Tuesday, January 29, 2019

PEMIMPIN ROHANI: Bekerja Keras Untuk Kita (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Januari 2019

Baca:  1 Tesalonika 5:12-22

"Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;"  1 Tesalonika 5:12

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan mudah.  Kita harus siap mental karena jarang sekali beroleh pujian, sekalipun berprestasi, tapi kalau melakukan sedikit kesalahan, maka kritikan cibiran dan hujatan akan datang bertubi-tubi.  Terlebih-lebih menjadi pemimpin rohani!  Pemimpin rohani adalah seorang yang memberi tuntunan, arahan, nasihat, bimbingan kepada orang lain mengenai perkara-perkara rohani;  membimbing seseorang untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan mengenal kebenaran-Nya.  Berdasarkan nas di atas, yang dimaksudkan pemimpin rohani adalah orang-orang yang bekerja keras dalam memimpin jemaat, menegor kesalahan, menasihati, memberikan dorongan semangat, dan juga menyampaikan firman Tuhan.

     Rasul Paulus menasihati agar kita belajar memberikan kepada pemimpin rohani kita sikap hormat dan menghargai jerih lelah dan pengorbanan mereka.  Jangan hanya menyalahkan, menghakimi, membicarakan kelemahan dan kekurangannya.  Bukankah hal ini masih sering terjadi?  Dan mengapa hal ini perlu dipertegas kembali?  Karena pemimpin rohani adalah orang-orang yang telah ditetapkan Tuhan untuk memimpin kita dalam hal kerohanian;  mereka bekerja keras mengajar, membimbing, menegor dan menyampaikan kebenaran firman Tuhan supaya jemaat semakin memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan, semakin bertumbuh imannya dan semakin dewasa rohani.

     Mengapa kita harus menghormati pemimpin rohani kita?  Karena mereka sudah bekerja keras untuk kita, tapi bukan mengkultuskan dia.  Tuhan tetaplah yang tertinggi dan terutama untuk disembah, ditinggikan dan dimuliakan, sedangkan pemimpin rohani layak untuk dihormati.  Pemimpin rohani adalah karunia Tuhan bagi jemaat.  "...Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,"  (Efesus 4:11-12).

Monday, January 28, 2019

KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN KERJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Januari 2019

Baca:  Markus 1:35-39

"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."  Markus 1:35

Ada ungkapan bahasa Latin:  Ora Et Labora  (berdoa dan bekerja).  Ungkapan ini sebagai penegasan bahwa berdoa dan bekerja adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, saling melengkapi dan ada keseimbangan.  Kita tidak boleh hanya berdoa saja tanpa melakukan sesuatu.  Jadi harus disertai dengan tindakan, usaha atau bekerja.  Sebaliknya kita juga tidak boleh bekerja saja tanpa disertai berdoa, sebab itu artinya kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan mengesampingkan Tuhan sebagai Sang Pemberi berkat.

     Kristus adalah teladan utama dalam hal berdoa dan bekerja ini:  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17).  Semasa berada di bumi Kristus begitu giat mengerjakan tugas dari Bapa yaitu melayani jiwa-jiwa:  berkhotbah, memberitakan Injil dari desa ke desa, mengajar, dan menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan.  Meski disibukkan dengan jadwal pelayanan-Nya yang padat Kristus tak mengabaikan jam-jam doa.  Ia selalu menyediakan waktu secara pribadi untuk berdoa dan bersekutu dengan Bapa.  Jadi ada keseimbangan antara bekerja  (pelayanan)  dan berdoa.  Ayat nas menyatakan bahwa pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Kristus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.  Ini menunjukkan bahwa Kristus menempatkan hubungan dengan Bapa  (doa)  sebagai hal yang terutama sebelum Ia melakukan segala sesuatu di hari yang baru.  Setelah berdoa barulah Kristus mengajak murid-murid-Nya untuk bekerja memberitakan Injil di seluruh Galilea.

