Wednesday, September 9, 2020

TAK PERLU MALU BELAJAR PADA SEMUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 September 2020

Baca:  Amsal 6:1-19

"Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:"  Amsal 6:6

Salomo, seorang yang memperoleh hikmat yang luar biasa dari Tuhan  (1 Raja-Raja 4:29-33), mengajak kita untuk memperhatikan tingkah laku semut dan mengambil nilai-nilai positif dari binatang kecil ini:  "ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen."  (Amsal 6:8).  Ini menunjukkan bahwa semut sangat memperhatikan dan mengenali musim dengan baik.  Tuhan memberikan pernyataan secara keras terhadap orang-orang Farisi dan Saduki,  "Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka...Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak."  (Matius 16:1-3).

     Setiap orang percaya harus memiliki kepekaan rohani, tanggap dalam memperhatikan tanda-tanda atau keadaan zaman, sebagaimana semut yang mempersiapkan diri sedemikian rupa sebelum musim berganti musim.  Itulah sebabnya semut memberikan reaksi yang benar atas perubahan musim:  ia bekerja dengan keras dan menggunakan waktu-waktu yang singkat dengan sangat bijaksana.  Artinya semut mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik selagi ia memiliki kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.  Apa yang terjadi di dunia ini semakin menunjukkan bahwa segala nubuatan yang tertulis di Alkitab satu demi satu mulai digenapi.  Artinya musim-musim hidup yang sedang kita jalani ini benar-benar sedang berada di penghujung zaman.  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."  (Efesus 5:15-16).

     Persiapkan diri Saudara dan kumpulkanlah harta di sorga  (Matius 6:20), sebab  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4).

Bukan waktunya lagi untuk bersantai, mari kita bekerja giat mengumpulkan harta yang bersifat kekal, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Tuesday, September 8, 2020

TAK MENGHORMATI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 September 2020

Baca:  Mazmur 97:1-12

"Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah."  Mazmur 97:9

Ketaatan adalah hak mutlak yang Tuhan tuntut dari kehidupan anak-anak-Nya.  Ibadah, pelayanan, persembahan, atau segala sesuatu yang kita kerjakan untuk Tuhan takkan berarti apa-apa tanpa disertai ketaatan melakukan kehendak-Nya.  Karena itu kita diingatkan untuk menjaga langkah saat berjalan ke rumah Tuhan  (Pengkhotbah 4:17).  Menjaga langkah berarti datang kepada Tuhan dengan tidak sembarangan, tapi harus disertai rasa takut dan hormat akan Dia!  "Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya."  (Mazmur 96:6).

     Banyak anak Tuhan tak mengalami berkat-berkat Tuhan oleh karena mereka sudah kehilangan rasa hormat kepada Tuhan.  Mereka datang beribadah bukan karena kerinduan yang besar untuk bertemu Tuhan secara pribadi, tapi hanya sebagai rutinitas atau kegiatan agamawi.  Ketika kita tidak lagi memiliki rasa hormat kepada Tuhan, berkat-Nya akan terhalang untuk kita.  Milikilah sikap hati yang benar saat menghadap Tuhan!  Jangan datang kepada Tuhan dengan sikap hati yang tidak beres.  Jangan sampai kita datang kepada Tuhan dengan masih menyimpan dendam, sakit hati, kemarahan, akar pahit dan sebagainya di dalam hati kita.  Bila hati kita belum beres kita takkan bisa memuji dan meyembah Tuhan dengan sepenuh hati, kita tidak bisa menikmati hadirat-Nya.  Maka sebelum beribadah kepada Tuhan alangkah baiknya jika kita menyiapkan seluruh keberadaan hidup kita terlebih dahulu supaya ibadah kita benar-benar menjadi persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan  (Roma 12:1).

     Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita  (Matius 22:37).  Tuhan harus menjadi yang terutama dan pusat penyembahan kita!  Jangan sampai kita beribadah kepada Tuhan tapi hati kita mendua:  "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain."  (Matius 6:24).

Pintu berkat pasti terbuka kalau kita menghormati Tuhan dengan ketaatan!

Catatan:
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).

Monday, September 7, 2020

HIDUP MENURUTI DAGING: Menuai Kegagalan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 September 2020

Baca:  1 Korintus 10:1-11

"Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba."  1 Korintus 10:11

Kegagalan sebagian besar bangsa Israel mencapai Kanaan  (Tanah Perjanjian), gagal mengalami penggenapan janji Tuhan, bukan karena Ia tidak menyertai atau berlaku jahat terhadap mereka, atau tidak memperhatikan hidup mereka, tapi karena mereka tak mau hidup menurut kehendak-Nya, lebih memilih mengikuti keinginan dagingnya.

