Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Mei 2019
Baca: 1 Tesalonika 4:1-12
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." 1 Tesalonika 4:7
Berada di zona nyaman (comfort zone) seringkali membuat seseorang menjadi lengah atau terlena. Jika tak waspada dan berjaga-jaga, cepat atau lambat, bisa membuatnya jatuh. Dunia saat ini benar-benar membuat nyaman secara daging karena dunia sedang gencar menawarkan segala kenikmatan dan kesenangan yang menggiurkan, sehingga banyak orang tergoda untuk merasakannya. Berhati-hatilah! Di balik kenyamanan, kenikmatan dan kesenangan ini ada bahaya yang sedang mengancam kehidupan semua orang.
Ketika Yusuf sudah keluar dari penjara dan pindah ke rumah Potifar, keadaan nampak makin membaik dan semakin nyaman. Tak pernah terbersit sedikit pun dalam benak Yusuf bahwa justru di rumah Potifar yang begitu nyaman itu ada bahaya yang sedang mengancam hidupnya. "Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: 'Marilah tidur dengan aku.'" (Kejadian 39:7). Ia menjadi incaran dari isteri Potifar yang berusaha untuk menggoda dan membujuknya agar mau menuruti hasratnya. Reaksi Yusuf sungguh di luar dugaan! Yusuf secara tegas menolak permintaan isteri tuannya itu dan memilih untuk lari dan menjauh demi mempertahankan kesucian hidupnya. Itu artinya Yusuf tidak mau berkompromi atau mencemarkan diri dengan hal-hal yang cemar, padahal ia punya kesempatan besar untuk melakukan, karena tidak ada orang yang melihatnya. Ini adalah bukti bahwa Yusuf lebih memilih untuk takut akan Tuhan daripada takut kepada manusia. Kualitas hidup Yusuf benar-benar teruji, baik itu di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan keras mengingatkan: "...percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun
jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus." (Efesus 5:3). Ketika dihadapkan pada godaan dan kecemaran, tidak ada jalan lain, selain lari menjauh, seperti yang dilakukan Yusuf. Jika tidak, kita akan "...diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15).
Orang percaya harus bersikap tegas dan tidak melakukan kompromi sedikit pun dengan segala bentuk kecemaran dunia!
Monday, May 6, 2019
Sunday, May 5, 2019
TANGGA MENUJU KESUKSESAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Mei 2019
Baca: Amsal 12:1-28
"Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa." Amsal 12:24
Coba tanyakan kepada orang-orang yang sukses di dunia ini, apa yang menjadi kunci kesuksesan mereka? Semua pasti akan menjawab bahwa salah satu kunci untuk meraih sukses adalah kerajinan. Orang yang sukses tak mengenal kata 'malas' dalam hidupnya. Rajin adalah tangga menuju sukses, sedangkan malas adalah penghalang untuk meraih sukses. Jika sampai hari ini Saudara masih memelihara 'kemalasan' atau suka bermalas-malasan dalam segala hal: malas belajar, malas berdoa, malas beribadah, malas bekerja dan sebagainya...jangan pernah bermimpi menjadi orang yang sukses!
Yusuf, salah satu tokoh muda inspiratif di kitab Perjanjian Lama, adalah anak ke-11 dari Yakub dan anak pertama dari Rahel, istri yang dicintainya (Kejadian 30:24; 35:24). Alkitab menyatakan bahwa Yusuf adalah anak kesayangan, "...sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia." (Kejadian 37:3). Meskipun beroleh kasih sayang yang lebih dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, tak membuat Yusuf tumbuh menjadi anak yang manja dan bermalas-malasan. Di usia yang masih muda ia terbiasa menggembalakan kambing domba bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain (Kejadian 37:2b). Jadi, kerajinannya dalam bekerja sudah Yusuf perlihatkan saat ia masih berusia muda. Sadar atau tidak, ketika orang rajin dalam mengerjakan apa pun, sebenarnya ia sedang menapaki tangga menuju kesuksesan. Kerajinannya dalam bekerja itulah yang membuat Yusuf disukai oleh semua orang, sekalipun ia hidup dalam tekanan.
Mustahil Firaun mempercayakan seluruh kekayaannya kepada Yusuf jika ia melihat Yusuf adalah orang yang malas. Begitu pula dengan kepala penjara yang juga memercayakan kepada Yusuf semua tahanan dan semua pekerjaan yang dilakukan (Kejadian 39:22). Karena itu "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga," (Pengkhotbah 9:10), jangan suka menundanya. Pekerjaan apa pun yang diercayakan Tuhan kepada Saudara, kerjakan itu dengan rajin.
"Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina." Amsal 22:29
Baca: Amsal 12:1-28
"Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa." Amsal 12:24
Coba tanyakan kepada orang-orang yang sukses di dunia ini, apa yang menjadi kunci kesuksesan mereka? Semua pasti akan menjawab bahwa salah satu kunci untuk meraih sukses adalah kerajinan. Orang yang sukses tak mengenal kata 'malas' dalam hidupnya. Rajin adalah tangga menuju sukses, sedangkan malas adalah penghalang untuk meraih sukses. Jika sampai hari ini Saudara masih memelihara 'kemalasan' atau suka bermalas-malasan dalam segala hal: malas belajar, malas berdoa, malas beribadah, malas bekerja dan sebagainya...jangan pernah bermimpi menjadi orang yang sukses!
Yusuf, salah satu tokoh muda inspiratif di kitab Perjanjian Lama, adalah anak ke-11 dari Yakub dan anak pertama dari Rahel, istri yang dicintainya (Kejadian 30:24; 35:24). Alkitab menyatakan bahwa Yusuf adalah anak kesayangan, "...sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia." (Kejadian 37:3). Meskipun beroleh kasih sayang yang lebih dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, tak membuat Yusuf tumbuh menjadi anak yang manja dan bermalas-malasan. Di usia yang masih muda ia terbiasa menggembalakan kambing domba bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain (Kejadian 37:2b). Jadi, kerajinannya dalam bekerja sudah Yusuf perlihatkan saat ia masih berusia muda. Sadar atau tidak, ketika orang rajin dalam mengerjakan apa pun, sebenarnya ia sedang menapaki tangga menuju kesuksesan. Kerajinannya dalam bekerja itulah yang membuat Yusuf disukai oleh semua orang, sekalipun ia hidup dalam tekanan.
Mustahil Firaun mempercayakan seluruh kekayaannya kepada Yusuf jika ia melihat Yusuf adalah orang yang malas. Begitu pula dengan kepala penjara yang juga memercayakan kepada Yusuf semua tahanan dan semua pekerjaan yang dilakukan (Kejadian 39:22). Karena itu "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga," (Pengkhotbah 9:10), jangan suka menundanya. Pekerjaan apa pun yang diercayakan Tuhan kepada Saudara, kerjakan itu dengan rajin.
"Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina." Amsal 22:29
Saturday, May 4, 2019
SUKA MEMBERI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Mei 2019
Baca: Lukas 6:37-42
"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." Lukas 6:38a
Kerinduan Tuhan adalah memberkati dan memberikan kelimpahan kepada umat-Nya. "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b). Tetapi, Tuhan memberikan berkat atau kekayaan-Nya dengan suatu tujuan yang mulia. Tuhan memberkati Abraham dengan tujuan supaya ia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2). Jadi, Tuhan ingin berkat yang Ia berikan itu tidak berhenti atau dinikmati untuk diri sendiri, tapi juga harus mengalir keluar.
Oleh karena itu orang yang terberkati harus "...berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:18-19). Jadi berkat yang dimiliki harus digunakan untuk melakukan kebajikan. Banyak memberi dan membagi berkat kepada orang yang membutuhkan adalah investasi harta di sorga. Banyak orang berpikir bahwa banyak memberi pasti akan rugi, karena harta atau kekayaan berkurang. Itu adalah prinsip dunia! Perhatikan apa yang firman Tuhan katakan: "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan," (Amsal 28:27). "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan," (Amsal 11:24, 25). Prinsip Alkitab justru mengajarkan kita untuk banyak memberi, bila ingin diberkati. Inilah kehidupan yang berbuah-buah!
Menyimpan harta semata-mata untuk diri sendiri sama seperti saluran yang buntu tidak teralirkan atau tersumbat. Keadaan ini seperti Laut Mati, yang dikenal sebagai laut terasin di dunia. Karena terlalu asin, tidak ada makhluk hidup yang mampu bertahan di tempat ini, hanya bakteri tertentu saja yang bisa bertahan.
Kita harus menggunakan berkat yang Tuhan berikan untuk menolong orang lain.
Baca: Lukas 6:37-42
"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." Lukas 6:38a
Kerinduan Tuhan adalah memberkati dan memberikan kelimpahan kepada umat-Nya. "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b). Tetapi, Tuhan memberikan berkat atau kekayaan-Nya dengan suatu tujuan yang mulia. Tuhan memberkati Abraham dengan tujuan supaya ia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2). Jadi, Tuhan ingin berkat yang Ia berikan itu tidak berhenti atau dinikmati untuk diri sendiri, tapi juga harus mengalir keluar.
Oleh karena itu orang yang terberkati harus "...berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:18-19). Jadi berkat yang dimiliki harus digunakan untuk melakukan kebajikan. Banyak memberi dan membagi berkat kepada orang yang membutuhkan adalah investasi harta di sorga. Banyak orang berpikir bahwa banyak memberi pasti akan rugi, karena harta atau kekayaan berkurang. Itu adalah prinsip dunia! Perhatikan apa yang firman Tuhan katakan: "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan," (Amsal 28:27). "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan," (Amsal 11:24, 25). Prinsip Alkitab justru mengajarkan kita untuk banyak memberi, bila ingin diberkati. Inilah kehidupan yang berbuah-buah!
