbuat untuk Tuhan dan juga untuk sesama manusia semuanya ada di bawah pengawasan Tuhan, mata Tuhan memperhatikan, dan kesemuanya tercatat secara rinci di dalam sebuah buku yang disebut kitab kehidupan.

     Segala jerih lelah kita di dalam mengikut Tuhan, kesungguhan kita dalam melayani pekerjaan-Nya, dan harga yang sudah kita bayar untuk mempertahankan hidup benar, selain dicatat di dalam kitab kehidupan juga akan mendapatkan upah dari Tuhan.  Ada tertulis:  "Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya."  (Wahyu 3:5).  Jadi yang tercatat di kitab kehidupan-nya Tuhan adalah orang-orang yang menang!

     Pemilik kitab kehidupan adalah Yesus sendiri, sebab kitab kehidupan juga disebut kitab kehidupan Anak Domba:  "...hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu."  (Wahyu 21:27);  Dialah yang menuntun siapa yang layak tercatat namanya di kitab tersebut.  Begitu pula setiap perbuatan jahat, ketidaktaatan terhadap firman Tuhan, juga tak luput dari pandangan Tuhan, dan pada saatnya akan mendapat balasan yang setimpal perbuatannya,  "Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:7b-8).

Bersungguh-sungguhlah di dalam Tuhan supaya nama kita tercatat di kitab kehidupan!

Monday, September 21, 2020

MASALAH DATANG, HATI TAK TENANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 September 2020

Baca:  Yesaya 30:1-17

"Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."  Yesaya 30:15

Setiapkali masalah datang reaksi sebagian besar orang adalah panik, takut dan kuatir.  Juga kita tak bisa menahan ucapan, tak bisa menjaga lidah kita untuk memperkatakan hal-hal yang negatif dan mengasihani diri sendiri, padahal kita sudah diperingatkan,  "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19);  ucapan atau perkataan yang tidak dijaga, dapat membuat kita berdosa kepada Tuhan:  "Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang..."  (Mazmur 39:2).

     Kualitas hidup seseorang yang sesungguhnya akan terlihat dari kemampuannya dalam menguasai diri salah satunya adalah menguasai ucapan.  Bagaimana sikap kita saat menghadapi masalah atau pergumulan yang berat?  Ada kata pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas.  Kata  'diam'  yang dimaksudkan bukan berarti tidak mampu, masa bodoh atau menyerah pasrah, tapi mengacu kepada suatu sikap kehati-hatian dalam berbicara atau pun bertindak.  Jika kita tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik adalah lebih baik kita berdiam diri.  Begitu pentingnya sikap berdiam diri sehingga orang bodoh pun  "...akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya."  (Amsal 17:28).  Ketika masalah datang menerpa hidup seringkali kita tidak bisa menahan ucapan:  mengeluh, bersungut-sungut dan mengomel, seperti yang biasa dilakukan bangsa Israel saat berada di padang gurun:  "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."  (Keluaran 14:11-12).

     Kebanyakan dari kita tak bisa tenang ketika permasalahan datang!  Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap tenang saat masalah datang menerpa:  "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7b).

Berdiam diri dengan mendekat kepada Tuhan membuat kita menjadi tenang!

Sunday, September 20, 2020

MENCINTAI FIRMAN: Hidup Dikenan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 September 2020

Baca:  Mazmur 119:89-104

"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."  Mazmur 119:97

Tentang Daud, Tuhan mengatakan,  "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku."  (Kisah 13:22b).  Kunci untuk memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan adalah memiliki rasa haus dan lapar akan firman Tuhan dan hidup dalam persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Daud mau membayar harga dalam hidupnya untuk merenungkan firman Tuhan setiap hari, ia begitu menyukai firman dan Taurat Tuhan.  Bukan sampai di situ saja, ia juga  "...suka melakukan kehendak-Mu...Taurat-Mu ada dalam dadaku."  (Mazmur 40:9).