     Tuhan sudah memberikan fasilitas luar biasa kepada bangsa Israel sebagai penegasan bahwa Tuhan menjamin hidup mereka:  menyertai melalui tiang awan dan tiang api  (Keluaran 13:21-22), memberikan manna dan burung puyuh sebagai makanan  (Keluaran 16:1-35), menyediakan air untuk diminum, melindungi mereka sehingga pakaian dan kaki mereka tetap terjaga baik  (Ulangan 8:4), berperang ganti mereka saat menghadapi musuh-musuh, dan mujizat-mujizat lainnya.  Meskipun mendapatkan perlakuan istimewa dari Tuhan, bangsa israel tetap saja mengecewakan Tuhan dengan pemberontakan mereka.  Karena itu Tuhan  "...tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun."  (1 Korintus 10:5).

     Sebagian besar bangsa Israel gagal menikmati Tanah Perjanjian karena mereka menginginkan hal-hal yang jahat  (1 Korintus 10:6):  selalu membanding-bandingkan dengan keadaan di Mesir:  "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."  (Bilangan 11:5-6);  berpaling kepada berhala  (1 Korintus 10:7).  Berhala tidak selalu berbentuk patung.  Berhala adalah segala hal yang menjadi fokus hidup yang melebihi posisi Tuhan  (uang, kekayaan, popularitas, jabatan, hobi).  Bila kita menempatkan sesuatu hal jauh melebihi Tuhan, itulah berhala;  terlibat dalam percabulan  (1 Korintus 10:8);  Mencobai Tuhan dengan pemberontakan, keluh kesah, persungutan, marah, kecewa dan sebagainya.

Tak ingin gagal?  Jangan memberontak kepada Tuhan, karena rancangan-Nya adalah yang terbaik!

Sunday, September 6, 2020

WASPADA DAN MELINDUNGI DIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2020

Baca:  2 Petrus 3:1-18

"Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh."  2 Petrus 3:17b

Tenggiling atau trenggiling merupakan hewan pemakan semut dan juga rayap.  Hewan ini memiliki bentuk tubuh yang memanjang dengan lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga dari panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya.  Selain itu trenggiling memiliki bentuk mulut yang runcing sehingga ia dapat mengendus liang serangga yang kecil;  juga memiliki rambut yang mirip sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri.  Ketika sedang dalam keadaan terancam hewan ini akan menggulungkan badannya seperti bola atau mengibaskan ekornya, sehingga dengan kulit sisiknya yang keras ia dapat melukai siapa pun yang datang menganggu.

     Kewaspadaan yang tinggi dan kemampuan untuk melindungi diri dari segala yang membahayakan ini juga patut dimiliki oleh orang percaya.  Bagaimana caranya?  Kita harus memiliki hikmat dari Tuhan!  "Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 2:6).  Firman Tuhan adalah sumber hikmat bagi orang percaya!  Jadi kunci untuk memiliki hikmat adalah  'tinggal'  di dalam firman Tuhan.  Dengan hikmat yang kita miliki kita beroleh kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak patut dilakukan, mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak berkenan kepada Tuhan, mana yang berdampak positif dan mana yang berdampak negatif.  Dengan hikmat yang dimiliki kita mampu bersikap bijak di segala situasi!  "...orang yang bijak memperhatikan langkahnya."  (Amsal 14:15).

     Di zaman sekarang ini banyak orang Kristen tak punya kewaspadaan sehingga tidak mampu melindungi diri dari hal-hal yang jahat:  jatuh dalam dosa, jatuh dalam pergaulan yang buruk, jatuh dalam berbagai pencobaan, ceroboh dalam berkata-kata, dan mudah sekali terbawa arus dunia, karena mereka tidak memiliki hikmat Tuhan.  Hikmat tak dimilikinya karena mereka tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, tak mau menyediakan waktunya untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan.

Bergaul karib dengan Tuhan dan firman-Nya menjadikan kita peka rohani!

