Sunday, October 20, 2019

JANGAN SIMPAN SAKIT HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2019

Baca:  Ayub 5:1-27

"Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati."  Ayub 5:2

Tidak semua sakit yang diderita oleh seseorang disebabkan oleh karena virus, bakteri atau pola makan yang salah, tetapi terkadang ada faktor lain yang membuat ia jatuh sakit;  salah satunya adalah karena terus menerus menyimpan sakit hati.  Betapa banyak orang memendam sakit hati dan memendamnya selama bertahun-tahun tanpa mau membereskannya.  Seorang isteri memendam sakit hati terhadap suami, anak-anak sakit hati terhadap orangtua yang telah menelantarkan hidupnya, dan sebagainya.

     Camkan baik-baik:  sakit hati tidak pernah membawa keuntungan bagi orang yang mengalaminya.  Sebaliknya, sakit hati yang terpendam justru akan melunturkan semangat dan merampas damai sejahtera di dalam hati.  Orang yang telah menyakiti kita mungkin saja tidak memikirkan apa yang telah diperbuatnya kepada kita, sementara kita yang menyimpan sakit hati semakin merana karena setiap hari kita memikirkan perbuatan orang itu.  Ada dua hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan rasa sakit hati:  1.  Buang semua sakit hati.  Jika kita sedang menyimpan sakit hati terhadap orang lain, jangan tunda-tunda waktu untuk segera membereskannya.  Datanglah di bawah kaki Tuhan, curahkan segala hal yang mengganjal di hati, kekesalan, amarah, kepahitan, kebencian dan sebagainya, biarkan Tuhan membalut luka hati kita.  "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;"  (Mazmur 147:3).

     2.  Berhati-hatilah dalam perkataan dan perbuatan.  Kalau kita tak ingin merasakan sakit hati, janganlah kita membuat gara-gara atau menjadi penyebab sakit hati bagi orang lain.  Karena itu kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita di mana pun kita berada, sebab dari perkataan-perkataan yang tak terkontrol  (pedas, tajam, fitnah, gosip dan sebagainya)  dapat menimbulkan sakit hati dalam diri orang lain.  "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin."  (Amsal 17:27).  Begitu juga bila perbuatan kita sembrono, orang lain pun akan terkena dampaknya.  Berpikirlah 1000 kali sebelum berkata-kata dan berbuat!

Rugi besar bila kita terus menyimpan sakit hati, karena selain akan kehilangan sukacita dan damai sejahtera, doa-doa kita pun akan terhalang karenanya.

Saturday, October 19, 2019

KELEDAI JUGA BISA DIPAKAI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2019

Baca:  Bilangan 22:21-35

"Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: 'Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?' Jawabnya: 'Tidak."'  Bilangan 22:30

Keledai adalah salah satu hewan jinak yang sudah sejak lama berguna bagi kehidupan manusia:  sebagai binatang beban, sarana transportasi, penarik kereta kuda maupun pembajak di ladang.  Sesungguhnya keledai bukanlah termasuk binatang yang pintar, tetapi dalam peristiwa ini, keledai milik Bileam ini menunjukkan kepintarannya.  Itu terjadi karena Tuhan yang bekerja.  "Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"  (Bilangan 22:28).  Percakapan antara Bileam dan keledainya ini terjadi bukan hanya karena Bileam telah memukul keledainya, tetapi ada suatu maksud.  Tuhan membuka mulut keledai sehingga bisa berbicara untuk menegur dan mengingatkan Bileam atas perbuatannya yang jahat di hadapan Tuhan.

     Rasul Petrus pun mengutip peristiwa ini sebagai suatu pembelajaran bagi orang-orang yang telah meninggalkan Tuhan:  "Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu."  (2 Petrus 2:16).  Tuhan memakai seekor keledai untuk menegur dan memperingatkan Bileam, yang diminta oleh Balak  (raja Moab)  untuk mengucapkan kutuk atas bangsa Israel.  Tetapi Tuhan menegur dan memperingatkan Bileam melalui keledainya itu, sehingga akhirnya Bileam dapat berkata,  "Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kulakukan."  (Bilangan 23:26).  Dari peristiwa ini ada pelajaran berharga, yaitu bahwa Tuhan bisa memakai apa saja dan siapa saja untuk menyatakan kehendak dan rencana-Nya.  Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil.

     Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin memakai hidup Saudara karena Saudara merasa tidak punya sesuatu yang dapat dibanggakan, tak punya apa-apa, kemampuan pun serasa tak ada.  Jangan sekali-kali menyerah pada keadaan yang membuat Saudara kehilangan kesempatan untuk maju di dalam Tuhan.

