Thursday, September 5, 2019

KEPUTUSAN HARUS TEGAS!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 September 2019

Baca:  Ulangan 30:11-20

"Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan."  Ulangan 30:14

Setiap memasuki hari baru, setiap kita diperhadapkan dengan pilihan dan keputusan yang teramat penting dalam hidup ini.  Apakah kita memilih untuk menjalani hidup ini dengan mengandalkan kekuatan sendiri atau mengandalkan Tuhan;  Apakah kita memilih untuk melibatkan Tuhan di setiap rencana hari ini ataukah segala sesuatu kita putuskan sendiri;  Apakah kita memilih untuk taat menurut pimpinan Roh Kudus atau hidup menuruti keinginan daging kita;  Apakah kita memilih untuk menjaga lidah kita sebaik mungkin atau kita membiarkan lidah kita memperkatakan perkataan yang sia-sia, yang sembrono, dan yang dapat melukai dan menyakiti orang lain;  Apakah kita memilih untuk melepaskan pengampunan kepada orang yang menyakiti kita atau membiarkan hati kita diliputi oleh rasa dendam, amarah dan sakit hati?  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).

     Dihadapan seluruh umat Israel, Musa memberikan sebuah pilihan hidup dan mereka harus membuat keputusan yang tegas mana yang mereka pilih:  1.  Taat.  Kalau mereka mau taat dan  "...mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya,"  (Ulangan 30:16), maka kehidupan, kemenangan, keberhasilan, keberuntungan dan berkat, akan mengikuti hidup mereka.  2.  Tidak taat.  Kalau mereka tetap saja mengeraskan hati, memberontak, dan tak mau taat melakukan kehendak Tuhan,  "...jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,"  (Ulangan 30:17), maka pintu-pintu berkat akan semakin tertutup dan kutuk akan mengikuti hidup mereka.

     Di hadapan Tuhan tidak ada istilah kompromi!  Kita harus membuat keputusan yang tegas:  taat atau tidak taat.  Firman-Nya dengan keras memperingatkan:  "Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"  (Wahyu 22:11).

Taat kepada kehendak Tuhan membuka pintu-pintu berkat bagi hidup kita!

Wednesday, September 4, 2019

PENGIKUT KRISTUS: Harus Suka Berdoa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 September 2019

Baca:  1 Petrus 2:18-25

"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya." 1 Petrus 2:21

Secara sederhana, pengertian  'Kristen'  adalah orang percaya kepada Kristus atau pengikut Kristus.  Apa yang menjadi tanda atau bukti bahwa seseorang adalah Kristen atau pengikut Kristus?  Bukan karena ia memiliki KTP yang bertuliskan Kristen, kemana-mana selalu memakai aksesoris rohani  (kalung salib), atau tampak sering keluar masuk gedung gereja.  Tanda nyata yang menunjukkan bahwa seseorang adalah pengikut Kristus seharusnya tercermin dari kehidupan sehari-hari yang meneladani bagaimana Kristus telah hidup:  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).

     Adalah mutlak orang Kristen atau pengikut Kristus meneladani dan mengikuti jejak Kristus.  Salah satu teladan hidup yang Kristus tunjukkan adalah hal persekutuan-Nya yang karib dengan Bapa.  Semasa pelayanan-Nya di bumi Kristus tak pernah melewatkan hari-hari-Nya tanpa berdoa, berkomunikasi dengan Bapa di sorga.  Salah satu ayat menyatakan:  "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."  (Markus 1:35).  Kristus rela keluar dari zona nyaman, menyalibkan kedagingan-Nya untuk berdoa di kala banyak orang sedang tidur mendengkur.  Hal ini menunjukkan bahwa Kristus mengutamakan hubungan dengan Bapa;  Kristus melibatkan Bapa di setiap tindakan-Nya.  Bagaimana dengan Saudara?

     Tuhan memberikan  'berkat'  waktu yang sama untuk semua orang yaitu 24 jam sehari.  Berapa waktu yang biasa Saudara pergunakan untuk berdoa?  Tuhan bertanya,  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"  (Matius 26:40b).  Doa seharusnya menjadi nafas hidup orang percaya!  Doa adalah wujud ketergantungan kita kepada Tuhan, bukan sekedar aktivitas rohani atau pengisi waktu senggang.  Ingatlah selalu bahwa kita bisa bernafas dengan tubuh yang sehat dan dapat menjalani hari-hari adalah karena Tuhan;  di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa.  Jika Kristus saja mendisiplinkan diri untuk berdoa, siapakah kita ini sehingga meremehkan jam-jam doa?