Saturday, September 5, 2020

TANGGUNG JAWAB ORANG YANG SUDAH DISELAMATKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 September 2020

Baca:  Roma 8:1-17

"Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran."  Roma 8:10

Sudah diselamatkan melalui korban Tuhan Yesus di kayu salib bukan berarti kita bisa leha-leha dalam menjalani kehidupan kekristenan kita, justru kita punya tanggung jawab yang besar.  Rasul Paulus mengingatkan,  "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,..."  (Filipi 2:12).  Jadi selama kita masih hidup di dunia ini harus mempertahankan keselamatan yang sudah kita terima sedemikian rupa.  Bagaimana cara mengerjakan keselamatan?  Yaitu taat melakukan firman Tuhan sampai akhir hidup kita, dan memaksimalkan talenta serta potensi yang sudah kita terima untuk melayani pekerjaan Tuhan.  Jika kita tidak taat melakukan firman Tuhan dan tidak tekun mengerjakan panggilan-Nya di sepanjang hidup kita, keselamatan yang sudah kita terima bisa hilang.

     Alkitab menyatakan ketika orang percaya kepada Yesus ia sudah diampuni dosanya, tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Dia  (Roma 8:1);  tetapi selama perjalanan hidupnya ada tanggung jawab yang dilakukan yaitu tidak lagi hidup menuruti keinginan daging, melainkan harus hidup menurut Roh, sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Tuhan  (Roma 8:6-8).  Jika kita tetap hidup menuruti keinginan daging sama artinya kita telah menyia-nyiakan keselamatan yang telah kita terima.  Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan kita dituntut memiliki cara hidup yang benar-benar berbeda dengan orang-orang yang belum diselamatkan  (orang dunia).  Tak bisa dipungkiri bahwa  'hidup berbeda'  atau tidak terbawa arus dunia adalah perkara tidak mudah.  Tuhan berkata,  "...Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."  (Matius 10:16).

     Di tengah dunia yang jahat ini kita dituntut bersikap cerdik tapi tulus.  Cerdik artinya waspada, tidak teledor, tahu apa yang mesti diperbuat ketika ada ancaman.  Ketulusan hati adalah bagian dari kasih.  Jangan sampai terbawa cara hidup dunia dan tetaplah mempraktekkan kasih.

Orang-orang yang sudah diselamatkan mutlak memiliki cara hidup yang berbeda dengan dunia!

Friday, September 4, 2020

PERINTAH TUHAN ADALAH HIDUP KEKAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 September 2020

Baca:  Yohanes 12:44-50 

"Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku."  Yohanes 12:50

Masuk dalam Kerajaan Sorga adalah tujuan akhir hidup orang percaya.  Tetapi, untuk bisa mencapai tujuan tersebut ada harga yang harus dibayar, yaitu taat melakukan firman Tuhan, sehingga menjadi pelaku firman adalah syarat utama untuk mendapatkan kehidupan kekal;  sebaliknya ketidaktaatan terhadap firman Tuhan berujung pada penghukuman kekal, sebab ada tertulis:  "...upah dosa ialah maut;"  (Roma 6:23).

     Rasul Paulus menyatakan bahwa firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran  (2 Timotius 3:16).  Maka dari itu jangan marah atau tersinggung bila tertempelak  (tertegur)  oleh firman Tuhan yang keras.  Lebih baik kita merasakan  'sakit'  sekarang saat berada di dunia daripada mengalami kebinasaan kekal.  Jika dalam kondisi yang baik mungkin kita bisa melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tapi ketika situasi berbeda  (banyk pergumulan)   seringkali kita merasa berat untuk melakukan kehendak Tuhan, terlebih-lebih bila perintah Tuhan itu sepertinya tidak masuk akal.  Apakah Saudara mengasihi Tuhan?  Bukti kasih kepada Tuhan adalah taat melakukan firman-Nya!  "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku;"  (Yohanes 14:23-24).

     Ayat nas menegaskan bahwa perintah Tuhan  (firman-Nya)  adalah hidup yang kekal!  Oleh karena itu jangan pandang remeh firman Tuhan!  "Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan."  (Amsal 13:13).  Hidup menyimpang dari firman Tuhan resikonya sangat besar, dampaknya bukan hanya untuk kehidupan di dunia ini saja, tapi juga untuk kehidupan di kekelan nanti.  Maka  "...janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi."  (Yosua 1:7).  Karena itu kita perlu menyukai perintah Tuhan  (Mazmur 1:1-2).

Ketaatan terhadap firman Tuhan itulah yang membawa kepada kehidupan kekal!

