Friday, June 12, 2020

KEHADIRAN TUHAN ADALAH SEGALANYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juni 2020


"Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala."  2 Samuel 6:15

Alkitab menyatakan bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke kota Yerusalem.  Pada waktu itu Daud baru saja dinobatkan jadi raja atas seluruh Israel dan baru saja memindahkan ibu kota ke Yerusalem, dan dia baru saja berhasil mempertahankan Yerusalem dari serangan Filistin.  Lalu Daud berusaha untuk mengembalikan Tabut Perjanjian, yang adalah lambang kehadiran Tuhan, Ke Yerusalem, di mana selama 20 tahun Tabut Perjanjian tidak berada di tempat semestinya karena dirampas oleh bangsa Filistin;  dan meski orang Filistin telah mengembalikannya, tapi tabut itu berada di Kiryat-Yearim yang merupakan pinggiran dari wilayah Israel.  Karena itu Daud ingin mengembalikan tabut ini ke Yerusalem, kota Daud, pusat pemerintahan.

     Di sepanjang perjalanan Daud mengekspresikan rasa syukurnya, karena ia tahu bahwa Tabut Perjanjian adalah lambang kehadiran Tuhan,  "Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan."  (2 Samuel 6:14).  Tidak hanya itu, di setiap enam langkah Daud mempersembahkan korban kepada Tuhan, berupa seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.  Sebagaimana ketika Tabut Perjanjian berada di rumah Obed-Edom, ia dan seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan, juga saat Tabut Perjanjian berada di kota Daud,  "Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam."  (2 Samuel 6:18).  Kala Tabut Perjanjian berada di tangan musuh, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan demi kekalahan, namun setelah Tabut Perjanjian itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadilah suatu pemulihan yang luar biasa.

     Kehadiran dan penyertaan Tuhan adalah segala-galanya bagi kita!  Coba renungkan:  kalau bukan Tuhan yang menyertai, mampukah kita menjalani hidup sampai detik hari ini?  Kalau bukan Tuhan yang menopang, sanggupkah kita bertahan di tengah goncangan, badai dan gelombang permasalahan hidup?  Tanpa kehadiran Tuhan, ibadah dan pelayanan yang kita lakukan takkan berdampak apa-apa;  begitu pula dalam pekerjaan, rumah tangga, usaha/bisnis, studi, kita sangat memerlukan Tuhan.

Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, hidup kita takkan berarti apa-apa.

Thursday, June 11, 2020

JANGAN LAGI BOCOR MULUT!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juni 2020


"Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut."  Amsal 20:19

Adalah fakta yang tak terelakkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan suka membicarakan orang lain alias bergosip, entah itu membicarakan kelebihan atau kekurangannya  (negatif atau positif).  Tapi umumnya, yang namanya gosip selalu berkonotasi negatif yaitu membicarakan keburukan, kelemahan, kekurangan atau aib orang lain.  Biasanya kalau orang membicarakan kelemahan/kekurangan seseorang, ia tidak akan pernah kehabisan bahan, karena selalu ada saja bumbu-bumbu yang ditambahkan.  Orang yang suka sekali menggosip bisa dikategorikan sebagai orang yang bocor mulut, karena tak pernah bisa menahan diri untuk membicarakan orang lain.

     Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas menggosip ini biasanya disukai oleh para wanita, emak-emak atau para ibu rumah tangga;  mereka menganggap bahwa menggosip adalah salah satu kegiatan yang mengasyikkan di kala senggang, tapi lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan.  Orang yang suka menggosip disebut penggosip, yaitu orang yang mempunyai kebiasaan menceritakan sensasi atau membicarakan orang lain disertai bumbu-tumbu tambahan supaya semakin sedap didengar, entah itu beritanya benar atau tidak, biasanya bersumber dan meyebar dari mulut ke mulut.  Berhati-hatilah!  Menggosip adalah masalah yang sangat serius di hadapan Tuhan dan merupakan perkataan sia-sia yang sangat berbahaya, karena bisa berdampak buruk bagi orang yang diperbincangkan atau pun si penyebar gosip itu sendiri.  Gosip yang negatif dapat menimbulkan fitnah, pertengkaran, merusak persahabatan/pertemanan/persaudaraan, karena  "...siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib."  (Amsal 17:9).

     Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut kita  (salah satunya gosip), akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan:  "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."  (Matius 12:37).  Berhentilah menggosip atau membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain!  Jangan sampai menjadi senjata makan tuan:  kita menuai akibat perbuatan kita, karena kita bocor mulut.

"Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."  Amsal 10:19

Wednesday, June 10, 2020

MASALAH DATANG TANPA DIUNDANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juni 2020


"Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  Pengkhotbah 9:12

Tak seorang pun tahu secara persis kapan masalah akan datang dan terjadi.  Orang sepintar dan sehebat apa pun takkan pernah bisa memprediksi apa pun, karena masalah bisa datang sewaktu-waktu tanpa diduga dan tanpa diundang!  Kita pasti ingat hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek di malam pergantian tahun, tepatnya pada tanggal 31 Desember 2019 lalu.  Ketika banyak orang bersukacita menyambut hari pergantian tahun, warga ibukota harus berduka karena bencana banjir melanda:  menenggelamkan perumahan-perumahan elit, menghanyutkan mobil-mobil, ratusan orang menjadi korban dan harus mengungsi.  Siapa yang menyangka akan terjadi banjir sedemikian parahnya?

     Dari peristiwa ini kita mendapatkan suatu pembelajaran hidup!  Tak ada yang bisa dibangga-banggakan dari apa yang kita miliki:  rumah megah, mobil mewah, pangkat, tak bisa menolong dan meluputkan kita dari bencana.  Karena itu Salomo menasihati,  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amal 27:1).  Hal terpenting yang harus kita lakukan di tengah situasi apa pun adalah hidup melekat kepada Tuhan, karena hanya Dialah sumber pengharapan dan sumber pertolongan kita:  "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."  (Mazmur 121:1, 2, 5).  Adalah lumrah bila manusia merasa takut dan kuatir saat tertimpa masalah, namun sebagai orang percaya kita harus selalu berpegang teguh pada janji firman Tuhan!  Tidak ada masalah sekecil apa pun yang kita alami, yang tak diketahui Tuhan atau terlepas dari perhatian Tuhan  (Mazmur 139:1-2).

     "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"  (Markus 6:50b).  Masalah boleh saja datang, persoalan boleh menerpa, tapi Tuhan tak pernah lepaskan tangan-Nya tuk menopang kita.

"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  Mazmur 34:20

Tuesday, June 9, 2020

TAK ADA KEMENANGAN TANPA BERPERANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juni 2020


"Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  1 Samuel 17:48

Sekarang ini adalah masa-masa sukar, karena itu milikilah kesiapan untuk menghadapi tantangan, hambatan, kesulitan dan musuh-musuh yang siap menghadang langkah kita.  Tak perlu kecut dan tawar hati, sebab ada jaminan penyertaan dari Tuhan bagi kita.  Yang harus selalu kita ingat adalah, bahwa tidak ada kemenangan tanpa peperangan!  Punya tekad dan keberanian untuk berperang melawan musuh, itulah awal dari sebuah kemenangan.  Banyak orang memiliki impian besar dan berkemenangan dalam hidupnya, tapi mereka tak mau membayar harga, tak mau menyalibkan kedagingan, takut berperang melawan musuh, takut menghadapi tantangan, karena itu hidupnya begitu-begitu saja dan kehidupan rohaninya pun jalan di tempat, tetap saja kerdil.

     Daud, ketika orang-orang Israel takut dan gentar menghadapi Goliat, ia justru memilih untuk berlari ke barisan musuh  (ayat nas).  Mengapa Daud punya keberanian untuk maju bertempur, sementara barisan Israel memilih kabur?  Karena ia tahu bahwa ada Tuhan yang turut beserta:  "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam,"  (1 Samuel 17:45).  Kalau tidak maju berperang tidak akan pernah ada kemenangan, karena itu Daud tak mau terprovokasi oleh perkataan musuh yang melemahkan.  Jadi kemenangan hanya akan terjadi jika kita mau bergerak maju dan masuk ke medan peperangan:  berani keluar dari zona nyaman, kalahkan ketakutan, dan hadapi lawan.