     Kita seharusnya memiliki perasaan yang sama seperti Daud, yang begitu mengasihi Tuhan dan mencintai firman-Nya.  Orang yang kasihnya bergelora untuk Tuhan tidak akan merasa keberatan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Itulah yang menyenangkan hati Tuhan:  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  (Yohanes 14:21).  Selain itu kita harus benar-benar percaya dan berpegang teguh pada firman Tuhan, bukan hanya sekedar membaca, sebab semua tulisan yang ada di dalam Injil adalah perkataan Tuhan yang penuh kuasa.  Jangan sekali-kali kita membanding-bandingkan ayat-ayat firman Tuhan atau memperdebatkannya secara akal logika kita, sebab firman Tuhan itu hanya untuk dilakukan dan ditaati.  Seberapa besar rasa haus dan lapar Saudara terhadap firman Tuhan?  "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan."  (Matius 5:6).

     Banyak orang Kristen lalai dan malas membaca Alkitab, mereka baru mencari Alkitabnya saat dalam keadaan terjepit.  Rasul Paulus menasihati Timotius,  "...bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci,"  (1 Timotius 4:13).  Bagaimana mungkin kita akan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan yang tertulis di Alkitab, tanpa bertekun membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan?  Pemazmur menegaskan bahwa menyukai firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam adalah kunci untuk meraih keberhasilan dalam hidup ini  (Mazmur 1:1-3;  Yosua 1:8).  

Karib dengan Tuhan dan  'tinggal'  dalam firman-Nya kunci diperkenan Tuhan!

Saturday, September 19, 2020

MENYUKAKAN MANUSIA: Hamba Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 September 2020

Baca:  Galatia 1:1-10

"Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."  Galatia 1:10b

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan adalah berkenaan dengan motivasi.  Dalam melayani pekerjaan Tuhan kita harus memiliki motivasi yang murni yaitu mengejar perkenanan Tuhan, bukan mencari perkenanan dari manusia.  Kalau pelayanan kita hanya bertujuan untuk menyenangkan hati manusia atau orang-orang yang dilayani berarti motivasi kita sudah melenceng jauh.  Perhatikan apa yang rasul Paulus katakan,  "Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."  (ayat nas).

     Fenomena ini sedang melanda gereja Tuhan di akhir zaman:  banyak pelayan Tuhan atau hamba Tuhan yang karena takut kehilangan jemaatnya akhirnya memilih untuk berkompromi dengan dosa.  Mereka tidak berani menegur jemaatnya yang berbuat kesalahan;  mereka tetap saja menutup mata seolah-olah tidak terjadi apa-apa;  mereka tidak bisa bersikap tegas!  Ketika kita lebih takut kepada manusia demi menyenangkan hatinya, atau lebih memilih untuk mencari pujian manusia, sama artinya kita sudah menghambakan diri kepada manusia.  Yang namanya  'hamba'  adalah orang yang berusaha melakukan apa saja demi untuk menyenangkan hati tuannya.  Ketika kita melakukan segala sesuatu dan menempuh segala cara dengan tujuan untuk menyenangkan hati manusia berarti kita sudah menjadi hamba manusia.

     Sebagai hamba-hamba Tuhan kita harus memiliki satu tujuan dalam melayani pekerjaan Tuhan kita harus memiliki satu tujuan bagaimana supaya kita tetap berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.  Orang yang mengejar perkenanan Tuhan pasti akan menghambakan diri kepada Tuhan sepenuhnya dan berkomitmen untuk meninggalkan cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan;  kita tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran yang membuat hati Tuhan sedih.  Inilah harga yang harus dibayar seorang hamba Tuhan!  Apa pun situasinya kita harus tetap berdiri teguh dalam kebenaran firman Tuhan dan tidak akan berkompromi dengan dosa.

Kristus sudah mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, karena itu kita harus menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan!