Thursday, September 3, 2020

HATI YANG BERLIMPAH DENGAN SYUKUR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 September 2020

Baca:  Mazmur 100:1-5

"Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!"  Mazmur 100:4

Seorang Kristen sejati seharusnya memiliki hati yang senantiasa berlimpah syukur.  Kata  'senantiasa'  berarti di segala situasi, bukan hanya saat-saat tertentu.  Mengucap syukur ketika keadaan sedang baik dan enak itu mudah dilakukan, tapi bagaimana bila keadaan berbanding terbalik dengan yang diharapkan?  Masihkah kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan?  Tuhan menghendaki kita mengucap syukur dalam segala hal  (1 Tesalonika 5:18).  Oleh karena itu Rasul Paulus menasihati,  "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."  (Kolose 2:7).

     Kita tak menyadari bahwa di balik pengucapan syukur ada kekuatan yang dahsyat, sebab saat kita mengucap syukur  (walau situasi tidak mendukung)  kita sedang mengaktifkan iman kita.  Kita harus percaya bahwa dalam segala perkara  (baik atau buruk)  Tuhan pasti turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita  (Roma 8:28), karena itu tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur kepada Tuhan.  Namun kemampuan untuk bersyukur di segala keadaan itu datangnya dari Roh Kudus!  Jadi, mengucap syukur adalah tanda Roh Kudus bekerja di dalam kita.  "...hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati."  (Efesus 5:18-20).  Oleh karena itu bukalah hati dan undang Roh Kudus untuk masuk di hati kita, Ia akan membantu kita dalam kelemahan-kelemahan kita.  Kekuatan Roh Kudus tidak bisa dikalahkan oleh kuasa apa pun yang ada di dunia ini.

     Tak bisa mengucap syukur artinya kerohanian kita sedang bermasalah, sebab pandangan kita hanya fokus pada apa yang terlihat.  Firman Tuhan menegaskan bahwa hidup kita adalah karena percaya, bukan melihat!  Mampu bersyukur adalah bukti orang mengimani setiap janji Tuhan.  Meski semua tampak mengecewakan dan tidak ada harapan, Habakuk memilih untuk tetap mengucap syukur!  (Habakuk 3:17-18).

Seberat apa pun keadaannya, tetaplah bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan sanggup mengubah yang buruk menjadi kebaikan bagi kita!

Wednesday, September 2, 2020

HIDUP BENAR: Kunci Jawaban Doa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 September 2020

Baca:  Lukas 1:5-25

"Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya."  Lukas 1:7

Zakharia dan Elisabet adalah suami isteri yang takut akan Tuhan, mereka melayani Tuhan.  Usia keduanya sudah lanjut, Elisabet pun mandul, jadi mustahil mereka memiliki keturunan.  Adakah yang mustahil bagi-Nya?  Karena kekuatan doa, mereka dikaruniai anak yang luar biasa.  Kuncinya?  "Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat."  (Lukas 1:6).

     Berdoa bukanlah tradisi agamawi atau kebiasaan, melainkan wujud hubungan yang karib dengan Tuhan.  Doa seharusnya membawa kita untuk berjumpa secara pribadi dengan Tuhan.  Tekun berdoa, disertai membangun kehidupan rohani yang benar, akhirnya membuka kesempatan bagi Zakharia untuk ditemui oleh malaikat utusan Tuhan:  "Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: 'Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.'"  (Lukas 1:11-13).

     Tuhan menyatakan diri-Nya kepada orang-orang yang mencari Dia dengan sungguh, berdoa dengan tiada berkeputusan dan tak mudah menyerah.  Tuhan kita adalah Tuhan yang besar dan dahsyat, sanggup melakukan jauh lebih besar dari apa yang kita doakan  (Efesus 3:20).  Zakharia hanya berdoa meminta anak, tetapi jawaban Tuhan jauh lebih dahsyat dan tak terbayangkan:  "Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."  (Lukas 1:15-17).

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Tuesday, September 1, 2020

MENJADI HAMBA YANG SELALU TAAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 September 2020

Baca:  Lukas 17:7-10

"...kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."  Lukas 17:10b

Ada dua kata yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang percaya dalam pengiringannya akan Kristus, yaitu taat dan hamba.  Hidup kita akan dikenan Tuhan bila kita taat melakukan kehendak-Nya dan berhati hamba.  Hati hamba adalah hati yang rela melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan, sebab kata  'hamba'  dalam bahasa Yunani doulos, artinya hamba, pelayan atau budak yang terikat pada tuannya.

