Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 April 2020
Baca: Matius 18:21-35
"Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" Matius 18:33
Orang yang tak mau mengampuni kesalahan orang lain adalah jahat di mata Tuhan. Kristus memberikan perumpamaan: ada seorang hamba yang berutang 10.000 talenta kepada tuannya dan utangnya itu dibebaskan. Tetapi hamba ini tak mau membebaskan utang temannya kepadanya yang 100 dinar saja, malahan ia menangkap, mencekik, menjebloskan temannya ke penjara sampai ia melunasi utangnya. Sungguh sangat kejam!
Demikian pula Bapa di sorga akan menyebut kita hamba yang jahat dan kejam apabila kita tidak mau mengampuni orang lain. Mengapa? Karena kita sudah diampuni dan dibebaskan dari segala dosa dan beroleh kasih karunia Tuhan. "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,... sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:10, 12). Bukankah sudah sepatutnya kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Kalau kita berlaku seperti hamba kejam itu, maka Tuhan akan berkata kepada kita, "Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (Matius 18:32-33). Sebagaimana Tuhan sudah mengampuni dan melupakan pelanggaran kita, hendaknya kita juga harus bisa melakukan hal yang sama terhadap orang lain.
Setiap orang yang telah menerima kasih karunia dan pengampunan dari Tuhan harus belajar juga untuk mengampuni dan mengasihi orang lain. Ketika melihat hamba kejam yang tak mau mengampuni temannya itu, "...marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (Matius 18:34). Kristus berkata, "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga
terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu." (Matius 18:35).
Tak mau disebut hamba yang jahat? Lepaskan pengampunan kepada orang lain: "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Matius 18:22
Saturday, April 11, 2020
Friday, April 10, 2020
KEMATIAN KRISTUS: Korban Yang Sempurna
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2020
Baca: Yohanes 19:28-30
"'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." Yohanes 19:30
Hari ini umat Kristiani merayakan Jumat Agung yang mengingatkan kita kembali tentang betapa besar kasih dan pengorbanan Kristus, yang rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Seruan Kristus kepada Bapa, "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?" (Markus 15:34), yang artinya: 'Bapaku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?', menyiratkan suatu pergumulan batin dan penderitaan badani yang teramat berat yang harus di tanggung-Nya. Sekalipun harus mengalami aniaya dan siksaan hebat, Kristus tidak pernah melawan, seperti domba kelu yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53:7).
Kematian Kristus di Kalvari adalah bukti ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa demi menggenapi rencana Bapa (Yohanes 3:16). Pengorbanan-Nya ini disebut pengorbanan yang sempurna, karena Kristus mempersembahkan tubuh-Nya sendiri untuk menjadi korban penebusan dosa. "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib," (1 Petrus 2:24), "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban." (Ibrani 7:25-27). Sebagai Imam Besar, Kristus bukan hanya mempersiapkan korban kepada Bapa, tapi Ia sendiri yang menjadi korban persembahan tersebut.
Adakah pemimpin, raja, atau nabi mana pun, yang melakukan seperti yang Kristus perbuat? Tidak ada. Sayang, banyak orang tak menghargai, malah menganggap remeh pengorbanan Kristus ini, termasuk orang Kristen sendiri, yang hanya menjadikan salib sebagai simbol belaka. Jangan pernah sia-siakan pengorbanan Kristus ini! "...supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran." (1 Petrus 2:24).
Pengorbanan Kristus adalah sekali untuk selamanya! Itu sudah menyelamatkan.
Baca: Yohanes 19:28-30
"'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." Yohanes 19:30
Hari ini umat Kristiani merayakan Jumat Agung yang mengingatkan kita kembali tentang betapa besar kasih dan pengorbanan Kristus, yang rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Seruan Kristus kepada Bapa, "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?" (Markus 15:34), yang artinya: 'Bapaku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?', menyiratkan suatu pergumulan batin dan penderitaan badani yang teramat berat yang harus di tanggung-Nya. Sekalipun harus mengalami aniaya dan siksaan hebat, Kristus tidak pernah melawan, seperti domba kelu yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53:7).
Kematian Kristus di Kalvari adalah bukti ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa demi menggenapi rencana Bapa (Yohanes 3:16). Pengorbanan-Nya ini disebut pengorbanan yang sempurna, karena Kristus mempersembahkan tubuh-Nya sendiri untuk menjadi korban penebusan dosa. "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib," (1 Petrus 2:24), "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban." (Ibrani 7:25-27). Sebagai Imam Besar, Kristus bukan hanya mempersiapkan korban kepada Bapa, tapi Ia sendiri yang menjadi korban persembahan tersebut.
Adakah pemimpin, raja, atau nabi mana pun, yang melakukan seperti yang Kristus perbuat? Tidak ada. Sayang, banyak orang tak menghargai, malah menganggap remeh pengorbanan Kristus ini, termasuk orang Kristen sendiri, yang hanya menjadikan salib sebagai simbol belaka. Jangan pernah sia-siakan pengorbanan Kristus ini! "...supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran." (1 Petrus 2:24).
Pengorbanan Kristus adalah sekali untuk selamanya! Itu sudah menyelamatkan.