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!"  Yesaya 55:6

Tuesday, September 3, 2019

BERSUNGUT-SUNGUT TENTANG KEBUTUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 September 2019

Baca:  Keluaran 16:1-36

"Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu...Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."  Keluaran 16:15b-16

Sudah menjadi hal biasa bila manusia mengeluhkan kebutuhan hidupnya:  apa yang hendak dimakan, minum dan pakai.  Sebesar apa pun berkat yang diterimanya serasa tidak pernah ada kata cukup"Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9).

     Karena merasa kurang, mereka mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu dan mengomel tiada henti.  Alasan kebutuhan atau urusan perut inilah yang membuat bangsa Israel bersungut-sungut,  "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."  (Keluaran 16:3).  Berfirmanlah Tuhan:  "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; " (Keluaran 16:12), maka Tuhan mengirimkan burung puyuh dan manna, yang disebut pula roti sorga, sebagai makanan bagi mereka selama di padang gurun.  Manna itu  "...warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu."  (Keluaran 16:31).  Meski Tuhan sudah memenuhi segal kebutuhannya, umat Israel tetap saja tak merasa puas, bahkan mereka terus membanding-bandingkan keadaan saat berada di Mesir,  "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."  (Bilangan 11:5-6).

     Banyak orang Kristen tak beda jauh dengan bangsa Israel, selalu bersungut-sungut, tak bisa bersyukur.  Firman Tuhan menasihati untuk tidak kuatir tentang kebutuhan hidup ini  (Matius 6:25).

Hidup yang selalu diwarnai persungutan adalah tanda bahwa seseorang tak percaya akan kasih dan kuasa Tuhan!

Monday, September 2, 2019

PROSES BERLIKU MENUJU TANAH PERJANJIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 September 2019

Baca:  Ulangan 11:8-32

"Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit;"  Ulangan 11:11

Tanah Kanaan adalah suatu negeri yang dijanjikan Tuhan bagi umat pilihan-Nya  (bangsa Israel), yaitu  "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).  Namun, untuk bisa memasuki Tanah Perjanjian tersebut butuh usaha dan perjuangan yang tak mudah, sebab jalan yang harus dilalui berliku-liku dan penuh tantangan.  Selain jalan yang tidak selalu rata, bergunung-gunung dan berlembah-lembah, ada musuh yang harus ditaklukkan:  "...bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak..."  (Bilangan 13:28), yang memiliki perawakan tinggi-tinggi seperti raksasa.

     Tak kuat menghadapi tantangan dan takut menghadapi musuh membuat orang-orang Israel merasa pesimis, menyerah kalah sebelum berperang, mereka pun tak bisa menahan bibirnya untuk terus mengeluh, mengomel, dan bersungut-sungut kepada Tuhan.  Karena pemberontakannya ini sebagian besar dari mereka gagal mencapai Tanah Perjanjian.  Perjalanan bangsa Israel menuju ke Tanah Perjanjian ini adalah gambaran perjalanan hidup orang percaya!  Sebagaimana bangsa Israel harus melewati proses yang berliku dan penuh tantangan, kita pun tak bisa menghindari  'proses'  ini sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan.  Yang namanya  'proses'  pasti menyakitkan secara daging, tapi hal itu mendatangkan kebaikan bagi kita.  Oleh karena itu jangan sampai kita menyerah di tengah jalan, sebab ada satu kebenaran yang harus kita pegang yaitu adanya jaminan penyertaan dan pemeliharaan dari Tuhan.

     Dikatakan:  "...mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."  (Ulangan 11:12), artinya Tuhan tidak pernah melepaskan pandangan dan perhatian-Nya kepada kita, mata-Nya terus tertuju kepada kita, asalkan:  "...kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"  (Ulangan 11:13).

Orang yang lulus dalam proses-Nya Tuhan pasti akan menikmati janji Tuhan!