Friday, September 18, 2020

PADANG GURUN MENDATANGKAN KEBAIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 September 2020

Baca:  Ulangan 29:1-29

"Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu."  Ulangan 29:5

Masalah dan penderitaan adalah dua hal yang menjadi bagian dari kehidupan manusia di dunia, yang bisa menyebabkan orang menjadi teretekan dan mengalami stres.  Keadaan ini bisa terjadi dan dialami oleh semua orang tanpa terkecuali!  Bila tubuh kita ini mengalami tekanan yang berat dan stres secara terus-menerus dapat memengaruhi sel-sel yang ada di dalam tubuh kita, dan akhirnya bisa menyebabkan sakit-penyakit.

     Kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan bangsa Israel saat keluar dari perbudakan di Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, di mana mereka mengalami tekanan yang sangat berat dan membuat mereka menjadi stres, terlebih-lebih saat berada di padang gurun, suatu masa di mana kehidupan mereka seolah-olah berada di titik terendah  (nol).  Dalam situasi ini mereka diajarkan untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, dan justru saat berada di padang gurun, saat segala sesuatu sepertinya tidak ada harapan atau mengalami jalan buntu, mereka malah mengalami mujizat demi mujizat, keajaiban Tuhan dinyatakan.  Oleh karena itu belajarlah untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan sekalipun harus mengalami situasi seperti di padang gurun.  Inilah saat yang tepat untuk kita semakin mendekat kepada Tuhan, membangun persekutuan yang karib dengan Dia.  Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini!  Jika kita diijinkan untuk melewati  'padang gurun'  berarti Tuhan memiliki maksud dan tujuan supaya kita belajar untuk hidup mengandalkan Dia, tidak mengandalkan kekuatan sendiri.

     Masa-masa di padang gurun memang identik dengan kesulitan, kesukaran, bahaya dan penderitaan, tapi mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengalaminya, sebab iman kita sedang dilatih dan dibentuk supaya makin kuat.  Hal penting yang harus diperhatikan adalah respons hati kita harus benar!  Jangan seperti bangsa Israel yang respons hatinya negatif:  mengeluh, bersungut-sungut, mengomel, menyalahkan keadaan, menyalahkan pemimpin, dan bahkan menyalahkan Tuhan.

Karena terus mengeraskan hati dan memberontak kepada Tuhan, bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan selama 40 tahun di padang gurun.

Thursday, September 17, 2020

MENOLONG ORANG LAIN: Menolong Diri Sendiri

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 September 2020

Baca:  Amsal 3:27-35

"Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu."  Amsal 3:28

Kita seringkali menunda-nunda waktu dan memiliki banyak sekali pertimbangan ketika hendak menolong atau memberi sesuatu kepada orang lain.  Kita menghitung untung rugi:  kalau aku menolong si A saat ini, apa yang kudapatkan balik dari si A?  Firman Tuhan mengingatkan bahwa waktu untuk menolong orang lain adalah sekarang, bukan menundanya sampai besok, lusa, minggu depan, atau waktu yang tidak pasti.

     "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai."  (Pengkhotbah 11:4).  Jika hari ini ada orang yang datang kepada kita untuk meminta pertolongan, tapi kita menyuruh dia untuk pergi dan memintanya untuk kembali lagi besok atau di hari lain untuk kita beri yang dia perlukan, padahal sesungguhnya kita punya sesuatu untuk diberikan hari ini, itu artinya kita tidak punya kerinduan untuk menolong orang tersebut:  "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  (1 Yohanes 3:17).  Ingatlah bahwa kita ini tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Keberhasilan kita di bidang apa pun tak luput dari dukungan atau peran serta dari orang lain juga.  Tidak ada kata  'rugi'  mengulurkan tangan menolong, berbuat baik, dan bermurah hati kepada orang lain.  Ada tertulis:  "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri."  (Amsal 11:17).  Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain seperti diri sendiri, bahkan kita juga diperintahkan untuk mengasihi musuh,  "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian."  (Lukas 6:33).  Mengasihi orang lain itu harus dengan hati yang tulus, tanpa ada kepura-puraan dan jangan karena pamrih.