Thursday, April 9, 2020
HATI YANG GEMBIRA: Obat Yang Manjur
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 April 2020
Baca: Amsal 17:1-28
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Amsal 17:22
Dalam versi The Amplified Bible, ayat nas di atas berbunyi: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur dan pikiran yang ceria memberikan kesembuhan." Hati yang gembira dan pikiran yang ceria (positif) ternyata bisa menjadi obat yang manjur, artinya dapat menyembuhkan sakit-penyakit. Karena itulah rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Mengapa kita harus bersukacita senantiasa? Karena dengan bersukacita keadaan hati tetap terjaga dengan baik sehingga pikiran dan perkataan pun turut terjaga dengan baik , "...Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b).
Bersukacitalah atau bergembiralah senantiasa berarti di segala situasi! Umumnya kegembiraan seseorang tergantung pada situasi: ketika semua hutang terbayar lunas, ketika anak-anak berhasil lulus ujian dengan nilai bagus, saat menerima hadiah dari suami/isteri tercinta, dan sebagainya. Bergembira karena mengalami hal-hal yang menyenangkan adalah wajar. Tapi bagaimana jika berada di situasi yang sebaliknya: terbaring lemah karena sakit, anak-anak susah diatur, ekonomi keluarga sedang morat-marit, dapatkah hati bergembira? Salah satu cara yang dilakukan orang untuk menjaga hatinya agar tetap bergembira adalah mendengarkan musik atau bersenandung. Karena itu angkatlah suaramu dan pujilah Tuhan! Memuji-muji Tuhan adalah cara terbaik menjaga hati agar tetap bergembira. Inilah yang dilakukan Daud: "Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku." (Mazmur 34:2), bahkan "Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau," (Mazmur 119:164).
Menjaga hati untuk tetap bergembira adalah sebuah pilihan! Manakah yang Saudara pilih: terus mengeluh, bersungut-sungut dengan muka yang kusut masam saat menghadapi masalah, ataukah menghadapi masalah dengan hati yang tetap terjaga dengan baik dan muka yang gembira? Mari belajar untuk tetap bergembira di segala situasi, supaya orang-orang yang ada di sekeliling kita terkena dampak positifnya.
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." Amsal 15:13
Baca: Amsal 17:1-28
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Amsal 17:22
Dalam versi The Amplified Bible, ayat nas di atas berbunyi: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur dan pikiran yang ceria memberikan kesembuhan." Hati yang gembira dan pikiran yang ceria (positif) ternyata bisa menjadi obat yang manjur, artinya dapat menyembuhkan sakit-penyakit. Karena itulah rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Mengapa kita harus bersukacita senantiasa? Karena dengan bersukacita keadaan hati tetap terjaga dengan baik sehingga pikiran dan perkataan pun turut terjaga dengan baik , "...Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b).
Bersukacitalah atau bergembiralah senantiasa berarti di segala situasi! Umumnya kegembiraan seseorang tergantung pada situasi: ketika semua hutang terbayar lunas, ketika anak-anak berhasil lulus ujian dengan nilai bagus, saat menerima hadiah dari suami/isteri tercinta, dan sebagainya. Bergembira karena mengalami hal-hal yang menyenangkan adalah wajar. Tapi bagaimana jika berada di situasi yang sebaliknya: terbaring lemah karena sakit, anak-anak susah diatur, ekonomi keluarga sedang morat-marit, dapatkah hati bergembira? Salah satu cara yang dilakukan orang untuk menjaga hatinya agar tetap bergembira adalah mendengarkan musik atau bersenandung. Karena itu angkatlah suaramu dan pujilah Tuhan! Memuji-muji Tuhan adalah cara terbaik menjaga hati agar tetap bergembira. Inilah yang dilakukan Daud: "Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku." (Mazmur 34:2), bahkan "Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau," (Mazmur 119:164).
Menjaga hati untuk tetap bergembira adalah sebuah pilihan! Manakah yang Saudara pilih: terus mengeluh, bersungut-sungut dengan muka yang kusut masam saat menghadapi masalah, ataukah menghadapi masalah dengan hati yang tetap terjaga dengan baik dan muka yang gembira? Mari belajar untuk tetap bergembira di segala situasi, supaya orang-orang yang ada di sekeliling kita terkena dampak positifnya.
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." Amsal 15:13
Wednesday, April 8, 2020
KESETIAAN: Dipercaya Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 April 2020
Baca: Ulangan 34:1-12
"Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa." Ulangan 34:9
Tuhan berfirman kepada Yosua, "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu." (Yosua 1:2). Tak pernah terbayang sedikit pun di benak Yosua bahwa suatu saat kelak ia akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menjadi pemimpin bangsa Israel menggantikan Musa.
Alkitab mencatat bahwa Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun. Masa muda Yosua banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju ke Kanaan. Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya keselamatan, tapi Musa memanggilnya Yosua, yang berarti Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah. Bukan tanpa alasan bila Tuhan memilih Yosua untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Musa, sebab ia adalah abdi Musa yang sangat setia. Bersama Musa pula Yosua turut merasakan pahit getirnya kehidupan karena harus melewati masa-masa sulit dan penuh ujian di padang gurun. Ketika Musa menerima 10 perintah (Taurat) dari Tuhan di gunung Sinai, Yosua turut serta di situ dan diperintahkan Musa untuk menjaga tenda pertemuan, dan ia melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab. Kesetiaan Yosua sebagai hamba benar-benar telah teruji. Itulah sebabnya Tuhan memilih dia. Terhadap orang-orang yang setialah Tuhan memercayakan suatu perkara. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).