Jika Tuhan bisa memakai keledai, yang hanyalah seekor binatang, bukan perkara mustahil Tuhan dapat memakai hidup Saudara untuk menggenapi rencana-Nya!

Friday, October 18, 2019

MENABUR KEBAJIKAN TAK PERNAH RUGI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2019

Baca:  Amsal 11:1-31

"Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri."  Amsal 11:17

Sampai detik ini masih banyak orang yang berpikir 1000 kali bila mau bermurah hati kepada orang lain.  Hitung-hitungan untung rugi selalu ada di pikirannya!  Mereka beranggapan bahwa bermurah hati kepada orang lain dengan membuat sesuatu dan mengorbankan sesuatu adalah kerugian besar dan tidak ada untungnya sama sekali.

     Perhatikan ayat nas di atas!  Orang yang murah hati itu sama artinya berbuat baik kepada dirinya sendiri.  Orang yang murah hati adalah orang yang bersedia mengulurkan tangannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.  Orang yang murah hati tidak pernah menganggap bahwa kebaikan yang dilakukannya merupakan suatu paksaan atau kerugian baginya, sebaliknya ia melakukan kebaikan itu dengan sukacita, tanpa mengharapkan balasan dan pamrih.  Tidak ada kata sia-sia bagi orang yang bermurah hati atau berbuat baik kepada orang lain!  Di dalam Amsal 19:17 tertulis:  "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu."  Jadi, orang yang berbuat kepada orang lain sesungguhnya sedang melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri, sebab Tuhan pasti membalas perbuatan baiknya.  "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  (2 Korintus 9:6).

     Satu hal penting yang harus diperhatikan saat melakukan suatu kebaikan kepada orang lain adalah motivasi hati.  Jangan sampai ada tendensi atau motivasi terselubung!  Kalau kita berbuat baik atau bermurah hati kepada orang lain, dengan tujuan supaya mendapatkan pujian, maka upah kita pun hanya sebatas pujian tersebut.  Karena itu  "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan,"  (2 Korintus 9:7).  Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, melakukan kebaikan adalah sebuah keharusan, sebagai ungkapan rasa syukur karena Tuhan telah terlebih dahulu melakukan kebaikan kepada kita, mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, sehingga kita diselamatkan.

"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."  Galatia 6:9

Thursday, October 17, 2019

TUHAN MENUNTUT KESETIAAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2019

Baca:  Bilangan 12:1-16

"Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku."  Bilangan 12:7

Bukan perkara yang mudah bagi pemimpin bertahan di dalam melayani umat seperti umat Israel yang terkenal tegar tengkuk, keras kepala, suka bersungut-sungut dan banyak menuntut.  Inilah tanggung jawab yang harus diemban Musa selaku pemimpin, yang setiap hari harus diperhadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, karena ulah umat Israel yang dipimpinnya.  Ketika diperhadapkan dengan sedikit kesulitan saja mereka gampang sekali menyalahkan Musa, bahkan Miryam yang notabene adalah saudaranya sendiri, juga mengatai-ngatai dia,  "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?"  (Bilangan 12:2).

     Apakah Musa menjadi kecewa dan patah arang, lalu menyerah dari panggilan Tuhan ini?  Tidak.  Musa tetap bertahan dan dengan penuh kesetiaan mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.  Ia setia melayani Tuhan dan umat-Nya selama 40 tahun.  Adanya tantangan, situasi sulit, dan beban yang cukup berat dalam pelayanan membuat Musa semakin bergantung kepada Tuhan dan hidup mengandalkan Dia.  Kesabaran dan ketabahan Musa dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini sebagai bukti bahwa ia adalah orang yang setia.  Tak mudah menemukan orang yang benar-benar setia di akhir zaman ini, sebab  "...orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Amsal 20:6).

     Kesetiaan berbicara tentang keteguhan hati, kepatuhan atau ketaatan.  Kesetiaan membuat seseorang tetap kuat, mampu bersabar dan selalu tabah dalam menanggung beban di dalam hidupnya.  Tugas dan tanggung jawab apa yang Tuhan telah percayakan kepada Saudara?  Seberat apa pun tantangannya dan sekecil apa pun tugas dan tanggung jawab itu, mari kita lakukan dengan setia, jangan ada keluh kesah dan persungutan, sebab hanya orang yang setia sampai akhir yang akan memperoleh kemuliaan yang telah Tuhan janjikan.  Jerih lelah kita tidak akan pernah sia-sia, Tuhan selalu perhitungkan!