Menyimpan harta semata-mata untuk diri sendiri sama seperti saluran yang buntu tidak teralirkan atau tersumbat. Keadaan ini seperti Laut Mati, yang dikenal sebagai laut terasin di dunia. Karena terlalu asin, tidak ada makhluk hidup yang mampu bertahan di tempat ini, hanya bakteri tertentu saja yang bisa bertahan.
Kita harus menggunakan berkat yang Tuhan berikan untuk menolong orang lain.
Friday, May 3, 2019
BERMURAH HATI SEPERTI BAPA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Mei 2019
Baca: Lukas 6:27-36
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Lukas 6:36
Murah hati adalah salah satu sifat atau karakter yang harus ada dalam diri orang percaya. Mengapa? Karena Kristus telah meninggalkan teladan hidup bagi kita, maka dari itu kita harus mengikuti jejak-Nya. Sebagai anak Tuhan adalah mutlak bagi kita mewarisi sifat atau karakter dari Bapa-Nya, salah satunya adalah hal kemurahan hati. Murah hati adalah cara untuk menyatakan perbuatan baik kepada orang lain. Kemurahan hati selalu ditandai dengan sikap yang penuh belas kasihan terhadap orang lain, adanya tindakan suka memberi, tidak berlaku pelit, suka menolong, baik hati, dan sebagainya.
Bermurah hati merupakan perintah Tuhan yang harus dilakukan oleh orang percaya yang telah beroleh kemurahan dari Tuhan. Karena kemurahan Tuhan sematalah dosa-dosa kita telah diampuni dan kita diselamatkan.. Kemurahan hati (bahasa Inggris: compassion), berasal dari dua kata latin pati dan cum yang berarti menderita bersama, berbela rasa, murah hati. Kepada siapa kita harus bermurah hati? Kita harus bermurah hati bukan hanya kepada orang-orang yang berlaku baik kepada kita atau orang yang mengasihi kita, melainkan kepada semua orang, termasuk kepada musuh atau orang yang menyakiti kita sekalipun. "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka." (Lukas 6:31-32).
Alkitab menyatakan bahwa ada berkat tersedia bagi orang-orang yang memiliki kemurahan hati, yaitu mendapatkan upah yang besar dari Tuhan (Lukas 6:33) dan juga beroleh kemurahan. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Dinyatakan pula bahwa "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri," (Amsal 11:17). Kemurahan hati adalah salah satu dari buah Roh yang harus dihasilkan dalam kehidupan orang percaya (Galatia 5:22-23). Ini adalah proses hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya melalui persekutuan yang karib dengan Tuhan, ibadah, pelayanan, doa, dan ketaatannya dalam mengiring Kristus. Inilah kehiduan orang yang telah diubahkan oleh Roh Kudus!
Berkat selalu mengikuti kehidupan orang yang penuh kemurahan hati!
Baca: Lukas 6:27-36
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Lukas 6:36
Murah hati adalah salah satu sifat atau karakter yang harus ada dalam diri orang percaya. Mengapa? Karena Kristus telah meninggalkan teladan hidup bagi kita, maka dari itu kita harus mengikuti jejak-Nya. Sebagai anak Tuhan adalah mutlak bagi kita mewarisi sifat atau karakter dari Bapa-Nya, salah satunya adalah hal kemurahan hati. Murah hati adalah cara untuk menyatakan perbuatan baik kepada orang lain. Kemurahan hati selalu ditandai dengan sikap yang penuh belas kasihan terhadap orang lain, adanya tindakan suka memberi, tidak berlaku pelit, suka menolong, baik hati, dan sebagainya.
Bermurah hati merupakan perintah Tuhan yang harus dilakukan oleh orang percaya yang telah beroleh kemurahan dari Tuhan. Karena kemurahan Tuhan sematalah dosa-dosa kita telah diampuni dan kita diselamatkan.. Kemurahan hati (bahasa Inggris: compassion), berasal dari dua kata latin pati dan cum yang berarti menderita bersama, berbela rasa, murah hati. Kepada siapa kita harus bermurah hati? Kita harus bermurah hati bukan hanya kepada orang-orang yang berlaku baik kepada kita atau orang yang mengasihi kita, melainkan kepada semua orang, termasuk kepada musuh atau orang yang menyakiti kita sekalipun. "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka." (Lukas 6:31-32).