     Keberanian Daud menemui Goliat  (raksasa Filistin)  itu bukanlah suatu tindakan nekat tanpa dasar, tapi dilandasi oleh imannya kepada Tuhan yang hidup dan berkuasa:  "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."  (1 Samuel 17:37).  Hal itulah yang mendorong Daud untuk maju berperang menghadapi Goliat  (artinya  'pemenggal kepala').  Kalau kita tidak memiliki keberanian untuk maju menghadapi lawan, maka Goliat atau raksasa persoalanlah yang akan memenggal dan mematahkan segala kerinduan dan impian hidup kita.  Ingat, iman selalu bekerja sama dengan perbuatan  (Yakobus 2:22).

Tindakan yang didasarkan kepada iman yang benar menghasilkan kemenangan!

Monday, June 8, 2020

TAAT SEKALIPUN PENUH RESIKO

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juni 2020


"Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya."  Daniel 6:14

Taat di tengah situasi yang baik dengan fasilitas mendukung adalah mudah dilakukan, tapi bagaimana jika situasinya tidak baik, penuh tekanan, aniaya, ancaman dan resiko?  Kebanyakan orang akan berusaha mencari aman dengan melakukan tindakan kompromi, daripada harus menanggung resiko.

     Daniel menghadapi masalah yang berat dan penuh resiko sehubungan ibadatnya kepada Tuhan, namun hal itu tak menggoyahkan imannya.  Alkitab mencatat Daniel tetap berdoa menghadap Yerusalem tiga kali sehari  (Daniel 6:11).  Sekalipun orang asing dan orang buangan, Daniel mendapatkan kedudukan tinggi di Babel dan dikasihi raja Darius, sehingga pejabat-pejabat pemerintahan lainnya iri.  Karena itu mereka pun bersepakat membuat peraturan baru berupa larangan:  barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia, selain sebagai raja, ia akan dilemparkan ke gua singa  (Daniel 6:8).  Mendapatkan ancaman yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya tak membuat Daniel takut dan gentar, ia tetap beribadah kepada Tuhan sebagaimana yang biasa dilakukan.  Melihat hal itu mereka semakin geram terhadap Daniel, lalu mendesak raja menegakkan undang-undang:  Daniel ditangkap dan dimasukkan ke gua singa.  Apakah singa-singa itu memangsa dan menerkam Daniel?  Tidak.  Tuhan telah mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk membungkam dan mengatupkan mulut singa-singa itu sehingga Daniel tetap hidup.

     Mendapati Daniel tetap selamat, raja Darius pun bersukacita dan memerintahkan untuk mengeluarkan Daniel dari kandang singa itu.  Lalu raja membuat titah supaya orang-orang yang menuduh Daniel, termasuk keluarganya, dilemparkan ke dalam gua singa itu, dan tanpa menunggu lama singa-singa itu menerkam dan membunuh mereka.  Ketaatan selalu mendatangkan mujizat, karena Tuhan selalu ada di pihak orang benar!

"...jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).

Sunday, June 7, 2020

FIRMAN TUHAN MAKANAN ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juni 2020


"Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati."  Mazmur 119:34

Tubuh jasmani kita akan menjadi lemah dan tak punya kekuatan apabila tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup.  Normalnya kita makan tiga kali dalam sehari:  pagi, siang dan malam.  Tubuh rohani kita pun membutuhkan  'makanan'  yang cukup agar supaya dapat bertumbuh, semakin kuat dan tidak mengalami kematian.

     Sudahkah tubuh rohani Saudara mendapatkan  'makanan'  yang cukup?  Makanan bagi tubuh rohani adalah firman Tuhan.  Apakah Saudara secara konsisten menyediakan waktu untuk bersaat teduh:  membaca, meneliti dan merenungkan firman Tuhan?  Tidak sedikit orang Kristen yang jarang sekali membaca Alkitab, membaca kalau sempat saja, itu pun saat di gereja.  Alkitab menyatakan,  "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."  (Matius 4:4).  Firman Tuhan adalah makanan pokok bagi manusia rohani!  Oleh sebab itu milikilah rasa haus, lapar dan rasa antusias terhadap firman Tuhan:  "Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku,..."  (Yeremia 15:16).  Bagi orang percaya, firman Tuhan seharusnya menjadi sesuatu yang paling berharga dan bernilai di dalam hidup, lebih dari apa pun, uang atau harta kekayaan.  Salomo menulis:  "...jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN..."  (Amsal 2:4-5).