Selain itu Yosua adalah seorang pemberani. Ketika dipercaya untuk memimpin pasukan saat berperang melawan orang Amalek, "...Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang." (Keluaran 17:13). Ketika Musa mengutus 12 orang untuk mengintai negeri Kanaan, sepuluh orang merasa pesimis dan memberikan laporan negatif, yang membuat bangsa Israel semakin takut, namun hanya Yosua dan Kaleb yang memberikan laporan positif dan membangkitkan iman (Bilangan 13:1-33), bukti bahwa Yosua adalah seorang pemberani dan memiliki iman yang teguh.
Tanpa kesetiaan mustahil Tuhan memercayai Yosua untuk menjadi pemimpin!
Baca: Ulangan 34:1-12
"Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa." Ulangan 34:9
Tuhan berfirman kepada Yosua, "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu." (Yosua 1:2). Tak pernah terbayang sedikit pun di benak Yosua bahwa suatu saat kelak ia akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menjadi pemimpin bangsa Israel menggantikan Musa.
Alkitab mencatat bahwa Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun. Masa muda Yosua banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju ke Kanaan. Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya keselamatan, tapi Musa memanggilnya Yosua, yang berarti Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah. Bukan tanpa alasan bila Tuhan memilih Yosua untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Musa, sebab ia adalah abdi Musa yang sangat setia. Bersama Musa pula Yosua turut merasakan pahit getirnya kehidupan karena harus melewati masa-masa sulit dan penuh ujian di padang gurun. Ketika Musa menerima 10 perintah (Taurat) dari Tuhan di gunung Sinai, Yosua turut serta di situ dan diperintahkan Musa untuk menjaga tenda pertemuan, dan ia melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab. Kesetiaan Yosua sebagai hamba benar-benar telah teruji. Itulah sebabnya Tuhan memilih dia. Terhadap orang-orang yang setialah Tuhan memercayakan suatu perkara. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).
Selain itu Yosua adalah seorang pemberani. Ketika dipercaya untuk memimpin pasukan saat berperang melawan orang Amalek, "...Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang." (Keluaran 17:13). Ketika Musa mengutus 12 orang untuk mengintai negeri Kanaan, sepuluh orang merasa pesimis dan memberikan laporan negatif, yang membuat bangsa Israel semakin takut, namun hanya Yosua dan Kaleb yang memberikan laporan positif dan membangkitkan iman (Bilangan 13:1-33), bukti bahwa Yosua adalah seorang pemberani dan memiliki iman yang teguh.
Tanpa kesetiaan mustahil Tuhan memercayai Yosua untuk menjadi pemimpin!
Tuesday, April 7, 2020
PEMUDA EUTIKHUS: Tidak Fokus
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 April 2020
Baca: Kisah Para Rasul 20:7-12
"Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya." Kisah 20:9b
Peristiwa tentang seorang pemuda bernama Euthikus yang mengantuk dan jatuh dari lantai tiga ini terjadi pada suatu Minggu malam, yaitu ketika rasul Paulus sedang memberikan khotbah perpisahannya di Troas, sebuah kota yang menjadi lalu lintas penghubung Asia dan Eropa. Sekarang ini lokasi kota itu berada di sekitar Istanbul. Meski kisah tentang Euthikus ini hanya ditulis dalam beberapa ayat saja di Alkitab, tapi nama pemuda ini dan apa yang dialaminya menjadi pemelajaran dan peringatan penting bagi orang percaya di sepanjang kehidupan manusia.
Karena rasul Paulus menyampaikan khotbahnya, pemuda yang bernama Euthikus ini mendengarkan sambil duduk di jendela. Ia pun tertidur lelap, kemudian jatuh dari jendela lantai 3 (Kisah 20:9). Ada beberapa kemungkinan yang membuat Euthikus tertidur: kelelahan karena sudah bekerja dari pagi sampai malam, atau merasa bosan mendengar khotbah yang terlalu lama, sebab Paulus berbicara sampai tengah malam. Diawali oleh rasa bosan, akhirnya tertidur. Berhati-hatilah! Banyak orang Kristen awalnya merasa bosan mendengar firman Tuhan lama-kelamaan malas baca Alkitab, malas beribadah, malas pelayanan, kemudian meninggalkan jam-jam ibadah, mundur dari pelayanan, dan akhirnya meninggalkan Tuhan. Dengan duduk di jendela, Euthikus bisa melihat keluar ruangan, pandangannya menjadi teralihkan dan tidak fokus lagi. Dengan duduk di jendela Euthikus tidak menghargai rasul Paulus yang sedang berbicara, karena posisi jendela pasti lebih tinggi dibandingkan dengan lantai.
