Monday, January 7, 2019
DITEGUHKAN, DIKUATKAN DAN DIPERLENGKAPI (2)
Baca: Markus 1:16-20
"Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Markus 1:17
Banyak orang Kristen rindu melayani pekerjaan Tuhan tapi ragu melangkah karena merasa tidak mampu. Ketahuilah, di hadapan Tuhan pelayanan bukan berbicara tentang 'mampu atau tidak mampu', melainkan mau atau tidak mau, rela atau tidak rela. Jadi, hati adalah modal dasar untuk dapat turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
Melayani Tuhan merupakan suatu kehormatan yang diberikan Tuhan kepada kita, namun dalam melayani pekerjaan Tuhan sampai kita terjebak pada hal-hal yang keliru seperti yang rasul Paulus katakan: "...mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar." (Roma 10:2). Bermodalkan semangat saja, tanpa memiliki pengenalan dan pengertian yang benar akan Tuhan, akan membuat pelayanan kita tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi yang dilakukan secara rutin dan hal itu takkan berdampak apa-apa. Karena itu kita harus memiliki sikap hati yang benar dalam melayani Tuhan. Rasul Paulus menasihati agar kita melayani Tuhan dengan kasih: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14), dengan segenap hati. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23).
Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani-Nya, Ia tidak akan sembarangan memanggil dan kemudian mengutus dia begitu saja, tapi Ia terlebih dahulu membentuk dan memperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, sehingga ia dapat melayani pekerjaan-Nya secara optimal. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah 1:8). Kita tahu bahwa ada banyak sekali tantangan dan ujian di setiap pelayanan, tapi percayalah dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti mampu menghadapinya. Milikilah respons hati yang benar saat kita dipanggil untuk melayani Tuhan, sebab tinggal sedikit waktu lagi Tuhan akan datang dan saat itulah Ia akan menuntut pertanggungjawaban dari kita.
"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." Yohanes 9:4
Sunday, January 6, 2019
DITEGUHKAN, DIKUATKAN DAN DIPERLENGKAPI (1)
Baca: Markus 1:9-15
"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Markus 1:15
Bukan hal yang kebetulan jika Markus menulis tentang tiga peristiwa yang harus Kristus jalani sebelum Ia memulai pelayanan-Nya di bumi ini. Ketiga peristiwa itu adalah Kristus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Markus 1:9-11), Kristus dicobai di padang gurun (Markus 1:12-13) dan Kristus mulai menyatakan diri dalam pelayanan (Markus 1:14-15).
Ketiga hal itu menunjukkan bahwa sebelum mengerjakan panggilan-Nya atau menggenapi rencana Bapa, Kristus harus terlebih dahulu melewati proses demi proses. Kristus diteguhkan melalui baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, dan saat Ia keluar dari air, "...Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: 'Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.'" (Markus 1:10-11). Selanjutnya Kristus harus mengalami pencobaan di padang gurun selama empat puluh hari lamanya: "Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis." (Markus 1:13a). Pencobaan yang dialami Kristus ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Kristus diuji dalam hal penguasaan diri tentang makanan (nafsu). Ketika itu Iblis meminta Dia untuk mengubah batu menjadi roti. Dalam kondisi Ilahi, itu adalah pekerjaan yang mudah, tetapi pada waktu itu Kristus memosisikan diri-Nya sebagai manusia, dan Ia tidak mau melakukannya, dengan berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). 2. Kristus diminta untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Suci. Secara Ilahi Kristus bisa melakukannya, tetapi Ia berkata, "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Matius 4:7). 3. Iblis menawarkan segala kemegahan dunia kepada Kristus, dengan syarat Ia harus menyembah kepadanya. "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:10). Kristus telah berhasil melewati proses ujian di padang gurun ini dengan kemenangan!
Setelah beroleh peneguhan melalui baptisan Yohanes Pembaptis dan lulus ujian di padang gurun selama 40 hari, barulah Kristus memulai pelayanan-Nya dengan tampil untuk pertama kalinya di hadapan orang banyak di Galilea. Di situ Kristus memberitakan Injil Kerajaan Sorga dan menyerukan pertobatan kepada semua orang!
Saturday, January 5, 2019
TUHAN YANG MENUMBUHKAN BENIH
Baca: Markus 4:26-29
"Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." Markus 4:29
Adalah anugerah bila kita dipercaya Tuhan melayani di ladang-Nya. Itu merupakan hak yang sangat istimewa. Namun ingatlah bahwa kita ini hanyalah alat di tangan Tuhan.