"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  Wahyu 2:10b

Wednesday, October 16, 2019

MEMBERI TELADAN HIDUP KEPADA ANAK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2019

Baca:  Amsal 3:11-26

"Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya."  Amsal 3:11

Ada tugas dan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orangtua dalam mempersiapkan generasi penerusnya.  Tugas dan panggilan itu adalah memberi teladan hidup bagi anak-anaknya melalui kehidupan sehari-hari.  Jadi orangtua haruslah bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya dan menjadi teladan.  Menjadi teladan berarti memberi nilai atau dampak yang bisa dirasakan anak-anaknya.  Pada taraf ini orangtua bisa berkata,  "...turutilah teladanku!"  (1 Korintus 4:16).  Orangtua harus bisa menjadikan apa pun yang dikatakannya dilakukan oleh anak-anaknya.

     Mari kita bahas hal menjadi teladan.  Orangtua harus menjadi teladan dalam hal apa?  1.  Dalam hal berbuat baik.  Orangtua harus bisa mengajarkan kepada anak-anak bagaimana melakukan kebaikan kepada semua orang.  Berbuat baik di sini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian materi, tetapi termasuk juga perhatian, waktu dan tenaga, yang dikorbankan bagi orang lain yang sedang membutuhkan.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).  2.  Dalam pengajaran.  Inilah tugas terpenting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua yaitu mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anaknya.  Betapa banyak orangtua yang lalai menjalankan tugas ini karena mereka lebih memrioritaskan pemenuhan kebutuhan materi  (jasmani)  untuk anak-anaknya, daripada memenuhi kebutuhan rohaninya, yaitu mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anaknya, sebagaimana yang Tuhan perintahkan,  "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;" (Ulangan 11:19).

     Orangtua tidak bisa menuntut anak-anaknya untuk berubah jika mereka sendiri tidak menunjukkan perubahan hidup.  Wujud dari apa yang diajarkan orangtua adalah keteladanan.  Karena itu orangtua harus berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sebab anak-anak memperhatikan apa yang dilihatnya setiap hari.

Sudahkah kita memberikan teladan hidup yang benar kepada anak-anak kita?

Tuesday, October 15, 2019

TERANG MENGALAHKAN KEGELAPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2019

Baca:  Efesus 5:1-21

"...segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang."  Efesus 5:13

Keberadaan orang percaya di tengah dunia ini adalah terang dunia  (Matius 5:14a).  Kita ini adalah pelita-pelita Kristus di tengah dunia ini yang seharusnya mempunyai kuasa untuk membawa dampak, menguasai dan mengubah keadaan.  Bagaimana bisa menjadi terang, apabila pelita tersebut tertutup oleh gantang?  Pastilah pelita itu tidak akan bisa memancarkan cahaya bagi sekitarnya.  Gantang adalah wadah untuk mengukur atau menakar beras, ukuran takaran yang berisikan 3,125 kg.

     Pelita yang tertutup oleh gantang adalah gambaran dari kehidupan orang Kristen yang tidak bisa menjadi berkat atau kesaksian yang baik bagi orang-orang di sekitarnya.  Jadi pelita tidak boleh ditutupi, disembunyikan, apalagi dipadamkan!  Sebaliknya, pelita harus diangkat ke tempat yang tinggi, supaya sinarnya dapat memancar dan menerangi seluruh ruangan, sama seperti sebuah kota yang berada di atas gunung tinggi, yang tidak luput dari pandangan, dimana semua mata akan tertuju kepada kota itu.  Rasul Paulus memperingatkan,  " Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,"  (Efesus 5:8), dan sebagai anak-anak terang kita tidak lagi  "...turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu."  (Efesus 5:11).  Dengan kata lain anak-anak terang tidak lagi berkompromi dengan dunia ini dan tidak lagi hidup menuruti keinginan daging.

     Dunia semakin hari semakin diliputi oleh kegelapan yang pekat karena kejahatan manusia yang semakin memuncak!  Kegelapan hanya dapat dikalahkan oleh terang.  Sepekat apa pun kegelapan itu, terang tetap mampu menembusnya.  Sebagai anak-anak terang kita harus mampu menembus dan mengalahkan kegelapan dunia ini melalui keteladanan hidup kita, sebab keteladanan itu jauh lebih dahsyat kekuatannya daripada perkataan semata.  Kekristenan adalah sesuatu yang bisa dilihat, bukan hanya di dalam gedung gereja dengan segala hal yang berbau pelayanan, tapi dunia ingin melihat bukti melalui perkataan dan perbuatan yang tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kita gagal menjadi terang bagi dunia selama hidup kita tidak bisa menjadi teladan!