Sunday, September 1, 2019

UMAT PILIHAN: Kenyang Kebaikan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 September 2019

Baca:  Mazmur 65:1-14

"Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus."  Mazmur 65:5

Kita patut berbangga hati dan bersyukur kepada Tuhan karena status kita adalah umat pilihan Tuhan, sebab  "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu."  (Yohanes 15:16a).  Pemazmur menyatakan bahwa orang yang dipilih Tuhan pasti akan mengalami kebaikan dari Tuhan:  "Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak;"  (Mazmur 65:12).  Mahkota adalah simbol tradisional dalam bentuk tutup kepala yang dikenakan oleh raja atau ratu sebagai lambang kekuasaan, legitimasi, keabadian, kejayaan, kemakmuran.

     Siapa yang menjadi raja dalam hidup Saudara?  Jika kita menjadikan Kristus sebagai Raja yang bertakhta di dalam kehidupan kita, artinya kita memercayakan hidup ini sepenuhnya di bawah otoritas Raja di atas segala raja, maka Ia akan bertanggung jawab penuh atas hidup kita.  Tuhan bukan hanya melindungi dan menjaga kita, tapi Dia juga akan mencurahkan berkat-berkat-Nya:  "...jejak-Mu mengeluarkan lemak;"  (Mazmur 65:12).  'Lemak' berbicara tentang berkat atau kelimpahan, suatu keadaan yang subur dan berlimpah-limpah.  Adalah sukacita besar karena kita bukan hanya dipilih, tapi juga dilayakkan untuk mendekat kepada Tuhan.  Inilah hak istimewa orang percaya!  Hal ini dimungkinkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib  (Efesus 2:13);  dan terhadap orang-orang pilihan-Nya yang tinggal dekat Dia, Ia akan menyatakan kebaikan-Nya, bukan hanya pad waktu-waktu tertentu atau suatu periode tertentu, melainkan setiap hari di sepanjang tahun,  "...memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,"  Dengan demikian tidak ada istilah  'hari baik atau hari tidak baik' bagi umat pilihan Tuhan, sebab semua hari adalah baik,  "...tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi;"  (Ratapan 3:23).

     Kebaikan Tuhan dinyatakan atas diri orang percaya yang mau berjalan bersama-Nya, artinya kita harus mengikuti ke mana pun Tuhan melangkah, sebagaimana komitmen Ayub:  "Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang."  (Ayub 23:11).  Ini berbicara tentang kesetiaan dan ketaatan.

Hari-hari umat pilihan Tuhan adalah hari yang dipenuhi dengan kebaikan Tuhan!

Saturday, August 31, 2019

PERGUMULAN HIDUP ORANG BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Agustus 2019

Baca:  Mazmur 42:1-12

"Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: 'Di mana Allahmu?'"  Mazmur 42:4

Menjalani hidup sebagai pengikut Kristus di tengah-tengah dunia yang jahat adalah sebuah proses ujian iman.  Mengapa?  Karena banyak orang yang tidak suka dan benci terhadap orang percaya.  Tentang hal itu Alkitab sudah menyatakannya:  "Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku;"  (Matius 10:22).  Jadi, bukan hal yang mengejutkan lagi bila orang percaya seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan, ditindas, dicemooh, diintimidasi, dan diperlakukan tidak adil.  Hal itulah yang seringkali membuat jiwa kita sangat tertekan.

     Pergumulan hidup yang berat ini pun dialami oleh bani Korah!  Bani Korah adalah keturunan anak-anak Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, yang melayani di Kemah Suci sebagai penjaga-penjaga pintu masuk Kemah  (1 Tawarikh 9:19)  dan tim pemuji Tuhan  (2 Tawarikh 20:19).  Mereka mengalami tekanan yang luar biasa dari orang-orang fasik yang tak pernah berhenti untuk mencela, melemahkan, menekan dan mencemooh,  "Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: 'Di mana Allahmu?'"  (Mazmur 42:11).  Suatu pengakuan jujur dari bani Korah yang jiwanya begitu tertekan sehingga ia pun menumpahkan keluh-kesahnya kepada Tuhan,  "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar."  (Mazmur 42:6-7).  Meski demikian bani Korah tidak mau larut dalam keputusasaan dan kepedihan hati yang berkepanjangan, tak mau dikalahkan oleh situasi yang ada.  Mereka tetap berharap kepada Tuhan dan mengingat-ingat kasih setia Tuhan.