     Dalam kehidupan di dunia ini berlaku hukum tabur tuai!  Jika kita menabur sikap masa bodo terhadap orang lain di sekitar kita, jangan terkejut bila orang-orang di sekitar akan berlaku masa bodoh pula terhadap kita, mereka tidak akan mempedulikan kita. 

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."  Matius 7:12

Wednesday, September 16, 2020

KEBIMBANGAN ITU PENGHALANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 September 2020

Baca:  Mazmur 119:33-40

"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu."  Mazmur 119:38

Banyak orang Kristen tak mengalami penggenapan janji Tuhan dalam hidupnya bukan karena Tuhan tidak mengasihi mereka atau Tuhan ingkar terhadap janji-Nya, tapi kita sendiri yang mengalami kebimbangan dan tak sabar menantikan Tuhan.

     Tuhan berjanji kepada Abraham, yang pada waktu itu masih bernama Abram, untuk memberikan keturunan,  "'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.' Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"  (Kejadian 15:5)  Disebutkan keturunan Abraham jumlahnya akan seperti debu tanah dan bintang-bintang yang bertaburan di langit, tak terhitung.  Padahal ketika menerima janji dari Tuhan Abraham dan Sara sudah berusia lanjut, yang secara akal, mustahil untuk memiliki keturunan...tak mengherankan bila Sara sempat tertawa ketika mendengar hal itu  (Kejadian 18:12).  Meski janji Tuhan sepertinya mustahil, tapi  "...percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."  (Kejadian 15:6).  Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham tetap berharap dan percaya, bahkan  "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup."  (Roma 4:19).

     Abraham harus melewati ujian waktu yang tidak singkat dalam menantikan janji Tuhan tersebut.  Ia terus memperkuat percayanya kepada Tuhan dan tidak bimbang  (Roma 4:20), sebab  "...orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).  Kebimbangan adalah lawan iman!  Karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan jangan terpengaruh situasi yang ada.  Kita harus memegang teguh janji Tuhan sebab Dia yang berjanji adalah setia.  Sekalipun janji itu belum terlihat, percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!  Apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah timbul dalam hati, itu yang Tuhan sediakan bagi kita yang mengasihi Dia  (1 Korintus 2:9).

Pegang teguh janji Tuhan, sebab Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya!

Tuesday, September 15, 2020

BELAJAR DARI SIFAT BURUNG MERPATI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 September 2020

Baca:  Matius 10:16-33

"...orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  Matius 10:22

Sudahkah kita menjadi anak-anak Tuhan yang setia?  Setia ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar, itu hal yang mudah!  Masihkah kita setia ketika sedang berada dalam situasi sulit, tekanan, masalah, atau penderitaan?  Kita seringkali berubah sikap dan tak lagi setia, ketika sedang berada dalam masalah.  Seorang Kristus sejati pasti akan setia di segala keadaan!  Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang setia!  "jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."  (2 Timotius 2:13).

     Kita harus setia dalam hal apa?  Dalam hal beribadah kepada Tuhan!  Ibadah adalah hal sangat penting!  "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:8).  Komitmen untuk setia beribadah di tunjukkan oleh Yosua dan keluarganya!  "...aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  (Yosua 24:15b);  kita harus setia berdoa;  kita harus setia dalam membaca, meneliti dan mereungkan firman Tuhan;  kita harus setia melelayani pekerjaan Tuhan sesuai talenta dan karunia yang Tuhan beri.  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).

      Rasul Paulus begitu setia melayani Tuhan dan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan:  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21), dan  "...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku..."  (Kisah 20:24).  Satu lagi tentang merpati:  burung ini tak punya kantong empedu.  Itulah sebabnya merpati tak punya sifat dendam atau sakit hati.  Jangan ada seorang pun yang menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan agar jangan tumbuh akar yang pahit  (Ibrani 12:15):  "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan."  (Efesus 4:31).  Kalau kita masih menyimpan akar pahit, kemarahan, dendam, sakit hati dan hal-hal jahat lainnya, mungkinkah kita bisa menjadi berkat bagi orang lain?