Monday, October 14, 2019

MENJADI HARTA KESAYANGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2019

Baca:  Keluaran 19:1-25

"Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi."  Keluaran 19:5

Kalau kita punya sebuah barang kesayangan, mungkin karena berharga mahal dan limited edition, maka barang itu tidak akan ditaruh sembarangan, melainkan ditaruh di tempat yang aman, agar terhindar dari tangan-tangan jahil.  Menjadi barang kesayangan artinya barang tersebut sangat berharga dan sangat berarti bagi pemiliknya, sehingga si pemilik pasti akan menjaga dan merawat barang tersebut.

     Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya mengatakan kepada bangsa Israel bahwa mereka bukan hanya sebagai umat pilihan-Nya, tapi juga harta kesayangan-Nya!  Ini juga berlaku bagi kita orang percaya, yang adalah Israel-Israel rohani, sebagaimana tertulis:  "...kamulah bangsa yang terpilih...umat kepunyaan Allah sendiri...yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:"  (1 Petrus 2:9).  Untuk menjadi harta kesayangan Tuhan ada syaratnya, yaitu harus hidup dalam ketaatan,  "...jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku,"  (ayat nas).  Tuhan telah menyelamatkan bangsa Israel dengan membawa mereka keluar dari Mesir  (lambang perbudakan dosa dan dunia), karena itu mereka harus memiliki respons hati yang benar atas anugerah keselamatan ini dengan hidup menurut kehendak-Nya.  Hidup taat mudah diucapkan, tapi tak mudah dilakukan, karena ada harga yang harus dibayar, yaitu tidak lagi hidup sama seperti dunia,  "...sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."  (Galatia 6:14).

     Setelah  'dimerdekakan dari perbudakan di Mesir', kita harus hidup  "...sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka,..."  (1 Petrus 2:16), dan  "...janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa,"  (Galatia 5:13).  Kini tujuan hidup kita bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan bagi Tuhan dan untuk kemuliaan nama-Nya, karena kita menjadi harta kesayangan-Nya.

Jangan kecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan kita, sebab kita ini milik kesayangan-Nya!

Sunday, October 13, 2019

SEDIKIT TAK APA, ASALKAN BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2019

Baca:  Mazmur 37:16-26

"Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik;"  Mazmur 37:16

Dalam kehidupan bermasyarakat, hal pertama yang orang perhatikan dalam menilai sesamanya adalah melihat status ekonomi dan juga kedudukan.  Itulah sebabnya, orang kaya dan orang yang bertitel tinggi akan lebih dihargai dan dihormati dibandingkan dengan mereka yang ekonominya pas-pasan.  Itulah manusia di dunia, yang selalu melihat apa yang di depan mata, selalu menekankan pada hasil atau kuantitas.  Mereka tidak peduli dengan apa yang namanya  'proses', tak peduli bagaimana caranya seseorang mendapatkan harta kekayaan atau jabatan, entah dengan jalan pintas, bekerja dengan cara tidak halal, atau mungkin bermain-main dengan kuasa-kuasa gelap.

     Sesungguhnya hidup itu bukan soal apa yang bisa kita miliki, tapi cara untuk memperolehnya juga harus diperhatikan dengan benar.  Inilah yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan orang!  Apalah artinya memiliki kekayaan yang berlimpah, jika untuk mendapatkannya seseorang harus mengorbankan harga dirinya, melanggar hukum dan menyimpang dari kebenaran?  Tuhan mau cara yang kita lakukan untuk mendapatkan kekayaan itu benar.  Tuhan juga menghendaki kita bekerja dengan rajin, terus berusaha dan tak lupa untuk selalu berdoa  (hidup dalam kebenaran), sampai kita meraih semua yang Tuhan sediakan bagi kita.  "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan."  (Amsal 15:16).

     Sedikit  (secara kuantitas)  jika disertai kebenaran hidup, suatu saat pasti akan bertambah, mendatangkan kebahagiaan dan damai sejahtera di hati.  Sekalipun banyak harta, jika tidak disertai dengan kebenaran alias hasil dari kejahatan atau menghalalkan segala cara, maka lenyapnya pun juga akan seketika atau sesat, tanpa membawa manfaat apa pun, bahkan justru akan mendatangkan masalah dan malapetaka dalam hidup seseorang.  Maka dari itu  "Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali."  (Amsal 23:4-5).

"Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut."  Amsal 10:2

Saturday, October 12, 2019

TETAP MENGALAMI DIDIKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2019

Baca:  Amsal 6:20-35

"Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,"  Amsal 6:23

Banyak orang kurang menyadari bahwa sesungguhnya hidup ini ibarat sebuah sekolah, dimana kita dapat belajar dari setiap peristiwa atau kejadian yang kita alami, belajar dari kegagalan, belajar dari masalah, mengerti arti kehadiran orang lain, mengerti tentang aturan-aturan yang berlaku dalam hidup bermasyarakat, dan sebagainya.

     Dalam hidup kerohanian pun kita juga perlu berada di  'sekolah'  nya Tuhan, siap menerima ajaran dan didikan dari Tuhan.  Tujuannya?  Supaya kita tidak tetap sebagai  'bayi'  rohani, tapi semakin bertumbuh di dalam Tuhan dan menjadi dewasa rohani, sehingga mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Daud, sekalipun sudah dipilih Tuhan, tetap mengalami didikan dari Tuhan dengan maksud untuk mengoreksi segala perbuatannya.  Itu artinya Tuhan tidak menutup mata dengan membiarkan orang yang dikasihi dan dipilih-Nya itu melakukan dosa tanpa diperingatkan.  Memang kita akui bahwa peringatan, koreksi dan didikan Tuhan sangat menyakitkan.  Bagaimanapun juga, Daud bukanlah manusia super yang tidak pernah melakukan kesalahan.  Namun Daud tetap menjadi biji mata Tuhan, dan kasih Tuhan kepadanya tidak pernah berkurang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya, bahkan Ia berjanji bahwa dari keturunannyalah akan dibangkitkan Juruselamat  (Kisah 13:23).  

     Begitu pula kita, yang telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayangan-Nya, bahkan yang telah diangkat menjadi anak-anak-Nya, Tuhan tetap ingin mendidik kita, mengoreksi kita, memperingatkan kita dari segala kesalahan-kesalahan kita, supaya kita tetap berjalan di jalan kebenaran-Nya.  Jadi, bila saat ini kita sedang mengalami didikan dari Tuhan, baik itu berupa masalah, sakit-penyakit, tekanan, dan semuanya itu begitu terasa menyakitkan, jangan sekali-kali beranggapan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita,  "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 'Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.'"  (Ibrani 12:5-6).

Tuhan mendidik kita karena Dia sangat mengasihi dan mempedulikan kita!

Friday, October 11, 2019

MENYIA-NYIAKAN KASIH BAPA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2019

Baca:  Kejadian 3:1-24

"Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: 'Di manakah engkau?'"  Kejadian 3:9

Tuhan menciptakan manusia pertama dalam keadaan sempurna, tanpa dosa, sebab manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Dia  (Kejadian 1:26-27).  Tetapi ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, dosa mulai masuk dalam kehidupan mereka, sehingga  "...terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat."  (Kejadian 3:7).  Karena telah berbuat dosa, manusia dihinggapi oleh rasa takut:  "Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman."  (Kejadian 3:8-9).

     Orang yang telah melakukan pelanggaran  (berbuat dosa)  cenderung dihantui oleh rasa bersalah dan ketakutan.  Karena ada kesalahan yang diperbuatnya ia menjadi enggan untuk mendekat kepada Tuhan seperti ada tirai yang memisahkan;  tetapi karena kasih Tuhan yang teramat besar, dicarinya manusia yang berdosa itu.  Datanglah Bapa mencari manusia yang berdosa dan terhilang itu dengan menjelma dalam rupa manusia di dalam pribadi Kristus,  "...datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."  (Lukas 19:10).  Karena dorongan kasih yang begitu besar dan tak bersyarat itu Bapa sudi menyelamatkan dan memanggil kita untuk kembali datang kepada-Nya;  Bapa ingin menjadikan kita sebagai manusia baru di dalam Kristus!

     Untuk menjadi manusia yang  'baru'  tidaklah dapat terjadi secara otomatis, ia harus menerima Kristus terlebih dahulu sebagai Penebus dan Juruselamat dalam hidupnya,  "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Ia harus percaya bahwa dengan darah Kristus yang telah dicurahkan di Kalvari dosa-dosanya telah ditebus.  Tak berhenti begitu saja, ia juga harus rela meninggalkan perbuatan lamanya dan berjalan maju bersama Kristus seturut dengan firman-Nya!  Tanpa mau menyangkal diri, anugerah keselamatan yang Tuhan berikan akan menjadi sia-sia.