     Ketika  kita menjadikan firman Tuhan sebagai makanan setiap hari, iman kita akan semakin bertumbuh, sebab  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Banyak orang Kristen gampang sekali menyediakan waktunya untuk nonton youtube, jalan-jalan ke mal, membaca berita dari internet dan sebagainya, tapi mereka sulit sekali menyediakan sedikit waktunya untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, maka wajarlah bila kerohanian mereka tetap saja kerdil.

Orang yang kesukaannya firman Tuhan dan merenungkan firman itu siang dan malam akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air:  menghasilkan buah pada musimnya dan tidak layu daunnya  (baca  Mazmur 1:2-3).

Saturday, June 6, 2020

JANGAN BERBUAT DOSA LAGI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juni 2020


"Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."  Mazmur 32:5

Di masa-masa menjelang hari kedatangan Tuhan yang semakin mendekat, Alkitab sudah menyatakan bahwa semakin meningkat pula dosa dan kejahatan manusia.  Apa yang firman Tuhan katakan benar-benar terjadi sekarang ini, suatu keadaan yang tak beda jauh dengan kehidupan orang-orang di zaman Nuh:  "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia."  (Matius 24:37), di mana  "...kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,"  (Kejadian 6:5).

     Orang percaya diperingatkan:  "...berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang."  (Matius 24:42).  Sebagai umat tebusan Tuhan kita dipersiapkan untuk menjadi calon mempelai Kristus, karena itu kita dituntut untuk menjaga kualitas kerohanian kita sampai akhir.  Kita harus berani berkata tidak terhadap segala bentuk dosa, supaya ketika Sang Mempelai Laki-Laki datang, Ia mendapati kita tidak bercacat cela.  Jangan sampai kita yang sudah mengawali dan berjerih lelah di dalam roh, mengakhiri perjalanan iman di dalam daging  (Galatia 3:3).  Firman Tuhan memperingatkan,  "Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"  (Wahyu 22:11), sebab  "...barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya."  (1 Yohanes 3:8).

     Dosa adalah karakter mendasar Iblis, padanya tidak ada kebenaran sama sekali,  "Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran,"  (Yohanes 8:44).  Iblis tahu benar cara menjerat manusia yang menghadapi masa-masa sukar.  Uang, harta, jabatan, popularitas, pertolongan instan ia tawarkan supaya manusia meragukan kuasa Tuhan dan jatuh dalam dosa.

Berhentilah berbuat dosa dan jangan terprovokasi Iblis, karena Tuhan segera datang!

Friday, June 5, 2020

TAK BISA LARI DARI PANGGILAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juni 2020

Baca:  Mazmur 139:1-24

"Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku."  Mazmur 139:9-10

Dengan cara apa pun, pergi ke mana pun dan sejauh mana pun kita berusaha lari dari hadirat Tuhan dan menghindari panggilan-Nya, jika Dia berkenan memakai kita untuk rencana-Nya, Ia akan selalu punya cara untuk memanggil dan menarik kita kembali, sebab  "...Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."  (Ayub 42:2).  Sungguh... tidak ada tempat mana pun yang dapat menyembunyikan kita dari hadapan Tuhan, baik itu di atas langit atau di bawah bumi, atau bahkan di dunia orang mati sekalipun  (sheol), tidak luput dari pandangan dan perhatian Tuhan.

     Suatu hari Tuhan mengutus Yunus untuk memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan kepada orang-orang yang tinggal di kota Niniwe.  Niniwe adalah ibukota kerajaan Asyur, tempat di mana penindasan dan kekejaman muncul dari kota itu.  Secara manusiawi mungkin saja timbul rasa takut dalam diri Yunus untuk ke sana karena Niniwe adalah kota yang besar dengan penduduknya yang terkenal kejam.  Mungkin juga ia berpikir,  "Percuma saja pergi, orang-orang di sana pasti tak mempedulikan peringatan Tuhan."  Karena itu Yunus memilih kabur dan mangkir dari tugas yang Tuhan percayakan, ia memutar haluan pergi menjauh ke Tarsis, suatu tempat yang  "...jauh dari hadapan TUHAN."  (Yunus 1:3).