Berbicara tentang pertumbuhan ada kaitan erat dengan benih yang ditabur. Artinya takkan ada pertumbuhan tanpa ada benih yang ditabur. Hal menumbuhkan benih merupakan bagian yang paling sulit dan paling berat, manusia dengan segala akal dan kepintarannya takkan bisa, hanya Tuhan yang dapat. Adapun proses pertumbuhan ini sifatnya bertahap, tidak ada yang instan: berakar, tumbuh makin besar, berbunga, berbuah dan akhirnya siap dipanen. Begitu pula halnya dengan kerohanian kita, adalah penting sekali untuk kita menjalani proses tahap demi tahap dengan belajar firman Tuhan setiap hari. Ketika Tuhan mengerjakan pertumbuhan, itu akan diselesaikan-Nya sampai akhir: "...Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Pada waktu menjalankan pekerjaan-Nya di bumi, Kristus menyelesaikan sampai tuntas yaitu mati di kayu salib dan Ia pun berkata, "'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." (Yohanes 19:30).
Dari satu benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah yang berlipat ganda, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yohanes 12:24). Benih kebenaran yang asalnya dari Tuhan adalah benih yang baik dan pasti akan menghasilkan buah kebenaran yang berlipat ganda, dan sampailah akhirnya pada masa panen atau masa menuai, yang adalah akhir dari seluruh kerja keras yang dilakukan. Semua jerih lelah, air mata yang mengalir dan keringat yang tercurah selama ini akan terbayar saat masa menuai tiba. "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya." (2 Timotius 2:6). Saat itulah Tuhan memberikan upah/reward kepada setiap hamba-hamba-Nya yang telah bekerja di ladang-Nya, tanpa mengenal lelah.
Marilah kita kerjakan dengan setia apa pun yang Tuhan percayakan, pada saatnya kita pasti akan menuai dengan sorak sorai (Mazmur 126:5-6).
Friday, January 4, 2019
TUGAS PENABUR BENIH
Baca: Markus 4:26-29
"...seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu." Markus 4:26-27
Dalam perumpamaan ini Kristus menyatakan hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang yang menabur benih, di mana benih itu terus tumbuh, bertunas, dan berbulir. Benih yang dimaksudkan dalam perumpamaan ini adalah firman Tuhan. Ada dua bagian penting yang harus menjadi perhatian kita, yaitu: 1. Peranan si penabur yang menabur benih. 2. Peranan Tuhan yang menumbuhkan benih yang ditaburkan.
Peranan dan tugas dari seorang penabur adalah menaburkan benih, di mana benih itu berasal dari Tuhan. Dengan kata lain Tuhanlah yang menyediakan benih tersebut. "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;" (2 Korintus 9:10). Tak sepatutnya seorang hamba Tuhan, atau setiap kita yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, bermegah dan menyombongkan diri dalam pelayanan, dengan menganggap bahwa tuaian jiwa-jiwa itu sebagai hasil kerja keras sendiri, atau kita merasa telah berjasa besar melihat gereja mengalami pertumbuhan dari segi kuantitas. Perlu digaris bawahi bahwa seorang penabur hanya mengerjakan apa yang menjadi bagiannya saja, yaitu menabur. Bukan kita (penabur) yang membuat benih itu bisa bertumbuh! Yang menumbuhkan benih itu adalah Tuhan. Ada pun tugas kita ini hanyalah menaburkan benih di ladang yang sudah disiapkan.
Selagi masih ada kesempatan marilah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan roh yang menyala-nyala! "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik." (Pengkhotbah 11:6). Karena itu milikilah ketekunan, kesabaran dan kesungguhan dalam menabur benih, sekalipun kita harus melewati panas terik dan lebatnya hujan. Tuhan sangat menghargai dan memperhitungkan setiap usaha dan jerih lelah yang kita lakukan untuk Kerajaan Sorga.
Dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti beroleh kemampuan Ilahi untuk mengerjakan tugas mulia ini, yaitu bekerja di ladang Tuhan.
Thursday, January 3, 2019
RUMAH ROHANI: Jadi Reruntuhan (2)
Baca: Hagai 1:1-14
"Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri." Hagai 1:9b
Hari-hari kemarin mungkin kehidupan kita diwarnai kegagalan demi kegagalan: "Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!" (Hagai 1:6). Kita gagal karena kita tidak lagi mengutamakan Tuhan dalam hidup ini, dengan membiarkan 'rumah rohani' kita seperti reruntuhan, sehingga berkat-berkat Tuhan menjadi terhalang.