Ini gambaran tentang orang yang hatinya bercabang: mengasihi Tuhan, tapi juga mengasihi dunia; tidak lagi fokus terhadap perkara-perkara rohani, karena pandangannya juga tertuju kepada hal-hal duniawi. Suatu keadaan yang suam-suam kuku! Firman Tuhan menegaskan, "...karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sebenarnya nama 'Euthikus' berarti beruntung, rejeki, tapi ia tak seberuntung arti namanya. Apa yang dialami oleh Euthikus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita agar tidak menganggap remeh firman Tuhan.
Tidak fokus kepada perkara rohani sama artinya melakukan kompromi!
Baca: Kisah Para Rasul 20:7-12
"Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya." Kisah 20:9b
Peristiwa tentang seorang pemuda bernama Euthikus yang mengantuk dan jatuh dari lantai tiga ini terjadi pada suatu Minggu malam, yaitu ketika rasul Paulus sedang memberikan khotbah perpisahannya di Troas, sebuah kota yang menjadi lalu lintas penghubung Asia dan Eropa. Sekarang ini lokasi kota itu berada di sekitar Istanbul. Meski kisah tentang Euthikus ini hanya ditulis dalam beberapa ayat saja di Alkitab, tapi nama pemuda ini dan apa yang dialaminya menjadi pemelajaran dan peringatan penting bagi orang percaya di sepanjang kehidupan manusia.
Karena rasul Paulus menyampaikan khotbahnya, pemuda yang bernama Euthikus ini mendengarkan sambil duduk di jendela. Ia pun tertidur lelap, kemudian jatuh dari jendela lantai 3 (Kisah 20:9). Ada beberapa kemungkinan yang membuat Euthikus tertidur: kelelahan karena sudah bekerja dari pagi sampai malam, atau merasa bosan mendengar khotbah yang terlalu lama, sebab Paulus berbicara sampai tengah malam. Diawali oleh rasa bosan, akhirnya tertidur. Berhati-hatilah! Banyak orang Kristen awalnya merasa bosan mendengar firman Tuhan lama-kelamaan malas baca Alkitab, malas beribadah, malas pelayanan, kemudian meninggalkan jam-jam ibadah, mundur dari pelayanan, dan akhirnya meninggalkan Tuhan. Dengan duduk di jendela, Euthikus bisa melihat keluar ruangan, pandangannya menjadi teralihkan dan tidak fokus lagi. Dengan duduk di jendela Euthikus tidak menghargai rasul Paulus yang sedang berbicara, karena posisi jendela pasti lebih tinggi dibandingkan dengan lantai.
Ini gambaran tentang orang yang hatinya bercabang: mengasihi Tuhan, tapi juga mengasihi dunia; tidak lagi fokus terhadap perkara-perkara rohani, karena pandangannya juga tertuju kepada hal-hal duniawi. Suatu keadaan yang suam-suam kuku! Firman Tuhan menegaskan, "...karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sebenarnya nama 'Euthikus' berarti beruntung, rejeki, tapi ia tak seberuntung arti namanya. Apa yang dialami oleh Euthikus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita agar tidak menganggap remeh firman Tuhan.
Tidak fokus kepada perkara rohani sama artinya melakukan kompromi!
Monday, April 6, 2020
KELUARGA RUKUN: Mengalami Berkat Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2020
Baca: Matius 18:15-20
"Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga." Matius 18:19
Semua orang pasti menginginkan sebuah keluarga yang rukun dan dipenuhi damai sejahtera. Keluarga rukun adalah apabila hubungan suami-isteri harmonis, hubungan antara orangtua dan anak-anak begitu dekat dan kompak.... Bila keluarga rukun, rumah akan menjadi tempat paling nyaman di dunia. Daud mengungkapkan suatu kebenaran bahwa rumah tangga atau keluarga yang hidup dalam kerukunan akan menjadi tujuan Tuhan mencurahkan berkat-berkat-Nya: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! ...Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:1, 3).
Rumah tangga atau keluarga yang rukun tidak tercipta dengan sendirinya, tapi perlu diusahakan, dipupuk dan dibina dari hari ke sehari. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membangun kerukunan dalam sebuah keluarga: 1. Sediakan waktu bersama. Membangun mezbah keluarga atau melakukan saat teduh bersama adalah momen terbaik. Saat kita membangun mezbah doa dalam keluarga, Tuhan pasti hadir melawat kita: "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20). Kita juga dapat menyediakan waktu bersama dengan keluarga untuk kegiatan-kegiatan tertentu, semisal makan bersama di luar pada waktu weekend atau pergi piknik ke tempat wisata. Ketika keluarga hidup rukun dan kompak, ikatan emosi antar anggota keluarga akan semakin kuat.
2. Praktekkan kasih. Keluarga adalah gereja terkecil, tempat awal kita mempraktekkan kasih. Kasih dapat dinyatakan dengan saling peduli, memperhatikan, menghargai, menghormati dan menolong. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12a). Jika kita mau dikasihi kita pun harus belajar mengasihi; kalau kita tidak mau disepelekan, kita pun tidak boleh menyepelekan orang lain, oleh karena itu: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
"...rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25), berkat Tuhan pun akan menjauh.