     Jika Tuhan ada di mana-mana dan Mahatahu, hendak lari ke manakah Yunus?  Ke ujung dunia mana pun Tuhan tahu keberadaannya.  Itulah sebabnya dalam perjalanan laut menuju kota Tarsis Tuhan mengijinkan malapetaka berupa angin ribut dan badai besar.  Sekalipun Yunus berusaha untuk lari, rencana Tuhan atas hidupnya tidak pernah gagal.  Atas campur tangan Tuhan dan seijin-Nya, seekor ikan besar menelan Yunus dan ia pun harus tinggal di dalam perut ikan itu selama tiga hari tiga malam.  Dalam perut ikan inilah Yunus menyadari kesalahannya dan menyesal.  Ia minta ampun kepada Tuhan karena telah memberontak dan Tuhan berkenan akan pertobatannya.

Jangan pernah lari dari panggilan Tuhan!  Tuhan selalu punya cara untuk membawa kita kembali kepada-Nya.

Thursday, June 4, 2020

TUHAN TAHU YANG KITA PERBUAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juni 2020

Baca:  Mazmur 139:1-24

"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;"  Mazmur 139:1

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahahadir  (Omnipresent)  yang artinya Dia hadir di segala tempat dan di segala waktu, dan Dia juga Mahatahu, yang artinya Ia memiliki pengetahuan penuh, mengetahui segala hal, karena Dia berdaulat penuh atas segala yang diciptakan-Nya.  Jadi tidak ada tempat di belahan bumi manapun bagi orang dapat menyembunyikan diri dari hadapan Tuhan,  "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Pemazmur menyatakan,  "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN."  (Mazmur 139:2-4).  Daud sadar ia tidak mungkin dapat menyembunyikan diri dari pantauan dan perhatian Tuhan, sebab Dia ada di mana-mana dan mengetahui segala sesuatu, maka ia begitu terbuka di hadapan Tuhan.  Jadi, tidak ada selubung sedikit pun yang mampu menudungi dan menutupi seseorang dari pandangan Tuhan sehingga Ia tidak tahu, semuanya nyata jelas.  Banyak orang Kristen tidak menyadari tentang hal ini, atau mungkin pura-pura tidak tahu kalau Tuhan itu Mahahadir dan Mahatahu, sehingga mereka menjalani hidup dengan seenaknya sendiri alias sembrono.  Dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun mereka tetap hidup dalam dosa, melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari firman Tuhan.

     Sekalipun tahu bahwa mereka telah ditebus dosa-dosanya melalui pengorbanan Kristus dan menjadi  'ciptaan baru'  di dalam Tuhan, mereka tetap saja menjalani hidup sebagai manusia lama, hidup menuruti keinginan daging dengan segala hawa nafsunya.  Dengan segala kepura-puraan atau topeng-topeng, mereka pikir bisa mengelabui Tuhan:  ibadah tetap saja dilakukan, pelayanan tetap dijalani, tapi perbuatan dosa juga enggan ditinggalkannya.  Manusia mungkin saja tidak tahu segala hal yang kita sembunyikan, tapi bagaimana dengan Tuhan?  Hal-hal kecil sekalipun tampak jelas di mata-Nya.

Tuhan tidak bisa kita permainkan, sebab  "...mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi."  (Zakharia 4:10)  dan melihat segala perbuatan manusia!

Wednesday, June 3, 2020

RESPONS HATI TERHADAP SITUASI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juni 2020

Baca:  Matius 15:21-28

"'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.' Dan seketika itu juga anaknya sembuh."  Matius 15:28

Tuhan memakai berbagai macam situasi yang sulit, yang biasanya disebut persoalan, masalah, kesulitan, penderitaan atau kesesakan, untuk mengembangkan karakter kita dan sebagai sarana untuk menguji kualitas iman kita!  Karena itu milikilah respons hati yang benar dan positif dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa yang ada.  Dr.  Norman Vincent Peale, seorang pengkhotbah dan penulis buku rohani terkenal, dalam bukunya The Power of Positive mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan membayangkan hal yang positif, supaya hasil yang kita dapatkan juga positif.