Tuhan mau kita setia dan tak menyimpan hal-hal jahat, seperti burung merpati!

Monday, September 14, 2020

BELAJAR DARI SIFAT BURUNG MERPATI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 September 2020

Baca:  Matius 10:16:33

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."  Matius 10:16

Hari-hari yang kita jalani di dunia ini semakin hari semakin berat karena tantangan yang kita hadapi juga semakin besar, gejolak di segala bidang kehidupan dan kejahatan manusia juga semakin memuncak.  Orang tak lagi punya kepedulian terhadap sesamanya karena kasih sudah menjadi dingin;  orang mudah sekali tersulut emosi, suka memberontak dan tak lagi mengindahkan hukum atau aturan.  Dunia ini sudah seperti hutan rimba, siapa yang kuat dialah yang menang.  Dunia dipenuhi dengan serigala-serigala yang siap menerkam, tapi Tuhan justru mengutus kita untuk berlaku seperti domba di tengah serigala.  Karena itu kita harus memiliki kewaspadaan yang tinggi karena serigala selalu mencari mangsa.  Biarlah kita menjadi cerdik seperti ular, tetapi tetap tulus seperti merpati.

     Mengapa kita harus tulus seperti merpati?  Merpati adalah salah satu lambang dari Roh Kudus.  Ketika Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan Alkitab menyatakan,  "...pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.'"  (Matius 3:16-17).  Selain itu merpati juga sering dipakai sebagai simbol kesetiaan!  Mengapa?  Karena merpati dikenal sebagai burung yang sangat setia terhadap pasangannya, di mana biasanya merpati hanya memiliki satu kekasih atau pasangan untuk seumur hidupnya.

     Tuhan sedang mencari orang-orang yang setia meski tak mudah menemukan orang yang setia!  Pemazmur mengeluhkan hal ini,  "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).  Kesetiaan adalah karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya:  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6), sebab  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  (Amsal 19:22).  Apakah karakter setia itu ada pada kita?  "Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."  (Wahyu 17:14b).

Sunday, September 13, 2020

PERINTAH TUHAN SERING TIDAK MASUK AKAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 September 2020

Baca:  Lukas 17:11-19

"'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.' Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."  Lukas 17:14

Hidup dalam ketaatan itu sulit sekali dilakukan, tapi hidup dalam ketidaktaatan adalah hal yang paling mudah.  Ketika mendapatkan perintah dari Tuhan untuk melakukan sesuatu kita sering menimbang-nimbang dan berpikir ulang 1000X untuk menaatinya, terlebih-lebih bila perintah Tuhan itu sepertinya tidak masuk akal, tidak realistis.

     Janda Sarfat yang hanya punya sedikit minyak dan tepung justru diperintahkan untuk menjamu nabi Tuhan  (Elia)  terlebih dahulu, padahal untuk dimakan sendiri saja tidaklah cukup  (1 Raja-Raja 17:12-13);  melalui Elisa Tuhan memerintahkan Naaman untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan yang airnya keruh, padahal menurut Naaman ada sungai-sungai lain yang airnya lebih layak,  "Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel?"  (2 Raja-Raja 5:12).  Ketika mereka taat melakukan perintah Tuhan yang sepertinya tak masuk akal, hal itu justru menjadi kunci untuk mengalami berkat dan mujizat Tuhan.  Dalam perjalanan menuju ke Yerusalem Tuhan Yesus melewati kota Samaria dan datanglah 10 orang kusta menemui Dia.  Pada zaman itu orang yang sakit kusta mendapatkan perlakuan tidak baik dari masyarakat:  dikucilkan dan diasingkan.  Karena itu mereka hanya bisa berteriak dari kejauhan meminta belas kasihan Tuhan,  "...Guru, kasihanilah kami!"  (Lukas 17:13).  Tanpa penumpangan tangan Tuhan langsung memerintahkan mereka untuk pergi dan memperlihatkan diri kepada imam-imam  (ayat nas).  Perintah Tuhan ini sepertinya tidak masuk akal, sebab bertemu dengan orang biasa saja mereka sulit, apalagi menemui para imam yang dipandang sebagai  'orang suci'.  Ini sepertinya tindakan konyol!