Alkitab menyatakan bahwa ada berkat tersedia bagi orang-orang yang memiliki kemurahan hati, yaitu mendapatkan upah yang besar dari Tuhan (Lukas 6:33) dan juga beroleh kemurahan. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Dinyatakan pula bahwa "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri," (Amsal 11:17). Kemurahan hati adalah salah satu dari buah Roh yang harus dihasilkan dalam kehidupan orang percaya (Galatia 5:22-23). Ini adalah proses hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya melalui persekutuan yang karib dengan Tuhan, ibadah, pelayanan, doa, dan ketaatannya dalam mengiring Kristus. Inilah kehiduan orang yang telah diubahkan oleh Roh Kudus!
Berkat selalu mengikuti kehidupan orang yang penuh kemurahan hati!
Thursday, May 2, 2019
MELAWAN IBLIS, DUNIA DAN KEDAGINGAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Mei 2019
Baca: Galatia 5:16-26
"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." Galatia 5:17
Di sepanjang perjalanan hidupnya manusia akan selalu diperhadapkan dengan peperangan rohani: berperang melawan si jahat (Iblis), berperang melawan cara hidup dunia, dan berperang melawan keinginan dagingnya sendiri. Inilah tiga musuh terbesar yang harus dihadapi oleh manusia hari lepas hari. Iblis dan dunia berusaha sedemikian rupa untuk menarik manusia sejauh mungkin dari jalan-jalan Tuhan, dan supaya manusia lebih menuruti dan memuaskan keinginan dagingnya saja. Firman Tuhan sudah memperingatkan: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).
Hal pertama yang harus kita lakukan dalam menghadapi Iblis adalah tunduk kepada Tuhan. Tanpa memiliki penundukan diri kepada Tuhan, kita takkan mampu menghadapi Iblis. Kita membutuhkan kekuatan adikodrati untuk dapat melawan Iblis. "Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). "Lawanlah dia dengan iman yang teguh," (1 Petrus 5:9). Menghadapi dunia? "Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita." (1 Yohanes 5:4b). Tidak ada istilah kompromi dengan dunia ini! Sebab barangsiapa hendak menjadi sahabat bagi dunia, ia menjadikan dirinya musuh Tuhan (Yakobus 4:4). Karena itu "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:15-16).
Rasul Paulus menyadari di dalam dirinya ada peperangan: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat." (Roma 7:15). Dengan mengandalkan kekuatan sendiri, sulit untuk menang, hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita bisa.
Melekat kepada Tuhan dan mau dipimpin Roh Kudus adalah kunci memenangkan peperangan rohani.
Baca: Galatia 5:16-26
"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." Galatia 5:17
Di sepanjang perjalanan hidupnya manusia akan selalu diperhadapkan dengan peperangan rohani: berperang melawan si jahat (Iblis), berperang melawan cara hidup dunia, dan berperang melawan keinginan dagingnya sendiri. Inilah tiga musuh terbesar yang harus dihadapi oleh manusia hari lepas hari. Iblis dan dunia berusaha sedemikian rupa untuk menarik manusia sejauh mungkin dari jalan-jalan Tuhan, dan supaya manusia lebih menuruti dan memuaskan keinginan dagingnya saja. Firman Tuhan sudah memperingatkan: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).
Hal pertama yang harus kita lakukan dalam menghadapi Iblis adalah tunduk kepada Tuhan. Tanpa memiliki penundukan diri kepada Tuhan, kita takkan mampu menghadapi Iblis. Kita membutuhkan kekuatan adikodrati untuk dapat melawan Iblis. "Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). "Lawanlah dia dengan iman yang teguh," (1 Petrus 5:9). Menghadapi dunia? "Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita." (1 Yohanes 5:4b). Tidak ada istilah kompromi dengan dunia ini! Sebab barangsiapa hendak menjadi sahabat bagi dunia, ia menjadikan dirinya musuh Tuhan (Yakobus 4:4). Karena itu "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:15-16).
Rasul Paulus menyadari di dalam dirinya ada peperangan: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat." (Roma 7:15). Dengan mengandalkan kekuatan sendiri, sulit untuk menang, hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita bisa.
Melekat kepada Tuhan dan mau dipimpin Roh Kudus adalah kunci memenangkan peperangan rohani.
Wednesday, May 1, 2019
KETAATAN KRISTUS: Teladan Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Mei 2019
Baca: Ibrani 5:1-10
"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," Ibrani 5:8
Pada dasarnya manusia sulit untuk taat kepada kehendak Tuhan. Bahkan sikap tak mau taat tersebut sudah ditunjukkan oleh manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Tuhan berfirman: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, ...Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (Kejadian 3:2-3). Tetapi Adam dan Hawa termakan oleh bujuk rayu si ular (Iblis) sehingga akhirnya mereka memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Inilah benih ketidaktaatan yang telah Adam wariskan, sehingga "...oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa," (Roma 5:19).