Tuhan mengasihi kita sedemikian rupa, Ia mau kita meninggalkan dosa!

Thursday, October 10, 2019

JANGAN PIKIRKAN CARA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2019

Baca:  Lukas 12:22-34

"Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu."  Lukas 12:29

Ketika sedang mengalami kesulitan ekonomi  (kebutuhan hidup), seringkali timbul pertanyaan di dalam hati:  "Sanggupkah Tuhan menolongku?  Bagaimana cara Tuhan memenuhi kebutuhanku?" Bagaimana cara Tuhan menolong dan memenuhi kebutuhan kita adalah urusan Tuhan sendiri, sedangkan bagian kita adalah memercayai Tuhan dan janji firman-Nya.  Jangan sekali-kali kita terpaku pada situasi dan kondisi alamiah yang terlihat secara mata jasmani atau terpengaruh omongan orang lain.  Jika kita tenggelam pada masalah yang ada dan menyondongkan telinga kepada omongan orang lain, maka sesuatu yang buruk dan jelek itulah yang terbayang di benak dan pikiran kita.  Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, Ia tetap sama, dahulu, sekarang dan selamanya.  Hanya Tuhan dan firman-Nya saja yang tak pernah berubah,  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35).  Karena Tuhan yang mengatakan hal ini maka kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan memegang teguh janji firman-Nya.

     Para wanita membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Kristus ketika mendapati batu penutup kubur Kristus telah terguling, padahal pagi itu mereka hendak meminyaki tubuh Kristus dengan rempah-rempah.  Melihat hal itu segeralah mereka berlari mendapatkan Petrus dan murid-murid yang lain.  "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."  (Yohanes 20:2b).  Mereka menduga bahwa tubuh Kristus telah dicuri orang, padahal Kristus telah bangkit dari kematian-Nya.  Melihat kubur kosong mereka pun langsung panik dan diliputi kekuatiran karena mereka belum mengerti kebenaran ini:  "Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati."  (Yohanes 20:9).

     Kunci mengalami pertolongan Tuhan adalah percaya dan tidak bimbang,  "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin."  (Yakobus 1:6).  Orang yang bimbang takkan beroleh apa-apa dari Tuhan.

Tuhan tak pernah kehabisan cara untuk menolong kita, percayalah itu!

Wednesday, October 9, 2019

HIDUP YANG MEMASYHURKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2019

Baca:  Yesaya 43:8-21

"umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku."  Yesaya 43:21

Sebagai umat pilihan Tuhan tidak seharusnya kita berperilaku sembarangan, melainkan hendaknya kita mempermuliakan dan memasyhurkan nama Tuhan melalui perbuatan kita.  Apabila perbuatan sehari-hari kita tak baik, dengan sendirinya nama Tuhan turut tercemar karenanya.  Hendaknya kita sadar bahwa keberadaan kita adalah surat-surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca dan dilihat oleh semua orang  (2 Korintus 3:3).  Jika  'surat' tersebut buruk isinya, terlihatlah jelas sejauh mana kualitas kerohanian kita.

     Ada contoh sederhana:  ketika ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang kita kasihi karena telah dipanggil  'pulang' Tuhan, maka kita tak boleh bersikap seperti orang-orang yang tak mengenal Tuhan:  "...janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN,...dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi."  (Ulangan 14:1-2).  Jadi, apabila ada saudara atau orang kita kasihi dipanggil Tuhan, kita tak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, menentang atau memberontak kepada Tuhan, sebab sesuatu yang terjadi adalah seijin Tuhan, dan yang diperbuat Tuhan adalah yang terbaik.

     Tuhan membentuk kita dengan cara-Nya demi pertumbuhan karakter yang dikehendaki-Nya.  "Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku;"  (Yesaya 43:20).  Kalau binatang saja dapat bersyukur atas pemeliharaan dan kebaikan Tuhan, apalagi kita umat pilihan-Nya, harusnya mampu bersyukur, memuliakan Tuhan dan memasyhurkan nama-Nya di segala keadaan.  Namun kita gampang sekali melupakan kebaikan Tuhan.  Tak ada ucapan syukur, tak ada bibir yang memuliakan Tuhan, yang ada hanyalah keluh kesah.  Hidup seperti ini tak memasyhurkan Tuhan, malah menghalangi orang lain mengenal Tuhan.

"Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita,"  Yesaya 63:7