     Namun ketika mereka melakukan apa yang Tuhan perintahkan, pergi menemui para imam, di tengah perjalanan mereka sudah sembuh.  Ketika kita mau taat dan berpegang teguh pada firman Tuhan, sekalipun secara manusia kelihatan mustahil, kita akan melihat dan mengalami perkara-perkara yang besar dan dahsyat.  Kuncinya hanya satu, yaitu mau taat atau tidak!  Tak perlu ragu untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan, karena Tuhan tidak pernah salah dalam memberikan perintah.

Tuhan mengerjakan mujizat-Nya bagi orang-orang yang mau taat perintah-Nya!

Saturday, September 12, 2020

JALAN MANA YANG KAU TEMPUH?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 September 2020

Baca:  Matius 7:12-14

"karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."  Matius 7:14

Sudah menjadi sifatnya jika manusia suka menempuh jalan yang gampang, tak mau repot, tak mau susah, tak mau menempuh jalan rumit, maunya menempuh jalan yang lebar, mulus, instan tanpa ada rintangan,  "...lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;"  (Matius 7:13).

     Alkitab menegaskan bahwa jalan yang lebar adalah jalan yang membawa manusia kepada kebinasaan, tapi justru banyak orang menempuh jalan tersebut.  Sementara jalan yang sesak dan sempit, jalan yang penuh ujian, jalan yang membutuhkan perjuangan dan kerja keras, jalan yang membutuhkan penyangkalan diri, sedikit orang mau menempuhnya, padahal jalan yang sempit adalah jalan yang membawa kita kepada hidup yang kekal  (ayat nas).  Jalan manakah yang Saudara tempuh?  Menempuh jalan yang lebar atau sempit adalah sebuah pilihan hidup!  Tak ingin mengalami kebinasaan kekal?  Mulai dari sekarang tempuhlah jalan Tuhan sekalipun jalan itu sempit dan sesak.  Menempuh jalan Tuhan memang bukan perkara mudah, ada harga yang harus dibayar yaitu harus taat melakukan firman Tuhan, itu artinya kita harus menyalibkan kedagingan, tak menuruti hawa nafsu.  Menempuh jalan Tuhan berarti kita meneladani Kristus!  Ketika dunia sedang mengejar popularitas, mengedepankan kepentingan diri sendiri, ingin memerintah dan dilayani, kita justru dituntut memiliki kerendahan hati:  "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:26-28).

     Tidak ada jalan lain menuju kepada kehidupan kekal selain di dalam Kristus.  Jangan pernah menukar keselamatan dengan jalan duniawi!  Menempuh jalan Tuhan yang sempit dan sesak itu memang berat, tapi ada Roh Kudus yang menolong, menguatkan dan menyertai kita sampai menuju garis akhir.  Buat keputusan mulai dari sekarang!

Tuhan Yesus berkata,  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  Yohanes 14:6

Friday, September 11, 2020

MAMPU BERTAHAN KARENA ANDALKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 September 2020

Baca:  Yeremia 17:1-18

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"  Yeremia 17:7

Tak bisa dipungkiri, goncangan di segala bidang sedang melanda kehidupan manusia di dunia.  Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi takut, iman tergoncang, dan mulai kehilangan pengharapan.  Orang Kristen pun yang awalnya begitu semangat melayani Tuhan dan memulai segala sesuatu dengan roh lambat laun semangatnya mengendor, bahkan bisa jadi mereka tidak lagi hidup dalam roh, tapi hidup dalam daging  (Galatia 3:3).