     Tak kuat hadapi tekanan hidup yang berat, banyak orang kehilangan semangat dan frustasi!  Inilah saat-saat yang dimanfaatkan Iblis untuk mendakwa dan mengalihkan fokus hidup kita untuk tidak memandang kepada Tuhan dan segala kebaikan-Nya!

Tuhan itu bagi kita...sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti!  (Mazmur 46:2).

Friday, August 30, 2019

TUHAN SANGGUP MENYEMBUHKAN SAKITMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Agustus 2019

Baca:  Mazmur 30:1-13

"TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku."  Mazmur 30:3

Di hadapan umat pilihan Tuhan  (bangsa Israel), Tuhan sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Jehova Rapha, Tuhan yang menyembuhkan.  Demikianlah firman Tuhan,  "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau."  (Keluaran 15:26).  Kesembuhan yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya bukan hanya kesembuhan secara fisik, melainkan juga mencakup kesembuhan secara rohani yang berupa pengampunan dosa.  Tapi sayang, begitu banyak orang Kristen yang menganggap bahwa kesembuhan dari Tuhan adalah cerita usang di Alkitab, dan di masa sekarang kesembuhan hanya diperoleh melalui penanganan medis atau dokter.

     Dengar baik-baik!  Tuhan yang memberikan kesembuhan kepada umat-Nya di zaman Alkitab, adalah Tuhan yang sama yang kuasa-Nya tidak pernah berubah dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya.  Alkitab menyatakan bahwa melalui pengorbanan Kristus di kayu salib segala kutuk dosa telah dipatahkan, dan salah satu kutuk dosa itu adalah sakit-penyakit.  "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh."  (1 Petrus 2:24),  "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."  (Matius 8:17).

     Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan, seperti yang Daud lakukan:  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,"  (Mazmur 103:2-3).  Bagi Saudara yang saat ini sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur karena sakit-penyakit, arahkan pandangan Saudara kepada Tuhan, yang adalah Dokter di atas segala dokter, Sang Tabib yang ajaib.

"Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN,"  Yeremia 30:17

Thursday, August 29, 2019

GOLONGAN DOMBA ATAU KAMBING

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Agustus 2019

Baca:  Matius 25:31-46

"...Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya."  Matius 25:33

Alkitab menyatakan bahwa pada hari penghakiman kelak, apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, semua manusia dari berbagai suku bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya.  Saat itulah Tuhan akan membagi mereka ke dalam dua kelompok besar yaitu kelompok domba dan kelompok kambing.  Ini berbicara tentang pemisahan antara orang benar dan orang yang berlaku fasik!  Sama seperti perumpamaan ini:  lalang di antara gandum  (Matius 13:36-43);  pukat, dimana akan terjaring ikan baik dan ikan yang tidak baik  (Matius 13:47-50);  hamba setia dan hamba jahat  (Matius 24:45-51);  gadis bijaksana dan gadis bodoh  (Matius 25:1-13).

     Adapun kelompok  'domba'  adalah mereka yang setia kepada Tuhan dan taat melakukan firman Tuhan di semasa hidup.  Upah dari ketaatan mereka adalah diberkati oleh sang Raja dan disediakan tempat yang terbaik.  "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan."  (Matius 25:34).  Sebaliknya, mereka yang tergolong  'kambing'  adalah yang semasa hidupnya tidak mau taat melakukan kehendak Tuhan.  "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,"  (Ibrani 2:2b)  yaitu penghukuman kekal.  Dalam kemurkaan-Nya sang Raja berkata,  "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya."  (Matius  25:41).

     Sadarilah bahwa kita sedang hidup di masa-masa akhir, suatu masa di mana akan terjadi penuaian besar, karena  "Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman."  (Matius 13:39-40).  Siapakah kita menghadapi masa penuaian tersebut?  "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."  (Matius 3:12).

Marilah kita semakin giat mengerjar perkara-perkara rohani agar kita tidak tertinggal.