Tuhan berfirman, "Perhatikanlah keadaanmu!" (Hagai 1:5, 7). Peringatan ini Tuhan sampaikan 2x sebagai tanda bahwa hal itu sangatlah penting. Jika kita tidak segera memperhatikan keadaan kita, semakin kita akan tenggelam dalam keterpurukan. Hanya ada satu kata, yaitu berubah! Untuk melakukan perubahan dibutuhkan komitmen atau ketetapan hati. Bangsa Israel diperintahkan untuk menguatkan hati dan memiliki semangat kembali untuk membangun Bait Suci (Hagai 2:5). Kita pun harus memiliki semangat yang sama untuk membangun 'rumah rohani' kita. Sekarang ini bukan waktunya lagi mengumpulkan harta duniawi, sebab kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, melainkan kita harus berlomba-lomba mengumpulkan harta sorgawi, dan semakin giat dalam melayani Tuhan, "...giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).
Bekerja membangun 'rumah rohani' adalah hal yang mutlak! "...bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam," (Hagai 2:5). Jika kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal (diberkati Tuhan) kita harus mau bekerja keras bagi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Membangun 'rumah rohani' juga tak dapat dipisahkan dari kekudusan, sebab Tuhan tidak ingin Bait-Nya dicemari dengan segala kecemaran, karena "...TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus;" (Mazmur 11:4a), sebab tanpa kekudusan kita takkan melihat Tuhan (Ibrani 12:14b).
Jadikan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup ini dan layani Dia dengan segenap hati kita; jika Tuhan disenangkan, niscaya berkat-Nya pasti mengalir atas kita!
Wednesday, January 2, 2019
RUMAH ROHANI: Jadi Reruntuhan (1)
Baca: Hagai 1:1-14
"Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN." Hagai 1:8
Melalui hamba-Nya, Hagai, Tuhan memberi teguran dan peringatan keras kepada umat Israel yang dengan sengaja mengabaikan dan membiarkan Bait Suci-Nya tetap menjadi reruntuhan, sekalipun telah sekian lama mereka kembali dari pembuangan di Babel.
Pada zaman Hagai ini pembangunan Bait Suci mengacu kepada 'bangunan' secara fisik. Mereka tidak tergerak untuk membangun kembali Bait Suci tersebut, malahan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri: membangun tempat tinggal untuk diri sendiri, sementara Bait Suci dibiarkan menjadi puing-puing reruntuhan; lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada mengutamakan Tuhan; lebih mengutamakan perkara jasmani daripada perkara rohani. Mereka tak menyadari bahwa keadaan sulit yang menimpa selama ini adalah sebagai akibat dari kesalahan mereka sendiri. "Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri." (Hagai 1:6, 9).
Peringatan ini juga ditujukan kepada semua orang percaya agar memperhatikan 'rumah rohani' masing-masing. "...tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:19-20). Bagaimana dengan 'rumah rohani' Saudara? Apakah bangunan tersebut sudah berdiri dengan kuat, ataukah masih tetap menjadi reruntuhan? Bersyukurlah bila hari ini kita ditegur dan diperingatkan oleh firman Tuhan tentang hal itu; dan biarlah waktu dan kesempatan yang ada ini kita pergunakan sebaik mungkin untuk berbenah diri, sebelum timbul penyesalan.
Tuesday, January 1, 2019
BERAWAL DARI MIMPI
Baca: Amsal 16:1-33
"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." Amsal 16:9
Tahun 2018 baru saja berlalu dan hari ini adalah hari pertama di tahun 2019. Di awal tahun yang baru ini setiap kita pasti memiliki segudang rencana dan impian. Salah satu impian banyak orang adalah meraih keberhasilan. Mungkin ada banyak rencana, harapan dan impian yang kemarin belum berhasil diwujudkan, karena itu kita bertekad untuk menggapainya di lembaran-lembaran hari berikutnya di sepanjang tahun baru ini.