     Seorang perempuan Kanaan, yang disebut pula perempuan Siro-Fenesia  (Markus 7:24-30), sekalipun berada di situasi yang sangat sulit, tetap memiliki respons hati yang positif.  Ketika datang kepada Tuhan memohon kesembuhan untuk anak perempuannya yang kerasukan setan ia merasa diabaikan oleh Tuhan, karena Tuhan  "...sama sekali tidak menjawabnya."  (Matius 15:23).  Perempuan itu tidak menyerah begitu saja, ia terus mendekat dan meminta pertolongan kepada-Nya, tapi Tuhan malah menjawab,  "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."  (Matius 15:26).  Jawaban Tuhan benar-benar sangat menohok dan menyakitkan hati, tapi perempuan tersebut tetap tegar, tidak kecewa, tidak marah, tidak tersinggung, tidak terluka hati, dan tidak merasa terhina.  Kalau ia memiliki respons negatif terhadap perkataan Tuhan, seketika itu juga ia pasti pergi meninggalkan Tuhan, sambil mengomel dan bersungut-sungut...tentu mujizat tidak akan pernah dinyatakan!

     Percaya bahwa Tuhan sanggup menolong dan menyembuhkan anaknya mendorong perempuan itu terus berseru-seru kepada Tuhan.  Iman semacam ini yang menggerakkan hati Tuhan untuk mengulurkan tangan-Nya, menyatakan kuasa-Nya.  Ada saat Tuhan seolah tidak peduli dan tak menghiraukan semua doa kita, tetapi orang yang melihat dengan mata iman tidak akan pernah kecewa kepada Tuhan dan menyerah pada keadaan.

"Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu."  Bilangan 14:28

Tuesday, June 2, 2020

KERENDAHAN HATI: Kunci Melayani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juni 2020

Baca:  Filipi 2:25-30

"Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku."  Filipi 2:25

Di zaman sekarang ini kebanyakan orang cenderung menyombongkan diri atau membanggakan diri dengan apa yang dimiliki, inginnya dihargai, inginnya dipuji, dan ingin dihormati.  Bahkan, demi mendapatkan pengakuan dari khalayak dan demi gengsi, ada orang-orang yang sampai menunjukkan saldo dari ATM-nya dan meng-upload-nya di media sosial supaya orang lain tahu berapa uang atau kekayaan yang dimiliki.

     Kecenderungan untuk meninggikan diri ini ternyata juga terjadi di dunia pelayanan pekerjaan Tuhan.  Para pelayan Tuhan berlomba-lomba mengejar titel demi pamor atau reputasi agar semakin diakui sebagai hamba Tuhan  'besar', ada yang berambisi ingin menduduki jabatan penting di keorganisasian gereja, ada saling sikut memperebutkan jiwa-jiwa dan ladang pelayanan, bahkan ada pula yang memperkaya diri sendiri supaya dapat tampil wah di hadapan jemaat.  Ini menyedihkan sekali!  Rasa-rasanya kerendahan hati menjadi sesuatu yang mulai langka ditemukan dalam diri setiap orang!  Sikap yang berbeda justru ditunjukkan oleh Epafroditus, yang tak pernah menonjolkan dirinya sendiri, hanya belajar setia melakukan apa yang dipercayakan kepadanya.  Sekalipun tugas pelayanan yang ia lakukan tampak remeh dan sepele, yaitu mengantarkan persembahan jemaat Filipi untuk diberikan kepada rasul Paulus yang waktu itu sedang berada di penjara di Roma, tapi Epafroditus melakukannya dengan penuh kerelaan.

     Karena melihat ketulusan dan kesungguhan hati Epafroditus dalam pelayanan ini, rasul Paulus meminta semua jemaat Filipi untuk menghargai jerih lelahnya,  "...sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia."  (Filipi 2:29), sebab tak mudah mendapati orang yang berhati  'hamba'  seperti dia, yang mau diutus untuk melayani orang yang dalam masalah dan penderitaan.  Kehadiran Epafroditus benar-benar menguatkan hati Paulus pada saat itu!  Maka, sekecil apa pun tugas yang Tuhan percayakan, lakukan dengan kerendahan hati, jangan karena ambisi!

Tuhan memperhitungkan jerih lelah kita dalam pekerjaan-Nya, pasti ada upah yang disediakan-Nya!  1 Korintus 15:58

Monday, June 1, 2020

KEMENANGAN: Mau Membayar Harga

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juni 2020

Baca:  Amsal 21:1-31

"Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN."  Amsal 21:31

Beberapa waktu yang lalu di kejuaraan bulutangkis Daihatsu Indonesia Master 2020, para pebulutangkis Indonesia berhasil menorehkan prestasi yang cukup membanggakan dengan memenangi 3 dari 5 gelar yang diperebutkan.  Salah satu pemenangnya adalah Anthony Sinisuka Ginting, yang berhasil memenangi nomor tunggal putera, dengan mengalahkan Anders Antonsen dari Denmark!

     Seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal dan tidak pernah kalah dalam suatu pertandingan, tapi ia adalah orang yang mungkin pernah gagal, tapi mau bangkit dan berusaha lebih keras lagi sampai akhirnya ia meraih kemenangan.  Demikian pula kita, sekalipun diperhadapkan dengan situasi yang berat dan penuh tantangan, asalkan kita tetap bertekun di dalam Tuhan dan belajar sabar menghadapi segala hal tanpa keluh kesah, kita pasti mampu melewati semuanya dan memperoleh apa yang Tuhan janjikan.  Ingatlah selalu bahwa orang percaya dirancang Tuhan bukan untuk menjadi pecundang, tetapi kita diciptakan dan dirancang Tuhan dengan potensi untuk menjadi pemenang:  "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:37).  Namun berbicara soal kemenangan pasti tidak dapat dipisahkan dari sebuah proses!  Ini berbicara tentang harga yang harus dibayar untuk bisa mencapai kemenangan:  ada kerja keras, latihan, perjuangan, kesabaran, ketekunan, peperangan, penyaliban segala keinginan daging dan sebagainya.  Tanpa melewati semuanya itu tak pernah ada kemenangan dalam hidup kita!

     Penting sekali memiliki respons hati yang benar dalam menghadapi segala sesuatunya!  Jangan sekali-kali menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan Tuhan, tapi belajarlah untuk selalu menguji pekerjaan kita sendiri  (Galatia 6:4), selalu melibatkan Tuhan dan hidup mengandalkan Dia, sebab  "...Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu."  (Ulangan 20:4).

Semua yang lahir dari Tuhan, mengalahkan dunia, dan kemenangan yang mengalahkan dunia adalah iman kita  (1 Yohanes 5:4).

Sunday, May 31, 2020

ROH KUDUS YANG MENGUBAHKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Mei 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 2:1-47

"Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: 'Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?'"  Kisah 2:7

Pentakosta merupakan peristiwa yang sangat menggemparkan dan membuat tercengang seluruh penduduk di kota Yerusalem, karena dari peristiwa ini terjadi kegerakan rohani yang luar biasa.  Ini merupakan penggenapan dari perkataan Kristus sebelum Ia naik ke sorga,  "...kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8), dan juga penggenapan nubuat yang disampaikan oleh nabi Yoel  (Yoel 2:28-32).  Kata  'pentakosta'  ini berasal dari bahasa Yunani yang merujuk pada sebuah festival yang dikenal di dalam Perjanjian Lama sebagai Hari Raya Tujuh Minggu  (baca  Imamat 23:15Ulangan 16:9), yang secara harafiah memiliki arti lima puluh, yang merujuk pada lima puluh hari yang telah berlalu sejak hari Paskah.

     Jemaat mula-mula  (termasuk murid-murid Tuhan)  mengalami titik balik dalam kehidupan rohani setelah mereka mengalami lawatan Roh Kudus:  "Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya."  (Kisah 2:2-4).  Salah satunya Petrus, orang yang pernah menyangkal Kristus sebanyak 3 kali, yang setelah dijamah oleh Roh Kudus hidupnya berubah total, menjadi orang yang mengasihi Tuhan dan punya keberanian untuk memberitakan Injil, sekalipun nyawa menjadi taruhan!

     Bila Roh Kudus menjamah hidup seseorang, tiada perkara yang mustahil!  Tapi semua bergantung pada respons kita, apakah kita mau percaya dan mau membuka hati untuk Roh Kudus!  Dengan kekuatan sendiri kita takkan dapat bertumbuh dalam iman, takkan dapat melakukan kehendak Tuhan, takkan bisa mengerjakan Amanat Agung Tuhan, kecuali hanya oleh pertolongan dan campur tangan Roh Kudus!

Kuasa Roh Kuduslah yang sanggup mengubahkan, memampukan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup dan melayakkan kita untuk melayani Tuhan!