Wednesday, August 28, 2019

JANGAN MENCURI KEMULIAAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Agustus 2019

Baca:  Kisah Para Rasul 12:20-23

"Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing."  Kisah 12:23

Di zaman sekarang ini ada banyak orang yang haus akan pujian dan sanjungan dari sesamanya.  Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia luar, di kalangan umat Tuhan pun tak jauh berbeda.  Betapa banyak orang Kristen yang menamakan diri  'pelayan Tuhan atau hamba Tuhan'  merasa diri lebih suci atau lebih rohani.  Segala sesuatu yang dilakukan selalu mengatasnamakan Tuhan, sehingga umat pun mengelu-elukan mereka dan meninggalkan mereka.  Apa yang mereka katakan dianggapnya sebagai suara dari Tuhan dan apa yang diperintahkan dianggapnya sebagai perintah dari Tuhan.

     Boleh saja kita mengangumi atau mengidolakan seorang hamba Tuhan atau pemimpin rohani, asalkan kita tidak memberikan pujian kepada mereka secara berlebihan, mengultuskan hamba Tuhan.  Bila hamba Tuhan tersebut tidak kuat menerima pujian, ia akan cenderung lupa diri.  Mereka lupa bahwa jika mereka berhasil dalam pelayanan, itu semua karena campur tangan Tuhan, kuasa Tuhan yang bekerja, dan kita ini hanyalah alat-Nya saja.  Karena itu jangan sekali-kali kita memegahkan diri, merasa diri hebat, dan kemudian membusungkan dada.  Herodes adalah contoh orang yang lupa diri dan gila penghormatan dari manusia, seperti dikisahkan:  "Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: 'Ini suara allah dan bukan suara manusia!'"  (Kisah 12:21-22).  Rakyat begitu mengelu-elukan Herodes dan menganggap dia sama dengan Tuhan.  Tentu saja hal ini membuat Herodes menjadi sangat tersanjung dan berbangga diri.  Akibatnya sangat fatal  (ayat nas).

     Berbeda dengan Paulus dan Barnabas!  "Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: 'Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.' Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara."  (Kisah 14:11-12).  Mendengar hal itu Paulus dan Barnabas menegur mereka,  "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu."  (Kisah 14:15a).

Tuhan saja yang layak dipuji dan dimuliakan, sebab semuanya berasal dari-Nya.

Tuesday, August 27, 2019

SERING MEREMEHKAN HAL KECIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Agustus 2019

Baca:  2 Raja-Raja 4:1-7

"Berkatalah perempuan itu: 'Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.'"  2 Raja-Raja 4:2

Adalah sifat manusia bila seringkali menganggap remeh hal-hal kecil karena dianggap kurang berarti, kurang berguna.  Fokus dan perhatian manusia semata-mata tertuju kepada hal-hal yang besar.  Akhirnya banyak orang menempuh jalan instan dengan menghalalkan segala cara demi menggapai hal-hal yang besar, tanpa mau berjuang dari bawah atau memulai dari hal-hal yang kecil.  Perhatikan!  Alkitab mencatat banyak peristiwa dahsyat terjadi dan mujizat Tuhan dinyatakan bermula dari hal-hal kecil dan sepele.  Contoh:  Tuhan sanggup memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak, hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, yang menurut pemikiran manusia tidak ada artinya.

     Ada kisah seorang wanita yang ditinggal suaminya mengalami persoalan besar karena punya hutang banyak, dan penagih hutang akan mengambil kedua anaknya untuk dijadikan budak sebagai ganti utang.  Janda ini pun mengadukan permasalahan hidupnya kepada Elisa  (nabi Tuhan).  Bertanyalah Elisa kepada janda itu apa yang ia punyai di rumah.  "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak."  (ayat nas).  Jawaban janda ini menyiratkan bahwa ia tak punya sesuatu yang berarti, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.  Menurut pandangan manusia, minyak dalam buli-buli yang sedikit itu tak sebanding dengan besarnya masalah.  Namun cara pandang Elisa berbeda, yang melihat bahwa sebuah buli-buli berisi minyak bisa menjadi sarana bagi Tuhan untuk melakukan perkara-perkara besar.  Karena itu Elisa memberikan perintah,  "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit."  (2 Raja-Raja 4:3).

     Banyak orang Kristen gagal karena melihat besarnya masalah, fokus pada keterbatasan.  Jangan anggap remeh hal kecil!  "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu."  (Matius 17:20).

Jangan batasi kuasa Tuhan dengan keterbatasan yang ada, karena Dia Mahasanggup.