     Demikian juga dengan kehidupan kita sebagai orang percaya, yang adalah hamba-hamba Tuhan, kita seharusnya memiliki hati hamba yang mau taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.  Karena status kita adalah hamba, kita tak punya hak apa-apa atas diri kita sendiri.  Kita harus belajar untuk menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan sebagaimana yang Kristus teladankan  (Matius 26:39).  Sebagai manusia kita pasti memiliki harapan, cita-cita, keinginan, agenda hidup pribadi, tapi tidak semua kehendak kita sejalan dengan kehendak Tuhan.  Karena itu jangan pernah memaksakan kehendak sendiri kepada Tuhan!  Serahkan dan selaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan.  Percayalah bahwa kehendak Tuhan atas hidup kita pastilah yang terbaik.  'Hamba'  harus tunduk kepada otoritas di atasnya!  Selain kita harus tunduk sepenuhnya kepada Tuhan, kita juga harus belajar untuk memiliki penundukan diri kepada orang lain yang Tuhan percayakan untuk menjadi pemimpin atau atasan kita.

     Jika kita benar-benar memiliki penundukan diri kepada Tuhan, maka salah satu perwujudan nyatanya adalah kita juga tunduk kepada mereka yang memegang otoritas di atas kita, pemimpin yang Tuhan telah tetapkan:  pemimpin negara, pemimpin di keorganisasian gereja, pemimpin di kantor atau perusahaan, pemimpin di sekolah, pemimpin di keluarga kita masing-masing dan sebagainya.  Tunduk kepada otoritas yang berada di atas kita bukan berarti harus mengultuskan atau mendewakan mereka, tapi kita belajar untuk tetap mnghormati dan menghargai pemimpin kita dan dengan rela hati melakukan setiap perintahnya tanpa ada persungutan atau keluh kesah.  "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis."  (1 Petrus 2:18).

Hamba yang berkenan kepada Tuhan:  taat dan punya penundukan diri!

Monday, August 31, 2020

PEKERJAAN IBLIS: Menghalangi dan Menghancurkan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Agustus 2020

Baca:  1 Tesalonika 2:13-20
 
"...mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka."  1 Tesalonika 2:16

Di waktu-waktu sekarang ini umat Tuhan harus meningkatkan kualitas hidup rohaninya, harus berlari mengejar perkenanan Tuhan, bukan malah bersantai-santai, sebab Iblis pun bekerja semakin intens untuk menghalangi pemberitaan Injil dan mencari cara yang tepat untuk menipu, membujuk, mengelabui, menjebak, menjerat dan menghancurkan hidup manusia, karena Iblis memang ahlinya dalam hal menyamar, bahkan ia bisa menyamar sebagai malaikat terang  (2 Korintus 11:14), sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta  (Yohanes 8:44).  Firman Tuhan memperingatkan kita untuk ekstra waspada dan selalu berjaga-jaga dalam doa agar tidak terpedaya oleh tipu muslihatnya!

     Tujuan utama Iblis adalah ingin menjauhkan dan memisahkan manusia dari kasih Tuhan dan berusaha untuk mencuri firman dari kehidupan orang percaya, supaya manusia kehilangan pengharapan di dalam Tuhan, seperti dalam perumpamaan tentang penabur:  "Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka."  (Markus 4:15).  Tak bisa dibayangkan bila orang hidup menjauh dan terlepas dari tangan Tuhan dan tidak lagi memiliki pegangan hidup yaitu firman Tuhan, ia pasti akan mengalami kebutaan rohani, sehingga Iblis akan dengan mudahnya menjerumuskan manusia ke dalam lubang yang dalam.  Itulah yang diingini Iblis dari manusia yaitu mengalami kehancuran dan kebinasaan kekal!  Bukan hanya itu, Iblis juga berusaha untuk mendakwa orang percaya siang dan malam supaya mereka dihantui ters oleh rasa bersalah dan perasaan tidak layak, sehingga mulai meragukan statusnya sebagai anak-anak Tuhan dan tidak lagi percaya akan janji firman Tuhan.

     Di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan manusia akan diperhadapkan dengan masa-masa yang teramat sukar, ini adalah waktu yang tidak akan disia-siakan oleh Iblis.  Ia akan menyamar sebagai dewa penolong bagi manusia yang sedang dalam kesesakan dengan menawarkan pertolongan instan yang dikemas sedemikian eloknya menurut kasat mata, padahal di balik itu ada jebakan yang sangat mematikan.

Tanpa memiliki dasar iman yang kuat kita akan menjadi sasaran empuk Iblis!