     Bagaimana dengan Saudara?  Di zaman sekarang ini semua orang disibukkan dengan aktivitasnya yang padat:  sibuk dengan pekerjaan di kantor, sibuk dengan pelayanan dan sebagainya.  Sesibuk apa pun jangan sekali-kali Saudara meninggalkan jam-jam doa.  Kita semua diberi waktu yang sama yaitu 24 jam sehari,  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"  (Matius 26:40b).  Namun mungkin ada di antara kita yang justru menganggap bahwa doa saja sudah cukup dan tak perlu kita bekerja.  Itu pun salah besar!  "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (2 Tesalonika 3:10).

Dengan berdoa, Tuhan memberkati apa pun yang kita kerjakan!

Sunday, January 27, 2019

PEMUDA EUTHIKUS: Bangkit Kembali

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Januari 2019

Baca:  Kisah Para Rasul 20:7-12

"Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati."  Kisah 20:9b

Pernahkah Saudara mengantuk saat ibadah berlangsung?  Jujur jawabnya:  pernah!  Atau mungkin bukan hanya sekali atau dua kali kita mengantuk, tapi hampir di setiap ibadah kita diserang oleh rasa kantuk yang demikian hebatnya.  Apalagi kalau jam ibadahnya berlangsung pada siang hari dan udara terasa panas, plus cara si hamba Tuhan dalam menyampaikan khotbahnya begitu membosankan dan lama.

     Kantuk  (drowsiness)  adalah keadaan ketika seseorang ingin tidur.  Ada beberapa penyebab kantuk, di antaranya adalah karena kurang istirahat.  Orang dewasa memerlukan waktu tidur sekitar 7-9 jam per hari, dan apabila seorang tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk tidur, maka dirinya akan merasa mengantuk pada siang hari.  Penyebab lain adalah pola tidur yang berubah.  Orang dengan profesi yang mengharuskan dirinya bekerja dalam jadwal/shift kerja yang berganti-ganti akan memiliki pola tidur yang tidak tetap pula, sehingga hal itu menyebabkan gangguan irama tubuh atau ritme sirkadian.  Gangguan tersebut bisa menimbulkan perasaan kantuk.  Alkitab juga mencatat ada seorang pemuda yang mengantuk saat mendengarkan khotbah.  Pemuda itu bernama Euthikus, yang  "...duduk di jendela."  (Kisah 20:9a), saat mendengarkan Paulus berkhotbah.  Karena mengantuk, Euthikus sampai terjatuh dari tingkat tiga ke bawah.  "Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati."  (ayat nas).  Rasul Paulus merasa bertanggung jawab atas musibah ini, maka ia pun  "...turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: 'Jangan ribut, sebab ia masih hidup.'"  (Kisah 20:10).

     Mengapa Paulus begitu yakin bahwa Euthikus masih hidup?  Dalam hal ini Paulus tidak asal bicara atau berhalusinasi.  Imanlah yang membuat Paulus merasa yakin bahwa pemuda itu hidup dan dapat dibangkitkan lagi.  "...ia masih hidup."  adalah ungkapan iman Paulus.  Iman sanggup menentang alam logika manusia.  Dengan iman Paulus percaya meski segala sesuatunya belum terlihat secara kasat mata.  Terbukti:  Euthikus bangkit kembali.  Itu bukan karena kehebatan Paulus, tapi karena iman yang bekerja di dalamnya.

Iman kepada Kristus sanggup mengalahkan kemustahilan manusia!

Saturday, January 26, 2019

BUKAN BUKIT DAN GUNUNG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Januari 2019

Baca:  Yeremia 3:14-25

"Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel!"  Yeremia 3:23

Di zaman dahulu bukit-bukit dan gunung-gunung yang tinggi seringkali menjadi kebanggaan suatu bangsa.  Mengapa?  Karena menurut pemikiran mereka, bukit-bukit dan gunung-gunung yang tinggi menjulang dapat dijadikan sebagai tempat untuk berlindung.  Ketika musuh datang menyerang segeralah mereka berlari kesana untuk berlindung, dan apabila musuh sudah pergi, barulah mereka turun kembali untuk melakukan aktivitas seperti sediakala.  Jadi bukit-bukit dan gunung-gunung menjadi harapan semua orang untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari segala marabahaya.