Apa yang menjadi mimpi Saudara? Mimpi artinya memiliki sesuatu dalam pikiran sebelum diwujudkan menjadi sebuah kenyataan. Mimpi semacam ini bukanlah sekedar buah tidur, melainkan mimpi yang di dalamnya terkandung harapan, kerinduan dan cita-cita untuk memiliki sesuatu atau mencapai sesuatu, yang terkadang sulit dipahami secara akal sehat kita. Inilah yang disebut mimpi besar atau berpikir besar! Jika kita sedang mengembangkan kemampuan dalam bermimpi dan berpikir besar, berarti kita sedang berpikir sebagaimana Tuhan berpikir. Ingat! Segala sesuatu atau apa yang berhasil diwujudkan oleh setiap orang semuanya berawal dari mimpi, yang ditanamkan Tuhan dalam hati dan pikirannya. Contoh: Yusuf mendapatkan mimpi bahwa kelak ia akan menjadi seorang pemimpin besar (Kejadian 37:7-9). Seiring berjalannya waktu, mimpi itu pun menjadi kenyataan, sekalipun untuk menggapainya butuh waktu yang tidak singkat dan melalui proses pembentukan yang teramat menyakitkan.
Jangan pernah takut bermimpi! David J. Schwartz dalam bukunya 'The Magic of Thingkin Big' menulis: "Jika berpikir besar menghasilkan begitu banyak, mengapa tidak semua orang berpikir seperti itu?" Ingat, mimpi akan tetap menjadi mimpi, tidak pernah menjadi kenyataan, bila tidak disertai dengan usaha dan kerja keras. Ada harga yang harus dibayar, sebab tidak ada berkat yang langsung turun dari langit. Karena itu dalam segala hal dan di setiap kerinduan kita hendaknya kita senantiasa melibatkan Tuhan dan mengandalkan Dia. Kita lakukan semaksimal mungkin apa yang menjadi bagian kita, dan kita serahkan kepada Tuhan apa pun yang tidak sanggup kita perbuat.
Sekalipun punya mimpi besar, tapi tanpa ada upaya meraihnya, hanya akan jadi bunga tidur.
Monday, December 31, 2018
BERKEJARAN DENGAN WAKTU
Baca: Mazmur 90:1-17
"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam." Mazmur 90:4
Hari ini kita sudah berada di penghujung tahun 2018! Hampir semua orang berkata: "Ga terasa ya...waktu begitu cepat." Dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dan dari bulan ke tahun, semua berjalan seolah-olah hanya sekejap mata! Rasa-rasanya baru kemarin kita merayakan perayaan tahun baru, tapi kini hanya tinggal hitungan jam, menit dan detik, tahun 2018 segera berakhir dan kita akan memasuki tahun yang baru. Musa pun menyadari betapa cepatnya hari-hari yang dijalani manusia: "Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu." (Mazmur 90:5-6).
Satu hal yang tak boleh kita lupakan adalah mengucap syukur kepada Tuhan! Bersyukur atas penyertaan Tuhan, dan bersyukur atas campur tangan Tuhan di sepanjang tahun 2018; tanpa Tuhan, kita tidak akan mampu menjalani hari-hari kita, "Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku." (Mazmur 54:6). Karena waktu itu teramat singkat dan berlalunya buru-buru, marilah kita: 1. Pergunakan waktu sebaik mungkin, "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16). Jangan lagi suka menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang, dengan alasan masih ada hari esok, padahal tak seorang pun tahu secara pasti apa yang akan terjadi di kemudian hari, apakah kita masih memiliki kesempatan ataukah tidak, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).
2. Kumpulkan harta di sorga (Matius 6:19-20). Sebelum semuanya terlambat dan timbul penyesalan, mari perbaharui komitmen kita untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dengan meninggalkan cara hidup duniawi. Jadikan kegagalan dan kesalahan di hari-hari kemarin sebagai pelajaran berharga untuk kita menatap hari esok.
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Mazmur 90:12
Sunday, December 30, 2018
JANGAN MEMBERONTAK SAAT DIBENTUK
Baca: Yesaya 64:1-12
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." Yesaya 64:8
Hidup orang percaya digambarkan seperti tanah liat di tangan sang penjunan. Tuhan adalah Sang Penjunan. Untuk menjadi bejana yang berdaya guna dan bernilai, tanah liat harus mengalami proses pembentukan sedemikian rupa sampai menjadi lumat, lentur dan lunak. Lalu mulailah tangan Tuhan bekerja, mengambil gumpalan tanah liat itu dan membentuknya sesuai kehendak-Nya. Kita takkan bisa lari dari yang namanya 'proses' pembentukan, sebab tidak ada istilah instan di dalam Tuhan. "Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; 'Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi--siapakah yang mendampingi Aku?'" (Yesaya 44:24).
Pembentukan Tuhan memang sakit dan tak menyenangkan, seperti berada di padang gurun, karena itulah banyak orang mengeluh, mengomel dan memberontak. Karena terus memberontak kepada Tuhan, bangsa Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian. "...Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: 'Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.' Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau." (Keluaran 13:17-18).