Sunday, August 30, 2020

JANGAN HANYA MENGKLAIM BERKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Agustus 2020

Baca:  Ulangan 28:1-14
 
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN,..."  Ulangan 28:13
Alkitab menyatakan Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang percaya secara terperinci!  Salah satu berkat Tuhan adalah pemulihan, di mana Ia akan mengangkat hidup orang:  grafik hidupnya akan naik dan bukan turun  (ayat nas).  Banyak orang Kristen memakai ayat ini sebagai senjata mengklaim janji Tuhan:  "Aku sudah mengikut Tuhan bertahun-tahun dan beribadah kepada-Nya, tapi mengapa hidupku tidak mengalami perubahan apa-apa, padahal Tuhan telah berjanji akan mengangkat hidup orang percaya!"
     
     Jangan asal saja mengklaim janji Tuhan dengan penggalan ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat tersebut secara penuh, sebab ada kelanjutannya:  "...apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN,...dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."  (Ulangan 28:13-14).  Saul adalah contoh orang yang justru mengalami kemunduran dan kemerosotan dalam hidup, padahal awalnya ia adalah seorang raja Israel yang diurapi Tuhan.  Tapi sayang pemerintahan yang dipimpinnya tidak dapat bertahan lama, alias mengalami keruntuhan, oleh karena ia tidak lagi punya hati yang takut akan Tuhan.  Karena ketidaktaatannya sendiri, karena hidupnya telah menyimpang dari kehendak Tuhan, grafik hidup Saul tidak naik, tapi terjun bebas:  mengalami penolakan dari Tuhan dan Roh Tuhan juga meninggalkan dia.
     
     Melihat tentara Filistin berkumpul dekat Sunem untuk menyerang Israel, Saul sangat ketakutan.  Ia berdoa, namun  "...TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi."  (1 Samuel 28:6), lalu ia pun menempuh jalan pintas mencari pertolongan lain:  "'Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.' Para pegawainya menjawab dia: 'Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah.'"  (1 Samuel 28:7).
 
Tuhan takkan mengangkat hidup seseorang bila ia tak mau taat melakukan firman-Nya!  Kalau kita hidup dalam ketaatan, kita bisa klaim janji Tuhan.
 
Catatan:
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  Roma 9:15-16

Saturday, August 29, 2020

TETAP BERSUKACITA KARENA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Agustus 2020

Baca:  Mazmur 113:1-9

"Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita. Haleluya!"  Mazmur 113:9

Banyak orang kehilangan sukacita karena peliknya masalah yang dialami, kehilangan sukacita karena melihat keadaan dunia yang semakin hari semakin tidak baik, kehilangan sukacita karena merasa pesimis dengan masa depan hidupnya.  Tak bisa dibohongi bahwa situasi atau keadaan yang ada di sekitar turut memengaruhi kondisi hati kita.

     Orang percaya takkan kehilangan sukacita di segala situasi bila ia memiliki fondasi hidup yang kokoh.  Fondasi hidup orang percaya adalah Kristus dan firman-Nya.  "Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun."  (Lukas 6:48b).  Mari kita terus membangun fondasi hidup.  Bagaimana caranya?  Baca dan renungkan firman Tuhan setiap hari, serta praktekkanlah.  Bila kita tekun merenungkan firman Tuhan, perbendaharaan hati dan pikiran kita akan dipenuhi oleh firman Tuhan.  Sebab kunci untuk tetap merasakan sukacita di segala situasi itu bermula dari hati dan pikiran kita,  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).  Oleh karena itu pusatkan hati dan pikiran hanya kepada Tuhan.  Orang yang selalu memikirkan kasih dan kebaikan Tuhan akan bisa bersukacita.  Ia akan selalu memiliki alasan untuk memuji Tuhan.  Pemazmur berkata,  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  (Mazmur 103:2).  Tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kita punya Tuhan yang dahsyat!  "Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi."  (Mazmur 47:3).  Masalah sebesar apa pun yang menimpa kita, tak sebanding dengan kedahsyatan kuasa Tuhan.

     Tidak ada alasan untuk tidak bersukacita karena kita punya Tuhan yang begitu peduli dan penuh belas kasihan:  "Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,"  (Mazmur 113:7).  Bahkan, Tuhan sanggup membuka jalan saat tiada jalan, membuat yang tak mungkin menjadi mungkin, yang hopeless menjadi hopeful, sebab tidak ada yang mustahil bagi Dia,  "Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita."  (ayat nas).

Tidak ada alasan untuk tidak bersukacita karena kita punya Tuhan yang dahsyat!