Baca: Matius 18:15-20
"Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga." Matius 18:19
Semua orang pasti menginginkan sebuah keluarga yang rukun dan dipenuhi damai sejahtera. Keluarga rukun adalah apabila hubungan suami-isteri harmonis, hubungan antara orangtua dan anak-anak begitu dekat dan kompak.... Bila keluarga rukun, rumah akan menjadi tempat paling nyaman di dunia. Daud mengungkapkan suatu kebenaran bahwa rumah tangga atau keluarga yang hidup dalam kerukunan akan menjadi tujuan Tuhan mencurahkan berkat-berkat-Nya: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! ...Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:1, 3).
Rumah tangga atau keluarga yang rukun tidak tercipta dengan sendirinya, tapi perlu diusahakan, dipupuk dan dibina dari hari ke sehari. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membangun kerukunan dalam sebuah keluarga: 1. Sediakan waktu bersama. Membangun mezbah keluarga atau melakukan saat teduh bersama adalah momen terbaik. Saat kita membangun mezbah doa dalam keluarga, Tuhan pasti hadir melawat kita: "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20). Kita juga dapat menyediakan waktu bersama dengan keluarga untuk kegiatan-kegiatan tertentu, semisal makan bersama di luar pada waktu weekend atau pergi piknik ke tempat wisata. Ketika keluarga hidup rukun dan kompak, ikatan emosi antar anggota keluarga akan semakin kuat.
2. Praktekkan kasih. Keluarga adalah gereja terkecil, tempat awal kita mempraktekkan kasih. Kasih dapat dinyatakan dengan saling peduli, memperhatikan, menghargai, menghormati dan menolong. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12a). Jika kita mau dikasihi kita pun harus belajar mengasihi; kalau kita tidak mau disepelekan, kita pun tidak boleh menyepelekan orang lain, oleh karena itu: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
"...rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25), berkat Tuhan pun akan menjauh.
Sunday, April 5, 2020
KETIKA TUHAN MENJAWAB 'TIDAK'
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 April 2020
Baca: 2 Samuel 12:1-25
"Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup." 2 Samuel 12:22
Bersukacita ketika Tuhan mengabulkan permohonan doa kita adalah hal wajar. Namun bagaimana bila Tuhan menjawab TIDAK terhadap permohonan doa kita? Bagaimana reaksi kita ketika mengetahui bahwa ternyata Tuhan tidak menjawab doa-doa kita? Daud, sekalipun sudah diberitahu tentang konsekuensi yang harus ditanggung karena pelanggarannya, yaitu anaknya akan mati, masih terus memohon kepada Tuhan dan berpuasa. Sebagai anak-anak-Nya kita berhak meminta segala sesuatu kepada Bapa di sorga, seperti tertulis: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7).
Ada tiga jawaban Tuhan untuk setiap permohonan doa kita: 1. Ya, 2. Tunggu, 3. Tidak. Kita harus berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu tanpa mengenal lelah, sampai kita mendapatkan jawaban dari Tuhan (ya, tidak, atau tunggu). Doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dapat menggerakkan hati Tuhan untuk mengubah keputusannya. Contohnya: Hizkia mengalami sakit parah dan hampir mati, lalu ia berdoa memohon kesembuhan kepada Tuhan (Yesaya 38:2-3), dan Tuhan menjawab, "Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi," (Yesaya 38:5). Berbeda dengan kasus yang dialami Daud, sekalipun ia terus berdoa disertai puasa, memohon belas kasihan Tuhan untuk anaknya agar tetap hidup, tetapi jawaban dari Tuhan adalah tidak; dan pada hari yang ketujuh anaknya mati (2 Samuel 12:18). Daud pun bangkit dari pergumulannya karena ia sudah menerima jawaban dari Tuhan, sekalipun jawaban itu tidak seperti yang diharapkan.
Apa pun jawaban yang Tuhan berikan, kita harus belajar bisa menerima tanpa rasa kecewa, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Banyak orang Kristen, yang ketika doa-doanya dijawab TIDAK oleh Tuhan, langsung marah. Menjadi anak Tuhan tidaklah berarti semua yang kita minta pasti dituruti oleh Tuhan, karena apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut pandangan Tuhan.
Tuhan menjawab TIDAK bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita, tetaplah setia kepada Tuhan, karena Ia tahu yang terbaik untuk kita!
Baca: 2 Samuel 12:1-25
"Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup." 2 Samuel 12:22
Bersukacita ketika Tuhan mengabulkan permohonan doa kita adalah hal wajar. Namun bagaimana bila Tuhan menjawab TIDAK terhadap permohonan doa kita? Bagaimana reaksi kita ketika mengetahui bahwa ternyata Tuhan tidak menjawab doa-doa kita? Daud, sekalipun sudah diberitahu tentang konsekuensi yang harus ditanggung karena pelanggarannya, yaitu anaknya akan mati, masih terus memohon kepada Tuhan dan berpuasa. Sebagai anak-anak-Nya kita berhak meminta segala sesuatu kepada Bapa di sorga, seperti tertulis: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7).