     Tetapi dengan tegas nabi Yeremia memperingatkan bahwa bukit-bukit dan gunung-gunung adalah tipu daya.  Adalah sia-sia kita berlindung kepadanya.  Nabi Amos pun menulis:  "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria,..."  (Amos 6:1).  Namun sampai saat ini masih banyak orang yang memilih untuk pergi ke bukit-bukit, gunung-gunung, gua-gua dan makam-makam untuk mencari pertolongan dan berkat.  Kalau pun mereka beroleh jawaban, itu hanyalah tipu muslihat Iblis untuk menjerat mereka.  Pertolongan itu hanya sementara waktu dan semu belaka, dan pada akhirnya manusia harus membayar harganya.  Bukit dan gunung-gunung yang tinggi menjulang juga bisa berbicara tentang uang, kekayaan, emas, mobil, aset-aset berharga, jabatan atau dokter yang selalu diandalkan dan sebagainya.  Betapa banyak  'gunung-gunung'  mengelilingi kita yang nampak begitu kokoh dan bisa kita banggakan untuk tempat kita berlindung ketika kesesakan datang.

     Ada tertulis,  "Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung."  (Wahyu 16:20).  Demikianlah gunung-gunung pengharapan kita tidak kekal.  Ada sumber pertolongan yang jauh lebih hebat dari apa pun yaitu Kristus, satu-satunya penolong kita,  "...tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!"  (Ulangan 33:27).

"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  Mazmur 121:2

Friday, January 25, 2019

DAHSYATNYA KEKUATAN DOA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Januari 2019

Baca:  Kisah Para Rasul 12:1-19

"Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia."  Kisah 12:10b

Raja Herodes dikenal sebagai raja yang sangat lalim.  Ia memerintah rakyatnya dengan tangan besi.  Dengan kekuasaan yang dimiliki ia bertindak semena-mena terhadap rakyatnya, bahkan ia melakukan penganiayaan dan pembunuhan secara sadis terhadap orang-orang percaya  (pengikut Kristus):  "Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang."  (Kisah 12:2).  Petrus pun tak luput dari hal ini, ia ditahan dan penjarakan.  Bisa dipastikan nasib Petrus takkan jauh berbeda dengan Yakobus.

     Petrus dijebloskan ke dalam penjara dengan pengawasan yang sangat ketat,  "...di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit."  (Kisah 12:4a).  Secara manusia Petrus sudah tidak memiliki harapan lagi untuk melihat  'dunia luar'  sebab ia dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Herodes, dengan kaki dan tangan terbelenggu dengan rantai yang kuat.  Petrus hanya bisa berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.  Dalam kondisi tak berdaya, ketika ia tertidur pulas di antara penjagaan para prajurit,  "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: 'Bangunlah segera!' Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus."  (Kisah 12:7).  Dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan menyatakan kuasa-Nya, Ia mengutus malaikat-Nya membebaskan Petrus.  Luar biasa!  Bagaimana Petrus dapat terlepas dari penjara?  Itu semua karena kekuatan doa.  Saat Petrus ditangkap dan dipenjarakan, jemaat Tuhan tekun berdoa untuk keselamatan Petrus  (Kisah 12:5b).  Doa yang dinaikkan dengan tekun dan penuh iman mampu menggetarkan sorga dan Tuhan pun turun tangan menyatakan kuasa-Nya.  Petrus pun luput dari kematian,  "Pada keesokan harinya gemparlah prajurit-prajurit itu. Mereka bertanya-tanya apakah yang telah terjadi dengan Petrus."  (Kisah 12:18).

     Masalah apa yang membelenggu Saudara saat ini?  Sekalipun sepertinya tidak ada lagi harapan, karena semua pintu serasa sudah tertutup, janganlah menyerah dan berputus asa, berserulah kepada Tuhan dengan iman, pertolongan-Nya pasti tepat pada waktunya.