Friday, August 28, 2020

JERIH LELAH UNTUK TUHAN: Pasti Terbayar Lunas

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Agustus 2020

Baca:  Markus 10:28-31

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"  Markus 10:28

Seiring berjalannya waktu, selalu saja ada orang Kristen yang kehilangan semangat dalam mengiring Kristus, tak lagi antusias mengerjakan panggilan hidupnya, bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang imannya gugur di tengah jalan.  Apa penyebabnya?  Mereka berpikiran bahwa menjadi pengikut Kristus berarti perjalanan hidupnya akan mulus, terbebas dari masalah, penderitaan, atau kesesakan, dan berlimpah dengan berkat.  Ternyata apa yang mereka bayangkan tak sesuai dengan kenyataan:  begitu memutuskan untuk mengiring Kristus, masalah justru datang bertubi-tubi, ujian berat harus dialami, sementara kehidupan orang-orang diluar Tuhan sepertinya tampak enak, jalannya lancar, dan penuh keberuntungan.  Mereka menjadi kecewa dan menganggap bahwa mengiring Kristus itu tak ada untungnya dan sia-sia belaka.  Pemazmur juga dibuat cemburu ketika:  "...melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain."  (Mazmur 73:3-5).

     Mungkin kita merasa sudah mengiring Kristus dengan sungguh-sungguh dan sudah melayani Dia, lalu timbul pertanyaan dalam hati:  "Apa upahnya?"  Dengarkan nasihat rasul Paulus:  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Tuhan sendiri menegaskan bahwa ada upah yang Ia sediakan bagi orang-orang yang setia mengiring Kristus sampai akhir dan berjerih lelah melayani Dia:  "orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal."  (Markus 10:30).

     Bila menyadari bahwa jerih lelah dalam melayani Tuhan itu diperhitungkan-Nya, tak seharusnya kita menjadi lemah, kecut dan tawar hati.  Justru kita seharusnya makin giat melayani pekerjaan Tuhan dengan roh yang menyala-nyala.  Karena itu jangan pernah sia-siakan waktu, kesempatan, dan juga potensi yang Tuhan beri.

Harga yang telah kita bayar untuk Tuhan, pada saatnya pasti akan terbayar lunas!

Thursday, August 27, 2020

IBADAH ASAL-ASALAN MENDATANGKAN KUTUK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Agustus 2020

Baca:  1 Samuel 7:1-14

"Kalau kamu hendak kembali kepada TUHAN dan menyembah Dia dengan sepenuh hatimu, haruslah kamu membuang semua dewa asing dan patung Dewi Asytoret. Serahkanlah dirimu sama sekali kepada TUHAN dan berbakti kepada-Nya saja,..."  1 Samuel 7:3  (BIS)

Sebagai bangsa pilihan Tuhan, bangsa Israel mengalami kasih dan kemurahan Tuhan secara luar biasa.  Bangsa Israel benar-benar menjadi obyek kasih Tuhan!  "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati."  (Yesaya 40:11).  Dari hari ke hari Tuhan memberkati mereka dengan perlindungan, pemeliharaan dan pembelaan-Nya yang teramat sempurna.  Meski demikian mereka masih saja tegar tengkuk, bahkan sering meninggalkan Tuhan dan membuat hati Tuhan cemburu, oleh karena mereka berpaling kepada pemyembahan berhala.

     Tatkala Samuel menjadi nabi Tuhan ia mendapati banyak sekali kejahatan terjadi!  Mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada berhala-berhala yaitu Baal dan Asytoret.  Akibat dari kejahatan yang diperbuatnya mereka harus menuai akibatnya, yaitu diserang oleh bangsa Filistin secara bertubi-tubi, sehingga mereka terus mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan.  Bisa dikatakan bangsa Israel saat itu berada dalam masa yang gelap dan mengalami degradasi iman.  Melihat kondisi ini nabi Samuel menegur mereka dengan keras dan memperingatkan mereka untuk segera bertobat, berbalik kepada Tuhan dan menjauhkan ilah-ilah asing dari antara mereka, sebelum hal-hal yang jauh lebih buruk menimpa.  Kalau mereka mau bertobat dengan sungguh-sungguh Tuhan pasti akan menunjukkan belas kasihan-Nya dan melepaskan mereka dari tangan orang Filistin.  Karena itu Samuel segera mengumpulkan segenap umat Israel dan menyerukan pertobatan!  Tanda pertobatan adalah menyingkirkan berhala-berhala itu.  "Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN."  (1 Samuel 7:4).

     Banyak orang Kristen beribadah kepada Tuhan asal-asalan.  Ibadahnya dipenuhi dengan kepura-puraan karena mereka masih melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi.

Ibadah tanpa pertobatan sejati adalah sia-sia di hadapan Tuhan!

