Tuesday, October 8, 2019

BUKAN KARENA KEMAMPUAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2019

Baca:  Ulangan 8:1-20

"...Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini."  Ulangan 8:18

Hidup berkelimpahan bagi orang percaya bukanlah hal yang luar biasa, artinya sebagai umat Tuhan memang sudah seharusnya hidup dalam kelimpahan, bukan kekurangan.  Hal ini memang sudah dijanjikan oleh Tuhan dalam firman-Nya:  "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).  Namun banyak orang Kristen salah dalam menafsirkan arti  'kelimpahan'  ini.  Mereka berpikir bahwa hidup berkelimpahan itu semata-mata hanya berbicara tentang uang atau kekayaan materi, seperti pemikiran orang-orang dunia pada umumnya.

     Penafsiran yang demikian ini perlu diluruskan, sebab maksud kelimpahan yang sesungguhnya adalah kesanggupan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bagaimana seseorang dapat memberi pengaruh yang positif bagi orang-orang di sekitarnya, karena ia berlimpah akan karakter, berlimpah akan hikmat, dan berlimpah dalam segala hal yang baik.  Inilah maksud Tuhan memberi kelimpahan kepada Abraham  (Kejadian 22:16-18), yaitu supaya Abraham tidak hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa.  Jika ada orang yang hidupnya berkelimpahan, tapi tidak mampu menjadi saluran berkat bagi orang lain atau tidak memberi dampak yang positif bagi orang-orang di sekitarnya, apakah kehidupan orang tersebut layak disebut berkelimpahan dalam pandangan mata Tuhan?

     Ayat nas menegaskan bahwa Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk memperoleh kekayaan supaya kita dapat menggenapi perjanjian berkat-Nya kepada Abraham ini!  Pertanyaan:  bagaimana sikap kita terhadap perjanjian berkat Tuhan ini?  Menunggu atau bertindak menurut perintah Tuhan?  "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."  (Yosua 1:8).

Bertindaklah sesuai kehendak Tuhan, maka janji berkat-Nya pasti digenapi.  Ingat, bukan karena kemampuan dan kekuatan, berkat itu kita peroleh!     

Monday, October 7, 2019

KUASA MENGHANCURKAN MUSUH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2019

Baca:  Lukas 10:17-20

"Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."  Lukas 10:19

Semua kejahatan, apa pun bentuknya yang terjadi di dunia ini, adalah karena perbuatan Iblis, sebab ada tertulis:  "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  (Yohanes 10:10a).  Inilah kenyataan perbuatan Iblis!  Di akhir zaman ini roh-roh penyesat dan roh-roh kejahatan  (Iblis dan bala tentaranya)  semakin menggebu-gebu bekerja tiada mengenal lelah untuk menyeret dan menghancurkan manusia.  Karena itu kita harus selalu waspada dan selalu membawa roh kita mendekat kepada Tuhan,  "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya..."  (Efesus 6:18b).

     Dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti mampu mengalahkan Iblis dengan segala tipu muslihatnya.  Sebelum Iblis mendekati kita, usirlah dan lawanlah dia dalam nama Tuhan kita, jangan tinggal diam menunggu Tuhan melakukan untuk kita, sebab Alkitab mengajarkan kita:  "...tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!"  (Yakobus 4:7).  Mengapa Tuhan tidak mengusir Iblis untuk kita?  Sebab Tuhan sudah memberi kita kuasa untuk melakukan segala perkara dalam nama-Nya,  "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku,"  (Markus 16:17).  Namun, jika kita mengusir Iblis dengan ragu-ragu atau bimbang, maka dengan sendirinya Iblis tak kan lari, dia malah akan mempermainkan dan mengejek kita.  Rasul Paulus memberitahukan bagaimana cara berperang melawan Iblis,  "dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,"  (Efesus 6:16-17).

     Firman Tuhan selalu mengajarkan kepada kita untuk melawan Iblis, sebab di dalam diri kita ada kuasa untuk mengalahkan Iblis  (ayat nas).  Jadi, kita tak perlu takut menghadapinya, sebab Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).

Pakailah kuasa Tuhan untuk melawan musuh, bukan dengan kekuatan sendiri!