Perubahan menjadi orang taat tidak terjadi dalam semalam, butuh proses dan ada harga yang harus dibayar. Bila diiming-imingi dengan hadiah, bonus, dijanjikan sesuatu yang menggiurkan, atau ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar dan baik-baik saja, mungkin orang mau taat. Tapi bila keadaan sedang tidak baik, diperhadapkan dengan masalah, kesesakan atau penderitaan, masihkah kita mau taat? Ayat nas menyatakan bahwa Kristus sendiri belajar taat melalui penderitaan yang dialami-Nya. Sekalipun harus menderita aniaya, kritikan dan penghinaan, Kristus tetap taat kepada kehendak Bapa, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8).
Ketika diperhadapkan dengan masalah dan penderitaan, banyak orang Kristen tidak bisa menerima keadaan tersebut, mereka marah dan komplain kepada Tuhan. "Aku sudah melakukan kehendak Tuhan, tapi mengapa masalah dan penderitaan masih saja kualami?" Kemudian mereka memberontak kepada Tuhan dan tak lagi mau taat kepada kehendak Tuhan. Perhatikan! Karena taat melakukan kehendak Bapa dan bahkan taat sampai mati di kayu salib, akhirnya Kristus beroleh peninggian dari Bapa: "...mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Di balik penderitaan ada kemuliaan dinyatakan, dan semua diawali dengan ketaatan.
Sesulit apa pun keadaannya, belajarlah untuk tetap taat kepada kehendak Tuhan; kalau kita mampu bertahan, kemuliaan-Nya pasti dinyatakan atas hidup kita.
Baca: Ibrani 5:1-10
"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," Ibrani 5:8
Pada dasarnya manusia sulit untuk taat kepada kehendak Tuhan. Bahkan sikap tak mau taat tersebut sudah ditunjukkan oleh manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Tuhan berfirman: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, ...Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (Kejadian 3:2-3). Tetapi Adam dan Hawa termakan oleh bujuk rayu si ular (Iblis) sehingga akhirnya mereka memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Inilah benih ketidaktaatan yang telah Adam wariskan, sehingga "...oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa," (Roma 5:19).
Perubahan menjadi orang taat tidak terjadi dalam semalam, butuh proses dan ada harga yang harus dibayar. Bila diiming-imingi dengan hadiah, bonus, dijanjikan sesuatu yang menggiurkan, atau ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar dan baik-baik saja, mungkin orang mau taat. Tapi bila keadaan sedang tidak baik, diperhadapkan dengan masalah, kesesakan atau penderitaan, masihkah kita mau taat? Ayat nas menyatakan bahwa Kristus sendiri belajar taat melalui penderitaan yang dialami-Nya. Sekalipun harus menderita aniaya, kritikan dan penghinaan, Kristus tetap taat kepada kehendak Bapa, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8).
Ketika diperhadapkan dengan masalah dan penderitaan, banyak orang Kristen tidak bisa menerima keadaan tersebut, mereka marah dan komplain kepada Tuhan. "Aku sudah melakukan kehendak Tuhan, tapi mengapa masalah dan penderitaan masih saja kualami?" Kemudian mereka memberontak kepada Tuhan dan tak lagi mau taat kepada kehendak Tuhan. Perhatikan! Karena taat melakukan kehendak Bapa dan bahkan taat sampai mati di kayu salib, akhirnya Kristus beroleh peninggian dari Bapa: "...mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Di balik penderitaan ada kemuliaan dinyatakan, dan semua diawali dengan ketaatan.
Sesulit apa pun keadaannya, belajarlah untuk tetap taat kepada kehendak Tuhan; kalau kita mampu bertahan, kemuliaan-Nya pasti dinyatakan atas hidup kita.
Tuesday, April 30, 2019
JANGAN BANGKITKAN MURKA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 April 2019
Baca: 2 Tawarikh 36:11-21
"Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan." 2 Tawarikh 36:16
Pada zaman raja Zedekia memerintah, umat Israel benar-benar mengalami degradasi iman yang luar biasa. Sebagai raja seharusnya Zedekia dapat menjadi contoh atau teladan bagi rakyat yang dipimpinnya, tapi justru melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Semua orang termasuk para imam berubah tidak setia dengan mengikuti kekejian bangsa-bangsa lain. "Rumah yang dikuduskan TUHAN di Yerusalem itu dinajiskan mereka." (ayat 14). Meski demikian Tuhan tetap menunjukkan kasih-Nya dengan berkali-kali mengutus hamba-hamba-Nya untuk menegur dan memperingatkan mereka. Tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati dan tak memedulikan teguran dan peringatan Tuhan ini.