Saturday, May 30, 2020

MANA YANG DIJAUHI, MANA YANG DIKEJAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Mei 2020

Baca:  1 Timotius 6:11-21

"Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi."  1 Timotius 6:12

Hidup orang percaya adalah suatu arena pertandingan iman!  Oleh karena itu kita harus berjuang sedemikian rupa supaya kita bisa menyelesaikan pertandingan dengan baik sampai garis akhir,  "Untuk itulah engkau telah dipanggil..."  (ayat nas).  Tuhan memanggil kita untuk menjadi alat kemuliaan-Nya di bumi, artinya hidup kita harus mencerminkan kemuliaan Kristus, dengan mempraktekkan firman Tuhan dan bersikap tegas terhadap dosa, sehingga kehidupan kita  "...tidak bercacat dan tidak bercela,"   (1 Timotius 6:14).

     Hal-hal apa saja yang harus orang percaya lakukan untuk memenuhi panggilan Tuhan?  Kita harus menjauhi keinginan-keinginan daging atau duniawi,  "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki."  (Galatia 5:17).  Perbuatan daging telah nyata:  "...percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu..."  (Galatia 5:19-21).  Rasul Paulus juga menasihati Timotius agar mencukupkan diri dengan apa yang ada, tidak terfokus kepada materi atau hal-hal yang fana, sebab di zaman sekarang ini banyak orang menjadi silau dengan kemewahan dunia ini, sehingga yang mereka pikirkan hanyalah uang dan harta kekayaan saja.  Hal inilah yang akhirnya membuat orang menjadi tamak dan egois!

     Agar panggilan Tuhan tergenapi dalam hidup kita, maka kita harus mengejar perkara-perkara rohani sedemikian rupa:  "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan."  (1 Timotius 6:11).  Mengejar perkara-perkara rohani itu sama artinya kita sedang mengumpulkan harta di sorga.  Karena hidup kekristenan adalah arena perlombaan iman, maka kita harus berjuang dan bertanding dengan sungguh-sungguh  (tidak main-main), karena tantangan yang ada di depan kita semakin hari semakin berat. 

"Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  Kolose 3:2

Friday, May 29, 2020

KARISMA TANPA KARAKTER: Berujung Kegagalan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Mei 2020

Baca:  1 Raja-Raja 9:1-9

"...jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud,"  1 Raja-Raja 9:4b-5

Di awal perjalanan hidupnya Salomo memiliki hati yang takut akan Tuhan, karena itu Tuhan memberkati hidupnya secara jasmani dan rohani.  Namun sayang, Salomo tak mampu menjaga kualitas rohaninya secara konsisten.  Sekalipun orang punya karisma yang luar biasa, tapi jika tidak disertai dengan karakter yang baik, Tuhan pasti tidak berkenan, padahal karakter merupakan kualitas hidup yang sesungguhnya dari seseorang sebagai hasil dari berproses, membayar harga, dan kerelaannya untuk dibentuk dan dipimpin Roh Kudus.  Karakter bisa berbicara tentang buah Roh, dan kelemahan Salomo dalam hal karakter inilah yang akhirnya mengantarkan dia kepada kehancuran!

     Awalnya Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dengan tujuan agar mampu memimpin bangsanya secara adil dan bijaksana, tapi lambat laun ia mulai menyalahgunakan hikmat tersebut untuk kepentingan diri sendiri dan memperkaya kerajaannya, sebab setiap orang yang datang kepadanya selalu membawa upeti:  "Mereka datang masing-masing membawa persembahannya, yakni barang-barang perak dan barang-barang emas, pakaian, senjata, rempah-rempah, kuda dan bagal, dan begitulah tahun demi tahun."  (1 Raja-Raja 10:25).  Berstatus sebagai raja dengan kekayaan melimpah semakin memudahkan Salomo untuk memuaskan keinginan dagingnya, sampai-sampai ia mempunyai 700 isteri dan 300 gundik, yang kesemuanya dalah perempuan asing.  Firman Tuhan sudah memperingatkan,  "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka."  (1 Raja-Raja 11:2).

     Akhirnya hati Salomo pun dicondongkan kepada ilah-ilah lain dan tidak lagi sepenuh hati berpaut kepada Tuhan  (1 Raja-Raja 11:4).  "Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan." (Amsal 13:13).  Salomo lupa bahwa janji Tuhan adalah janji bersyarat  (1 Raja-Raja 9:4-9);  jika ia tidak lagi hidup taat kepada Tuhan, kehancuran hidup yang akan dialaminya.

Tak lagi taat kepada firman Tuhan, karir dan hidup Salomo menjadi hancur!