Sunday, October 6, 2019

HATI MANUSIA: Pengaruh Terbesar

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2019

Baca:  Amsal 27:1-27

"Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu."  Amsal 27:19

Tidak ada seorang pun yang tahu isi hati seseorang, termasuk orang yang paling dekat dengannya sekalipun.  Yang tahu isi hatinya adalah orang yang bersangkutan itu sendiri dan Tuhan.  Hati memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia.  Mengapa?  Sebab segala sesuatu bersumber dari hati, seperti tertulis:  "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."  (Matius 12:34b, 35, 36, 37).  Jadi, kondisi hati kita dapat menuntun kita kepada kebenaran atau kejahatan.

     Penulis Amsal mengingatkan,  "Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka."  (Amsal 4:20, 21, 22).  Karena itu firman Tuhan tak berhenti memperingatkan kita untuk menjaga hati  (Amsal 4:23), sebab jika hati ini sampai dibobol pencuri  (Iblis), bukan hal yang mustahil orang akan melakukan apa saja yang Iblis perintahkan, sebab Iblis sudah menguasai hatinya.  Karena itulah Daud memohon kepada Tuhan untuk menyelidiki hatinya,  "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"  (Mazmur 139:23, 24).

     Ada banyak orang Kristen membaca Alkitab hanya sebatas untuk mengisi otaknya saja, tidak sampai menembus hati, itulah sebabnya tak ada dampak.  Sebaliknya, orang yang tekun membaca Alkitab dan merenungkan firman itu dan menyimpannya dalam hati, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran AIR HIDUP  (Yohanes 7:38).

Orang yang perbendaharaan hatinya dipenuhi firman Tuhan pasti terefleksi dalam perkataan dan perbuatannya.

Saturday, October 5, 2019

MANUSIA: Istimewa di Mata Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2019

Baca:  Kejadian 2:1-7

"ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup."  Kejadian 2:7

Ketika hari kelahiran sang bayi sudah semakin mendekat, para orangtua pasti akan tampak sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan bayinya:  tempat tidur, popok, pakaian, selimut, bedak, dan sebagainya.  Saat bayi itu lahir, semua yang dibutuhkan sudah tersedia!  Demikian juga Tuhan telah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum Ia menciptakan manusia.  Bukan hanya tempat yang Tuhan persiapkan bagi manusia, termasuk pula segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya:  "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu."  (Kejadian 1:29).  Meski demikian, masih banyak orang Kristen yang hidup dalam kekuatiran setiap hari, kuatir dengan apa-apa yang dibutuhkannya, seolah-olah Tuhan menciptakan manusia pada hari pertama, sebelum segala sesuatunya disediakan.

     Tuhan menasihati kita untuk tidak kuatir tentang apa yang kita makan, minum, dan pakai  (Matius 6:25-34).  Satu hal penting yang harus disadari bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya  (Kejadian 1:27).  Kata  'menciptakan'  di ayat ini  (bahasa Ibrani, bara)  memiliki arti:  menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.  Jadi, jelas bahwa Adam  (manusia pertama)  tidak tercipta dari hasil evolusi ataupun berasal dari makhluk lain.  Keistimewaan Adam sebagai manusia pertama ialah, ia bukan keturunan dari manusia lainnya, melainkan diciptakan Tuhan secara istimewa dan unik, karena Tuhan membentuk manusia dari unsur bumi yaitu debu tanah, dimana kemudian Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.

     Karena manusia dibentuk dari debu tanah, tak ada alasan sedikit pun untuk kita menjadi sombong.  Setiap kali kita membangga-banggakan dengan apa yang kita miliki:  kepandaian, kecantikan, kemampuan, kekayaan, jabatan, dan sebagainya, ingatlah bahwa kita ini berasal dari debu;  tanpa campur tangan Tuhan, kita tak berarti.

Tuhan sangat mengasihi, mempedulikan, dan memperhatikan manusia, lebih dari ciptaan-Nya yang lain, karena itu tak perlu kita kuatir, tapi juga jangan sombong!