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b

Thursday, January 24, 2019

MENANG TERHADAP ORANG AMORI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Januari 2019

Baca:  Amos 2:6-16

"Padahal Akulah yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir dan memimpin kamu empat puluh tahun lamanya di padang gurun, supaya kamu menduduki negeri orang Amori;"  Amos 2:10

Orang Amori  (suku Amori)  adalah salah satu suku asli di Kanaan.  Mereka dikenal memiliki kelebihan dalam hal postur tubuh yaitu tinggi dan kuat seperti raksasa:  "...orang Amori, yang tingginya seperti tinggi pohon aras dan yang kuat seperti pohon tarbantin; Aku telah memunahkan buahnya dari atas dan akarnya dari bawah."  (Amos 2:9).  Hal ini juga pernah diungkapkan oleh orang-orang yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan.  Mereka berkata,  "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."  (Bilangan 13:32-33).  Sepuluh dari kedua belas pengintai yang diutus Musa itu pun menjadi takut dan gemetar ketika melihat orang-orang raksasa, kecuali Kaleb dan Yosua.

     Namun ketika Israel dipimpin Yosua justru mereka mampu mengalahkan raja-raja Amori  (Yosua 12:1-6).  Luar biasa!  Mereka menang bukan karena kekuatan dan kemampuan sendiri, tapi karena Tuhan menyertai mereka dan turut bekerja.  Jika Tuhan ada di pihak mereka, bangsa manakah yang sanggup menghadangnya?  Sekalipun permasalahan yang Saudara hadapi saat ini begitu besar seperti orang-orang Amori yang tinggi perawakannya seperti raksasa, kita tak perlu takut menghadapinya, karena kita punya Tuhan, yang adalah Jehovah Nissi:  dia adalah panji-panji kita, Tuhan berperang ganti kita;  dan bersama Tuhan kemenangan pasti dapat kita raih.

     Jangan bersikap pesimis dan takut seperti 10 orang pengintai itu, jadilah seperti Kaleb dan Yosua, penuh iman percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahasanggup.  Daud pun secara fisik tidak mampu mengalahkan Goliat, raksasa Filistin, tetapi karena Tuhan ada di pihaknya, ia pun tampil sebagai pemenang.

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  Roma 8:37

Wednesday, January 23, 2019

ADA HIKMAH DI BALIK PENDERITAAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Januari 2019

Baca:  Ulangan 32:1-14

"Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."  Ulangan 32:10

Alkitab mencatat bahwa Musa adalah seorang pemimpin yang memiliki kelembutan hati, seperti tertulis:  "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi."  (Bilangan 12:3).  Kelembutan hati Musa benar-benar diuji saat ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

     Sepanjang perjalanan selama 40 tahun di padang gurun Musa harus menghadapi penderitaan yang datang silih berganti, termasuk berhadapan dengan umat Israel yang tegar tengkuk, yang tak henti-hentinya protes, mengomel dan bersungut-sungut seperti berikut ini:  "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."  (Keluaran 16:3).  Namun demikian Musa tetap mampu menjaga sikap hatinya untuk tidak mengeluh kepada Tuhan, justru ia bisa bersyukur kepada Tuhan.  Bagaimana bisa?  Karena Musa mampu melihat sisi positif di balik masalah yang ada.

     Musa sadar bahwa penderitaan merupakan cara yang dipakai Tuhan untuk mendidik umat-Nya.  "Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,"  (Ulangan 32:11).  Di atas bukit yang tinggi induk rajawali membuat sarangnya yang terbuat dari ranting kecil berduri yang dilapisi dengan bulu halus dan sejenis tumbuhan kecil yang lembut untuk melindungi telur dan anak-anaknya.  Tapi terkadang induk rajawali harus bertindak tegas dengan menggoyangbangkitkan sarang itu sampai tinggal ranting-ranting duri yang tersisa, sehingga si anak harus beranjak dari sarang agar tidak tertusuk duri sambil mengepak-ngepakkan sayapnya di pinggir sarang itu.  Karena letih mereka pun terjatuh dari ketinggian, namun secepat kilat induk rajawali itu menopang dengan kepak sayapnya.