Tuhan belum selesai berurusan dengan kita selama kita masih saja memberontak dan hidup menyimpang dari jalan kebenaran-Nya. "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!' (Yesaya 45:9). Milikilah penyerahan diri kepada Tuhan saat diproses, sebab Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4).
Kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10).
Saturday, December 29, 2018
JANGAN SALAH MEMILIH PASANGAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2018
Baca: 1 Korintus 7:1-16
"tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai
isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri." 1 Korintus 7:2
Alkitab secara jelas menyatakan bahwa untuk menghindarkan diri dari bahaya percabulan hendaklah setiap laki-laki atau perempuan menikah atau berumah tangga. Jadi, pernikahan itu Alkitabiah, dan melibatkan dua pihak yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan, bukan laki-laki dan dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan (sejenis).
Kita tidak boleh sembarangan dalam memilih pasangan, jadi pikirkan dan rencanakan dengan baik, sebab pernikahan Kristiani adalah sekali seumur hidup. Salah memilih pasangan akan berdampak pada ketidakharmonisan rumah tangga kelak. "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang
yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan
kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2 Korintus 6:14). Pasangan seiman adalah harga mutlak dan tidak bisa dikompromikan. Jika berbicara dari sudut pandang laki-laki, atau kita sebut calon-calon suami, di dalam memilih calon isteri hendaknya jangan didasarkan atas dorongan lahiriah semata, sebab apa yang tampak secara kasat mata itu bisa menipu dan bukanlah ukuran, sebab "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." (Amsal 31:30). Ini penting sekali untuk diperhatikan, sebab laki-laki adalah kepala keluarga dan bertanggung jawab penuh atas rumah tangganya. Kriteria utama dalam memilih pasangan adalah haruslah seorang yang takut akan Tuhan.
Inilah gambaran tentang seorang isteri yang cakap: "Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi
rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya." (Amsal 31:15, 19, 27). Kecakapan seorang isteri menurut pandangan firman Tuhan itu bertitik tolak pada kerajinannya dalam mengurus rumah tangga atau tidak suka bermalas-malasan. 'Cakap' adalah bukan hanya mengandalkan paras wajahnya yang ayu atau lekuk tubuhnya yang tampak sexy bak peragawati.
Jangan pernah terkecoh dalam memilih pasangan, ikuti tuntunan firman Tuhan!
Friday, December 28, 2018
RENCANA TUHAN TIDAK PERNAH SALAH
Baca: Keluaran 14:15-31
"Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu." Keluaran 14:21
Sudah terlampau sering kita alami bahwa apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup ini seringkali tidak masuk akal atau di luar nalar kita. Cara Tuhan bekerja dan jalan-jalan-Nya terlalu ajaib untuk dimengerti. "Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya." kata pemazmur (Mazmur 139:6). Tentang hal itu Tuhan sudah menegaskan: "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9).
Keajaiban cara Tuhan bekerja pernah dialami oleh bangsa Israel saat dipimpin Musa, yaitu ketika mereka keluar dari Mesir. Dengan pimpinan tangan Tuhan, mereka berkemah di Etam, di tepi padang gurun (Keluaran 13:20). Tetapi kemudian Tuhan berfirman kepada Musa untuk memerintahkan orang-orang Israel balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan Laut, tepat di depan Baal Zefon (Keluaran 14:2). Perintah Tuhan ini terasa aneh, sebab di situ mereka melihat "...orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka..." (Keluaran 14:9), sehingga hal itu menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Apakah Tuhan salah dalam rencana-Nya untuk melepaskan umat Israel dari tangan bangsa Mesir? Tidak sama sekali, sebab semuanya itu sudah dalam rencana Tuhan. Buktinya, dengan kuasa Tuhan akhirnya bangsa Israel dapat menyeberang di air yang kering, karena Tuhan telah membuat laut Teberau itu menjadi tanah kering.
Dinyatakan bahwa Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, padahal menurut pakar meteorologi angin timur yang berhembus di padang gurun itu berhembus sangat dahsyat dan bisa menimbulkan tsunami. Namun apa pun yang menurut teori dan pemikiran manusia dapat menimbulkan hal-hal yang buruk di tangan Tuhan justru dapat menghasilkan mujizat bagi kita.
Sekalipun perintah Tuhan serasa aneh dan tidak masuk akal, tetaplah taat kepada-Nya, sebab tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menyelamatkan kita.