Friday, October 4, 2019

PUNYA KEBERANIAN DAN KEKUATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2019

Baca:  1 Korintus 16:10-18

"Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!"  1 Korintus 16:13

Laki-laki selalu diidentikkan dengan pribadi yang punya keberanian dan kekuatan.  Karena itulah rasul Paulus menyerukan agar orang percaya bersikap sebagai laki-laki.  Seruan Paulus ini bukan semata-mata ditujukkan kepada kaum lelaki saja, tapi semua orang percaya, tanpa membedakan jenis kelamin.

     Sisi positif yang bisa dipelajari dari laki-laki yang patut diterapkan dalam kehidupan rohani adalah keberaniannya.  Pengertian  'berani' di sini adalah sikap hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan;  berani juga berarti tidak takut, tidak gentar dan tidak kecut hati.  Orang percaya adalah prajurit-prajuritnya Kristus dan hidup ini adalah medan peperangan rohani,  "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).  Kalau kita takut, gentar dan kecut hati sebelum berperang, kita tidak akan pernah melihat kemenangan.  Bangsa Israel mengalami ketakutan saat melihat  "...orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka"  (Keluaran 14:9), tapi Musa menguatkan mereka,  "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya."  (Keluaran 14:13).  Kepada Salomo  (anaknya), yang hendak menerima tongkat estafet kepemimpinan, Daud pun berpesan,  "...kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki."  (1 Raja-Raja 2:2).

     Laki-laki identik dengan fisik yang kuat, punya kekuatan.  Kuat berarti punya daya tahan, tak mudah patah, tak mudah terpengaruh, teguh dalam pendirian.  Orang percaya hendaknya kuat berdiri dan mampu bertahan sekalipun berada di tengah goncangan dunia ini.  Kita dituntut punya pendirian yang kuat dan tak mudah berkompromi,  "...hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya."  (Efesus 6:10).

Kita tidak akan takut dan tetap kuat bila kita selalu berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia.

Thursday, October 3, 2019

TAK BERLEBIHAN SESUAI KEBUTUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2019

Baca:  Keluaran 16:1-36

"Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."  Keluaran 16:16

Memiliki tubuh yang sehat adalah harapan semua orang.  Apalah artinya punya uang dan harta yang melimpah bila tubuh sakit-sakitan.  Bagaimana kita bisa melayani Tuhan secara optimal bila kita terbaring di tempat tidur karena sakit?  Salah satu faktor yang menyebabkan orang mengalami sakit adalah tidak bisa menjaga pola makan dengan baik, alias makan makanan dengan sembarang.  Sadar atau tidak, ketika kita makan makanan dengan sembarangan itu sama artinya kita sedang meracuni tubuh kita sendiri dengan makanan tersebut.  Semisal:  orang yang sudah terdeteksi punya kolesterol tinggi, bila tetap mengonsumsi makanan yang berlemak secara berlebihan, akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuhnya sendiri.

     Sering dijumpai ada orang-orang yang ketika melihat makanan yang enak tidak bisa mengendalikan dirinya, sehingga mereka menyantap makanan tersebut dalam porsi yang berlebihan.  Alkitab mengajari kita untuk makan makanan yang secukupnya atau sesuai dengan kebutuhan, bukan dalam porsi yang berlebihan.  Prinsip makan yang secukupnya ini sudah diajarkan Tuhan di kehidupan bangsa Israel ketika di padang gurun selama 40 tahun.  Pada waktu bangsa Israel bersungut-sungut tentang kebutuhannya,  "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."  (Keluaran 16:3).  Lalu, Tuhan menurunkan 'manna', roti dari sorga dan berfirman,  "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya;"  (ayat nas).  Jika mereka mengambil secara berlebihan  (bersisa), maka makanan itu akan berulat dan berbau busuk.

     Dalam Doa Bapa Kami Tuhan juga mengajarkan kita untuk berdoa:  "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya"  (Matius 6:11).  Kata  'secukupnya'  berarti tidak berlebihan, tapi sesuai dengan apa yang kita butuhkan hari itu.

Bukan berarti Tuhan tidak sanggup memberkati kita dengan berlimpah, tapi Ia hendak mengajar kita untuk memiliki penguasaan diri.