Penderitaan yang diijinkan Tuhan pasti mendatangkan kebaikan!  Tak perlu takut karena tangan-Nya yang kuat siap menopang!

Tuesday, January 22, 2019

RASA AMAN DAN TENTERAM YANG SEMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2019

Baca:  Amos 6:1-14

"Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!"  Amos 6:1

Melalui nabi Amos Tuhan memberikan peringatan keras kepada bangsa Israel  (Samaria dan Yehuda)  yang saat itu sedang terlena dengan zona nyaman.  Mereka sudah berpuas diri dengan keberadaan mereka saat itu.  Mereka berpikir bahwa keberhasilan secara materi adalah bukti bahwa mereka hidup di bawah berkat Tuhan.  Itulah sebabnya mereka merasa aman di Sion dan merasa tenteram di gunung Samaria.

     Sion adalah kota yang menjadi pusat peribadatan bagi bangsa Yehuda, tempat di mana mereka biasa melakukan ritual keagamaan dan mempersembahkan korban kepada Tuhan.  Mereka berpikir semua yang diperbuatnya itu berkenan di hati Tuhan.  Sayang sekali Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan ibadah dan persembahan mereka, sebab ibadah mereka tidak lebih dari sekedar ritual agama atau kebiasaan saja, sedangkan hati mereka jauh dari Tuhan.  Ibadah dan persembahan tanpa disertai pertobatan hidup tidak ada gunanya, apalagi mereka masih suka menyembah kepada berhala.  Jangan pernah mengira bahwa dengan rajin ke gereja, terlibat pelayanan dan memberi persembahan dalam jumlah besar untuk gereja, hati Tuhan langsung disenangkan.  Ibadah yang sesungguhnya adalah berkenaan dengan ketaatan kita melakukan kehendak Tuhan:  "Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."  (1 Yohanes 2:4).

     Samaria adalah pusat kekayaan dan kuasa.  Bangsa Israel merasa tenteram karena memiliki kekayaan materi yang melimpah.  Firman Tuhan memperingatkan agar kita tidak menyandarkan hidup kita kepada kekayaan, sebab kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti dan mudah lenyap seketika.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).  Nabi Amos mengingatkan, daripada hidup berbahagia dengan segala kemewahan materi, adalah lebih baik bangsa Israel meratapi dosa-dosanya dan segera bertobat sebelum malapetaka datang menimpa mereka.

Hidup benar di hadapan Tuhan itulah yang memberikan rasa aman dan tenteram!

Monday, January 21, 2019

KASIH SEBAGAI DASAR KETAATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2019

Baca:  Ulangan 11:1-7

"Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya."  Ulangan 11:1

Ketaatan berbicara tentang harga yang harus dibayar, sesuatu yang harus dikorbankan, penyangkalan diri.  Inilah yang berusaha dihindari orang, karena kebanyakan orang maunya hidup sesuka hati, tidak mau diatur, dan hidup menuruti segala keinginan daging.  Kalaupun orang mau taat, dilakukan dengan keterpaksaan, takut terkena sanksi.

     Dari pembacaan firman Tuhan di atas ada dua kata yang menjadi dasar dari ketaatan yaitu mengasihi dan melakukan.  Ketaatan yang sejati haruslah berdasarkan kasih.  Karena itulah Kristus berkata,  "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."  (Yohanes 14:15).  Jika seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, ia akan melakukan perintah Tuhan tersebut dan terasa ringan atau tidak berat.  "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3).  Ketaatan juga berkaitan erat dengan penundukan diri, yaitu tindakan sukarela dari seseorang untuk menempatkan dirinya di bawah kuasa orang lain.  Ketaatan adalah hal yang mutlak!  Karena itulah umat Israel diperintahkan Tuhan untuk menulis perintah-perintah tersebut di ambang pintu rumah mereka, sehingga mereka bisa melihatnya ketika mereka ke luar dan masuk rumah.

     Sekarang keputusan dan pilihan ada di tangan kita masing-masing!  Kalau kita mau taat, janji Tuhan pasti akan tergenapi dalam hidup kita.  Dengan kata lain ketaatan mendatangkan berkat!  Sebaliknya, ketidaktaatan akan mendatangkan kutuk bagi kita.  "Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal."  (Ulangan 11:26-28).