Alkitab menyatakan bahwa mereka mengolok-olok para utusan Tuhan ini. Mengolok-olok berarti mempermainkan dengan perkataan yang bersifat ejekan; perkataan yang mengandung sindiran (ejekan, lelucon) atau perkataan untuk bermain-main saja; kelakar, senda gurau. Mereka menganggap remeh dan merendahkan orang-orang yang diutus Tuhan, dan bahkan mereka berani menghina firman Tuhan. Itu sama artinya mereka juga meremehkan Tuhan dan tak menghormati Dia. Karena perbuatan mereka sangat kelewatan, maka bangkitlah murka Tuhan atas mereka: "TUHAN menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna atau gadis, orang tua atau orang ubanan--semua diserahkan TUHAN ke dalam tangannya." (2 Tawarikh 36:17). Contoh kasus lain: anak-anak di kota Betel mengolok-olok Elisa (nabi Tuhan): "botak...botak!" akhirnya mereka harus menuai akibatnya yaitu tubuhnya dicabik-cabik oleh beruang hutan (2 Raja-Raja 2:23-24). Karena itu berhati-hatilah dengan ucapan Saudara!
Jangan sekali-kali kita merendahkan orang lain dengan kata-kata olokan (ejekan), terlebih-lebih berani mengolok-olok hamba-hamba Tuhan dan menghina firman Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang di zaman raja Zedekia ini. Tuhan sendiri yang akan berperkara! Jangan pula kita meremehkan setiap teguran dan peringatan Tuhan.
"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya," Amsal 13:13
Baca: 2 Tawarikh 36:11-21
"Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan." 2 Tawarikh 36:16
Pada zaman raja Zedekia memerintah, umat Israel benar-benar mengalami degradasi iman yang luar biasa. Sebagai raja seharusnya Zedekia dapat menjadi contoh atau teladan bagi rakyat yang dipimpinnya, tapi justru melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Semua orang termasuk para imam berubah tidak setia dengan mengikuti kekejian bangsa-bangsa lain. "Rumah yang dikuduskan TUHAN di Yerusalem itu dinajiskan mereka." (ayat 14). Meski demikian Tuhan tetap menunjukkan kasih-Nya dengan berkali-kali mengutus hamba-hamba-Nya untuk menegur dan memperingatkan mereka. Tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati dan tak memedulikan teguran dan peringatan Tuhan ini.
Alkitab menyatakan bahwa mereka mengolok-olok para utusan Tuhan ini. Mengolok-olok berarti mempermainkan dengan perkataan yang bersifat ejekan; perkataan yang mengandung sindiran (ejekan, lelucon) atau perkataan untuk bermain-main saja; kelakar, senda gurau. Mereka menganggap remeh dan merendahkan orang-orang yang diutus Tuhan, dan bahkan mereka berani menghina firman Tuhan. Itu sama artinya mereka juga meremehkan Tuhan dan tak menghormati Dia. Karena perbuatan mereka sangat kelewatan, maka bangkitlah murka Tuhan atas mereka: "TUHAN menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna atau gadis, orang tua atau orang ubanan--semua diserahkan TUHAN ke dalam tangannya." (2 Tawarikh 36:17). Contoh kasus lain: anak-anak di kota Betel mengolok-olok Elisa (nabi Tuhan): "botak...botak!" akhirnya mereka harus menuai akibatnya yaitu tubuhnya dicabik-cabik oleh beruang hutan (2 Raja-Raja 2:23-24). Karena itu berhati-hatilah dengan ucapan Saudara!
Jangan sekali-kali kita merendahkan orang lain dengan kata-kata olokan (ejekan), terlebih-lebih berani mengolok-olok hamba-hamba Tuhan dan menghina firman Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang di zaman raja Zedekia ini. Tuhan sendiri yang akan berperkara! Jangan pula kita meremehkan setiap teguran dan peringatan Tuhan.
"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya," Amsal 13:13
Monday, April 29, 2019
MERENDAHKAN DIRI: Kunci Dipulihkan Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 April 2019
Baca: 1 Raja-Raja 21:20-29
"Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya." 1 Raja-Raja 21:29
Ahab adalah seorang raja Israel yang berlaku jahat di mata Tuhan, "...dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel." (1 Raja-Raja 21:26). Perbuatan Ahab ini benar-benar menimbulkan sakit hati Tuhan, sebab kejahatan yang diperbuatnya "...lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya." (1 Raja-Raja 16:33). Salah satu kejahatan Ahab adalah merampas kebun anggur milik Nabot dan membunuhnya melalui tangan orang lain.
Namun sungguh mengejutkan karena ayat nas di atas menyatakan bahwa segala perbuatan Ahab yang teramat jahat ini tidak lagi diperhitungkan oleh Tuhan, sehingga Dia "...tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya;" (ayat nas). Mengapa? Karena Ahab mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, "...ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban." (1 Raja-Raja 21:27). Inilah yang menggerakkan hati Tuhan untuk menyatakan belas kasihan-Nya. Ada tertulis: "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14), "Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;" (Mazmur 30:6).
Tuhan berfirman melalui nabi Elia bahwa Dia tidak jadi mendatangkan malapetaka pada zamannya dan barulah malapetaka itu datang pada zaman anaknya. Sekarang ini tidak banyak orang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kebanyakan orang berlaku sombong dan merasa gengsi jika harus mengakui dosa dan kesalahannya, padahal "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2b).