Wednesday, August 26, 2020

TERBANG MENGATASI BADAI HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Agustus 2020

Baca:  Ayub 39:1-33

 "Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?"  Ayub 39:30

Salah satu kebiasaan hidup burung rajawali yang menjadi nilai lebih adalah terbang membubung tinggi  (ayat nas).  Inilah kebiasaan hidup burung rajawali yang unik, yang mungkin tidak dilakukan oleh burung-burung jenis lain, yaitu selalu terbang tinggi di atas badai, bukan di dalam atau di bawah badai.  Karakter seperti itulah yang seharusnya dimiliki orang percaya:  memiliki keberanian untuk menghadapi badai persoalan!

     Namun dalam praktik hidup sehari-hari banyak dari kita yang justru tenggelam di dalam badai.  Kita begitu mudah dikalahkan oleh situasi atau keadaan yang membuat kita semakin frustasi, kecewa, putus asa, kehilangan sukacita dan damai sejahtera, akhirnya kita mengalami kekalahan demi kekalahan.  Alkitab secara tegas menyatakan bahwa setiap orang yang sudah ditebus oleh darah Kristus  "...lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita"  (Roma 8:37).  Selain itu burung rajawali memiliki kebiasaan unik yang lain yaitu membuat sarang di atas bukit yang tinggi:  "Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi."  (Ayub 39:31).  Kebanyakan burung membuat sarangnya di atas dahan pohon, tetapi burung rajawali membuat sarangnya di atas bukit yang tinggi, sehingga sarangnya akan aman dan tidak terjangkau oleh siapa pun.  Ini berbicara tentang kehidupan orang percaya yang menjadikan Tuhan tempat perlindungan,  "...gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit;"  (Yesaya 2:2).

     Di atas bukit batu-Nya kita aman dan terlindungi.  "Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku."  (Mazmur 71:3).  Karena itu tak perlu takut menghadapi badai hidup ini karena kita punya Tuhan sebagai tempat perlindungan yang tinggi.  Tak semua orang bisa naik ke gunung Tuhan yang tinggi!  "'Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?' Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu."  (Mazmur 24:3-4).

Bersama Tuhan, orang benar akan terbang bagai rajawali, mengatasi badai hidup!

Tuesday, August 25, 2020

NYANYIKAN KEMENANGAN SETIAP HARI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Agustus 2020

Baca:  Hakim-Hakim 5:1-31

"Dengarlah, ya raja-raja! Pasanglah telingamu, ya pemuka-pemuka! Kalau aku, aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN..."  Hakim-Hakim 5:3

Ketika orang sedang dilanda duka, kecewa atau putus asa, jarang sekali dari mulutnya terdengar nyanyian pujian.  Kalau pun ia bersenandung, yang dinyanyikan pasti lagu-lagu yang selaras dengan kondisi atau keadaan yang sedang menimpa.  Ketika sedang ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, lagu yang dinyanyikan pastilah bertemakan rasa kehilangan dan mengasihani diri sendiri, disertai uraian air mata karena hati meratap.  Nyanyian tersebut takkan membuat sedih hilang, malah semakin menenggelamkannya pada kepedihan yang kian mendalam.

     Bagi orang percaya, nyanyian kemenangan dan sukacitalah yang harus keluar dari mulut di segala keadaan, bukan nyanyian cengeng tanda frustasi, kecewa dan gagal.  Biarlah setiap nyanyian dan pujian kita selalu menjadi tanda kemenangan atas setiap pergumulan hidup kita, tanda kita mengimani janji-janji Tuhan.  Dalam Hakim-Hakim 5 ini Debora sedang menyanyikan nyanyian kemenangan bagi bangsa Israel, nyanyian yang bermuatan iman yang membuat musuh gemetar dan lari tunggang langgang;  nyanyian pengaungan yang menyenangkan hati Tuhan, yang menggerakkan tangan-Nya untuk bertindak:  "Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN!...Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya."  (Hakim-Hakim 5:2, 3).  Hal itu menunjukkan bahwa Debora sangat percaya akan kuasa Tuhan!  Ia berkeyakinan jika Tuhan ada di pihak bangsa Israel, siapa yang dapat melawannya?  Bangsa manakah yang dapat menahan dan menghentikan keperkasaan Tuhan?

     Nyanyian kemenangan seperti inilah yang dapat menghasilkan mujizat, sebab Tuhan bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya  (Mazmur 22:4).  Bila Tuhan sendiri yang bertakhta di atas pujian yang kita naikkan, maka sesuatu yang dahsyat pasti terjadi:  kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan berkat-berkat-Nya dinyatakan atas kita.

"...Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu."  Mazmur 44:8