Ada tiga jawaban Tuhan untuk setiap permohonan doa kita: 1. Ya, 2. Tunggu, 3. Tidak. Kita harus berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu tanpa mengenal lelah, sampai kita mendapatkan jawaban dari Tuhan (ya, tidak, atau tunggu). Doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dapat menggerakkan hati Tuhan untuk mengubah keputusannya. Contohnya: Hizkia mengalami sakit parah dan hampir mati, lalu ia berdoa memohon kesembuhan kepada Tuhan (Yesaya 38:2-3), dan Tuhan menjawab, "Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi," (Yesaya 38:5). Berbeda dengan kasus yang dialami Daud, sekalipun ia terus berdoa disertai puasa, memohon belas kasihan Tuhan untuk anaknya agar tetap hidup, tetapi jawaban dari Tuhan adalah tidak; dan pada hari yang ketujuh anaknya mati (2 Samuel 12:18). Daud pun bangkit dari pergumulannya karena ia sudah menerima jawaban dari Tuhan, sekalipun jawaban itu tidak seperti yang diharapkan.
Apa pun jawaban yang Tuhan berikan, kita harus belajar bisa menerima tanpa rasa kecewa, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Banyak orang Kristen, yang ketika doa-doanya dijawab TIDAK oleh Tuhan, langsung marah. Menjadi anak Tuhan tidaklah berarti semua yang kita minta pasti dituruti oleh Tuhan, karena apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut pandangan Tuhan.
Tuhan menjawab TIDAK bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita, tetaplah setia kepada Tuhan, karena Ia tahu yang terbaik untuk kita!
Saturday, April 4, 2020
PENGIKUT KRISTUS YANG KUAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 April 2020
Baca: Yesaya 35:1-10
"Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: 'Kuatkanlah hati, janganlah takut!'" Yesaya 35:3-4
Memiliki sikap hati yang positif di segala situasi, serta kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda (dimensi iman) adalah kunci untuk menjadi orang Kristen yang kuat. Dengan memiliki respons hati yang positif kita akan terhindar dari rasa kuatir, takut, kecewa, cemas, putus asa dan sebagainya. Karena memiliki respons hati yang selalu positif, orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. Hidup di dunia ini memang diwarnai dengan berbagai permasalahan, tetapi orang yang punya semangat memiliki kekuatan untuk menghadapinya. "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" (Amsal 18:14).
Bagaimana supaya kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup? Arahkan pandangan hanya kepada Tuhan, imani setiap janji firman-Nya dan tekun menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan. "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Kita menjadi orang yang kuat bila kita menyadari bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita alami (1 Korintus 10:13), dan bersama Tuhan kita pasti sanggup menanggung segala perkara (Filipi 4:13). Masalah bukan hanya melatih iman kita, tapi juga merupakan kesempatan untuk kita mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Hadapilah setiap permasalahan dengan tenang dan tetaplah teguh berpegang pada janji firman Tuhan. "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3).
Tanamkan juga di dalam hati ini bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari saja, karena hari esok punya kesusahannya sendiri (Matius 6:34). Karena itu hiduplah dari sehari ke sehari dengan menyingkirkan segala ketakutan dan kecemasan, "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." (Ayub 3:25).
Jadilah orang Kristen yang kuat di segala situasi dengan menjaga hati supaya tidak terfokus pada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan.
Baca: Yesaya 35:1-10
"Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: 'Kuatkanlah hati, janganlah takut!'" Yesaya 35:3-4
Memiliki sikap hati yang positif di segala situasi, serta kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda (dimensi iman) adalah kunci untuk menjadi orang Kristen yang kuat. Dengan memiliki respons hati yang positif kita akan terhindar dari rasa kuatir, takut, kecewa, cemas, putus asa dan sebagainya. Karena memiliki respons hati yang selalu positif, orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. Hidup di dunia ini memang diwarnai dengan berbagai permasalahan, tetapi orang yang punya semangat memiliki kekuatan untuk menghadapinya. "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" (Amsal 18:14).
Bagaimana supaya kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup? Arahkan pandangan hanya kepada Tuhan, imani setiap janji firman-Nya dan tekun menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan. "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Kita menjadi orang yang kuat bila kita menyadari bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita alami (1 Korintus 10:13), dan bersama Tuhan kita pasti sanggup menanggung segala perkara (Filipi 4:13). Masalah bukan hanya melatih iman kita, tapi juga merupakan kesempatan untuk kita mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Hadapilah setiap permasalahan dengan tenang dan tetaplah teguh berpegang pada janji firman Tuhan. "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3).
Tanamkan juga di dalam hati ini bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari saja, karena hari esok punya kesusahannya sendiri (Matius 6:34). Karena itu hiduplah dari sehari ke sehari dengan menyingkirkan segala ketakutan dan kecemasan, "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." (Ayub 3:25).
Jadilah orang Kristen yang kuat di segala situasi dengan menjaga hati supaya tidak terfokus pada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan.
Friday, April 3, 2020
SUKA MEMBERI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 April 2020
Baca: Lukas 6:37-42
"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." Lukas 6:38a
Kita pasti tidak asing dengan ayat firman Tuhan yang mengatakan, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Ayat ini serasa tidak masuk di akal: bagaimana pun juga yang namanya memberi pasti kehilangan sesuatu, atau apa yang dimiliki menjadi berkurang. Bukankah lebih baik dan berbahagia bila kita menerima daripada memberi? Itulah prinsip dunia! Memberi berarti sebuah kerugian besar. Karena itu orang-orang dunia lebih suka menerima daripada memberi.
Prinsip Alkitab adalah sebaliknya. Orang yang berbahagia dan diberkati adalah yang banyak memberi: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6). Memberi adalah bukti nyata dari kasih! Artinya mengasihi harus diwujudkan dalam tindakan, bukan sebatas slogan. "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17).