     Firman Tuhan menegaskan sekalipun dunia bergoncang, setiap kita yang hidup di dalam Kristus  "...menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,"  (Ibrani 12:28).  Tuhan Yesus telah menerima segala kuasa di bumi dan di sorga, karena itu tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya.  Tak perlu takut menghadapi goncangan sebab Tuhan yang menopang dan melindungi kita;  penyertaan Tuhan atas orang percaya takkan pernah berakhir  (sampai kesudahan zaman).  Sekalipun keadaan dunia serba tidak menentu, bagi orang yang hidup mengandalkan Tuhan ada pengharapan yang pasti:  "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."  (Yeremia 17:7-8).

     Orang yang hidup mengandalkan Tuhan pasti dibuat  'berbeda'  oleh Tuhan, sehingga tak perlu takut pada musim-musim kering.  Hidup mengandalkan Tuhan berarti tidak lagi hidup mengandalkan diri sendiri  (kekuatan, kepintaran, kekayaan, kedudukan).  Pemazmur mengingatkan kita ini adalah debu  (Mazmur 103:14)!  Segala hal yang melekat pada kita takkan mampu menolong kita dari goncangan dunia, sebab semuanya serba terbatas, termasuk umur kita juga ada batasnya.  Begitu pula semua yang ada di dunia ini bersifat fana, pada akhirnya akan berakhir.  Oleh karena itu tidak ada jalan lain selain kita harus seperti akar yang terus mendekat dan melekat pada sumber air.  Sumber air itu firman Tuhan, itu adalah Tuhan Yesus sendiri  (Yohanes 7:37-38, Yohanes 1:1).

Kunci untuk bertahan di tengah goncangan dunia adalah hidup mengandalkan Tuhan!

Thursday, September 10, 2020

BEKERJALAH! JANGAN BERMALAS-MALASAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 September 2020

Baca:  Yohanes 6:25-59

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,..."  Yohanes 6:27

Tuhan rindu anak-anak-Nya turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya di muka bumi ini, bukan bermalas-malasan atau berpangku tangan saja.  Mengapa kita harus bekerja?  Karena  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17), dan bila saat ini kita sudah dipercaya Tuhan untuk melayani Dia dan menjadi mitra kerja-Nya itu bukan karena kita mampu dan hebat, tapi karena kasih karunia Tuhan semata.

     Kita bisa belajar dari rasul Paulus, yang menyadari jika ia dipercaya untuk melayani pekerjaan Tuhan itu bukan karena siapa dia, melainkan karena kasih karunia Tuhan yang menyertainya  (1 Korintus 15:10).  Kasih karunia adalah ketika kita menerima sesuatu dari Tuhan bukan karena kita ini layak mendapatkannya.  Karena beroleh kasih karunia dari Tuhan-lah rasul Paulus pun tidak bekerja secara asal-asalan, melainkan bekerja sedemikian rupa.  Tuhan mencari  'pekerja-pekerja'  seperti rasul Paulus yang bekerja ekstra dan penuh totalitas, bekerja bagi kerajaan-Nya tanpa menggerutu, tanpa keluh kesah, tanpa persungutan.  Selagi kita masih bernafas mari kita bekerja bagi Tuhan, karena hidup ini adalah sebuah kesempatan:  "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."  (Yohanes 4:35),  "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit."  (Matius 9:37).  Diperhadapkan dengan tantangan hidup yang berat tak menyurutkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil, karena ia percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan  (Roma 8:28).  Kita bisa bekerja bukan karena kekuatan kita tapi karena kuasa Tuhan yang bekerja di dalam kita.  Setiap orang yang bekerja pasti mendapatkan upah, apalagi kita yang sudah berjerih lelah bekerja di ladang Tuhan, upah pasti disediakan-Nya.

     Patut diperhatikan adalah motivasi hati kita dalam bekerja!  Jangan sampai motivasi kita salah saat bekerja di ladang Tuhan:  mencari keuntungan, mencari pujian dan penghormatan dari manusia.  Kita harus makin kecil dan Tuhan yang harus makin besar!  Dan apapun yang Tuhan percayakan kepada kita, kerjakan dengan sepenuh hati!  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,..."  (2 Timotius 4:2).

Biarlah roh kita selalu menyala-nyala dalam melayani pekerjaan Tuhan!