Seorang yang mengasihi Tuhan pasti akan taat melakukan kehendak Tuhan di segala situasi!

Sunday, January 20, 2019

PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2019

Baca:  1 Korintus 1:18-31

"dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,"  1 Korintus 1:28

Pelayanan kita akan dikenan Tuhan dan mendatangkan penghargaan dari-Nya apabila kita melayani Dia dengan penuh kerendahan hati.  Ada banyak orang Kristen menjadi sombong ketika sudah terlibat dalam pelayanan.  Tidak sedikit dari mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan asalkan pelayanan tersebut terlihat oleh banyak orang.  Secara kasat mata mereka tampak melayani Tuhan, tapi sesungguhnya motif pelayanan mereka adalah untuk kepentingan diri sendiri, mencari pujian dan pengakuan dari manusia.  Pelayanan yang berkenan adalah:  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Jadi pelayanan yang benar haruslah berorientasi dan berpusat hanya kepada Tuhan Sang empunya ladang pelayanan.

     Dalam melayani Tuhan kita tidak bisa mengandalkan akal atau kekuatan sendiri, kita harus senantiasa mengandalkan Roh Kudus, sebab melayani Tuhan itu tidak berbicara tentang kemampuan atau kehebatan seseorang.  "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin."  (1 Petrus 4:11).  Kesediaan kita untuk melayani itu jauh lebih penting daripada kemampuan kita.  Tuhan memanggil dan memilih seseorang untuk melayani pekerjaan-Nya bukan berdasarkan kualifikasi manusiawi atau menurut ukuran dunia;  sekalipun kita adalah orang-orang yang sederhana, tidak terpandang, atau bahkan dianggap bodoh oleh dunia, Tuhan tetap mau memakai kita.

     Pelayanan yang beroleh penghargaan dari Tuhan adalah pelayanan yang disertai dengan pertobatan.  Apalah artinya sibuk melayani jika kita sendiri tidak taat melakukan kehendak Tuhan.  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  (Yohanes 14:21).

Upah besar Tuhan sediakan bagi setiap orang yang melayani Dia dengan penuh integritas!

Saturday, January 19, 2019

PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2019

Baca:  Yohanes 12:20-36

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Yohanes 12:26

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan menyediakan upah-Nya bagi setiap orang yang sungguh-sungguh melayani Dia.  Jerih lelah dan sekecil apa pun pengorbanan kita untuk melayani pekerjaan Tuhan tidak ada pernah sia-sia, sebab semua Tuhan perhitungkan.  Rasul Paulus menasihati,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Bahkan ayat nas menyatakan:  "Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Dari ayat ini banyak orang Kristen berpikir bahwa semua pelayanan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan upah atau penghormatan dari Tuhan.  Jawabnya adalah tidak semua pelayanan yang kita lakukan mendapatkan upah atau penghargaan dari Tuhan.

     Upah penghargaan itu hanya sebagai akibat dari yang kita lakukan.  Untuk mendapatkan upah dan penghargaan dari Tuhan kita harus melayani Dia dengan sungguh-sungguh dan disertai motivasi yang benar.  Banyak orang tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan tapi bukan melayani sesuai kehendak dan kemauan Tuhan, melainkan menurut kemauan dan kehendaknya sendiri.  Berhati-hatilah!  Tuhan yang kita layani adalah Tuhan yang tidak bisa ditipu dengan penampilan secara lahiriah, sebab Ia melihat hati.  "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Bahkan, Tuhan mengetahui segala isi hati, niat dan cita-cita  (1 Tawarikh 28:9).  Tuhan berfirman,  "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."  (Yeremia 17:10).  Kita bisa saja menutupi banyak hal atau mengelabui manusia dengan tutur kata yang santun atau sikap yang manis dalam pelayanan, tapi  di hadapan Tuhan... tidak!  Di hadapan manusia kita bisa menggunakan  'topeng-topeng'  tapi Tuhan sama sekali tidak bisa dikelabui!