Hati yang suka memberi adalah buah kehidupan yang bisa kita berikan kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya, seperti jemaat Filipi yang selalu mendukung pelayanan rasul Paulus: "Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu." (Filipi 4:16-17). Memberi untuk mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan membuat Injil semakin diberitakan dan banyak jiwa yang diselamatkan. Selain itu kita juga harus membantu orang yang miskin, yatim piatu, janda miskin, korban bencana, dan sebagainya.
"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Amsal 11:24
Catatan:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." 2 Korintus 9:7
Baca: Lukas 6:37-42
"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." Lukas 6:38a
Kita pasti tidak asing dengan ayat firman Tuhan yang mengatakan, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Ayat ini serasa tidak masuk di akal: bagaimana pun juga yang namanya memberi pasti kehilangan sesuatu, atau apa yang dimiliki menjadi berkurang. Bukankah lebih baik dan berbahagia bila kita menerima daripada memberi? Itulah prinsip dunia! Memberi berarti sebuah kerugian besar. Karena itu orang-orang dunia lebih suka menerima daripada memberi.
Prinsip Alkitab adalah sebaliknya. Orang yang berbahagia dan diberkati adalah yang banyak memberi: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6). Memberi adalah bukti nyata dari kasih! Artinya mengasihi harus diwujudkan dalam tindakan, bukan sebatas slogan. "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17).
Hati yang suka memberi adalah buah kehidupan yang bisa kita berikan kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya, seperti jemaat Filipi yang selalu mendukung pelayanan rasul Paulus: "Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu." (Filipi 4:16-17). Memberi untuk mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan membuat Injil semakin diberitakan dan banyak jiwa yang diselamatkan. Selain itu kita juga harus membantu orang yang miskin, yatim piatu, janda miskin, korban bencana, dan sebagainya.
"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Amsal 11:24
Catatan:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." 2 Korintus 9:7
Thursday, April 2, 2020
KITA ADALAH REFLEKSI KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 April 2020
Baca: Roma 8:18-30
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." Roma 8:29
Setiap pengikut Kristus (orang Kristen) memiliki sebuah tanggung jawab, yaitu menjadi teladan bagi orang-orang dunia. Kita akan menjadi teladan bagi dunia bila kita memiliki kehidupan yang berbeda. Hidup kita akan berbeda dengan dunia apabila kita hidup sebagaimana Kristus hidup. "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6).
Adalah mutlak orang percaya memiliki kehidupan yang merefleksikan Kristus. Kata 'refleksi' berarti gambaran atau cermin. Jadi orang percaya harus mencerminkan karakter Kristus atau mewarisi karakter Ilahi, baik dalam perkataan dan terlebih dalam perbuatan sehari-hari. Jika tidak, hidup kita hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hidup yang merefleksikan Kristus adalah hidup yang menghasilkan buah Roh: "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Orang-orang dunia akan melihat ada Kristus di dalam diri orang percaya ketika orang percaya menghasilkan buah Roh dalam kehidupan nyata. Kita pasti dapat menghasilkan buah Roh karena ada Roh Kudus di dalam kita: "...tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu..." (1 Korintus 6:19). Ketika kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, sejak saat itu Roh Kudus tinggal di dalam kita, dan Roh inilah yang memampukan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan. Roh ini juga yang senantiasa mengingatkan kita ketika kita lalai dan bahkan juga menghibur kita saat kita susah. Roh Kudus akan bermanifestasi di dalam kita lewat buah Roh dan karunia Roh.
Pada akhirnya semua bergantung pada respons kita! Ketika kita mau merespons hal ini dengan benar, kita disanggupkan untuk melakukan apa yang Kristus lakukan atau teladankan, bahkan perkara-perkara yang jauh lebih besar (Yohanes 14:12).
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya," Roma 8:29
Baca: Roma 8:18-30
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." Roma 8:29
Setiap pengikut Kristus (orang Kristen) memiliki sebuah tanggung jawab, yaitu menjadi teladan bagi orang-orang dunia. Kita akan menjadi teladan bagi dunia bila kita memiliki kehidupan yang berbeda. Hidup kita akan berbeda dengan dunia apabila kita hidup sebagaimana Kristus hidup. "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6).
Adalah mutlak orang percaya memiliki kehidupan yang merefleksikan Kristus. Kata 'refleksi' berarti gambaran atau cermin. Jadi orang percaya harus mencerminkan karakter Kristus atau mewarisi karakter Ilahi, baik dalam perkataan dan terlebih dalam perbuatan sehari-hari. Jika tidak, hidup kita hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hidup yang merefleksikan Kristus adalah hidup yang menghasilkan buah Roh: "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Orang-orang dunia akan melihat ada Kristus di dalam diri orang percaya ketika orang percaya menghasilkan buah Roh dalam kehidupan nyata. Kita pasti dapat menghasilkan buah Roh karena ada Roh Kudus di dalam kita: "...tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu..." (1 Korintus 6:19). Ketika kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, sejak saat itu Roh Kudus tinggal di dalam kita, dan Roh inilah yang memampukan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan. Roh ini juga yang senantiasa mengingatkan kita ketika kita lalai dan bahkan juga menghibur kita saat kita susah. Roh Kudus akan bermanifestasi di dalam kita lewat buah Roh dan karunia Roh.