Jika saat ini kita hidup menyimpang dari jalan Tuhan, segeralah datang kepada Tuhan, rendahkan diri di hadapan-Nya dan bertobat, Tuhan pasti akann mengampuni dosa kita dan memulihkan keadaan kita.
Baca: 1 Raja-Raja 21:20-29
"Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya." 1 Raja-Raja 21:29
Ahab adalah seorang raja Israel yang berlaku jahat di mata Tuhan, "...dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel." (1 Raja-Raja 21:26). Perbuatan Ahab ini benar-benar menimbulkan sakit hati Tuhan, sebab kejahatan yang diperbuatnya "...lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya." (1 Raja-Raja 16:33). Salah satu kejahatan Ahab adalah merampas kebun anggur milik Nabot dan membunuhnya melalui tangan orang lain.
Namun sungguh mengejutkan karena ayat nas di atas menyatakan bahwa segala perbuatan Ahab yang teramat jahat ini tidak lagi diperhitungkan oleh Tuhan, sehingga Dia "...tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya;" (ayat nas). Mengapa? Karena Ahab mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, "...ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban." (1 Raja-Raja 21:27). Inilah yang menggerakkan hati Tuhan untuk menyatakan belas kasihan-Nya. Ada tertulis: "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14), "Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;" (Mazmur 30:6).
Tuhan berfirman melalui nabi Elia bahwa Dia tidak jadi mendatangkan malapetaka pada zamannya dan barulah malapetaka itu datang pada zaman anaknya. Sekarang ini tidak banyak orang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kebanyakan orang berlaku sombong dan merasa gengsi jika harus mengakui dosa dan kesalahannya, padahal "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2b).
Jika saat ini kita hidup menyimpang dari jalan Tuhan, segeralah datang kepada Tuhan, rendahkan diri di hadapan-Nya dan bertobat, Tuhan pasti akann mengampuni dosa kita dan memulihkan keadaan kita.
Sunday, April 28, 2019
KESAKSIAN HIDUP: Warisan Yang Tak Lekang
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 April 2019
Baca: 2 Petrus 1:3-5
"Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu." 2 Petrus 1:15
Semua orangtua mana pun yang ada di dunia ini pasti ingin sekali meninggalkan warisan harta benda kepada anak-anaknya jika suatu kelak ia harus berpulang (meninggal). Itu baik! Seperti ada tertulis: "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya," (Amsal 13:22). Tetapi adalah lebih baik dan teramat penting jika setiap orang juga meninggalkan 'warisan rohani' kepada orang-orang yang ditinggalkan. Warisan rohani ini berbicara tentang keteladanan hidup, warisan kehidupan yang bercahaya yang dapat membawa dampak bagi banyak orang, sekalipun ia sudah tiada.
Karena itulah rasul Paulus tidak mennyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang dimiliki untuk bergiat dalam mengerjakan panggilan Tuhan dan tak berhenti untuk terus memberitakan kebenaran kepada orang lain dan juga hidup di dalam kebenaran tersebut, sampai kepada orang lain dan juga hidup di dalam kebenaran tersebut, sampai kepada garis akhir hidupnya, "Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (2 Petrus 1:13-14). Melalui surat-surat yang ia tulis kepada umat atau jemaat Tuhan rasul Petrus selalu mengingatkan: "...saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan..." (2 Petrus 1:10).
Sudahkah kita turut ambil bagian dalam usaha pelebaran kerajaan Sorga di muka bumi ini, dengan melayani jiwa-jiwa dan membawa orang lain untuk semakin mengenal Kristus dan kebenaran-Nya? Hidup adalah sebuah kesempatan. Marilah kita gunakan waktu-waktu yang ada untuk hidup bagi Tuhan lebih dan lebih lagi. Biarlah ketaatan, ketekunan, dan semangat kita dalam mengerjakan perkara-perkara rohani dapat menjadi inspirasi bagi orang lain sehingga kehidupan kita menjadi berkat dan kesaksian, sehingga sampai kita meninggalkan dunia ini hal itu tetap dikenang.
"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar," Amsal 22:1
Baca: 2 Petrus 1:3-5
"Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu." 2 Petrus 1:15
Semua orangtua mana pun yang ada di dunia ini pasti ingin sekali meninggalkan warisan harta benda kepada anak-anaknya jika suatu kelak ia harus berpulang (meninggal). Itu baik! Seperti ada tertulis: "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya," (Amsal 13:22). Tetapi adalah lebih baik dan teramat penting jika setiap orang juga meninggalkan 'warisan rohani' kepada orang-orang yang ditinggalkan. Warisan rohani ini berbicara tentang keteladanan hidup, warisan kehidupan yang bercahaya yang dapat membawa dampak bagi banyak orang, sekalipun ia sudah tiada.