Wednesday, October 2, 2019

KEDISIPLINAN ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2019

Baca:  Daniel 6:1-29

"...Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya."  Daniel 6:4

Alkitab menyatakan Daniel mempunyai roh yang luar biasa, artinya ia memiliki kemampuan di atas rata-rata.  Ini merupakan buah kedisiplinannya dalam membangun iman, melalui persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Karena memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan ini Daniel mendapatkan penglihatan dari Tuhan.  Meski demikian hal itu tak membuatnya menjadi sombong rohani!  Hanya kepada orang-orang yang bergaul karib dengan Dia Tuhan akan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, seperti yang pemazmur tulis:  "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).

     Bukti bahwa Daniel memiliki kedisiplinan rohani, di antaranya adalah:  "...Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun." (Daniel 9:2).  Kalimat  'memperhatikan dalam kumpulan kitab'  ini menunjukkan bahwa Daniel senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam.  Inilah yang menjadi kunci sukses hidupnya!  "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:2-3).  Kuasa firman itulah yang bekerja di dalam diri Daniel, sebab  "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:11).

     Selain itu Daniel adalah seorang pendoa:  tiga kali sehari ia berdoa dan memuji Tuhan  (Daniel 6:11);  ia juga suka berpuasa:  "Pada waktu itu aku, Daniel, berkabung tiga minggu penuh: makanan yang sedap tidak kumakan, daging dan anggur tidak masuk ke dalam mulutku dan aku tidak berurap sampai berlalu tiga minggu penuh."  (Daniel 10:2-3).

Ingin menjadi pribadi yang luar biasa?  Milikilah kedisiplinan rohani seperti Daniel.

Tuesday, October 1, 2019

JANGANLAH LARI KE MESIR!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Oktober 2019

Baca:  Yesaya 30:1-17

"'Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,' maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: 'Kami mau mengendarai kuda tangkas,' maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi."  Yesaya 30:16

Manakala kita menghadapi problem apa pun, yang biasa kita lakukan adalah mencari cara bagaimana agar segera terbebas dari problem tersebut.  Kita pun memutar otak sedemikian rupa, mereka-reka rencana untuk mencari jalan keluarnya.

     Ini pula yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika mereka dalam keadaan terjepit karena sedang terkepung oleh musuh.  Dalam ketakutan dan kepanikan mereka berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan diri.  Pikiran mereka langsung tertuju kepada Mesir, dan ke sanalah mereka mencari pertolongan.  "Celakalah ... yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusan-Ku, untuk berlindung pada Firaun dan untuk berteduh di bawah naungan Mesir. Tetapi perlindungan Firaun akan memalukan kamu, dan perteduhan di bawah naungan Mesir akan menodai kamu."  (Yesaya 30:1-3).  Mesir dan Firaun adalah lambang dunia, gambaran tentang harta, kekayaan, koneksi, atau kekuatan manusia yang dianggap kuat dan sanggup memberi pertolongan.  Hasilnya?  Mesir dan rajanya tidak mampu menolong dan menyelamatkan bangsa Israel,  "...perlindungan Firaun akan memalukan kamu, dan perteduhan di bawah naungan Mesir akan menodai kamu. Sebab sekalipun pembesar-pembesar Yerusalem sudah ada di Zoan, dan utusan-utusannya sudah sampai ke Hanes, sekaliannya akan mendapat malu karena bangsa itu tidak dapat memberi faedah kepada mereka, dan tidak dapat memberi pertolongan atau faedah; melainkan hanya memalukan, bahkan mengaibkan mereka."  (Yesaya 30:3-5).

     Mungkin Saudara sudah berdoa sekian lama meminta pertolongan Tuhan, bahkan mungkin Saudara mencapai tahap jenuh dan hilang kesabaran karena belum mendapatkan jawaban, lalu timbul keinginan untuk mencari pertolongan kepada yang lain.  Adakalanya Tuhan mengijinkan kita melewati proses  'menanti'  dengan tujuan supaya kita berdoa dengan tidak jemu-jemu dan berjuang melawan keputusasaan.

Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat, Ia punya waktu yang terbaik!  Kala Ia sedang mempersiapkan berkat-Nya untuk kita, di sisi lain kita sendiri juga harus dipersiapkan.  Pertolongan kita adalah Tuhan, bukan Mesir!