Pada akhirnya semua bergantung pada respons kita! Ketika kita mau merespons hal ini dengan benar, kita disanggupkan untuk melakukan apa yang Kristus lakukan atau teladankan, bahkan perkara-perkara yang jauh lebih besar (Yohanes 14:12).
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya," Roma 8:29
Wednesday, April 1, 2020
PUJI-PUJIAN: Senjata Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 April 2020
Baca: Mazmur 8:1-10
"Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam." Mazmur 8:3
Puji-pujian adalah bagian yang teramat penting bagi orang percaya, bukan saja dalam ibadah, melainkan juga dalam seluruh aspek kehidupan. Bagi orang percaya puji-pujian adalah ungkapan iman, dan hanya orang beriman saja yang tak pernah berhenti untuk memuji-muji Tuhan di segala keadaan atau situasi. Hal inilah yang sering tidak bisa dipahami oleh orang-orang dunia sehingga mereka kerap berkata, "Orang Kristen itu aneh! Lagi dalam masalah, memuji-muji Tuhan; saat ada kematian, malah menyanyi!"
Hidup orang percaya hendaknya dipenuhi dengan puji-pujian bagi Tuhan, karena itu rasul Paulus menasihati, "...berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati." (Efesus 5:19b). Sikap yang paling utama dan paling penting saat memuji Tuhan adalah memuji dengan segenap hati. Bernyanyi dengan segenap hati tidak berarti harus berteriak, tapi hendaknya dihayati. Pemazmur juga berulang-ulang menasihati, "Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mazmur 98:4). Alkitab menyatakan bahwa di sorga, dengan tidak henti-hentinya, siang dan malam, semua makhluk mempersembahkan puji-pujian, hormat, dan ucapan syukur kepada Tuhan yang duduk di atas takhta (Wahyu 4:8-9). Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa memuji Tuhan adalah salah satu cara untuk menghancurkan kekuatan musuh, sebagai senjata untuk berperang melawan kuasa kegelapan. Ayat nas menyatakan bahwa puji-pujian adalah dasar kekuatan untuk membungkam musuh. Saat musuh melontarkan kata-kata yang melemahkan, mengintimidasi, dan mengalihkan fokus kita dari Tuhan, kita harus tetap menjaga hati kita dengan puji-pujian dan mazmur.
Puji-pujian menjadi dasar kekuatan orang percaya karena Tuhan bersemayam, bertahta, tinggal di atas puji-pujian kita (Mazmur 22:4). Saat memuji Tuhan, kita mengundang Tuhan hadir melawat di mana lawatan-Nya selalu disertai otoritas kuasa.
Puji-pujian membangkitkan iman, dan iman itu akan mengalahkan segala pekerjaan Iblis!
Baca: Mazmur 8:1-10
"Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam." Mazmur 8:3
Puji-pujian adalah bagian yang teramat penting bagi orang percaya, bukan saja dalam ibadah, melainkan juga dalam seluruh aspek kehidupan. Bagi orang percaya puji-pujian adalah ungkapan iman, dan hanya orang beriman saja yang tak pernah berhenti untuk memuji-muji Tuhan di segala keadaan atau situasi. Hal inilah yang sering tidak bisa dipahami oleh orang-orang dunia sehingga mereka kerap berkata, "Orang Kristen itu aneh! Lagi dalam masalah, memuji-muji Tuhan; saat ada kematian, malah menyanyi!"
Hidup orang percaya hendaknya dipenuhi dengan puji-pujian bagi Tuhan, karena itu rasul Paulus menasihati, "...berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati." (Efesus 5:19b). Sikap yang paling utama dan paling penting saat memuji Tuhan adalah memuji dengan segenap hati. Bernyanyi dengan segenap hati tidak berarti harus berteriak, tapi hendaknya dihayati. Pemazmur juga berulang-ulang menasihati, "Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mazmur 98:4). Alkitab menyatakan bahwa di sorga, dengan tidak henti-hentinya, siang dan malam, semua makhluk mempersembahkan puji-pujian, hormat, dan ucapan syukur kepada Tuhan yang duduk di atas takhta (Wahyu 4:8-9). Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa memuji Tuhan adalah salah satu cara untuk menghancurkan kekuatan musuh, sebagai senjata untuk berperang melawan kuasa kegelapan. Ayat nas menyatakan bahwa puji-pujian adalah dasar kekuatan untuk membungkam musuh. Saat musuh melontarkan kata-kata yang melemahkan, mengintimidasi, dan mengalihkan fokus kita dari Tuhan, kita harus tetap menjaga hati kita dengan puji-pujian dan mazmur.
Puji-pujian menjadi dasar kekuatan orang percaya karena Tuhan bersemayam, bertahta, tinggal di atas puji-pujian kita (Mazmur 22:4). Saat memuji Tuhan, kita mengundang Tuhan hadir melawat di mana lawatan-Nya selalu disertai otoritas kuasa.
Puji-pujian membangkitkan iman, dan iman itu akan mengalahkan segala pekerjaan Iblis!
Subscribe to:
Comments (Atom)