Karena itulah rasul Paulus tidak mennyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang dimiliki untuk bergiat dalam mengerjakan panggilan Tuhan dan tak berhenti untuk terus memberitakan kebenaran kepada orang lain dan juga hidup di dalam kebenaran tersebut, sampai kepada orang lain dan juga hidup di dalam kebenaran tersebut, sampai kepada garis akhir hidupnya, "Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (2 Petrus 1:13-14). Melalui surat-surat yang ia tulis kepada umat atau jemaat Tuhan rasul Petrus selalu mengingatkan: "...saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan..." (2 Petrus 1:10).
Sudahkah kita turut ambil bagian dalam usaha pelebaran kerajaan Sorga di muka bumi ini, dengan melayani jiwa-jiwa dan membawa orang lain untuk semakin mengenal Kristus dan kebenaran-Nya? Hidup adalah sebuah kesempatan. Marilah kita gunakan waktu-waktu yang ada untuk hidup bagi Tuhan lebih dan lebih lagi. Biarlah ketaatan, ketekunan, dan semangat kita dalam mengerjakan perkara-perkara rohani dapat menjadi inspirasi bagi orang lain sehingga kehidupan kita menjadi berkat dan kesaksian, sehingga sampai kita meninggalkan dunia ini hal itu tetap dikenang.
"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar," Amsal 22:1
Saturday, April 27, 2019
TAK HIRAUKAN PERINGATAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 April 2019
Baca: Kejadian 4:1-16
"Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kejadian 4:7
Banyak orang tanpa sadar telah menghancurkan hidupnya sendiri melalui tindakan-tindakan bodoh atau ketidaktaatan mereka, padahal mereka sudah ditegur dan diperingatkan Tuhan dengan kasih. Hal ini terjadi pada Kain! Ketika hatinya dipenuhi dengan kemarahan, iri dan dengki terhadap adiknya, Tuhan sudah memperingatkan dan menegurnya dengan halus. Tuhan berkata: "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu;" (ayat nas). Tuhan meyakinkan Kain bahwa sesungguhnya ia dapat memenangkan peperangan batin tersebut, namun anak sulung Adam ini tak menghiraukan peringatan Tuhan ini dan tetap mengikuti kehendak hatinya: "Kata Kain kepada Habel, adiknya: 'Marilah kita pergi ke padang.' Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia." (Kejadian 4:8).
Ini merupakan tindak kejahatan pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia. Kain yang tampak tak menyesal sedikit pun dengan apa yang diperbuatnya ini harus menanggung hukuman dari Tuhan: "...terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." (Kejadian 4:11-12). Sampai detik ini ada jutaan manusia di muka bumi ini yang menempuh 'jalan' Kain! Hanya karena tersulut emosi, benci, iri hati, cemburu atau karena mengingini harta milik orang lain mereka tega melakukan tindakan yang keji yaitu menghabisi nyawa orang lain, tanpa memikirkan resiko atau akibatnya.
Penting sekali orang memiliki penguasaan diri! Jika tidak, maka dosa sudah mengintip di depan pintu. "...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15).
Karena tak menghiraukan peringatan Tuhan, hidup Kain menjadi hancur!
Baca: Kejadian 4:1-16
"Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kejadian 4:7
Banyak orang tanpa sadar telah menghancurkan hidupnya sendiri melalui tindakan-tindakan bodoh atau ketidaktaatan mereka, padahal mereka sudah ditegur dan diperingatkan Tuhan dengan kasih. Hal ini terjadi pada Kain! Ketika hatinya dipenuhi dengan kemarahan, iri dan dengki terhadap adiknya, Tuhan sudah memperingatkan dan menegurnya dengan halus. Tuhan berkata: "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu;" (ayat nas). Tuhan meyakinkan Kain bahwa sesungguhnya ia dapat memenangkan peperangan batin tersebut, namun anak sulung Adam ini tak menghiraukan peringatan Tuhan ini dan tetap mengikuti kehendak hatinya: "Kata Kain kepada Habel, adiknya: 'Marilah kita pergi ke padang.' Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia." (Kejadian 4:8).
Ini merupakan tindak kejahatan pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia. Kain yang tampak tak menyesal sedikit pun dengan apa yang diperbuatnya ini harus menanggung hukuman dari Tuhan: "...terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." (Kejadian 4:11-12). Sampai detik ini ada jutaan manusia di muka bumi ini yang menempuh 'jalan' Kain! Hanya karena tersulut emosi, benci, iri hati, cemburu atau karena mengingini harta milik orang lain mereka tega melakukan tindakan yang keji yaitu menghabisi nyawa orang lain, tanpa memikirkan resiko atau akibatnya.
Penting sekali orang memiliki penguasaan diri! Jika tidak, maka dosa sudah mengintip di depan pintu. "...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15).
Karena tak menghiraukan peringatan Tuhan, hidup Kain menjadi hancur!
Subscribe to:
Comments (Atom)