Monday, September 30, 2019

DIPANGGIL UNTUK RENCANA BESAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 September 2019

Baca:  Yeremia 1:4-19

"Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa..."  Yeremia 1:9-10

Di dalam diri setiap orang percaya ada panggilan Tuhan untuk sebuah rencana yang besar!  Cara Tuhan memanggil tiap-tiap orang berbeda-beda.  Demikian pula Yeremia, seorang muda yang dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.  Pada awalnya Yeremia merasa ragu dan takut dengan kemampuan yang dimiliki karena merasa diri masih muda, belum cukup pengalaman, tapi firman Tuhan kembali meneguhkan dia,  "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau..."  (Yeremia 1:5, 7, 8).

     Dengan panggilan Tuhan, seseorang akan menerima kekuatan untuk mengembangkan potensi diri di bawah pimpinan Roh Kudus.  Itu adalah satu titik tolak seseorang untuk dipisahkan dari segala kecemaran dunia!  "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:21).  Dalam memanggil seseorang Tuhan tak melihat status, tak melihat rupa, tak melihat harta,  "...manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."  (1 Samuel 16:7).  Hati yang rela dan mau dibentuk itulah yang Tuhan cari.  Saat seorang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sesungguhnya hal itu merupakan awal sebuah panggilan Tuhan.

     Tuhan memanggil kita untuk menjalankan fungsi di dunia ini yaitu menjadi garam dan terang dunia  (Matius 5:13-14).  Dunia saat ini sedang diliputi dengan kegelapan yang teramat pekat, karena itu dunia membutuhkan para pembawa terang.  Kristus adalah Terang dunia  (Yohanes 8:12), dan sebagai pengikut Kristus, kita adalah anak-anak terang,  "Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,"  (Efesus 5:8).

Orang percaya dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia ini!

Sunday, September 29, 2019

BERTINDAKLAH... JANGAN CIUT HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 September 2019

Baca:  Mazmur 40:1-18

"Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN," Mazmur 40:5

Daud membuat keputusan yang sangat bijak saat ia sedang dalam keadaan terjepit, yaitu lari kepada Tuhan dan berharap pertolongan dari-Nya.  Ia menyadari bahwa sekuat apa pun, sehebat apa pun dia, dan sepintar apa pun otaknya, manusia tetaplah penuh keterbatasan.  Karena itu Daud tahu benar dan sangat yakin bahwa janji Tuhan bukanlah seperti janji manusia, yang begitu mudah berubah dan seringkali tak ditepati, sedangkan janji Tuhan adalah ya dan amin, bukan sekedar meninabobokkan atau halusinasi.  "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7).  Itulah sebabnya Daud tidak pernah berhenti untuk berharap kepada Tuhan,  "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong."  (Mazmur 40:2).

     Melalui pengalaman hidup dari Daud ini hendaknya iman dan roh kita semakin diteguhkan di dalam Tuhan dan semangat kita dalam menjalani hdiup ini kembali bangkit, sekalipun ujian dan tantangan menghadang langkah kita.  Kita harus punya keyakinan bahwa semakin besar tantangan yang kita hadapi semakin besar pula mujizat yang akan kita peroleh dari Tuhan.  Agar janji Tuhan itu kita dapatkan, kita harus bertindak dengan iman untuk meraihnya, bukan ciut hati.  Jangan seperti 10 orang pengintai, dari 12 orang diutus Musa, yang hatinya langsung ciut, pesimis, dan langsung menyerah sebelum berperang.  Jadilah seperti Kaleb dan Yosua yang memiliki keberanian untuk menghadapi musuh di kala semua orang mengalami ketakutan.  "...Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: 'Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!'"  (Bilangan 13:30).

     Keberanian Kaleb dan Yosua ini bukanlah tindakan yang nekat dan tanpa alasan, karena mereka tahu benar bahwa Tuhanlah yang akan menyertai mereka dan bersama Tuhan segala sesuatu pasti berhasil.  Perhatikan pernyataan iman Daud ini,  "Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung."  (Mazmur 40:6).

Tuhan adalah satu-satunya sumber pengharapan kita!  Tak perlu kita ciut hati.